Showing posts with label Tentang UKMBI. Show all posts
Showing posts with label Tentang UKMBI. Show all posts

Friday, July 29, 2011

(268) Disini Lagi


dan saya disini lagi, sebuah tempat saya pernah merajut cinta, tempat saya mencoba menaruh jejak kebaikan, tempat saya pernah belajar sebuah persahabatan dan persaudaraan atas nama Islam.

hampir tidak ada yang berubah. mading masih di tempatnya, perpustakaan masjid masih ada di tempat dulu kutinggal, semua masih sama. hanya satu yang tidak ada. para sahabat yang dulu membersamaiku, sedang melebarkan sayap kebaikan di tempat lain.

duduk disini, memandangi setiap sudut masjid baitul izzah ini, semua momen seperti berputar lagi. bayangan setiap saudara yang hilir mudik dalam masjid juga pelatarannya seperti hadir tiba tiba. masih ada tulisan tanganku di beberapa majalah di masjid, masih ada pohon pohon yang kami letakkan bersama di samping masjid. sumpah demi Allah, aku merindukan mereka dan setiap momen kebersamaan kami.

aku hanya ingin kita tidak saling melupakan. aku hanya ingin kita saling mendoakan. seperti janji janji kita dulu, kita akan selalu bertemu dalam doa doa yang berkejaran di langit.

ada danau yang tergenang di sudut mata mengenang setiap wajah wajah cinta milik kalian, ada pula banyak doa yang terselip juga untuk kalian. bekerjalaha terus kawan. jangan berhenti. kejahatan hanya akan menang jika orang orang baik seperti kalian tidak melakukan apa apa.

Bersabarlah karena para sahabat menorehkan kisah cinta mereka menanti kemenangan yang Allah janjikan dengan darah kesabaran.

Monday, August 24, 2009

Sahabat, di Ramadhan ini aku merindu


Sebelas bulan telah berlalu dari ramadhan sebelumnya. Perpisahan yang haru dan juga pengharapan akan dpertemukan kembali.
Dan kini, kita kembali dipeluk Ramadhan. Kesempatan yang tak didapat beberapa saudara kita yang ramadhan lalu masih bersama kita.

Ramadhan seperti ini, banyak hal yang ingin kulakukan. Terlebih lagi, ada hal yang kurindukan. Bersama menyusun jadwal jaga ta'jil, bersama mengonsep kegiatan semarak ramadhan, sembari tak lupa berlomba lomba mempersembahkan ibadah terbaik. Aku rindu kebersamaan dan hangatnya ukhuwah di bulan suci, di masjid kampus tercinta. Aku sudah jauh tertinggal, aku sudah meluruh dan khilaf. Ramadhan ini, aku ingin kembali berada dalam rengkuhan dakwah yang tak sadar merenggang menjauhiku (atau aku yg menjauhinya??).

Pintaku, ALLAH.....
Izinkan hamba berada di antara hamba hamba pilihanMU
Yang ketika kudengar suaranya mengingatkan aku akan panggilanMU
Yang ketika kulihat akhlaknya mengingatkan aku pada akhlak rasulMU
Yang ketika kulihat wajahnya mengingatkan aku pada keteduhan saat berjumpa denganMU
Yang ketika kudengar tangisnya mengingatkan aku pada nikmatnya sujud menghadapMU
Yang ketika kudengar tawanya mengingatkan aku pada canda rasulMU bersama sahabat.

Saudaraku,
disebabkan oleh cinta, kuurai benang kasih yang tersimpan dalam dada ini. ALLAH menjadi saksi atas cinta ini. Karena cinta itu maka kita berjumpa, berjuang bersama, membina ukhuwah, menyatukan hati hati kita yg penuh warna ini. Hanya Allah yang mampu menyinari hati ini hingga tertawan padaNYA.

Kuteringat dengan kalimat yg selalu kita ucapkan tiap ada yang akan pergi. Bahwa meski terulur jarak, selama kita masih dalam perjuangan meraih ridha Allah, maka sebenarnya kita tak pernah terpisah.
Aku sudah jauh tertinggal, sahabat. Tapi kini, telah kusiapkan stamina dan niat untuk kembali mengambil tempat dalam barisan perjuangan kita.

Untuk itu kuucapkan,
Selamat berjuang saudaraku...
Semoga warna warni kehidupan yang telah kita lukis bersama, menyadarkan kita bahwa hidup ini memang butuh perjuangan.

Ana uhibbukum fillah.

nb : catatan cinta untuk KMBI dan semua ikhwah yang pernah membersamaiku dalam perjuangan

Saturday, July 25, 2009

Kematian Hati

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim malnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal,lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak
mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat?" Saat engkau muntah melihat
laki-laki (banci)berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan."

Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiai"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?"

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan
Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri ????.

Oleh: KH.Rahmat Abdullah

astaghfirullah. ..astaghfirullah ...


*dari milis KMBI -- Akhina Heri Yusuf--*

* Tertohok, ampuni hamba ya Rabb*

Tuesday, December 04, 2007

Tempat Mengeja Cinta


Its time to go home. Kembali menekuni hari-hariku. Kembali melanjutkan hidupku, setelah semua yang aku temui disini begitu berharga.
Melihat foto-foto di file UKMBI yang ana dapat dari saudara seperjuangan ana, tak pelak menciptakan sebuah danau di ujung mata. Mau ane upload tapi filenya terlalu besar. Betapa bangunan bersejarah ini, bangunan penuh cinta ini, entah kapan bisa kembali melihatnya.
Ada banyak sejarah disini, banyak kisah tercipta. Hidup ku menjadi lebih berwarna disini, bahkan hidupku mungkin justru bermula disini. Banyak sekali hal-hal yang terjadi disini yang membuatku terbantu menghadapi hidup yang sekarang.

