Wednesday, April 03, 2013
Suratku dari my Vina
Thursday, August 04, 2011
(274) Untuk Yang Masih Gundah - masih dari sahabat
Dan engkau telah memilihnya....tanpa kau sadari
Namun, ada ragu singgah di ruangmu yang kosong
Benarkah dia?
Kata yang selalu diucap oleh hatimu
Beras atau nasi?
Itu ibarat yang selalu terucap dalam lisanmu saat mencari sosok sang pendamping
Siapapun ingin pendampingnya adalah ibarat nasi
Sudah siap untuk kita nikmati
Terima jadi, istilahnya
Tapi, tahukah kamu?
Ketika pasangan kita masih sosok beras, kita akan lebih menghargainya
Karena kita tahu wujud aslinya
Belum ada penambahan atau pengurangan apa-apa
Dia, adalah dia... beras, masih polos dan bisa diubah menjadi apapun...
Kita akan lebih menghormatinya, atas segala usahanya saat ingin menjadi Nasi yang bisa dinikmati
Namun,
Darahmu yang paling tahu pada siapa dia berdesir cepat
Jantungmu yang paling yakin pada siapa dia berdetak melebihi irama yang seharusnya
Tubuh dan jiwamu yang paling menyadari pada siapa dia merasa nyaman
Bukan untuk mencari mana yang lebih baik
Karena tiap saat pasti ada yang lebih baik
Tapi mencari,
Yang mampu membuatmu berjalan dengan kakimu sendiri
Yang mampu membuatmu tersenyum dengan lebar
Yang mampu membuatmu menjadi diri sendiri
Tanpa beban
Tanpa kompromi
Karena bukanlah suatu pilihan hati jika itu harus memakai kompromi, dan menjauh dari siapa dirimu sebenarnya...
ps : speechless honey...
diambil dari http://gerimisdansecangkirkopi.blogspot.com/2011/08/untuk-yang-masih-gundah.html
Sunday, July 31, 2011
(270) Gundah - catatan sahabat
Resah...
Galau...
Bersalah...
Menjadi kabut yang menyelimuti ruang hatimu kini
Ranjau-ranjau seakan ditebar dalam dinding jiwa dan pikiranmu
Yang sewaktu-waktu dapat meledak terinjak-injak keadaan yang tak tentu
Hatimu terasa sempit, membuat sesak menghampirimu
Kau butuh udara, namun tak kau dapatkan
Hanya jalan gelap yang kau tapaki
Ada dua cahaya yang menghampirimu
Cahaya satu menghadirkan KEMBANG API untukmu
Cahaya kedua menawarkan sebuah LILIN KECIL
Mana yang akan kau pilih?
Kembang api, dengan cahayanya yang –mungkin-cantik, namun menyakitkan dan sekejap saja dia bersinar
Atau,
Lilin, dengan cahayanya yang –memang- remang, namun dia memberi kehangatan tanpa menyakiti, sepanjang waktu
Hatimu sedang tak berada dalam porosnya
Berdetak tanpa terduga, menyimpang dari irama yang sesungguhnya
Tapi, aku punya keyakinan kau mampu melewatinya
Karena kau paling percaya bahwa ini semua adalah rencana-Nya
Seperti selalu terucap dalam lisanmu
“Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk meninggalkan kita”
Artinya, Tuhan tidak akan membawa kamu pada dua pilihan jika kamu tak sanggup memilihnya
kau adalah Ilalang...
dapat mengatasi musim apapun dan tetap berdiri tegak
malam tanpa matahari atau siang dengan panasnya
Ilalang tetap mampu bertahan
Lenteramu ada dua Jangan biarkan membuatmu gundah
Karena aku yakin, kau lebih kuat dari ini
Karena kau istimewa
**untuk sahabat q yang (mungkin) sedang gundah**
#dari sahabat yang mengerti gundah#
dicomot dari
Monday, July 25, 2011
Catatan untuk Shindanman
dalam dinding hati yang terbiasa bersama
aku percaya ada satu rahasia dariNYA
hingga kita dipertemukan di titik kehidupan yang sama
dan jika kita harus kembali untuk menjalani titik yang lain
itu bukan sebuah kesalahan
tapi sungguh, inilah kebenaran yang harus terjadi
inilah satu satunya takdir yang paling tepat kita jalani
di apa yang kita alami
tak ada persahabatan yang sempurna
yang ada adalah orang orang yang berusaha sebisa mungkin mempertahankannya
sampai jumpa kawan
kita telah petik dawai bersama
resonansi persahabatan kita telah sama
saling ingatkan. saling doakan
biarkan doa doa kita berkejaran di langit
bangga mengenal kalian semua
(264) Sekali dan Berarti
Seperti baru kemarin menginjakkan kaki dengan berat hati di Ciloto. Membayangkan akan melewati 5 bulan dengan belajar, terpisah dari keluarga, keluar dari kotak nyaman. Tibalah hari ini, hari mengakhiri 5 bulan itu dengan “berat” juga.
