Friday, July 24, 2009

Rabb, bukan ku ragu...



Rabb,
Aku yakin akan janjiMU.
Aku yakin akan penjagaanMU
Maafkan jika aku bertanya,
Kau tidak akan mengecewakanku, bukan?

Bukan sebuah keraguan atau ketakutan
Hanya sebuah penegasan kepada diriku sendiri
Agar tidak semakin jauh dariMU

Rabb,
Sentuh hamba yang hina ini Rabb
Agar diri tak semakin jauh
Tak pernah kuragukan Engkau, Rabb.
Tak pernah.

Jujur, aku takut.
Tapi tak pernah ketakutan
Karena Kau tak akan meninggalkanku.
Ya, Tak Akan.

terimakasih Allah
Aku lebih tenang sekarang

Thursday, July 23, 2009

Aku Bernama .....


Aku, perkenalkan
Namaku cinta...
Aku datang membawa hati

Namaku setia
Aku ada tanpa mendua

Namaku rindu
Aku hadir setiap saat

Namaku janji..
Terpatri dalam hati

Dan namaku adalah jarak...
Tak masalah bagiku bernama itu

Lalu,
Bolehkah ku tahu siapa namamu?

*Pojok ruangan berdinding biru, dalam dekapan malam*

Wednesday, July 22, 2009

[ S.E.T.I.A]

Waktu ……

Beku …….

Hampa …..

Lalu :

Nyata …..


Banyak menjelma menjadi tanya

Tak meragu

Ragam canda berwarna yang diselingi sedikit api

Namun air selalu saja datang

Dengan cara yang indah, tepat, pas pada waktunya


Nikmatilah, renungilah

Ini kesempatan

Dan ada pengertian di dalamnya

Tak perlu ragu


Karena aku ................................... [ Setia ]


Bilik kantor, jam makan siang—22 Juli 2009


Tuesday, July 21, 2009

Cinta, Rindu, Jiwa



Kebekuan hati tak melengahkanku

Menemukan apa jiwa mau

Resahmu adalah gadam, menggelinding

Serupa titah selami rasa



Merangkak lalu berjalan tertatih

Terseok dalam kubangan tanpa sela

Menjelma nyata dalam satu pastian

Kau, aku, melebur dalam impian



Gelak yang terangkai belum jua

Mampu resapi makna yang sama

Dalam hampa yang termakna sunyi

Serpihan yang tiba-tiba hadir dalam kepingan jiwa

Membekukan segala apa depan



Mimpi ini, cinta : Kita Punya

Mimpi ini, rindu : Akan ada

Mimpi ini, jiwa : Bersama

Waipirit - Piru, 21 Juli 2009

Monday, July 13, 2009

Ambon Kita

Senja tadi, saya dikejutkan oleh hp yang berdering dari teman STM. Lebih terkejut lagi ketika dia meminta saya menebak sedang dimana dia sekarang. Pertanyaan yang tak biasa itu gampang sekali ditebak jawabannya. Kira-kira begini percakapan kami :

Teman (T) : Eby, tebak ko dimana ka skarang?
Saya (S) : Di Ambon ko mi?
T : Iyo, di Ambon ka dari kemaren. Tapi sa di Waiheru, baru ka ini ke Ambon.Skarang sa lagi di Pasar Mardika
S : Serius ko mi?
T : Serius ka. Sa lagi dikotamu yang jorok dan sempit

Seterusnya, itu percakapan biasa sesama teman. Kali ini saya pengen kita sama-sama menyimak kesan salah seorang yang baru menginjakkan kakinya ke kota kita yang berjulukan Manise ini.

Sempit dan Jorok.

Kesan ini bisa ditanggapi macam-macam, bisa sinis, bisa koreksi ataupun cuek beybeh. Mungkin pula kesan sempit karena dia mendapatkan kemacetan di Mardika yang nyaris tak pernah berhenti. Pun Jorok ia dapatkan karena sedang berada di Mardika yang memang jorok, begitulah kenyataannya. Agak tak fair memang, jika dengan melihat sudut Mardika lalu mengambil simpulan bahwa Ambon Sempit dan Jorok. Tapi kita juga gak bisa kan memaksa turis lokal untuk mengelilingi kota Ambon berbulan-bulan supaya mereka bisa pulang dan bilang Ambon itu indah, Ambon itu bersih, atau kesan-kesan baik lainnya.

Pasar Mardika, 15 sampai 12 tahun lalu saat masih SMP, sepertinya tidak sekacau sekarang. Mobil umum punya tempat antriannya masing-masing, pedagang punya lahan sendiri tanpa perlu mengambil lahan terminal. Laut yang dulunya menjadi view menarik dari terminal sekarang tergantikan dengan sampah-sampah yang tentu tak bisa dikatakan menarik. Bukankah seharusnya semakin hari, semakin tahun, pembangunan serta keteraturan kota semakin baik?

Kita boleh bangga dengan pantai-pantai kita yang saking banyaknya kita sendiri tidak menghafalnya, dan saya haqqul yaqin tak ada seorang pun anak Maluku yang sudah mendatangi seluruh, sekali lagi, seluruh tempat-tempat indah di Maluku yang tentu dimiliki setiap desa. Kebanggaan itu mau kita jual ke luar? Silahkan saja. Namun jika untuk ke tempat-tempat yang membanggakan itu, harus melewati jorok dan sempitnya Mardika atau sudut-sudut lain yang tak bisa dibilang bersih, apa jawaban kita jika ditanya? Menyalahkan pemerintah? Atau menyayangkan kesadaran masyarakat?

Jawab pakai hati, nyamankah kita tinggal di Ambon? Saya sendiri merasa belum saatnya menjawab iya untuk pertanyaan itu. Karena Mardika adalah tempat yang saya lewati setiap hari jika saya sedang berada di Ambon, dan kemacetan serta suasananya sangat tidak me-nyaman-kan. Bukankah pasar tradisional tidak harus sama dengan kumuh?

Anda ??????????????????

Waimeteng, 13 Juli 2009

Sunday, July 12, 2009

Goresan Saja

Terkadang, untuk sesuatu yang kita yakini
Kita perlu melakukan hal-hal yang dalam keadaan normal tak mungkin mau dilakukan
Hal-hal sederhana yang kita percayai dengan sungguh
Di suatu waktu mampu melecut kita mengerjakan hal yang tak biasa

Apa yang terjadi kemarin adalah langkah yang terseret hati
Nurani tak bisa menunggu untuk sesuatu yang diinginkan
Bukankah bola harus dijemput
Dan aku sudah menjemput

Lega,
Tak mulus memang, tapi lega
Karena memperjuangkan sebuah keinginan adalah istimewa

RumahTiga, 12 Juli 2009

Sunday, June 28, 2009

Gadisku, Mengangkasalah..........


Cinta, kau temukan jua

Sayap pendamping yang kau nantikan

Menjemputmu memulai pengembaraan

Yang semoga selamanya


Cinta,

Dalam temaram senja, wajahmu bercahaya

Belum pernah ada senyum semanis ini

Yang kau hadirkan selama hidupku bersamamu


Cinta,

Kau telah dijemput

Siapkah kau meninggalkan kami?

Karena aku tak siap kau tinggalkan


Cinta,

Serupa makna matahari bagi manusia

Serupa itulah kau padaku

Lantas jika kau pergi,

Kemanalagi aku berharap sinar?


Cinta,

Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan terbesarku

Melihatmu tersenyum adalah senyuman terindahku

Membelaimu, melihatmu, adalah sejuk mataku


Dia telah datang,

Seorang pangeran yang bersiap menggandeng tanganmu pergi

Mitsaqan ghalidza itu, bahagia dan duka bercampur tak karuan

Dia, kenapa dia datang lalu membawamu pergi?


Cinta,

Tak ada kata yang pantas menyematkan bahagia di hatiku

Melihatmu tersenyum manis..manis sekali

Lalu terkadang tersipu memerah


Cinta,

Aku mencintaimu, dengan seluruh hidup yang aku punya

Aku mencintai keputusanmu dengan seluruh napas yang aku hirup

Aku mencintaimu dengan sepenuh doa seumur hidupku


Selamat sayang,

Barakallah untuk kalian berdua

Aku disini, bersama kalian hingga detik terakhir hidupku


Rumah cinta Wailahan, 28 Juni 2009 : Ditulis untuk seorang gadis berjilbab biru

Nb : Ardi, jaga adekku dengan seluruh hidupmu. Bimbing dia disisimu. Dia bunga terindah yang kau petik dari taman kami.

Monday, June 22, 2009

Salah satu sisi Allang Asaude





Allang Asaude, satu desa diantara 89 desa di SBB yang berpenduduk mayoritas Kristen (bukan mayoritas, tapi semuanya). Di Allas, kami tinggal di rumah keluarga Bu Ulis. Bu Ulis beserta istrinya, Usi May dan 3 anaknya (Versi dll), begitu hangat menyambut kami dan memberikan pelayanan terutama kenyamanan serta suasana hati yang enak yang tak bisa ditawarkan oleh hotel bintang lima manapun. Di sela-sela tugas yang harus kami jalankan di desa Allang Asaude, Kecamatan Waesala Kabupaten Seram Bagian Barat, Kamis yang lalu kami mendaki gunung Kotahalu, sebuah gunung karang yang konon katanya dulu gunung yang tinggi lalu pada zaman penjajahan Belanda, dari arah Laut, Belanda mengira gunung ini adalah bangunan. Belanda kemudian membombardir gunung dengan tembakan-tembakan hingga gunung Kotahalu ini runtuh dan berbentuk seperti sekarang ini. Beruntung rasanya diberi kesempatan oleh Allah berkunjung di satu sisi lain dari bumiNYA yang begitu indah.


Perjalanan kami mulai pukul 05.30 WIB dan setelah berjalan sekitar 10 menit ke kaki gunung, mulailah pendakian yang lumayan sulit itu. Dalam kondisi gelap, berbekal 2 senter, kami berlima memanjat dan mendaki dengan rasa penasaran apa yang akan kami lihat di puncak nanti. Medan yang sulit dalam kondisi gelap membuat perjalanan lebih lama dari yang biasanya, itu kata Aty dan Angki yang menjadi guide kami bertiga. Yah, buat pemula oke-lah. Apalagi ini karang semua, kudu lebih hati-hati kalo gak mau kena tajamnya karang. Pendakian yang luar biasa. Capeknya minta ampun. Tapi semakin dekat ke puncak, dan semakin capek dirasa, semakin bersemangat kami mendaki. Dan ternyata benar. Sampai di puncak, semua kelelahan itu terbayarkan oleh suguhan alam yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Angin puncak yang bertiup menghapus keringat hasil pendakian dan mata benar2 termanjakan oleh alam. Di depan pulau Allang yang terlihat dari puncak gunung Kotahalu ini, ada tiga pulau yang terlihat. Ada pulau hoffman (atau hotman ya?), katanya ada gua yang isinya tengkorak. Sebelahnya ada pulau yang lebih kecil dari pulau Hoffman (atau hotman) bernama pulau Air, dan pulau Tatinai. Ketiga pulau ini tidak berpenghuni. Pulau Hoffman ini akan jadi target kunjungan berikut jika saya ke Allas lagi. Untuk kesana, kita cuma perlu naik ketinting alias dayung sendiri setengah jam. Dari puncak, juga terlihat sebuah danau/telaga yang disebut talaga Halong. Dua tempat ini serta merta masuk dalam daftar daerah berikut yang harus kukunjungi.