Melihat UKMBI-ku bersama ruh-ruh baru, menggores suka juga luka.
Suka karena finally kita sudah di titik ini. Memang belum seberapa tapi 4 tahun yang lalu, tak pernah dibayangkan akan ada sekret KMBI, gak pernah juga berandai UKMBI akan mendapat banyak tanggapan. Tak pernah. Saat itu, kami hanya ingin mengekspresikan cinta, itu saja. Kami membangun mimpi-mimpi kami yang sederhana dan mencoba menggapainya dengan tertatih-tatih. Dan kalo saat ini sudah terlihat sedikit sekali hasilnya yang tidak ikut kami nikmati, itu sudah sebuah kenikmatan. Ini bukan kebanggaan, toh UKMBI masih belum apa-apa. Masih harus terus merangkak. Masih akan lebih dahsyat ujian yang menerpa. Bukankah semakin tinggi pohon, anginnya juga semakin kencang?

Tapi luka itu juga ada. Luka karena ternyata aku tak bisa melihat bayi ini tumbuh. Aku akan kehilangan banyak momen pentingnya. Tak bisa melihat satu persatu giginya muncul dan ia bisa mengucap satu demi satu kata. Aku tak bisa ikut membesarkannya atau paling tidak menyaksikan mereka membesarkannya. Tapi, begitulah perputarannya. Setiap masa, ada pahlawannya. Dan masaku sudah berakhir.

Suatu saat, di suatu ketika, ketika aku datang lagi mengunjunginya, aku ingin melihatnya sebagai pemuda jihad yang luar biasa. Dan sejak dulu, saat ini, nanti ketika masa itu datang, dan juga masa setelahnya, aku harap pejuang2 baru itu tahu, bahwa aku mencintai UKMBI dengan hidupku. Aku selalu ada untuknya. Tidak secara fisik, tapi hati, pikiran serta doaku selalu bersama UKMBI.

Tolong jaga bahtera ini. Mungkin kalian akan digoncang badai, angin malam pun akan membuat kalian membeku, layarnya mungkin juga akan sobek. Tapi jangan berhenti. Tambal layar itu, pakaikan selimut agar tak kedinginan, lalu lanjutkanlah cerita kebenaran. Nikmatilah pelayaran ini. Karena suatu saat ketika masamu berlalu (seperti aku saat ini), ketika sudah ada ABK lain yang lebih handal darimu, maka pelayaran ini adalah yang akan sangat kau rindu.
Bersabarlah karena para sahabat menorehkan kisah cinta mereka menanti kemenangan yang Allah janjikan dengan darah kesabaran.

Jika nanti aku duduk di perut burung besi yang akan membawa ragaku menjauh darimu, percayalah, jiwaku justru semakin mendekat.
UKMBI, dengan semua pejuang di dalamnya, aku akan terus rindu. Bahkan pada masa dimana pejuangnya tak lagi kukenal apalagi mengenaliku. Karena aku berharap rindu ini cukup menjadi sebab Allah mempertemukan kita di surga, berkumpul di samping telaga Al-Kautsar sambil mengenang masa-masa indah ini.

Ya Allah, tanamkanlah pohon kecintaan kepadaMU di hati-hati kami agar kami bisa memandang cahaya dalam perjalanan kami, agar kami selamat dari dosa, dan bersih dari kekeliruan.

UKMBI, tempatku mengeja cintaNYA

Sunday, November 25, 2007

Catatan Usai Muktamar IV

Bismilahirrahmanirrahim...

Sudah empat Muktamar, it means sudah 4 tahun kami, UKMBI, mengeja makna keberadaan kami di bumi ITATS. 4 tahun kami berupaya memberi manfaat dari kehadiran kami, mengumpulkan potensi yang berserakan dari kami, memadukannya dan ramu agar kelak kami tak malu karena tak berpangku tangan.

2 calon ketua sudah diusulkan untuk nanti diputuskan oleh ta'mir (Muktamar UKMBI tidak menghasilkan ketua, hanya usulan untuk diputuskan oleh ta'mir, red). DPO pun sudah ditunjuk. Penunjukan atas dasar analisa kami yang tak seberapa, atas sebuah penilaian manusiawi kami sembari berharap mendapat ridho dariNYA.

Sungguh, tak ada yang bisa saya ucapkan. Ingin rasanya bertahan lebih lama, tetapi begitulah perputarannya. Harus ada darah-darah baru. Harus ada semangat baru, manusia-manusia luar biasa lainnya yang akan mengeja cinta tertinggi pada Allah lewat KMBI. Saya masih saja menyebut KMBI (Komunitas Muda Baitul 'Izzah), padahal sebenarnya sudah diganti dengan UKMBI (Unit Kegiatan Masjid Baitul 'Izzah). Mungkin karena nama itu yang selama ini menjadi teman dalam kehidupan saya 4 tahun terakhir. Nama itu pula yang mencerminkan jiwa muda kami yang ingin bersenang-senang dan memilih jalan ini sebagai wadahnya.

Masih jelas dalam ingatan syuro-syuro perdana 4 tahun lebih yang lalu. Syuro-syuro yang membahas tentang nama yang bisa merepresentasikan semangat kami, logo apa yang menggambarkannya dan hal-hal prinsipil lainnya sebagai awal langkah kami. Dan Komunitas Muda Baitul 'Izzah kemudian dipilih dari sekian banyak pilihan seperti Keluarga Masjid Baitul 'Izzah, Keluarga Mahasiswa Baitul 'Izzah dan nama-nama lainnya.

Syuro-syuro berikutnya bersama orang-orang luar biasa lainnya yang menurut AD/ART kemarin pasal 13, kami adalah alumni. Satu persatu sudah menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Di Ambon, Kalimantan, Bandung, Malang, Bekasi, juga Surabaya. Masa-masa itu tak terlupa. Forum-forum yang dipenuhi banyak hal. suka, sedih, sesak, resah, kecewa, marah, tapi kesemuanya telah kami bingkai dalam cinta kepada Allah dan yang tinggal hanyalah ukhuwah.