5 bulan memang terlalu lama untuk sebuah pelatihan. Tapi 5 bulan sungguhlah cukup untuk menyatukan 60 kepala, 60 hati dalam satu keceriaan.
Disini ada ilmu yang tentu saja melimpah, ilmu yang sama sekali tidak pernah kusentuh selama ini. Berawal dari pusing mendengar satu persatu istilah di dunia keuangan dan dunia industry hingga akhirnya terbiasa dan bisa bercanda dengan istilah istilah itu. Tapi disini pula, pelajaran kehidupan begitu banyak. Persahabatan yang terjalin dengan segala dinamikanya. Berbagai karakter orang dengan segala problemanya ditemui disini.
Kami, 60 orang yang tak saling mengenal awalnya, lantas kebersamaan setiap hari di sudut sudut hotel lembah hijau ciloto, semakin mengukuhkan kami adalah saudara. 60 orang yang awalnya hanya saling menebak dan membangun image sendiri tentang orang lain, kini kami lebur dan begitu mengenal pribadi yang lain. 59 orang yang tiba tiba saja masuk dalam hidupku memberi warna lain. Bahwa Indonesia itu luas, Indonesia itu kaya, dan yang terpenting adalah ada 59 orang baik di dunia ini.
Banyak hal telah kita lewati. Dari kehilangan, kepergian seorang sahabat, momen momen ulang tahun dan bahkan pernikahan. Ini semua takkan terulang. Karena takdirnya memang begitu. Kalaupun terulang, tak mungkin bisa seindah ini. Ini sekali dan berarti. Hari ini kami akan saling melepas. Kembali ke kehidupan normal lagi. Kembali ke rutinitas lalu dengan semangat persaudaraan yang baru. Mengharukan, tapi itulah perputarannya. Bahkan saat pertama kita ketemu, kita sudah tahu hari ini akan tiba cepat atau lambat. Ada pertemuan ada pula perpisahan. Tapi sejatinya kita bukan berpisah. Kita sedang melebarkan pertemanan dari sekian hektar hotel lembah hijau ciloto menjadi pertemanan seluas Indonesia.
Kita akan saling mengenang, kawan. Apa yang kita lalui bersama selama 5 bulan ini hanyalah awal untuk persahabatan seumur hidup. Saya bangga menjadi bagian dari kalian. Saya belajar sesuatu dari setiap kalian, setiap kalian, per orangnya. Satu hal, persahabatan kita mungkin saja ada yang tergores, marilah melebur. Gugurkan semua saat jabat tangan nanti. Karena tak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada hanyalah orang orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.
Sampai ketemu lagi kawan. Di tempat yang berbeda, di kesempatan yang berbeda dalam resonansi persahabatan yang sama. Love you all, shindanman………
Sunday, July 03, 2011
(242) Selamat Ulang Tahun, Ay
Pagi..
Embun menyapa, matahari bersinar
Demi apa?
Demi senyummu, cantik
Siang..
Matahari meninggi
Teriknya membakar semangat
Demi apa?
Demi nyala semangatmu menjadi berarti
Senja..
Matahari mulai malu malu
Tak pernah istirahat, hanya menepi
Kilaunya memantulkan sinar cantik di laut
Demi apa?
Demi kilatan juang hidup di matamu
Malam..
Bulan menggantung indah di langit
Putih, merendah di antara banyak bintang tapi mempesona
Demi apa?
Demi rendah hatimu yang mempesona
Pagi, siang, senja hingga malam nanti
Matahari, bulan dan bintang tersenyum
Menjembatani banyak doa untukmu
Kesuksesan, kebahagiaan dan segala harapan
Selamat ulang tahun, gagah.
Tetaplah gagah.....
*kado ultah untuk sahabatku Maya Talanila*
Thursday, June 02, 2011
(211) Di 25 yang Cantik
Hari ini ada banyak doa yang naik ke langit
Sejak hari dibuka,
Bahkan nanti bila malam mulai semakin pekat.
Semua hanya untukmu, teman
Di seperempat abadmu ini
Selamat selamat dan rangkaian doa tertuju padamu
Pejamkan matamu sejenak.
Di dua puluh lima ini.
Betapa anggunnya angka itu
Tapi anggunkah pula kehidupan yang kau jalani di bilang dua lima ini?