Pas lagi pose-pose narsis di atas, dari arah Waesala, muncul pelangi yang melengkapi keindahan pagi itu. Matahari pun mulai muncul malu-malu dari timur menerpa menyegarkan wajah. Di Allang Asaude, tidak ada komunikasi. Masyarakat yang mau berkomunikasi, biasanya naik ke gunung ini lalu mencari sinyal kiriman dari Namlea. Kadang sinyal muncul, namun lebih sering tidak munculnya. Hari kami mendaki itu, sinyal hanya “singgah” di handphone Aty yang digantung di dahan pohon. Gantung di dahan pohon, memang cara mencari sinyal. Di handphone yang lain, sinyal tidak mau “mampir”. But its not a big deal karena kedatangan kami bukan untuk telpon. Lucunya, sudah jauh2 kita mendaki, dua orang yang dihubungi Aty, satunya tidak aktif dan satunya tidak menerima telpon. Kasian amat ya.


Konon pula, kata Aty dan Angki, selama ini orang-orang dari luar Allang Asaude yang naik ke gunung Kotahalu ini tidak bisa mengambil gambar. Sementara kami, semua peralatan narsis mulai dari handycam, kamera digital dan 3 hp kamera, semuanya berfungsi maksimal. Aty bilang “dong bisa foto-foto e. Orang luar kalau kesini to seng bisa foto. Dong pung hp dan kamera seng bisa pake foto. Tapi ini bisa tu. Memang dong nae deng hati bersih jadi bisa”. Senang dengarnya, karena memang tak ada apapun yang kami inginkan selain ingin mengagumi.

Waktu hal ini kuceritakan ke Bapa Raja Allang Asaude, beliau tersenyum dan bilang “Nona eby kan orang Luhu, katong pung Tamaela”. Tamaela, saya tidak tahu apa itu arti jelasnya Tamaela dan bedanya dengan pela. Yang saya tahu, kalau orang Luhu ada kegiatan besar atau ada musim cengkeh, yang datang untuk bantu dan juga naik cengkeh adalah orang Allang, begitu juga sebaliknya. Berasa istimewa setiap kali Bapa Raja bicara dan menyebut saya dengan panggilan “Nona Ela” dan saya pun disuruh untuk tidak memanggilnya Bapa Raja, tapi “Bapa Ela”. Its wonderful…..

Monday, June 15, 2009

tak berjudul

sedu menyapa hati
pada makna hujan ia bertanya
dinginkah kau rasa
atau memang begitulah adamu

tak menemukan tempat untuk berlabuh
tapak kaki masih harus tertatih
merengkuh asa berselimut mimpi
menjelma kesunyian dan bisikan takbir
betapa kesyukuran menggelembungi naif diri
tak bisa begini jika tak ada kasih sayangNYA

makna apalagi yang masih dicari
ketika harap tak kunjung tiba
padahal telah banyak tetes-tetes penantian
lalu bertanya ia pada angin
tak lelahkah kau mengembara
atau memang begitulah adamu
menyinggahi tempat tak terjamah sebelumnya
penuh yakin makna nyata kehadiranmu
diiringi salam tasbih, salam selamat datang

lalu matahari kembali tersenyum
seringainya lebar hingga menusuk pori
maka bertanyalah ia pada matahari
tak bosankah kau menyinari
atau memang begitulah adamu

Wednesday, May 06, 2009

Masih Berharap .................

Dunia pendidikan adalah dunia yang penuh warna. Dunia yang begitu sempurna, luar biasa, heroik, patriotik dan segala yang berbau kepahlawanan. Setiap melihat seorang guru, timbul sebuah rasa kagum, ada manusia-manusia pilihan yang mendedikasikan hidupnya kepada sesuatu yang baru bisa terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian.

Banyak yang bisa diberikan oleh seorang guru, banyak pula sebenarnya yang bisa mereka minta. Tapi tak pernah sedikit pun mereka menuntut balasan atas setiap kesuksesan yang mereka toreh, setiap kesuksesan yang mereka siapkan sejak awal mereka mendidik. Namun terkadang mereka malah lupa, bahwa mereka pernah menitipkan segores asa dan meletakkan satu bata kesuksesan kepada anak muridnya.

Kesan di atas adalah kesan saya terhadap pendidikan dan para guru di masa lalu. Dulu, ya dulu. Sekarang ini, sulit mencari guru yang menjadikan kata “mendidik” sebagai semangat hidupnya. Sekarang, guru hanya profesi yang mudah dilakoni siapa saja, bahkan jika ia tidak memiliki basic keguruan sekalipun. Aktivitas mengajar hanya sebagai rutinitas, tak lagi menyertakan hati.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para guru senior yang masih sangat berdedikasi terhadap tugasnya tapi tak diperhatikan haknya oleh Pemerintah, saya ingin mengatakan bahwa saat ini sepertinya siapa pun bisa menjadi guru. Mereka yang setelah selesai kuliah lalu tak kunjung mendapatkan pekerjaan, berbondong-bondong mengajukan lamaran sebagai guru dan dengan mudah diterima. Modal Akta 4 yang hanya 2 tahun cukup bisa disejajarkan dengan lulusan keguruan yang memang sejak awal berniat menjadi pendidik. Karena itu, langkah menutup Akta 4 adalah langkah yang sangat tepat dan sangat bertanggungjawab, karena itulah yang tanpa disadari akan menghancurkan sistem dan kualitas pendidikan kita.

Saya ambil contoh di sebuah desa yang tak perlu disebut namanya, mutu dan kualitas guru perlu dipertanyakan. Para guru yang terhitung masih sangat muda itu di siang hari mengajarkan pelajaran di sekolah dan di malam hari, masih bisa kita lihat joget di saat pesta kampung atau berkata tidak sopan dalam pergaulannya. Bukankah seorang guru yang diikuti bukan hanya pelajarannya tetapi juga bagaimana dia ber-akhlak. Apa jadinya jika akhlah dan mental pendidik bobrok? Apa yang bisa ditiru oleh muridnya? Tak ada lagi pendidikan berkualitas yang bisa dihasilkan. Tak ada lagi pola mengajar dan komunikasi yang mampu membuat siswa rindu akan sekolah. Beberapa guru muda pernah datang bertamu ke rumah saya, dan masuk sampai dapur tanpa mengucapkan salam. Dan setelah yang dicari tak ada, mereka pergi tanpa mengucapkan salam pula. Kemana larinya sopan santun seorang guru? Bagaimana ia bisa mengajarkan sopan santun kepada siswanya jika ia sendiri tak punya itu? Padahal, Pendidikan adalah instrumen rekonsiliasi sosial. Jika tak direkayasa pola pikir siswa secara baik dari sekarang, hal ini bisamengancam eksistensi integral sosial dalam sebuah masyarakat di masa yang akan datang.

Sungguh, saya berduka atas mental-mental pendidik seperti ini. Namun, saya percaya masih ada para pendidik yang luar biasa. Masih ada pendidik yang menjadikan pendidikan sebagai nafasnya, sebagai hidupnya. Sungguh, saya percaya mereka masih ada.

Dan sungguh, saya masih berharap akan sebuah perbaikan .......

* Ditulis untuk postingan MBC meramaikan Hardiknas*

Para Pelukis Semangat

3 tahun sudah saya tinggalkan dunia pendidikan formal, kemudian mengakrabi pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan dimana setiap orang adalah tempat kita belajar. Setiap peristiwa adalah bab yang diajarkan oleh alam, oleh Tuhan. Pelajaran yang baru kita tahu temanya setelah dijalani, ya, belajar tentang kehidupan itu sendiri.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang 18 tahun di bangku sekolah resmi sejak TK hingga kuliah. Masuk TK di usia 4 tahun hanya karena ingin berpakaian putih biru seperti kakak, yang karena itu pula ditolak oleh salah satu SD favorit di Ambon pasca lulus TK karena katanya tidak menerima siswa berusia 5 tahun. Sampailah saya pada sebuah SD yang sederhana, yang saat itu hanya karena kekecewaan ditolak oleh SD yang sebenarnya saya dambakan. SD Negeri 5 Tawiri Ambon, sebuah sekolah di Bilangan Tawiri yang sunyi dari lalu lalang kendaraan. Sekolah yang tampak sangat sederhana tapi disitulah saya menemukan pendidikan yang sebenarnya. Guru-guru yang luar biasa yang percaya akan setiap anak didiknya, yang menganggap setiap muridnya adalah emas yang layak untuk disepuh.

Persahabatan yang muncul di sekolah sederhana nan bersahaja ini bukan hanya persahabatan antara para siswa tapi juga persahabatan antara saya dan beberapa guru bahkan hingga detik ini. Diawali dari Ibu Kariuw di kelas 1, lalu seterusnya Ibu Mina Waliulu, (alm) Pak Sabban, Ibu Sahertian, Ibu Sapulette, Ibu Mien Berhitu, Ibu Rat, Ibu Nun Keliobas, dan Pak Dadiara. Mereka inilah yang sangat yakin akan kami, para muridnya. Mereka yang selalu memompa semangat kami agar yakin akan kemampuan kami. Dan hingga kini, setiap tahun kami selalu menyempatkan diri ke SD tercinta itu menjenguk mereka dan setiap tahun pula mereka selalu bilang bahwa mereka bangga akan kami. Sesungguhnya kami-lah yang bangga akan mereka. Karena mereka-lah, kami bisa sampai di titik ini.

Di SMP (SMP Negeri 2 Ambon), tak banyak sosok guru yang bisa saya ceritakan. Tapi ada satu guru yang melekat di hati yaitu Pak Umar (Guru PPKN). Di satu kesempatan, beliau pernah menjaga kami saat tak diijinkan keluar sekolah sementara kami belum shalat maghrib. Beliau lalu meminjam lab Biologi,dan menyuruh kami shalat di atas meja lab, sementara beliau di luar lab menunggui. Sungguh luar biasa. Entah dimana beliau sekarang. Terakhir ketika beliau bertemu dengan Ayah, beliau sempat menanyakan keadaan saya, dan katanya beliau sudah ngajar di Ternate, pindah karena konflik 1999 itu. Di SMA (STM Telkom Makassar), banyak guru yang kocak, yang santai. Tapi ada juga yang killer. Disini tak banyak yang bisa saya ceritakan karena semua gurunya luar biasa. Ada kenangan dari setiap pendidiknya.

