Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts

Monday, December 19, 2011

Kado Pernikahan dari Vina...



Satu hadiah indah dari wanitaku, yang ditulisnya dengan penuh cinta untukku. Tulisan ini ada di blognya di sini. Saya postingkan lagi sebagai penghargaan mendalam atas kado indah ini.



(102) Matahari Meminang Gerimis
Monday, December 5, 2011

Langit Shubuh menyapa hari
Kilau jingga mengintip melalui awan pagi
Nyanyian ayam membangunkan setiap mimpi
Tetesan embun menyiramkan alam dengan beningnya

Jiwaku terbangun oleh lantunan ayat indah
Yang terdengar dari seberang bumi timur
Mengalun bersama hembusan angin
Terantarkan pada tiap sudut hati dalam dawaian riak ombak

Aku tahu...
Akan ada bahagia hari ini
Harum dan semarak surga telah hadir mengendap di hatiku dini tadi
Sebuah kebahagiaan dari Gerimisku
Yang terenda atas nama Allah
Gelaran Sajadah yang akan dihujani doa selamanya
Untuk dua hati yang bertaut dengan bismillah

Bening mengalir terjun membasahi tebing pipiku
Aku tidak sedih..
Hanya sebuah penyesalan
Yang hadir karena ketiadaanku di sampingnya
Disamping Gerimis... kala sang Matahari meminangnya

Jarak, waktu, tempat... telah memisahkan aku dengan gerimisku
Yang tengah bersuka cita menggenggam dan mencium tangan sang Matahari
Namun, ada hal yang aku janjikan padanya...
Nyanyian doa yang selalu terkata
dalam setiap hembusan nafasku
dalam setiap detakan jantungku
dalam setiap air mata sujudku kala terjaga
Untuk segala kebahagiaanmu.. yang kelak akan selalu kau rasakan selama hidupmu
Bersama Sang Matahari yang menjanjikan kehangatan bagimu
Untuk segala kemurahan yang Allah beri untuk keluarga kecil yang akan kau rajut
Doa itu aku yakini ‘takkan pernah terhalang oleh jarak, waktu, tempat
Atau oleh apapun...

Tersebab nyanyian lafadz ini telah kutitipkan pada angin yang berhembus ke sana
Pada ombak yang mengalun ke bumi timur, tempatmu berada
Pada hujan rintik dan gemuruhnya yang bersahutan
Pada dedaunan yang gugur dan terbang ke tempatmu

Rasakan nyanyian itu, Saudaraku.. semoga mampu menggantikan ketidakadaanku
Hingga suatu hari aku akan menemuimu, atau
Kau menemuiku..
aku berjanji, dan aku tidak akan menyerah...
Karena kita masih berada di bawah langit yang sama
Di atas bumi yang sama
Berada bersama dalam rangkulan tangan Illahi
Yang kelak kuharapkan akan mempertemukan kita
di suatu tempat, di suatu waktu.... Gerimisku

(Hanya sebuah coretan sebagai hadiah bagi Gerimisku_Febry Waliulu)

Wednesday, November 16, 2011

Makan makan

Hari pertama memfasilitasi kunjungan tim lesson learned PTD di SBB. Ada satu catatan yg tertulis bahwa di bumi Maluku ini, kita justru makan bukan dari orang Maluku. Tulisan ini tidak bermaksud meng-generalisasi tetapi untuk catatan kaki saja.

Ketika menjemput tim di Waimital, dari perjalanannya Masohi Piru, titik pertemuannya adalah di warung bakso. Pemilik warung bakso itu orang jawa. Ah, saya lupa nama daerahnya, yang jelas, dari desa tetangga ponorogo. Lalu makan malamnya kami mampir di warung makan yang berlokasi di desa Kamal. Dan setelah tanya tanya, pemiliknya berasal dari lumajang. Tempat makan saya di Piru, juga berasal dari jawa, ponorogo tepatnya.

Saya di ambon, ikan yang saya makan, dari laut maluku, sayur dari tanah maluku juga berasnya. Namun ketika sampai lidah, rasanya citarasa jawa. Indonesa Bapa....

Tuesday, October 04, 2011

(335) Rencana Kuliner Wiken


Sudah 2 minggu ini tidak weekend ke ambon. Rasanya seperti sudah lamaaa sekali. Rencananya sih jumat besok ini mau pulang ke rumah dulu. Selain ada agenda penting yang harus dibicarakan, ada banyak rencana kuliner yang mau dijelajahi. Mumpung tanggal muda gitu deyh...


Ini daftarnya :

1. Es Kacang Bapa jafar. Lokasi : Jalan Baru

2. Tahu Tek. Lokasi : Jalan Baru

3. Nasi Kuning Bagadang. Lokasi : Waihaong

4. Rujak Liang. Lokasi : Pantai Liang

5. Nasi Kalapa Ikan Bakar. Lokasi : Batu Merah

6. Mie Ayam. Lokasi : Kebun Cengkeh

7. Martabak dan Terang Bulan Om Ondos. Lokasi : Tantui Aster

8. Kasbi goreng deng sambal. Lokasi : Amahusu


Biar gak shock, perlu saya beritau, ini bukan untuk 2 hari di Ambon. Nanti diliatlah mana yang paling mungkin. Yang belum terlaksana, masuk daftar antri kepulangan berikut.

