Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Wednesday, April 03, 2013

Suratku dari my Vina

 
 
 Surat dari my beloved Vina. Trimakasih sudah mengirim surat ya sayang. Belum sempat kubalas but i will, i promise. Surat diambil dari sini
 
Assalamu’alaikum Wr Wb.
 
Hai Saudaraku... apa kabarmu di seberang sana?
Kuharapkan kau selalu dalam pelukan Allah, ya. Oh ya, Bang Lito juga apa kabar? Sepertinya sedang semangat-semangatnya bekerja ya?? Kangen sekali ingin bertemu dengan kalian. 
 
Ingat tidak?? Selama ini aku hanya mengetahui tentang sosok bang Lito hanya dari suaramu yang merdu. Dari cerita-ceritamu yang selalu membuatku iri. Hahaha, iri yang baik kok, Bi. Iri ingin memiliki tulang punggung dan belahan jiwa seperti dia. Apa?? Aku harus menjadi sepertimu?? Hahaha... Mungkin juga ya? Aku memang ingin belajar sepertimu. Bukan menjadi mirip kamu, tapi bersikap lembut, dewasa, dan baik sepertimu.
 
Beberapa hari kemarin, aku merasakan rindu yang luar biasa padamu, Gerimis. Eh, jangan bilang kau lupa panggilan itu. Gerimis, kan nama panggilanmu. Senja itu panggilan nona Acha, sedangkan Pelangi itu punyaku. Hahahaha... siapa coba yang kasih nama itu, ya? 
 
Aku ingat, pertama kali satu kelompok denganmu saat AMT. Kita harus mengingat nama-nama teman satu grup yang jumlahnya 30 orang. Dan kau adalah satu-satunya yang bisa mengingat semuanya. Lalu aku rindu saat kita senam setiap Rabu dan Sabtu. Harus bangun pagi-pagi banget. Terus gerak-gerak seksi di sela-sela kabut puncak, ditemani instruktur cantik yang ga kalah seksi. Terus, sarapan ala orang barat, pake omelet, roti bakar, jus. Halah, ingat ga, gara-gara itu, perut pribumi kita tidak bisa menerima dan akhirnya... kau tahu kan, D.I.A.R.E. hahaha. Kau ingat, tiap ke kelas, beberapa dari teman kita selalu membawa bekal roti bakar dan memakannya saat perut mendadak keroncongan sebelum jam coffee break. 
 
 
Aku rindu saat kita ber-karaoke bersama atau bernyanyi di resto. Sio mama, lagu yang kau nyanyikan. Benar tidak? Aku rindu bermain UNO di kamarmu. Berapa nomor kamarmu dulu? Yang kuingat 234, benar tidak? Tiap libur kelas, aku selalu main ke kamarmu, bareng bang Azhar, Mas Hari, bang Uchin, Anesh, hm.. siapa lagi ya? Oh ya, ni Ul, ni Yanti, dan beberapa orang lainnya yang sering main ke tempatmu. Apalagi sepeninggal Nadeth pulang ke Makassar lebih dulu, aku makin sering main ke tempatmu. Sayang sekali, kita baru dekat saat pendidikan sudah hampir selesai. Tapi, aku bersyukur sekali, Alhamdulillah pada Allah, meskipun waktunya hanya sebentar Allah masih memberikan kesempatan untukku mengenalmu, Saudaraku.
 
Aku merindukan momen bersamamu.
 
Oh ya, satu lagi yang luar biasa. Bagaimana mungkin tiba-tiba aku bisa mendadak ikut ke Lembang bersamamu dan bang Azhar. Ya ampun, ga nyangka aku. Itu adalah hal terbaik dan terhebat buatku. Mengenal mbak Titi yang luar biasa melaluimu, Ebi. Ah, pokoknya luar biasa deh. 
 
Maaf, ya, Ebi, aku tidak bisa datang saat pernikahanmu dulu. Tapi seperti janjiku, bingkisan sederhana dan doa aku kirimkan melewati lautan. Dan Thanks, God, itu bisa sampai ke tanganmu dengan selamat. Sempat was-was dan tidak percaya pada pak pos, takut bingkisannya dibuang ke laut, hahaha.
 
Aku masih ingat, bagaimana bahagia dan terharunya aku saata khirnya  kamu mengatakan ada janin dalam rahimmu. Aku langsung menelponmu dengan riangnya. Ya Tuhan, aku bakal jadi tante untuk satu keponakan lagi. Subhanallah. Aku sudah membayangkan, kalaupun tidak bisa datang ke Ambon pada acaranya nona Acha, aku akan datang saat keponakanku itu lahir. 
 
Lalu tanggal 22 Maret 2013 lalu, kau tiba-tiba mengirimkan sebuah pesan singkat padaku. Janinmu sudah meninggal. Buah hati yang belum sempat kau sentuh, kau lihat dan kau dengar tangisannya. Kau dan bang Lito memanggilnya ‘abang’, kan? Boleh aku memanggilnya begitu juga? Aku shock Ebi, mendengar abang kecil dipanggil Allah lebih dulu. Aku tahu betapa kau sangat mengharapkan kehadirannya. Jujur, saat itu aku tidak menangis. Aku diam. Tapi, justru itu membuatku sakit. Lucu ya? Bukan aku yang kehilangan, tapi aku merasakan sedih yang hebat. Bahkan ketika kau bilang bahwa abang kecil sudah meninggal sebulan lamanya dan kamu baru mengetahuinya. Sungguh kebesaran Illahi, kau tidak sampai keracunan, Sayang. Bahkan tanpa dikuret, rahimmu sudah bersih.
 
