Showing posts with label Lingkaran Cinta. Show all posts
Showing posts with label Lingkaran Cinta. Show all posts

Tuesday, November 01, 2011

(363) Ma Em, Satu Episode Cinta

Pagi ini tiba tiba saja teringat pada satu sosok yang begitu berjasa dalam hidupku. Fatma Badaruddin namanya, biasa kami sapa dengan panggilan Mama Em atau Ma Em. Ma Em adalah guru ngajiku semasa kecil juga guru kehidupan. Tempat ngaji "Nurul Huda Walyaqin" bertempat di Ponegoro, dekat dengan domisiliku waktu itu di Air Mata Cina. Awal pertemuan dengan beliau penuh dengan detak ketakutan. saya yang saat itu beruisa 6 tahun, sudah dijejali dengan cerita cerita tentang ketegasan beliau yang di kacamata anak sekecil saya diartikan sebagai orang tua yang jahat. Setiap datang mengaji, yang saya lakukan adalah hanya menangis. Padahal beliau tidak berbuat apa apa, tapi karena sudah takut duluan terhadap sosoknya yang terkenal keras, melihatnya saja, bahkan sejak tiba di lorong menuju rumahnya, saya mulai menangis sampai jam pulang nanti.



Entah berapa lama hal itu berlangsung dari hari ke hari. Sampai tibalah hari dimana saya harus berangkat sendiri ke tempat ngaji. Kakak perempuan saat itu tidak bisa datang, saya lupa kenapa. Parahnya lagi, saya datang paling awal dari teman teman ngaji yang lain. Dalam ruangan hanya ada Ma Em dan saya. Tubuhku berguncang hebat ketakutan. Tangisan yang selalu keras, hari itu itu lebih keras lagi. Entah mengapa, saya begitu takut dengan beliau. Bayangan akan dimarahi atau bahkan mungkin dipukul jika salah mengaji atau salah salah yang lain. Mungkin karena sudah capek dan panas telinga beliau mendengar tangisanku yang jelas tidak merdu itu, beliau pun membaca doa lalu berteriak sekencang kencangnya. Hanya satu kata yang beliau teriakkan usai berdoa itu, yaitu DIAAAAAAAAAAAAAAAM. Dan, tangisanku pun berhenti seketika.

Setelah itu, hari hari berlalu dengan sempurna. Saya menjadi murid kesayangan beliau. Bertemu beliau, memandang wajah beliau adalah kesejukan yang mengaliri hati. Semua ilmu beliau berikan kepada kami tanpa tersisa. Bahkan ketika beliau pindah rumah ke Kaitetu untuk lebih tenang di masa tuanya, pengajian dikelola oleh kami, murid murid beliau yang sudah khatam. Dan di hari minggu siang beliau hadir langsung untuk memberikan bekal agama terapan seperti sholat, puasa, wudhu, zakat, semuanya. Akhlak pun beliau tanamkan dengan penuh kehalusan. Bertahun tahun setelah khatam, saya masih saja menjadi murid yang haus. Datang dan datang lagi sekedar berbagi dengan adek adek juga mendengar ceramah beliau yang rimbun. Bahkan di hari terakhir kami tinggal di air mata cina, paginya saya masih mengikuti pengajian beliau lalu siangnya boyongan ke rumah baru kami di Air Kuning, Kebun Cengkeh.

Jarak yang lumayan jauh itu memaksa saya tak bisa setiap hari lagi mengunjungi Nurul Huda Wal Yaqiin. Hanya di hari minggu saya bisa ke Ponegoro menemui beliau. Hari hari berganti dan saya melanjutkan pendidikan di Makassar. Setiap tahun kepulangan lebaran, selalu kusempatkan menemui beliau. Sampai akhirnya melanjutkan kuliah di Surabaya, jarak semakin teretas.

Dalam satu kunjungan seorang bibiku ke Surabaya, saya menemani beliau belanja ke Pasar Turi. Saat itu, kulihat satu gamis putih dipajang di salah satu toko. Saya membayangkan betapa cantiknya beliau dengan gamis itu. Gamis itu kubeli dan kutitipkan ke bibi untuk diberikan kepada Ma Em setibanya di Ambon. Sayangnya, gamis itu tak pernah sampai di tangannya. Ma Em dipanggil Allah sebelum sempat mengenakan gamis itu. Berita kepergian beliau kudengar di sela sela perkuliahan dan seketika semangatku tak ada. Hilang bersama berita kepergian Ma Em yang disampaikan papa lewat telepon. Ingin rasanya terbang menemui beliau, menatap wajahnya yang tersenyum saat dipanggil Allah. Aku menjadi saksi betapa Ma Em mencintai Sang Khalik semasa hidupnya. Betapa Ma Em menjadi pejuang Islam dengan seluruh apa yang beliau punya. Sungguh tak menyangka pertemuanku di lebaran 2001 adalah pertemuan terakhir. Pertemuan di rumahku sendiri. Terkaget ketika beliau tiba tiba mengetuk pintu rumahku. Aku yang merencanakan besok akan ke rumahnya, ternyata sudah beliau datangi di sore sebelumnya. Beliau datang diantar oleh cucunya yang bercerita bahwa mendengar kedatanganku di Ambon, beliau meminta diantar ke rumah menemuiku. Cucu cucunya sudah melarang dan mengatakan bahwa Eby-lah yang akan ke Ponegoro tapi beliau bersikeras dan mengatakan akan tetap pergi sendiri kalau tidak ada yang mau mengantar. Ma Em, ada haru saat kau tiba. Kakimu yang tertatih melangkah menemuiku di jalanan yang cukup menyusahkan untukmu.

Meski Ma Em telah lama berpulang, aku tau kemana harus menemuimu. Dalam lantunan quran yang kubaca, ada suaramu disana. Dalam sholat yang kutegakkan, ada dirimu. Dalam setiap kebaikan yang kucoba rajut, dirimu hadir. Bersilaturrahim dengan keluargamu, dengan menantu dan cucu cucumu adalah waktuku menemuimu. Karena selalu ada cerita tentang kebaikanmu setiap kami bersua.

Em, Eby rindu. Eby masih sering buka album album lama untuk melihatmu lagi, sekedar menitipkan sedikit rinduku.


Friday, July 29, 2011

(268) Disini Lagi


dan saya disini lagi, sebuah tempat saya pernah merajut cinta, tempat saya mencoba menaruh jejak kebaikan, tempat saya pernah belajar sebuah persahabatan dan persaudaraan atas nama Islam.

hampir tidak ada yang berubah. mading masih di tempatnya, perpustakaan masjid masih ada di tempat dulu kutinggal, semua masih sama. hanya satu yang tidak ada. para sahabat yang dulu membersamaiku, sedang melebarkan sayap kebaikan di tempat lain.

duduk disini, memandangi setiap sudut masjid baitul izzah ini, semua momen seperti berputar lagi. bayangan setiap saudara yang hilir mudik dalam masjid juga pelatarannya seperti hadir tiba tiba. masih ada tulisan tanganku di beberapa majalah di masjid, masih ada pohon pohon yang kami letakkan bersama di samping masjid. sumpah demi Allah, aku merindukan mereka dan setiap momen kebersamaan kami.

aku hanya ingin kita tidak saling melupakan. aku hanya ingin kita saling mendoakan. seperti janji janji kita dulu, kita akan selalu bertemu dalam doa doa yang berkejaran di langit.

ada danau yang tergenang di sudut mata mengenang setiap wajah wajah cinta milik kalian, ada pula banyak doa yang terselip juga untuk kalian. bekerjalaha terus kawan. jangan berhenti. kejahatan hanya akan menang jika orang orang baik seperti kalian tidak melakukan apa apa.

Bersabarlah karena para sahabat menorehkan kisah cinta mereka menanti kemenangan yang Allah janjikan dengan darah kesabaran.

Tuesday, February 22, 2011

(110) Galau dan Sahabat

Hujan mengguyur kota Piru tanpa belas kasihan. Langit yang mendung sedari pagi dan gerimis sejak siang, tiba tiba saja seperti menurunkan bergalon galon air. Tanpa ampun, disertai gemuruh yang sempat membuat ketakutan..

Dan saya masih sendiri di rumah perantauan. Semakin menegaskan galau atas jauhnya jarak.. Aku butuh keluarga ada disini bersamaku. Menyajikan kebingungan ke hadapan mereka lalu mencari solusi bersama.

Terkaget oleh dering hp dengan nomor tak dikenal. Begitu diangkat, ternyata suara sahabat di jalan Allah yang lama tak berkomunikasi. Berawal dari membaca status fb-ku yang bernada galau, ia menanyakan kabar dan ada apa gerangan. Speechless, seseorang di belahan bumi jawa sana memutuskan menjadi telinga untuk kebingungan dan kerisauanku.

Persahabatan di jalan Allah memang abadi dan sudah berkali kali kubuktikan. Semoga jadi salah satu obat galauku..