Meski dua lima adalah masa yang teramat muda
Tapi nyawa bukan kita yang punya
Nyawa, sepenuhnya ada dalam genggamanNYA
Dalam kuasaNYA
Pada hari ini,
Pintaku tertuju pada Rabb
Beri kesempatan engkau menuntaskan segala urusanmu di dunia
Selesaikan semua dengan indah
Melewatkan waktu waktu dengan detik manfaat
Menjadi berarti, menjadi berisi
Aku berharap besok ketika kau lihat matahari tersenyum
Itu senyum untukmu, mencerahkan harimu
Meninggikan citamu
Jika mendung kau temui nanti
Itu pekat doa yang melekat dalam ingatan setiap orang yang menyayangimu
Langit menangis bahagia melihat indahmu
Selamat milad, cantik...
Tetaplah cantik ..
Cantik fisik, cantik hati
Aamiin..
Untuk Roommate : Vanesha Mayadita
Sunday, April 03, 2011
(150) Surat Untuk Sahabat dan Para Wanita
Surat ini kutujukan pada seorang sahabat yang sedang gundah gulana dan kepada seluruh wanita. Surat ini kutulis dengan sedihku melihat keadaanmu sekarang. Aku tidak menyayangkan apa yang dilakukan oleh seseorang yang kau sebut kekasih padamu saat ini. Yang aku sayangkan adalah keadaanmu saat ini. Terus terang, aku kehilangan dirimu yang kukenal. Yang ceria, yang selalu membagi tawa dan kadang kegilaan kegilaan kecil. Sekarang, yang tampak di wajahmu itu hanya mendung. Kenapa? Segitu hebatnyakah dia hingga mampu menembus benteng air matamu. Ya, boleh saja kau mengatakan aku sok suci, sok gak butuh, sok tegar. Dan disini pun aku mau mengakui bahwa aku tak setegar itu. Tapi sepertinya kita tak perlu kehilangan senyuman kan? Dengan semua yang pernah kulewati, aku sampai ada kesimpulan yang ingin kubagi untukmu. Bahwa lelaki yang pantas mendapatkan airmata kita, para wanita, adalah lelaki dalam garis keturunan keluarga dan suami kita nanti. Orang yang tiba tiba hadir dalam hidupmu, merubah segala prioritas dalam hidupmu, kau biarkan saja dia membuatmu boros serta banjir air mata? Terlalu mudah kawan. Tak pantas dia memperolehnya.
Simple-nya begini, jika cinta itu menyajikanmu kesedihan, tinggalkanlah karena cinta tak pernah membuatmu sedih. Buka matamu sist, dia bukan suamimu. Kenapa harus bersedih ketika tahu dia menggila dan menduakan? Itu berarti dia bukan pria hebat. Karena pria hebat hanya melabuhkan satu cinta. Tentu saja ini akan menjadi lain ketika sudah menikah dan kita kaitkan dengan kebolehan berpoligami dengan kondisi-kondisi tertentu. Yang saya ingin garis bawahi adalah, dia bukan suamimu. Itu saja. Dia tak berhak menyakitimu cinta. Tak ada yang memberinya hak untuk merubah hari hari ceriamu jadi mendung. Ada pepatah begini, seorang pria menjadi dewasa ketika mereka mulai belajar tuk tidak menyakiti wanita, pria yang tahu bagaimana rapuhnya hati seorang wanita. See, dia berarti bukan pria dewasa. Jadi kamu yang harus dewasa.
Sahabat, merelakan itu bukan berarti kamu menyerah. Tapi memang ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan. Bangun dong say, jangan bengong tak bersemangat begitu. Percayalah, hidupmu akan jauh lebih positif. Seorang pria dikatakan hebat ketika dia menyadari kehebatan wanita yang dia cintai. Dan kamu itu hebat. Jadi kalau dia memilih memperlakukanmu dengan picik, jelas menunjukkan bahwa dia tidak hebat. Putuskan sesuatu untuk kebaikanmu, jangan paksakan segala sesuatu berjalan sesuai maumu setelah apa yang sekarang tersaji di depanmu oleh laki laki yang mengaku mencintaimu. Cinta tak pernah menyakiti, cinta tak pernah membuatmu sedih.
Hidupmu bukan berakhir disini. Jangan lagi ada airmata untuk seseorang yang tak bisa komitmen dengan apa yang diucapkan. Pria dipegang dari ucapannya. Takdir akan menuntunmu pada pria yang tak mengobral kata, namun lakunya adalah cerminan hatinya. Senyumlah sahabatku, hiduplah seperti yang selama ini aku melihatmu hidup. Aku tahu kau perlu waktu untuk menyembuhkan luka tpi jangan lama lama ya. Aku kehilangan dirimu karena kau asyik dengan airmatamu.
Tuesday, February 22, 2011
(110) Galau dan Sahabat
Dan saya masih sendiri di rumah perantauan. Semakin menegaskan galau atas jauhnya jarak.. Aku butuh keluarga ada disini bersamaku. Menyajikan kebingungan ke hadapan mereka lalu mencari solusi bersama.