Aku mungkin tak bisa menguatkanmu. Karena aku tahu kau perempuan yang kuat. Dibandingkan dengan yang menghiburmu, mungkin kau jauh-jauh lebih kuat. Alla mencintaimu, Ebi. Juga mencintai Bang Lito. Dia Yang Maha Cinta tengah mengujimu. Menyiapkan kalian untuk naik tingkat. Percayalah, abang kecil tengah menunggu kalian di surga Allah. Dan seandainya dia punya kesempatan bicara dengan kalian, dia pasti akan mengatakan ‘aku bangga menjadi putra ummi dan abi’ seperti aku bangga menjadi sahabatmu, Perempuanku. Ah, tidak... dia lebih bangga lagi. 
 
Kau selalu mengatakan, sabarlah sayang, Allah pasti punya rencana terbaik. Sekarang, semoga engkau bisa lebih tenang dan sabar. Lebih meredakan air matamu. Aku tak bisa bilang ‘sabar, ya’ karena pasti sudah begitu banyak orang yang mengatakan itu. Aku hanya bisa bilang, ceritalah padaku jika itu mampu meringankanmu. Sms aku jika kau butuh teman untuk bicara, maka aku akan menelponmu. Kita akan cerita-cerita, sama dengan saat aku sering bertukar cerita denganmu di kamarmu. 
 
Kau mau mendengar ceritaku?
Aku punya sahabat dekat. Dian namanya. Dia sahabat kuliahku, hingga sekarang. Eternal friendship, hahaha. Dia sama denganmu, Ebi. Kehilangan janinnya sebelum Allah menghadirkannya dalam pelukan. Kalau kau kehilangan saat usia kandunganmu menginjak 4 bulan. Dia kehilangan saat janinnya berusia 7 bulan. Tapi, sekarang dia sudah bisa tersenyum dan bercanda. Dulu, mungkin dia sepertimu. Menangis dan memendam kerinduan yang luar biasa. Tapi, sama denganmu juga, dia memiliki keluarga dan suami yang tak kalah luar biasanya. Dia merasa, jika sedih terus, maka orang-orang yang meyayanginya juga akan ikut sedih. Kalau Ebi ingin nomor telponnya, aku akan memberikan. Mungkin Ebi bisa berbincang dengannya.
Lalu, ada juga teman SMA yang pada bulan yang sama kehilangan belahan hatinya. Selama 11 tahun bersama, Allah akhirnya memisahkan mereka. Bukan untuk menjauhkan, tapi untuk mempertemukan mereka kembali di tanah Surga-Nya. 
 
Jadi, jangan menangis lagi, Ebi. Air matamu itu, jangan membuat abang kecil sedih. Tersenyumlah. Karena sungguh cantik saat kau melengkungkan bibirmu. Serupa gerimis yang menyejukkan. 
 
Kita belajar bersama, Saudaraku. Bukan hanya tentang kehilanganmu, tapi juga bagaimana kita menerima semua skenario-Nya yang maha dahsyat. Aku yakin kau sudah mampu menerima dan mengikhlaskan abang kecil. Hanya saja, gerimismu masih seperti badai yang mencemaskan. 
 
Aku menunggu gerimis yang rintik, Ebi.
Aku menunggu senyum seorang Ebi Waliulu.
 
Baiklah, aku akan menulis surat lagi nanti. Dan kuharap saat itu, kau sudah berkata ‘hatiku sudah membaik.’
 
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tuesday, April 02, 2013

Surat Cinta dari Unhy

Si bungsu mengirim surat. Belum sempat caca balas ya dek. InsyaAllah soon. surat diambil dari sini 
 
Saya masih ingat bagaimana senangnya saya hari itu saat mendapatkan kabar bahagia kalau kakak tersayang saya, Ca Ebhy tengah mengandung sekarang. Bagaimana tidak, saya akan menjadi tante dan mempunyai tambahan keponakan yang pastinya lucu lagi. saya sudah bayangkan bagaimana saya akan bermain dengannya bila saya pulang ke rumah nanti. Saya sangat berbahagia untuk kebahagiaan kakak tercinta saya. Seringkali saya selalu menanyakan kabar kakak dan calon keponakan dikandungannya melalui kakak ipar saya, rasanya bahagia saat mengetahui kakak dan anak yang tengah dikandungnya sehat-sehat saja. Alhamdulillah.
 

Namun, hari itu tepat tanggal 19 Maret lalu saat saya bangun tidur saya mendapatkan kabar dari keluarga kalau keponakan saya telah meninggal dunia didalam rahim Ibundanya. Saya sedih, saya tak sanggup mengumpulkan kata-kata saat itu, saya bayangkan betapa sedihnya kakak saya, Ca Ebhy. Saya tahu kakak saya ini sangatlah kuat, namun kehilangan seorang anak yang belum disentuh, yang belum sempat kau dengar tangisannya, rengekannya, senyumnya, matanya, bibirnya, tangannya, itu bukanlah sesuatu yang mudah tuk dilalui. Saya bayangkan wajah kakak saya.
 

Saat itu saya tak menelpon bahkan tak mengirim pesan singkat untuk kakak saya, saya tak tahu bagaimana harus merangkai kata untuk dia. Saya bingung, barulah 2 hari setelah mendengar kabar itu, saya memberanikan diri untuk menelponnya, memberikan semangat, menguatkannya. Saya menelpon kakak saya, suaranya terdengar tenang, seperti tak terjadi apa-apa, memang kakak saya perempuan yang kuat dan tegar
.
Ca Ebhy...
tetap sabar, tawakallah.. ini adalah cara keputusan Allah yang paling baik, kita tak pernah tahu apa takdir seperti apa yang telah Allah tuliskan untuk kita, untukmu kakak.. Cuma sabar yang bisa saya bilang, Allah lebih tahu keputusan yang terbaik untuk umat-Nya. Biarkan anakmu itu menjadi tabungan untukmu di surga kelak, si abang (panggilan dari kakakku untuk anaknya) sekarang lebih bahagia disana, di surga-Nya. 
 