Tuesday, November 16, 2010

(12) Ikhtiar Berhaji; Ramadhan ke tujuh 2003




Allah, saya tidak tahu kapan akan bersimpuh di depan RumahMu, saya hanya tahu, hari ini saya melangkah ke Bank untuk menabung…maka jika sudah cukup waktu untuk mencerap liku-liku itu, ijinkan saya membasuh wajah yang gelap ini dengan zam-zamMu. Berkatilah saya… (Dhuha, sesaat sebelum ke BNI)

Lama saya melantunkan permintaan untuk ke haji. Lama saya mengamalkan bacaan surah Al-Hajj. Saya juga membaca bermacam buku tentang perjalanan haji. Tetapi terus terang saya sama sekali belum memulai menabung sepeser pun untuk ke sana.
Tiap kali saya membaca surah Hajj, dan beberapa surah tentang haji, mata saya berkaca-kaca. Saya menyimak perintah haji dan ritualnya langsung dari sumbernya. Hati saya berdegup kencang manakala bacaan saya sampai pada ayat yang menceritakan perjalanan Sitti Hajar, ibunda Nabi Ismail, antara shafa dan Marwa. Kelak ayat inilah yang menjadi bacaan wajib ketika kaki mulai menapaki perbukitan shafa dan marwa, begitu saya baca dari buku petunjuk Haji.

Di tengah ketidakpastian kecukupan dana, sungguh mati perjuangan Ibunda Sitti Hajar bolak balik antara shafa dan marwa membayang di mata saya. Ooo…perjuangan yang saya lakukan, pengharapan yang saya panjatkan, sesungguhnya belum apa-apa dibandingkan kerasnya perjuangan yang dihadapi oleh Ibunda Sitti Hajar.
Membayangkan perempuan yang baru beberapa bulan melahirkan bayi laki-laki, harus berlarian dari satu bukit ke bukit lain di tengah kesendirian untuk mencari air bagi anaknya. Membayangkan perempuan hitam yang tengah kepanasan, yang harus menekuk perasaan ditinggal sendirian di padang tandus…Tak ada keterangan terperinci pada Qur’an bagaimana suasana hatinya. Tetapi sebagai perempuan, apakah saya tidak dapat sedikitpun merasakan penderitaan itu? Ooo..adakah kesulitan yang menyamainya? Bahagia melahirkan bayi sehat, tetapi sekaligus juga harus menelan kenyataan ditinggalkan oleh suami untuk berupaya survive..adakah kesakitan pasca melahirkan dihapuskan Allah untuknya? Ataukah sakit itu tetap terasa sambil berlari mencari sumber kehidupan?

Melihat ke diri, membanding apa yang dilakukan oleh ibunda Sitti Hajar, ahai…adakah celah dalam diri untuk berputus asa? Saya menjadi tak berani membanding kesukaran yang saya hadapi dengan apa yang pernah dialami oleh perempuan yang dari rahim mulianya terlahir Nabi Ismail. Inilah bagian yang menyemangati saya untuk terus berharap dan berusaha mencukupi diri dengan bekal materi dan non materi untuk tiba di rumahNya.

Dalam pengharapan itu, saya bertemu dengan seorang guru Taman Kanak-Kanak. Beliau baru pulang dari menjalankan Haji. “Saya menabung selama dua puluh tahun dik”. Biar mi* lantai rumah hanya semen biasa, tetapi saya ingin letakkan wajah saya di Keramik Mesjid Haram” saya menyimak ceritanya di satu pagi saat kami hendak melakukan pertemuan rutin pengurus ‘Aisyiyah Makassar. “Jadi guru TK ‘Aisyiyah itu berapa gajinya? Adik tentunya tahu..” timpalnya pada saya. “tetapi saya tetap tabah saja. Saya tetap menabung, biar sepuluh ribu” wah..saya mulai membanding penghasilnnya dengan penghasilan saya selaku dosen.

Perbedaan penghasilan yang Allah berikan pada saya dengannya berlipat lipat kali. Memang dalam hitungan penghasilan saya berlebih dari Bu Guru TK ‘Aisyiyah. Tetapi dalam hal kegigihan menganyam niat ke tanah suci..saya jauh..jauh sekali di bawahnya. Dua puluh tahun bukan hal yang singkat untuk meneguhkan sebuah niat. Mungkin niat itu telah mengeras menjadi batu.
Kiranya cukup sudah pergolakan batin saya. Ada Guru TK ‘Aisyiyah yang tabah menabung. Ada perjalanan Sitti Hajar yang sangat gigih dan tabah. Ada dorongan Haji Udin Wally, kakak sepengajian saya di Ambon, untuk segera menabung “Tugas Ida menabung, bukan barekeng** cukup atau tar*** cukup. Itu urusan Allah. Nanti Antua yang kasi cukup akang****” begitu nasihatnya untuk saya. Juga amalan-amalan yang saya lakukan, semuanya bercampur menjadi satu. Saya menggigit geraham kuat-kuat. Adakah keraguan saya untuk melangkahkan kaki menabung haji?

Maka, ketika saya terseleksi menjadi Fasilitator Panwas Pusat untuk melakukan pelatihan bagi anggota Panwas di tingkat propinsi, kesempatan itu muncul dengan entengnya. Karena saya terseleksi, saya harus mengikuti penataran fasilitator di Jakarta selama seminggu. Saya diberi uang saku sebanyak Rp.1.250.000. Saya bertekad untuk menggunakan sepenuhnyan uang ini untuk membuka tabungan haji. Saya sama sekali tidak membuka amplopnya. Utuh.

Usai penataran, pagi itu, di atas sajadah saya memegang amplop berkop Panwas Pusat Jakarta dengan gemetar. Saya memeluk amplop itu kuat-kuat. Saya meletakkannya di dada saya. Menunduk dalam-dalam, di atas sajadah..”Allah, beta pung modal cuma ini*****”. Saya bergumam. “beta tar tau apa tempo bisa sampai ke RumahMu, tetapi sioo.. ini beta pung ikhtiar******”.

Saya mengangkat tangan ke atas, memandang langit-langit kamar..betapa ingin saya menembus langit-langit itu. Betapa ingin saya melihat gemawan yang putih, betapa rindu saya pada jejak Nabi. Amplop itu masih ada dalam dekapan saya. Dalam sujud yang sederhana, saya mengangkat permohonan dengan segala rasa dan asa..saya membenamkan segala keinginan di situ...lalu bergulirlah harapan dari mulut saya.. “Allah, saya tidak tahu kapan akan bersimpuh di depan RumahMu, saya hanya tahu, hari ini saya melangkah ke Bank untuk menabung…maka jika sudah cukup waktu untuk mencerap liku-liku itu, ijinkan saya membasuh wajah yang gelap ini dengan zam-zamMu. Berkatilah saya…terima kasih Allah atas perasaan ini”

Usai sudah dhuha di ramadhan ke tujuh. Ketika saya mengisi form aplikasi tabungan haji, petugas bank menanyakan kapan mau ke haji. Saya hanya tersenyum. Saya menggeleng kepala padanya. Saya tidak tahu kapan saya bisa ke sana. Saya hanya tahu kalau hari ini saya melengkapi ikhtiar itu.
Form itu tidak rumit, tetapi saya mengisinya dengan lantunan doa dan shalawat. Saya tidak mau kehilangan sedikitpun moment ini. Saya harus selalu terjaga ketika tangan saya mengisi form tabungan haji. Lalu ketika saya harus mengisi nama lengkap dengan nama Aba, ayah saya...duh.. ada yang menggetarkan hati saya. Aba, ayah dan juga guru ngaji saya, yang berangkat ke haji tiga hari setelah saya lahir, nanti tidak sempat melihat saya berangkat ke haji jika masa itu tiba. Meskipun Aba telah berpulang ke rahmatullah jauh melewati saya, hari ini saya masih menggunakan namanya untuk melengkapi nama saya, Faidah Binti Agil Azuz. Duh..entah kapan nama Aba ikut tertulis di koper haji..

Catatan kata-kata :
*Biar mi (logat Makassar) = biarlah
**barekeng (bhs Ambon) = berhitung
***tar (bhs Ambon ) = tidak
****akang = itu
*****Allah, beta pung modal cuma ini (bhs`Ambon) = Allah, modal saya cuma ini.
******beta tar tau apa tempo bisa sampai ke RumahMu, tetapi sioo.. ini beta pung ikhtiar (bhs Ambon) = saya tidak tahu kapan bisa tiba di rumahMU, tetapi duhai.. inilah isktiar saya.

---------------------------------------------------------------------------------

Satu lagi tulisan dari Ca Ida Sialana. Kisah tentangnya berhaji juga sudah pernah kutuangkan di sini.

Kawan, membaca catatan hatinya kali ini sungguhlah membuat diri ini bersimpuh malu. Tulisan ini saya terima di email pada dini hari. Sungguh tahajjud malam itu begitu beda. Banjir akan sebuah pengharapan dan rasa malu kepada Rabb bahwa diri ini hanya meminta tanpa berusaha. Tanpa satu langkah kecil, tanpa ikhtiar apapun.

