Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Sahabat. Show all posts

Wednesday, April 03, 2013

Suratku dari my Vina

 
 
 Surat dari my beloved Vina. Trimakasih sudah mengirim surat ya sayang. Belum sempat kubalas but i will, i promise. Surat diambil dari sini
 
Assalamu’alaikum Wr Wb.
 
Hai Saudaraku... apa kabarmu di seberang sana?
Kuharapkan kau selalu dalam pelukan Allah, ya. Oh ya, Bang Lito juga apa kabar? Sepertinya sedang semangat-semangatnya bekerja ya?? Kangen sekali ingin bertemu dengan kalian. 
 
Ingat tidak?? Selama ini aku hanya mengetahui tentang sosok bang Lito hanya dari suaramu yang merdu. Dari cerita-ceritamu yang selalu membuatku iri. Hahaha, iri yang baik kok, Bi. Iri ingin memiliki tulang punggung dan belahan jiwa seperti dia. Apa?? Aku harus menjadi sepertimu?? Hahaha... Mungkin juga ya? Aku memang ingin belajar sepertimu. Bukan menjadi mirip kamu, tapi bersikap lembut, dewasa, dan baik sepertimu.
 
Beberapa hari kemarin, aku merasakan rindu yang luar biasa padamu, Gerimis. Eh, jangan bilang kau lupa panggilan itu. Gerimis, kan nama panggilanmu. Senja itu panggilan nona Acha, sedangkan Pelangi itu punyaku. Hahahaha... siapa coba yang kasih nama itu, ya? 
 
Aku ingat, pertama kali satu kelompok denganmu saat AMT. Kita harus mengingat nama-nama teman satu grup yang jumlahnya 30 orang. Dan kau adalah satu-satunya yang bisa mengingat semuanya. Lalu aku rindu saat kita senam setiap Rabu dan Sabtu. Harus bangun pagi-pagi banget. Terus gerak-gerak seksi di sela-sela kabut puncak, ditemani instruktur cantik yang ga kalah seksi. Terus, sarapan ala orang barat, pake omelet, roti bakar, jus. Halah, ingat ga, gara-gara itu, perut pribumi kita tidak bisa menerima dan akhirnya... kau tahu kan, D.I.A.R.E. hahaha. Kau ingat, tiap ke kelas, beberapa dari teman kita selalu membawa bekal roti bakar dan memakannya saat perut mendadak keroncongan sebelum jam coffee break. 
 
 
Aku rindu saat kita ber-karaoke bersama atau bernyanyi di resto. Sio mama, lagu yang kau nyanyikan. Benar tidak? Aku rindu bermain UNO di kamarmu. Berapa nomor kamarmu dulu? Yang kuingat 234, benar tidak? Tiap libur kelas, aku selalu main ke kamarmu, bareng bang Azhar, Mas Hari, bang Uchin, Anesh, hm.. siapa lagi ya? Oh ya, ni Ul, ni Yanti, dan beberapa orang lainnya yang sering main ke tempatmu. Apalagi sepeninggal Nadeth pulang ke Makassar lebih dulu, aku makin sering main ke tempatmu. Sayang sekali, kita baru dekat saat pendidikan sudah hampir selesai. Tapi, aku bersyukur sekali, Alhamdulillah pada Allah, meskipun waktunya hanya sebentar Allah masih memberikan kesempatan untukku mengenalmu, Saudaraku.
 
Aku merindukan momen bersamamu.
 
Oh ya, satu lagi yang luar biasa. Bagaimana mungkin tiba-tiba aku bisa mendadak ikut ke Lembang bersamamu dan bang Azhar. Ya ampun, ga nyangka aku. Itu adalah hal terbaik dan terhebat buatku. Mengenal mbak Titi yang luar biasa melaluimu, Ebi. Ah, pokoknya luar biasa deh. 
 
Maaf, ya, Ebi, aku tidak bisa datang saat pernikahanmu dulu. Tapi seperti janjiku, bingkisan sederhana dan doa aku kirimkan melewati lautan. Dan Thanks, God, itu bisa sampai ke tanganmu dengan selamat. Sempat was-was dan tidak percaya pada pak pos, takut bingkisannya dibuang ke laut, hahaha.
 
Aku masih ingat, bagaimana bahagia dan terharunya aku saata khirnya  kamu mengatakan ada janin dalam rahimmu. Aku langsung menelponmu dengan riangnya. Ya Tuhan, aku bakal jadi tante untuk satu keponakan lagi. Subhanallah. Aku sudah membayangkan, kalaupun tidak bisa datang ke Ambon pada acaranya nona Acha, aku akan datang saat keponakanku itu lahir. 
 
Lalu tanggal 22 Maret 2013 lalu, kau tiba-tiba mengirimkan sebuah pesan singkat padaku. Janinmu sudah meninggal. Buah hati yang belum sempat kau sentuh, kau lihat dan kau dengar tangisannya. Kau dan bang Lito memanggilnya ‘abang’, kan? Boleh aku memanggilnya begitu juga? Aku shock Ebi, mendengar abang kecil dipanggil Allah lebih dulu. Aku tahu betapa kau sangat mengharapkan kehadirannya. Jujur, saat itu aku tidak menangis. Aku diam. Tapi, justru itu membuatku sakit. Lucu ya? Bukan aku yang kehilangan, tapi aku merasakan sedih yang hebat. Bahkan ketika kau bilang bahwa abang kecil sudah meninggal sebulan lamanya dan kamu baru mengetahuinya. Sungguh kebesaran Illahi, kau tidak sampai keracunan, Sayang. Bahkan tanpa dikuret, rahimmu sudah bersih.
 
Aku mungkin tak bisa menguatkanmu. Karena aku tahu kau perempuan yang kuat. Dibandingkan dengan yang menghiburmu, mungkin kau jauh-jauh lebih kuat. Alla mencintaimu, Ebi. Juga mencintai Bang Lito. Dia Yang Maha Cinta tengah mengujimu. Menyiapkan kalian untuk naik tingkat. Percayalah, abang kecil tengah menunggu kalian di surga Allah. Dan seandainya dia punya kesempatan bicara dengan kalian, dia pasti akan mengatakan ‘aku bangga menjadi putra ummi dan abi’ seperti aku bangga menjadi sahabatmu, Perempuanku. Ah, tidak... dia lebih bangga lagi. 
 