Ca Ebhy...
jangan sering-sering nangis lagi yaa. Saya tidak melihatmu menangis, tapi membaca beberapa postinganmu tentang si abang, saya yakin kamu menulisnya dengan berurai airmata, sayang.. Jangan nangis lagi, si abang di surga pasti tidak suka melihat ummi nya menangis. Abang tetap hidup dihatimu. Saya bisa bayangkan bagaimana rindu yang merajaimu, rindu itu menikammu, belum sempat kau menggendongnya, mengaji di sampingnya, meninabobokannya, menyusuinya, menenangkannya kala dia menangis, tapi Ca Ebhy ikhlaskanlah.. Pasti Ca Ebhy dan abang akan ketemu disana..di surga.

Ca ebhy...
Sekali lagi tetap sabar. Tangan Allah sedang memeluk si abang sekarang, bayangkan si abang tengah asyik berlari-lari di taman surga-Nya, bayangkan si abang memakai baju putih bersih, wajahnya putih bersih, tersenyum tampan. Dia akan selalu menjadi tabungan untukmu, Ca Ebhy. Sabar yaa, pantaskan lagi dirimu untuk rejeki Allah selanjutnya. Allah selalu memiliki rencana kedua,..ketiga..keempat...untuk umat-Nya dan tentu saja untukmu, kakakku.
02 April 2013. Banyak doa dan cinta untuk Ca Ebhy :*

Tuesday, March 26, 2013

Bernanah Merindumu

Anakku sayang,
Apa kabarmu disana? Ummi kangen kamu nak. Mata ini masih saja terus berair bila mengingatmu. Hati ini masih saja seperti teriris setiap melihat atau mendengar sesuatu tentang bayi dan kehamilan. Ummi kangen kamu nak.

Sayangku,
Ummi bukan tidak ikhlas melepasmu. Bukan seperti itu sayang, jangan sedih ya. Ummi ikhlas melepasmu, apalagi abi-mu sungguh luar biasa hebatnya menyuntik pikiran postif dalam hati dan ppikiran ummi. Tangisan ummi bukan tangisan penyesalan apalagi ketidakikhlasan. Tangisan itu adalah tangisan rindu. Menyuruh ummi berhenti menangis sama saja menyuruh ummi berhenti merindumu. Tidak mungkin, sayang

Kadang ummi bertanya tanya, kenapa kau tak mau berlama lama di perut ummi, lalu ummi lahirkan lalu kita saling membalas senyum. Tapi, ummi tahu kamu tak bisa menjawabnya karena hanya Allah-lah yang tau kenapa kita tak bisa saling membalas senyum dan saling memeluk. Ummi kangen, nak..

Anakku,
Boleh ummi cerita sedikit tentang hari hari ummi tanpamu? Redup rasanya nak. Tapi kau tahu, abi-mu lah pelitanya. Abi-mu lah yang menjadi malaikat dalam hidup ummi. Menjadi pria yang sungguh luar biasa mendampingi ummi. Ummi bangga telah memilih lelaki hebat untuk menjadi ayah dari anak anak ummi kelak, insyaAllah.

Nak,
Ummi tahu, kepergianmu menyisakan sakit dan sesak di hati abi-mu. Tapi ia tak pernah menunjukkannya. Berjam jam setelah mengetahui pergi-mu, ummi yang entah sudah berapa liter airmata yang tumpah, tak melihat air yang sama di wajah abi. Abi berusaha menahan sedihnya di depan ummi. Hingga akhirnya, ummi mendengar air mata pertama abi untukmu tumpah di atas sajadah saat sujudnya. Abi-mu memilih Allah sebagai pendengar tangisan pertamanya. Abi-mu berhasil dampingi ummi melewati saat saat kamu harus ummi lahirkan dengan penuh sabar, tidak tidur tapi juga tidak mengeluh. Betapa hebatnya abi-mu nak.

Sayangku,
Kami berdua merindumu. Setiap hari kami mengunjungi makammu dengan senyum. Kami tak ingin kau melihat kami berderai air mata lagi. Karena kamu sudah senang di sana kan nak? Tak ada alasan kami bersedih disini. Kamu lebih bahagia disana kan? Berlarian di taman surga. Bercanda dengan malaikat malaikat kecil lainnya. Ah, indah sekali. Tunggu kami ya nak. Semoga ummi dan abi bisa mengumpulkan bekal yang buuuuaaaaanyak sekali supaya bisa berkumpul bersamamu di surga.

Tuesday, December 20, 2011

Untukku dari Gadis Emasku, Unhy...

Satu lagi kado cinta dari adek tersayang. Dia yang bersedih tapi juga berbahagia untukku. Sayangku, kau tak kehilanganku, kau justru bertambah satu kakak lagi. Dan kami menyayangimu, emasku...

Telah diposting di sini. Blognya makin keren euy. Repost ah..


Untuk Gadis Emas, Untuk Kakakku :*
Minggu, 04 Desember 2011

Hari ini, gadis emas..
pintu gerbang kehidupan itu telah terlihat
jalan panjang akan kau susuri bersama pasangan sayapmu
Kau langkahi gerbang itu dengan dia
Yang namanya tertulis di lauhul mahfuz
Untukmu, hanya untukmu gadis emas.