Ada yang mau ikut?

Monday, July 25, 2011

(264) Sekali dan Berarti


Seperti baru kemarin menginjakkan kaki dengan berat hati di Ciloto. Membayangkan akan melewati 5 bulan dengan belajar, terpisah dari keluarga, keluar dari kotak nyaman. Tibalah hari ini, hari mengakhiri 5 bulan itu dengan “berat” juga.
5 bulan memang terlalu lama untuk sebuah pelatihan. Tapi 5 bulan sungguhlah cukup untuk menyatukan 60 kepala, 60 hati dalam satu keceriaan.

Disini ada ilmu yang tentu saja melimpah, ilmu yang sama sekali tidak pernah kusentuh selama ini. Berawal dari pusing mendengar satu persatu istilah di dunia keuangan dan dunia industry hingga akhirnya terbiasa dan bisa bercanda dengan istilah istilah itu. Tapi disini pula, pelajaran kehidupan begitu banyak. Persahabatan yang terjalin dengan segala dinamikanya. Berbagai karakter orang dengan segala problemanya ditemui disini.

Kami, 60 orang yang tak saling mengenal awalnya, lantas kebersamaan setiap hari di sudut sudut hotel lembah hijau ciloto, semakin mengukuhkan kami adalah saudara. 60 orang yang awalnya hanya saling menebak dan membangun image sendiri tentang orang lain, kini kami lebur dan begitu mengenal pribadi yang lain. 59 orang yang tiba tiba saja masuk dalam hidupku memberi warna lain. Bahwa Indonesia itu luas, Indonesia itu kaya, dan yang terpenting adalah ada 59 orang baik di dunia ini.

Banyak hal telah kita lewati. Dari kehilangan, kepergian seorang sahabat, momen momen ulang tahun dan bahkan pernikahan. Ini semua takkan terulang. Karena takdirnya memang begitu. Kalaupun terulang, tak mungkin bisa seindah ini. Ini sekali dan berarti. Hari ini kami akan saling melepas. Kembali ke kehidupan normal lagi. Kembali ke rutinitas lalu dengan semangat persaudaraan yang baru. Mengharukan, tapi itulah perputarannya. Bahkan saat pertama kita ketemu, kita sudah tahu hari ini akan tiba cepat atau lambat. Ada pertemuan ada pula perpisahan. Tapi sejatinya kita bukan berpisah. Kita sedang melebarkan pertemanan dari sekian hektar hotel lembah hijau ciloto menjadi pertemanan seluas Indonesia.

Kita akan saling mengenang, kawan. Apa yang kita lalui bersama selama 5 bulan ini hanyalah awal untuk persahabatan seumur hidup. Saya bangga menjadi bagian dari kalian. Saya belajar sesuatu dari setiap kalian, setiap kalian, per orangnya. Satu hal, persahabatan kita mungkin saja ada yang tergores, marilah melebur. Gugurkan semua saat jabat tangan nanti. Karena tak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada hanyalah orang orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

Sampai ketemu lagi kawan. Di tempat yang berbeda, di kesempatan yang berbeda dalam resonansi persahabatan yang sama. Love you all, shindanman………

Tuesday, June 28, 2011

(237) Pohon Cemara


Satu pucuk cemara jatuh
Malu malu dari dahan yang setia menopangnya
Berucap salam pisah dan membuat jalannya sendiri
Muara ke laut dan mengapung

Musim demi musim berganti
Tak terhitung berapa ombak yang menerpa
Berapa kapal yang menabrak
Berapa ikan yang mencumbu detilnya

Cemara berlalu dengan senyum, meski ada luka
Menganga tapi tak perih
Cemara itu yakin ia sedang membuat kisahnya
Seperti pohon yang telah menaungi daun baru

Sejauh apapun ia pergi
Ke daratan manapun ia akan berakhir nanti
Pohon awalnya ada dalam ingat, hati dan bulir
Urat cemara menjadi semakin berkilau

Cemara tak pernah lupa pohonnya
Tak pernah
Meski ia pun tak tahu lagi dimana pohon itu mengakar
Yang ia tahu, ia akan mengenang pohon dan segala kisah mereka dengan senyum
Senyum berbalut doa
Tanpa efek, tanpa sakit

*salah satu sudut kota jogja*

Monday, June 27, 2011

(236) Jogja, sebuah potongan masa lalu


Here I am. Setelah 7 tahun yang lalu terakhir ke kota ini meninggalkan semua kenangan, menitipkan kisah masa lalu, saya ada di sini lagi. Jogja, kota kecil yang belum kuhapal likunya, tapi ada titik titik yang melekat, membawaku, mengantar dan membentukku hingga seperti saat ini.

Dan saya disini lagi, untuk sekedar melihat lagi, adakah kota ini seperti dulu? Adakah titik titik itu masih di tempatnya? Dan ya, aku melewati stasiun tugu. Tempatku meletakkan harap, menaruhnya disana setelah membawa dalam 6 jam untuk tak lagi kuambil, selamanya. Melewati satu pemberhentian yang mengingatkanku akan kisah brownies yang kubuat untuk pertama dan terakhir kalinya.