Semua pendidik yang saya temui selama 18 tahun ini adalah pribadi-pribadi yang luar biasa. Mereka berkorban banyak untuk anak-anak didiknya. Hal itu baru saya sadari 3 tahun yang lalu. Saat kuliah sudah berakhir, LAB yang saya kelola sedang tak ada praktikum, dan belum ada keinginan untuk pulang kampung ke Ambon, ada tawaran dari Dosen untuk mengajar di salah satu STM Listrik di Surabaya. Saya mengajar di kelas 1 dan 2 dengan total 6 kelas yang per kelasnya 36 orang. Bisa dibayangkan, menghadapi 216 anak usia SMA yang kesemuanya laki-laki. 216 keinginan, 216 karakter, 216 kemauan, 216 tingkah aneh-aneh, dan beberapa yang kurang ajar.

Memang, masih ada jenis murid yang menyenangkan. Yang sering berdiskusi, yang kemauan belajarnya tinggi. Beberapa yang setiap harinya curhat masalah pribadi. Kita juga sering makan bersama sambil berdiskusi di ruang kelas. Banyak hal yang menyenangkan. Namun ada satu peristiwa yang begitu menyesakkan dada. Saat itu, entah bagaimana, kelakuan semuanya begitu menjengkelkan. Mungkin juga karena pembawaan yang memang sedang capek, semua hal jadi begitu menyebalkan. Kelakuan mereka di dalam kelas yang kelewat batas dan saya yang tak bisa mengeluarkan emosi di depan mereka hanya memilih diam. Dan sebelum jam mengajar berakhir, mereka saya pulangkan karena batin saya yang capek.

Saya pun pulang. Dan dalam perjalanan pulang itulah, tangis tak bisa dibendung. Tangis capek dan tangis mengingat jasa para guru dan terutama ibu saya yang juga seorang guru. Betapa susahnya menjadi seorang guru. Di sekolah, dihadapkan dengan berbagai macam masalah dan sampai di rumah, bisa saja ada masalah-masalah baru dalam keluarganya. Atau sebaliknya, di rumah sedang bermasalah dengan keluarga, namun harus tetap ke sekolah dan mengajar tanpa melibatkan emosi, mengabaikan suasana batin yang sedang tidak enak.

Itu pula mungkin penyebabnya, kenapa kita sering melihat guru-guru yang melakukan tindak kekerasan. Tekanan pekerjaan dan suasana yang batin yang tidak mendukung bisa menjadi alasan seseorang tak bisa mengendalikan emosinya. Karena itulah, melalui tulisan ini, saya ingin memberikan apresiasi yang luar biasa kepada guru-guru yang masih bisa tersenyum di sekolah. Bahkan kadang senyuman itu yang bikin murid-muridnya tersenyum lebih ceria. Apresiasi yang tinggi kepada para pendidik yang mampu melejitkan setiap anak didiknya menjadi orang yang lebih hebat darinya dan tersenyum bangga tak menuntut balas.

Terimakasih tak terhinggaku kepada seluruh guruku di SD Negeri 5 Tawiri Ambon (Ibu Kariuw, (alm) Pak Sabban, Ibu Sahertian, Ibu Sapulette, Ibu Mien Berhitu, Ibu Mina Waliulu, Ibu Rat, Ibu Nun dan Pak Dadiara). Mereka-lah peletak kedua batu semangat belajarku (setelah orang tuaku, tentu saja). Mereka yang hingga detik ini, setiap kali bertemu dengan saya, selalu mengatakan kebanggaannya, meski saya tak tahu apa yang mereka banggakan. Saya-lah yang bangga dan beruntung dididik oleh mereka. Love you all.

*ditulis dalam rangka Hardiknas*

*ditulis dalam rangka apresiasi MBC (Maluku Blogger Community) pada guru lewat tulisan*

Thursday, April 30, 2009

--- Sempurna Mencintai Ketidaksempurnaan ---


Kadangkala kita hanya butuh didengar. 
Kadang pula kita hanya butuh diam 
dan setelah beberapa saat,
rasanya sudah bicara banyak.

Kesempurnaan adalah hal,
yang tak akan pernah didapat sampai tutup usia. 
Karena sempurna bukanlah barang yang sudah ada. 
Kesempurnaan itu ada di hati yang siap menerima. 

Mengerti lalu berdamai, 
baru di saat itulah sempurna menjelma 
menjadi bahagia yang nyata. 

Saturday, April 18, 2009

Menangislah ... !!!!!


Menangis bukan dosa 
Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik
Menangislah jika itu satu satunya cara bikin kau tersenyum kembali
Menangislah jika hanya itu caramu mengekspresikan segala gundah atau bahagia

Dan malam ini,
Aku ingin menangis untuk banyak alasan.
Untuk kenyataan yang tak seindah harapan
Untuk kekecewaan yang terus menerus bertambah
Untuk sakit yang kian meradang

Aku pun ingin menangis untuk ...
Segala kesenangan yang sudah Allah berikan
Segala rezeki yang tak putus dialirkan
Semua kebahagiaan yang melengkapi hidup
Dan untuk setiap senyum yang masih bisa kutebar

Tangisan ini juga untuk.....
Ketidakadilan yang dipertontonkan di hadapanku
Keangkuhan yang diperlihatkan dengan penuh kebanggaan
Kemunafikan yang menjijikkan yang terus dimainkan dengan sempurna
Kebutaan hati nurani yang tak lagi tahu membedakan mana yang haq dan mana yang batil

Tangisan ini untuk diriku,
Yang belum bisa berbuat apa-apa
Yang hanya bisa menangis melihat kenyataan pahit ini

Malam ini, aku ingin menangis
Agar esok aku bisa menatap dunia


*ditulis di sudut kamar dengan uraian air mata dan rasa sesak tak terjelaskan*
18 April 2009, 11 : 13 PM

Friday, April 17, 2009

Road to Waesala






Tadinya pengen cerita panjang tentang kisah ke Waesala. Tapi sampai depan kompi, rasanya tak ada yang bisa diceritakan dengan pas lewat tulisan. Perjalanan tugas seklaigus perjalanan batin. Dua hari bersama masyarakat yang tanpa penerangan selama 48 jam itu. Belum lagi aura ketulusan, kewibawaan dari seorang abi, panggilan untuk Bapa Raja Waesala, yang langsung masuk ke ruang batin paling dalam.

Perjalanan ini biarlah jadi cerita jiwa yang indah. Untuk kalian, saya share foto-fotonya karena foto-foto ini juga bercerita ....

1.Demi Waesala, dorong mobil juga dijabanin

2. Mejeng setelah dorong mobil

3. Kopi tubruk terenak yang pernah saya coba, layak mendapatkan setelah liat mereka dorong mobil

4. Menu makan malam hari pertama, ikan bakar buatan umi

5. Pemandangan dari gunung Waesala

Road to Waesala (2)

1. Salah satu jalan ke Waesala

2. Pemandangan dari belakang rumah Abi

3. Hiburannya anak2 Waesala

4. Salah satu rumah sisa Konflik Sosial di Waesala




Tuesday, April 14, 2009

Pertanda atau Sindrom?

Hari-hari belakangan ini, kok ya rasanya semakin berat. Orang bilang ini sindrom. Saya bilang ini pertanda. Entah pertanda baik atau buruk. Ada saja hal-hal yang bikin tidak yakin, bikin serasa mengambil keputusan yang salah. Kayak memikul beban yang berat dengan kekuatan yang tak seberapa ini. Dont know, tapi ada bagian hati yang bilang “yakin lo?”. Dan itu pertanyaan yang belum bisa saya jawab sampai saat ini.

Mungkin ini pertanda untuk sedikit mundur. Mundur melihat lagi apakah ini benar-benar hal yang saya inginkan? Sebelum semuanya terlambat ketika keputusan telah diambil. ini saatnya untuk merefleksikan kembali apa yang saya butuhkan sebenarnya. Ini saatnya untuk berkontemplasi, lalu kembali dan memutuskan bertahan atau menyerah.
Maaf, tapi saya harus pergi, entah untuk berapa lama. Ada yang harus kuselesaikan dengan diriku sendiri. Dan jika kembali, lets talk.

*14 hari sudah, hufffh, tarik napas panjang gak habis-habis*

* Kangen Batistuta, apa hubungannya yak????*

Friday, April 10, 2009

Siap Kalahkah?

Satu hari pasca pencontrengan. Hasil memang belum diketahui. Masih banyak proses perhitungan yang harus dilakukan. Namun, bagi sebagian besar dari mereka yang punya hajatan alias caleg, pasti sudah bisa mengetahui ini saat untuk berlapang dada, atau melanjutkan merekap suara. Yang menarik perhatian saya adalah sudahkah para Caleg ini menyiapkan mental untuk kalah sejak awal? SBB misalnya, kursi dewan hanya 25 dan itu direbut oleh 527 orang. Versi lain mengatakan 800 sekian. See, akan ada 522 atau 775an orang yang bakal gigit jari. Apalagi kalau dalam usahanya sudah banyak dana yang dikeluarkan. Iya kalau dana pribadi, hitungannya cuma rugi doang, lah kalau ngutang?

Yang perlu dicermati lainnya adalah apakah kekalahan dalam Pemilihan ini berdampak pada kehidupan sosial setelah ini? Tak tahu siapa lawan siapa kawan. Tak jelas pula apakah yang dipercayai untuk memenangkan dirinya, benar-benar bekerja untuk dirinya atau tidak. Lantas, jika di satu tempat yang tadinya diprediksi bisa mendulang suara karena punya tisu dan ternyata nihil atau tidak sesuai prediksi, bagaimana hubungan si Caleg dengan tisunya itu? Burukkah atau baik-baik saja?

Lalu, perasaan tidak percaya lagi, perasaan sudah dibohongi dan macam-macam mulai bermunculan. Aduh, tak kuasa rasanya kalau harus hidup dengan beban perasaan seperti itu. Hidup ini terlalu indah untuk disibukan dengan perasaan-perasaan negatif. So, tak perlulahada dendam, tak perlulah ada benci atau apapun. Tetaplah menyebar kebaikan dna hidup tak berhenti hanya karena tidak di kursi panas itu. Dan bagi mereka yang nantinya duduk di kursi panas itu, sering-seringlah berdiri dan mengunjungi mereka yang membuat kalian duduk disitu. Kalau betah duduk dan melupakan mereka, hati-hati,bisa terbakar saking panasnya.

