Wednesday, April 03, 2013
Suratku dari my Vina
Tuesday, April 02, 2013
Surat Cinta dari Unhy
tetap sabar, tawakallah.. ini adalah cara keputusan Allah yang paling baik, kita tak pernah tahu apa takdir seperti apa yang telah Allah tuliskan untuk kita, untukmu kakak.. Cuma sabar yang bisa saya bilang, Allah lebih tahu keputusan yang terbaik untuk umat-Nya. Biarkan anakmu itu menjadi tabungan untukmu di surga kelak, si abang (panggilan dari kakakku untuk anaknya) sekarang lebih bahagia disana, di surga-Nya.
jangan sering-sering nangis lagi yaa. Saya tidak melihatmu menangis, tapi membaca beberapa postinganmu tentang si abang, saya yakin kamu menulisnya dengan berurai airmata, sayang.. Jangan nangis lagi, si abang di surga pasti tidak suka melihat ummi nya menangis. Abang tetap hidup dihatimu. Saya bisa bayangkan bagaimana rindu yang merajaimu, rindu itu menikammu, belum sempat kau menggendongnya, mengaji di sampingnya, meninabobokannya, menyusuinya, menenangkannya kala dia menangis, tapi Ca Ebhy ikhlaskanlah.. Pasti Ca Ebhy dan abang akan ketemu disana..di surga.
Monday, April 01, 2013
Dear Abang...
Saturday, March 30, 2013
Abang, bukan Kakak
Tuesday, March 26, 2013
Bernanah Merindumu
Apa kabarmu disana? Ummi kangen kamu nak. Mata ini masih saja terus berair bila mengingatmu. Hati ini masih saja seperti teriris setiap melihat atau mendengar sesuatu tentang bayi dan kehamilan. Ummi kangen kamu nak.
Sayangku,
Ummi bukan tidak ikhlas melepasmu. Bukan seperti itu sayang, jangan sedih ya. Ummi ikhlas melepasmu, apalagi abi-mu sungguh luar biasa hebatnya menyuntik pikiran postif dalam hati dan ppikiran ummi. Tangisan ummi bukan tangisan penyesalan apalagi ketidakikhlasan. Tangisan itu adalah tangisan rindu. Menyuruh ummi berhenti menangis sama saja menyuruh ummi berhenti merindumu. Tidak mungkin, sayang
Kadang ummi bertanya tanya, kenapa kau tak mau berlama lama di perut ummi, lalu ummi lahirkan lalu kita saling membalas senyum. Tapi, ummi tahu kamu tak bisa menjawabnya karena hanya Allah-lah yang tau kenapa kita tak bisa saling membalas senyum dan saling memeluk. Ummi kangen, nak..
Anakku,
Boleh ummi cerita sedikit tentang hari hari ummi tanpamu? Redup rasanya nak. Tapi kau tahu, abi-mu lah pelitanya. Abi-mu lah yang menjadi malaikat dalam hidup ummi. Menjadi pria yang sungguh luar biasa mendampingi ummi. Ummi bangga telah memilih lelaki hebat untuk menjadi ayah dari anak anak ummi kelak, insyaAllah.
Nak,
Ummi tahu, kepergianmu menyisakan sakit dan sesak di hati abi-mu. Tapi ia tak pernah menunjukkannya. Berjam jam setelah mengetahui pergi-mu, ummi yang entah sudah berapa liter airmata yang tumpah, tak melihat air yang sama di wajah abi. Abi berusaha menahan sedihnya di depan ummi. Hingga akhirnya, ummi mendengar air mata pertama abi untukmu tumpah di atas sajadah saat sujudnya. Abi-mu memilih Allah sebagai pendengar tangisan pertamanya. Abi-mu berhasil dampingi ummi melewati saat saat kamu harus ummi lahirkan dengan penuh sabar, tidak tidur tapi juga tidak mengeluh. Betapa hebatnya abi-mu nak.
Sayangku,
Kami berdua merindumu. Setiap hari kami mengunjungi makammu dengan senyum. Kami tak ingin kau melihat kami berderai air mata lagi. Karena kamu sudah senang di sana kan nak? Tak ada alasan kami bersedih disini. Kamu lebih bahagia disana kan? Berlarian di taman surga. Bercanda dengan malaikat malaikat kecil lainnya. Ah, indah sekali. Tunggu kami ya nak. Semoga ummi dan abi bisa mengumpulkan bekal yang buuuuaaaaanyak sekali supaya bisa berkumpul bersamamu di surga.
Friday, January 06, 2012
Memulai Pelayaran yang Berjarak

Sore ini aneh rasanya. Dan saya tau malam ini akan jadi malam paling sulit buat saya. Ini malam untuk pertama kalinya sejak menikah, tidak menemani dan ditemaninya. Resiko jarak jauh sudah diketahui sejak sebelum menikah dan sudah mempersiapkan diri tapi tetap saja terasa berat begitu harus memulai. Saya bahkan sudah merindunya sejak mata yang menatapnya pergi tak lagi mampu menangkap bayangnya.
Sebut saya lebay, sebut saya melankolis, sebut saya cengeng, tapi beginilah nyatanya. Terpisah jarak mil laut membuat hari hari akan berjalan berbeda. Sore ini, tawanya tak lagi tertangkap getar telingaku, senyumnya tak lagi tertangkap retina mataku. Tak ada lagi dia yangmelepas angkuhnya sebagai lelaki dan membantuku di dapur. Yang ketika melihatku kerepotan menyiapkan bumbu sayur, dia akan dengan senang hati menggoreng ikan juga memasak nasi. Lelakiku sungguh luar biasa.
Tapi, siapa yang akan memijat tubuhnya ketika letih mendera? Meski saat aku di sampingnya pun, pijatan itu seringkali dengan lagak setengah hati, sekedar bermanja ingin dibalas dengan dipijit juga. Siapa yang akan menyiapkan air panas untuk mandinya kalau pekerjaan memaksanya pulang malam? Siapa yang akan menyiapkan sarapan sebelum ia pergi? Menyiapkan baju untuk ia kenakan? Meski saya tahu dia bisa mandiri, tapi hati ini sungguh tak tega.
Hari pertama mengantarmu pulang, meninggalkanku sendiri disini adalah hari yang berat, cinta. Mata basah ini tak berhenti dan kau tahu sayang? Tangisan ini adalah tangisan tanpa suara. Aku takut tangisan bersuara akan dicap Allah sebagai ketidakikhlasan dan ketidaksabaranku. Aku takut tangisan bersuaraku akan memberatkan langkahmu. Aku meridhoimu, sayang. Meridhoi jarak yang membentang di hadapan kita ini. Seperti kata kita, kita akan selalu menjaga dalam doa.
Tangan kita tak bisa saling menggenggam, mata kita tak bisa saling beradu, senyum kita tak bisa saling menenangkan, tapi doa kita selalu saling memeluk. Sampai ketemu sayang, sampai ketemu. Tetaplah ikhlas, tetaplah sabar, tetaplah syukur. Penuhi hari hari kita dengan kebajikan agar ridhoNYA selalu memeluk kita.
Cinta, hatimu sudah kupeluk. Kujaga hingga tak ada lagi jiwa di raga.