Aku disini, dan masih mengingat airmata yang pernah tumpah. Melepaskan hati yang enggan. Melepas kisah yang manis, yang sampai saat ini belum pernah ada kisah semanis itu. Setiap kenangannya membuatku tersenyum dan bersyukur pernah memiliki indah itu. Hanya diisi bahagia tanpa sakit. Tanpa cela, hadir dan masuk dalam hidupku. Sempurna, begitulah adanya. Hingga takdirNYA lah yang menuntun melepaskan kebahagiaan itu, lalu merangkai bahagia yang lain. Keikhlasan kita membuat semuanya terasa begitu mudah dan tetap bahagia.

Aku mengingat setiap potongan itu tanpa rasa rindu, tapi dengan doa. Apa yang diambil dengan begitu berat dulu, akhirnya membawa ke bahagia saat ini, di tempat masing masing.

Wednesday, June 15, 2011

(224) Pelajaran dari Jalan


Di macet tadi, ada banyak petikan hidup yang bisa kita liat. Mozaik kehidupan sebagian orang yang menggantungkan harap pada cemas macet.

Tak terhitung pengamen cilik, tak kenal lelah dari mobil satu ke mobil lain. Teman seusianya banyak yang sedang main PS atau renang.

Kemana orang tua mereka? Adakah juga sedang berjibaku dengan keringat yang sama, tempat yang berbeda?

Kapan waktu belajar? Kapan bermain? Ataukah di jalanan itulah mereka sedang bermain? Di situlah mereka sedang belajar, belajar hidup

Lalu, potongan lainnya...

Pasangan suami istri renta, jelang maghrib masih di jalan. Masih mengharap uluran dari pengguna jalan. Ada gejolak di batin ini. Merontak

Kemana anak mereka? Kenapa harus mereka yang duduk di jalanan? Begitu kerasnyakah hidup? Dimana mereka tidur? Naik apa pulang?

Malam ini,sebelum tidur, mari berucap syukur atas semua kemudahan.Jangan mengeluh. Jangan mengeluh. Hidupmu tak lebih susah dari orang lain

Setelah ucap syukur nikmat hari ini, minta maaf atas dosa hari ini, melupakan kerikil pertemanan hari ini, saatnya tidur *gosominyakayuputi*

Thursday, March 31, 2011

(147) Sebulan Merantau

Akhir bulan. Berarti pas sebulan meninggalkan Ambon. Sebulan di Ciloto, bersama teman-teman dari daerah lain. Bertukar bahasa, bertukar kebudayaan, dan bertukar cita rasa. Kadang-kadang kangen sama Ambon. Makanannya, suasananya dan yang paling sering adalah kangen keluarga di rumah, Ibu, Papa, ddan si kecil Naya.
Sebulan disini, jalan-jalan sudah meski belum banyak. Yang banyak itu pusingnya. Saya yang orang teknik, tak pernah tau soal keuangan tiba tiba harus dijejaali otaknya dengan Dasar Manajemen, Manajemen Keuangan dan Manajemen Biaya. Istilah istilah seperti aktiva, neraca, passiva, likuiditas, depresiasi, factory cost, leverage, break even point, average collection period, debt ratio, net income after tax, earning before interest and tax dan tau deh. Senang sih, bisa jadi tau perhitungan begitu, tapi kalo dijejal hanya dalam kurang dari 2 minggu bisa semua, kalo kata orang Makassar, poge ma’. Kalo kata orang Ambon, sampe pastiu.



Sebulan disini, teman teman semakin hari semakin menyenangkan. Mulai dari Aceh sampai Raja Ampa ada disini. Ada juga dari daerah daerah yang belum pernah kudengar sebelumnya seperti kepulauan anambas, sijunjung, bulungan. Mungkin itu yang bikin sedikit lebih betah. Lingkungan persahabatan yang baru, lintas suku. Dengar cerita tentang banyak daerah, banyak budaya, liat banyak gambar dari daerah lain, Indonesia memang kaya. Bertemu mereka semua, resolusi travelling saya adalah menjelajahi Indonesia, melihat kekayaan Indonesia lebih dekat.

Monday, February 07, 2011

(95) Ambon di Balik Mendung


Mendung terus menggantung di langit Kota Ambon. Dari pagi hingga jelang maghrib ini tak ada matahari yang menyapa. Jalanan kota Ambon pun begitu teduh, tenang tak ada riuh. Saya menyusuri kota Ambon sehari ini, dan kota kecil ini makin membuatku cinta. Mungkin di suatu ketika, akan muncul mall mall besar, jembatan jembatan yang mematahkan nafkah para pengemudi perahu, atau taman bermain sekelas dufan atau yang ada di kota kota besar sana, mengalihkan perhatian anak-anak dari enggo basambuyi dan kulibia. Atau kubah masjid Alfatah yang akan diganti dengan yang lebih indah.

Mungkin itulah tuntutan zaman. Tak bisa mengelak dengan pembangunan. Kalau mau enak, bikin saja satu kawasan semacam Kota Tua dio Betawi dimana tak ada perubahan apapun. Tapi ini hanya ucapan seorang Ebhy yang belum dipikir matang. Intinya, apapun perubahan Kota ini nantinya, dengan menikmati Kota satu hari ini, bisa membuat saya punya kenangan akan jalan mungilnya, akan bangunan tua Masjid Alfatah, akan perahu Galala-Rumatiga. Semuanya tentang kota ini, mungkin saja kelak akan jadi kenangan indah.