10 bulan cukup untuk melihat masjid Baitul 'Izzah-ku berbeda. Hijabnya telah diganti, pohon yang dulu bersama-sama kami tanam saat bersih-bersih masjid, sekarang sudah besar. Semoga seperti cinta kami pada UKMBI yang akan terus membesar.
Teduh rasanya kembali di masjid itu. Hingga ketika menunaikan sholat Ashar, dari sekian banyak mukena yang ada, saya memilih satu bawahan. Kain bercorak batik berwarna orange. Kenapa kain itu yang saya pilih di antara mukena berwarna putih bersih itu? Karena itu kain mbak Anis, yang ia tinggalkan di masjid itu. Memakainya serasa ia bersama saya. ia yang sekarang sudah balik ke Kalimantan. Ia, saudara yang mengajakku memasuki dunia indah ini, dan menawanku disana hingga aku tak ingin lagi keluar. Ia yang mengajariku tentang tanggung jawab, tentang kepedulian dan tentang pembuktian ukhuwah yang luar biasa. Kami berdua dulu sering menghabiskan waktu di masjid walaupun sekedar untuk beristirahat melepas penat.

Setelah ini, aku akan kembali ke kehidupanku sekarang yang sedang kujalani. Tapi kali ini aku pergi dengan satu kelegaan. Bahwa KMBI-ku eh UKMBI-ku ada di tangan hamba-hamba yang luar biasa. Yang semangatnya mereka tularkan padaku muktamar tadi. Semangat dakwah yang menjalar hebat dan aku tahu, insyaAllah, UKMBI-ku akan baik-baik saja.

Do you know the relation between your two eyes?
They blink together, move together, cry together, and sleep together.
Eventhough they never see each other.
Ukhuwah should be just like that.

Bukan suatu masalah besar jika ku tak punya harta/pangkat di dunia. Tapi akan jadi masalah besar bagiku jika tak memiliki kalian sebagai saudara seiman tercinta apalagi ketika keberadaanku tak membawa manfaat sama sekali bagi kalian, UKMBI-ku

Catatan Jelang Muktamar IV KMBI

KMBI-ku hari ini ber-Muktamar. Sudah tiga muktamar kami lalui, dan ini bakal jadi Muktamar terakhir saya disini sebagai pengurus.
Terakhir tadi pagi, ada sms mampir di phone saya dari nomor sekretariat, intinya meminta doa dan dukungan agar tetap istiqomah.
Doaku selalu mengiringi KMBI-ku, agar pejuang-pejuangnya tetap istiqomah, ikhlas dan ihsan dalam berdakwah. Dan kali ini, aku juga ingin menghadirkan fisikku.
Ada banyak kesalahan yang kuperbuat selama bersama barisan ini. Kata yang menyakiti, sikap yang melukai, dzon yang tak boleh dan banyak lagi. Ingin kulelehkan semuanya hari ini.

Saudaraku, persiapkan jiwa kita dengan bersih ikut Muktamar ini. Berikan yang terbaik demi dakwah di masa depan. Luruhkan semua angkuh dan egois. Tak ada lagi saya, kau atau dia, yang ada adalah kita.
Ini Forum kita. Tak ada alasan untuk diam, bersuaralah, nyatakan mimpimu untuk KMBI, untuk dakwah dan mari bersama mewujudkannya.

Komunitas Muda Baitul 'Izzah ITATS, ini komunitas kita. Kumpulan hamba-hamba yang melebur, mengurai kelemahan, menggabungkan kekuatan sembari tetap berharap kembali menjadi komunitas, bertetangga di surga-Nya, Aaamiiin

Monday, June 18, 2007

Sahabatku dari Surga

Tit..tit...
di kotak masuk, tertera ID "KMBI basecamp". Penasaran, apa isi sms dari flexyhome sekretariat KMBI, tombol Yes kutekan dan...

"Assalamu'alaikum. Tetep semangat saudaraku, doa kami menyertaimu. kmbi"

Subhanallah, Allahu Akbar, saya merinding. Begitu singkat, sederhana, tapi sangat dalam. Saya gak tau siapa yang mengirimnya. Secara itu flexyhome sekretariat, so itu bisa siapa saja. Tapi itu gak penting. Karena itu semacam alarm peringatan untuk saya yang saat ini sedang begitu terlena dengan urusan dunia. Urusan kantor yang sepertinya terlalu mbulet, sibuk dengan keresahan akan orang2 yang berebut kekuasaan hingga melupakan tugasnya yang sebenarnya tanpa sadar saya justru tidak berbuat apa-apa, keluhan demi keluhan karena kerjaan yang sepertinya tidak kelar-kelar, lingkungan yang butuh iman kuat, dan masih banyak urusan dunia lainnya.

Sms itu bikin saya termenung, untuk sejenak memalingkan perhatian dari laptop dan tumpukan kertas. Di suatu tempat sana, saudara-saudaraku sedang berjuang. Apa yang aku lakukan disini? Mengapa saya hanya diam, hanya sekedar menentang dalam hati pertanda dangal dan lemahnya iman? Semangat itu, mana , masihkah tersisa? Saudara-saudaraku disana masih mengingatku dan bahkan mendoakanku. Maka, aku tak boleh menyia-nyiakan doa mereka.

KMBI, sebuah komunitas tempat saya lahir, tempat saya tahu kemana sebenarnya seharusnya saya menuju. KMBI, tempat saya bertemu dengan saudara2 yang luar biasa. Belajar tentang kesabaran, tentang istiqomah, tentang ukhuwah dan tentang semangat menjalani hidup.

