Showing posts with label Sujud. Show all posts
Showing posts with label Sujud. Show all posts

Sunday, November 06, 2011

Al-Latif, Sebuah Kerinduan

14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1997, keluarga kami pindah rumah ke daerah Air Kuning, kawasan Kebun Cengkeh Kota Ambon. Saat itu, daerah air kuning terbilang masih baru, dan penduduknya bisa dihitung dengan jari termasuk jari kaki. Kami termasuk penghuni penghuni awal lorong Wailahan dan Gondal di kompleks ini. Masih ingat dengan jelas, karena penduduk yang masih sedikit itu, kami bergabung dalam jamaah Masjid Al-Burhan yang terletak di loorng Sumatera. Tidak terlalu jauh memang, tetapi daerah itu bukan daerah silaturrahim kami, artinya interaksi kami dengan penduduk lorong sumatera hanyalah saat di masjid saja. Di keseharian, kami tidak pernah berinteraksi.

Tahun berganti tahun, BTN Manusela yang terletak lebih dekat dengan kompleks kami, daripada ke lorong sumatera, membangun masjid Al-Ikhwan. Maka jamaah di lorong Wailahan dan Gondal ini pun terbagi. Pada saat sholat jumat atau sholat hari raya, warga dua lorong ini terpisah. Sebagian ada yang ke Masjid Al-Burhan, sebagian pula ada yang ke Masjid Al-Ikhwan. Bahkan tidak sedikit yang ke Masjid Raya Al-Fatah. Begitulah kehidupan berjamaah dua lorong yang bertetangga ini. Para ibu memang memiliki pengajian rutin dari rumah ke rumah. Tapi para bapak? pemudanya? tidak ada tempat untuk bertemu rutin dalam suasana yang religi.

Hingga tibalah saatnya, bermula dari hibah tanah seorang pemilik tanah di lorong Wailahan, sejak tahun 2010 dimulailah pembangunan masjid kompleks. Pembangunan dilakukan swadaya oleh penduduk laki laki baik tua maupun muda setiap harinya terutama di hari minggu dan ibu ibu mengumpulkan dana lewat berjualan kue dan sesekali ikut membantu kerja bapak bapak dan para pemuda.

Setahun berjalan, tahun inilah, tahun 2011, untuk pertama kalinya, warga Wailahan dan Gondal bisa sholat id bersama sama dalam satu tempat. Saya masih ingat suasana haru setelah sholat id fitri September lalu. Bisa saya rasakan atmosfer senang, bangga dan terharu dari warga bahwa akhirnya bisa sholat di masjid sendiri, mesjid yang dibangun dengan keringat bersama sungguh luar biasa. Meski ada yang hilang juga, suasana berkunjung ke rumah rumah tidak seramai biasanya, mungkin karena sudah bertemu semua di masjid kali ya. Beda dengan tahun tahun sebelumnya yang sholatnya misah misah.


Pun hari ini, suasana sholat id adha juga berbeda. Bagaimana tidak, ritual hadrat keliling kampung dengan membawa hewan kurban yang tahun tahun sebelumnya, warga sini hanya sebagai penonton gelaran hadrat kampung kampung tetangga, kini kami bisa melakukannya sendiri. Para pemuda dan anak anak yang sudah berlatih 2 minggu sebelum id setiap malamnya, siang ini melakukan hadrat keliling kampung membawa kurban menuju Masjid Al-Latif, masjid kecil kebanggaan kami.


Masjid Al-Latif adalah masjid harapan. Harapan untuk kami dapat hidup beragama lebih baik, juga hidup bertetangga dengan lebih baik.

Saturday, November 05, 2011

Emak Ingin Naik Haji


Twit saat nonton Emak Ingin Naik Haji-nya Asma Nadia

• Film Emak Ingin Naik Haji sedang diputar di SCTV. Film yg selalu bikin getar meski nonton berulang #Haji

• Adegan Zain meletakkn kembali koper berisi uang yg hendak dicuri stlh melihat kitab suci alquran dalam keadaan terbuka di atas bantal #haji

• Itu salah satu adegan terbaik. Rasa malu pd kitab suci, suara emak mengaji terngiang membentengi zain mlakukan dosa meski u/ niat baik #haji

• Adegan lain yg luar biasa adl saat emak merekatkan gambar ka'bah yg sobek dgn nasi dan blg "walau emak blm bs kesana,mak bs bayangin" #Haji

• Ibuku, beliau sering memandangi gambar ka'bah di ruang tamu rumah kami. Semoga suatu saat Allah ijinkan beliau berangkat kesana #Haji

• Kalimat dahsyat ini buat meleleh "meski raga emak tak mampu seberangi samudera ke tanah suci, Allah tau hati emak sdh lama ada disana" #haji

gambar diambil di : www.eramuslim.com

Saturday, August 06, 2011

(276) Munajatku

Rabb, Engkau tahu betapa batin ini telah lelah
Lebih dari apa yang batinku tahu
Episode apa yang Kau ingin aku jalani sekarang, Rabb?
Takdir apa yang kini sedang berlaku untukku?

Rabb,
Sungguh aku tak lagi punya tenaga untuk bertahan dalam kelelahan ini
Hanya atas namaMu, hanya karenaMu, hanya karena yakin akan janjiMu
Aku mencoba bertahan, lagi dan lagi

Seperti apapun kelelahan ini menderaku
Aku tak ingin berputus asa dari rahmatMu
Karena Kau tak akan membawaku sampai ke titik ini
Jika hanya untuk meninggalkanku

Rabb,
Dengan ijinMu-lah aku melangkah saat ini
Dengan rahmatMu-lah aku masih bisa tegak disini
Dengan cahayaMu-lah aku masih bisa menatap ke depan

Di Ramadhan agungMu
Aku bersimpuh dengan segala kelemahanku
Ketidakberdayaan ini tersungkur memujaMu
Aku lemah Tuhan, aku lemah……

Friday, July 29, 2011

(268) Disini Lagi


dan saya disini lagi, sebuah tempat saya pernah merajut cinta, tempat saya mencoba menaruh jejak kebaikan, tempat saya pernah belajar sebuah persahabatan dan persaudaraan atas nama Islam.

