Showing posts with label Blogger. Show all posts
Showing posts with label Blogger. Show all posts

Friday, January 27, 2012

Saya - Arumbai - 2011

Begitu pagi menyapa di 27 Januari 2012 ini, seperti merasa ada yang lain. Ada yang belum selesai yang harus kulakukan. Ingat punya ingat, baru teringat di tengah hari bahwa ini hari terakhir pengumpulan tulisan tentang Refleksi Arumbai 2011.

Refleksi? Apa itu refleksi? Mau Tanya ke mbah gugel tapi ini koneksi benar benar menguji kesabaran. Kamus Besar Bahasa Indonesia pun saya tak punya. Jadi apa itu Refleksi? Eng ing eng… Tulisan ini pending 15 menit buat nunggu mbah gugel atau om wiki tapi sama saja. jadi ya sudahlah, Saya menulis berbasis makna refleksi yang saya tau saja. Entah benar atau salah.

2011 lalu, tak banyak kebersamaan saya dengan Arumbai. Di akhir bulan ke dua, saya dengan sadar ke negeri orang, dan baru kembali di bulan ke delapan. Saya melewatkan banyak momen bersama Arumbai terutama perayaan ulang tahun ke-2 Arumbai dengan pemutaran video lini mas(s)a di Gong Perdamaian juga beberapa pelatihan, kecuali makan duren bareng di Pantai Losari di bulan Mei.

Lalu apa yang bisa saya refleksikan dari Arumbai di 2011? Entahlah, otak saya masih bingung mengurai. Beberapa event Arumbai di triwulan terakhir 2011 pun tak maksimal saya ikuti karena ada agenda masa depan yang harus saya siapkan. Tapi, itu semua tak bisa mengubah makna Arumbai di hati saya. Jatuh bangunnya Arumbai (yang paling bisa merasa ini adalah Tanase), lalu rencana yang banyak tapi sedikit yang bisa dilaksanakan karena pendeknya tangan dan nafas. Belum pula terlaksana kopdar akbar Arumbai sampai detik ini, lalu agenda jalan jalan akhir tahun yang lama dinanti tapi tak matang matang dibicarakan hingga akhirnya gagal.

Ya, mungkin itulah refleksi saya. Banyak sekali mimpi, tapi tak cukup tenaga dan nafas untuk wujudkan. Tanase yang jatuh bangun, dan melakukan banyak hal untuk Arumbai, belum diiringi kebersamaan yang kuat dari teman teman lain *termasuk saya :-( *. Semoga saja Tanase tidak lelah memandu perjalanan Arumbai ini meski ombak sering menyapa dan sedikit yang bisa mendayung.

Dan harapan 2012? Tak banyak. Apa yang tak bisa di 2011, semoga lancar di 2012. Kopdar akbar, solidkan barisan, lalu berkarya nyata untuk Ambon, untuk Maluku, untuk Indonesia. Berlebihankah? Baiklah, setidaknya bisa membuat pribadi pribadi Masnait menjadi pribadi yang lebih baik, lebih arif memandang hidup, lebih tenang, lebih cinta sesama, lebih berani ikut dalam barisan pemberi manfaat.

Bahasa saya kenapa jadi sok sok-an gini ya? Intinya begitulah. Saya bangga jadi bagian Arumbai, dan menyayangi semua Masnaitnya (Tanase-nya juga) *hening*

Saturday, November 12, 2011

Ganti Kulit

Dari kemarin kemarin ingin sekali ganti template. Sebenarnya kalau mau dibilang, template lama lebih menarik dari template yang sekarang tapi settingan template itu tidak memunculkan tanggal postingan pada body postingannya. Buat blogger seperti saya, entah blogger lain, tanggal cukup berpengaruh. Karena dari situlah, kita bisa liat update tidaknya sebuah blog atau apakah tulisan yang sedang kita baca adalah tulisan terbaru atau postingan lama.