Hari ini, gadis emas..
Arsy diguncangkan
Dengan ucapan ikrar janji itu.
Hatiku tak mampu menahan semua gejolak didada
Tak tahu ini gejolak apa, persisnya
Aku tak mengerti.
Aku bahagia akhirnya kau akan terbang
Menjalani hidup yang lebih sempurna dengan tulang rusukmu.
Namun, aku tak mampu menepis rasa lain yang bersanding
dengan bahagia ini

Gadis emas, kakakku.
Akhirnya kau temui juga pelengkap kebahagiaanmu
Kau temui juga surgamu, nahkoda hidupmu
Berlayarlah dengan perahu cintamu
Sesekali pasti akan ada gelombang besar yang menghantam
Namun kuyakin kau tak akan mudah terbawa gelombang itu.

Untuk dia yang tertulis di lauhul mahfuz
Kutitipkan gadis emasku di tanganmu
kutitipkan kakakku padamu,
jagalah dia selalu, jagalah hatinya
jagalah dirinya, sungguh kutitipkan dia padamu.


Selamat membersamai langkah kalian
Selamat mengarungi bahtera ini
Semoga menjadi sepasang sayap yang saling mendoakan
Gelaran sajadah ini untuk selamanya
Untuk kalian berdua.

Friday, November 18, 2011

Belajar mencintai dari Naya

Ini tentang anak kecil. Dulu saya tidak terlalu suka dengan anak kecil. Kenapa? Karena saya lebih sering melihat mereka dalam keadaan kotor daripada bersih.


Lalu semua berubah setelah melihat naya. Matanya itu lho, benar benar surga. Tak ada kesedihan. Wajahnya yang tak berdosa membuatku rindu dan rindu. Naya adalah surga duniaku. Naya adalah poros senyumku..

Sejak memiliki naya, saya jadi selalu terkagum setiap melihat bayi atau anak kecil. Melihat mereka dan membayangkan masa masa yang terbentang yang masih harus mereka jalani. Setiap anak memiliki cerita yang tak terceritakan. Hanya dengan menikmati setiap lekukan wajah mereka, gurat gurat cinta tergambar jelas.

Tadi, saya berkunjung ke rumah salah satu rekanan dan ndilalah dia memiliki bayi berusia 2 bulan. Lucu, menggemaskan. Bayi al, begitu panggilannya, menggendongnya lalu menatap lekat wajahnya membuat saya kembali merindu malaikat kecilku. Dan bayi al yang memiliki bulu mata panjang nan lentik, begitu menenangkan hati melihatnya.

Anak zaman, semoga kalian baik baik saja di sepanjang hidup kalian. Semoga kalian tumbuh dalam pendewasaan yang membanggakan. Salam sayang untuk semua anak indonesia...

Tuesday, November 15, 2011

Kutemukan Surga di Mata Mungilnya


Ada surga yang selalu kupandangi setiap harinya
Surga di balik sebuah mata mungil, dari tubuh kecil tak berdosa
Sebuah Maha Karya Allah tercipta melalui indah dirinya
Dan menjadi perekam jejak setiap langkahnya adalah anugerah

Najwaa Tsurayya,
Nama malaikat yang dikirim Allah untuk keluargaku
Malaikat yang datang 19 bulan lalu mewarnai hari hari
Detik bersamanya adalah waktu paling berkualitas dalam hidup

Naya, malaikatku,
Di 19 bulan usiamu kini, kau bawa begitu banyak bahagia
Membentuk simpul simpul tawa
Juga merajut surga untuk kami


Naya sayang,
Memandangmu tidur, memandangmu makan,
Memandangmu bermain, memandangmu apa saja
Adalah seperti melihat surga ditempatkan di bumi
Meneduhkan, memberi senyum tak putus

Sumpah demi Allah, Naya sayang…
Bunda mencintai Naya lebih dari yang Naya tahu
Tak ada yang boleh menyakitimu, menggores hatimu nanti
Tumbuhlah nak, menjadi kebanggaan keluarga
Menjadi nyata surga di hari hari kami.


Dirimu nak, adalah jawaban dari Allah atas setiap kesedihan
Dirimu nak, obat atas semua luka dan lelah
Dirimu nak, penguat semangat, sumber segala harapan
Dirimu nak, adalah seluruh cinta

#ditulis dgn cinta untuk 19 bulan keponakan tercinta, Najwaa Tsurayya

Monday, November 14, 2011

Papa, Lelakiku...

Masih merindu papa di perjalanan kembali ke piru, dan ini yang tertuang di twitter @febry_w

  • Dari semua perjalanan, prjln siang ini balik ke piru adl yg paling menyayat hati. Sedih hati mengingat akan pergi sebentar dr #papa
  • Dari semalam hingga saat ini, bayangan #papa berputar di kepala. Makhluk indah itu kurindu setengah mati
  • Sudah 28 thn mencium tangan beliau stiap bepergian,namun ciuman td berbeda. Tak kuasa menatap matanya. Hny bs menghirup aroma tangan #papa
  • Teman, betapapun kondisi #papa mu saat ini, jangan pernah membentak beliau. Jgn berani berani menyakiti hatinya
  • Bagaimanapun beliau, jangan cederai harga dirinya. Sumpah Demi Allah, jangan sekali kali kalian lakukan #papa
  • #papa tak pernah menghitung rupiah yg telah ia keluarkn sejak lahir. Jd tak sepantasny kau tinggi hati saat sdh bs memberi sedikit rupiah
  • Sungguh tak pantas bagi kita memerintah #papa hny krn kita merasa tlh bergaji. Gajimu seumur hidup tak bs membayar darah dan keringat #papa
  • Apa yang memberimu hak berlaku seenaknya pada #papa. Sungguh, hidupmu tak akan berkah, tak akan berkah, tak akan berkah
  • Papamu adalah surga yang Allah berikan padamu. Perlakukanlah ia dengan baik. #papa jarang bicara tp bukan berarti tdk bs terluka
  • Aku mengingat kembali semua kepingan yg #papa toreh di hidupku. Bahkan nyawaku tak sepadan dengan pengorbananmu
  • #Papa, aku pergi hanya sebentar. baik baik disana pa, kesabaranmu menghadapi mereka yg menyakitimu adl semangatku u/ slalu mencintaimu
  • Aku menjagamu dari jauh papa, dengan doaku yg tak henti. Allah menjadi saksi betapa aku sangat mencintaimu, bangga padamu. #papa, pahlawanku
  • Trimakasih pa, trimakasih telah menunjukkan jalanku hingga ke titik ini. aku tak pernah mampu membalasnya. Keringatmu adl airminumku #papa
  • Papa, kau lelaki pertama dan abadi di hidupku. Kau tak terganti papa. Aku mencintaimu seperti ku mencintai surga #papa
  • Bekal perjalananku hari ini adl 4 lembar kertas berisi tulisan tangan #papa.Lembaran pengeluaran thn 96.melihat tulisannya,papa spt bersama
  • Bismillah.Feri inelika bertolak dr liang menuju waipirit. Smg urusan di SBB minggu ini lancar. Aku hny ingin cepat kembali dan bertemu #papa
@Inelika Liang-Waipirit dalam derai.