Kau selalu mengatakan, sabarlah sayang, Allah pasti punya rencana terbaik. Sekarang, semoga engkau bisa lebih tenang dan sabar. Lebih meredakan air matamu. Aku tak bisa bilang ‘sabar, ya’ karena pasti sudah begitu banyak orang yang mengatakan itu. Aku hanya bisa bilang, ceritalah padaku jika itu mampu meringankanmu. Sms aku jika kau butuh teman untuk bicara, maka aku akan menelponmu. Kita akan cerita-cerita, sama dengan saat aku sering bertukar cerita denganmu di kamarmu. 
 
Kau mau mendengar ceritaku?
Aku punya sahabat dekat. Dian namanya. Dia sahabat kuliahku, hingga sekarang. Eternal friendship, hahaha. Dia sama denganmu, Ebi. Kehilangan janinnya sebelum Allah menghadirkannya dalam pelukan. Kalau kau kehilangan saat usia kandunganmu menginjak 4 bulan. Dia kehilangan saat janinnya berusia 7 bulan. Tapi, sekarang dia sudah bisa tersenyum dan bercanda. Dulu, mungkin dia sepertimu. Menangis dan memendam kerinduan yang luar biasa. Tapi, sama denganmu juga, dia memiliki keluarga dan suami yang tak kalah luar biasanya. Dia merasa, jika sedih terus, maka orang-orang yang meyayanginya juga akan ikut sedih. Kalau Ebi ingin nomor telponnya, aku akan memberikan. Mungkin Ebi bisa berbincang dengannya.
Lalu, ada juga teman SMA yang pada bulan yang sama kehilangan belahan hatinya. Selama 11 tahun bersama, Allah akhirnya memisahkan mereka. Bukan untuk menjauhkan, tapi untuk mempertemukan mereka kembali di tanah Surga-Nya. 
 
Jadi, jangan menangis lagi, Ebi. Air matamu itu, jangan membuat abang kecil sedih. Tersenyumlah. Karena sungguh cantik saat kau melengkungkan bibirmu. Serupa gerimis yang menyejukkan. 
 
Kita belajar bersama, Saudaraku. Bukan hanya tentang kehilanganmu, tapi juga bagaimana kita menerima semua skenario-Nya yang maha dahsyat. Aku yakin kau sudah mampu menerima dan mengikhlaskan abang kecil. Hanya saja, gerimismu masih seperti badai yang mencemaskan. 
 
Aku menunggu gerimis yang rintik, Ebi.
Aku menunggu senyum seorang Ebi Waliulu.
 
Baiklah, aku akan menulis surat lagi nanti. Dan kuharap saat itu, kau sudah berkata ‘hatiku sudah membaik.’
 
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Thursday, August 04, 2011

(274) Untuk Yang Masih Gundah - masih dari sahabat

Lentera itu mendekatimu,
Dan engkau telah memilihnya....tanpa kau sadari
Namun, ada ragu singgah di ruangmu yang kosong
Benarkah dia?
Kata yang selalu diucap oleh hatimu

Beras atau nasi?
Itu ibarat yang selalu terucap dalam lisanmu saat mencari sosok sang pendamping
Siapapun ingin pendampingnya adalah ibarat nasi
Sudah siap untuk kita nikmati
Terima jadi, istilahnya
Tapi, tahukah kamu?
Ketika pasangan kita masih sosok beras, kita akan lebih menghargainya
Karena kita tahu wujud aslinya
Belum ada penambahan atau pengurangan apa-apa
Dia, adalah dia... beras, masih polos dan bisa diubah menjadi apapun...
Kita akan lebih menghormatinya, atas segala usahanya saat ingin menjadi Nasi yang bisa dinikmati

Namun,
Darahmu yang paling tahu pada siapa dia berdesir cepat
Jantungmu yang paling yakin pada siapa dia berdetak melebihi irama yang seharusnya
Tubuh dan jiwamu yang paling menyadari pada siapa dia merasa nyaman
Bukan untuk mencari mana yang lebih baik
Karena tiap saat pasti ada yang lebih baik

Tapi mencari,
Yang mampu membuatmu berjalan dengan kakimu sendiri
Yang mampu membuatmu tersenyum dengan lebar
Yang mampu membuatmu menjadi diri sendiri
Tanpa beban
Tanpa kompromi
Karena bukanlah suatu pilihan hati jika itu harus memakai kompromi, dan menjauh dari siapa dirimu sebenarnya...


ps : speechless honey...

diambil dari http://gerimisdansecangkirkopi.blogspot.com/2011/08/untuk-yang-masih-gundah.html

Sunday, July 31, 2011

(270) Gundah - catatan sahabat

Gundah...
Resah...
Galau...
Bersalah...
Menjadi kabut yang menyelimuti ruang hatimu kini
Ranjau-ranjau seakan ditebar dalam dinding jiwa dan pikiranmu
Yang sewaktu-waktu dapat meledak terinjak-injak keadaan yang tak tentu

Hatimu terasa sempit, membuat sesak menghampirimu
Kau butuh udara, namun tak kau dapatkan
Hanya jalan gelap yang kau tapaki
Ada dua cahaya yang menghampirimu

Cahaya satu menghadirkan KEMBANG API untukmu
Cahaya kedua menawarkan sebuah LILIN KECIL
Mana yang akan kau pilih?