Dan setelah gugel sana gugel sini, nemu banyak template blog 3 kolom yang menarik tapi downloadnya itu lho, susaaaah. xml-nya gak nemu nemu. Atau saya yang kurang eksplor ya. Ya sudahlah, kapan kapan kalo saya punya cukup waktu dan koneksi yang lebih baik dari sore ini, mungkin akan cari template baru lagi. Yang penting sekarang sih, tetap tiga kolom dan tanggalnya muncul. Mau ganti gambar header dengan senja dari jembatan pulau Osi tapi uploadnya gak rebes rebes.

Cukup sekianlah untuk sementara ini.

Wednesday, August 17, 2011

(287) #17an


Tahun ini bisa dibilang tahun yang unik untuk bangsa Indonesia. Perayaan kemerdekaannya persis di 17 Ramadhan, sama persis dengan 66 tahun silam, Proklamator bangsa ini mengumandangkan proklamasi di 17 Ramadhan pula. Semoga saya tak salah soal ini. Melihat kenyataan ini, seharusnya semangatnya adalah semangat yang sama dengan 66 tahun lalu. Bukan sekedar upacara kenaikan bendera yang sama dengan setiap hari senin, hanya kurang mewah saja. Ulang Tahun Republik ini memang momen yang pas untuk evaluasi, memberi masukan positif pada bangsa. Namun saya tak sedang ingin mengambil bagian. Kritik, evaluasi, pesimis, dan keluh sudah sepanjang tahun kita lakukan. Hari ini saya hanya ingin merayakan, saja…….

Rangkaian upacara yang saya ikuti dari lapangan upacara Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat tergambar lewat tagar #17an dari akun twitter @febry_w berikut :

1. Sedang di lapangan. Tp saya pengen ada di tribun, biar gak panas ikut upacara #17an

2. Riuh ramai peserta upacara #17an di lapangan piru. Barisan murid SD dan SMP tampak ceria. Smg jiwa merdea mereka masih menyala

3. Ke kanan, ada barisan SMA dalam jumlah banyak. Semoga mereka pun masih mencintai Indonesia,meski konsep pendidikan kadang menyusahkan mereka #17an

4. Kanannya ada barisna pramuka. Muda dan bersemangat. Merekalah penjaga obor setia pada karya, bakti pada Negara #17an

5. Sirine sudah berbunyi. Sepertinya Bupati SERAM BAGIAN BARAT semakin dekat dengan lapangan upacara piru #17an

6. Lanjut soal barisan, barisan korpri di sebelah barisan pramuka. Berdiri di balik baliho besar, cari somber #17an

7. Penyerahan bendera kepada Wakil Bupati Seram Bagian Barat. Sumpah, saya merinding. Negara ini masih ada… #17an

8. Kanan korpri, ada satpol PP, kejaksaan, POLDA, Brimob dan TNI. Rapi sekali. Mereka penjaga tanah tumpah darah dengan nyawa taruhannya #17an

9. Sirine, beduk mesjid dan lonceng gereja dibunyikan serentak pada detik detik proklamasi. Tuhan, jaga Negara ini tetap kokoh #17an

10. Proklamasi dibacakan oleh Ketua DPRD Kab. SBB. Sdh 66 kali dibaca di bumi. Mungkin semangatnya tak lagi sama, tp harapan tetap ada #17an

11. Bendera sdh dikibarkan. Seluruh rangkaian acara telah selesai. Lagu lagu perjuangan sedang dinyanyikan. Indonesia oh Indonesia #17an

12. Ada mengheningkan cipta di awal acara td, mengenang mereka yang berkalang tanah demi tegaknya Negara ini. Adakah kita sedang berkhianat? #17an