Jiwa ini lemah di hadapan Rabb, jiwa ini begitu tergugu dengan panggilanNya. Hanya bulir air yang membasahi pipi tertunduk malu, tertunduk penuh nista di hadapan Pencipta. Lalu diri ini berkaca, bagaimana mungkin Allah akan memanggilku ke rumahNya jika aku masih sering menunda panggilan adzanNya. Bagaimana mungkin Allah memanggilku ke rumahNya jika berlama lama di sajadah pun ku tak mampu. Bagaimana mungkin aku dipanggil melantunkan banyak doa langsung di rumahNya jika surat cinta dariNya jarang kubuka. Bagaimana mungkin aku dipanggil ke rumahNya jika aku tak mulai mengumpulkan duit sesen demi sesen untuk kesana. Bagaimana mungkin aku berharap kesana tanpa satu pun ikhtiar. Dan aku pun tergugu...

gambar dari hasil googling, diambil dari sini

Wednesday, November 03, 2010

Allah, ini beta

Apa yang akan teman-teman baca ini adalah salah satu tulisan indah dari saudara saya, kakak saya, inspirasi saya, Faidah Azuz Sialana. Ia yang sering saya sapa dengan ca ida, pagi pagi sudah membuat saya terharu dengan tulisan ini. Ada yang mengalir di dinding hati lalu dengan pertanyaan "kapankah saya dipanggil?". Dan jawaban juga saya temui bahwa saya akan dipanggil ke Baitullah, hanya jika saya memantaskan diri untuk dipanggil. Tulisan ini pernah dimuat di Harian Ambon Ekspress di Tahun 2009, sengaja kami, saya dan ca Ida, mengangkatnya kembali untuk berbagi. Buat saya, tulisan ini ada pendidikan, ada renungan, ada inspirasi, komplit seperti nasi goreng, ada telur, ada ayam eh ada dendeng juga. Mantap pokoknya. Selamat menikmati sajian kami.




Allah, Ini Beta…
Oleh: Faidah Azuz Sialana

“Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang**” dan banyak sekali warning yang diberikan pada saya ketika hendak berangkat ke tanah suci beberapa waktu yang lalu. Agaknya pikiran saya mulai terpengaruh. Membuat saya menganggap orang hitam sebagai musuh yang harus saya lawan. Pikiran saya mulai menyusun strategi bagaimana menghadapi orang hitam itu. Lengkap dengan beberapa kata penolakan dalam bahasa Arab dan Inggris yang saya hafal baik-baik dari tanah air. Pokoknya saya harus fight.

Lalu tibalah saya di Madinah. Menjelang pintu masjid Nabawi untuk shalat Ashar pertama saya telah menyiapkan diri kalau-kalau bertemu dengan orang hitam. Bagaimana sikap saya, apa yang harus saya ucapkan, pokoknya saya harus mempertahankan kapling sajadah, kalau perlu sampai titik darah penghabisan dengan semangat empat lima. Demikian tekad saya.
Semakin mendekati pintu pagar masjid Nabawi, saya semakin gugup. Saya terjebak dalam pilihan prioritas antara mengucap shalawat untuk Nabi, terheran-heran menyaksikan hamparan halaman mesjid Nabawi yang sesak, dan menyiapkan strategi menghadapi orang hitam. Semua membuat kacau konsentrasi saya.

Mata saya kemudian tertumbuk pada sekelompok jama’ah dari Ethopia-Afrika. Masya Allah, mereka benar-benar hitam dan berpostur besar. Beberapa di antara mereka melambaikan tangan ke arah Masjid Nabawi sambil berlinang air mata. Beberapa memegang dada sambil menunduk dalam-dalam sambil menggigit ujung kerudung lebarnya yang berwarna-warni. Beberapa berdiri diam sambil menggigit bibir menahan tangis yang mau meluap. Tidak ada ekspresi sangar, tidak ada gerakan hendak menyerobot tempat, apalagi mau menginjak orang lain di sekitar. Mereka dalam formasi teratur sedang mengirimkan rindu lewat shalawat yang juga sampai di telinga saya. Rupanya mereka beberapa saat lagi akan meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Mereka, seperti saya, melakukan haji Tamattu’

Saya terpaku menyaksikan gerombolan ini. Segalam macam warning yang dibawa dari tanah air melayang jauh meninggalkan diri saya. Dalam kejap yang sedetik itu, pikiran saya berlari ke buku “Makna Haji” yang ditulis oleh Ali Syariati. Buku ini memang saya baca beberapa tahun sebelum berangkat ke tanah suci, bahkan saya membawanya ketika berhaji. Buku ini bukan buku fiqhi, buku ini menjelaskan makna filosofi ibadah haji. Disamping itu saya menaruh hormat pada Syariati karena mumpuni dalam ilmunya, betapa dia adalah seorang sosiolog Iran lulusan Sorbonne University, Perancis.

Ketika menjelaskan tentang Ka’bah (hal 41-53; 2002), Syariati menohok saya dengan pertanyaan “Hanya beginikah? Inikah pusat keyakinan, shalat, cinta, dan kematian?. Penjelasan tersebut berlanjut bahwa pada tiang ka’bah yang ketiga, terletak kuburan Hajar, ibunda Nabi Ismail. Di pangkuan Hajarlah Nabi Ismail di besarkan. Di bekas telapak kaki Hajarlah kita melalukan salah satu ritual wajib antara Shafa dan Marwa untuk bersa’i.
Dari buku Makna Haji saya kemudian lebih memahami keberadaan Hajar, seorang budak yang dari rahimnya lahir Nabi Ismail. Hajar ternyata adalah budak milik Sarah dari Ethopia, Hajar adalah perempuan hitam yang Allah muliakan dengan menempatkan kuburannya menyatu dengan Ka’bah (Hijir Ismalil). Thawaf kita menjadi batal jika kita tidak mengelilinginya juga. Thawaf kita menjadi tak berarti jika kita memotong jalan melewati lorong Hijir Islamil. Hajar adalah perempuan yang melahirkan Ismail yang darinya turun Nabi Muhammad. Hajar melambangkan transformasi peradaban. Hajar bermetamorfosa menjadi hijrah, sebuah momentum penting dalam perkembangan peradaban Islam.

Pikiran saya kembali menelisik beberapa literatur yang telah saya baca menjelang keberangkatan ke tanah suci, buku ini juga saya bawa ke haji. Salah satunya adalah Adversity Spiritual Quetient for Hajj yang ditulis oleh C.Ramli Bihar Anwar dan Haidar Bagir (2004). ASQ For Hajj mengajak saya memahami bahwa Tuhan tidak main-main dengan hukumNya. Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan ciptaanNya, termasuk aturan yang telah disyariatkan. Buku ini membuka mata saya tentang urutan rukun Islam. Padahal sejak kecil, sejak duduk di Sekolah Muhammadiyah jalan Permi saya telah tahu bahwa Haji adalah rukun Islam yang ke lima. Pemahaman saya tentang makna urutan tersebut menjadi benderang dari buku ASQ for Hajj ini.
Diterangkan kemudian, untuk sampai ke tanah suci jangan pernah berharap banyak jikalau kita belum menegakkan secara benar-benar empat rukun lainnya. Tidak usahlah berangan-angan ke haji, jika syahadat kita masih belum utuh, jika kita masih saja mensyarikatkan Tuhan Allah. Buanglah impian menjadi Haji atau Hajjah jikalau puasa kita masih sekedar menahan lapar dan haus, kalau kita masih meledak jika marah, kalau kita masih suka memanipulasi membuat pencitraan diri. Pupuskan cita-cita ke baitNya, jika kita masih bingung menghitung zakat.
Rupanya, Haji merupakan pendakian terakhir dari rukun Islam. Dalam ibadah Haji, semua rukun yang empat menyatu. Dalam perjalanan haji, bukankah kita senantiasa rindu shalat di mesjid Nabawi dan Haram? Bagaimana mungkin kita berhaji sementara shalat kita masih bolong-bolong?

Memang, menjalankan ibadah haji, tidak ada kewajiban puasa sebagaimana kewajiban shalat. Tetapi larangan yang berlaku di bulan puasa, terasa sekali ketika kita sedang ihram. Di bulan puasa, kita dilarang melakukan hubungan biologis di waktu siang hari, tetapi ketika kita berihram larangan ini berlaku bahkan malampun kita dilarang melakukannya. Puasa pada initinya membuat kita mampu menahan diri, menekuk ego, dan menahan diri terberat adalah saat ihram. Semoga Ihram jugalah diri saya kelak.
Zakat yang saya lakukan selama ini, tampaknya perlu diredefinisi lagi. Saya memahami zakat sebagai ungkapan kedermawanan, sebagai upaya meringankan beban orang lain. Tetapi ternyata, zakat tidak sekedar itu. Zakat adalah kesediaan untuk taat, kesediaan untuk tidak kikir. Terlebih lagi, zakat adalah kehawatiran ketika orang lain enggan menerima apa yang kita sampaikan. Dengan demikian zakat adalah bentuk pengikisan kesombongan diri.
Buku ASQ for Hajj meninggalkan penjelasan yang mengesankan bagi saya ketika penulisnya mendemonstrasikan kata yang dipakai untuk perintah haji. Qur’an menggunakan kata Aqimash Shalat (dirikan shalat), Atuz Zakat (tunaikan/bayarkan zakat), Kutiba ‘alaikumush Shiyam (diwajibkan kepada kalian berpuasa), maka khusus untuk haji Qur’an menggunakan Walillahi ‘alannaasi Hijjul Baita (Hanya karena Allah diwajibkan atas manusia mngerjakan haji).