Apapun perubahan fisik yang bakal terjadi, semoga perdamaian, ketenangan, keramahan, selalul tersedia, tidak ikut berubah, tidak ikut tergerus zaman.

ps : gambar diambil dari bumi-nusantara.blogspot.com

Wednesday, February 02, 2011

(90) Masih di Losari


Agenda utama di Kota daeng sudah selesai. Saya punya kesempatan jalan-jalan dengan dua adekku tersayang. Pagi pagi sekali ke kost mereka dan mulailah perjalanan. Mulai dari menikmati kembali Lumpia Sulawesi di Jalan Lasinrang hingga berakhir di Pantai Losari mencari pisang epe rasa durian favorit saya. Di Pantai Losari ini, mata kami dihibur dengan senja yang mulai menyapa dan beragam aktivitas muda mudi Makassar. Pas asik duduk-duduk, ada seorang muda datang menghampiri dengan gitarnya dan mulai menghibur kami, menyanyikan lagu yang isinya mengenalkan Kota Makassar.

Setelah menikmati dan memberi sekedarnya, kami jalan-jalan dan setiap melewati pengamen yang sedang beraksi dengan gitarnya menghibur pengunjung, telinga saya menangkap bahwa ada satu lagi yang selalu mereka nyanyikan. Setiap pengamen menyanyikan lagu yang sama. Saya gak hapal liriknya tapi kira kira begini potongannya :

Makassar... kota Anging Mamiri
..............................
..............................

duh, lupa lupa. intinya tentang Makassar gitu deh, plus losarinya. Kenapa ya? Bagus memang, menarik tapi saya cuma ingin tahu kenapa semua pengamen menyanyikan lagu itu dulu? Kesepakatan bersamakah? atau ada peraturan yang mengaturkah? atau apa?

Ada yang tahu?

Tuesday, February 01, 2011

(89) Kopdar bersama Anging Mamiri

Dear bloggerwan dan bloggerwati,

surat ini saya tulis sepulang saya bertemu dengan rekan-rekan blogger dari kota Daeng, Makassar. Sebelum keberangkatan saya ke Kota Daeng, saya sudah mengabarkan lewat blognya Daeng Ipul. Sok penting banget ya saya. Tapi begitulah, kalau ada kesempatan bertemu dengan rekan blogger, kenapa tidak?

Nah, setelah dapat sms kalo kopdarnya itu di IGO Cafe, bertanyalah saya kesana kemari, bagaimana supaya bisa kesana. Ketemuannya jam 7 malam dan baru di jam 7 itulah saya keluar asrama. jam Indonesia, ngareeeeet terus. Sampai di depan IGO, saya masih tebingung bingung, ini anak anak AM mana ya? Ada seorang bapak (atau anak muda? gelap, gak kelihatan) di parkiran yang tiba tiba bilang sama saya "cari anak anak anging mamiri? di atas".

wups, ternyata ini basecamp sampai bapak-bapak itu tau. Mungkin di-sms sama Nanie, turunlah Daeng Ipul menjemput kami. Sampai di atas, sudah berkumpul anak anak AM yang lain. Ada Unga, Tika, Anbhar, Daeng Takdir, Siapa lagi ya? lupa, banyak soalnya. Ada adek kelas juga ternyata. Banyaklah yang diomongkan. Meski yang lebih banyak omong memang tuan rumahnya. Saya sih ketawa ketiwi saja. Apalagi kalo sudah keluar dialek-dialek makasaar dari mereka, pikiranku melayang ke teman-teman jaman STM dulu, biasanya bercanda kayak gini sama mereka dulu.

Dan, entah mengapa, tiba-tiba saja saya teringat dengan komunitas blogger maluku saya. Teringat dengan Om Embong sekeluarga, Almas, Mas Mamung, Om Dharma, Iki, Ello, Lina, Hari dan Nia Cenat Cenut, teringat kisah kisah kopdar kita. Mulai dari Seroja, Sibu-Sibu (non formal), Joas (non formal), baguala beach, kafe pasir putih, KFC urimessing hingga di kantor Om Embong yang dulu, dan yang terakhir di Hilyah. Ditambah lagi pernah bekpeker akhir tahun bersama mereka. Aih, saya kangen mereka semua.

Dan, sepulang dari Makassar ini, kopdaran lagi yuk.

Sunday, December 19, 2010

(45) zam zam

happy weekend temans...

3 hari lalu,tepatnya kamis 16 desember 2010, saya sekali lagi mengunjungi desa Waesala untuk mendampingi satu kegiatan masyarakat disana. Jelang berakhirnya agenda kami, seorang abang, anak dari Raja Waesala mendatangi saya dan menyampaikan pesan dari abi (sapaan akrab bapa Raja Waesala) yang meminta saya mampir di istana alias rumahnya sebelum kembali ke piru.

Beberapa menit kemudian,saya ke rumah beliau dan ternyata saya diberi oleh oleh dari perjalanan haji beliau berupa sebotol zam zam dan kurma ajwaa, kurma dari kebun sang kekasih, Rasulullah SAW. Beliau ngasih zam zam sambil bilang gini : by,zam zam itu temannya doa (ngomong pake bahasa arab,entah hadits atau apa, saya tidak tahu pasti) artinya zam zam itu mengikuti keinginan peminumnya. jadi sebelum minum tu, eby angka hati bae bae minta apa yang eby mau.