Selanjutnya, saya hanya ingin merayakan ulang tahun ini. Perayaan ke 66 karena mungkin saja 66 tahun dari sekarang sudah tak lagi bisa mengikuti perayaan yang sama. Berkeliling pulau Seram, pulau tempat nenek moyangku dilahirkan, cukup membuka mata bahwa Indonesia begitu kaya. Indonesia tak pernah kekurangan apapun. Laut, darat dan udaranya adalah harta yang melimpah. Indonesia dapat hidup hanya dengan pohon sagu. Kelaparan bisa saja sirna, gizi buruk bisa saja tak ada lagi. Kemiskinan seharusnya tak ada dalam kamus bahasa Indonesia. Ah, mengapa kini saya meracau galau lagi? Bukankah tadi sudah bertekad tak ada kesah? Ataukah inilah Indonesia, bahkan untuk menahan keluhan atasnya pun sulit.

Di balik kekayaan yang Indonesia miliki, masih saja jeritan panjang dan lama anak bangsanya terdengar dari setiap jengkal buminya. Adakah pejuang yang berkalang tanah menyesal membebaskan bangsa dari penjajah? Karena saat ini justru para anak bangsa saling menjajah. Atas nama keserakahan, perampokan hak anak bangsa yang lain terjadi dan dilakukan oleh orang orang berdasi yang mengaku cinta Indonesia.

Sudahlah, tak tepat rasanya saya meracau disini karena saya pun belum berbuat apa apa untuk Indonesia. Belum mengabdikan sebuah karya untuk Indonesia yang lebih baik. Saya hanya bisa berkata bahwa meski belum berbuat apa apa, tapi urat nadi saya adalah Indonesia. Saya besar dari air dan makanan yang bangsa ini miliki. Saya menghirup udara yang Allah berikan di Negara ini meski kadang terkotori oleh rokok anak bangsa yang lain. Saya tidur di atas tanah yang Allah percayakan pada Indonesia. Dan saya menjadi bagian dari anak Maluku, daerah yang turut memerdekakan Indonesia meski hingga sekarang tak maju maju seperti di wilayah barat sana. Saya cinta Indonesia, itu saja. Sekian

Monday, April 04, 2011

(151) Untuk Maluku, Arumbai Ada.

4 April adalah tanggal yang tak bisa lepas dari hidupku. Di tanggal ini, 2 tahun yang lalu kami bertemu untuk pertama kalinya di Kafe Seroja. Menjadi bagian dari pertemuan perdana rasanya menyenangkan. Seperti bersama sama melahirkan sesuatu dan bersama sama pula merawatnya.

Dari MBC, KBM, wacana BBM (Beta Blogger Maluku) hingga kemudian berakhir dengan nama Arumbai. Disinilah kami sekarang, para jojaro dan mongare Ambon berkumpul menyatukan ide dan cinta pada Ambon lewat tulisan kami di dunia maya dan aksi kami di dunia nyata. Merayakan #2 tahun Blogger Maluku ini, setiap kami memposting tentang keterikatan masing-masing dengan komunitas. Kalau cerita soal awal terbentuk, sudah ada tempatnya di arumbai.org, kalo soal Seroja, juga sudah ada di sini dan sini. Jadi yang mau saya bahas disini adalah bagaimana para Arumbai-ers tiba tiba hadir dalam hidupku dan menjadi salah satu bagian penting.

Dimulai dari Tanase, almas, tulisan-tulisan almas banyak tentang idealismenya sebagai seorang pemuda Ambon. Dia sering “menyindir” untuk perbaikan dan kadang menohok serta menyentil kebanggaan sebagai putra Maluku.

Lalu Om Embong sekeluarga, keluarga kecil yang besar *dijitak* yang selalu dengan kaos hitam dan tenteng kamera kemana-mana. Ya iyalah, fotografer professional gitu lho. Meski blog sering tidak ter-apdet, meski prioritas utama adalah foto, tapi selalu ada support bagi kami di Arumbai, jarang ikut kopdar tapi sekalinya ikut, langsung brilian ide-idenya.