Saya pernah membaca sebuah kisah berjudul :Sahabat dari Surga".
Bagi saya, mereka-lah sahabat-sahabatku dari Surga. Mereka-lah yang dikirim Allah untukku, mengajari dan menunjukkanku jalan ke surga. Kini, kami begitu jauh. Tapi semoga perjalanan kami bertemu di satu titik, surga.
Karena kami adalah Sahabat dari Surga

Tuesday, January 02, 2007

Ilaj Tandzhimi

Kejutan di hari pertama Tahun 2007. Tidak kusangka, permasalahan yang selama ini cuma dibaca di buku-buku atau novel, kejadian juga di lingkungan saya.
Setelah urun rembug, setelah semua kemungkinan kami deteksi, bahkan membuat analisa SWOT atas kejutan ini, sampailah kami pada suatu keputusan. Keputusan yang menyakitkan memang, untuk anda, untuk kami. Tapi, jika hanya memikirkan kesenangan pribadi, dunia ini tidak akan pernah indah.

Maafkan kami, keputusan ini yang harus kami ambil. Melukaimu, juga melukai kami. Tapi, ada hal yang lebih besar yang harus kami lindungi. Maaf atas ketidaknyamanan yang kami timbulkan dengan memutuskan sikap seperti ini. Tapi, kadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk sebuah hal yang lebih besar, lebih penting, dan lebih prinsip.
Tak ada lagi yang bisa kami lakukan. Keputusan sudah anda ambil. Maka, kami pun telah mengambil keputusan. Ilaj ukhawi dan Ilaj Tarbawi tak lagi bisa kami lakukan. Maka, hal yang harus kami lakukan adalah Ilaj Tandzhimi.

Nb : Kami sayang antum, tapi kami lebih sayang dakwah ini. Kami tak punya pilihan. Dakwah ini terlalu indah. Afwan

Sunday, December 10, 2006

SaYA MenCINtaiNya, SUNGGUH !!!!!

Menatap bundel Laporan PertanggungJawaban itu, hati saya rasanya bercampur. Inikah akhirnya? Selesai sudahkah? Saat inikah saya harus melepasnya? Apa saya bisa bertahan tanpanya?

Bukan hal yang mudah untuk saya. 3 tahun lebih saya berkenalan dengannya, bersahabat dan menjadi bagian darinya. Posisi indah ia tempati di salah satu pojok hati saya. Ternyata, kini saya harus melepasnya. Bukan, ia yang melepas saya karena ia akan lebih besar dengan sentuhan hamba-hamba Allah yang lebih baik dan luar biasa dari saya.

Rasa yang bercampur dalam diri melempar saya ke 3 tahun kehidupan saya terakhir. Oow, kenapa saya jadi menangis hingga tak kuasa mau bercerita apa tentang 3 tahun yang ajaib ini. 3 tahun cukup membuat saya untuk jatuh cinta padanya bahkan sejak bulan-bulan pertama mengenalnya, saya sudah merasakan cinta itu.

Bersamanya banyak kisah ajaib terlewati. Kisah penuh tawa, juga kisah penuh tangis, maupun kisah berdarah berkeringat dan terengah-engah. Bersamanya saya pernah merasakan segala macam rasa yang Allah berikan kepada hambaNYA bernama manusia. Ada saat dimana saya merasa begitu bahagia bersamanya, tak jarang pula saya merasa ingin pergi saja darinya. Saat saya sedih karena ia sedang bersedih, pun saat saya begitu marah dengan orang-orang yang menyakiti dan mempermainkannya padahal mengaku mencintainya. Pernah pula berprasangka pada mereka yang caranya tak sama dengan saya membahagiakannya. Gelisah memikirkannya, rindu jika ia lama tak memberi kabar, sakit kala ada yang menyakitinya, cemas ketika ada yang meragukannya, bahkan pula ketika justru ia yang kecewa pada saya karena tak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Maafkan saya

Ia mengajariku banyak hal. Saya berkenalan dengan banyak orang yang juga mengenalnya bahkan mencintainya. Kami kemudian bersama-sama mencoba memberikan sedikit yang kami punya asalkan ia bahagia. Saya begitu menyayanginya dan saya pun tahu ia menyayangiku. Ia memang tak pernah mengatakannya tapi dengan segala yang saya terima karena bersahabat dengannya cukup menjadi bukti cintanya pada saya. Betapapun saya mencintainya, saya merasa tidak lebih besar dari cintanya padaku. Pasalnya, hingga dekatnya waktu kami berpisah, saya belum memberi banyak sementara begitu banyak cinta yang kudapat dari orang-orang yang mencintainya karena saya mencintainya.

Begitu banyak yang berputar saat ini di dalam benak saya, hanya saja saya tak kuasa menuliskannya. Saya sulit mencari kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan indah yang saya miliki karena bisa bersamanya dan juga sulit mencari kata-kata mengekspresikan sedih yang saat ini saya rasa. Yang saya tahu, SAYA MENCINTAINYA. Itu saja


KMBI, Komunitas Muda Baitul Izzah, itulah namanya. Banyak cinta disebar disini. Cinta pada Allah, cinta karena Allah. Rasa cinta yang saya miliki untuknya saya rasakan hingga sumsum tulang belakang.

Hari ini, telah saya tuntaskan pertanggung jawaban cinta saya untuknya di hadapan orang-orang yang juga mencintainya dan yang mulai mencintainya dan akan menggantikan saya mencoba membahagiakan Allah bersamanya.