hampir tidak ada yang berubah. mading masih di tempatnya, perpustakaan masjid masih ada di tempat dulu kutinggal, semua masih sama. hanya satu yang tidak ada. para sahabat yang dulu membersamaiku, sedang melebarkan sayap kebaikan di tempat lain.

duduk disini, memandangi setiap sudut masjid baitul izzah ini, semua momen seperti berputar lagi. bayangan setiap saudara yang hilir mudik dalam masjid juga pelatarannya seperti hadir tiba tiba. masih ada tulisan tanganku di beberapa majalah di masjid, masih ada pohon pohon yang kami letakkan bersama di samping masjid. sumpah demi Allah, aku merindukan mereka dan setiap momen kebersamaan kami.

aku hanya ingin kita tidak saling melupakan. aku hanya ingin kita saling mendoakan. seperti janji janji kita dulu, kita akan selalu bertemu dalam doa doa yang berkejaran di langit.

ada danau yang tergenang di sudut mata mengenang setiap wajah wajah cinta milik kalian, ada pula banyak doa yang terselip juga untuk kalian. bekerjalaha terus kawan. jangan berhenti. kejahatan hanya akan menang jika orang orang baik seperti kalian tidak melakukan apa apa.

Bersabarlah karena para sahabat menorehkan kisah cinta mereka menanti kemenangan yang Allah janjikan dengan darah kesabaran.

Thursday, April 21, 2011

(169) Sujud #2


Ini aku, Tuhan
Datang padaMu dengan segala kurangku
Dengan segala lemah yang kupunya

Ini aku, Tuhan
hambaMu yang selalu saja memanja
Padahal telah Kau beri banyak
Ikhlas dan syukur hanya kata kata

Tuhan,
Satu pengharapan yang tak pernah mati
Bahwa tak akan pernah diri ini Kau tinggalkan
Bahwa Kau selalu ada setiap diri ini datang mengadu

Tuhanku,
Ajarkan hamba untuk menyandingkan sabar dan syukur
Agar menjadi senjata hamba menjalani setiap putusanMu
Ajarkan hamba untuk selalu mendekat dan tetap dekat padaMU
Hanya PadaMU.........

gambar diambil di www.kmip.co.cc

Thursday, February 17, 2011

(105) Tentang Kematian

Setelah perginya kakek, di rumah setiap pagi dan sore, teman-teman kakek yang dulu sering sama sama ke masjid, ke majelis-majelis, berkumpul di rumah dan mengirimkan doa bersama. Sejenak ketika saya lihat mereka, kenangan bersama tete haji kembali berputar. Saya jadi mikir gini, orang-orang tua ini pasti selalu memikirkan kematian ketika mereka mengirimkan doa ke teman mereka. Mereka lebih dekat dengan Allah, lebih mempersiapkan kematian.

Dan kita? masih berasa muda-kah untuk tidak mempersiapkan diri? Padahal kematian datang tidak mengenal usia.

sumber gambar dari sini

Tuesday, December 21, 2010

(47) Yang Tak Akan Pernah Menyakiti

Pagi-pagi, berharap bisa memulai dengan senyuman tapi semua di luar dugaan. Hariku dimulai dengan begitu berat. Air yang pagi pagi sudah menggantung di bola mata, sebisa mungkin kutahan agar tak mengeluarkan isak. Memang terkadang banyak hal yang berjalan tak sesuai dengan harap kita. Tapi siapa yang bisa disalahkan? Memang manusia tempatnya kecewa, tempatnya sakit kan? Satu satunya yang tidak akan pernah mengecewakan kita memang cuma Allah sahaja, hanya Allah saja.

Langkah kakiku berat memulai hari, namun ketika menatap sajadah yang baru saja kucium subuh tadi, aku kembali teringat bahwa tak ada yang perlu kusedihkan dan cemaskan. Karena memang begitulah adanya. Hanya ketika harapan kita gantungkan pada Allah, kita akan bahagia. Jadi, kalau sekarang ada seorang hambaNya yang menyakitiku, sepertinya tidak ada yang perlu dikagetkan.

Airmata dan sesak ini lantas kuserahkan pada Sang Kekasih Sejati. Tanpa sadar, kaki ini tertuntun ke sudut tempat tidur. Aku duduk disana dan menengadah,

"Rabb, Engkau Maha Pencinta. Segala yang terjadi padaku, sesakit apapun itu pada awalnya, adalah salah satu bentuk cintaMU. Kuterima Rabb, dengan hatiku yang sedang tertatih tatih belajar mencintaiMU'

Selepas dialog pagi itu, udara sekitar serasa lega kembali. Aku pun mengumpulkan kepingan semangat yang berantakan, kugenggam dan kualiri dalam darah. Aktivitas hari ini kujalani dengan lapang, begitu mudah dilewati. Hingga tiba waktu dhuhur, aku dikejutkan oleh adzan yang terdengar jelas di telinga. Mengagetkan, mengingat selama ini adzan hanya samar terdengar karena jarak kantor dan masjid cukup jauh. Adzan itu seperti khusus ditujukan untuk memanggilku kembali merendahkan diri di hadapan Kekasihku.

Telah kuserahkan semuanya pada Kekasihku, yang tak akan pernah mengecewakanku, tak akan pernah menyakitiku, tak akan pernah menjauh dariku meski taku terkadang menjauh dariNya. Duka ini kawan, aku tahu akan berlalu. Bersama Kekasihku, semua akan baik baik saja. Aku akan sembuh dari setiap luka dan nanah.