Lanjut dengan Mas Mamung, tulisannya bagus bagus, kasi banyak pencerahan. Kadang memposting hal sederhana yang tak lazim macam postingan soal jongkok atau duduk. Ide ide konyol dan kata kata spontan sering muncul dan bikin terpingkal.

Kemudian om Dharma, blogger ini selalu serius. Ya postingannya, ya kalo ketemunya. Kurang becanda-nya kalo sama Om Dhar, bawaannya seriuuuuus terus.

Iki dan Ello, dua alumnus pelat IAIN, angkatan lampu mati. Iki selalu tau apa yang dia mau dan tidak berhenti di kata tapi juga karya. Ello, cerpenis muda yang selalu semangat menelorkan karya dan membuat resensi dari banyak buku yang sudah dia baca, saya sering dibuat terkagum dengan tulisannya.

Ada bung Semmy Toding, apa ya? Apa ya? Pemuda asal Toraja ini banyak ilmunya. Tapi sedikit jaim.

Nia, perempuan jogja yang sedang merantau di Ambon, ramah, ketawa terus, sadar kamera dan celetuknya sering anh bin ajaib. Tulisannya mengundang senyum.

Hari Nugroho, nyong Tegal yang lucu, seru, postingannya sering narsis, sedang mencari jodoh *wkwkwkw* dan tabah *preet*. Saking tabahnya, sering dia diusili oleh kami, tapi gak pernah marah. Mungkin karena dia pikir, dosa dia dipindah ke kita kali ya.

Ada juga Ical dan Ary, alumni pelatihan IAIN yang jarang jarang ketemu tapi sering meng-gila kalo ketemu.

Terakhir Opa Brad, admin Arumbai yang cocok jadi anggota dewan (kata Mas Mamung), karena selalu menampung semua aspirasi kami. Baru sekali ketemu, meninggalkan kesan ramah dan bersahabat.

Ada juga yang lain seperti Sem dan Noel (baru pertama ketemu), Dhanie dan Sarah (gak pernah ketemu) dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu satu karena keterbatasan saya.

2 tahun ini sudah banyak yang kami lakukan sama sama, meski hanya dalam bentuk kopdar di berbagai tempat. Di tahun kedua ini, Arumbai berkomitmen untuk merangkak dan mulai berkarya, bergandeng tangan dengan komunitas komunitas lain di Maluku untuk satu kata, Maluku Maju. Ada banyak yang bisa kami lakukan dan mengajak semua elemen melakukan bersama. Lingkungan kita, seni kita, budaya kita, pariwisata kita, sejarah kita, semua untuk #ArumbaiTomma untuk Maluku. Kami berhimpun, menyatukan perbedaan, mencoba melahirkan karya nyata, memadukan mimpi dan aksi. Meski ada kesedihan karena tak bisa bersama #arumbai saat ini, semangat #tabaos Arumbai menyumbang senyuman lebar di setiap pagiku.

Etapi, di setahun setengah pertama, dengan tidak mengurangi rasa hormat pada Tante Ivon dan Tiara (kan mereka satu paket dengan Om Embong), saya jadi yang paling cantik. Di setengah tahun terakhir ini, hadirlah nia dan sarah yang meramaikan dunia blogger Maluku. Saya yakin masih banyak wanita wanita cantik Ambon di luar sana yang punya blog. Gabunglah bersama kami. Akan ada keluarga baru, persahabatan baru dan tak akan disesali. Saya disini, mendapat satu keluarga baru yang jumlahnya cukup buat jadi panitia pernikahan saya nanti *tsah*…

Kalau diijinkan berbagi mimpi, saya punya mimpi untuk Arumbai. Kita punya rumah baca, kita punya kelompok belajar bagi anak jalanan, kita ada di setiap even penting Kota Ambon, kita punya merchandise, kita punya buku, kita punya usaha kuliner, kita punya agen wisata sejarah dan wisata ke pulau-pulau, kita punya toko buku, kita punya banyak. Pelan pelan kita wujudkan semua impi kita. Dengan senyum dan hati yang terikat dalam semangat #manggurebe tomma maju, beta yakin katong bisa.