Sunday, November 13, 2011

Memandang Luka

Malam ini, ada genangan airmata yang bertumpuk satu satu lalu muntah. Luka yang kau simpan begitu rapat, keluar bagaikan muntahan lahar yang tak mampu lagi disimpan lama. Aku berenang di airmata saat menatap wajah tabahmu atas apa yang kau alami dalam dera kata yang menyakitkan. Kau, lelaki pertama dan abadi dalam hidupku, tergores begitu dalam dan lama. Goresan itu kini berdarah, merah, kental.

Aku menjadi saksi betapa wajah kerutmu adalah pancaran kasih sayang tak putus. Bahu tegakmu yang kini lunglai adalah bekas pikulan maha dahsyat atas pertumbuhan putri putrimu. Dan ketika kini kau terluka, aku menjelma menjadi singa yang siap menerkam siapapun yang menyayat hatimu. Tak boleh ada luka di matamu, ayah.

Aku tak putus bangga padamu, tak peduli siapapun berkata. Aku tak henti mencintaimu, sejak aku lahir hingga kelak menutup mata. Senyuman senyumanmu, canda candamu adalah belai yang menghangatkan hari hariku, memuluskan jalanku. Tapakku berdiri sekarang adalah jejakmu, ayah. Bagaimanapun aku bangga pada diriku, itu karena terlahir sebagai anakmu.

Ayah, sampai mati, kau ada di hati. Meski dunia kuberi padamu, tak akan sebanding seperseribu dari yang kau beri. Jangan terus bersedih, aku ada disampingmu, menjagamu dalam doa doaku, karena aku minum dari keringatmu, ayah.

Monday, October 31, 2011

(362) Akhir Oktober Milikmu


Untuk setiap tawa yang kau punya,
ada surga di suaranya
Untuk setiap tangis yang kau cipta,
ada surga di derainya
Untuk setiap luka yang kau rasa,
ada surga di jalannya
Dan untuk setiap bahagia yang tawarkan,
ada surga di debarnya

Wanitaku, ini penghujung bulan sepuluh. Namun ini satu lagi titikmu merenungi pertambahan usia. Seperti apakah hidup yang telah kau ukir di angka ini? Sudah di tangga keberapakah langkahmu menuju ridhoNYA?

Wanitaku, hidup memang tak semudah yang kau ingin. Pun tak semulus yang kau impi. Ada banyak hal yang tak bersesuaian dengan harap, tapi setiap takdir yang sedang kau jalani ini, adalah episode episode terbaik yang Allah cipta untukmu, hanya untukmu.

Jiwa sabar harus tetap kau genggam sekesal apapun hatimu menekuri hari. Ada keluarga kecil yang butuh hangatmu, belai lembut tanganmu, senyum tulus dari bibirmu. Sabar dan ikhas, itu modal yang tak akan pernah usang apalagi usai.

Malaikat kecilmu, Naya, ia adalah bukti betapa Tuhan Maha Baik untuk hidupmu. Ia percayakan satu makhluk indah di penjagaanmu. Jiwa mungil malaikat kecilmu itulah yang akan terus kau jaga seumur hidupmu, bahkan lebih dari itu.

Selamat milad, adek sayang. Kau adalah satu kisah indah, kau adalah satu bukti kasih. Dan menjadi bagian dari hidupmu adalah satu pemberian terbaik Allah padaku. Semoga hidupmu selalu dialiri barokah. Allah makin sayang padamu. Love you, sist...

Thursday, October 06, 2011

(337) Pilihlah, Tegak atau Tunduk?

Apa yang lebih mengecewakan dari harapan yang hilang? Begitu kata Gie. Ya ya ya, kalau saya bisa bertemu dengan Gie, saya ingin bilang bahwa harapan yang hilang memang mengecewakan. Tapi bukan berarti hidup harus terhenti karena kehilangan itu. Kita harus tetap berjalan, kawan. Harus ada harapan baru. Harus ada mimpi baru yang dibangun lalu rangkai dengan usaha dan ikhtiar baru.

Itu pula yang ingin kusampaikan padamu, saudaraku. Betapapun sulit kau hadapi kenyataan hari ini, tapi inilah kenyataannya. Hidup harus dijalani dengan kepala tegak sehancur apapun hatimu. Pedih hari ini tak akan ada tanpa alasan apapun. Yakinlah, ini satu lagi cara Allah menempa hatimu, jiwa juga hidupmu. Jika harapan yang kau bangun hari ini harus hancur berkeping keping, tak perlu punguti kepingan itu. Bangun harapan baru, bangun jiwa barumu.