Sadar sesadar-sadarnya bahwa ini memang pembelaan saya yang terakhir dihadapan manusia. Kegagalan yang saya sembunyikan dibalik minimnya fasilitas, kurangnya kader dan masih banyak pleidoi lain. Dasar manusia. Sebegitu sombong hingga mau menerima amanah yang bahkan ditolak oleh gunung. Tapi ada satu pengadilan yang lebih besar, lebih adil dan tak bisa lagi memakai keahlian beralasan, pengadilan akhirat dimana hanya ada saya dan Allah. Apa yang harus saya katakan? Apa yang bisa saya katakan?

Di satu halaman LPJ, hati saya bergetar membacanya. Dan getaran itu menjalar hebat saat suara saudara Ketua yang bergetar menggema memenuhi ruangan membaca kalimat penutup LPJnya :
”KEJAHATAN HANYA BISA MENANG JIKA ORANG-ORANG BAIK SEPERTI ANTUM TIDAK BERBUAT APA-APA”

Apa saya termasuk ”ANTUM” dalam kalimat tadi?
Ingin rasanya menjadi salah satu dari sekian "ANTUM" itu. Ingin rasanya menjadi bagian dari sejarah perulangan kisah para sahabat yang memenangkan Islam di atas yang lain walau harus berdarah-darah bahkan menginfakkan jiwa. Ingin rasanya membuat kejahatan tidak bisa berkutik. Ingin rasanya....ah, saya ingin banyak.
Seandainya saya berani, seandainya saya lebih berani berteriak lantang tentang kebenaran.

Allah, dengan segala keterbatasan hamba, pilihlah hamba sebagai salah satu ”ANTUM” itu. Hamba ingin, boleh kan Allah?

Ikhwati fillah, saudara-saudaraku di KMBI yang sangat kucintai dengan seluruh hatiku....
Perjalanan ini melelahkan. Perjalanan membuat kita berkeringat, berdarah dan terengah-engah. Tapi tahukah antum kenapa jalan ini begitu menanjak, jauh, penuh bebatuan serta duri, terkadang menyesakkan dan menjenuhkan?
Karena surga yang menanti kita di ujung jalan ini wangi baunya, luas tempatnya, licin permukaannya, segar udaranya.
Bayangkan, alangkah indahnya jika kita bisa bertemu kembali dan mengenang perjalanan ini di telaga Al-Kautsar

Kepada seluruh ikhwah KMBI sejak awal saya gabung hingga saudara2 baru yang belum sempat kutahu nama mereka, Kepada pengurus 2005-2006, dari mulai saudara2 Badan Penasehat terhormat, akhina Ketua, akhina Sekretaris dan biro kestarinya, ukhti Bendahara, saudara2ku di Team Kaderisasi, sahabat2ku di kompub, hingga belahan-belahan jiwaku di kemuslimahan :

What a magnificient period
Bangga rasanya jadi bagian sekelumit kisah dalam perjuangan antum
Antum adalah sahabat-sahabat ana dari surga
Kelak, jika cucu saya telah memiliki sahabat
Akan kuceritakan padanya bahwa
neneknya juga punya sahabat-sahabat dari surga seperti antum

Tak ada keluh,
Tak ada kesah dalam pengembaraan ini,
Walau lara acap mendera hati
Walau jalan setapak ini kian mendaki

Yang ada cuma keheningan dan kesenyapan
Dari asa yang selalu melecut jiwa,
Asa yang bersemayam di setiap kalbu pengelana semesta...

Kita akan melangkah,
Kita akan terus melangkah,
Kita harus terus melangkah, sahabat!

Allah,
Aku ingin terus bersama mereka
Jika tak disini,
Kumpulkan kami kembali di surgaMU ya Allah
Agar kami bisa mengenang
Kisah-kisah indah kami ini
Bersama-sama

Kisah kita bermula di masjid kampus
Semoga kisah kita berakhir di surga
Janji yuk, ketemuan di surga
Bertetangga......
Semoga, InsyaAllah...
Amin

Wednesday, November 29, 2006

GerIMIs LaGi...kisah sebuah ukhuwah

Terpekur sendiri di ruang PLC sekolah, memandangi monitor tanpa tau harus menulis apa. Begitu banyak kata-kata yang bermunculan di benakku tapi aku tak kuasa menuliskannya.

Hatiku sedang gerimis. Pergi lagi seorang teman pagi ini dan aku merindukannya. Tak bisa kulihat punggungnya saat ia berbalik. Tak bisa dan tak ingin agar memori kepergiannya tak pernah ada.

4 tahun yang lalu, ia tiba-tiba saja muncul dalam hidupku. Mengajakku meniti jalan Allah dengan lebih baik. Bersama menguak keajaiban hidup dan merasakan nikmatnya ukhuwah, salah satu kenikmatan surga.

4 tahun sudah ia mengisi hidupku. Saat senyum, saat tawa, saat menangis, saat marah, saat lelah, saat futur, saat bersemangat, saat kecewa, saat saat sakit bahkan saat lapar, she is always there.

4 tahun sudah, tapi memori tentangnya begitu banyak dan semua indah. Saat ia ikut berkeringat denganku ngangkat-ngangkat barang pas boyongan kos, saat badanku dipijet sewaktu kelelahan, saat sup buatannya menghangatkan aku kala sakit, saat tubuhku digendongnya ketika tak kuat berdiri, saat bahunya ia berikan kala duka menerpa, saat jemarinya menghapus airmataku, saat membelai rambutku ketika berbaring lemah, saat cerita-cerita lucu mengalir kala tau aku butuh tersenyum, saat tertawa mendengar cerita-ceritaku, saat memegang tanganku kala tersesat, saat membantuku keluar dari jalan buntu, saat mendengar emosi-emosiku meledak keluar dan ia hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum, saat pendapatku terasa begitu penting untuknya, saat kumaknai semangat serta keteguhannya menjalankan amanah, saat kupelajari totalitasnya dalam bekerja, saat kupelajari betapa ukhuwah yang tulus itu benar-benar ada karena ia bukti nyatanya, saat begitu banyak kisah ajaib dalam hidup kulewati bersamanya.