Nah,gara gara pesan itu,saya sampai sekarang belum berani minum zam zam pemberian abi. Saya masih belum berani meminta apa yang benar benar saya inginkan dalam hidup. Saya insyaAllah siap menerima takdir, tapi Allah juga suka kalau kita meminta dan saya benar benar ingin doa yang saya panjatkan sebelum meminum zam zam adalah doa yang benar benar istimewa. Dan pada suatu saat, jika hati ini telah tahu, biarlah hati ini yang menggerakkanku untuk menikmati zam zam itu.

Kalau temans mau minta doa istimewa apa?
Salah satu yang saya inginkan adalah suatu hari nanti saya dapat mengambil zam zam langsung dengan tangan saya sendiri. InsyaAllah...

Friday, December 17, 2010

(43) Mengeja Syukur di Dusun Melati

I am back setelah hiatus 12 hari lamanya. Hiatus ini karena tugas yang harus saya jalankan di daerah yang tidak bersinyal. Ini sedikit ceritanya.
Sabtu, 11 Desember 2010 lalu, saya dan rekan-rekan kantor bertugas di desa Waesala kecamatan Waesala Kabupaten Seram Bagian Barat. Tepatnya pada hari itu, kami mengunjungi dusun Melati, satu diantara 12 dusun yang dimiliki Desa Waesala. Perjalanan dari kota kabupaten, Piru, menuju Desa Waesala sekitar 2 jam atau sekitar 40 km. Perjalanan kali ini boleh dibilang baik-baik saja karena kondisi jalan yang sudah jauh lebih baik. Jalan yang masih sedikit berbatu dan berlubang namun sudah bisa dikatakan baik mengingat di tahun-tahun sebelumnya, jalanan menuju Waesala begitu sulit dilewati apalagi dalam kondisi hujan atau pasca hujan seperti yang pernah saya dan rekan-rekan lain alami disini dan disini.

Sayangnya, baterai kamera digital kosong. Pemotretan perjalanan pun hanya bisa diabadikan melalui kamera telpon genggam dan di kesempatan lain akan di-ekspose gambar-gambar di dusun Melati. Benwit di piru belum memungkinkan mengupload banyak foto.

Sampai di Desa Waesala, Bang Jumra, salah satu fasilitator di Waesala sudah menunggu kami dan mengabari bahwa speedboat yang akan membawa kami ke Dusun Melati sudah siap. Tanpa menaruh barang bawaan di wisma, kami langsung menuju pantai. Perjalanan dari Desa Waesala menuju dusun Melati dengan transportasi laut memakan waktu hampir setengah jam. Sebenarnya bisa lewat darat tapi harus dengan berjalan kaki sekitar 50 menit dan jangan bayangkan jalan yang mudah dilalui. Bagi yang tidak biasa, mungkin harus menyediakan banyak stok tekad baja karena menurut cerita, melewati hutan mendaki dan ada satu tempat yang terputus daratan jadi harus melewati selat atau teluk atau rawa (saya tak tahu namanya), yang tinggi air sampai di atas pinggang. Well, tentu saya tak ingin memilih jalan itu jika masih ada alternative lain.
Setelah menikmati pemandangan yang maha indah, sampailah kami di dusun Melati. Dari kejauhan, sudah terlihat bang Ruslan, satu lagi fasilitator kami, bersama dengan bapak Husen, Sekretaris Dusun Melati yang sudah menunggu di bibir pantai.

FYI, Dusun Melati ini berusia 47 tahun. Dinamakan Dusun Melati karena dulu kala, banyak bunga melati di daerah ini. Seperti yang dituturkan Pak Husen, Sekdus Melati, awalnya di tahun 1963 ada 5 orang atau 5 KK yang mendiami pulau ini dan setelah 47 tahun berlalu, kini ada sekitar 150 KK dengan 1050 jumlah jiwa. Yang unik dari dusun ini adalah semua penduduknya berpakaian muslim rapi dan nilai islamnya sangat kental. Yang lelaki dengan tampilan janggut, dan itu hampir seluruh lelaki di Dusun ini berjanggut dan mengenakan peci serta sarung atau celana di atas mata kaki. Wanitanya, berbaju panjang dengan jilbab panjang rapi, hampir semua, bahkan anak-anak usia SD atau SMP pun,bermain di teras rumah dengan menutup aurat. Indah sekali dan sejuk dilihat.

Pun pada saat setelah makan siang, adzan dhuhur terdengar dari mesjid dusun, sontak balai dusun tempat berlangsungnya Pra Musrenbang kosong melompong. Bukan hanya balai dusun, jalanan pun mendadak terlihat sunyi. Ndilalah, seluruh penduduk dusun menuju masjid memenuhi panggilan adzan itu. Bang Jumra sempat bilang pada saya, “by, disini kalo dhuhur, suasananya seperti sholat jumat di desa lain”. Subhanallah… Pulang dari sholat, saya kembali berbincang dengan Pak Husen, menanyakan kondisi ini apakah sudah sejak awal atau baru di tahun berapa, atas kejadian apa sehingga suasananya seperti ini. Kata Pak Husen, sejak tahun 1963 itu, kondisi dusun Melati ini memang sudah islami. Tidak ada musik musik yang mengganggu telinga, jangan ditanya soal mabuk-mabukan atau perkelahian pemuda. Pak Husen juga bercerita, pernah suatu ketika, ada kunjungan Gubernur Prov Maluku, K. A. Ralahalu ke dusun Melati, belum lama dari kedatangan beliau, adzan maghrib berkumandang. Maka semua penduduk pun meninggalkan rombongan provinsi untuk sementara waktu menuju Masjid. Ah, tak bisa saya bayangkan kejadian yang sama di desa lain, bisakah seperti itu? Luar biasa. Salut, saya benar benar salut.