Mungkin terlalu dini buat saya menulis ini. Yang jelas, saya ingin menyampaikan kepada siapapun nanti yang duduk di Dewan, masih banyak yang percaya bahwa Golput adalah jalan terbaik. Namun masih banyak pula yang merasa masih punya harapan dengan tidak Golput. Tugas kalianlah untuk tidak mengecewakan mereka, agar tidak menambah daftar panjang Golput 5 tahun mendatang. Amanah tidak sepantasnya direbut seperti ini, karena langit dan bumi saja menolaknya. Namun jika amanah sudah diemban, jalankanlah dengan penuh tanggung jawab. Masyarakat masih berharap.

Catatan : Ada caleg yang lulus SMA-nya kejar paket C, tapi perolehan suaranya bagus. Apa karena punya uang ya? Ah, ternyata masyarakat masih belum cerdas memilih.

Thursday, April 09, 2009

Contreng Day !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

9 April 2009, tanggal yang 8 bulan terakhir ini hampir setiap hari kita dengar di media cetak maupun elektronik. Demikian pula dengan kata contreng yang tiba-tiba menjadi kosakata bahasa Indonesia. Kami, yang ada di belahan bumi tidur, dengan sedikit “dipaksa” harus familiar dengan kata contreng yang notabene bahasa Jawa itu. Kenapa pula tidak pakai kata centang saja? Oke, its not a big deal now, toh sepertinya semua sepakat bahwa pada tanggal 9 April 2009, kita semua harus ke TPS untuk mencontreng.

Dan saatnyalah hari ini,9 April 2009 telah tiba dan aktivitas mencontreng diperbolehkan untuk dilakukan. Suasana TPS 6 di tempat saya memilih pukul 11 rame, rameee banget.
Ada beberapa hal menarik terjadi seputar Pemilu Legislatif ini. Pukul 11, antrian masih banyak. Kondisi ruangan yang sempit dengan antrian yang panjang bikin keringat tidak berhenti mengucur. Uniknya tak ada yang mengeluh, semua tetap mengantri meski berpeluh. Beberapa menit lewat dari jam 11, ada PPS yang datang dan bilang tentang aturan batas waktu pencontrengan yaitu jam 12. Tahu apa yang terjadi setelah itu? Pemilih ngamuk choy, mereka gak mau hak pilih mereka tidak terpakai karena aturan jam 12 itu. Mereka memprotes keputusan itu. Perang mulut-lah PPS dan para pemilih dan proses antrian tertunda sekitar 15 menit.

Saya sebenarnya juga mau ikut protes dengan keputusan itu, tapi mulut ini sudah kelu untuk ikut bicara. Terpesona akan kemarahan para pemilih. Padahal kalau mereka tidak memilih, yang rugi caleg-calegnya. Kemarahan itu juga bikin takjub karena di balik itu saya melihat mereka masih punya harapan. Harapan untuk 5 tahun lebih baik dengan menentukan siapa yang akan mengawal keinginan mereka, at least untuk 5 tahun ke depan. Golput karena alasan apapun, mungkin di sebagian tempat jadi trend. Tapi di Kabupaten Seram Bagian Barat, tepatnya Piru, masyarakat masih punya harapan.

Melihat mereka dengan antrian penuh peluh, saya berharap semoga ini tidak sia-sia. Ada yang bilang “contreng 5 menit untuk derita 5 tahun”. Bagi mereka yang mengatakan itu, saya ingin bilang, setidaknya mereka punya usaha untuk terlibat dalam memutuskan masa depannya. Daripada kalian yang sibuk mencaci maki demokrasi, meneriakkan golput, tanpa memberi solusi.

9 April 2009.
*Indonesia dalam harapan menuju lebih baik*

Wednesday, April 08, 2009

Haruskah kekuasaan menutup mata hati?

Euforia punya rekan kerja baru sejak 24 jam yang lalu sangat melegakan hati. Bahkan semalam kita sudah acara makan bersama. Pagi tadi, terpikir untuk membuat tulisan selamat datang kepada new comer di office, seperti tulisan selamat jalan kepada pendahulu posisi tersebut. Tapi, buum, dalam waktu 10 menit, semua bisa berubah. Betapa kekuasaan begitu memegang peranannya dan mencengkeram serta memporak porandakan sistem yang berlaku dan prosedur yang telah dijalani.

Kekecewaan yang kurasakan sekarang, tentu saja tidak sebesar kekecewaan dia yang menjadi korban. Mengapa harus ada korban atas sebuah kekuasaan yang dimaknai terlalu tinggi. Harus ada korban atas sebuah otoritas yang terlalu berlebihan. Alasan yang terkesan dibuat-buat hanya untuk menutupi alasan yang sebenarnya. Saya mempertanyakan profesionalitas. Saya mempertanyakan kejujuran. Saya mempertanyakan kualitas yang ditawarkan dari proses yang licin ini.

Mencari posisi aman tidaklah harus dengan mengorbankan perasaan orang lain. Bawahan bukanlah robot yang tidak punya hati yang atas nama kekuasaan bisa diperlakukan seenaknya. Atasan juga bukanlah seorang nabi atau malaikat yang suci yang selalu benar. Komunikasi, bagaimana cara kita mempertahankan apa yang kita yakini benar, mempertahankan hal-hal prinsip yang kita anut, semestinya bisa dilakukan sampai titik darah penghabisan.

Berulangkali saya berpikir, apakah ini saat yang tepat untuk membuka aib orang lain demi mempertahankan apa yang diyakini? Jelas sangat tidak bijaksana. Betapa tidak adilnya kenyataan yang terjadi hari ini. Hati kecil rasanya ingin berteriak meneriakkan kebenaran, meneriakkan ketidak adilan, meneriakkan kedzaliman yang secara tidak sadar dilakukan.

Bentuk apresiasi yang salah tempat. Salah kaprah. Eneg..eneg...eneg.
Aku marah sampai rasanya mau muntah.

Saturday, April 04, 2009

Blogger Maluku (Part 1)


Lets the story begin....

Dulunya, ngeblog menjadi hal yang menyenangkan. Sorry, kata "dulu" bukan berarti sekarang tidak menyenangkan lagi. Itu hanya penggambaran waktu. Setiap hari selalu ada yang baru di blog ini. Apapun itu, hal sekecil apapun itu pasti tertuang. Yang berantem sama petugas perpus, yang dorong sepeda motor dari jalan masuk UBAYA tengah malam karena banjir, yang habis nonton Perancis - Itali, yang habis dapat hadiah pepaya dari murid, apapun itu selalu tertuang. Menulis, posting tepatnya, menjadi hal yang sangat dirindukan. Dalam perjalanan, dalam benak telah berkumpul rangkaian kata yang ingin secepatnya dituang kalo nanti berhadapan dengan kompi. Dulu, ya dulu.

Sekarang, pekerjaan nge-blog menjadi hal yang jarang *sengaja tidak pakai kata tidak pernah* dilakukan. Bukan karena demam FB, karena jauh sebelum kena demam itu, blog sudah jarang di-update. Lantas karena apa, saya sendiri lupa. Namun, belakangan ini kerinduan untuk aktif nge-blog lagi muncul. Blogwalking, say hello di shoutbox, comment gak penting di postingan blogger yang lain atau hanya sekedar membaca. 

Dulu, membaca apapun yang terbaru dari blogger lain selalu menginspirasi. Secara tidak sadar, pertemanan terbentuk dengan sendirinya, keakraban yang tercipta tanpa pernah bersua menjadi sesuatu yang menakjubkan. Lalu, datanglah hari ini. Hari yang perlu dicatat dalam lembar sejarah hidupku. Sepersekian dari blogger Maluku berkumpul di Cafe Seroja. Dari kanan ke kiri AlmasOm EmbongIkhsan, TiaraAku , Masrur, Dharma. Awal yang menyenangkan dan definitely sure adalah awal dari hal-hal menakjubkan lainnya.


Banyak hal yang bisa dilakukan bersama nantinya. Bukan cuma sekedar menyebarkan virus blog pada orang-orang seperti kata bung Almas, tapi lebih dari itu. Bagaimana human connection tercipta, dan setiap kami bisa mendapat hikmah lebih dalam dari yang lainnya. Kepingan-kepingan hidup setiap kita bisa jadi sebuah inspirasi yang penting bagi yang lainnya. 

Sejak hari ini, mari bergerak bersama. Kita lakukan banyak hal-hal hebat bersama. 

Sejak hari ini, awas keduluan ***** (gak berani tulisnya, hehehe)

Catatan : Ditulis setelah pertemuan perdana bersama blogger Maluku, Sabtu 4 April 2009 di Cafe Seroja, Amplaz . Foto-foto di blog almas

Just Enjoy The Trip

It’s complicated.
Make a trip with people who sucks me for much of thing. There is a lot of criteria and all of that make me feel so uncomfortable. One, thinks that he only have one boss and no there is no one can tell him what he must do. Two, act like he knows everything. Think that he is the one and only knows everything and just talk and talk and talk. Three, act bossy with no realize who exactly he is. 
For man A, I wanna say “Stop be like a jerk”. For man B, I wanna say “Ups, it is disquisting”. For man C, I wanna say “Who the hell you are?”

One thing that make me stay that I’ve been said that I must enjoy my trip. Try to connect with nature, just enjoy it. The sound round and round in my head and make me feel comfort during the sucks thing. And then, I like to see the stones, the rockstones, the trees,fish, white sand, island,and many view which make me calm.

I enjoy my trip, I enjoy be with 3 man who makes me sick, try to take what happen to me today. And then, everything goes normally again. There is a smile, there is a laugh, there is a help, there is human connection, there is take a picture, there is much thing I love it. Fortunately, beside I have 3 annoying man,I have 5 funny man. A with his calm and it send to me. B with the “wanna know” behaviour. So, we discuss all that time. C with his funny laugh, if he laugh, I laugh although for me that’s not funny joke. D with his wise,calm. He is so adult. And the,E, who enjoy his life much. Never take everything personally, cheerfull people. Yup, I’ve work trip with 8 man. 

Just relax if you have a bad situation. Just relax if you have a friend who doesn’t respect you. Just relax if everything happen not like what you want to be happen. Just relax, just take a deep breath and enjoy it. Everything will fine. I believe in good. The good thing will happen if we believe it.the good thing will happen if we survive through the screw. Everything will be okay if we believe it will be okay.

And now, I am okay with today. And for that feeling, thanks to someone who call me at 4 a.m just for ask me to enjoy my trip today. You are my person, thanks……..

Is that the right thing?

Bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu baik untuk kita, bahwa sesuatu itu memang untuk kita? Kadang, di awal serasa tepat, serasa kita memang dilahirkan untuk mendapatkan hal itu. Tapi seiring berlalunya waktu, rasanya hambar, rasanya begitu tidak tepat lagi. 
Lalu, ketika kita mulai merasakan ketidaktepatan itu lagi, bagaimana kita bisa tahu bahwa itu memang tidak tepat? 