Kembang api, dengan cahayanya yang –mungkin-cantik, namun menyakitkan dan sekejap saja dia bersinar
Atau,
Lilin, dengan cahayanya yang –memang- remang, namun dia memberi kehangatan tanpa menyakiti, sepanjang waktu

Hatimu sedang tak berada dalam porosnya
Berdetak tanpa terduga, menyimpang dari irama yang sesungguhnya
Tapi, aku punya keyakinan kau mampu melewatinya
Karena kau paling percaya bahwa ini semua adalah rencana-Nya

Seperti selalu terucap dalam lisanmu
“Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk meninggalkan kita”
Artinya, Tuhan tidak akan membawa kamu pada dua pilihan jika kamu tak sanggup memilihnya

kau adalah Ilalang...
dapat mengatasi musim apapun dan tetap berdiri tegak
malam tanpa matahari atau siang dengan panasnya
Ilalang tetap mampu bertahan

Lenteramu ada dua Jangan biarkan membuatmu gundah
Karena aku yakin, kau lebih kuat dari ini

Karena kau istimewa

**untuk sahabat q yang (mungkin) sedang gundah**

#dari sahabat yang mengerti gundah#

dicomot dari

Monday, July 25, 2011

Catatan untuk Shindanman

ada resah yang ingin kutekan dengan kuat
dalam dinding hati yang terbiasa bersama
aku percaya ada satu rahasia dariNYA
hingga kita dipertemukan di titik kehidupan yang sama

dan jika kita harus kembali untuk menjalani titik yang lain
itu bukan sebuah kesalahan
tapi sungguh, inilah kebenaran yang harus terjadi
inilah satu satunya takdir yang paling tepat kita jalani

di apa yang kita alami
tak ada persahabatan yang sempurna
yang ada adalah orang orang yang berusaha sebisa mungkin mempertahankannya

sampai jumpa kawan
kita telah petik dawai bersama
resonansi persahabatan kita telah sama
saling ingatkan. saling doakan
biarkan doa doa kita berkejaran di langit

bangga mengenal kalian semua

(264) Sekali dan Berarti


Seperti baru kemarin menginjakkan kaki dengan berat hati di Ciloto. Membayangkan akan melewati 5 bulan dengan belajar, terpisah dari keluarga, keluar dari kotak nyaman. Tibalah hari ini, hari mengakhiri 5 bulan itu dengan “berat” juga.
5 bulan memang terlalu lama untuk sebuah pelatihan. Tapi 5 bulan sungguhlah cukup untuk menyatukan 60 kepala, 60 hati dalam satu keceriaan.

Disini ada ilmu yang tentu saja melimpah, ilmu yang sama sekali tidak pernah kusentuh selama ini. Berawal dari pusing mendengar satu persatu istilah di dunia keuangan dan dunia industry hingga akhirnya terbiasa dan bisa bercanda dengan istilah istilah itu. Tapi disini pula, pelajaran kehidupan begitu banyak. Persahabatan yang terjalin dengan segala dinamikanya. Berbagai karakter orang dengan segala problemanya ditemui disini.

Kami, 60 orang yang tak saling mengenal awalnya, lantas kebersamaan setiap hari di sudut sudut hotel lembah hijau ciloto, semakin mengukuhkan kami adalah saudara. 60 orang yang awalnya hanya saling menebak dan membangun image sendiri tentang orang lain, kini kami lebur dan begitu mengenal pribadi yang lain. 59 orang yang tiba tiba saja masuk dalam hidupku memberi warna lain. Bahwa Indonesia itu luas, Indonesia itu kaya, dan yang terpenting adalah ada 59 orang baik di dunia ini.

Banyak hal telah kita lewati. Dari kehilangan, kepergian seorang sahabat, momen momen ulang tahun dan bahkan pernikahan. Ini semua takkan terulang. Karena takdirnya memang begitu. Kalaupun terulang, tak mungkin bisa seindah ini. Ini sekali dan berarti. Hari ini kami akan saling melepas. Kembali ke kehidupan normal lagi. Kembali ke rutinitas lalu dengan semangat persaudaraan yang baru. Mengharukan, tapi itulah perputarannya. Bahkan saat pertama kita ketemu, kita sudah tahu hari ini akan tiba cepat atau lambat. Ada pertemuan ada pula perpisahan. Tapi sejatinya kita bukan berpisah. Kita sedang melebarkan pertemanan dari sekian hektar hotel lembah hijau ciloto menjadi pertemanan seluas Indonesia.

Kita akan saling mengenang, kawan. Apa yang kita lalui bersama selama 5 bulan ini hanyalah awal untuk persahabatan seumur hidup. Saya bangga menjadi bagian dari kalian. Saya belajar sesuatu dari setiap kalian, setiap kalian, per orangnya. Satu hal, persahabatan kita mungkin saja ada yang tergores, marilah melebur. Gugurkan semua saat jabat tangan nanti. Karena tak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada hanyalah orang orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

Sampai ketemu lagi kawan. Di tempat yang berbeda, di kesempatan yang berbeda dalam resonansi persahabatan yang sama. Love you all, shindanman………

Sunday, July 03, 2011

(242) Selamat Ulang Tahun, Ay


Pagi..
Embun menyapa, matahari bersinar
Demi apa?
Demi senyummu, cantik

Siang..
Matahari meninggi
Teriknya membakar semangat
Demi apa?
Demi nyala semangatmu menjadi berarti

Senja..
Matahari mulai malu malu
Tak pernah istirahat, hanya menepi
Kilaunya memantulkan sinar cantik di laut
Demi apa?
Demi kilatan juang hidup di matamu

Malam..
Bulan menggantung indah di langit
Putih, merendah di antara banyak bintang tapi mempesona
Demi apa?
Demi rendah hatimu yang mempesona

Pagi, siang, senja hingga malam nanti
Matahari, bulan dan bintang tersenyum
Menjembatani banyak doa untukmu
Kesuksesan, kebahagiaan dan segala harapan

Selamat ulang tahun, gagah.
Tetaplah gagah.....


*kado ultah untuk sahabatku Maya Talanila*

Thursday, June 02, 2011

(211) Di 25 yang Cantik


Hari ini ada banyak doa yang naik ke langit

Sejak hari dibuka,

Bahkan nanti bila malam mulai semakin pekat.

Semua hanya untukmu, teman


Di seperempat abadmu ini

Selamat selamat dan rangkaian doa tertuju padamu

Pejamkan matamu sejenak.

Di dua puluh lima ini.

Betapa anggunnya angka itu

Tapi anggunkah pula kehidupan yang kau jalani di bilang dua lima ini?