Dan kini,
Ia pergi untuk satu tujuannya yang lain. Ia memang harus kembali. Disana, ia lebih dibutuhkan, bukan cuma keluarganya tapi juga masyarakat di sekitarnya, dakwah Islam Kalimantan menanti semangatnya untuk bergabung. Berat rasanya melepas tapi kupahami bahwa pertemuan dan perpisahan adalah keniscayaan. Suatu saat, setiap kita memang harus berpisah dengan yang kita cintai, untuk sebuah pertemuan agung dengan cinta sebenarnya, ALLAH SWT.

Semalam saat ia datang untuk pamitan, I cant see her eyes. Gemuruh hati ini menahanku untuk tidak banyak bicara. Secepat inikah aku harus kehilangannya? Tidak, aku tak mau ia melihatku menangis. Kuhargai keputusannya dan kudukung dengan seluruh hatiku. Saat ia pulang, I cant stand it anymore. Jatuh, terhempas, mendung yang sejak tadi kutahan akhirnya hujan juga, badai dan banjir. No, I still have chance to let her know that I love her so much.

Selepas subuh, kudatangi ia di kosnya. Kami bercerita seakan tak akan ada lagi cerita setelah itu. Kami tertawa seperti tak akan ada lagi tawa. Senyum itu, tawa itu, suara itu, omelan plus teguran berbungkus kelembutan, akankah kudengar lagi? Kupandangi habis seluruh wajahnya hingga mataku penuh dengan wajah indah itu. Kusayangi engkau karena Allah, bisikku dalam hati. Tak bisa ia dengar tapi aku tau, bisa ia rasakan. Karena aku tau, ia juga menyayangiku, mencintaiku. Cinta kami tak perlu diungkapkan, karena kami sudah merasakannya, lama, dalam.

Ukhti, anti menghuni satu kamar di jiwaku. Setelah anti pergi nanti, pintu kamar itu ana tutup agar tak ada orang lain yang masuk. Pintu itu hanya punya dua kunci. Satu kupegang, agar saat kumerindukanmu, aku akan masuk, duduk di pojok kamar itu dan mengenangmu disana. Satu kunci lagi kau bawa. Datanglah kapanpun kau ingin. Itu kamarmu.

Ukhti, terimakasih untuk selalu ada 4 tahun ini untukku
Terimakasih telah ikut memberi jejak dalam hidupku
Terimakasih atas kisah-kisah ajaib yang kita lewati bersama
Anti adalah satu kisah cinta ana yang tak pernah berakhir. Fisik kita berjauhan, tapi dua hati ini telah menyatu
Selamat berjuang di kampung halaman
Aku akan merindukanmu, sangat
Letakkan aku di ruang hatimu yang paling sederhana, agar jarang kau ingat, tapi tak pernah kau lupa.

Kudaratkan kecupan di kedua pipi dan keningmu sebagai akhir pertemuan fisik kita. Saat itu, hati kita begitu dekat, hatimu pasti bisa dengar jiwaku berteriak kalau aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu karena Allah.
Ajaib, begitulah kau untukku. Pergilah ukhti, kau insyaAllah akan semakin menjadi ajaib disana. Kuyakin

Nb : jangan nolak ya jadi supplier kayu kalimantan kalo aku dapat proyek di Ambon, who knows? 

Tuesday, September 19, 2006

sEBuah PEnyERahaN

Upacara bendera kali ini, ada tambahan agenda. Penyerahan kepengurusan OSIS yang lama dengan OSIS kepengurusan yang baru. Penyerahan ini diwakili dengan penyerahan bendera OSIS dari KETOS lama ke KETOS anyar.

Tercenung aku melihat peristiwa penyerahan tadi. Dalam waktu dekat, akan ada satu penyerahan lagi. Penyerahan kepengurusan Remaja Masjid Kampus. Kami, para pengurus lama harus menyerahkan masjid yang kami cinta dikelola oleh tangan-tangan dingin yang baru. Kami tidak akan benar2 meninggalkan masjid itu. Bagaimanapun, sudah ada bagian jwa kami disitu.

Setiap sesuatu ada masanya. Mungkin masa kami sebentar lagi selesai.

Saturday, August 12, 2006

Mungkinkah Kami Meninggalkan Da'wah?

Jika olahragawan bisa mengalami masa pensiun karena usianya yang renta dan kekuatan fisiknya yang melemah. Jika seorang pegawai akhirnya menemui saat pensiun karena usianya telah melewati batas ketentuan umum kepegawaian. Jika seorang artis harus meninggalkan pentas karena keterampilan dan keindahan aktingnya telah digerogoti usianya. Tapi, para juru da'wah, tidak mengenal kamus pensiun dan berhenti dari panggung da'wahnya. Kami dan saudara saudara kami di jalan ini tidak mengetahui ada kondisi yan mengharuskan kami mundur dari gelanggang da'wah karena faktor usia, kemampuan fisik yang menurun, pikiran yang sulit difungsikan secara maksimal, atau bahkan karena kondisi ekstrenal yang memaksa kami untuk mundur. Singkatnya, kondisi apapun tidak akan menyebabkan kami 'uzlah atau pergi meninggalkan jalan ini.

Di jalan ini, kami mempelajari bagaimana kisah sebagian Anbiya dan para da'i yang pernah memilih 'uzlah dari tugas da'wahnya. Kami merenungi secara seksama baaimana orang-orang sebelum kami mundur dari arena da'wah dengan alasan para objek da'wahnya. Diantara banyak kisah itu, adalah kisah Nabiyulah Ibrahim as tatkala ia berniat menjauhi kaumnya dan tidak mau menghadapi problematika da'wah yang ia hadapi dari kaumnya seperti yang tergambar di Surat Maryam ayat 48-49.
Ada pula kisah Nabiyullah Musa as seperti dalam Ad-Dukhan : 20-21. Ada pula kisah pemuda Kahfi yang menghindar kaumnya degan berlindung di dalam gua

Tulisan diatas adalah sedikit pembuka esai "Mungkinkah Kami Meninggalkan Da'wah?" yang bisa antum antunna baca di bukunya M Lili Nur Aulia "Beginilah Jalan Da'wah Mengajarkan Kami" terbitan Da'watuna.