"Rabb, aku kembali lagi. Dengan segudang keluh kesah dan sebungkus rasa perih. Aku bawa ke hadapanMU Rabb, untuk Kau sembuhkan karena Engkaulah tempatku bergantung menyerahkan hidup matiku. Ini aku, Rabb, hambaMU yang penuh khilaf, hambaMU yang bandel, yang perlu Engkau jewer di dunia, di dunia saja Rabb, jangan Engkau tangguhkan di akhirat karena sungguh, aku tak kan sanggup. Rabb, ini aku, menunduk dan malu di depanMU. Aku yang sedang belajar mencintaiMU dengan seluruh cinta yang Engkau titipkan di dadaku. Bantu aku Rabb, yang sedang terbata mengeja cinta suci tak tertandingi milikMU"

Monday, December 20, 2010

(46) subuh ini

di luar sana ada ramai kicau burung
dan dari balik jendela kunikmati semilir angin pagi
ayam pun tak mau kalah
ambil bagian dalam harmoni pagi

subuh ini indah
seindah pelangi yang muncul setelah hujan
menawarkan sebait ketenangan
serta sekotak harapan

tentang harapan,
telah kugantungkan pada Yang Memiliki Hidup
di atas panjang sajadah
dalam balutan putih penghancur keangkuhan

yang membuat kita sempurna
ia bernama cinta
dan cinta sejati itu
ia bernama Allah

Sunday, December 19, 2010

(45) zam zam

happy weekend temans...

3 hari lalu,tepatnya kamis 16 desember 2010, saya sekali lagi mengunjungi desa Waesala untuk mendampingi satu kegiatan masyarakat disana. Jelang berakhirnya agenda kami, seorang abang, anak dari Raja Waesala mendatangi saya dan menyampaikan pesan dari abi (sapaan akrab bapa Raja Waesala) yang meminta saya mampir di istana alias rumahnya sebelum kembali ke piru.

Beberapa menit kemudian,saya ke rumah beliau dan ternyata saya diberi oleh oleh dari perjalanan haji beliau berupa sebotol zam zam dan kurma ajwaa, kurma dari kebun sang kekasih, Rasulullah SAW. Beliau ngasih zam zam sambil bilang gini : by,zam zam itu temannya doa (ngomong pake bahasa arab,entah hadits atau apa, saya tidak tahu pasti) artinya zam zam itu mengikuti keinginan peminumnya. jadi sebelum minum tu, eby angka hati bae bae minta apa yang eby mau.

Nah,gara gara pesan itu,saya sampai sekarang belum berani minum zam zam pemberian abi. Saya masih belum berani meminta apa yang benar benar saya inginkan dalam hidup. Saya insyaAllah siap menerima takdir, tapi Allah juga suka kalau kita meminta dan saya benar benar ingin doa yang saya panjatkan sebelum meminum zam zam adalah doa yang benar benar istimewa. Dan pada suatu saat, jika hati ini telah tahu, biarlah hati ini yang menggerakkanku untuk menikmati zam zam itu.

Kalau temans mau minta doa istimewa apa?
Salah satu yang saya inginkan adalah suatu hari nanti saya dapat mengambil zam zam langsung dengan tangan saya sendiri. InsyaAllah...

Sunday, December 05, 2010

(31) Dosa Paling Tua

Seperti biasa, minggu saya tanpa melewatkan tayangan U2 bareng uje dan udin. Dakwahnya bersemangat, santai tapi selalu menjewer. Bikin saya selalu mengucapkan Subhanallah atas indahnya Islam, Alhamdulillah atas semua nikmat dan Astaghfirullah atas segala dosa.

Tayangan hari ini menyisakan satu kalimat yang memaksa otak dan hati ngobrol. Kata Uje tadi, dosa paling pertama, paling tua, adalah sombong. Penyakit hati itu merasa. Merasa paling pintar, paling kaya, paling baik, paling bijak. Tak disadari bahwa saat kita sedang merasa itulah, dosa paling tua masuk ke hati.

Saya tertampar. Masih saja menyimpan bibit bibit dosa itu. Padahal, siapa saya? Apa yang patut saya sombongkan? Betapa iman ini masih jauh dari sempurna. Betapa hari hari saya ada saja tambahan dosanya. Lalu mengapa masih merasa paling?

Kuedarkan ingatan ke banyak orang di sekitar saya. Ada banyak yang lebih. Mereka lebih baik, lebih sabar, lebih pintar, lebih pemurah, lebih penolong, lebih lapang dada, lebih dan lebih....

Banyak yang harus saya perbaiki, tata hati jelang Muharram ini.

Wednesday, November 17, 2010

(13) 10 Dzulhijjah

Lebaran itu selalu menyejukkan. Menyentil ketaatan kita. Lihat pagi ini, kaum muslim berbondong bondong dengan rapi, wajah yang bersih berseri, pakaian terbaik (bukan terbaru) menuju rumah Allah.

Sesampai di masjid, shaf disusun dengan indah. Tak peduli ketua RT atau Kepala Dinas atau Abang becak atau Manajer atau Pemulung, semua sejajar. Tunduk menghamba Sang Pencipta.

Lalu kambing dan sapi itu. Di hari biasa, betapa menjengkelkannya menghirup udara tidak sedap dari hewan hewan itu. Nae nae otak, kata orang Ambon. Tapi di Idul Adha ini, tak ada keluh kesah berdampingan dengan hewan hewan persembahan. Betapa keikhlasan telah menundukkan rasa tak enak. Indah, indah sekali rasanya.

Allah, jika hari ini, di 10 dzulhijjah ini, saya masih menghadapmu di masjid terdekat dari rumah, ijinkan hamba, suatu saat nanti, bisa menghadapMU di ka'bahMU, di 10 dzulhijjah yang lain..

Selamat ber-ied Adha, teman. Semoga meneguhkan pengorbanan pada Rabb Tercinta, dengan keikhlasan sempurna.

Tuesday, November 16, 2010

(12) Ikhtiar Berhaji; Ramadhan ke tujuh 2003




Allah, saya tidak tahu kapan akan bersimpuh di depan RumahMu, saya hanya tahu, hari ini saya melangkah ke Bank untuk menabung…maka jika sudah cukup waktu untuk mencerap liku-liku itu, ijinkan saya membasuh wajah yang gelap ini dengan zam-zamMu. Berkatilah saya… (Dhuha, sesaat sebelum ke BNI)

Lama saya melantunkan permintaan untuk ke haji. Lama saya mengamalkan bacaan surah Al-Hajj. Saya juga membaca bermacam buku tentang perjalanan haji. Tetapi terus terang saya sama sekali belum memulai menabung sepeser pun untuk ke sana.
Tiap kali saya membaca surah Hajj, dan beberapa surah tentang haji, mata saya berkaca-kaca. Saya menyimak perintah haji dan ritualnya langsung dari sumbernya. Hati saya berdegup kencang manakala bacaan saya sampai pada ayat yang menceritakan perjalanan Sitti Hajar, ibunda Nabi Ismail, antara shafa dan Marwa. Kelak ayat inilah yang menjadi bacaan wajib ketika kaki mulai menapaki perbukitan shafa dan marwa, begitu saya baca dari buku petunjuk Haji.