Namun kesalutan saya lalu berubah menjadi diam berkepanjangan ketika pertanyaan saya tentang listrik dijawab Pak Husen dengan jawaban “tak ada listrik disini”. 47 tahun mereka hidup tanpa listrik. Setrika pakai bara. Kalaupun ada beberapa rumah yang lampunya nyala, itu karena memakai genset. Saya tak kuasa berkata. Mengingat bahwa ketika lampu mati sebentar saja di rumah, saya sudah tidak nyaman dan merutuk PLN. Lah, mereka yang 47 tahun tanpa listrik, bagaimanakah hari-hari yang mereka lalui?
Perjalanan ke dusun Melati adalah perjalanan tentang syukur, syukur dan syukur. Betapa ternyata ketidakpuasan saya pada banyak hal di sekitar adalah berlebihan karena di dusun Melati ini, ada 1050 jiwa yang bersabar dengan kondisi mereka, dengan hidup yang mereka jalani dan bahagia dengannya. Ada 1050 jiwa yang akses informasi tidak ada, akses transportasi terbatas, akses komunikasi apalagi. Ah, dan saya hanya satu orang, mengapa tak pandai bersyukur?

Monday, October 12, 2009

Jejak dari Laut



Perjalanan ke Luhu baru baru ini adalah salah satu perjalanan yang berkesan.
Hari itu, Jumat Oktober 2009 jelang sore di pelabuhan perikanan. detik, menit, jam berlalu dalam angin, dingin dan sapa ombak. Lalu dari laut, mendekatlah kapal pencari ikan. Sekitar 10 pemuda yang ikut di dalamnya merapat tanpa membawa tangkapan apapun. Ombak yang cukup membuat saya ketar ketir, tak mampu melawan kekaguman saya akan apa yang saya lihat.


Motor ikan itu tidak bisa merapat, jadi sampai di batasnya, pemuda-pemuda itu nyemplung saja ke laut dan berenang atau berjalan ke daratan. Sementara dua bapak yang terakhir turun setelah memastikan motor ikan telah tertambat dengan baik, lalu mendayung melawan ombak merapat ke daratan.

Ada yang merembesi dinding hati, betapa kehidupan yang keras telah dilalui setiap hari oleh mereka-mereka ini. Kita (saya, tepatnya) tersadar bahwa hanya bisa bicara. Hanya bisa mengatakan sebaiknya di desa itu begini dan begitu. seharusnya masyarakat begini dan begitu.

ah, bodohnya diri ini. Mereka jauh lebih kuat, jauh lebih perkasa. tak perlu diajari bagaimana memperbaiki hidup karena setiap hari yang mereka lakukan adalah memperbaiki kehidupan mereka. Lihat saja guratan di wajah, pertanda perlawanan akan keangkuhan zaman. Pertanda tabuhan genderang memenangkan hidup. Tak memilih menyerah akan kesulitan yang dititipkan Allah pada mereka.

Sejam di pelabuhan itu, sejam melihat kehidupan laut itu, aku tertunduk malu karena ternyata keras yang kupunya belum pantas membuatku layak untuk mengeluh.

Monday, June 22, 2009

Salah satu sisi Allang Asaude





Allang Asaude, satu desa diantara 89 desa di SBB yang berpenduduk mayoritas Kristen (bukan mayoritas, tapi semuanya). Di Allas, kami tinggal di rumah keluarga Bu Ulis. Bu Ulis beserta istrinya, Usi May dan 3 anaknya (Versi dll), begitu hangat menyambut kami dan memberikan pelayanan terutama kenyamanan serta suasana hati yang enak yang tak bisa ditawarkan oleh hotel bintang lima manapun. Di sela-sela tugas yang harus kami jalankan di desa Allang Asaude, Kecamatan Waesala Kabupaten Seram Bagian Barat, Kamis yang lalu kami mendaki gunung Kotahalu, sebuah gunung karang yang konon katanya dulu gunung yang tinggi lalu pada zaman penjajahan Belanda, dari arah Laut, Belanda mengira gunung ini adalah bangunan. Belanda kemudian membombardir gunung dengan tembakan-tembakan hingga gunung Kotahalu ini runtuh dan berbentuk seperti sekarang ini. Beruntung rasanya diberi kesempatan oleh Allah berkunjung di satu sisi lain dari bumiNYA yang begitu indah.