Meski dua lima adalah masa yang teramat muda

Tapi nyawa bukan kita yang punya

Nyawa, sepenuhnya ada dalam genggamanNYA

Dalam kuasaNYA


Pada hari ini,

Pintaku tertuju pada Rabb

Beri kesempatan engkau menuntaskan segala urusanmu di dunia

Selesaikan semua dengan indah

Melewatkan waktu waktu dengan detik manfaat

Menjadi berarti, menjadi berisi


Aku berharap besok ketika kau lihat matahari tersenyum

Itu senyum untukmu, mencerahkan harimu

Meninggikan citamu

Jika mendung kau temui nanti

Itu pekat doa yang melekat dalam ingatan setiap orang yang menyayangimu

Langit menangis bahagia melihat indahmu


Selamat milad, cantik...

Tetaplah cantik ..

Cantik fisik, cantik hati

Aamiin..


Untuk Roommate : Vanesha Mayadita

Sunday, April 03, 2011

(150) Surat Untuk Sahabat dan Para Wanita


Surat ini kutujukan pada seorang sahabat yang sedang gundah gulana dan kepada seluruh wanita. Surat ini kutulis dengan sedihku melihat keadaanmu sekarang. Aku tidak menyayangkan apa yang dilakukan oleh seseorang yang kau sebut kekasih padamu saat ini. Yang aku sayangkan adalah keadaanmu saat ini. Terus terang, aku kehilangan dirimu yang kukenal. Yang ceria, yang selalu membagi tawa dan kadang kegilaan kegilaan kecil. Sekarang, yang tampak di wajahmu itu hanya mendung. Kenapa? Segitu hebatnyakah dia hingga mampu menembus benteng air matamu. Ya, boleh saja kau mengatakan aku sok suci, sok gak butuh, sok tegar. Dan disini pun aku mau mengakui bahwa aku tak setegar itu. Tapi sepertinya kita tak perlu kehilangan senyuman kan? Dengan semua yang pernah kulewati, aku sampai ada kesimpulan yang ingin kubagi untukmu. Bahwa lelaki yang pantas mendapatkan airmata kita, para wanita, adalah lelaki dalam garis keturunan keluarga dan suami kita nanti. Orang yang tiba tiba hadir dalam hidupmu, merubah segala prioritas dalam hidupmu, kau biarkan saja dia membuatmu boros serta banjir air mata? Terlalu mudah kawan. Tak pantas dia memperolehnya.

Simple-nya begini, jika cinta itu menyajikanmu kesedihan, tinggalkanlah karena cinta tak pernah membuatmu sedih. Buka matamu sist, dia bukan suamimu. Kenapa harus bersedih ketika tahu dia menggila dan menduakan? Itu berarti dia bukan pria hebat. Karena pria hebat hanya melabuhkan satu cinta. Tentu saja ini akan menjadi lain ketika sudah menikah dan kita kaitkan dengan kebolehan berpoligami dengan kondisi-kondisi tertentu. Yang saya ingin garis bawahi adalah, dia bukan suamimu. Itu saja. Dia tak berhak menyakitimu cinta. Tak ada yang memberinya hak untuk merubah hari hari ceriamu jadi mendung. Ada pepatah begini, seorang pria menjadi dewasa ketika mereka mulai belajar tuk tidak menyakiti wanita, pria yang tahu bagaimana rapuhnya hati seorang wanita. See, dia berarti bukan pria dewasa. Jadi kamu yang harus dewasa.

Sahabat, merelakan itu bukan berarti kamu menyerah. Tapi memang ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan. Bangun dong say, jangan bengong tak bersemangat begitu. Percayalah, hidupmu akan jauh lebih positif. Seorang pria dikatakan hebat ketika dia menyadari kehebatan wanita yang dia cintai. Dan kamu itu hebat. Jadi kalau dia memilih memperlakukanmu dengan picik, jelas menunjukkan bahwa dia tidak hebat. Putuskan sesuatu untuk kebaikanmu, jangan paksakan segala sesuatu berjalan sesuai maumu setelah apa yang sekarang tersaji di depanmu oleh laki laki yang mengaku mencintaimu. Cinta tak pernah menyakiti, cinta tak pernah membuatmu sedih.

Hidupmu bukan berakhir disini. Jangan lagi ada airmata untuk seseorang yang tak bisa komitmen dengan apa yang diucapkan. Pria dipegang dari ucapannya. Takdir akan menuntunmu pada pria yang tak mengobral kata, namun lakunya adalah cerminan hatinya. Senyumlah sahabatku, hiduplah seperti yang selama ini aku melihatmu hidup. Aku tahu kau perlu waktu untuk menyembuhkan luka tpi jangan lama lama ya. Aku kehilangan dirimu karena kau asyik dengan airmatamu.

Tuesday, February 22, 2011

(110) Galau dan Sahabat

Hujan mengguyur kota Piru tanpa belas kasihan. Langit yang mendung sedari pagi dan gerimis sejak siang, tiba tiba saja seperti menurunkan bergalon galon air. Tanpa ampun, disertai gemuruh yang sempat membuat ketakutan..

Dan saya masih sendiri di rumah perantauan. Semakin menegaskan galau atas jauhnya jarak.. Aku butuh keluarga ada disini bersamaku. Menyajikan kebingungan ke hadapan mereka lalu mencari solusi bersama.

Terkaget oleh dering hp dengan nomor tak dikenal. Begitu diangkat, ternyata suara sahabat di jalan Allah yang lama tak berkomunikasi. Berawal dari membaca status fb-ku yang bernada galau, ia menanyakan kabar dan ada apa gerangan. Speechless, seseorang di belahan bumi jawa sana memutuskan menjadi telinga untuk kebingungan dan kerisauanku.

Persahabatan di jalan Allah memang abadi dan sudah berkali kali kubuktikan. Semoga jadi salah satu obat galauku..

Thursday, February 10, 2011

(98) my soulmate

ah, tiba tiba saja saya teringat seorang teman semasa kuliah dulu. sahabat terdekat yang membersamaiku selama di daratan jawa sana. apalagi di jurusan teknik yang didominasi laki laki, kami berdua jadi tidak terpisah.

wanita luar biasa sabar ini tak pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun. menangis untukku dalam suka maupun duka. padahal, dirinya sendiri pun tak kalah pelik masalah.

sudah setengah tahun ini kehilangan kontak dengannya. saya merindunya dan hanya bisa menatap foto bersamanya, satu satunya foto di photo box sebuah mall surabaya. foto yang sama yang tak pernah keluar dari dompet saya.

soulmate, begitulah dia untukku. apapun kabarmu disana, aku disini mengirim bait doa untuk bahagiamu. semoga kelak kita kembali bertemu, agar kunikmati lagi teduhnya wajahmu.

love you, sri....