Terkaget oleh dering hp dengan nomor tak dikenal. Begitu diangkat, ternyata suara sahabat di jalan Allah yang lama tak berkomunikasi. Berawal dari membaca status fb-ku yang bernada galau, ia menanyakan kabar dan ada apa gerangan. Speechless, seseorang di belahan bumi jawa sana memutuskan menjadi telinga untuk kebingungan dan kerisauanku.
Persahabatan di jalan Allah memang abadi dan sudah berkali kali kubuktikan. Semoga jadi salah satu obat galauku..
Thursday, February 10, 2011
(98) my soulmate
wanita luar biasa sabar ini tak pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun. menangis untukku dalam suka maupun duka. padahal, dirinya sendiri pun tak kalah pelik masalah.
sudah setengah tahun ini kehilangan kontak dengannya. saya merindunya dan hanya bisa menatap foto bersamanya, satu satunya foto di photo box sebuah mall surabaya. foto yang sama yang tak pernah keluar dari dompet saya.
soulmate, begitulah dia untukku. apapun kabarmu disana, aku disini mengirim bait doa untuk bahagiamu. semoga kelak kita kembali bertemu, agar kunikmati lagi teduhnya wajahmu.
love you, sri....
Thursday, January 20, 2011
(77) Pagar Baru
Mmmm...jadi skarang mau tulis apa ya? hujan terus saja mengguyur tapi alhamdulillah turunnya setelah seluruh pagar ter-cat dgn rapi. tentang pagar, rumah di tempat tugas ini sudah dipagar setelah hampir 4 tahun tinggal disini. dan senangnya adalah pagar ini bisa berdiri dan di-cat karena persahabatan dan persaudaraan saja..
setelah beli material, saya belum punya dana lagi untuk nyari tenaga. tapi disinilah indahnya tinggal di Ambon. laeng lia laeng. dimulai dari basudara dari Luhu yang dinas di piru, mereka butuh 3 sore,sepulang kerja untuk mendirikan pagar keliling setengah rumah.
dan setengahnya lagi diteruskan oleh teman teman nongkrong kakak yang menyebut diri mereka anak anak Mutel (Muka Terminal). Sepulang gereja,sekitar 12an orang datang di hari minggu kemaren dan mulai bekerja dipenuhi canda tawa.
2 hari terakhir ini, saya dan iwan, ojek langganan yang sudah seperti saudara sendiri, memberikan sentuhan akhir dengan cat. untuk itu semua, tak ada dana lebih yang saya keluarkan. cukup bakwan atau pisang moleng, atau es teh kalo panas dan rokok bagi yang request. baik bener mereka mau capek capek tapi mereka senyum dan tidak menganggap ini pekerjaan. bahkan katanya kalo tau tau pagar jadi tanpa mereka, mereka malu kalo ke rumah nanti. duh,baiknya.
untuk semua bantuan, terimakasih. biar Allah sahaja yang membalas kebaikan kalian. kalian baik, baik sekali..
Thursday, December 02, 2010
(28) Memori kawan Aceh.
Lama saya menghilang di blog ini. Baru beberapa hari sih, tapi karena project 365 day blog, beberapa hari kosong ini terasa lama. Menghilang ini bukan tanpa alasan. Menjadi panitia pelatihan Fasilitator Musrenbang Desa selama 3 hari ini benar benar menguras tenaga tapi juga menyisakan kenangan yang sangat manis, manis sekali menjelang masa masa terakhir saya di lahan manfaat ini.
3 hari ini saya disibukkan mulai dari persiapan mengundang peserta, mengatur penginapan peserta juga fasilitator dan mengatur jadwal penjemputan driver kantor yang harus bolak balik ke Waipirit demi menjemput para fasilitator dari kota kembang. Satu hari sebelum kegiatan, sebelum peserta dari 6 Desa di Kabupaten Seram Bagian Barat datang, saya menemani 5 peserta dari Aceh yang memang sudah hadir dua hari sebelum acara. Kami mengunjungi Dusun Kotania dan Dusun Wael. Dusun Kotania yang berjarak 20 km dari kota Piru adalah salah satu dusun penghasil minyak Kayu Putih. Rombongan kami menuju salah satu ketel minyak kayu putih dan berdiskusi dengan pemilik ketel dan membandingkan dengan proses penyulingan minyak NIlam di Aceh sana. Perjalanan dilanjutkan ke Dusun Wael yang berjarak sekitar 3 km dari Dusun Kotania, disana kami belajar tentang rumput laut. Ternyata di Aceh sana, rumput laut atau yang mereka sebut bunga laut tidak dibudidayakan. Tumbuh di batu karang begitu saja dan tidak diolah.
Sepanjang perjalanan mulai dari berangkat hingga pulang,, kesan bersahabat begitu akrab melekat bersama orang-orang dari Sabang itu. Mereka sangat hangat dan bersahaja. Tak ada kesan sebagai tamu, menyatu dan melebur.