Belakangan ini saya berpikir, apakah memang ini yang saya inginkan? Apakah dalam hidup, ini yang saya inginkan dan yakini untuk dijalani? Siapa yang memberi jaminan bahwa pilihan-pilihan yang saya buat nantinya tidak akan membuat saya menyesal?

Yang dibutuhkan oleh saya sekarang adalah waktu. Waktu untuk berkembang,waktu untuk berpikir, atau mungkin waktu untuk membiarkan pergi. 
Megap-megap rasanya ketika harus mengupayakan semuanya sendirian. Memastikan semuanya baik-baik saja,membakar diri sendiri demi terangnya sekitar. Kadang, bersikap seperti lilin bukanlah sikap yang tepat. Bagaimana bisa kita terus menerus membakar diri sendiri supaya orang disekitar kita dipenuhi cahaya. Bagaimana setelah kita selesai terbakar? Setelah kita menjadi abu?

Memberi dan memberi, itu yang terus menerus berusaha kudengungkan agar tak menyerah. Memberi dan hanya memberi, itu saja. Karena cinta adalah memberi

Tuesday, March 24, 2009

Kembali Menulis

Menulis menjadi hal yang asing bagiku saat ini. Sepertinya tak ada waktu lagi untuk menulis. Seketika kerinduan itu menyeruak batin, saat-saat dimana aku begitu menikmati waktu merefleksikan kejadian yang kulewati setiap harinya, merenungi setiap hikmahnya dan merangkai dalam kata-kata.
Padahal, saat sekarang ini justru begitu banyak kejadian terjadi di sekitarku. Aku bertemu dengan begitu banyak orang, bersinggungan dengan begitu banyak variasi pemikiran, perasaaan yang begitu fluktuatif antara sakit, suka, duka, lelah, kecewa, gelisah, bosan, dan sebagainya. Begitu banyak hikmah yang bertebaran di sekitarku dan semua terlewatkan begitu saja, tak terdokumentasikan dalam benak dan tulisan. Ah, mutiara hidup yang kuabaikan.

Kini, puing-puing hikmah yang berserakan itu satu persatu akan kukumpulkan kembali. Mencoba menjernihkan hati dan melihat setiap hal dari kacamata kebaikan. Mencoba mengeja makna setiap peristiwa dan membingkainya dalam nilai nilai ketuhanan.

Waktunya untuk kembali menuliskan kebenaran lewat kata-kata sederhana yang seringkali tak menggigit. Waktunya menuangkan pikiran yang lebih banyak salahnya, menulis apa yang tak sanggup terucap. Waktunya untuk kembali merefleksikan diri dalam barisan kata-kata. Bukan untuk siapa, tapi untuk diri ini, untuk batin ini.

Monday, October 20, 2008

Sekali Lagi untuk Santje dan Iwan

Tahukah kau sobat?
Arasy kembali berguncang.
Tempat suci itu bergetar hebat mendengar suara perkasa seorang hamba
Suara teguhnya yang siap mengambil alih dirimu
Ya.. dirimu sobat
Yang telah dijemput dengan gagah oleh seorang pangeran

Tentu itu tak main-main bukan?
Getaran arasy pastilah sampai ke hatimu
Juga hatinya yang menggenggam tangan ayahmu
Siap mengambil alih tanggungjawab menjagamu dari seorang ayah
Seorang yang telah merelakan setiap aliran darah dan nafas untukmu selama ini

Tahukah pula kau sobat?
Sejak hari itu, kau tak lagi sendiri
Genaplah sudah sayapmu
Kau pun siap terbang tinggi, lebih tinggi dari yang selama ini kau arungi

Sobat,
Jika pun kau tak tahu itu,
Dan baru kau sadari saat ini
Aku yakin , ada satu hal yang kau tahu
Bahwa aku, disini, menemanimu dalam doa
Agar ketika kau terbang mengangkasa
Kau tetap tunduk pada Allah
Agar perjalanan yang sudah kau mulai bersamanya ini
Selalu Allah yang kalian jadikan tujuan

Sahabatku,
Doaku terangkai indah
Semoga rumah cinta kalian selalu diselimuti keberkahan


Nb : Buat Santje dan Iwan di bumi Ambon di 18 Oktober 2008. Wan, jaga Santje-ku baik-baik ya

Saturday, October 18, 2008

Persembahan Cintaku untuk Santje dan Iwan


Say, langkahmu kini tak lagi sendiri. Disampingmu telah berdiri seorang pria yang siap melakukan apapun agar kau bahagia. Telah ada seorang pria yang kudengar sendiri dengan lantangnya berakad menganbil tanggungjawab akan dirimu dari papa.

Say,
Melihatmu dengan balutan putih yang elegan dan suci tadi, sulit kujelaskan dengan kata-kata kebahagiaanku. Begitu cepatnya waktu berlalu. Sepertinya baru kemarin kita berlari-lari di sekolah saat jam istirahat tiba. Baru kemarin kau mengibarkan bendera dan aku protokolnya. Baru kemarin kita pergi les bareng hampir tiap hari. Masa-masa SD yang indah.

Persahabatan yang tak bisa dibilang sederhana ini semakin lengkap karena kehadiran suamimu sekarang. Dia yang sejak awal telah begitu mengerti arti setiap kita bagi yang lainnya. Semoga kehadirannya membuat warna persaudaraan kita semakin indah.

Sayangku,
Aku tak punya khutbah pernikahan, tak punya pula pesan untuk kalian bagaimana supaya tetap bahagia. Aku hanya punya doa. Aku hanya punya harap yang begitu besar bahwa selamanya akan selalu kulihat senyum di wajahmu. Selamanya hanya bahasa bahagia yang terangkai dari bicaramu. Selamanya hanya pancaran kilat penuh cinta yang kulihat dari indah sinar matamu.

San dan Iwan,
Pernikahan tidak cuma sampai di sini, sobat. Ada banyak pekerjaan dan tugas yang menanti. Bukan sekedar merapihkan rumah kembali dari sampah-sampah pesta pernikahan, karena itu mungkin sudah dikerjakan oleh panitia. Bukan menata letak perabotan rumah tangga, bukan juga kembali ke kantor atau beraktifitas rutin karena masa cuti habis.

Tapi ada hal yang lebih penting, menyadari sepenuhnya hakikat dan makna pernikahan. Bahwa pernikahan bukan seperti 'rumah kost' atau 'hotel'. Di mana penghuninya datang dan pergi tanpa jelas kapan kembali. Tapi lebih dari itu, pernikahan merupakan tempat dua jiwa yang menyelaraskan warna-warni dalam diri dua insan untuk menciptakan warna yang satu: warna keluarga.

Say,
Harapanku yang terbesar adalah tetaplah menjadi sahabat yang baik bagiku dan Lia. Karena itu sangat berharga. Melangkahlah sayang, tapaki jalan yang terbentang di hadapanmu sekarang. Jalan yang bukan hanya ditaburi mawar merah dan ditemani kicauan burung. Tapi adalah sebuah jalan yang juga banyak ditaburi kerikil kecil yang seringkali menjadi penyebab tersandung. Jalan yang sejuta rasa bercampur di dalamnya. Bahagia, senang, tawa, senyum, tapi juga ada sedih, air mata, kecewa, marah, gelisah. Bingkai ia dengan ketaatan pada Rabb. Kau akan semakin kuat dan cinta akan menjadi obatnya.


Tak ada yang bisa kuberikan. Hanya sejumput doa agar kau bahagia selamanya. Impian yang besar dari seorang sahabat yang memiliki cinta sederhana ini. Dan kepada Iwan, aku ingin meminta kembali satu hal yang sudah kusampaikan di pelaminan tadi, titip san ya, buat dia bahagia. Entah bagaimana caranya, buat dia bahagia. Terimakasih telah memilih sahabatku sebagai pendampingmu. Dia yang terbaik.

San, bersabarlah saat kurang, bersyukurlah saat berlebih. Suamimu bukan malaikat. Ia hanyalah lelaki biasa yang mencoba menjadi malaikat setidaknya untukmu. Berbaktilah dengan bakti terbaik yang bisa kau berikan.
Iwan, istrimu bukan malaikat. Ia hanyalah wanita biasa yang mencoba menjadi malaikat setidaknya untukmu. Luruskan kala bengkok, tapi jangan kau patahkan.

Ambon, 18 Oktober 2008
Sebuah harap bagi Santje dan Iwan yang telah mengambil sebuah langkah besar. Wish you happy ever after.

gambar dari : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqB7NhJucRLjwHo6PW3IMrqmQW7al31zCf3fybhyphenhyphenCNQlnq6i1sOdIIhbAMAPLxrXb5pEoEIr7Bxgg7PsEBkYfxFVTMU9JubqhZ4wnr5kUYniZ5JTnf-hfBTM09BOx3Q3e52AUi/s320/wedding.jpg (dra, ngikut nih)

Saturday, October 11, 2008

Ketika Takdir Bicara

Kehilangan orang-orang yang kita cintai dalam sekejap pastilah terasa sangat menyakitkan. Ketika beberapa jam sebelumnya, kita masih bisa menikmati tawa riang anak-anak kita.bocah-bocah lucu yang pada dirinya telah tertanam sejuta harapan untuknya dalam benak kita. Putra-putri yang padanyalah hidup kita terarah. Lalu tiba-tiba dalam hitungan menit, ia pergi dan tak akan kembali. Dengan cara yang tak biasa pula.
Lalu, apa pula rasaya ketika kita baru saja menikmati senyuman tulus pasangan kita. Melihat riang di matanya dan terpana kagum melihatya ceria menggendong buah cinta. Masih sempat bercerita tentang mimpi-mimpi yang ingin kita rajut bersama. Lalu selang beberapa saat kemudian, pasangan hidup kita mengalami musibah dan harus terbaring lemah di Rumah Sakit tanpa tahu kapan bisa keluar.

Aku memang belum punya pasangan, apatah lagi punya anak. Tapi kecamuk yang dirasakan oleh senior di kantor kini, jelas ikut menusuk batin terdalamku. Kecelakaan mobil Piru – Ambon seminggu lalu jelas menyisakan kekosongan yang mendalam di runag hati. Kehilangan dua orang anak seketika setelah sejam yang lalu masih bersama di feri sungguh sesuatu yang tak ada seorang pun bisa membayangkan. Dan pikirannya kini tercurah pada kondisi kesehatan sang istri sambil berusaha menyembunyikan kepedihan kehilangan anak di depan istrinya itu.

Anak-anak itu, masih begitu muda. 4 dan 5 tahun. Ada begitu banyak keinginan yang ingin diwujudkan orang tua mereka kelak kalau mereka besar nanti. 4 dan 5 tahun, masih banyak kelucuan-kelucuan yang bisa tercipta mewarnai har-hari indah di rumah. Ah, tak bisa kubayangkan.