Thursday, January 20, 2011

(77) Pagar Baru

15 hari tanpa postingan. waktu yang lama sekali. padahal di 15 hari kemarin banyak kejadian banyak hikmah yang harusnya bisa saya bagi..

Mmmm...jadi skarang mau tulis apa ya? hujan terus saja mengguyur tapi alhamdulillah turunnya setelah seluruh pagar ter-cat dgn rapi. tentang pagar, rumah di tempat tugas ini sudah dipagar setelah hampir 4 tahun tinggal disini. dan senangnya adalah pagar ini bisa berdiri dan di-cat karena persahabatan dan persaudaraan saja..

setelah beli material, saya belum punya dana lagi untuk nyari tenaga. tapi disinilah indahnya tinggal di Ambon. laeng lia laeng. dimulai dari basudara dari Luhu yang dinas di piru, mereka butuh 3 sore,sepulang kerja untuk mendirikan pagar keliling setengah rumah.

dan setengahnya lagi diteruskan oleh teman teman nongkrong kakak yang menyebut diri mereka anak anak Mutel (Muka Terminal). Sepulang gereja,sekitar 12an orang datang di hari minggu kemaren dan mulai bekerja dipenuhi canda tawa.

2 hari terakhir ini, saya dan iwan, ojek langganan yang sudah seperti saudara sendiri, memberikan sentuhan akhir dengan cat. untuk itu semua, tak ada dana lebih yang saya keluarkan. cukup bakwan atau pisang moleng, atau es teh kalo panas dan rokok bagi yang request.

baik bener mereka mau capek capek tapi mereka senyum dan tidak menganggap ini pekerjaan. bahkan katanya kalo tau tau pagar jadi tanpa mereka, mereka malu kalo ke rumah nanti. duh,baiknya.

untuk semua bantuan, terimakasih. biar Allah sahaja yang membalas kebaikan kalian. kalian baik, baik sekali..

Thursday, December 02, 2010

(28) Memori kawan Aceh.

Hello world…
Lama saya menghilang di blog ini. Baru beberapa hari sih, tapi karena project 365 day blog, beberapa hari kosong ini terasa lama. Menghilang ini bukan tanpa alasan. Menjadi panitia pelatihan Fasilitator Musrenbang Desa selama 3 hari ini benar benar menguras tenaga tapi juga menyisakan kenangan yang sangat manis, manis sekali menjelang masa masa terakhir saya di lahan manfaat ini.

3 hari ini saya disibukkan mulai dari persiapan mengundang peserta, mengatur penginapan peserta juga fasilitator dan mengatur jadwal penjemputan driver kantor yang harus bolak balik ke Waipirit demi menjemput para fasilitator dari kota kembang. Satu hari sebelum kegiatan, sebelum peserta dari 6 Desa di Kabupaten Seram Bagian Barat datang, saya menemani 5 peserta dari Aceh yang memang sudah hadir dua hari sebelum acara. Kami mengunjungi Dusun Kotania dan Dusun Wael. Dusun Kotania yang berjarak 20 km dari kota Piru adalah salah satu dusun penghasil minyak Kayu Putih. Rombongan kami menuju salah satu ketel minyak kayu putih dan berdiskusi dengan pemilik ketel dan membandingkan dengan proses penyulingan minyak NIlam di Aceh sana. Perjalanan dilanjutkan ke Dusun Wael yang berjarak sekitar 3 km dari Dusun Kotania, disana kami belajar tentang rumput laut. Ternyata di Aceh sana, rumput laut atau yang mereka sebut bunga laut tidak dibudidayakan. Tumbuh di batu karang begitu saja dan tidak diolah.

Sepanjang perjalanan mulai dari berangkat hingga pulang,, kesan bersahabat begitu akrab melekat bersama orang-orang dari Sabang itu. Mereka sangat hangat dan bersahaja. Tak ada kesan sebagai tamu, menyatu dan melebur.
Begitupun saat bertemu dengan 20 peserta dari SBB yang telah hadir. Tidak ada jarak antara peserta dengan peserta, juga dengan kami. Banyak kesan yang muncul dari para peserta dan semua adalah kesan manis. 3 hari penutupan ditutup dengan menyanyikan lagu Gandong bersama-sama sambil berpegangan tangan dan banyak airmata disana. Ah, Indonesiaku kaya sekali, Ambonku manis sekali.

Ketika memastikan semua peserta telah pulang ke desa masing-masing, saya mengantar rombongan Aceh ke Waimital. Awalnya biasa, ada masalah kecil dengan penginapan disana, tapi sungguh, mereka adalah pemuda-pemuda Aceh yang berjiwa besar. Namun setelah memastikan mereka telah mendapatkan penginapan, saya pun kembali ke Piru. Dalam perjalanan pulang itulah, hati rasanya kosong. 5 hari bersama mereka membuat mereka begitu saja tercetak di hatiku. Indah sekali persahabatan yang dimulai dengan singkat ini, semoga selamanya.

Pak Ubay, Kak Lina, Bang Masrul, Bang Nasrul, dan Susi, terimakasih telah sudi mengunjungi kami di Seram Bagian Barat. Terimakasih telah menularkan semangat untuk terus belajar dan terus bersama masyarakat.
Buat semua peserta fasilitator, terimakasih telah bersama kami selama 3 hari ini. Mari bersama bergandengan tangan mendampingi masyarakat. Mari kita contohkan kepada pihak-pihak yang seharusnya berdiri bersama masyarakat, kita contohkan bagaimana sebenarnya, bagaimana seharusnya berdiri bersama mesyarakat itu, menggandeng tangan masyarakat itu yang seperti apa. Kita tunjukkan bahwa kata-kata manis tak pernah membawa hasil sampai kata kata itu menjadi tindakan positif.