Tulisan itu kurenungi kembali setelah baca tulisan di blog ukhti fathi (Syukron ukhti) saat dimana BEM UI suksesi. Membaca tulisan fathi, aku seperti dibawa ke bulan depan. Bulan depan, KMBI, LDK tercintaku insyaAllah akan suksesi. Penggambaran fathi kuat banget membawaku mencoba meraba "seperti itukah rasanya bulan depan?". Tidak lagi ada di sana, memberi kesempatan kepada ruh baru mengisi pos yang akan kutinggalkan. Rasanya seperti tak rela tapi setiap zaman ada batas waktunya. Mungkin waktuku sebentar lagi habis.

Memang, tak ingin benar2 kutinggalkan KMBI-ku. Hanya saja, tidak lagi memiliki KMBI secara utuh, aku perlu menata hatiku. Karena, aku terlanjur membayangkan, aku ada di sekret KMBI bersama saudara2 tercintaku melakukan banyak hal, menyusun konsep demi konsep dan sebagainya.
Sudahlah, harus kuoptimalkan sebulan tersisa ini. Sekret itu harus mendapat sentuhan tanganku. Ingin kuukir sejarah di dalam sekret itu. sekret Ruhul Jaddid Fii Jasaadil Ummah

Dan pasca itu, jika ada yang bertanya "Mungkinkah kami meninggalkan da'wah?". Maka hanya ada satu jawaban : "TIDAK, TIDAK ADA KEMUNGKINAN ITU. KAMI AKAN JADI BAGIAN DA'WAH HINGGA KAMI MEMENANGKANNYA ATAU KAMI MATI KARENANYA"

Friday, July 21, 2006

Lumpur LAPINDO

Hari ini aku&rekan2 KMBI bersama rombongan dari UKKI UPN ikut dalam kunjungan YPU (Yayasan Peduli Umat) ke daerah pengungsian korban Lumpur Panas Lapindo. Perjalanan 1 1/2 jam dari kota Surabaya, akhirnya sampailah kami ke tempat pengungsian tersebut.

Setelah mempersiapkan segala sesuatu, kami membagi tim menjadi 2 bagian. Ada yang tetap di lokasi untuk lomba menulis surat untuk Lapindo. Tim yang lain ke beberapa sekolah untuk lomba yang sama. Aku memilih yang ke sekolah.
Kepolosan anak2 itu yang senyum di kala rumah mereka tergenang lumpur. Bincang2 dengan mereka, ternyata ada satu persamaan. Setiap mereka, selama masih bersama orang tua mereka, mereka tidak peduli di rumah atau di pengungsian, bagi mereka sama saja. Asalkan ada orang tua mereka di sampingnya.

Keadaannya begitu memprihatinkan. Lumpur masuk ke dalam rumah-rumah setinggi kaki. Entah sampe kapan mereka akan ada di pengungsian itu. Pergi dan pulang sekolah, mereka diantar dan dijemput oleh truk angkatan. Memprihatinkan tapi mereka tertawa. Mungkin air mata mereka telah habis. Mungkin mereka sudah mulai menerima pengungsian sebagai dunia mereka.

Sayangnya, saat adzan dhuhur di pengungsian, musholla yang mereka buat di tempat itu hanya dipenuhi oleh orang tua perempuan dan orang tua laki-laki. Mereka yang shalat sudah sepuh. Tidak satu pun aku lihat pemuda yang shalat berjamaah di musholla itu selain kami. Masih tidak bisakah mereka melihat kuasanya Allah? Masih tidak sadarkah mereka bahwa mereka, kita, kami harus kembali? Ya Allah, jangan jadikan kami orang-orang yang lalai. Yang tidak bisa mengambil hikmah dari setiap pelajaran yang Engkau tunjukkan.

Sisi lain dari kunjungan itu, aku melihat para ikhwah yang bekerja di YPU. Subhanallah, karena mereka bisa bekerja di tempat yang kondusif. Mereka bisa mencari maisyah dengan tetap berada di jalur dakwah, dekat dengan para ikhwah dna tidak kehilangan idealisme serta prinsip. Senang rasanya jika kita bisa bekerja tapi tetap bisa selamanya bersama dunia ikhwah.

Tapi, bagi ikhwah yang tidak bekerja di dunia ikhwah, bersabarlah. Dimanapun engkau, dimanapun kita, berkontribusilah untuk perubahan.

Wednesday, June 14, 2006

Benarkah kita ini pejuang?

nasyid Qotrunnada ini sekedar mengingatkan benarkah kita adalah pejuang??