Di tengah ketidakpastian kecukupan dana, sungguh mati perjuangan Ibunda Sitti Hajar bolak balik antara shafa dan marwa membayang di mata saya. Ooo…perjuangan yang saya lakukan, pengharapan yang saya panjatkan, sesungguhnya belum apa-apa dibandingkan kerasnya perjuangan yang dihadapi oleh Ibunda Sitti Hajar.
Membayangkan perempuan yang baru beberapa bulan melahirkan bayi laki-laki, harus berlarian dari satu bukit ke bukit lain di tengah kesendirian untuk mencari air bagi anaknya. Membayangkan perempuan hitam yang tengah kepanasan, yang harus menekuk perasaan ditinggal sendirian di padang tandus…Tak ada keterangan terperinci pada Qur’an bagaimana suasana hatinya. Tetapi sebagai perempuan, apakah saya tidak dapat sedikitpun merasakan penderitaan itu? Ooo..adakah kesulitan yang menyamainya? Bahagia melahirkan bayi sehat, tetapi sekaligus juga harus menelan kenyataan ditinggalkan oleh suami untuk berupaya survive..adakah kesakitan pasca melahirkan dihapuskan Allah untuknya? Ataukah sakit itu tetap terasa sambil berlari mencari sumber kehidupan?

Melihat ke diri, membanding apa yang dilakukan oleh ibunda Sitti Hajar, ahai…adakah celah dalam diri untuk berputus asa? Saya menjadi tak berani membanding kesukaran yang saya hadapi dengan apa yang pernah dialami oleh perempuan yang dari rahim mulianya terlahir Nabi Ismail. Inilah bagian yang menyemangati saya untuk terus berharap dan berusaha mencukupi diri dengan bekal materi dan non materi untuk tiba di rumahNya.

Dalam pengharapan itu, saya bertemu dengan seorang guru Taman Kanak-Kanak. Beliau baru pulang dari menjalankan Haji. “Saya menabung selama dua puluh tahun dik”. Biar mi* lantai rumah hanya semen biasa, tetapi saya ingin letakkan wajah saya di Keramik Mesjid Haram” saya menyimak ceritanya di satu pagi saat kami hendak melakukan pertemuan rutin pengurus ‘Aisyiyah Makassar. “Jadi guru TK ‘Aisyiyah itu berapa gajinya? Adik tentunya tahu..” timpalnya pada saya. “tetapi saya tetap tabah saja. Saya tetap menabung, biar sepuluh ribu” wah..saya mulai membanding penghasilnnya dengan penghasilan saya selaku dosen.

Perbedaan penghasilan yang Allah berikan pada saya dengannya berlipat lipat kali. Memang dalam hitungan penghasilan saya berlebih dari Bu Guru TK ‘Aisyiyah. Tetapi dalam hal kegigihan menganyam niat ke tanah suci..saya jauh..jauh sekali di bawahnya. Dua puluh tahun bukan hal yang singkat untuk meneguhkan sebuah niat. Mungkin niat itu telah mengeras menjadi batu.
Kiranya cukup sudah pergolakan batin saya. Ada Guru TK ‘Aisyiyah yang tabah menabung. Ada perjalanan Sitti Hajar yang sangat gigih dan tabah. Ada dorongan Haji Udin Wally, kakak sepengajian saya di Ambon, untuk segera menabung “Tugas Ida menabung, bukan barekeng** cukup atau tar*** cukup. Itu urusan Allah. Nanti Antua yang kasi cukup akang****” begitu nasihatnya untuk saya. Juga amalan-amalan yang saya lakukan, semuanya bercampur menjadi satu. Saya menggigit geraham kuat-kuat. Adakah keraguan saya untuk melangkahkan kaki menabung haji?

Maka, ketika saya terseleksi menjadi Fasilitator Panwas Pusat untuk melakukan pelatihan bagi anggota Panwas di tingkat propinsi, kesempatan itu muncul dengan entengnya. Karena saya terseleksi, saya harus mengikuti penataran fasilitator di Jakarta selama seminggu. Saya diberi uang saku sebanyak Rp.1.250.000. Saya bertekad untuk menggunakan sepenuhnyan uang ini untuk membuka tabungan haji. Saya sama sekali tidak membuka amplopnya. Utuh.

Usai penataran, pagi itu, di atas sajadah saya memegang amplop berkop Panwas Pusat Jakarta dengan gemetar. Saya memeluk amplop itu kuat-kuat. Saya meletakkannya di dada saya. Menunduk dalam-dalam, di atas sajadah..”Allah, beta pung modal cuma ini*****”. Saya bergumam. “beta tar tau apa tempo bisa sampai ke RumahMu, tetapi sioo.. ini beta pung ikhtiar******”.