Selamat Ulang Tahun keluarga Arumbai-ku. Banyak cinta untuk kalian. *peluk peluk*

  • Postingan ini dalam rangka Ulang Tahun Arumbai yang ke-2, hari ini 4 April 2011.
  • Puncak acara Ultah ke-2 Arumbai berupa Tabaos Arumbai yaitu Nonton Bareng Film Linimas(s)a dan Seminar Internet Sehat: Ambon, 8 – 9 April 2011.

Saturday, February 05, 2011

(93) Kopdar Blogger Maluku



Yeyay... Kopdar lagi.. lagi-lagi kopdar. Ketemu lagi sama basudara blogger maluku. Kali ini Kafe The Street, terletak di Jalan A.Y. Patty, depan Swalayan Planet. Kafe ini sudah setahun berdiri tapi baru kali ini masuk situ. Awalnya sih dapat bisik bisik tetangga kalo disitu cuma menu ikan, sedikit porsinya. Makanya saya gak pernah kesitu, malas saja sudah kesitu tapi porsinya sedikit. eh tapi, ternyata tidak saudara-saudara. Mungkin karena tetangga yang bisiki saya itu gendut kali ya, yang porsi makannya memang tidak normal. hehehehe....

Yang hadir kali ini, saya, mas mamung, om dharma, harry, nia, sem, wiwied dan ichal.


hmmm...sebenarnya saya mau cerita apa ya?
oiya, ada beberapa hal nih.

1. Komunitas Blogger Maluku mau ganti nama. Ada ide?
2. 2 bulan lagi blogger maluku ultah, ada ide untuk bersihkan pulau pombo. Pulau indah yang sudah tidak indah lagi karena sampah orang orang yang ngakunya kesitu menikmati indahnya
3. Bulan maret kita tetap harus bikin workshop internet sehat lho ya. Ayuk, ngobrol serius lagi tentang ini


Itu dulu untuk sekarang. Sampai jumpa di kopdar berikutnya.

foto diambil dari harry cenat cenut

Tuesday, February 01, 2011

(89) Kopdar bersama Anging Mamiri

Dear bloggerwan dan bloggerwati,

surat ini saya tulis sepulang saya bertemu dengan rekan-rekan blogger dari kota Daeng, Makassar. Sebelum keberangkatan saya ke Kota Daeng, saya sudah mengabarkan lewat blognya Daeng Ipul. Sok penting banget ya saya. Tapi begitulah, kalau ada kesempatan bertemu dengan rekan blogger, kenapa tidak?

Nah, setelah dapat sms kalo kopdarnya itu di IGO Cafe, bertanyalah saya kesana kemari, bagaimana supaya bisa kesana. Ketemuannya jam 7 malam dan baru di jam 7 itulah saya keluar asrama. jam Indonesia, ngareeeeet terus. Sampai di depan IGO, saya masih tebingung bingung, ini anak anak AM mana ya? Ada seorang bapak (atau anak muda? gelap, gak kelihatan) di parkiran yang tiba tiba bilang sama saya "cari anak anak anging mamiri? di atas".

wups, ternyata ini basecamp sampai bapak-bapak itu tau. Mungkin di-sms sama Nanie, turunlah Daeng Ipul menjemput kami. Sampai di atas, sudah berkumpul anak anak AM yang lain. Ada Unga, Tika, Anbhar, Daeng Takdir, Siapa lagi ya? lupa, banyak soalnya. Ada adek kelas juga ternyata. Banyaklah yang diomongkan. Meski yang lebih banyak omong memang tuan rumahnya. Saya sih ketawa ketiwi saja. Apalagi kalo sudah keluar dialek-dialek makasaar dari mereka, pikiranku melayang ke teman-teman jaman STM dulu, biasanya bercanda kayak gini sama mereka dulu.