Begitupun saat bertemu dengan 20 peserta dari SBB yang telah hadir. Tidak ada jarak antara peserta dengan peserta, juga dengan kami. Banyak kesan yang muncul dari para peserta dan semua adalah kesan manis. 3 hari penutupan ditutup dengan menyanyikan lagu Gandong bersama-sama sambil berpegangan tangan dan banyak airmata disana. Ah, Indonesiaku kaya sekali, Ambonku manis sekali.
Ketika memastikan semua peserta telah pulang ke desa masing-masing, saya mengantar rombongan Aceh ke Waimital. Awalnya biasa, ada masalah kecil dengan penginapan disana, tapi sungguh, mereka adalah pemuda-pemuda Aceh yang berjiwa besar. Namun setelah memastikan mereka telah mendapatkan penginapan, saya pun kembali ke Piru. Dalam perjalanan pulang itulah, hati rasanya kosong. 5 hari bersama mereka membuat mereka begitu saja tercetak di hatiku. Indah sekali persahabatan yang dimulai dengan singkat ini, semoga selamanya.
Pak Ubay, Kak Lina, Bang Masrul, Bang Nasrul, dan Susi, terimakasih telah sudi mengunjungi kami di Seram Bagian Barat. Terimakasih telah menularkan semangat untuk terus belajar dan terus bersama masyarakat.
Buat semua peserta fasilitator, terimakasih telah bersama kami selama 3 hari ini. Mari bersama bergandengan tangan mendampingi masyarakat. Mari kita contohkan kepada pihak-pihak yang seharusnya berdiri bersama masyarakat, kita contohkan bagaimana sebenarnya, bagaimana seharusnya berdiri bersama mesyarakat itu, menggandeng tangan masyarakat itu yang seperti apa. Kita tunjukkan bahwa kata-kata manis tak pernah membawa hasil sampai kata kata itu menjadi tindakan positif.
Love you all. Salut untuk kita semua
ps. saat catatan ini dibuat, baru saja dikabarai bahwa mereka sudah berkeliling Ambon berfoto di depan kantor Gubernur, membeli oleh oleh khas Ambon dan saat ini bersiap menaiki burung besi yang akan membawa mereka pulang
Saturday, November 27, 2010
(23) kawan baru
Sampai tadi,ketika saya menemani mereka berlima makan malam, saya yang terkagum kagum dengan bahasa mereka. Serasa ada di ujung Indonesia sana..
Orang Aceh itu sopan, ceria, lucu dan mereka tidak canggung dengan kami,orang timur ini. cepat sekali mereka melebur dan bahkan menitikkan air mata ketika menyanyikan lagu Gandong bersama kami..
Senang bertemu kalian,5 kawan baruku, 5 saudara baruku..
Thursday, November 04, 2010
Seroja Part 2 yang Tertunda
FYI, pertemuan pertama blogger Maluku di tanggal 4 April 2009 di Kafe Seroja. Setelahnya berlanjut dengan banyak kali kopdar formal dan non formal. Lantas inilah saatnya Seroja Part 2, meski bukan di Kafe Seroja tapi dengan semangat yang dulu pernah berkobar di Seroja.
Then, lewat inbox fb, kami pun sepakat bertemu di hari Rabu tanggal 3 November kemarin. pukul 3 sore di Kota Ambon. Mengingat saya yang sedang terdampar di kota Piru yang berjarak 4 jam perjalanan, entah berapa mil laut itu, sudah menyiapkan diri sedari malam untuk mengikuti. Ijin kantor cuma setengah hari sudah kukantongi, ijin tidak mengikuti satu kegiatan di sore hari juga sudah didapat.
Jelang pukul 11, belum bisa meninggalkan kantor karena satu dan lain hal. Setelah menyelesaikan beberapa hal hari itu, berangkatlah kami, saya dan iwan (kerabat yang setia mengantar kemanapun saya pergi), dengan mengendarai sepeda motor menuju Waipirit. Saat itu, sudah pukul setengah dua belas siang. Jika tak ada kendala dalam perjalanan maka saya bisa sampai jam setengah satu dan menumpangi feri Waipirit-Liang jam 1 siang.
Baru saja meninggalkan Kota Piru, kami disambut hujan rintik, kecil, genit. Sisa sisa hujan lebat masih terlihat di jalanan yang basah. Bersyukur kami tidak berangkat jam 11 tadi, karena itu berarti akan kehujanan. Sembari menikmati rintik itu, kami berkelakar bahwa Tuhan juga tahu orang baik yang mau lewat, jadi hujan sudah selesai. Bukan maksud untuk takabbur atau apa, hanya sekedar menyenangkan hati dan berpositive thinking dalam perjalanan.