Saya mengangkat tangan ke atas, memandang langit-langit kamar..betapa ingin saya menembus langit-langit itu. Betapa ingin saya melihat gemawan yang putih, betapa rindu saya pada jejak Nabi. Amplop itu masih ada dalam dekapan saya. Dalam sujud yang sederhana, saya mengangkat permohonan dengan segala rasa dan asa..saya membenamkan segala keinginan di situ...lalu bergulirlah harapan dari mulut saya.. “Allah, saya tidak tahu kapan akan bersimpuh di depan RumahMu, saya hanya tahu, hari ini saya melangkah ke Bank untuk menabung…maka jika sudah cukup waktu untuk mencerap liku-liku itu, ijinkan saya membasuh wajah yang gelap ini dengan zam-zamMu. Berkatilah saya…terima kasih Allah atas perasaan ini”

Usai sudah dhuha di ramadhan ke tujuh. Ketika saya mengisi form aplikasi tabungan haji, petugas bank menanyakan kapan mau ke haji. Saya hanya tersenyum. Saya menggeleng kepala padanya. Saya tidak tahu kapan saya bisa ke sana. Saya hanya tahu kalau hari ini saya melengkapi ikhtiar itu.
Form itu tidak rumit, tetapi saya mengisinya dengan lantunan doa dan shalawat. Saya tidak mau kehilangan sedikitpun moment ini. Saya harus selalu terjaga ketika tangan saya mengisi form tabungan haji. Lalu ketika saya harus mengisi nama lengkap dengan nama Aba, ayah saya...duh.. ada yang menggetarkan hati saya. Aba, ayah dan juga guru ngaji saya, yang berangkat ke haji tiga hari setelah saya lahir, nanti tidak sempat melihat saya berangkat ke haji jika masa itu tiba. Meskipun Aba telah berpulang ke rahmatullah jauh melewati saya, hari ini saya masih menggunakan namanya untuk melengkapi nama saya, Faidah Binti Agil Azuz. Duh..entah kapan nama Aba ikut tertulis di koper haji..

Catatan kata-kata :
*Biar mi (logat Makassar) = biarlah
**barekeng (bhs Ambon) = berhitung
***tar (bhs Ambon ) = tidak
****akang = itu
*****Allah, beta pung modal cuma ini (bhs`Ambon) = Allah, modal saya cuma ini.
******beta tar tau apa tempo bisa sampai ke RumahMu, tetapi sioo.. ini beta pung ikhtiar (bhs Ambon) = saya tidak tahu kapan bisa tiba di rumahMU, tetapi duhai.. inilah isktiar saya.

---------------------------------------------------------------------------------

Satu lagi tulisan dari Ca Ida Sialana. Kisah tentangnya berhaji juga sudah pernah kutuangkan di sini.

Kawan, membaca catatan hatinya kali ini sungguhlah membuat diri ini bersimpuh malu. Tulisan ini saya terima di email pada dini hari. Sungguh tahajjud malam itu begitu beda. Banjir akan sebuah pengharapan dan rasa malu kepada Rabb bahwa diri ini hanya meminta tanpa berusaha. Tanpa satu langkah kecil, tanpa ikhtiar apapun.

Jiwa ini lemah di hadapan Rabb, jiwa ini begitu tergugu dengan panggilanNya. Hanya bulir air yang membasahi pipi tertunduk malu, tertunduk penuh nista di hadapan Pencipta. Lalu diri ini berkaca, bagaimana mungkin Allah akan memanggilku ke rumahNya jika aku masih sering menunda panggilan adzanNya. Bagaimana mungkin Allah memanggilku ke rumahNya jika berlama lama di sajadah pun ku tak mampu. Bagaimana mungkin aku dipanggil melantunkan banyak doa langsung di rumahNya jika surat cinta dariNya jarang kubuka. Bagaimana mungkin aku dipanggil ke rumahNya jika aku tak mulai mengumpulkan duit sesen demi sesen untuk kesana. Bagaimana mungkin aku berharap kesana tanpa satu pun ikhtiar. Dan aku pun tergugu...

gambar dari hasil googling, diambil dari sini

Monday, November 15, 2010

(11) Panggil Kami

Rumah itu, Tuhan
Sudikah kau panggil aku kesana?
RumahMu, Rabb
Bolehkah aku kunjungi?

Di bening hari
Dalam remang senja
Pada pekat malam
RumahMu indah

Panggil kami, Allah
Jamu kami
Di rumahMu
RumahMu

Thursday, November 11, 2010

(7) Sebuah Catatan

Saya suka hari ini. Meski capek tapi begitu sarat hikmah. Bertemu dengan dua orang biasa yang melakukan hal hal luar biasa.

1. Dalam kesempatan apapun, tetaplah menolong orang
2. Permudah orang yang berurusan dengan kita
3. Jangan pernah tinggalkan shalat
4. Menunda waktu saja celaka, apalagi meninggalkan
5. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? hitunglah yang ada pada dirimu
6. Allah tidak pernah menuntut balas atas apa yang telah Ia berikan, kenapa begitu sulit kita bersyukur?
7. Jika tak shalat, berarti tidak meminta pertolongan pada Allah. Lalu minta tolong sama siapa? iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin
8. Berikan tempat pada musafir
9. Kalau Allah belum mengabulkan doa, jangan putus asa. Allah suka kita terus meminta
10. Masih banyak lagi..

Nasehat dari mereka tembus ke hati saya. Karena saya tau mereka tak sekedar bicara tapi mereka melakukan apa yang mereka bagi kepada saya. Dan saya mendapati mereka berdua sebagai pribadi yang tenang dan selalu bahagia..

Ah, saya tertampar. Tentang menunda nunda waktu sholat, tentang terburu buru dalam berdoa. Saya tertampar banyak. Terutama karena baru saja saya mengecewakan beberapa rekan KPM Desa Waimital yang mengundang saya untuk berdiskusi. Mereka sudah mengkonfirmasi kehadiran saya sejak kemarin siang hingga tadi siang. Qadarullah, setengah jam sebelum agenda, saya dengan berat hati dan penyesalan mendalam serta rasa bersalah yang besar harus membatalkan rencana kehadiran karena sebab yang tak bisa dihindari.

Semoga saya tidak dicap mempersulit keadaan, tidak dianggap ingkar. Saya hanya berharap kekecewaan itu tidak ada di hati mereka, dan kalaupun ada, semoga tidak menjadi penghalang rahmat Allah pada saya. Mereka membalas sms saya dengan sebuah kalimat yang menyejukkan "gak apa apa mbak. untuk itulah ada kata InsyaAllah. Mungkin belum rezeki kami. Semoga bisa ketemu di lain kesempatan". Ya, semoga dimudahkan di lain kesempatan,insyaAllah.

eh, saya belum isya. pamit mundur temans.