Perjalanan kami mulai pukul 05.30 WIB dan setelah berjalan sekitar 10 menit ke kaki gunung, mulailah pendakian yang lumayan sulit itu. Dalam kondisi gelap, berbekal 2 senter, kami berlima memanjat dan mendaki dengan rasa penasaran apa yang akan kami lihat di puncak nanti. Medan yang sulit dalam kondisi gelap membuat perjalanan lebih lama dari yang biasanya, itu kata Aty dan Angki yang menjadi guide kami bertiga. Yah, buat pemula oke-lah. Apalagi ini karang semua, kudu lebih hati-hati kalo gak mau kena tajamnya karang. Pendakian yang luar biasa. Capeknya minta ampun. Tapi semakin dekat ke puncak, dan semakin capek dirasa, semakin bersemangat kami mendaki. Dan ternyata benar. Sampai di puncak, semua kelelahan itu terbayarkan oleh suguhan alam yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Angin puncak yang bertiup menghapus keringat hasil pendakian dan mata benar2 termanjakan oleh alam. Di depan pulau Allang yang terlihat dari puncak gunung Kotahalu ini, ada tiga pulau yang terlihat. Ada pulau hoffman (atau hotman ya?), katanya ada gua yang isinya tengkorak. Sebelahnya ada pulau yang lebih kecil dari pulau Hoffman (atau hotman) bernama pulau Air, dan pulau Tatinai. Ketiga pulau ini tidak berpenghuni. Pulau Hoffman ini akan jadi target kunjungan berikut jika saya ke Allas lagi. Untuk kesana, kita cuma perlu naik ketinting alias dayung sendiri setengah jam. Dari puncak, juga terlihat sebuah danau/telaga yang disebut talaga Halong. Dua tempat ini serta merta masuk dalam daftar daerah berikut yang harus kukunjungi.


Pas lagi pose-pose narsis di atas, dari arah Waesala, muncul pelangi yang melengkapi keindahan pagi itu. Matahari pun mulai muncul malu-malu dari timur menerpa menyegarkan wajah. Di Allang Asaude, tidak ada komunikasi. Masyarakat yang mau berkomunikasi, biasanya naik ke gunung ini lalu mencari sinyal kiriman dari Namlea. Kadang sinyal muncul, namun lebih sering tidak munculnya. Hari kami mendaki itu, sinyal hanya “singgah” di handphone Aty yang digantung di dahan pohon. Gantung di dahan pohon, memang cara mencari sinyal. Di handphone yang lain, sinyal tidak mau “mampir”. But its not a big deal karena kedatangan kami bukan untuk telpon. Lucunya, sudah jauh2 kita mendaki, dua orang yang dihubungi Aty, satunya tidak aktif dan satunya tidak menerima telpon. Kasian amat ya.


Konon pula, kata Aty dan Angki, selama ini orang-orang dari luar Allang Asaude yang naik ke gunung Kotahalu ini tidak bisa mengambil gambar. Sementara kami, semua peralatan narsis mulai dari handycam, kamera digital dan 3 hp kamera, semuanya berfungsi maksimal. Aty bilang “dong bisa foto-foto e. Orang luar kalau kesini to seng bisa foto. Dong pung hp dan kamera seng bisa pake foto. Tapi ini bisa tu. Memang dong nae deng hati bersih jadi bisa”. Senang dengarnya, karena memang tak ada apapun yang kami inginkan selain ingin mengagumi.

Waktu hal ini kuceritakan ke Bapa Raja Allang Asaude, beliau tersenyum dan bilang “Nona eby kan orang Luhu, katong pung Tamaela”. Tamaela, saya tidak tahu apa itu arti jelasnya Tamaela dan bedanya dengan pela. Yang saya tahu, kalau orang Luhu ada kegiatan besar atau ada musim cengkeh, yang datang untuk bantu dan juga naik cengkeh adalah orang Allang, begitu juga sebaliknya. Berasa istimewa setiap kali Bapa Raja bicara dan menyebut saya dengan panggilan “Nona Ela” dan saya pun disuruh untuk tidak memanggilnya Bapa Raja, tapi “Bapa Ela”. Its wonderful…..

Friday, April 17, 2009

Road to Waesala






Tadinya pengen cerita panjang tentang kisah ke Waesala. Tapi sampai depan kompi, rasanya tak ada yang bisa diceritakan dengan pas lewat tulisan. Perjalanan tugas seklaigus perjalanan batin. Dua hari bersama masyarakat yang tanpa penerangan selama 48 jam itu. Belum lagi aura ketulusan, kewibawaan dari seorang abi, panggilan untuk Bapa Raja Waesala, yang langsung masuk ke ruang batin paling dalam.

Perjalanan ini biarlah jadi cerita jiwa yang indah. Untuk kalian, saya share foto-fotonya karena foto-foto ini juga bercerita ....

1.Demi Waesala, dorong mobil juga dijabanin

2. Mejeng setelah dorong mobil

3. Kopi tubruk terenak yang pernah saya coba, layak mendapatkan setelah liat mereka dorong mobil

4. Menu makan malam hari pertama, ikan bakar buatan umi

5. Pemandangan dari gunung Waesala

Road to Waesala (2)

1. Salah satu jalan ke Waesala

2. Pemandangan dari belakang rumah Abi

3. Hiburannya anak2 Waesala

4. Salah satu rumah sisa Konflik Sosial di Waesala




Tuesday, February 13, 2007

LUHU (Nice Adventure)

Bismillah.
Udah diwanti-wanti sama Ibu dari kemarin untuk banyak berdzikir di perjalanan.
Pas berangkat juga Tante dan Om Put kasi pesan yang sama. Belum pernah memang lewat darat Piru-Luhu yang kata orang, perjalanannya itu menanjak, masuk hutan, dekat jurang, gambarannya pokoknya kudu benar2 hati2 dan banyak dzikirnya.