Love you all. Salut untuk kita semua

ps. saat catatan ini dibuat, baru saja dikabarai bahwa mereka sudah berkeliling Ambon berfoto di depan kantor Gubernur, membeli oleh oleh khas Ambon dan saat ini bersiap menaiki burung besi yang akan membawa mereka pulang

Saturday, November 27, 2010

(23) kawan baru

beberapa hari ini saya bertemu dengan 5 kawan dari kabupaten Aceh Selatan. Saat saya berkumpul dengan kawan kawan Ambon dan mereka ada di sekitar, raut mereka bingung dengan bahasa kami juga kecepatan kami dalam bicara..

Sampai tadi,ketika saya menemani mereka berlima makan malam, saya yang terkagum kagum dengan bahasa mereka. Serasa ada di ujung Indonesia sana..

Orang Aceh itu sopan, ceria, lucu dan mereka tidak canggung dengan kami,orang timur ini. cepat sekali mereka melebur dan bahkan menitikkan air mata ketika menyanyikan lagu Gandong bersama kami..

Senang bertemu kalian,5 kawan baruku, 5 saudara baruku..

Thursday, November 04, 2010

Seroja Part 2 yang Tertunda

Pasca PB 2010, blogger Maluku pun “iri” dengan perkembangan komunitas blogger di daerah lain. Salah satu maskot blogger maluku yang berjudul Almas berkesempatan mengikuti PB 2010 dan pulang dengan membawa cerita yang cukup bikin yang lainnya “jealous”. Mumpung semangat baru saja dipanasi, kami berencana berkumpul, bukan sekedar kopdar tapi seius bahas konsep blogger maluku yang kalo kata band Armada “mau dibawa kemana hubungan kita”. *dikeplak*.

FYI, pertemuan pertama blogger Maluku di tanggal 4 April 2009 di Kafe Seroja. Setelahnya berlanjut dengan banyak kali kopdar formal dan non formal. Lantas inilah saatnya Seroja Part 2, meski bukan di Kafe Seroja tapi dengan semangat yang dulu pernah berkobar di Seroja.

Then, lewat inbox fb, kami pun sepakat bertemu di hari Rabu tanggal 3 November kemarin. pukul 3 sore di Kota Ambon. Mengingat saya yang sedang terdampar di kota Piru yang berjarak 4 jam perjalanan, entah berapa mil laut itu, sudah menyiapkan diri sedari malam untuk mengikuti. Ijin kantor cuma setengah hari sudah kukantongi, ijin tidak mengikuti satu kegiatan di sore hari juga sudah didapat.

Jelang pukul 11, belum bisa meninggalkan kantor karena satu dan lain hal. Setelah menyelesaikan beberapa hal hari itu, berangkatlah kami, saya dan iwan (kerabat yang setia mengantar kemanapun saya pergi), dengan mengendarai sepeda motor menuju Waipirit. Saat itu, sudah pukul setengah dua belas siang. Jika tak ada kendala dalam perjalanan maka saya bisa sampai jam setengah satu dan menumpangi feri Waipirit-Liang jam 1 siang.

Baru saja meninggalkan Kota Piru, kami disambut hujan rintik, kecil, genit. Sisa sisa hujan lebat masih terlihat di jalanan yang basah. Bersyukur kami tidak berangkat jam 11 tadi, karena itu berarti akan kehujanan. Sembari menikmati rintik itu, kami berkelakar bahwa Tuhan juga tahu orang baik yang mau lewat, jadi hujan sudah selesai. Bukan maksud untuk takabbur atau apa, hanya sekedar menyenangkan hati dan berpositive thinking dalam perjalanan.

Hujan yang menggoda tapi tidak mengganggu ini menemani sepanjang setengah perjalanan. Mendekati desa Waisarissa, kami disambut hujan yang lebat yang memaksa kami harus berteduh di halte. Sayangnya, gunung yang sedang kami lewati ini tidak menyisakan tempat yang tepat untuk berteduh. Karena tak ada jas hujan, dan juga tak ada tempat berteduh, sementara halte masih 15 menit lagi perjalanan, mau tidak mau kami harus siap basah. Sesampai di halte, sudah banyak para pengendara sepeda motor yang juga berteduh. Dua puluh menit saya harus menunggu dengan gelisah sambil sesekali melirik jam yang justru bikin stress.

Hujan mereda sedikit, sedikit saja. Saya “memaksa” Iwan yang tanpa jas hujan, juga tanpa jaket, untuk melanjutkan perjalanan. Kembali berteman hujan, kami meneruskan perjalanan hingga Waipirit. Tapi begitulah, saya tidak ditakdirkan bertemu feri. Feri baru muncul pukul setengah dua. Dan biasanya, feri akan tambat di pelabuhan satu jam setengah untuk menurunkan penumpang serta menaikkan penumpang plus kendaraan-kendaraan.

Tiket feri sudah di tangan, namun hitungannya, kalau saya memaksakan diri berangkat, maka saya baru bisa bertemu dengan rekan-rekan blogger jam ½ 6. Dua setengah jam dari jadwal. Hmmm……. Setelah sms dan tlp, dengan sedikit merengek pada om Almas, saya meminta pertemuan diundur lagi. Meski sebenarnya bisa aja sih jalan tanpa saya. And, beberapa menit kemudian, telpon genggamku berdering dengan nama Almas di layarnya. Ia mengabarkan bahwa setelah kontak yang lain, agenda kopdar serius ini mundur 2 hari lagi alias Jumat. Uhuy senangnya, mereka memang menyayangiku *tsah…*

Saya pun kembali ke Piru dengan kembali basah. Hari kemarin judulnya adalah Mandi Hujan dengan rute Piru-Waipirit-Piru.

Terimakasih kepada Om Embong, Om Mamung, Pakde Dharma, Bang Almas dan Bung Semmy yang bersedia mengubah jadwal pertemuannya. Persohiblogan emang top, euy.

Sampai ketemu hari Jumat, dan mengutip kata Caca Ida Azuz “Mari katong bakaringat par ator negeri dan diri ini bae-bae supaya ada guna sadiki”

Catatan :

  1. Jangan kemana-mana tanpa membawa jas hujan (bagi pengendara sepeda motor)
  2. Saat posting ini ditulis, sempat terhenti karena bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa, menginspirasi dengan tindakan nyata bagi ummat. Wanita yang mampu tertawa saat sedih. Suatu waktu, insyaAllah saya akan menulis tentang wanita hebat ini.