Wednesday, November 03, 2010

Allah, ini beta

Apa yang akan teman-teman baca ini adalah salah satu tulisan indah dari saudara saya, kakak saya, inspirasi saya, Faidah Azuz Sialana. Ia yang sering saya sapa dengan ca ida, pagi pagi sudah membuat saya terharu dengan tulisan ini. Ada yang mengalir di dinding hati lalu dengan pertanyaan "kapankah saya dipanggil?". Dan jawaban juga saya temui bahwa saya akan dipanggil ke Baitullah, hanya jika saya memantaskan diri untuk dipanggil. Tulisan ini pernah dimuat di Harian Ambon Ekspress di Tahun 2009, sengaja kami, saya dan ca Ida, mengangkatnya kembali untuk berbagi. Buat saya, tulisan ini ada pendidikan, ada renungan, ada inspirasi, komplit seperti nasi goreng, ada telur, ada ayam eh ada dendeng juga. Mantap pokoknya. Selamat menikmati sajian kami.




Allah, Ini Beta…
Oleh: Faidah Azuz Sialana

“Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang**” dan banyak sekali warning yang diberikan pada saya ketika hendak berangkat ke tanah suci beberapa waktu yang lalu. Agaknya pikiran saya mulai terpengaruh. Membuat saya menganggap orang hitam sebagai musuh yang harus saya lawan. Pikiran saya mulai menyusun strategi bagaimana menghadapi orang hitam itu. Lengkap dengan beberapa kata penolakan dalam bahasa Arab dan Inggris yang saya hafal baik-baik dari tanah air. Pokoknya saya harus fight.

Lalu tibalah saya di Madinah. Menjelang pintu masjid Nabawi untuk shalat Ashar pertama saya telah menyiapkan diri kalau-kalau bertemu dengan orang hitam. Bagaimana sikap saya, apa yang harus saya ucapkan, pokoknya saya harus mempertahankan kapling sajadah, kalau perlu sampai titik darah penghabisan dengan semangat empat lima. Demikian tekad saya.
Semakin mendekati pintu pagar masjid Nabawi, saya semakin gugup. Saya terjebak dalam pilihan prioritas antara mengucap shalawat untuk Nabi, terheran-heran menyaksikan hamparan halaman mesjid Nabawi yang sesak, dan menyiapkan strategi menghadapi orang hitam. Semua membuat kacau konsentrasi saya.

Mata saya kemudian tertumbuk pada sekelompok jama’ah dari Ethopia-Afrika. Masya Allah, mereka benar-benar hitam dan berpostur besar. Beberapa di antara mereka melambaikan tangan ke arah Masjid Nabawi sambil berlinang air mata. Beberapa memegang dada sambil menunduk dalam-dalam sambil menggigit ujung kerudung lebarnya yang berwarna-warni. Beberapa berdiri diam sambil menggigit bibir menahan tangis yang mau meluap. Tidak ada ekspresi sangar, tidak ada gerakan hendak menyerobot tempat, apalagi mau menginjak orang lain di sekitar. Mereka dalam formasi teratur sedang mengirimkan rindu lewat shalawat yang juga sampai di telinga saya. Rupanya mereka beberapa saat lagi akan meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Mereka, seperti saya, melakukan haji Tamattu’

Saya terpaku menyaksikan gerombolan ini. Segalam macam warning yang dibawa dari tanah air melayang jauh meninggalkan diri saya. Dalam kejap yang sedetik itu, pikiran saya berlari ke buku “Makna Haji” yang ditulis oleh Ali Syariati. Buku ini memang saya baca beberapa tahun sebelum berangkat ke tanah suci, bahkan saya membawanya ketika berhaji. Buku ini bukan buku fiqhi, buku ini menjelaskan makna filosofi ibadah haji. Disamping itu saya menaruh hormat pada Syariati karena mumpuni dalam ilmunya, betapa dia adalah seorang sosiolog Iran lulusan Sorbonne University, Perancis.

Ketika menjelaskan tentang Ka’bah (hal 41-53; 2002), Syariati menohok saya dengan pertanyaan “Hanya beginikah? Inikah pusat keyakinan, shalat, cinta, dan kematian?. Penjelasan tersebut berlanjut bahwa pada tiang ka’bah yang ketiga, terletak kuburan Hajar, ibunda Nabi Ismail. Di pangkuan Hajarlah Nabi Ismail di besarkan. Di bekas telapak kaki Hajarlah kita melalukan salah satu ritual wajib antara Shafa dan Marwa untuk bersa’i.
Dari buku Makna Haji saya kemudian lebih memahami keberadaan Hajar, seorang budak yang dari rahimnya lahir Nabi Ismail. Hajar ternyata adalah budak milik Sarah dari Ethopia, Hajar adalah perempuan hitam yang Allah muliakan dengan menempatkan kuburannya menyatu dengan Ka’bah (Hijir Ismalil). Thawaf kita menjadi batal jika kita tidak mengelilinginya juga. Thawaf kita menjadi tak berarti jika kita memotong jalan melewati lorong Hijir Islamil. Hajar adalah perempuan yang melahirkan Ismail yang darinya turun Nabi Muhammad. Hajar melambangkan transformasi peradaban. Hajar bermetamorfosa menjadi hijrah, sebuah momentum penting dalam perkembangan peradaban Islam.

Pikiran saya kembali menelisik beberapa literatur yang telah saya baca menjelang keberangkatan ke tanah suci, buku ini juga saya bawa ke haji. Salah satunya adalah Adversity Spiritual Quetient for Hajj yang ditulis oleh C.Ramli Bihar Anwar dan Haidar Bagir (2004). ASQ For Hajj mengajak saya memahami bahwa Tuhan tidak main-main dengan hukumNya. Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan ciptaanNya, termasuk aturan yang telah disyariatkan. Buku ini membuka mata saya tentang urutan rukun Islam. Padahal sejak kecil, sejak duduk di Sekolah Muhammadiyah jalan Permi saya telah tahu bahwa Haji adalah rukun Islam yang ke lima. Pemahaman saya tentang makna urutan tersebut menjadi benderang dari buku ASQ for Hajj ini.
Diterangkan kemudian, untuk sampai ke tanah suci jangan pernah berharap banyak jikalau kita belum menegakkan secara benar-benar empat rukun lainnya. Tidak usahlah berangan-angan ke haji, jika syahadat kita masih belum utuh, jika kita masih saja mensyarikatkan Tuhan Allah. Buanglah impian menjadi Haji atau Hajjah jikalau puasa kita masih sekedar menahan lapar dan haus, kalau kita masih meledak jika marah, kalau kita masih suka memanipulasi membuat pencitraan diri. Pupuskan cita-cita ke baitNya, jika kita masih bingung menghitung zakat.
Rupanya, Haji merupakan pendakian terakhir dari rukun Islam. Dalam ibadah Haji, semua rukun yang empat menyatu. Dalam perjalanan haji, bukankah kita senantiasa rindu shalat di mesjid Nabawi dan Haram? Bagaimana mungkin kita berhaji sementara shalat kita masih bolong-bolong?