Dan, entah mengapa, tiba-tiba saja saya teringat dengan komunitas blogger maluku saya. Teringat dengan Om Embong sekeluarga, Almas, Mas Mamung, Om Dharma, Iki, Ello, Lina, Hari dan Nia Cenat Cenut, teringat kisah kisah kopdar kita. Mulai dari Seroja, Sibu-Sibu (non formal), Joas (non formal), baguala beach, kafe pasir putih, KFC urimessing hingga di kantor Om Embong yang dulu, dan yang terakhir di Hilyah. Ditambah lagi pernah bekpeker akhir tahun bersama mereka. Aih, saya kangen mereka semua.

Dan, sepulang dari Makassar ini, kopdaran lagi yuk.

Friday, January 21, 2011

(78) Energi Berpikir Positif

dulu.. dulu waktu jaman STM, ada masa dimana saya benar-benar hidup dalam lingkaran positif thinking. Padahal saat itu hidup lebih berat, tekanannya lebih dahsyat. Banyak hal yang tidak bisa saya terima dengan akal sehat apalagi hati. Konflik batin ada tiap hari dan bom dalam kepala bisa meledak kapan saja. Namun karena saat itu saya memutuskan berpegang pada pikiran positif, semua jadi lebih mudah. Saya tidak gampang marah. rasanya apa yang saya hadapi itu selalu bisa diambil hikmahnya, selalu bisa diterima alasannya, saya jalani dengan mudah.

Semakin kesini, selepas kuliah dan sudah mengenal dunia baru, dunia kerja, dimana saya bertanggungjawab penuh pada diri sendiri, energi positif itu mulai berkurang. Mungkin karena saya menentukan apa apa sendiri, ego lebih keluar. Apa-apa maunya didengar. Juga mungkin disebabkan kedekatan saya dengan Allah melonggar. yah, masa-masa yang suram buat saya. Hati jadi lebih cepat kesal, ada rekan yang "lambat", langsung ngomel, makanan di warung gak pas, langsung protes, macam-macam. seringkali emosi tak terkontrol dan seringkali pula tercengang, seperti tak kenal diri sendiri.

Nah, sampailah di tanggal 1 Januari 2011 lalu, ketika saya dihadapkan pada sebuah masalah hati yang implikasinya buat saya lebih pada perenungan spiritual, lebih pada mengenal lagi siapa saya sekarang, bagaimana keadaan diri saya sekarang. Lalu, saya merindukan momen itu. Momen positif yang pernah begitu lekat. Saya putuskan untuk kembali bersahabat dengan positif, dan hari itu juga, masalah hati pun terselesaikan.

Well, sampai di sepuluh hari terakhir di bulan Januari ini, positif masih menemani saya kemana-mana. Dan luar biasanya, semuanya jadi lebih mudah. Hati jadi lebih ringan, dan enteng terus otak saya. Saya jadi lebih punya semangat dan emosi tidak terbuang percuma untuk hal-hal sederhana. Senyum pun bisa terus saya sanding. Semoga saya bisa menikahi positif ini selamanya.

Guys, be positive.

nb : gambar hasil pencarian mbah gugel, diambil dari tim69.blogspot.com

Friday, November 12, 2010

(8) 6 tahun 6 hari

Iseng mengobyak abyik blog tercinta ini, ternyata postingan pertama saya tertanggal 6 november 2004. Dan sekarang 12 November 2010. Waah, berarti rumah ini sudah 6 tahun 6 hari.

Banyak sudah yang tertulis. Membaca tulisan tulisan lama seperti melemparkan diri ke masa silam. Seperti melihat saya yang dulu. Kalau ada waktu lebih banyak, saya ingin obyak lebih jauh, siapa yang nyampah pertama disini. Mencari tahu kemana sahabat sahabat blog yang lama. Dan mengurai kisah kisah inspirasi lama.