Begitulah ketika takdir telah berbicara. Manusia memang tetap harus berhati-hati, berikhtiar mengusahakan yang terbaik. Namun di saat yang sama, manusia juga harus bisa menerima setiap ketentuan yang digariskan kepadaNya. Karena apapun yang terjadi, itu dengann ijinNya. Keihklasan dalam menerima takdir Allah yang berlaku pada kita, insyaAllah bisa membantu kita lebih cepat sembuh dari luka karena kita yakin seperti apapun keras dan sedihnya hidup ini, itu berjalan dengan kasih sayangNya.

Aku mencoba memaknai peristiwa ini sebagai sebuah peringatan dari Allah untuk semakin dekat denganNYa karena kita tidak tahu dalam kondisi apa kita saat kita dipanggil olehNya. Apakah dalam keadaan beriman atau tidak. Sebuah pelajaran juga bahwa kita sebenarnya tidak memiliki apa yang kita pikir kita miliki. Orang-orang yang kita sayang, sahabat-sahabat kita, keluarga kita, anak kita, teman kita, bahkan diri kita adalah kepunyaanNYa. Dan ketika Yang Memiliki mengambil kembali apa yang dititipkan ke kita, bolehkah kita protes? Apa hak kita untuk protes? Bukankah kita hanya dititipi?

Allah, jagalah diriku dan seluruh saudara-saudaraku dengan penjagaanMu yang tiada apa bisa menandingi. Tetapkanlah kami dalam keistiqomahan di jalanMu dan hiasi sayap kami dengan indahnya akhlak karena mencintaiMu.

Sunday, September 28, 2008

Happy Lebaran 1429 H

Menghitung mundur, hari Ramadhan akan segera berlalu. Bertanya pada diri, adakah Ramadhan ini berarti? Adakah berakhir dengan predikat kesayangan Allah. 

Sejujurnya, aku merasa grafik Ramadhan tahun ini menurun dari tahun kemarin.  Padahal tahun kemarin juga gak bagus-bagus amat. Bahaya nih.

Lepas dari itu semua,

Aku pengen ngucapin Selamat Lebaran buat semua teman blogger yang merayakan.

Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan. Bagi yang mudik, hati hati di jalan ya. Orang-orang terkasih menanti di rumah. 

Semoga selalu ada Allah dalam setiap lintas pikir kita, dalam setiap jejak hati kita.

Thursday, August 14, 2008

Renungan Kesyukuran dari Dahan dan Air

Seperti tahun-tahun sebelumnya, suasana mendekati perayaan kemerdekaan penuh hiruk pikuk merah putih. Setiap kantor seperti berlomba mendandani kantornya dengan nuansa merah putih atau bendera hias lainnya. Euforia itu juga terjadi di kantorku. Sebelum nanti ditegur sama yang berhak menegur, tiang bendera harus segera dipasang. Yah,biar kita bisa nyanyi ”Berkibarlah bendera negeriku, berkibarlah di depan kantorku”.

Sebetulnya postingan ini bukan tentang kemerdekaan.
Jadi gini, sejak beberapa hari yang lalu ada orang kantor yang sudah ngurusin pemesanan tiang bendera plus ngecat-ngecat dan nyiapin tempat bakal berdirinya itu tiang. Nah, jadilah tadi siang tiang itu berdiri ditempatnya. Tiang setinggi 6 meter jadi bagian dari kami mulai hari ini. Didepannya tiang bendera itu ada pohon besar yang tingginya mungkin mencapai 9-10 meter. Salah satu dahannya bersentuhan dengan ujung tiang baru itu. It means, bakal mengganggu penglihatan ke bendera nanti dan juga kibaran bendera bakal terganggu karena bersentuhan dengan dahan itu.

Kita memutuskan untuk memotong bagian dahan itu. Nah, si teman kantor ini gak punya keahlian manjat pohon apalagi ditambah keharusan motong dahan. Aku yang merasa gak ada urusannya dengan manjat memanjat pohon plus potong dahan lantas masuk ruangan lagi dan meneruskan pekerjaan. 15 menit kemudian, ada suara berisik di luar sana yang ternyata aktivitas memotong dahan sudah dimulai. Rekan kantor tadi pergi mencari orang yang punya keahlian di bidang panjat memanjat. Dahan-dahan yang besar dipotong agar tidak lagi mengganggu penglihatan. Kerjaan seberat itu, speechless daku.

Singkat cerita, berakhir sudah tugas si bapak ini. Lantas rekan kantor itu mengisyaratkan padaku kalau ia mau memberi upah ke si Bapak. Saya juga membalas isyarat itu dengan mengiyakan. Si teman bertanya ”berapa?”, dan dijawab si bapak ”terserah saja, beta bukan minta-minta”. Teman pun membalas ”bukan begitu, bapak minta berapa?”. lalu sambil menepuk bahu teman saya, bapak itu berkata ”terserah saja, yah, seadanya-lah”.

Lalu temanku pun mengeluarkan dompet dan mengambil duit yang belum bisa kulihat jelas nominalnya. Waktu dikasih ke si Bapak, aku melihat mata si Bapak tersenyum dengan senyum yang tak bisa kujelaskan maknanya. Mata itu menyiratkan bahagia yang tak lengkap. Iya, ada senyum dari bibirnya dan senyum itu terlihat ikhlas. Tapi kenapa hatiku seperti tak enak. Begitu kulihat, besar yang diberi temanku itu 10.000 rupiah. Segera saja aku memberi isyarat dengan mata bahwa yang ia beri itu tak cukup dengan pekerjaan seberat yang sudah dilakukan tadi. Lalu temanku mengeluarkan 5000 rupiah dan kugenapi menjadi 10000 lagi. Bapak dipanggil dan temanku menyodorkan tambahan tadi ke arahnya, aku bisa melihat jelas mata si Bapak menyiratkan sesuatu seperti ingin bertanya ”Betulkah ini?”. Entahlah, tapi aku membaca sebuah ketidakyakinan bahwa beliau diberikan tambahan

Ekspresi kesyukuran itu, membuatku trenyuh. Ada orang yang untuk mendapatkan 20ribu saja harus bekerja seperti itu, itupun sudah sangat ia syukuri. Teringat pula ibu yang setiap hari menimba air untuk memenuhi bak kamar mandi kantor. Ia dibayar 2500 untuk setiap gen 5 liter yang ia angkat. Kadang dalam sebulan ia hanya mendapatkan 300 – 400 ribu rupiah sebagai upah mengangkat air. Kadang ia ditemani anak-anaknya yang kureka sekitar 8-9 tahun yang ikut mengangkat air. Setiap kali ibu dan anak-anak itu bolak balik kantor sambil menenteng gen, aku selalu tak kuasa melihatnya. Yang kulakukan hanya memandang ke arah yang lain agar hati ini tidak tambah teriris. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk mereka. Bagaimanapun, itulah cara mereka mendapatkan uang. Kasihan dan tidak tega melihat lalu melarang ia menimba air justru sebuah kesalahan.

Sementara aku, nominal sebesar itu bisa aku dapatkan dengan mudah. Tapi kesyukuranku tak juga melimpah. Padahal aku ingat, ketika hatiku begitu gelisah, aku pernah meminta taujih dari seorang sahabat. Dan ia bilang ”eby, apapun yang sedang kau rasakan sekarang, jangan gelisah. Seorang muslim akan baik-baik saja selama ia bersyukur dan bersabar”.

Bersyukur saat mendapatkan rezeki, dan bersabar sat mendapat musibah. Dua hal yang teramat mudah untuk dibaca dan diketahui, tapi begitu sulit untuk melakukan. Bersyukur dan bersabar, dua hal yang teramat berat dilakukan jika tanpa kelapangan hati dan kebesaran jiwa. Terimakasih pak, bu, adik-adik atas pelajaran hari ini.

Wednesday, August 13, 2008

Aku merindu-MU

Malam merayap menuju pekat. Pekat yang sebenarnya sedari tadi ada. Mendung bergelayut sepanjang hari, lalu tak henti bumi basah tersirami butiran rahmat. Tiba-tiba saja, sepi menyergap diri. Perasaan sendiri, kesepian, hampa, sunyi bercampur menjadi satu. Tapi ada yang lebih menggelisahkan, mendapati kenyataan bahwa diri ini semakin jauh dari Allah.

Perih sekali rasanya, seperti ditanam di bumi. Aku marah pada diriku sendiri, bagaimana bisa lalai, bagaimana bisa merangkak menjauh, bagaimana bisa?
Ah, tak ada gunanya bertanya. Toh, diri ini pun tak mampu menjawab pertanyaan yang sebenarnya diakibatkan oleh perbuatan lalai memanjakan nafsu duniawi. Untuk apa semua kesenangan yang kurasakan sekarang, untuk apa kemapanan dan gengsi yang sedikit demi sedikit ditiupkan oleh syaitan ke telinga saya lalu menetap di hati? Untuk apa itu semua kalo ternyata kualitas hubunganku denganNYA memburuk?

Sholat, yang fardhu saja. Itupun tidak lagi tepat waktu, kecuali maghrib. Kesibukan melenakan membuat tak beranjak dari empuknya tempat duduk kalau belum merasakan lapar, lalu jadilah makan dan shalat. Lalu kalau suatu saat tidak lapar, bagaimana? Atau kalau laparnya sudah jam ½ 4 bagaimana? Ah, diri, sungguh keterlaluan dirimu.
Cumbu mesra dengan bacaan agung pun tak semesra dulu. Datar, hambar, tidak lagi menggetarkan. Pertanda keringnya hatikah? Diri, sungguh engkau merugi.

Kekosongan yang sekarang kurasakan, semakin membuat lubang di hati semakin besar. Aku merindu. Hatiku berdarah merindukanNYA. Kekasih yang aku tau tak pernah meninggalkanku. Aku yang selalu mengkhianatiNYA. Selalu membuatNYA cemburu dengan kesibukan yang kalau saja kusadari lebih awal, datang karena rahmatNYA. Sungguh tak tahu berterimakasih.

Aku merindu, rindu ini menyiksaku. Rindu kembali akrab denganMU seperti dulu. Rindu untuk hanya berdua denganMU dalam hening malam, rindu membaca surat cintaMU yang indah, rindu dengan kerinduanku padaMU, aku rindu.

Lalu bergetar tangan ini membuka surat cintaMU selepas maghrib tadi. Ah, memandangi hurufnya yang terangkai indah saja sudah membuatku terkesima, terpesona. Lalu kulantunkan suratMU dengan suara hatiku, serasa terserap seluruh beban. Serasa semua kesempitan dan kegelisahan terhisap habis oleh kesucian kata-kataMU.