Ustadz Quraish Shihab menjelaskan bahwa meskipun semua syarat sah ibadah adalah hanya karena Allah, namun yang tersurat dengan jelas adalah perintah haji. Inilah isyarat Qur’an bahwa haji adalah watak yang perlu kita kejar. Tanpa tendensi apa-apa. Saya memaknai perintah haji melalui Walillahi ‘alannaasi hijjul baita.. sebagai peringatan keras dari Allah untuk tidak berpongah setelah pulang melaksanakan ibadah haji. Agaknya Allah tahu bahwa manusia kerap menggunakan label haji-nya untuk menepuk dada, untuk menunjukkan derajat sosial, bahkan kerap sebagai atribut untuk merebut hati masyarakat ketika pemilu tiba. Haji kerap diseret memasuki ranah ekonomi dan juga politik. Peringatan ini hanyalah agar kita sampai pada titik mampu memaknai kata mabrur. Semogalah saya mabrur adanya.

Bacaan dari dua buku itu kemudian mengantarkan saya duduk menunggu Ashar di halaman mesjid Nabawi. Saya hanya kebagian tempat di halaman, karena Nabawi telah penuh. Ketika mata saya kembali memandang rombongan jamaah Ethopia-Afrika yang hitam legam dari jauh, pikiran saya kembali menyusun argumen. Hajar adalah budak hitam dari Ethopia, tidak berbeda dengan mereka ini. Dari rahim Hajarlah lahir Nabi Ismail, yang kemudian menurunkan Nabi Muhammad yang sangat saya rindukan dan kalau boleh saya junjung di atas kepala.
Mungkin hitamnya Hajar persis dengan hitamnya orang-orang ini. Mungkin ketidakrelaan saya berbagi tempat dengan mereka lantaran saya merasa lebih baik dan lebih layak dari mereka. Di manakah pemaknaan zakat saya? Padahal, tidak tertutup kemungkinan perjuangan mereka untuk sampai di Nabawi jauh lebih berat dari saya. Mungkin shalawat yang mereka sampaikan jauh lebih banyak dan lebih ikhlas dari saya. Ohoi..di mana saya letakkan muka untuk merasa hebat? Bagaimana mungkin saya menganggap remeh mereka ini?

Maka, sambil memegang dada, saya mengangkat wajah lurus-lurus ke depan, ke arah kiblat. Saya berbisik, “Allah, ampong (ampuni) beta jua yang beberapa waktu lalu pandang enteng (meremehkan) orang hitam, padahal justru dari rahim seperti itulah lahir Nabi Ismail leluhur Nabi Muhammad yang beta cinta dan beta junjung tinggi-tinggi. Ilahi.. tolong beta karja haji supaya akang seng salah***), Rabbi....ini beta, perempuan dari negeri yang tengah berkonflik…

sebuah catatan harian
1. beta = saya (bahasa Ambon)
2. Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang = Ingat, orang hitam itu sukanya nginjak tempat sujud (sajadah) kita, suka serobot tanpa ijin, mereka nggak tau adat”
3. Karja haji= melaksanakan semua rukun haji.
4. Seng = tidak

Madinah, 28 Desember 2004.

Faidah Azuz Sialana = Alumnus Faperta UNPATTI Ambon. Saat ini sedang sekolah pada program S3 Jurusan Sosiologi UGM Yogyakarta.

Catatan :
Tulisan ini pernah dimuat di AMEKS tahun 2009.

Sunday, August 08, 2010

Ahad dan Rindu

Ahad ini aku merindu
Pada gelak tawa mereka
Yang memudahkan hari-hariku
Yang menjadikanku jiwa yang riang

Ahad ini aku merindu
Pada raut senyum mereka
Yang mencerahkan hariku
Yang menjadikanku jiwa yang lembut

Ahad ini
Aku merindu tangis mereka
Saat ada selip khilaf dan upaya renovasinya
Yang mengajarkanku indahnya persaudaraan dalam islam
Yang menjadikanku jiwa penyayang

Saudaraku,
Lingkar cinta itu kurindu dalam setiap detak jantungku
Disini, kumiliki lingkar cinta yang lain
Tapi lingkar bersama kalian
Adalah lingkar yang kurindui setiap masa

Canda kita setiap pekannya
Adalah penawar dari seluruh rutinitas yang kadang penat
Tawa bersama kita
Adalah obat atas segala sakit fisik maupun raga

Kini,
Beda dunia kita jalani
Beda tempat kita diami
Beda lingkar cinta kita selami
Namun aku percaya
Itu tak merubah lingkar yang kita punya
Karena lingkar itu masih ada
Ia hanya melebar

*terkirim ukhuwah dari bumi raja-raja, Ambon Manise*

8 Agustus 2010
^catatan sepulang Dauroh Tarkiyyah^

Monday, August 24, 2009

Sahabat, di Ramadhan ini aku merindu


Sebelas bulan telah berlalu dari ramadhan sebelumnya. Perpisahan yang haru dan juga pengharapan akan dpertemukan kembali.
Dan kini, kita kembali dipeluk Ramadhan. Kesempatan yang tak didapat beberapa saudara kita yang ramadhan lalu masih bersama kita.

Ramadhan seperti ini, banyak hal yang ingin kulakukan. Terlebih lagi, ada hal yang kurindukan. Bersama menyusun jadwal jaga ta'jil, bersama mengonsep kegiatan semarak ramadhan, sembari tak lupa berlomba lomba mempersembahkan ibadah terbaik. Aku rindu kebersamaan dan hangatnya ukhuwah di bulan suci, di masjid kampus tercinta. Aku sudah jauh tertinggal, aku sudah meluruh dan khilaf. Ramadhan ini, aku ingin kembali berada dalam rengkuhan dakwah yang tak sadar merenggang menjauhiku (atau aku yg menjauhinya??).

Pintaku, ALLAH.....
Izinkan hamba berada di antara hamba hamba pilihanMU
Yang ketika kudengar suaranya mengingatkan aku akan panggilanMU
Yang ketika kulihat akhlaknya mengingatkan aku pada akhlak rasulMU
Yang ketika kulihat wajahnya mengingatkan aku pada keteduhan saat berjumpa denganMU
Yang ketika kudengar tangisnya mengingatkan aku pada nikmatnya sujud menghadapMU
Yang ketika kudengar tawanya mengingatkan aku pada canda rasulMU bersama sahabat.

Saudaraku,
disebabkan oleh cinta, kuurai benang kasih yang tersimpan dalam dada ini. ALLAH menjadi saksi atas cinta ini. Karena cinta itu maka kita berjumpa, berjuang bersama, membina ukhuwah, menyatukan hati hati kita yg penuh warna ini. Hanya Allah yang mampu menyinari hati ini hingga tertawan padaNYA.

Kuteringat dengan kalimat yg selalu kita ucapkan tiap ada yang akan pergi. Bahwa meski terulur jarak, selama kita masih dalam perjuangan meraih ridha Allah, maka sebenarnya kita tak pernah terpisah.
Aku sudah jauh tertinggal, sahabat. Tapi kini, telah kusiapkan stamina dan niat untuk kembali mengambil tempat dalam barisan perjuangan kita.

Untuk itu kuucapkan,
Selamat berjuang saudaraku...
Semoga warna warni kehidupan yang telah kita lukis bersama, menyadarkan kita bahwa hidup ini memang butuh perjuangan.

Ana uhibbukum fillah.

nb : catatan cinta untuk KMBI dan semua ikhwah yang pernah membersamaiku dalam perjuangan

Saturday, July 25, 2009

Kematian Hati

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim malnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal,lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak
mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat?" Saat engkau muntah melihat
laki-laki (banci)berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan."

Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiai"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?"

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan
Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri ????.

Oleh: KH.Rahmat Abdullah

astaghfirullah. ..astaghfirullah ...


*dari milis KMBI -- Akhina Heri Yusuf--*

* Tertohok, ampuni hamba ya Rabb*

Sunday, September 28, 2008

Happy Lebaran 1429 H

Menghitung mundur, hari Ramadhan akan segera berlalu. Bertanya pada diri, adakah Ramadhan ini berarti? Adakah berakhir dengan predikat kesayangan Allah. 

Sejujurnya, aku merasa grafik Ramadhan tahun ini menurun dari tahun kemarin.  Padahal tahun kemarin juga gak bagus-bagus amat. Bahaya nih.

Lepas dari itu semua,

Aku pengen ngucapin Selamat Lebaran buat semua teman blogger yang merayakan.

Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan. Bagi yang mudik, hati hati di jalan ya. Orang-orang terkasih menanti di rumah. 

Semoga selalu ada Allah dalam setiap lintas pikir kita, dalam setiap jejak hati kita.

Saturday, January 19, 2008

Ustadz Cahaya, Penabur Cinta

Teman perjalanan paling setia bagiku adalah buku. Dan perjalanan balik hari ini ke Piru, aku sibuk dengan menentukan buku mana yang dibawa. Sebenarnya pengen ambil buku Risalah Pergerakan tapi berhubung cuaca lagi gak bagus, ombak dan juga angin, aku memutuskan ambil bacaan yang gak terlalu serius supaya perjalananku yang sepertinya nanti bakal dibuat tegang oleh cuaca, tidak perlu ditegangkan lagi dengan beratnya bacaan. Pilihan pun jatuh pada buku yang kubeli pertengahan 2005 lalu. Buku yang ditulis oleh Helvy Tiana Rosa, dkk tentang kenangan bersama KH. Rahmat Abdullah. Buku itu berjudul EPISODE CINTA SANG MURABBI.