Hujan yang menggoda tapi tidak mengganggu ini menemani sepanjang setengah perjalanan. Mendekati desa Waisarissa, kami disambut hujan yang lebat yang memaksa kami harus berteduh di halte. Sayangnya, gunung yang sedang kami lewati ini tidak menyisakan tempat yang tepat untuk berteduh. Karena tak ada jas hujan, dan juga tak ada tempat berteduh, sementara halte masih 15 menit lagi perjalanan, mau tidak mau kami harus siap basah. Sesampai di halte, sudah banyak para pengendara sepeda motor yang juga berteduh. Dua puluh menit saya harus menunggu dengan gelisah sambil sesekali melirik jam yang justru bikin stress.
Hujan mereda sedikit, sedikit saja. Saya “memaksa” Iwan yang tanpa jas hujan, juga tanpa jaket, untuk melanjutkan perjalanan. Kembali berteman hujan, kami meneruskan perjalanan hingga Waipirit. Tapi begitulah, saya tidak ditakdirkan bertemu feri. Feri baru muncul pukul setengah dua. Dan biasanya, feri akan tambat di pelabuhan satu jam setengah untuk menurunkan penumpang serta menaikkan penumpang plus kendaraan-kendaraan.
Tiket feri sudah di tangan, namun hitungannya, kalau saya memaksakan diri berangkat, maka saya baru bisa bertemu dengan rekan-rekan blogger jam ½ 6. Dua setengah jam dari jadwal. Hmmm……. Setelah sms dan tlp, dengan sedikit merengek pada om Almas, saya meminta pertemuan diundur lagi. Meski sebenarnya bisa aja sih jalan tanpa saya. And, beberapa menit kemudian, telpon genggamku berdering dengan nama Almas di layarnya. Ia mengabarkan bahwa setelah kontak yang lain, agenda kopdar serius ini mundur 2 hari lagi alias Jumat. Uhuy senangnya, mereka memang menyayangiku *tsah…*
Saya pun kembali ke Piru dengan kembali basah. Hari kemarin judulnya adalah Mandi Hujan dengan rute Piru-Waipirit-Piru.
Terimakasih kepada Om Embong, Om Mamung, Pakde Dharma, Bang Almas dan Bung Semmy yang bersedia mengubah jadwal pertemuannya. Persohiblogan emang top, euy.
Sampai ketemu hari Jumat, dan mengutip kata Caca Ida Azuz “Mari katong bakaringat par ator negeri dan diri ini bae-bae supaya ada guna sadiki”
Catatan :
- Jangan kemana-mana tanpa membawa jas hujan (bagi pengendara sepeda motor)
- Saat posting ini ditulis, sempat terhenti karena bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa, menginspirasi dengan tindakan nyata bagi ummat. Wanita yang mampu tertawa saat sedih. Suatu waktu, insyaAllah saya akan menulis tentang wanita hebat ini.
Monday, September 21, 2009
Ingin bisa membuat bangga..
Judul buku Donny Dhirgantoro yang baru saja saya baca setelah harus menunggu selama 4 bulan untuk sampai di genggaman. Penantian yang tidak sia-sia karena buku ini membuatku menyadari kembali satu hal tentang mimpi dan jembatan untuk meraihnya. Nyesal ketemu buku itu sekarang, setelahempat tahun buku itu terbit, setelah cetakan ke 15-nya (atau lebih) beredar, tapi daripada enggak kan?
Ada sebuah quote yang menarik,
Taruh mimpimu mengambang depan kening (agar selalu kau lihat), dan yang diperlukan sekarang Cuma....
Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya
Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya
Leher yang akan lebih sering melihat ke atas
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari biasanya
Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya
Serta mulut yang akan selalu berdoa.
Buku ini juga membuatku bangga akan Indonesiaku. Bumi dimana mahameru berpijak, pecel madiun ada, tempe penyet terhidang, papeda dan colo-colo menggoda. Indonesia yang kaya, yang sejak lahir, kita minum dari airnya.
Tapi tulisan ini bisa hadir bukan tentang itu, teman. Buku itu memang mengembalikan tekadku untuk memindahkan daftar mimpi dari buku coklat ke depan keningku. Mengembalikan kebanggaan akan Indonesia meski di tengah carut marut terseok memperbaiki diri. Tapi ini bukan tentang itu. Ini adalah tentang saya dan kalian, sobat. Adakah saya berarti ataukah hanya kesia-siaan yang kalian dapat dari pertemanan ini.
Almarhum Adrian menginspirasi teman-temannya dengan selalu mengulang kalimat “sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain”. Almarhum Adrian pasti dan sangat pasti terinspirasi dari pesan baginda Rasul sejak berabad-abad tahun sebelumnya “Khairunnaas anfa’uhum linnaas...sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”.
Lalu melintaslah pikiran itu.
Bagaimana dengan saya?