Memang, menjalankan ibadah haji, tidak ada kewajiban puasa sebagaimana kewajiban shalat. Tetapi larangan yang berlaku di bulan puasa, terasa sekali ketika kita sedang ihram. Di bulan puasa, kita dilarang melakukan hubungan biologis di waktu siang hari, tetapi ketika kita berihram larangan ini berlaku bahkan malampun kita dilarang melakukannya. Puasa pada initinya membuat kita mampu menahan diri, menekuk ego, dan menahan diri terberat adalah saat ihram. Semoga Ihram jugalah diri saya kelak.
Zakat yang saya lakukan selama ini, tampaknya perlu diredefinisi lagi. Saya memahami zakat sebagai ungkapan kedermawanan, sebagai upaya meringankan beban orang lain. Tetapi ternyata, zakat tidak sekedar itu. Zakat adalah kesediaan untuk taat, kesediaan untuk tidak kikir. Terlebih lagi, zakat adalah kehawatiran ketika orang lain enggan menerima apa yang kita sampaikan. Dengan demikian zakat adalah bentuk pengikisan kesombongan diri.
Buku ASQ for Hajj meninggalkan penjelasan yang mengesankan bagi saya ketika penulisnya mendemonstrasikan kata yang dipakai untuk perintah haji. Qur’an menggunakan kata Aqimash Shalat (dirikan shalat), Atuz Zakat (tunaikan/bayarkan zakat), Kutiba ‘alaikumush Shiyam (diwajibkan kepada kalian berpuasa), maka khusus untuk haji Qur’an menggunakan Walillahi ‘alannaasi Hijjul Baita (Hanya karena Allah diwajibkan atas manusia mngerjakan haji).

Ustadz Quraish Shihab menjelaskan bahwa meskipun semua syarat sah ibadah adalah hanya karena Allah, namun yang tersurat dengan jelas adalah perintah haji. Inilah isyarat Qur’an bahwa haji adalah watak yang perlu kita kejar. Tanpa tendensi apa-apa. Saya memaknai perintah haji melalui Walillahi ‘alannaasi hijjul baita.. sebagai peringatan keras dari Allah untuk tidak berpongah setelah pulang melaksanakan ibadah haji. Agaknya Allah tahu bahwa manusia kerap menggunakan label haji-nya untuk menepuk dada, untuk menunjukkan derajat sosial, bahkan kerap sebagai atribut untuk merebut hati masyarakat ketika pemilu tiba. Haji kerap diseret memasuki ranah ekonomi dan juga politik. Peringatan ini hanyalah agar kita sampai pada titik mampu memaknai kata mabrur. Semogalah saya mabrur adanya.

Bacaan dari dua buku itu kemudian mengantarkan saya duduk menunggu Ashar di halaman mesjid Nabawi. Saya hanya kebagian tempat di halaman, karena Nabawi telah penuh. Ketika mata saya kembali memandang rombongan jamaah Ethopia-Afrika yang hitam legam dari jauh, pikiran saya kembali menyusun argumen. Hajar adalah budak hitam dari Ethopia, tidak berbeda dengan mereka ini. Dari rahim Hajarlah lahir Nabi Ismail, yang kemudian menurunkan Nabi Muhammad yang sangat saya rindukan dan kalau boleh saya junjung di atas kepala.
Mungkin hitamnya Hajar persis dengan hitamnya orang-orang ini. Mungkin ketidakrelaan saya berbagi tempat dengan mereka lantaran saya merasa lebih baik dan lebih layak dari mereka. Di manakah pemaknaan zakat saya? Padahal, tidak tertutup kemungkinan perjuangan mereka untuk sampai di Nabawi jauh lebih berat dari saya. Mungkin shalawat yang mereka sampaikan jauh lebih banyak dan lebih ikhlas dari saya. Ohoi..di mana saya letakkan muka untuk merasa hebat? Bagaimana mungkin saya menganggap remeh mereka ini?

Maka, sambil memegang dada, saya mengangkat wajah lurus-lurus ke depan, ke arah kiblat. Saya berbisik, “Allah, ampong (ampuni) beta jua yang beberapa waktu lalu pandang enteng (meremehkan) orang hitam, padahal justru dari rahim seperti itulah lahir Nabi Ismail leluhur Nabi Muhammad yang beta cinta dan beta junjung tinggi-tinggi. Ilahi.. tolong beta karja haji supaya akang seng salah***), Rabbi....ini beta, perempuan dari negeri yang tengah berkonflik…

sebuah catatan harian
1. beta = saya (bahasa Ambon)
2. Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang = Ingat, orang hitam itu sukanya nginjak tempat sujud (sajadah) kita, suka serobot tanpa ijin, mereka nggak tau adat”
3. Karja haji= melaksanakan semua rukun haji.
4. Seng = tidak

Madinah, 28 Desember 2004.

Faidah Azuz Sialana = Alumnus Faperta UNPATTI Ambon. Saat ini sedang sekolah pada program S3 Jurusan Sosiologi UGM Yogyakarta.

Catatan :
Tulisan ini pernah dimuat di AMEKS tahun 2009.