Mulailah buku itu saya baca saat feri Samandar di pagi hari bertolak dari Hunimua. Dan efek buku itu ternyata lebih luar biasa dari yang saya kira sebelumnya. Perasaan berkecamuk, merinding, haru, bersyukur pernah tahu ada Ustadz sekaliber almarhum menjalar menjadi satu saat membaca satu persatu rangakain kenangan tentang beliau. Seluruh sisi kehidupan beliau adalah kebaikan yang berkilau. Cerita-cerita kebaikan Almarhum menjelma menjadi satu kumpulan jutaan burung yang beterbangan ke langit ketrujuh sebagai saksi. Nyaris tak ada langkahnya yang bukan dakwah

Kalau saat ini, saya posting tulisan tentang beliau, itu sama sekali tidak bermaksud mengingatkan kesedihan yang sama-sama kita rasakan Juni 2005 lalu. Saya hanya ingin mengambil hikmah tentang bagaimana kita ingin dikenang nanti saat kita telah tiada.
Ada kalimat yang begitu mengilhamiku, bahwa jika kita ingin merancang bagaimana kehidupan kita mau kita jalani, tetapkan dulu ingin seperti apa kita dikenang. Apa yang kita inginkan orang-orang bicara tentang kita di hari pemakaman kita. Kalau kita sudah tahu jawabannya, barulah kita bisa memilih, hidup seperti apa yang ingin kita jalani.

Almarhum menjadi contoh kenangan yang indah, yang selalu berupa kenangan baik dari setiap orang yang pernah berinteraksi dengannya. Bahkan aku. Aku tak pernah bertemu beliau. Tak pernah mendengar suaranya. Aku hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisan ajaib di kolom Assasiyat majalah Tarbawi. Di sebuah pengajian di teras masjid kampus, mbak I yang mengisi pengajian kami saat itu pernah bilang "Ustadz Rahmat itu, gak usah dengar suaranya. Liat beliau saja, liat wajahnya saja, hati ini sudah sangat tersejukkan. Itulah karena kedekatan beliau dengan Rabb.".

Sejak dengar mbak I bilang begitu, aku berjanji dalam hati bahwa suatu saat kalau Ustadz datang ke Surabaya, aku wajib menemuinya sekedar melihat teduh wajahnya dan mendengar untaian hikmah dari lisannya. Kesempatan itu pernah datang. Di kontrakan Ruhul Jaddid, aku dan teman2 KAMMI Komsat ITS syuro mempersiapkan berdirinya JARSAT ARH. Di dinding depan, saya lihat sebuah pamflet sebuah acara yang digelar KAMMI Komsat UNAIR dan menghadirkan beliau sebagai salah satu narasumber. Pamflet itu sudah ditempel 2 bulan sebelum hari H dan hari itu sudah kulingkari di agenda.
Namun, manusia hanya bisa berencana. Hari H, aku lupa kenapa, aku justru tak bisa datang. Hingga beliau pergi, aku tak pernah bersua, meski hati rasanya tak berjarak.

Selasa 14 Juni 2005. Sore itu, jadwalku berkumpul rutin dengan kelompok tarbiyahku. Saat itu, setelah materi utama dari mbak, kami sempat menyebut nama beliau. Buku tulisan beliau yang rencananya akan kami bedah. Maghrib berjamaah menjadi jadwal penutup. Sesampai di rumah, belum lama, sms dari mbak mengejutkanku. Bahwa Ustadz sudah berpulang maghrib tadi. Aku merinding, seperti ada yang tercerabut dari akar hati. Seperti ada ruang yang hampa.

teringat beberapa pesan beliau dalam berbagai media :
@ Allah SWT akan senantiasa menguji antum di titik terlemah antum. Maka perbaikilah segala kelemahan-kelemahan kita di jalan dakwah ini.

@ Tidak ada lagi waktu bagi kita untuk beristirahat. Tugas dakwah kita terlalu banyak. Jika engkau ingin istirahat wahai pemuda, nanti...ketika engkau langkahkan kakimu ke surga. (ini kupakai sebagai judul blog, karena kalimat ini begitu dalam mengilhamiku. Banyak kalimat2 bagus, tapi efeknya tak sedahsyat ini sampai tak pernah tergoda mengganti. Seperti ada yang menyetrum dan berteriak "Hei, kenapa kau hanya duduk disini sementara kalimat Allah belum tegak di atas bumi, Palestinamu masih terjajah, kebatilan masih tertawa, dan kau sudah beristirahat?" setiap membacanya )

@ Jadilah orang yang merdeka. Yang bersuara tatkala diinjak-injak. Yang mengatakan sejujurnya bahwa yang salah itu salah. Yang mengatakan kebenaran dengan sesungguhnya,

Mungkin saat ini beliau sedang bercanda bersama Rasulullah, Tolong sampaikan pada baginda Rasul, di bumi ini masih ada dakwah.

nb : Tulisan ini dibuat 3 Jan 2008, dan baru diposting sekarang saat masih tersentak dengan berita duka di milis yang memberi kabar kepergian Akhina Supra.  Semoga jiwa mujahidnya mengalirkan semangat yang sama bagi kami.
Kawan, giliran kita akan tiba. Itu kepastian. Persiapkanlah dengan indah


Tujuh awan bersuka ria, sambut ruh suci menghadap Rabb-nya.
Sahabat, nantikan hadir kami. Kan menyusulmu sebentar lagi (Untukmu Syuhada-IZIS)

Monday, September 10, 2007

Bijak di balik kesederhanaan

Bismillahirrahmanirrahim....

Judulnya hari ini, bersih-bersih menjelang Ramadhan. Salah satu hasil rapat beberapa malam sebelumnya adalah hari ini Remas bersih-bersih Masjid. Jam 9, dari masjid sudah terdengar alat pemotong rumput beraksi. Berhubung rumah saya di Piru pas depan mesjid jadi bisa liat sikon dulu. Ternyata baru yang pria yang bersih2. Begitu sudah ada beberapa cewek yang datang, barulah saya merapat ke mesjid. Kaca, Lantai, Karpet, Mimbar, semuanya dibersihkan sama anak2. Rumput dipotong. kinclong jadinya Masjid tercinta itu.

Pas istirahat, sejuk banget rasanya duduk di teras masjid sama mereka istirahat sambil makan kacang ijo. Apa pasal? Terharu, saya jelas terharu banget.
Bayangpun, mereka yang datang bersihkan masjid itu benar2 di luar dugaan. Mereka memang sambil merokok, mereka memang datang dengan penampilan yang jauh dari bayangan saya tentang aktivis masjid. Pakai kalung dari rantai putih itu, trus di tangannya banyak gelang. Macem-macem deh pokoknya. Musik yang keluar dari MP3 HP mereka juga dangdutan. Semua memang perlu diubah, tapi mereka mau datang saja, sudah luar biasa buat saya. Di kampus, mungkin mereka yang berpenampilan seperti itu, yang koleksi musiknya kayak gitu, mungkin gak mau muncul di masjid. Jangankan yang berpenampilan begitu, yang berpenampilan baik-baik saja juga susah diajak ke masjid. Yang takut ini-lah, yang males itu-lah.

Tapi disini beda. Mereka datang, mereka gantian bersihin masjid, mereka ngecat pagar masjid. Bahkan, ketika ada pemuda yang profesinya bawa becak lewat depan masjid nganterin penumpang, baliknya dia mampir ke masjid. Becaknya diparkir di depan masjid dan dia turun ikut bantu-bantu motong rumput. Subhanallah...., pemandangan yang asing bagi saya.

Teringat ketika rapat Kamis malam untuk susunan panitia Ramadhan, seorang pemuda mendatangi saya sambil mutar-mutar kunci motornya. Dari model rambutnya, saya pikir dia polisi. Saya yang saat itu sedang berembuk dengan Korwil untuk distribusi anggota ke tiap divisi, menoleh ke arahnya,
"Abang polisi ya?" tanyaku
"Bukan, kenapa?" jawabnya
"Seng, barang abang pung model rambut kayak polisi. Beta kira abang polisi, beta mau kasi masuk abang di divisi keamanan" jelasku
"Seng, beta bukan polisi. Beta tukang ojek. Makanya beta mau tanya beta di divisi mana lalu beta mau pigi ngojek lagi seng bisa ikut rapat sampai selesai" terangnya

Subhanallah, seperti disirami kata-kata yang mencerahkan. Dia masih sempet2in datang ke masjid mencari tahu dia punya amanah apa buat Ramadhan nanti, padahal saat itu dia lagi mencari nafkah.
Malu rasanya diri ini.
Abang becak dan abang ojek, maaf, saya belum sempat tahu siapa nama kalian. Tapi siapa pun kalian, kalian guru saya. Malu rasanya diri ini bertemu kalian yang begitu bijak di balik kesederhanaan. Terimakasih telah memberiku pelajaran indah hari ini.