Satu hal, bahwa hanya yang terbaiklah yang akan terjadi dalam hidupmu. Hanya yang terbaiklah yang akan berlaku untukmu. Dan jika hari ini adalah pahit, maka jelas harapan yang kau bangun selama ini memang bukan yang terbaik. Tak perlu tangisi begitu rupa, tangisilah sewajarnya. Sekedar membiarkan air mata itu turun membasahi hati, mengaliri jiwa lalu menyembuhkan luka. Lalu berhentilah di titik ini. Titik yang sebenarnya sudah begitu lama kau lihat hanya kau terlalu naïf untuk mengakuinya.

Ada kebahagiaan lain yang sedang Tuhanmu siapkan untukmu. Jadilah pribadi kecintaan Tuhan dan bahagia itu akan datang tepat pada waktunya, tak pernah terlambat, tak pernah terburu buru. Buka hatimu, lihat sekelilingmu, nikmati hari harimu, dan bahagia pasti akan menyapa.

Melangkahlah gadisku, melangkahlah. Di dunia ini, hanya satu orang yang ingin melihatmu terluka dan penduduk sisanya menginginkan bahagiamu. Tinggal kau yang pilih, mengecewakan seluruh dunia dan membahagiakan satu orang dengan berurai luka serta hidup yang menyedihkan atau tegak berdiri membahagiakan seisi dunia dan mengecewakan satu orang bodoh yang tak menyadari indahmu. Pilihan di tanganmu.

#ditulisdengancintauntuksaudaratersayang

Saturday, October 01, 2011

(332) Setahunmu, Papa

Pagi itu, Fajar baru saja menggantikan tugas bulan. Baru saja cahayanya masuk melewati kisi kisi jendela rumah sakit. Baru saja akan menghangatkan wajah indahmu. Pagi itu, Saat kupikir masih ada harapan yang bisa kugenggam di awal hari. Saat kupikir masih bisa menikmati lagi membelai punggung tanganmu. Saat kukira, masih akan kutemui banyak doa kekuatan untukmu. Namun ternyata, terbitnya fajar adalah perpisahan denganmu papa. Engkau memilih meninggalkan kami pagi itu. Engkau menemui mama pagi itu dengan terburu buru

Setahun berlalu, pa. Setahun tepat aku tak lagi bisa membelai lembut wajah dan mencium tanganmu, tangan yang menidurkanku saat kecil, tangan yang memapahku saat terjatuh, juga tangan yang mengusap kepalaku saat aku lemah dan tangan itulah yang selalu mendoakanku tak henti. Papa, bau keringatmu masih kucium hingga kini karena dengan keringatmulah aku bisa hidup sampai di titik ini. Dengan peluhmu, aku tumbuh

Setahun papa, setahun yang sulit untukku menjalani hari. Jangan ditanya keikhlasanku. Sungguh aku ikhlas karena engkau jauh lebih bahagia disana. Namun ijinkan aku bertanya . Sudahkah kau temui mama disana? Bagaimana ia sekarang? Ah, pasti sangat cantik. Tolong katakan padanya, aku merindunya sama seperti aku merindumu. Kalian berdua pasti sedang berbahagia disana. Aku masih ingat di hari hari akhirmu, kau bilang melihat mama yang sedang memanggilmu. Sedih mendengarnya kala itu tapi juga bahagia karena kalian masih saling merindu. Ah, aku sungguh merindu kalian berdua. Titip doa ya pa, ma, untuk bahagiaku juga

Papa, meski aku tak lagi bisa melihatmu, mata hatiku tau kau ada. Aku akan membuat papa dan mama bangga karenaku. Aku merindu kalian sangat. Baik baik disana pa. Semoga kau dapatkan tempat yang indah disana, didampingi bidadari kita bersama, mama….

(1 Oktober 2010 – 1 oktober 2011)


Catatan : mengenang setahun kepergian om Saleh Pelu

Thursday, September 29, 2011

(330) Perempuan Agung


Ada manusia yang terlahir dengan sejuta rasa
Rasa yang dibalut dengan kasih sayang tak putus
Melihatmu bunda, adalah syukur tak henti
Telah menjadi satu dari putrimu yang masih saja tertatih mencintaimu

Mencoba mengertimu adalah hal yang terus kulakukan
Memahami maumu adalah hal yang masih terus kuupayakan
Karena aku kadang tak mengertimu, bunda
Tapi yang kuyakini, yang terbaik untukkulah yang menjadi inginmu

Bunda, di doamu selalu ada nama kami
Kami yang masih saja membuatmu meneteskan air mata
Kami yang masih saja menggores luka di hati
Kami yang masih saja memupuk kecewa di batinmu

Maafkan bunda,
Aku kehilangan kata di hari indahmu ini
Tak kutemukan kata kata indah yang mampu menandingi indahmu
Sungguh, seluruh keindahan bumi luruh jatuh di kakimu

Selamat Milad Bunda..
Usiamu yang bertambah, menegaskan kau tumbuh dengan keringat kasih sayangmu
Kau hidup dengan semangat mempersembahkan yang terbaik untuk kami
Maafkan belum mampu membalas semua itu

Bunda,
Letihmu adalah nadi hidup kami
Senyummu adalah darah kami
Penuh cinta untukmu bunda………
Semoga kelak ku mampu persembahkan senyuman terbaik untukmu

Hatimu ibu..
Adalah tempat aku kembali
Kemanapun raga ini pergi.

#ditulis untuk milad bunda yang ke 59. Semakin mencintaimu, ibu..

Thursday, June 16, 2011

(225) Ibu.. Kau Cahaya


Baru saja berdiskusi dengan seorang sahabat tentang ibu. Dan aku merindunya lagi malam ini

Diskusi tentang ibu dengan seorang sahabat sebelum tidur ini, justru buatku tak bisa tidur. Aku lapar akan hangat tubuhnya

Ingin sekali bisa membahagiakan ibu di sisa usiaku ini

Ingin sekali bisa memenuhi kemauannya secepat mungkin.