Perjalanan Yang menyenangkan sekaligus mendebarkan.
Lewat gunung, jurang, pantai, trus liat gunung yang Subhanallah seperti permadani yang halus, sudah itu lewat pantai lagi yang dasarnya keliatan begitu bersih dan putih seperti mutiara. Belum pake acara mesin mogok, kehabisan bensin, jatuh di jembatan kayu karena licin, terjebak ujan dan malam di daerah yang penuh pohon tinggi dan kanan kirinya jurang. But, perjalanan ini
sama Papa dan Abang Nyong yang Alhamdulillah sedikit banyak bisa bikin saya merasa lebih aman. Kalo diajak lagi, saya mau ngulang perjalanan ini. Mendebarkan memang dengan tanjakan
yang tajam, jurang yang menganga, badan yang sakit karena jalan yang tidak mulus, tapi tidak sedikit ucapan Subhanallah yang bisa terucap melihat betapa indahnya Karya Allah SWT, sebuah karya yang tak tertandingi.
Sampe rumah sudah jam 8 malam, tapi langsung silaturrahim. FYI, Luhu ini kampung asalnya
kedua orang tua. Jelas, disinilah berkumpul seluruh keluarga besar. Rumah Papa ada di kompleks kampung baru, kalo rumah ibu di kompleks kampung tengah. Capek memang, tapi saya gak bisa nahan keinginan untuk silaturrahim. Ditemani Bukal, saya ke rumah keluarga di kampung tengah. Pulangnya, baru makan duren di rumah kampung baru 4 buah sebelum tidur.

Besok paginya, saya mulai kunjungan lagi kemana-mana dan ditemani Bukal. Waktu sarapan
sebelum berangkat, Tete haji (panggilan untuk kakek dari papa) sudah gak di rumah. kata orang rumah, Tete Haji sudah brgkat dari subuh ke Pohon Duren.
Nah, pas saya lagi di jalan, dari jauh saya liat seseorang dengan kaos oblong putih, celana selutut, ransel, tidak bersandal dan memikul sepotong bambu. Semakin dekat saya semakin kenal sosok itu. Ternyata itu Tete Haji.
Saya kemudian berlari menyongsongnya dan memeluknya ...


A : tete, tete dari mana?
T : Tete dari pohon durian
A : Tete sendiri? Tete ambil duren untuk siapa?
T : Ya untuk kamong (kalian, red)
A : Tete kok jalan? Kan jauh. Tete naik ojek ya
T : Seng usah, tete jalan saja biar sehat
A : Tete kenapa sih harus ke pohon duren? Mana jalan kaki lagi
T : Tadi sudah naik ojek, tapi tete minta turun. Jalan saja, kan sehat
A : Trus duriannya mana?
T : Pe satu ni (Nih, satu) * sambil nunjuk satu buah duren yang digantung di bambu yang ia pikul

Terharu banget saya dengan apa yang Tete Haji lakukan pagi ini. Hanya dengan cintalah ia mau melakukan ini, walaupun cuma sebuah duren. Duren ini saya sebut DURIAN CINTA. Setelah itu, saya tuntaskan ciuman sayang dan melanjutkan perjalanan



Setelah itu, kita ke rumah sanak saudara. Sampai di rumah abang Jab, saya makan duren 6 buah. Trus ke rumah abang Nyong, dibawain duren lagi sama Bukal. Waktu lagi istirahat, Abang Jab datang dan ngajak balik ke rumahnya. Disana, saya makan duren lagi 5 buah dan sampe malam karena diajak makan malam disana. Waktu lagi makan malam, Bang Ondi datang dan ikut makan malam. Ternyata, Bang Ondi datang itu untuk ngajak saya ke rumahnya. Disana, sudah ada Mbak Ratih dan Tante Dja yang baru tiba dari Piru. Kita makan duren 13 buah. Total hati itu saya makan duren 29 buah.

Waktu pulang tadi pagi, banyak yang nganterin ke jembatan Luhu. Trus, mereka rame2 kasi duren. Tante Ani, Tete Ma'i, tete Haji, Bukal, Mama Nona, Om Isun, Bibi Ece, Nenek Pama, yang kami (Saya, papa, Tante Dja, Mbak Ratih, dan Kak Ida) bawa sejumlah 2 karung dan 3 karton. 
Total 30 buah duren. Musim ini, saya puas banget makan duren. 

Tete Haji ikut nganter ke Jembatan. FYI, beliau satu-satunya kakek kandung yang masih ada. 
Kakek Nenek dari pihak Ibu dan Nenek dari pihak Papa sudah gak ada. Thats why, entah kenapa, belakangan ini saya sering memikirkan Tete Haji dan ingin lebih berlama-lama dengan beliau. Dan DURIAN CINTA beliau itu saya jadikan pemimpin bagi 30 duren yang saya bawa pulang ke Ambon. Makasih ya Tete Haji. Makasih juga untuk semua keluarga yang sudah begitu hangat menerimaku

ps : Ambon-Luhu 3 jam perjalanan 1 jam darat ke Hitu dan 2 jam perjalanan laut ke Luhu