Sunday, September 20, 2009

Kembali menjadi hambaMU

Rabbi,
Simpuh ini tak mampu meluruhkan puing puing sesalku
Akan Ramadhan yang kubiarkan berlalu sia-sia
Tak ada yang bisa kubanggakan dari perjalanan Ramadhan kali ini
Tak ada amalan istimewa yang mampu dengan bangga kupersembahkan

Rabb,
Akankah rahmatMU menjauhiku karenanya?
Kupinta, jangan, Ya Rabb...
Karena jika tanpa rahmatMU, maka aku tak punya apa-apa

Rabbi,
Sepertinya tak bisa kusandang kefitrian di hari ini
Namun Rabb, beri aku kesempatan sekali lagi
Untuk menghidupkan semangat Ramadhan ini senantiasa
Agar aku dapat menemuiMU dengan fitri suatu saat ketika Kau memanggilku

Allah,
Terlalu banyak dosa yang kulakukan.
Terlalu banyak perintahMU yang kulanggar
Hingga rasanya aku tak pantas mengaku menjadi hambaMU

Pintaku, Rabb
Beri kesempatan sekali lagi
Ijinkan aku kembali menjadi hambaMU
Sayangi aku, Rabb.
Itu satu-satunya yang ku perlu dalam hidupku.

Thursday, September 10, 2009

Jelang Akhir Ramadhan


Hari berlalu sedemikian cepat
Kemuliaan ini sebentar lagi berlalu
Entah apakah bisa bertemu lagi,
Ataukah menjadi pertemuan terakhir

Saat-saat akhir seperti ini,
Resah, cemas, kesempatan ini sebentar lagi berlalu
Sudahkah termanfaatkan dengan baik?
Tarawih itu, tadarrus itu, subuh berjamaah itu,
Pukulan beduk lepas tarawih itu,
Wajah2 penuh senyum dan ceria
Khas ketundukan yang keluar dari rumah Allah

Ramadhan, sungguh bulan penuh berkah
Mempertemukan setiap yang berjauhan
Saudara, kerabat, semuanya
Subhanallah......

Allah.....
Ramadhan ini, akankah jadi yang terakhir untukku?


Gambar dari sini

Monday, August 24, 2009

Sahabat, di Ramadhan ini aku merindu


Sebelas bulan telah berlalu dari ramadhan sebelumnya. Perpisahan yang haru dan juga pengharapan akan dpertemukan kembali.
Dan kini, kita kembali dipeluk Ramadhan. Kesempatan yang tak didapat beberapa saudara kita yang ramadhan lalu masih bersama kita.

Ramadhan seperti ini, banyak hal yang ingin kulakukan. Terlebih lagi, ada hal yang kurindukan. Bersama menyusun jadwal jaga ta'jil, bersama mengonsep kegiatan semarak ramadhan, sembari tak lupa berlomba lomba mempersembahkan ibadah terbaik. Aku rindu kebersamaan dan hangatnya ukhuwah di bulan suci, di masjid kampus tercinta. Aku sudah jauh tertinggal, aku sudah meluruh dan khilaf. Ramadhan ini, aku ingin kembali berada dalam rengkuhan dakwah yang tak sadar merenggang menjauhiku (atau aku yg menjauhinya??).

Pintaku, ALLAH.....
Izinkan hamba berada di antara hamba hamba pilihanMU
Yang ketika kudengar suaranya mengingatkan aku akan panggilanMU
Yang ketika kulihat akhlaknya mengingatkan aku pada akhlak rasulMU
Yang ketika kulihat wajahnya mengingatkan aku pada keteduhan saat berjumpa denganMU
Yang ketika kudengar tangisnya mengingatkan aku pada nikmatnya sujud menghadapMU
Yang ketika kudengar tawanya mengingatkan aku pada canda rasulMU bersama sahabat.

Saudaraku,
disebabkan oleh cinta, kuurai benang kasih yang tersimpan dalam dada ini. ALLAH menjadi saksi atas cinta ini. Karena cinta itu maka kita berjumpa, berjuang bersama, membina ukhuwah, menyatukan hati hati kita yg penuh warna ini. Hanya Allah yang mampu menyinari hati ini hingga tertawan padaNYA.

Kuteringat dengan kalimat yg selalu kita ucapkan tiap ada yang akan pergi. Bahwa meski terulur jarak, selama kita masih dalam perjuangan meraih ridha Allah, maka sebenarnya kita tak pernah terpisah.
Aku sudah jauh tertinggal, sahabat. Tapi kini, telah kusiapkan stamina dan niat untuk kembali mengambil tempat dalam barisan perjuangan kita.

Untuk itu kuucapkan,
Selamat berjuang saudaraku...
Semoga warna warni kehidupan yang telah kita lukis bersama, menyadarkan kita bahwa hidup ini memang butuh perjuangan.

Ana uhibbukum fillah.

nb : catatan cinta untuk KMBI dan semua ikhwah yang pernah membersamaiku dalam perjuangan

Thursday, August 20, 2009

RAMADHAN MULIA

Ramadhan..
datang lagi menyapa hamba Allah yang merindu
dalam setiap detik ada rahmatNYA
maka masih pantaskah kita tidak mau mendekat?

Tak ada alasan untuk diam
kita bahkan tak boleh berjalan,
berlarilah...berlari dengan segala hati dan kesungguhan
bahwa kita diberi satu kesempatan lagi
satu waktu untuk menyucikan diri yang berkalang dosa

Ramadhan..
datangnya adalah anugerah
dan perginya nanti adalah perayaan suci namun juga kesedihan

Ramadhan ini,...
jadikan ia berarti
karena bisa jadi...

inilah Ramadhan kita yang..............terakhir

nb : kepada seluruh blogger, maafkan kesalahan per-sua-an kita di dunia maya ini. semoga kita semua dapat menjelani RAmadhan ini dan lulus sebagai pemenang sejati Ramadhan.

Saturday, July 25, 2009

Kematian Hati

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim malnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal,lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak
mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat?" Saat engkau muntah melihat
laki-laki (banci)berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan."

Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiai"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?"

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan
Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri ????.

Oleh: KH.Rahmat Abdullah

astaghfirullah. ..astaghfirullah ...


*dari milis KMBI -- Akhina Heri Yusuf--*

* Tertohok, ampuni hamba ya Rabb*