Ibu, semua hidupku untukmu

Ibu, sedang apakah kau disana? Lelapkah tidurmu? Sehatkah engkau? Ingin mendengar suaramu tp detik ini tak mungkin

Ibu, kalau aku kembali, kita akan ulang episode secangkir teh di teras rumah. Sore hari jelang maghrib. Berdua, hanya berdua

Padamu ibu, aku titipkan doa tentang bahagia. Hadiah kehidupan yang kau berikan,tak mampu kubalas meski berkalang nyawa.

Sehat sehat disana ya bu. Aku sayang ibu. aku ingin suaramu mengawali hariku pagi nanti. Aku sayang ibu

Monday, February 21, 2011

(109) Sepi Perantau

Rumah sepi. Akhirnya hatiku juga jadi berasa sepi. Entah mengapa satu hari ini agak mellow dan menggalau. Mungkin karena sepi ini menemani dan menegaskan bahwa aku sedang berada jauh dari orang orang yang kusayang.

Gak kuliah, gak kerja, judulnya tetap saja merantau. Capek sebenarnya tapi ini hidup yang kupilih untuk dijalani. Ini aku dikirim Allah kesini. Ingin bisa berkantor di daerah yang sama yang aku sebut rumah. Pulang kantor langsung bertemu orang tua dan bukan hanya sekedar ruangan 3 x 4 tempatku melepas penat.

Ah, semoga ini bukan keluhan. Ini tetap harus kusyukuri..

Saturday, February 19, 2011

(107) rumah lama

pasca bakudapa dengan rekans Arumbai, saya melanjutkan agenda bersama adek, ipar dan ponakan. sudah lama menjanjikan ini tapi baru sekarang bisa terlaksana. berempat kami ke ke ef ce urimessing, menikmati suasana ambon di sore hari. family gahering ini berakhir lewat dari jam 5 dan kami belum ashar. masjid yang terdekat adalah masjid al-huda di ponegoro. maka disanalah kami menuju.

dari sana, kami mau pulang lewat jalan biasa tapi tiba tiba terlintas untuk melalui jalan masa kecil dulu. daerah ponegoro ini adalah daerah tempat ngaji semasa kecil yang letaknya bertetangga dengan daerah airmatacina a.k.a amaci, daerah rumah lama sebelum pindah ke rumah sekarang 13 tahun lalu.

melewati tempat ngaji, tempat belanja cemilan cemilan waktu ke ngaji. semua sudah beda. dan sampailah kami di depan rumah lama. iseng, saya pengen tahu adakah yang tinggal disana? sudah direnovasikah? atau?

ternyata skarang yang tumbuh disana adalah ilalang. senang ada disitu untuk sementara waktu. sayang, foto yang kuambil tadi belum bisa upload skarang. kapan kapan akan ditambah gambarnya.

Friday, February 18, 2011

(106) Dan Saya Pun Pulang

Luma Sigite..Tanah Barakate

Pada akhirnya saya pun harus pulang, kembali melanjutkan hidup meski masih didera kehilangan mendalam. Meninggalkan Desa Luhu yang entah kapan bisa datang lagi. MAsih banyak keluarga besar disini, disinilah saya berasal. Namun magnet yang selalu memanggil saya pulang sudah tiada. Kakek, satu alasan terbesarku untuk selalu menyempatkan waktu ke Luhu sudah tiada. Ah, kembali merindunya. Tak ada lagi episode teras bersama, episode meja makan dan episode pata cengkeh.

Baba, Tata, Tete Haji, aku masih saja merindumu. Episode kita terlalu cepat. Aku masih ingin kau ada disini, menemaniku tumbuh, mendampingiku menikah, memperkenalkanmu dengan makhluk kecil yang akan memanggilmu tete oya, membelai rambutmu sekali lagi.

Tata, eby pulang sekarang. Tapi eby janji, eby akan datang lagi, menemuimu di tempat peristirahatanmu sekarang. Kita akan bercanda lagi, tata.

Dermaga Perikanan Desa Luhu

Rumah Tua. Di Terasnya, kenangan bersama Tete Haji membanjir

Senja di Kampung Baru

Jemur Cengkeh, salah satu episode bersama tete Haji

Batu Kapal, salah satu tempat bersejarah di Desa Luhu

sumber gambar dari sini

Wednesday, February 16, 2011

(104) Baba, Eby Rindu...

Diguyur hujan sore ini, tanah Desa Luhu basah, sebasah hatiku. Kosong sudah, ada satu ruang di hatiku yang tiba-tiba merindu sosok terkasih. Kejadiannya begitu cepat. Kemarin siang, sekitar pukul 12 lebih 15 menit, mendapat kabar kalo Kakek tercinta di Luhu terjatuh di depan pagar rumah karena merasa pusing. Setelah ditensi, darah Tete Haji (begitu ia biasa kami panggil) tinggi sekali, 220/190. Dan itu bikin beliau tidak bisa bicara. Kabar itu membuat kami sekeluarga memutuskan besok (hari ini, red) pulang menjenguk beliau. Begitupun dengan keluarga yang di Sorong dan Masohi. Baru 10 menit dari berita jatuh itu, baru 10 menit, ada sms masuk yang benar-benar menggetarkan jiwa. sms itu berbunyi singkat namun mempu meruntuhkan benteng airmataku.

"Ass.cha,baba meninggal."