Sudahkah saya memberi sesuatu yang bikin orang lain bahagia?
Sudahkah saya memberi makna di setiap kehadiran saya?
Sudahkah saya toreh jejak kebaikan di setiap perjumpaan?
Ataukah saya hanya seonggok daging yang bernama???
Teman,
Saya hanya ingin meminta maaf atas setiap kesia-siaan yang saya timbulkan. Atas berlalunya waktu tanpa makna dalam kehadiran saya di kehidupan kalian. Mungkin juga justru rasa sakit yang saya tingglkan, omongan tak penting yang bisa saja menoreh luka yang tak disadari.
Seorang bijak pernah menyuruh anaknya menempelkan paku di pagar setiap kali ia menyakiti orang lain. Dan ketika pagar itu mulai penuh, anak itu ingin memperbaikinya. Si ayah lantas menyuruh anaknya untuk mencabut paku itu satu persatu setiap kali ia berhasil meminta maaf dari setiap yang ia sakiti. Sampailah pada cabutan paku terakhir, namun si anak melihat pagar itu tak lagi sama dan tak akan pernah sama seperti sebelum dipaku.
Inilah usaha saya mencabuti paku-paku yang saya torehkan di hati kalian. Mungkin tak akan pernah sama, tapi yang saya butuhkan sekarang adalah kesempatan.
Kesempatan untuk menjadi berarti dalam tiap perjumpaan.
Kesempatan untuk bermmakna dalam setiap pembicaraan.
Kesempatan menjadi terindah dalam setiap terkenang.
Dan yang terpenting adalah kesempatan agara aku bisa belajar menjadi pribadi yang membuat orang lain bisa bernapas lebih lega karena keberadaanku disitu,
Hingga suatu ketika, saat kita tak lagi mampu berjumpa dan namaku terdengar, kalian bisa tersenyum dan bilang “itu temanku, sahabatku, saudaraku”
Maafkan segala perilaku bodohku. Dan sejak hari ini, aku akan berusaha memberi jejak kebaikan, bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku. Maafkanku, sobat jika belum membanggakan kalian.
p.s : Menjadi sempurna adalah ketika menatap mata orang tua dan orang-orang yang menyayangi kita dan tahu bahwa kita tak akan mengecewakan mereka.
Sincerely,
Eby (dengan harap tak akan mengecewakan kalian)
Tuesday, September 01, 2009
Obrolan Hati Dua Sahabat
Suatu waktu, seseorang berkata padaku....
"by, kenapa? aduh, saya sedih dengarnya. Kenapa sih? Sudah dipikirkan baik2?"
*sambil meneteskan air mata yang tak kumengerti untuk apa*
saat itu aku hanya mampu bilang....
"ini jawaban istikharahku. Mungkin terlihat salah bagi orang lain, tapi inilah yang benar-benar ingin kujalani, kuambil dengan penuh keyakinan. mengertilah"
*tanpa air mata*
ia berkata lagi ...
"tapi kenapa by? tolong dipikirkan lagi"
*masih dengan air mata*
.....hening....
lalu ku menjawab
"suatu saat kau akan mengerti. tidak sekarang, tapi nanti"
*dan aku berlalu*
lalu, baru saja ia menghubungi dan bilang...
"by, saya tau sekarang kenapa keputusan itu yang kau ambil"
"kenapa?" jawabku
"karena kau bahagia dengan keputusan itu
Terimakasih kawan. akhirnya kau mengerti mengapa sahabatmu ini mengambil jalan ini. akhirnya kau tahu, bahwa inilah langkahku menuju bahagia, meski harus bersakit dahulu. Karena bukankah malam akan semakin kelam jika fajar akan terbit?
seandainya kau ada disampingku saat ini, ingin kupeluk dirimu atas pengertianmu sekarang. Terimakasih untuk selalu disampingku meski kita berbatas jarak.
Saturday, September 08, 2007
Selamat memulai pelayaran
Berita menjengkelkannya, kenapa saya taunya dari Deni? itu pun saya yang iseng telpon. Walhasil, Samsul ta' telpon. Maunya sih protes gitu, kenapa saya gak diberitahu, minimal sms. Eh, Samsul malah ngasih istrinya, Mia, yang bicara dan Mia minta maaf. Kok jadi sungkan dhewe ya aku? Kata mereka sih, gak ada rencana. Cepat banget. Minggu kemarin lamaran trus nikah deh. Ya, sibuk kali ya. Pas lagi telpon-telponan sama Samsul dan Mia, si Amin sms. Isinya, menanyakan kabar dan posisi di mana?.
Ndilalah, Deni sudah kabari Amin kalo tadi aku protes-protes gak dikabari. Meskipun gak bisa datang, kan kudune tetap dikabari. Amin bilang, sudah kirim undangan ke email. Alasan Amin sederhana, biar ada yang nyiapin sahur dan buka pas Ramadhan nanti. Nice reason.