Monday, September 21, 2009

Ingin bisa membuat bangga..

5 cm...
Judul buku Donny Dhirgantoro yang baru saja saya baca setelah harus menunggu selama 4 bulan untuk sampai di genggaman. Penantian yang tidak sia-sia karena buku ini membuatku menyadari kembali satu hal tentang mimpi dan jembatan untuk meraihnya. Nyesal ketemu buku itu sekarang, setelahempat tahun buku itu terbit, setelah cetakan ke 15-nya (atau lebih) beredar, tapi daripada enggak kan?
Ada sebuah quote yang menarik,
Taruh mimpimu mengambang depan kening (agar selalu kau lihat), dan yang diperlukan sekarang Cuma....
Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya
Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya
Leher yang akan lebih sering melihat ke atas
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari biasanya
Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya
Serta mulut yang akan selalu berdoa.

Buku ini juga membuatku bangga akan Indonesiaku. Bumi dimana mahameru berpijak, pecel madiun ada, tempe penyet terhidang, papeda dan colo-colo menggoda. Indonesia yang kaya, yang sejak lahir, kita minum dari airnya.

Tapi tulisan ini bisa hadir bukan tentang itu, teman. Buku itu memang mengembalikan tekadku untuk memindahkan daftar mimpi dari buku coklat ke depan keningku. Mengembalikan kebanggaan akan Indonesia meski di tengah carut marut terseok memperbaiki diri. Tapi ini bukan tentang itu. Ini adalah tentang saya dan kalian, sobat. Adakah saya berarti ataukah hanya kesia-siaan yang kalian dapat dari pertemanan ini.

Almarhum Adrian menginspirasi teman-temannya dengan selalu mengulang kalimat “sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain”. Almarhum Adrian pasti dan sangat pasti terinspirasi dari pesan baginda Rasul sejak berabad-abad tahun sebelumnya “Khairunnaas anfa’uhum linnaas...sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”.

Lalu melintaslah pikiran itu.
Bagaimana dengan saya?
Sudahkah saya memberi sesuatu yang bikin orang lain bahagia?
Sudahkah saya memberi makna di setiap kehadiran saya?
Sudahkah saya toreh jejak kebaikan di setiap perjumpaan?
Ataukah saya hanya seonggok daging yang bernama???

Teman,
Saya hanya ingin meminta maaf atas setiap kesia-siaan yang saya timbulkan. Atas berlalunya waktu tanpa makna dalam kehadiran saya di kehidupan kalian. Mungkin juga justru rasa sakit yang saya tingglkan, omongan tak penting yang bisa saja menoreh luka yang tak disadari.
Seorang bijak pernah menyuruh anaknya menempelkan paku di pagar setiap kali ia menyakiti orang lain. Dan ketika pagar itu mulai penuh, anak itu ingin memperbaikinya. Si ayah lantas menyuruh anaknya untuk mencabut paku itu satu persatu setiap kali ia berhasil meminta maaf dari setiap yang ia sakiti. Sampailah pada cabutan paku terakhir, namun si anak melihat pagar itu tak lagi sama dan tak akan pernah sama seperti sebelum dipaku.

Inilah usaha saya mencabuti paku-paku yang saya torehkan di hati kalian. Mungkin tak akan pernah sama, tapi yang saya butuhkan sekarang adalah kesempatan.
Kesempatan untuk menjadi berarti dalam tiap perjumpaan.
Kesempatan untuk bermmakna dalam setiap pembicaraan.
Kesempatan menjadi terindah dalam setiap terkenang.
Dan yang terpenting adalah kesempatan agara aku bisa belajar menjadi pribadi yang membuat orang lain bisa bernapas lebih lega karena keberadaanku disitu,

Hingga suatu ketika, saat kita tak lagi mampu berjumpa dan namaku terdengar, kalian bisa tersenyum dan bilang “itu temanku, sahabatku, saudaraku”

Maafkan segala perilaku bodohku. Dan sejak hari ini, aku akan berusaha memberi jejak kebaikan, bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku. Maafkanku, sobat jika belum membanggakan kalian.

p.s : Menjadi sempurna adalah ketika menatap mata orang tua dan orang-orang yang menyayangi kita dan tahu bahwa kita tak akan mengecewakan mereka.



Sincerely,


Eby (dengan harap tak akan mengecewakan kalian)

Tuesday, September 01, 2009

Obrolan Hati Dua Sahabat


Suatu waktu, seseorang berkata padaku....

"by, kenapa? aduh, saya sedih dengarnya. Kenapa sih? Sudah dipikirkan baik2?"
*sambil meneteskan air mata yang tak kumengerti untuk apa*

saat itu aku hanya mampu bilang....

"ini jawaban istikharahku. Mungkin terlihat salah bagi orang lain, tapi inilah yang benar-benar ingin kujalani, kuambil dengan penuh keyakinan. mengertilah"
*tanpa air mata*

ia berkata lagi ...
"tapi kenapa by? tolong dipikirkan lagi"
*masih dengan air mata*

.....hening....
lalu ku menjawab
"suatu saat kau akan mengerti. tidak sekarang, tapi nanti"
*dan aku berlalu*

lalu, baru saja ia menghubungi dan bilang...
"by, saya tau sekarang kenapa keputusan itu yang kau ambil"

"kenapa?" jawabku

"karena kau bahagia dengan keputusan itu kan? senyummu kulihat lebih lebar, tawamu terdengar lebih lepas, ceriamu mulai merembesi hati. baru sadar, bahwa sebelum keputusan itu kau ambil, senyum, tawa dan ceria itu tak sempat kujumpai dengan lega"

Terimakasih kawan. akhirnya kau mengerti mengapa sahabatmu ini mengambil jalan ini. akhirnya kau tahu, bahwa inilah langkahku menuju bahagia, meski harus bersakit dahulu. Karena bukankah malam akan semakin kelam jika fajar akan terbit?

seandainya kau ada disampingku saat ini, ingin kupeluk dirimu atas pengertianmu sekarang. Terimakasih untuk selalu disampingku meski kita berbatas jarak.