Itu saja, sesingkat itu namun mampu bikin saya teriak-teriak dalam rumah tak percaya dan mengabari keluarga yang lain. Saat itu juga, kami bersiap menuju desa Luhu.
Dan sore tadi, setelah keluarga dari Sorong dan Masohi datang, beliau pun dimakamkan. Ketika melihat beliau dan mencium keningnya untuk yang terakhir, rasanya tak percaya beliau sudah pergi. Baru 2 bulan lalu menemui beliau disini, sehat, bercanda di teras rumah seperti biasa, dan kedatangan kali ini tak lagi menyisakan senyum untukku. Mengantar beliau ke tempat peristirahatan seperti sedang membawa beban berton ton beratnya di kaki. Kakekku telah tiada, dan itu baru benar-benar kusadari saat aku melihat tanah terakhir yang ditutup di atas kuburnya.


Semua episode bersamanya terputar kembali. Setiap kami datang, beliau selalu menyambut kami dan duduk bercanda di teras. Setiap ada tugas dinas di luhu, atau memang ada waktu, selalu kusempatkan menyapanya di rumah tua dan menemaninya mengobrol sejenak. Tak pernah lama memang, tapi beliau tak pernah marah. Dikunjungi oleh cucunya adalah sebuah kebahagiaan di sela hari tua beliau. Satu episode pernah kurangkai bersama beliau di sini dan membacanya kembali sukses menggugurkan airmataku lagi dan lagi. Beliau dengan cinta ke pohon duren untuk mengambil durian ketika saya mengunjungi beliau di Luhu tahun 2007 lalu. Padahal saat itu lagi musim durian, bisa saja beliau beli dan kasi saya makan sepuasnya, Tapi tidak, setelah subuh, tanpa alas kaki beliau ke hutan yang entah berapa belas kilo itu. Pejalanan hanya untuk memberiku durian hasil petikannya sendiri. Hanya satu saat itu, hanya satu, tapi itulah durian ternikmat yang pernah saya rasa.


Tete, eby rindu sekali duduk lagi di teras rumah bersama tete, cerita hingga tak kenal waktu. Eby rindu sekali saat-saat makan bersama tete di meja makan panjang kita. Kalau saya atau cucu-cucunya yang lain datang ke Luhu, beliau hanya mau makan jika kami ikut makan bersamanya di meja makan.
Aku merindunya. Aku sangat merindunya.

Tuesday, February 15, 2011

(103) Precious



Baru saja menonton film "Precious" di HBO. Film yang dibintangi oleh Gabourey Sidibe, Mo'Nique, Paula Patton, Lenny Kravitz, Mariah Carey, Sherri Shepherd.
Dikisahkan bahwa Claireece 'Precious' Jones yang diperankan oleh Gabourey Sidibe adalah seorang gadis yang tak diharapkan kelahirannya. Dalam usia 16 tahu, ia telah memiliki 1 anak dan sedang mengandung anak kedua. Kedua anak tersebut dia kandung setelah diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Itu pula yang membuat setiap hari dia mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari ibunya.
Gadis berkulit hitam dan berbadan besar ini menjalani masa masa suram hidupnya, dengan menerima tekanan dari rumah maupun di sekolah. Tak ada seorang pun yang mau berteman dengannya. Suatu saat, Precious terancam dikeluarkan dari sekolah kecuali ia mau mengikuti program khusus satu guru untuk satu siswa. Di bawah bimbingan Ms Rain (Paula Patton, Precious berhasil melewati masa-masa kelamnya.

Saya ingin fokus pada lingkungan sekitar. Procious sebenarnya punya tekad yang kuat untuk maju tapi lingkungan di sekitarnya yang selalu menghujani dia dengan kata-kata negatif. Rendah diri kadang muncul dari situ. Lingkungan adalah salah satu faktor seseorang bisa berubah atau tidak. Meski semua kontrol ada pada diri sendiri, tetap saja kita harus mencari lingkungan yang "sehat" sebagai tempat kita berkembang. Untuk itulah, saya selalu memprotect keponakanku, Naya, untuk tak mendengar kalimat negatif dari lingkungan sekitar. Kalimat-kalimat yang bernada menjatuhkan. Karena dia harus tumbuuh di lingkungan yang positif, lingkungan yang mendukung di auntuk tumbuh kembang menjadi generasi yang berkualitas.

Mari kita biasakan kalimat-kalimat positif terhadap siapapun, ciptakan lingkungan yang sehat dimanapun kita berada.

gambar dari sini

Sunday, February 13, 2011

(101) Hati-Hati


Buat semua yang berkendaraan, mohon berhati-hati. Karena ketidakhati-hatian anda bisa menyebabkan musibah bukan cuma buat anda, tapi juga orang lain.
Ini yang bisa saya bilang untuk semua yang menggunakan jalan umum. Setelah dua orang adik saya yang ditabrak motor yang melaju dengan kecepatan tinggi saat mereka menyebrang. Memang anda bertanggungjawab dengan mengantar ke rumah sakit, juga untuk menyelesaikan semua administrasinya. Namun, bagaimanapun itu tidak membayar waktu mereka yang terbuang tak bisa beraktivitas seperti biasa, tak bisa menggantikan air mata serta keresahan seorang wanita, seorang ibu, yang mendengar kabar anak-anaknya kecelakaaan di rantau. Tak bisa pula menggantikan risau serta debar kencang seorang ayah yang mengkhawatirkan dua buah hatinya.

Berhati-hatilah kawan.

sumber gambar : vienacmblnewh.blogspot.com

Tuesday, February 08, 2011

(96) bunda

pada dinding cemara
kutautkan satu rasa
untuk seorang bunda
yang penuh cinta

bu,
saat ini bersamamu
namun aku merindumu
senyum lembutmu

bunda,
banyak cinta terlayang dalam doa
hinggap pada keinginanmu bahagia
aku,anakmu, mencintaimu selamanya