Amin, Samsul, Selamat berlayar ya. Jadilah kalian nahkoda yang baik. Pernikahan ini barulah titik keberangkatan. Kawal kapal yang kalian pilih itu hingga berakhir di rumah impian terindah, surga, di kampung abadi, akhirat.
Doaku selalu, bro...
Sunday, July 29, 2007
My Friend of A Lifetime
It just changing date on calendar
It just different number in Age identity
What makess it diferent?
If in your birthday,
You have passion to be better than yesterday
(Dariku untuk Santje)
Hari ini, Santje tambah satu usianya. Sayang, dia di Namlea menunaikan tugas jadi tidak bisa ketemu. Tapi, semalam tepat pukul 00:00, doa telah terlantun untuknya.
Santje, di usianya yang sekarang dia sudah sangat memberi warna dalam hidup saya. Sepanjang usiaku, hanya 5 tahun pertama, saya tidak mengenalnya. Setelah itu, sejak saya mulai bersosialisasi dengan orang lain di usia 5 tahun, dia menjadi sahabat pertama saya hingga saat ini.
Di setiap momen, dia selalu ada. Tidak selalu fisik, tapi doanya, sms-nya, suaranya, perhatiannya ada hingga saat ini. Dia yang saya sebut "Friend of a Lifetime" di daftar terimakasih skripsi saya.
Dan di hari ini, ingin rasanya memberi dia sesuatu yang begitu ingin saya lihat ia pakai. Entah kapan Sansay, tapi eby selalu ingin melihatmu dalam balutan muslimah.
Jika setiap orang hanya boleh punya satu kata untuk persahabatan,
maka kataku adalah....
SANTJE
Monday, June 18, 2007
Rumah Hati
Senang rasanya bisa ada di rumah lagi. Padahal baru 2 minggu lalu saya dari sini, tapi kok sekarang rasanya beda ya?. Sampe rumah sudah sore, abis feri-nya agak lama. Papa sama Ibu sampe bengong dan heran kenapa saya ke Ambon padahal kan gak libur? Gimana lagi, saya kangen sama Ibu. Abis maghrib, mijit kaki Ibu sambil cerita banyaaaaak banget. Ibu tidur, baru deh ngobrol sama Papa sambil nonton teve dan makan langsat. Cuman sekarang gantian, saya yang dipijit Papa. Hehehe...
Seneng, asli seneeeng banget. Gak tau ya kok bisa beda begini. Hari ini saya gak kemana-mana, pengen seharian di rumah. Benar2 di rumah. Selama ini kalo pulang, bawaannya jalaan aja kemana2. Semalam saya tidurnya di kamar adek. Jadi baru hari ini masuk kamar saya sendiri. Ada Bukal dan Pigly nungging di atas tempat tidur. Saya peluk dan cium, wanginya masih sama sejak saya tinggal. Empuknya kasur di tempat tidurku, sambil liat bintang dari balik jendela. Secara kamar saya di atas, jadi gak pernah tutup jendela biar bisa lompat ke atas seng rumah dan duduk natap bintang. Keren, Subhanallah.
Ini bukan saja tempat tinggal, ini rumah. Rumahku dan rumah hatiku...
Sunday, January 28, 2007
Terkuras habis...,
Sulit rasanya menggambarkan hari ini. Setelah hari yang melelahkan fisik dan jiwa, ingin sejenak berbagi. Packing-packing akhirnya selesai. Ternyata isi kamar saya tuh 6 kardus, 1 travel bag plus satu tas kresek super besar.
Pertemuan fisik dengan KMBI berakhir sudah. Sedfih, tapi kupasrahkan segalanya kepada Allah. Kupercayakan penjagaan KMBI-ku tercinta untukNYA, karena IA-lah sebaik-baik pemelihara KMBI beserta seluruh pejuangnya.
Terimakasih buat Mita, Maya dan Sri, 3 sahabat cantikku di Elektro ITATS. Terimakasih atas cerita indah kita. Terimakasih atas airmata yang telah kalian bagi untukku. Sungguh, bagiku kalian adalah mentari yang akan selalu menerangi jalanku. Sahabat seperti kalian adalah anugerah. Semua sudah kita lebur tadi. Bersama berpegangan tangan, kutatap wajah indah kalian saatu persatu. Tak akan pernah hilang kalian dari memoriku serta dari hatiku. Salam sayangku selalu.
Buat adek-adekku di kost, dek Eya, dek Ega, dek Lina, dek Astri dan juga dek Yanti, terimakasih telah menemaniku malam ini. Bersama kalian menjalani keseharianku adalah hal yang luar biasa. Tetaplah menjadi diri kalian masing-masing. I Love You, Really.
Hari ini, tak akan terlupa.