Saya jabat tangan sendiri, Selamat 6 tahun 6 hari. Terimakasih telah membersamai saya, membiarkan saya menulis banyak hal gak penting disini. Terimakasih jadi tempat berteduh, ngomel gak jelas.

Semoga ke depan bisa bersama dengan lebih menebar manfaat

Friday, November 05, 2010

(1) tentang lara

Jelang 15 menit menutup hari pertama dr 365 day blog project. Mencoba posting sedari awal malam namun jaringan tak cukup bersahabat

Sebenarnya ingin posting tentang hal lain disini, ada tentang senangnya kopdar blogger maluku tadi, atau supir mobil yang saya tumpangi, atau angkot butut yang saya naiki. Tapi semua mendadak terpendam oleh lara melihat tayangan peristiwa merapi yang kembali beraktivitas..

Tak cukup kata mampu saya rangkai.. Meminta mereka bersabar dan ikhlas adalah tidak mudah karena saya pun belum tentu bisa sabar dan ikhlas jika di posisi demikian. Hanya bisa menatap kosong wajah wajah yang dipenuhi debu

Tak ada kata terucap. Semoga bisa terlalui.. Saya benar benar speechless

365 day blog project

5 november. resolusi bulan november saya adalah satu postingan satu harinya.http://www.blogger.com/img/blank.gif Sudah 4 hari berlalu dan alhamdulillah semangat posting masih terjaga.

Dan dari blogwalking sana sini, saya nemu blog mas deddy yang konsisten dengan project 365 day blog. Merasa tertantang, maka saya putuskan untuk nyemplung project ini juga.

Aturan yang saya pakai adalah one day one posting. tidak ada hutang, tidak ada deposit dalam kondisi normal. Sama dgn aturan main mas deddy. Namun, saya buat kelonggaran bahwa Hutang dan deposit boleh saya lakukan hanya jika ada hari dimana saya harus ke daerah yang tidak bersinyal. Mengingat bulan november desember ini, Saya juga punya project kantor yang mengharuskan saya turun lapangan ke beberapa desa no signal.

hari ini hari pertama, dan postingan ini belum termasuk 365 day blog project. selamat bergabung... ~jabattangansendiri~

Thursday, November 04, 2010

Seroja Part 2 yang Tertunda

Pasca PB 2010, blogger Maluku pun “iri” dengan perkembangan komunitas blogger di daerah lain. Salah satu maskot blogger maluku yang berjudul Almas berkesempatan mengikuti PB 2010 dan pulang dengan membawa cerita yang cukup bikin yang lainnya “jealous”. Mumpung semangat baru saja dipanasi, kami berencana berkumpul, bukan sekedar kopdar tapi seius bahas konsep blogger maluku yang kalo kata band Armada “mau dibawa kemana hubungan kita”. *dikeplak*.

FYI, pertemuan pertama blogger Maluku di tanggal 4 April 2009 di Kafe Seroja. Setelahnya berlanjut dengan banyak kali kopdar formal dan non formal. Lantas inilah saatnya Seroja Part 2, meski bukan di Kafe Seroja tapi dengan semangat yang dulu pernah berkobar di Seroja.

Then, lewat inbox fb, kami pun sepakat bertemu di hari Rabu tanggal 3 November kemarin. pukul 3 sore di Kota Ambon. Mengingat saya yang sedang terdampar di kota Piru yang berjarak 4 jam perjalanan, entah berapa mil laut itu, sudah menyiapkan diri sedari malam untuk mengikuti. Ijin kantor cuma setengah hari sudah kukantongi, ijin tidak mengikuti satu kegiatan di sore hari juga sudah didapat.