Bulir hangat menjalari pipi. Betapa kerdil diri ini. Betapa hina diri ini,. Tapi masih saja ENGKAU menyapaku dengan manis. Sungguh, aku merinduMU.
Allah, sampaikan aku pada RamadhanMU, agar kutebus semua kelalaianku, agar aku masih punya kesempatan untuk mendekat padaMU, mencintaiMU dengan cintaku yang sederhana ini, mencintaiMU dengan shaum yang kadang terasa berat, mencintaiMU dengan sahur yang ngantuk, mencintaiMU dengan tarawihku yang bolong, mencintaiMU dengan tadarusku yang singkat. Aku hanya ingin mencintaiMU dengan cara yang aku bisa. Aku tahu aku kalah dengan hamba-hambaMU yang lain yang begitu luar biasa mengejarMU, tapi Allah, aku juga ingin ikut berlari, walaupun langkahku tak cepat, walaupun nafasku tak panjang. Aku hanya ingin mencintaiMU dengan semua energi yang bisa aku persembahkan. Itu karena aku ingin KAU cintai walaupun tak banyak.

Allah, aku tersungkur lagi kali ini. Tapi aku akan berdiri lagi dan kembali dalam barisan yang bersegera kepadaMU.

Thursday, August 07, 2008

Undangan Lagi, Lagi-lagi Undangan

Awal bulan yang lalu, dua berita pernikahan kuterima. Keduanya dari teman-teman STM, Iswandi dan Arieswati, tentunya dengan pasangan masing-masing. Siang tadi, di sela-sela kesibukan di kantor, bunyi sms di hp memberitahukan satu lagi. Begitu menginjak kata-kata ”you are all invited to our wedding reception” maka tuing,





lonceng di kepalaku berdentang. Siapa dia?






Siapa kenalanku yang menikah?








Taraaa,




ternyata mas Danang, mantan Ketos.
Seneng...seneng. tapi juga sedih.
Kapan ya giliran aku yang ngundang? (Ngarep...*boleh dong*)

Untuk iswandi dan istri, juga Aries dan Suami, Barakallah ya. Semoga sakinah, mawaddah warahmah, pokoknya semoga bahagia deh.

Buat mas Danang, kayaknya gak bisa dateng tuh (ya iya lah, di Bandung gitu lho), tapi doaku menembus batas waktu dan jarak. Semoga bahagia hingga menua.
Buat stelkers yang belum, kapan pada nyusul mereka yang sudah berlayar duluan. Kok kita di tepi-tepi gini aja nge-dadah mereka yang sudah berlayar?

Slank, cepat ma ko. Atau belum pi ada calonmu? Cari ko…

Amha, apa ji. Danang, Jyo, Cobho sudah mi. Kau iya? Perasaan, calonmu ada mi sejak kita sekolah dulu. Kenapa beng kau yang paling tertinggal?

Armand, hey ayo segera maju

Baya, tinggal kita berdua nih. Gimana dong?

Budi, apa masih berlaku ”Yang tersisa adalah yang terbaik?”. masa lomba-lombaan jadi yang tersisa?

Jadi,
Buat yang sudah duluan menemukan pelayaran, berlayarlah menuju pulau bahagia.
Buat yang belum juga berani berlayar, bersegeralah.
Buat yang mau tapi belum ada yang mengajak atau diajak berlayar, hunting terus yak. Chayo....

Jiwa, Aku Bicara Padamu

Jiwa,
Coba kau renungkan kembali
Dimanakah kau berada saat ini?
Di dunia mana kau sedang berpijak

Wahai diri,
Tak malukah kau pada dirimu
Bahwa ketika di luar sana, semuanya berlomba mendekat
Kau malah menjauh

Jiwa,
Lalu sampai kapan kau biarkan dirimu berlari
Apa kau pikir kulitmu itu sanggup menahan panasnya neraka?
Setebal apa sih kulitmu itu?

Lupa ya jiwa, bahwa kulit itu buatan Allah
Dan lupakah pula kalau api neraka itu juga punya Allah?
Sombong sekali kau bah...
Tak tahu diri

Hai manusia hina,
Beraninya engkau mengulur-ulur waktu
Seakan matimu masih lama.
Tak sadarkah bahwa ia tengah mengintaimu
Dan mampu menyergapmu kapan saja

Sudahlah,
Berhentilah bermain-main dengan dosa
Karena kau tak akan sanggup menahan siksaNYA
Balasan yang kau sendiri cari

PS : Tulisan pada diri sendiri yang semakin sombong. Astaghfirullah........

Monday, June 09, 2008

Gundah Pak Supir

Perjalanan balik ke Piru hari itu seperti biasa. Rute Mardika - liang, Feri, Waipirit - Piru. Semua seperti biasanya. Sampai di Feri, ketemu sama Abang yang kebetulan aktif di sebuah LSM di Ambon. Maka berdiskusilah kami sepanjang perjalanan Waipirit - Piru. Pak Sopir yang duduk di samping saya (ato saya yang duduk disampingnya ya?) diam saja. Aku dan abang terus saja berdiskusi tanpa ada selaan dari Pak Supir. Sampe di suatu belokan di gunung parang, ada sebuah bus jurusan Ambon - Waesala yang parkir dan kondisinya mengisyaratkan terjadi sesuatu tadi. Tanya-tanya serupa bisikan seolah bertanya pada diri sendiri itu ternyata didengar juga oleh Pak Supir. Dan mengalirlah rangkaian kata dari Bapak yang dari tadi diam saja. ia berucap begini :

"Mobil itu abis jato. Liat itu body-nya, sudah seng bisa bilang lai. Padahal itu punya BUMN. kalo swasta la iyo jua. Ini BUMN tapi oto su bobrok, su seng layak pakai lai. Bagaimana kalo supir musti kasi jatah par disini, disini jatah par disana, disana kasi par disitu lalu disitu kasih jatah par di atas lai. Lalu kalo 100 akang sampai di atas cuma 10, la iyo jua, mo dapa biaya perbaikan dari mana. Susah memang seng tau pemimpin bagaimana yang betul. Mar Rakyat Indonesia ni memang paling sanang sudah. Tinggal dong datang kasi permen, la sudah, katong pilih jua. Asal datang sa bilang kalo terpilih nanti KTP gratis. Abis nae, urus KTP 3 bulan seng jadi-jadi. Jadi wajar kalo rakyat sakarang su apatis. Seng bisa kasih salah rakyat. Dong su bosan deng janji-janji, tau sama sa. Padahal rakyat tu seng mau apa-apa. Katong ni seng manuntut banyak. Yang penting jalan bagus, pendidikan bagus, kesehatan bagus, air bagus, la sudah. Jalan bagus, katong pi mancari bagini enak, katong pung anak-anak bisa sekolah. Kalo dong sakit, katong bisa pi bawa rumah sakit. Jang kong katong bawa rumah sakit, lalu kalo dong seng bisa, la rujuk ke Ambon mo pake ambulans katong musti bayar lai. Macam bagitu katong tunggu waktu sa. Kalo orang muslim, tinggal tunggu baca yasin sa. Beta kamareng kamareng ada pi antar orang BAWASDA liat polindes di desa balakang-balakang. Beta sampe tanya par dong, Polindes ni biking par kambing tinggal ka par perawat tinggal. Polindes kosong baru kambing su pono di muka akang. Kalo memang seng bisa orang luar yang praktek di situ, musti pemerintah pikir akang pung cara. Kalo orang luar datang jauh-jauh baru sampe situ kesejahteraan seng ada, dong makan susah, jelas jua dong seng betah. Maknya kas sekolah orang asli situ supaya biar bagaimana dong akan betah karena dong pikir itu dong pung daerah. Baru pemerintah ni seng bisa kerjasama baik. Kalo memang su rencana bikin bangunan kayak begitu, harusnya su siapkan siapa nanti yang mo masuk akang. Daripada kayak begini, tinggal par kambing jaga akang"

Aku ngapain?

Gak ngapa-ngapain. Hanya mendengarkan semua yang terpikirkan oleh Pak Supir. Bisa jadi itu juga dipikirkan oleh berjuta rakyat yang lain. Jujur, saya gak bisa berkata-kata. Saya yang setiap hari berinteraksi dengan pihak-pihak yang bisa saja mengambil kebijakan, toh juga masih belum memberi kontribusi apa-apa. Idealisme saya belum bisa disalurkan dengan maksimal. Jadi saya tak bisa menimpali apa-apa karena memang seperti itu realitanya.

Lalu apa yang sedang atau bisa saya lakukan? Saya ingin sekali mengajak semua pihak untuk bekerja dengan jujur, dengan menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai motivasi utama. Terlalu berlebihankah? Terlalu sok-kah? Entahlah, hanya saja saya berusaha untuk jujur dalam pekerjaan saya. At least saya berusaha merancang sesuatu yang tepat guna untuk rakyat.
Kadang hati ini begitu gelisah melihat realita di depan mata. Gemas dan sedih tak bisa berbuat apa-apa. Sistem telah mendukung, semua terpola dengan baik untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Dan tak ada yang bisa bicara karena semua terjebak di dalamnya. Pernah terpikirkan untuk berhenti ketika dada ini semakin sesak. Tapi teringat diskusi di salah satu rumah makan di Jl A.Y. Patty bersama sahabat-sahabat sekolah dulu, saat awal memilih di tempat ini. Dia bilang "By, kalo semua orang seperti kamu memilih mundur, lantas siapa dan kapan semua bisa diubah?. Kalo semua orang yang melihat ketidakberesan memilih pergi ketimbang membenarkan ketidakberesan itu, lantas kapan ketidakberesan itu bisa jadi beres?"

Lantas teringat pula kata-kata saya sendiri pada salah seorang teman yang dulu saat tertatih-tatih di dakwah kampus dan memilih mundur. Saat itu saya bilang "Akhi, kalo antum naik kapal bersama teman-teman dan dalam kapal ada kerusakan, mana yang lebih baik? Tinggal dan bersama-sama memperbaiki kerusakan itu atau terjun menyelamatkan diri sendiri ke laut? Kalo pilihan ke dua yang antum ambil, berapa lama antum pikir bisa bertahan dengan dinginnya air laut? Bisakah antum menjamin tidak ada hiu yang akan datang. Lalu berapa lama antum bisa bertahan berenang hingga menemukan pulau lain?".

Kata-kata itu sekarang tertuju pada saya.

nb : soal analogi kapal, pernah baca di Al-Izzah entah edisi berapa. Salah satu motivation word-ku. Makasih ya Pak Supir atas celoteh indahnya. Sebelum tulisan ini diposting, sempat diskusi dengan rekan kerja, Mr K tentang pilihan untuk PNS. Sudah bahas panjang lebar, Eh, kemarin ditanya lagi sama rekan yang lain, Mr. J, tapi tak terjawab karena sudah gak tahu harus bilang apa.