Sorenya, saya, caca, ca lely dan ca Nakul ke kuburnya Tete Zein, bersih2 disana juga. Lewati kuburan2 itu, saya membayangkan seandainya saya yang ada di bawahnya. Akankah lapang kuburanku, akankah terang kuburanku? Ya Allah, ampuni segala dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa saudara-saudaraku, dosa hamba-hambaMU yang merinduMU

Thursday, September 06, 2007

Kawah baru



Saya baru saja pulang rapat Remas. Antara senang dan sedih. Senang karena remaja-remaja disini mau bergabung di Remas tapi juga sedih melihat kondisinya. Inilah kawah candradimuka lain yang harus kuhadapi lepas dari kampus. Masyarakat yang variatif tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, tingkat pemahaman, kebiasaan dan hal-hal lainnya.

Rapat Remas modelnya sudah kayak karang taruna. Konsep hijab masih jauh. Ada yang sambil merokok, tertawa terbahak-bahak sudah biasa dalam rapat.
Satu hal yang kusyukuri, mereka mau datang. Itu aja dulu. Mereka mau gabung di Remas, mau duduk dan bicarakan program2 Remas, itu sudah satu langkah awal yang baik. Menandakan bahwa mata, hati dan telinga masih terbuka untuk sebuah perubahan. Iklim yang berbeda yang saya rasakan dengan dakwah di kampus. Tapi inilah dinamika dakwah yang harus saya hadapi. Ini pula satu lagi proses penempaan dalam jalan ini.

Maka, penat-penatlah dalam dakwah. Lelah-lelahlah dalam dakwah. jika amal kita tak cukup sebagai bekal kita, semoga tetes-tetes keringat penat dan bulir-bulir airmata lelah akan menjadi syafaat di akhirat kelak. Aaamiiin

Sunday, August 12, 2007

Kutunggu Kau di Masjid

Bismillahirrahmanirrahim...

Pernikahan seorang da'i adalah pernikahan da'wah.Maka ketika seorang da'i memutuskan untuk menikah, maka salah satu hal yang harus mempengaruhi keputusannya adalah sebuah pertanyaan "Apakah pernikahan ini membawa kualitas pada dakwah saya dan pasangan saya nanti?".

Menurut saya, adalah sebuah kemunduran ketika seorang da'i yang setelah menikah, aktivitas dakwahnya menurun. Kemundurannya lebih jauh lagi jika ternyata pasangannya pun adalah seorang da'i. Ketika pernikahan membuat kualitas kesertaan dan produktivitas dakwahnya menjadi lebih mundur dari sebelumnya, evaluasilah dan bangkitlah. Kita dibesarkan oleh dakwah. Dakwah yang mengenalkan pada kita sebuah kehidupan yang tenang. Dan ketika satu nikmat Allah kita rasakan, apa layak bagi kita mundur dari dakwah?

Menjadi sulit ditemui, susah diajak syuro, susah ditelpon, jarang muncul di masjid, peduli terhadap perkembangan dakwah tak terasa lagi, itu mengecewakan. Dengan pernikahan itu, saya berharap banyak. Saya berharap dampaknya pada dakwah akan luar biasa. Sudahlah, kita memang hanya boleh berharap pada Allah.

ps : Saudaraku, kutunggu engkau di masjid tempat kita merajut cinta

Tuesday, June 19, 2007

Tafakkur..

Berbekallah ketakwaan
Kamu tak tahu saat malam berlalu
Adakah ia menyisakan umur bagimu,
hingga fajar datang menjelang
Berapa banyak orang yang sehat,
Meninggal tanpa ada penyakit
Berapa banyak orang yang sakit
Hidup lama sepanjang hayat
Berapa banyak anak-anak belia memotong perjalanan umurnya
Jasad mereka terlanjur lelap di kuburnya yang hitam dan gelap
Berapa banyak muda mati
Pagi bercanda, sore bersenang hati
Tiada pengetahuan yang terpaut
Kain kafannya sedang dirajut

Thursday, January 25, 2007

Lingkar Cinta (Catatan Khusus)

Mbak, jazakumullah atas semua cinta, perhatian, bimbingan, pengertian, kepercayaan serta senyum yang tulus di setiap perjumpaan kita. Ilmu yang mbak beri selama ini begitu bermakna untuk perjalananku ke depan. Afwan atas sikap-sikap ana yang banyak salah, adek yang banyak maunya, sering nunda ngerjakan amanah, sering telat datang, dan hal-hal lainnya yang mungkin saja sempat menorehkan kecewa pada mbak. Doakan ana mbak, agar tetap istiqomah di sana, tetap melanjutkan cerita indah tarbiyah disana. Jazakumullah khoiron katsiron ya mbak, terimakasihku tak cukup untuk menuntaskan rasa bangga pernah duduk di dalam lingkaran bersama mbak, mendengarkan taujih-taujih mbak yang keluar dari hati. Biarlah kuserahkan urusan ini kepada Allah, karena hanya, hanya IA saja lah yang mampu membalas segala kebaikan Mbak padaku.

Saudara-saudara selingkaran yang kucintai karena Allah,
Jazakillah khoir atas kebersamaan kita. tak terasa berbilang tahun kita duduk bersama. Sudah banyak kisah kita rangkai. Didalamnya ada tawa, ada sedih, ada marah, ada kecewa, ada senyum tulus, ada perhatian, ada saling jenguk, ada sms rindu, ada tangis, segala macam rasa pernah kita alami bersama. Tapi, tentu saja rasa-rasa itu kini menjadi jelas, bahwa ia bermuara pada saling mencintai karena Allah.
Terimakasih atas setiap doa yang pernah dan semoga selalu terlantun untuk ana. Terimakasih atas bahu yang sempat antum pinjamkan untuk memikul sebagian sesak. Terimakasih atas senyum tulus yang selalu ana temui di setiap perjumpaan, sungguh senyum antum ibarat bensin bagi ana meneruskan perjalanan. Hingga jika mesin dakwah ana mulai mogok, wajah-wajah antum-lah yang membuat motor itu kembali dengan keadaan yang lebih mantap.

Afwan jika ada hak antum yang ana lalaikan. Ada janji yang mungkin terabaikan. Ada harap yang tak ana penuhi. Ingatkan ana agar sempat untuk ana tuntaskan. Dan jika tidak, maka keikhlasan antum-lah yang ana harapkan hingga mampu menutup murka Allah atas diri ana.

Cerita kita tak pernah selesai, cerita kita justru baru dimulai. Karena cinta itu dibuktikan saat orang-orang yang saling mencintai itu berjauhan tapi mereka tetap menjaga cinta itu di tempatnya hingga saat dipertemukan kembali, di akhirat, untuk kembali mengenang kebersamaan sambil menikmati segarnya susu yang mengalir di bawah surga.

Hapus air mata itu ukhti. Ana tak tahan melihatnya. Semoga air yang mengalir dari mata kita menjadi penyegar dan penyuci ukhuwah, membersihkan noda yang sempat tertoreh di pakaian ukhuwah yang selama ini kita kenakan. Jangan menangis saat berpisah, tapi menangislah saat bertemu sebagai kesyukuran karena Allah masih mau mempertemukan.

Ukhti, kita tak pernah berpisah selama kita masih di jalan yang sama. Maka, tetaplah di jalan ini. Tidak selalu mulus, kadang berkelok, curam dan terjal, kadang-kadang tak ada penerangan dalam perjalanan ini. Tapi jika keistiqomahan kita jadikan sebagai cahaya dalam perjalanan ini, maka insyaAlah kita akan bertaburan bunga di ujung perjalanan ini.

Ukhti, lingkar kita tak pernah bubar. Lingkaran ini hanya melebar. Ana mencintai antum semua karena Allah. Doakan ana istiqomah dan sediakan satu ruang sempit di hati antum untuk ana. Sering-seringlah menjenguk ana di ruangan itu. Keep contact ya ukhtiy……

NB : Ingat nggak, pas antum semua ke rumah ana sepulang LQ untuk menjenguk, rasanya seperti terbawa ke surga. Ingat nggak pas dapat tanaman satu pot saat acara tukar kado? Udah mati bunganya, tapi ia hidup di hati ana, ukhti sayang si pemberi bunga. Ingat gak pas rame2 ke walimahannya teman kita di Nganjuk sana? Ingat nggak acara makan jambu biji sambil menunggu mbak? Ingat nggak sharing problem kampus masing2? Ingat nggak diskusi tentang problematika masing-masing adek kita? ingat nggak pulang aksi malah kumpul makan2 di rumah mbak F? ingat nggak pulangnya mampir Kenjeran beli kerupuk? Ingat nggak waktu……… (terlalu banyak yang teringat), Indah khan? Kabari ana kalo sudah ada berita “gembira” ya? You know what I mean….

Wednesday, January 24, 2007

Lingkar Cinta (Catatan 2)

Bismillah…
Ingati jika sunyi, Rindui jika jauh, Fahami jika keliru, Ingatkan jika lalai, Sungguh Indah Ukhuwah karena Allah.

Semua berjalan biasa saja. Hingga pada akhir, saya harus mengucapkan salam terakhir. Tak urung, ada juga yang mengalir di pipi. Padahal sudah kupaksakan untuk tidak membiarkannya tumpah. Tak bisa kutahan getaran di bibirku yang harus kupaksa bicara. Maka, diam. Itu yang kupilih, sambil terbata-bata harus kuucapkan salam itu.