Jelang pukul 11, belum bisa meninggalkan kantor karena satu dan lain hal. Setelah menyelesaikan beberapa hal hari itu, berangkatlah kami, saya dan iwan (kerabat yang setia mengantar kemanapun saya pergi), dengan mengendarai sepeda motor menuju Waipirit. Saat itu, sudah pukul setengah dua belas siang. Jika tak ada kendala dalam perjalanan maka saya bisa sampai jam setengah satu dan menumpangi feri Waipirit-Liang jam 1 siang.

Baru saja meninggalkan Kota Piru, kami disambut hujan rintik, kecil, genit. Sisa sisa hujan lebat masih terlihat di jalanan yang basah. Bersyukur kami tidak berangkat jam 11 tadi, karena itu berarti akan kehujanan. Sembari menikmati rintik itu, kami berkelakar bahwa Tuhan juga tahu orang baik yang mau lewat, jadi hujan sudah selesai. Bukan maksud untuk takabbur atau apa, hanya sekedar menyenangkan hati dan berpositive thinking dalam perjalanan.

Hujan yang menggoda tapi tidak mengganggu ini menemani sepanjang setengah perjalanan. Mendekati desa Waisarissa, kami disambut hujan yang lebat yang memaksa kami harus berteduh di halte. Sayangnya, gunung yang sedang kami lewati ini tidak menyisakan tempat yang tepat untuk berteduh. Karena tak ada jas hujan, dan juga tak ada tempat berteduh, sementara halte masih 15 menit lagi perjalanan, mau tidak mau kami harus siap basah. Sesampai di halte, sudah banyak para pengendara sepeda motor yang juga berteduh. Dua puluh menit saya harus menunggu dengan gelisah sambil sesekali melirik jam yang justru bikin stress.

Hujan mereda sedikit, sedikit saja. Saya “memaksa” Iwan yang tanpa jas hujan, juga tanpa jaket, untuk melanjutkan perjalanan. Kembali berteman hujan, kami meneruskan perjalanan hingga Waipirit. Tapi begitulah, saya tidak ditakdirkan bertemu feri. Feri baru muncul pukul setengah dua. Dan biasanya, feri akan tambat di pelabuhan satu jam setengah untuk menurunkan penumpang serta menaikkan penumpang plus kendaraan-kendaraan.

Tiket feri sudah di tangan, namun hitungannya, kalau saya memaksakan diri berangkat, maka saya baru bisa bertemu dengan rekan-rekan blogger jam ½ 6. Dua setengah jam dari jadwal. Hmmm……. Setelah sms dan tlp, dengan sedikit merengek pada om Almas, saya meminta pertemuan diundur lagi. Meski sebenarnya bisa aja sih jalan tanpa saya. And, beberapa menit kemudian, telpon genggamku berdering dengan nama Almas di layarnya. Ia mengabarkan bahwa setelah kontak yang lain, agenda kopdar serius ini mundur 2 hari lagi alias Jumat. Uhuy senangnya, mereka memang menyayangiku *tsah…*

Saya pun kembali ke Piru dengan kembali basah. Hari kemarin judulnya adalah Mandi Hujan dengan rute Piru-Waipirit-Piru.

Terimakasih kepada Om Embong, Om Mamung, Pakde Dharma, Bang Almas dan Bung Semmy yang bersedia mengubah jadwal pertemuannya. Persohiblogan emang top, euy.

Sampai ketemu hari Jumat, dan mengutip kata Caca Ida Azuz “Mari katong bakaringat par ator negeri dan diri ini bae-bae supaya ada guna sadiki”

Catatan :

  1. Jangan kemana-mana tanpa membawa jas hujan (bagi pengendara sepeda motor)
  2. Saat posting ini ditulis, sempat terhenti karena bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa, menginspirasi dengan tindakan nyata bagi ummat. Wanita yang mampu tertawa saat sedih. Suatu waktu, insyaAllah saya akan menulis tentang wanita hebat ini.