Saturday, May 31, 2008

Gak ada judul

Jarum jam menunjuk pukul tiga lebih lima belas sore. Pengen tetap di kantor, tapi kerjaan udah kelar (masih ada sih, cuma sudah gak produktif). Pengen pulang, tapi lagi ujan lebat di luar sana. Maka disinilah saya, terjebak dalam tembok berukuran 3x4 meter sambil melihat ujan, wallpaper monitor dan jam dinding bergantian. Wallpaper ruang utama masjid kampus itu selalu saja membuatku adem setiap melihatnya. Seperti bongkahan kenangan manis di masjid itu berenang di kepalaku, keluar dari ruang memori menuju sunggingan senyum. 5 hari yang lalu, paket yang dikirim sahabat-sahabat surgaku, UKMBI, sampai juga kuterima.

Total isinya tuh : baju kaos, note book, pamflet dan undangan FSDa, Pembatas bukunya UKMBI, CD Dokuementasi FSDa, Gantungan Kunci, Brosur Q-blat dan brosur Sambut Maba, Stiker dan hiasan pintu/id ruangan bertuliskan "Serambi KMBI"


Dokumentasi yang ikut mereka kirimkan sudah saya putar. Subhanallah, semoga perjuangan mereka disana mendapat catatan indah. Semoga suatu saat, entah kapan, entah bagaimana, Islam yang mulia bisa terefleksi dengan gagahnya di kampus.
Sudah hampir setengah empat, Bumi Piru masih saja dibasahi oleh rahmat. Dari winamp, terlantun nasyid Brothers ”Lagu Untuk Ibu”. Lagu yang selalu saja mengingatkanku akan wnita tercantik dalam hidupku. Besok, insyaAllah, aku akan melakukan perjalanan menemuimu, ibu. Besok, ibu, dengan izin Allah, kita akan bertemu di rumah cinta kita. Tunggu aku ya, bu. Miss you

nb : mudah2an besok gak ujan, jadi perjalanan piru-ambon bisa lancar. Harga-harga naik ya? ongkos pulang pergi bengkak dong....

nb lagi : Ditulis kemarin, diposting setelah sampe di ambon yang disambut dengan menu makan malam sayur favorit plus hujan lebat.

Thursday, May 22, 2008

Sekali Lagi tentang Ibu

16-05-08, 12:16 pm
"Ca Ebhy mengapa seng bel atau sms ibu sedikit ka? ibu rindu, ibu dan ade berlawanan jam sekolah. sering-sering sms ibu ee, salam rindu ibu dan ade dari ambon"

Begitu isi pesan yang ibunda tercinta kirim tepat siang hari saat pekerjaan begitu melenakan. Ada yang mengalir di sudut hati, betapa hati bidadariku sedang sedih karena tak ada berita dariku. Belakangan ini, saya memang sedang sibuk-sibuknya berlari mengikuti ritme pekerjaan di kantor baru ini. Dan yang tersisa saat pulang hanyalah istirahat hingga terlupa berkirim berita.

sms itu kubalas dengan penuh penyesalan dan keinginan akan menelpon ibu setiap hari. :Ibu cinta, maaf e. Iya nanti eby sering sms ibu. mmmuuuaaah.

Hanya begitu saja. Dan sms itupun terlupa begitu saja. Hingga kemarin sore, 5 hari setelah sms pertama itu beliau berkirim kabar dengan begitu singkat "Ca ebhy, ada bikin apa. sms ibu ka"

Deg, betapa berdosanya diriku yang tak jua bisa membahagiakannya meski hanya sekedar sms. Maka tak menunggu lama, setelah maghrib, aku menelpon wanita mulia itu, mendengar suaranya, meraba kerinduannya dan mencumbu kasihnya.

Kawan, ada kalanya kita lupa bahwa ibu kita yang jauh di sana menanti kita. Bukan fisik, hanya suara atau bahkan menyapa lewat sms. se-simple itu tapi terkadang kita lupakan. Sering-seringlah mengabarinya. Ini bukan nasehat murni untuk kalian, ini sebenarnya untuk saya. Ini sekedar mengajak, mari kembali dapatkan kekuatan dan spirit dari suara indahnya.

Ibu, putrimu ini sudah memenuhi hatinya dengan namamu. Hanya saja mungkin tak bisa ia ekspresikan dengan indah. Aku mencintaimu ibu, hingga hati ini berkarat dan berlubang tak sanggup menahan cintaku padamu.

Tuesday, May 20, 2008

Menjenguk Kematian

Sms masuk pas jam 12 malam. Jam segitu biasanya saya malah beraktivitas setelah bangun dari tidur awal waktu. Bunyi sms sempat membuat jengkel dan bergumam "siapa sih tengah malam begini sms, kurang kerjaan". Tapi tak urung, kaki ini melangkah juga mengambil handphone dan ...... Shock, kaget, tak percaya.

"maaf, ganggu. cuma mau kasih tau, baeng yang eby titip novel ayat2 cinta itu baru saja meninggal.

Pemuda itu bernama baeng. Entah siapa nama aslinya, tapi sebulan lalu pertama kali dia bertamu ke rumah untuk suatu urusan, kami mengenalnya dengan nama Baeng. Tak banyak bicara. Pertemuan kedua, masih ketika dia ke rumah menyelesaikan keperluannya itu, kebetulan di rumah saudara2 lagi ngumpul bikin pagar. Maka ikutlah dia maku-maku kayu buat pagar. Masih tanpa bicara. Pertemuan ketiga, adalah ketika di SBB lagi penerimaan guru kontrak. Dia datang lagi ke Piru untuk ikut testnya. Pemuda Baeng tidak tinggal di rumah, dia hanya datang maen karena di rumah, banyak yang tinggal sementara untuk ikut test juga.
Masih tidak banyak bicara, sewaktu pulang, kutitipkan novel ayat-ayat cinta yang mo dipinjam saudara. Kebetulan pemuda Baeng tinggal di tempat Saudara itu. Besoknya dia datang lagi silaturrahim kumpul2 dengan saudara-saudara dan dia sempat mengabari bahwa novel titipan itu sudah sampai sesuai amanah.

Dan berita kepulangannya itu terus terang bikin tubuh saya bergetar sedemikian hebatnya. Dia, pemuda Baeng itu, masih sangat muda. Usianya bahkan di bawah saya. Dalam kesederhanaan pribadi dan mudanya usia, ia telah dijenguk kematian. Lalu saya, apa masih bisa tersenyum dan merasa waktuku masih lama?

Dua hari kemudian, ibunda tercintaku datang ke Piru. Sore ketika baru pulang dari koordinasi kegiatan di Waesala dan Allang Asaude, kedatangan ibu seperti oase bagi kelelahan fisik dan pikiran. Kami kemudian ziarah ke makamnya kakek dari pihak Ibu.
Mengunjungi tempat itu sungguh sebuah perjalanan ruhani yang menyadarkan. Bahwa hari ini kau menjenguk, mungkin besok kau yang dijenguk. Sering, setiap kali aku ke makam kakek, hatiku bertanya, jika waktuku sampai, akankah cucu-cucuku datang membersihkan tempat kecilku? Akankah ada doa yang mereka sampaikan padaku?
Di sebelah makam kakek, ada makam saudara yang kata ibu, meninggalnya bersamaan dengan kakek. Makam itu ukurannya begitu kecil. Kata ibu juga, memang meninggalnya masih sangat kecil. Tak sempat ia berbuat dosa. Ah, sebesar ini, berapa banyak dosa yang harus kutanggung hukumannya nanti?

Waktuku tak lagi banyak. Kematian bisa menjenguk dan membawaku kapan saja.
Ya Allah, jadikan akhirku indah.


Nb : Postingan lama, baru diupload sekarang

Monday, April 07, 2008

Tidur Panjang Om Ance

06 April 2008
Ia pergi dalam kesendirian,
Di sebuah tempat dimana hanya ada dia dan ALlah.
Dan berita kepergian dalam sepi itu
Menghentak kesepian dan ketenangan waktu maghrib.

Lagi-lagi, tak terasa, tak terbaca
Allah menjemput satu lagi keluargaku
Ia yang semasa hidupnya begitu diam,
Sering hanya senyum saja yang menatapku jika bertemu
Tak banyak kata, tak banyak ucap,
Senyum lewat tarikan bibir dan pandangan mata
Itu saja.

Om,
Kami tak ada disisimu saat ini
Kami tak bisa ikut berjalan disamping kerandamu
Tapi Om, doa kami menemanimu tidur panjang
Sampaikan salam kami pada yang kau temui disana.
Mungkin hari ini, besok, lusa, atau entah
kami akan menyusulmu, pasti....

Selamat Jalan Om,
Sampai jumpa

Thursday, April 03, 2008

1/4 Abad sudah

Rabu, 27 Februari 2008, usia saya genap seperempat abad.
Ah, usia yang sudah begitu banyak diberi oleh Allah. Adakah itu berarti? Apakah sudah ada percik kebahagiaan yang saya kucurkan ke orang lain? Adakah manfaat yang dirasakan oleh orang-orang dengan kehadiran saya? Ataukah justru kebencian yang telah saya sebar?

Tak bisa, saya tak bisa menjawab pertanyaan itu. Hampir tak ada yang berarti yang saya semai padahal waktu merangsek hebat dan tiba-tiba saya sudah di angka seperempat abad. Padahal pula, saya tak tahu masih bisakah saya tiba di seperempat abad berikutnya. Akankah Allah memberi kesempatan pada saya menggenapi setengah abad? Tak ada jaminan. Kalaupun iya, akankah ia terlewati dengan sempurna ataukah seperti mengulang lembar seperempat abad ini, berlalu dengan kesia-siaan?

Saya tergugu. Betapa telah banyak yang Allah berikan pada saya. Panca indera yang lengkap tanpa pernah saya minta, udara yang selalu bisa saya hirup tanpa pernah Ia minta bayarannya, air yang selalu masih bisa saya rasakan kesegarannya, orang-orang yang mencintai saya, sungguh teramat banyak. Dan adakah yang saya berikan? Ah, betapa jiwa kerdil ini tidak mampu membalas semua anugerah yang didapat. Padahal maut jelas-jelas tengah mengintai dan bisa menyergap kapan saja.

Aku hanya berharap dan mencoba memastikan semua yang aku lakukan adalah rangkaian sejarah hidup yang kutulis dengan tinta kebaikan saja. Agar kelak di saat maut telah mendekapku, orang-orang yang mengenalku hanya punya kenangan indah tentangku. Aku hanya ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang berarti. Seperti kata Mbak HTR dalam multiply-nya "Menjadi orang yang berarti di mataMu. Yang selalu sampai padaMu"

Allah, aku ingin sampai padaMU dengan indah
agar Kau mau memelukku,
menuntaskan dahagaku yang tertatih-tatih ........
......... mencintaiMU.
Terimakasih Rabb, atas nikmat seperempat abadMU,
aku butuh pandangan cintaMU
agar nikmat itu tak tersia-siakan.
Genggam tanganku, Rabb.

27 Februari 2008
Titik 11.58 pm
Ah, aku sudah begini tua