Saturday, September 08, 2007

Selamat memulai pelayaran

Tiba-tiba aja pengen nelpon teman-teman kuliah. Deni ta' telpon dan dia kasih kabar yang menggembirakan juga menjengkelkan. Berita gembiranya adalah Samsul tanggal 2 kemarin nikah di nganjuk dan Amin insyaAllah akan nikah tanggal 11 besok di Surabaya. Barakallahu lakum....

Berita menjengkelkannya, kenapa saya taunya dari Deni? itu pun saya yang iseng telpon. Walhasil, Samsul ta' telpon. Maunya sih protes gitu, kenapa saya gak diberitahu, minimal sms. Eh, Samsul malah ngasih istrinya, Mia, yang bicara dan Mia minta maaf. Kok jadi sungkan dhewe ya aku? Kata mereka sih, gak ada rencana. Cepat banget. Minggu kemarin lamaran trus nikah deh. Ya, sibuk kali ya. Pas lagi telpon-telponan sama Samsul dan Mia, si Amin sms. Isinya, menanyakan kabar dan posisi di mana?.

Ndilalah, Deni sudah kabari Amin kalo tadi aku protes-protes gak dikabari. Meskipun gak bisa datang, kan kudune tetap dikabari. Amin bilang, sudah kirim undangan ke email. Alasan Amin sederhana, biar ada yang nyiapin sahur dan buka pas Ramadhan nanti. Nice reason.

Amin, Samsul, Selamat berlayar ya. Jadilah kalian nahkoda yang baik. Pernikahan ini barulah titik keberangkatan. Kawal kapal yang kalian pilih itu hingga berakhir di rumah impian terindah, surga, di kampung abadi, akhirat.
Doaku selalu, bro...

Sunday, July 29, 2007

My Friend of A Lifetime

Birthday is just another day.
It just changing date on calendar
It just different number in Age identity
What makess it diferent?
If in your birthday,
You have passion to be better than yesterday
(Dariku untuk Santje)

Hari ini, Santje tambah satu usianya. Sayang, dia di Namlea menunaikan tugas jadi tidak bisa ketemu. Tapi, semalam tepat pukul 00:00, doa telah terlantun untuknya.

Santje, di usianya yang sekarang dia sudah sangat memberi warna dalam hidup saya. Sepanjang usiaku, hanya 5 tahun pertama, saya tidak mengenalnya. Setelah itu, sejak saya mulai bersosialisasi dengan orang lain di usia 5 tahun, dia menjadi sahabat pertama saya hingga saat ini.

Di setiap momen, dia selalu ada. Tidak selalu fisik, tapi doanya, sms-nya, suaranya, perhatiannya ada hingga saat ini. Dia yang saya sebut "Friend of a Lifetime" di daftar terimakasih skripsi saya.
Dan di hari ini, ingin rasanya memberi dia sesuatu yang begitu ingin saya lihat ia pakai. Entah kapan Sansay, tapi eby selalu ingin melihatmu dalam balutan muslimah.

Jika setiap orang hanya boleh punya satu kata untuk persahabatan,
maka kataku adalah....
SANTJE

Monday, June 18, 2007

Rumah Hati

Bismillah...
Senang rasanya bisa ada di rumah lagi. Padahal baru 2 minggu lalu saya dari sini, tapi kok sekarang rasanya beda ya?. Sampe rumah sudah sore, abis feri-nya agak lama. Papa sama Ibu sampe bengong dan heran kenapa saya ke Ambon padahal kan gak libur? Gimana lagi, saya kangen sama Ibu. Abis maghrib, mijit kaki Ibu sambil cerita banyaaaaak banget. Ibu tidur, baru deh ngobrol sama Papa sambil nonton teve dan makan langsat. Cuman sekarang gantian, saya yang dipijit Papa. Hehehe...

Seneng, asli seneeeng banget. Gak tau ya kok bisa beda begini. Hari ini saya gak kemana-mana, pengen seharian di rumah. Benar2 di rumah. Selama ini kalo pulang, bawaannya jalaan aja kemana2. Semalam saya tidurnya di kamar adek. Jadi baru hari ini masuk kamar saya sendiri. Ada Bukal dan Pigly nungging di atas tempat tidur. Saya peluk dan cium, wanginya masih sama sejak saya tinggal. Empuknya kasur di tempat tidurku, sambil liat bintang dari balik jendela. Secara kamar saya di atas, jadi gak pernah tutup jendela biar bisa lompat ke atas seng rumah dan duduk natap bintang. Keren, Subhanallah.

Ini bukan saja tempat tinggal, ini rumah. Rumahku dan rumah hatiku...

Sunday, January 28, 2007

Terkuras habis...,

Bismillah..

Sulit rasanya menggambarkan hari ini. Setelah hari yang melelahkan fisik dan jiwa, ingin sejenak berbagi. Packing-packing akhirnya selesai. Ternyata isi kamar saya tuh 6 kardus, 1 travel bag plus satu tas kresek super besar.

Pertemuan fisik dengan KMBI berakhir sudah. Sedfih, tapi kupasrahkan segalanya kepada Allah. Kupercayakan penjagaan KMBI-ku tercinta untukNYA, karena IA-lah sebaik-baik pemelihara KMBI beserta seluruh pejuangnya.

Terimakasih buat Mita, Maya dan Sri, 3 sahabat cantikku di Elektro ITATS. Terimakasih atas cerita indah kita. Terimakasih atas airmata yang telah kalian bagi untukku. Sungguh, bagiku kalian adalah mentari yang akan selalu menerangi jalanku. Sahabat seperti kalian adalah anugerah. Semua sudah kita lebur tadi. Bersama berpegangan tangan, kutatap wajah indah kalian saatu persatu. Tak akan pernah hilang kalian dari memoriku serta dari hatiku. Salam sayangku selalu.

Buat adek-adekku di kost, dek Eya, dek Ega, dek Lina, dek Astri dan juga dek Yanti, terimakasih telah menemaniku malam ini. Bersama kalian menjalani keseharianku adalah hal yang luar biasa. Tetaplah menjadi diri kalian masing-masing. I Love You, Really.

Hari ini, tak akan terlupa.