Satu hari, dua lingkar cinta harus kulepas. Kumulai pagi hari dan kututup sore dengan penyerahan sebuah amanah. Amanah mengawal kebersamaan ini. Dua lingkar cinta harus kuserahkan kepada dua saudaraku yang luar biasa lainnya.
Sulit melepaskan mereka, tapi saya tak punya pilihan. Wajah-wajah mereka terlanjur begitu nyata, begitu lekat dalam ruang pandangku, tawa dan tangis mereka begitu akrab di ruang pendengaranku. Dan kini, itu tak menjadi menuku lagi.

Adek-adekku,
Bangga rasanya bisa menjadi bagian dari hidup kalian selama ini. Bangga rasanya telah menempati satu sudut di hati kalian. Hapus airmata itu, kepergian mbak ini adalah salah satu upaya menuju ridhoNYA. Maka, selama anti semua masih berproses tak henti menuju ridhoNYA, berarti kita tak pernah berpisah. Pada perjalanan kita masing-masing, insyaAllah, kita bertemu di ujung, di keridhoanNYA sambil mengenang kebersamaan kita ini.

Banyak pelajaran yang sudah antunna beri ke saya. Dari dua lingkar cinta ini, saya belajar tentang kelembutan, keceriaan, kesabaran, keramahan, keterbukaan, kepercayaan, memahami, ketegasan, ketakutan akan murka Allah, keinginan menuntut ilmu yang tinggi, ketenangan, persaudaraan dan masih banyak lagi.

Adek-adekku,
Terimakasih atas setiap hadiah senyum yang kalian berikan. Terimakasih pula telah begitu mempercayakan kisah kalian padaku, terimakasih untuk menjadikan pertemuan kita adalah bagian penting dari rencana-rencana besar kalian.

Maafkan jika pernah ada hati yang tersakiti, ada janji yang terabaikan, ada hak yang tidak terpenuhi. Lanjutkan cerita indah tarbiyah ini bersama mbak kalian yang baru. Berproseslah bersamanya sehingga kalian akan melejit, mengangkasa menjadi akhwat-akhwat berstatus pegawai Allah. Kalian tak terlupakan…

Ukhti-ukhti saudaraku,
Kuserahkan lingkar cinta ini pada kalian. Rangkailah dengan kelembutan dan cinta, hingga lingkar itu menemukan tempatnya di sisi Allah. Mereka luar biasa, anti berdua pasti akan bahagia bersama mereka, melingkar, berputar hingga tak ingin keluar

Saturday, January 20, 2007

Lingkar Cinta (Catatan 1)

Satu lagi hari yang berat tapi indah. Rangkaian kata yang paling tidak ingin saya dengar saat-saat ini adalah “Mbak, gak usah pulang ya. Disini saja”. Parahnya, justru kalimat seperti itu yang paling sering saya dengar. Setiap hari, ada saja yang mengatakan itu. Semakin berat jika yang mengatakan itu adalah adik-adik binaanku seperti sore tadi. Melihat wajah mereka ketika mengatakannya membuat saya tak bisa menjwab. Bukan tak ingin, tapi tak tahu harus menjawab apa agar tidak melukai mereka. Belum lagi ditambah kalimat “Nanti yang ganti, gak seperti Mbak Eby gimana?”.

Allah, aku tak tersanjung dengan kalimat itu. Aku justru takut dengan kalimat itu. Kalimat itu sudah saya dengar dalam 2 pertemuan terakhir. Bahkan ketika mereka bertandang ke rumah pun, itu lagi yang mereka bahas.
Di satu sisi, saya merasa lega karena saya punya arti. At least, kebersamaan kami selama ini punya tempat di hati mereka. Paling tidak juga, ketika saya tidak ada, itu ada bedanya bagi mereka karena saya pernah diberitau bahwa alangkah ruginya orang yang ada dan tiadanya dia, itu sama saja bagi orang lain. Dan saya tak mau jadi orang yang merugi itu.

Tapi di sisi lain saya takut, cemas kalo ternyata kebersamaan dan kedekatan kami selama ini membuat mereka takut dengan dunia setelah itu tak ada. Kecemasan mereka akan pengganti saya membuat saya merenung “Figuritas seperti apa yang sudah saya bentuk di depan mereka selama ini?”. Saya takut, nantinya mereka akan membandingkan antara saya dengan pengganti saya nantinya dan jika itu tak sesuai bayangan mereka, akan mudah bagi mereka untuk membuat alasan agar tidak hadir. Bukan saya merasa sempurna, tapi jika itu terjadi, maka saya ikut bertanggungjawab akan itu. Saya kemudian mempertanyakan niat mereka, jangan sampai kedatangan mereka selama ini ke lingkaran itu adalah karena saya, bukan karena Allah.

Dalam Buku Pintar Mengelola Halaqoh, Ust Satria Hadi Lubis menjelaskan dampak negatif dari sikap pengidolaan tersebut, antara lain :
1. Hilangnya sikap kritis dan tumbuhnya taqlid buta
2. Hilangnya suasana saling menasehati antara murobbi dan peserta
3. Hanya mau menerima pendapat dan nasehat dari murobbi saja
4. Wawasan peserta menjadi sempit
5. Hilangnya sikap toleran terhadap perbedaan pendapat
6. Terlalu tergantung pada murobbi
7. Hilangnya inisiatif dan kreativitas peserta
8. Sulit diajak beramal jama’I di luar halaqoh
9. Sulit dipindahkan, jika tiba saatnya pindah murobbi
Murobbi secara tidak sadar bisa membuat peserta mengidolakannya. Misalnya, dengan sikap yang terlalu memanjakan peserta, persis seperti sikap orang tua yang memanjakan anaknya, sehingga anak menjadi tidak mandiri dan kehilangan percaya diri.

Saya pribadi tidak begitu mengkhawatirkan poin satu hingga delapan. Karena mereka kritis, saling menasehati, mereka kreatif, punya aktivitas amal jama’I di luar halaqoh dll. Yang saya khawatirkan adalah poin terakhir. Mau tidak mau, setelah ini mereka harus pindah, dan kalau mereka masih dengan pemikiran “Nanti kalo gak seperti mbak, gimana?”, maka selama itu pula mereka tak bisa enjoy dalam lingkaran cinta itu. PR besar juga untuk pengganti saya nantinya, sementara dia harus tetap menjadi dirinya.

Dengan semua kegelisahan ini, saya mensyukuri saya masih punya waktu sekali lagi, terakhir bersama mereka untuk menjelaskan dan meluruskan kekhawatiran ini. Ada yang bisa bantu saya?, jazakumullah khoiron sebelumnya.

Nb : Tak kusangka, salah seorang adik memberiku hadiah coklat. Katanya “saya kan tau mbak Eby sukanya apa”. Dan yang lainnya ada yang bilang “Kalo gitu nanti ta’ masakin sayur terong ah buat mbak Eby”. Subhanallah, ternyata mereka masih mengingat kesukaan2 saya padahal itu hanya diberitau sekali saat pertemuan perdana sesi ta’arruf. I am excited they still remember that. Saya kalah lagi membuktikan ukhuwah indah ini, kenapa saya tidak mendahului memberi mereka hadiah, padahal catatan saya lengkap tentang diri mereka termasuk kesukaan mereka? Merekalah murobbi saya, murobbi ukhuwah saya

Wednesday, December 27, 2006

Sudahkah Kita Tarbiyah? (Edisi 1)

Sekitar bulan Agustus yang lalu, saya pernah menginginkan membedah buku “Sudahkah Kita Tarbiyah? Refleksi seorang Mutarabbi” tulisan Eko Novianto. Tapi baru sekarang saya bisa melakukannya. Saya sebut edisi 1 karena saya ingin membahasnya dalam beberapa bagian. Buat Pak Eko, sudah terima email saya? Saya tunggu balasannya.

Yang saya angkat pada edisi perdana ini belum isinya, tapi baru pengantarnya. Karena buku ini buat saya benar2 luar biasa. Sejak pengantarnya sudah sukses membuat saya berpiikir dan berpikir, berkontemplasi, berbicara dengan diri saya sendiri, mempertanyakan benarkah saya telah tarbiyah? Di posisi apa saya mengambil peranan dalam dunia tarbiyah ini?

Beberapa tahun terakhir saya hingga saat ini dan insyaAllah sampai nanti adalah saat-saat saya menikmati tarbiyah. Anda, bisa jadi lebih lama usia tarbiyahnya dari saya. Pada akhirnya, seperi dalam buku itu, disebutkan bahwa setiap kita akan sampai pada suatu titik yang mempertanyakan apakah sesungguhnya kita sudah tarbiyah?
Saya memang sudah tarbiyah, sudah memiliki murobbi, sudah memiliki mutarabbi, sudah memiliki halaqoh, sudah menjadwal liqa’pekanan, sudah mendapatkan materi tarbiyah, dan sekian aspek formal lainnya. Tapi apakah kita, anda dan saya, bisa dibilang telah tarbiyah cukup dengan aspek-aspek formal itu.

Tarbiyah adalah untuk perubahan. Then, the question are :
1.Sudahkah saya berubah?
2.Sudahkah saya punya kemampuan merubah?
3.Sudahkah perubahan saya mempengaruhi lingkungan sekitar saya untuk ikut berubah?
4.Sudahkah saya merasakan sakitnya perubahan?
5.Tahankah saya atau malah lari dengan rasa sakit itu?
6.Sejauh manakah kerelaan saya untuk berubah?
7.Ataukah saya belum berubah sama sekali?
8.Ataukah label akhwat ini hanya untuk gengsi saja, menaikkan harga jual saja?
Saya sudah menjawab pertanyaan2 itu dan intinya saya masih stagnan kalau tidak mau dibilang mundur. Saya masih harus membenahi diri saya, ruhiyah saya, keikhlasan saya, totalitas saya, pengorbanan saya, tahan banting saya dan banyak hal dari saya.

Tarbiyah telah akrab dan menjadi bagian dari hidup saya begitu juga anda. Ada yang bekerja di lingkungan tarbiyah, ada yang bisnis di lingkungan tarbiyah, ada yang berkeluarga di lingkungan tarbiyah, mengajar di halaqoh tarbiyah, memimpin di lembaga tarbiyah.
Atau mungkin saja, kita menjadi kaya dengan pengaruh tarbiyah, mungkin saja kita berpengaruh karena kesempatan yang diberikan tarbiyah. Bisa saja, kita memimpin dengan rekayasa tarbiyah, atau kita menjadi tokoh dengan toleransi tarbiyah. Tapi, sekali lagi, apakah sesungguhnya kita telah tarbiyah?

Dalam setiap komunitas dimana kita menjadi anggotanya, bagian yang tersulit adalah mengambil posisi. Seringkali kita gagal dam melakukan hal ini. Seseorang yang diamanahi menjadi leader tetapi mengambil posisi sebagai bawahan. Sementara seseorang yangmenjadi bawahan, mengambil posisi sebagai penentu kebijakan. Koordinasi menjadi rumit dan akhirnya tidak menghasilkan apa-apa.

Disebutkan bahwa posisi ideal bagi setiap anggota komunitas adalah sebuah posisi yang tidak menyudutkan pihak lain, juga tidak memojokkan diri sendiri. In fact, sebagian anggota komunitas cenderung menyudutkan pihak lain, sebagian lainnya cenderung memojokkan diri sendiri, dan saya melihat pula fenomena anggota yang menonjolkan diri sendiri atau menonjolkan pihak lain untuk tamengnya bersembunyi.

Ada pula yang selalu merasa kalah, mengalah, minder dengan kehebatan senior-seniornya, menerima setiap perintah tanpa memakai hak bertanya karena merasa dirinya junior. Dan, ada yang selalu mengambil posisi pemegang otoritas, pengendali, pemilik aturan, penjaga gawang, nge-bossy, menindas, nyuruh ini nyuruh itu, bla bla bla.pilihan apapun antara dua posisi ini bukanlah posisi ideal, karena keduanya justru adalah posisi saling mematikan. We will talk about this theme “POSITION” in next edition.
Benang merahnya adalah belajarlah untuk menempatkan diri dengan baik hingga kita menemukan posisi yang ideal yaitu posisi yang memberdayakan serta melejitkan kualitas diri juga orang lain. Semoga…

Nb : Pak Putu, selamat atas kelahiran anak keduanya (putri pertama) tadi malam. Semoga jadi anak yang berbakti

Friday, December 22, 2006

Masa-Masa Kritis

Usia sekarang, katanya adalah usia yang kritis dalam menjaga keistiqomahan dalam berdakwah. Usia yang diliputi banyak masalah yang datang silih berganti. Kalau studinya belum kelar, maka kita direpotkan oleh segala urusan tentang bagaimana segera menyelesaikan skripsi. Begitu skripsi selesai, datang lagi masalah baru, how to start a job. Setelah dapat pekerjaan, mikir lagi, jodohnya gimana?
Begitu seterusnya, tak ada henti masalah memenuhi ruang hati dan pikiran kita. Hal ini memperjelas perbedaan dengan saat masih semester awal atau pertengahan kuliah yang saat itu hanya memikirkan Kuliah dan Dakwah.

Berbagai hal yang dipikirkan itu lantas membuat porsi hidup untuk dakwah secara teknis kadang sediit berkurang, kalau tidak mau dikatakan terabaikan. Untuk itu, ada beberapa tips yang semoga bisa digunakan jika menghadapi rentetan masalah seperti di atas :

1.JANGAN MENUMPUK MASALAH. Segera selesaikan masalah yang ada dan tidak membiarkannya berlarut-larut hingga bom waktu datang meluluhlantakkan semua

2.JANGAN LARI DARI KENYATAAN. Kenyataan datang untuk dihadapi. Yakinlah, if Allah brings you to it, He will bring you through it

3.JANGAN TERLENA DENGAN MASA LALU DAN JANGAN TERBEBANI DENGAN MASA DEPAN. Masa lalu tidak akan berganti dengan terus menerus memikirkannya. Waktu adalah hal yang tak pernah bisa kita putar kembali. Maka terjebak dengan kesuksesan ataupun kegagalan masa lalu sama saja membunuh masa sekarang. Begitupun dengan masa depan. Sesuatu yang belum pasti kejadiannnya, tidaklah harus memenuhi ruang pikiran kita. memelamunkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Bermimpilah, bangunlah obsesi-obsesi masa depan tapi setelah itu bergeraklah melakukan langkah-langkah nyata demi obsesi dan impian itu. Ia akan tetap menjadi impian dan obsesi jika kita tetap saja diam dan membebani diri dengan sesuatu yang belum pasti seperti masa depan. Sekaranglah saatnya !!!!

4.JANGAN TERLALU MEREMEHKAN DAN JANGAN PULA TERLALU MEMBESARKAN MASALAH. Permasalahan hendaknya disikapi dengan sederhana tanpa membuatnya menjadi rumit. Kadang, yang membuat kita frustasi itu bukan masalah itu sendiri, tapi sikap kita memandanga serta menyikapilah yang membuat kita frustasi

5.JANGAN SAMPAI BERPUTUS ASA. Seorang mukmin tidak mengenal kata PUTUS ASA dalam kamus kehidupannya. Karena Allah selalu membersamai seorang mukmin meskipun saat itu ia merasa benar-benar sendiri. Sejatinya, we are never alone. Allahu ma’ana

6.MEMPERBANYAK KESIBUKAN. Dengan menyibukkan diri, kita menambah lagi wacana berpikir kita. waktu kita tidak terbuang percuma. Tidak ada kesempatan bagi diri kita untuk bermalas-malasan

7.SERING BERTUKAR PIKIRAN. Setengah dari masalah bisa selesai dengan membicarakannya. Paling tidak, dengan didengarkan, ada separuh beban yang terbagi, perasaan lebih tenang sehingga bisa melihat masalah dengan lebih tenang. Kadang pula, kita jadi bisa melihat masalah dari sisi lain yang terlihat oleh partner kita yang mungkin saja tertutupi oleh keegoisan kita.

8.BERSIKAP TENANG. Ingatlah Allah selalu karena Hanya, HANYA dengan mengingat Allah-lah, hati akan menjadi tenang

Sunday, November 26, 2006

Sisi Lain Aksi

Sisi indah aksi selain tema yang diusung adalah saat bertemu saudara-saudara seiman. Di setiap aksi, pertemuan dengan saudara-saudara yang tidak setiap hari bisa bertemu itulah yang aku rindukan. Tau kabar terakhir mereka, dengar cerita-cerita mereka selama tidak bertemu. Senyum serta tawa mereka yang menyejukkan hati, jadi satu alternatif bahan bakar semangatku untuk kembali meneguhkan langkah dan menegapkan tubuh dalam barisan dakwah ini.

Seperti aksi tadi siang di depan patungnya Gubernur Suryo, depan Grahadi. Wacana yang diusung adalah anti kekerasan terhadap perempuan. Aura semangat dari akhwat-akhwat di sekitarku yang begitu ridho memberi waktunya, berjemur di terik matahari pukul satu siang, sangat terasa. Pancaran keikhlasan dari sorotan mata di balik slayer serta dari pekikan takbir yang membahana menguatkan hatiku untuk tetap berdiri bersama mereka memperjuangkan hak-hak kami sebagai perempuan.

½ jam aksi berjalan, seorang akhwat disampingku menegurku :
“Mbak febry ya?” she know me behind my blue slayer

Kualihkan pandanganku : “iya, saya” ups, mata ini tidak kuingat.
Slayernya pun dibuka, dan dek Nisa, akhwat JMMI yang berdiri di hadapanku. Lama tak bertemu. Begitu banyak cerita tentang ia yang kudengar setelah itu. Saat tau rencana kepulanganku, tanganku yang dari tadi digenggamnya tak mau ia lepas bahkan ia pererat. Dek, ana uhibbuki

Sebelum pulang aksi, bertemu dengan adek-adekku yang lain dari UNITOMO. Dek lina, dek titin, dek ifa cs yang protes-protes karena sulit menghubungiku belakangan ini. Afwan adek-adekku sayang, ane ganti nomer. Aku juga emang udah lama gak maen lagi ke kontrakan mereka. Mengalirlah cerita tentang perjalanan dakwah kampus mereka. Ya, sekarang memang masanya mereka. Ana uhibbukum fillah

Hal-hal seperti tadi yang bikin aku sering tidak percaya bahwa yang indah ini sebentar lagi akan kutinggal. But, I believe, there is another miracle. However, this nice thing is always in my memory. I love you all, my sisters in brotherhood of Islam