Engkau ingin berjuang, tapi tidak mampu menerima ujian
Engkau ingin berjuang, tapi engkau rusak oleh pujian
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak begitu setia kawan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup berkorban
Engkau ingin berjuang, tapi ingin jadi pemimpin
Engkau ingin berjuang, menjadi pengikut agak segan
Engkau ingin berjuang, tolak ansur engkau tidak amalkan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup menerima cabaran
Engkau ingin berjuang, kesehatan dan kerehatan tidak sanggup engkau korbankan
Engkau ingin berjuang, masa tidak sanggup engkau luangkan
Engkau ingin berjuang, karenah isteri tidak kau tahan
Engkau ingin berjuang, rumahtangga lintang-pukang
Engkau ingin berjuang, diri engkau tidak engkau tingkatkan
Engkau ingin berjuang, disiplin diri engkau abaikan
Engkau ingin berjuang, janji kurang engkau tunaikan
Engkau ingin berjuang, kasih sayang engkau cuaikan
Engkau ingin berjuang, tetamu engkau abaikan
Engkau ingin berjuang, anak isteri engkau lupakan
Engkau ingin berjuang, ilmu berjuang engkau tinggalkan
Engkau ingin berjuang, kekasaran dan kekerasan engkau amalkan
Engkau ingin berjuang, pandangan engkau tidak diselaraskan
Engkau ingin berjuang, rasa berTuhan engkau abaikan
Engkau ingin berjuang, Iman dan taqwa engkau lupakan
Ya sebenarnya apa yang Engkau hendak perjuangkan...
April 25, 2006 in Music

Semoga Lekas Sembuh

Lagi,kulakukan kesalahan ukhuwah. Kembali, aku dzhalimi saudaraku. Aku seperti biasa yang ingin segalanya jelas,segalanya jalan sebagaimana seharusnya berjalan,seperti yang sudah disepakati. Dan ketika ada yang tidak sesuai dengan harapan ana,selalu harus ada penjelasan untuk itu. Seorang akh yang tidak hadir dalam beberapa pertemuan yang seharusnya berada di tempat itu, tanpa ana tabyyun ada apa dengannya,sms2 yang bernada memaksa dan menuntut penjelasan ana layangkan ke nomer selularnya. Dan ketika diberitahu oleh ikhwah yang lain bahwa beliau sedang sakit,maka terhempaslah aku ke kubang penyesalan.Membayangkan sedih dan luka hatinya ketika dalam keadaan sakit,bukan sms doa yang ia terima tapi sms yang menuntut banyak hal.
Betapa dzhalimnya ana. Padahal saat ana sakit,beliau tidak mengizinkan ana untuk bekerja.Bahkan meski ana minta dan meyakinkan bahwa ana sehat,beliau tetap tidak mau mengizinkan. Betapa tidak ada apa-apanya ukhuwah dan toleransi ana dibanding beliau. Padahal ana sudah pernah belajar bahwa kita harus membuat 70 prasangka baik kepada saudaranya jika ada kesalahan komunikasi atau koordinasi sebelum menyimpulkan apapun.
Akhina yang dirahmati Allah,afwan jiddan.Semoga sakit ini menjadi rezeki antum untuk beristirahat dari kerepotan2 yang kami timbulkan.Semoga lekas sembuh.Sekali lagi,afwan jiddan

Saturday, June 10, 2006

Kisah sebuah syuro (another syuro)

Aku nulis tulisan ini sambil senyum tapi juga merasa bersalah. Bersalah atau apa ya namanya feel like this? Tadi janji syuro sama adek2 yang ngurusi BP Puskomda. Actually, aku bukan anggota tim itu, tapi karena belum selesai transferanku ke mereka untuk nyiapin kerja pendampingan, jadi ya ikut syuro itu nyelesein tugas transfer. Tapi itu masalahnya. Apa karena aku yang paling tua disitu, mereka jadi gak banyak omong ya. kholerisku kumat, dan mereka diam saja. Ikhwan yang seangkatan sama aku yang sebenarnya harus hadir gak datang entah kenapa. Jadinya ya aku dominan banget. Sampe-sampe aku merasa seperti pemimpin syuro alais moderator, begitu mengendalikan forum. Dan parahnya, sepertinya tidak ada “perlawanan” berarti, syuro ini datar banget. Apapun yang kuusulkan langsung diterima. Apa yang kusuruh untuk dikerjain, diiyain. Sempat nyoba untuk diam saja dan membiarkan mereka berkomentar tapi komentar2nya biasa banget dan sama seperti yang ada di pikiranku. Jadinya ya mulus banget syuro itu.
Sepulang syuro, aku mikir :

1.hasil syuro ini memang hasil syuro yang murni ataukah karena mereka merasa tidak punya bargaining position di depanku.

2.Sebenarnya itu ide-ide mereka sendiri atau cari jalan aman biar gak berkonfrontasi sama aku

3.Kayak apa sih imageku di depan adek2 itu?

Tapi, aku salut banget sama mereka bertiga, uri, samsul, lina. Ghiroh mereka tinggi dan feelingku mengatakan mereka adalah ruh barunya KMBI. Lihat uri dan samsul, aku jadi ingat heri dan cholik jaman dulu, kompak banget. Semoga saja mereka bisa jadi tandem yang baik seperti mas-masnya itu. Aku pernah menangis untuk semangat mereka berdua. Saat mereka harus kecapekan membawa nama KMBI di ajang FSDa. Bermain dengan lelah dan bercanda dengan larutnya malam berteman amanah. Aku pernah bahagia karena mereka. Adek-adekku, kutitip KMBI ya.

9 juni 06 ; 10 am
Air mataku meleleh lagi

Tuesday, March 14, 2006

Muktamarku sayang, muktamarku malang

Saudaraku ..........
Aku ingin memahamimu
Layaknya pengertianku akan gelap terang sudut hatiku

Saudaraku
Aku ingin mengerti ikatan ini
Selayaknya isyarat Rasulullah
Bahwa aku dan kau adalah satu tubuh

Saudaraku...
Aku ingin menampung setiap tetes keluh kesahmu
Dalam cawan hatiku
Hingga ku mampu meneguk kesedihanmu
Dan senyum itu pun kembali melekat di wajahmu…….

Jika cinta adalah tangismu
Maka biarkan air mata itu menelaga hingga aku pun berenang mengarunginya
Jika cinta adalah gelakmu
Maka biarkan aku menjaga kesedihanmu tertidur pulas di bilik persembunyiannya

Jika cinta adalah amarah
Maka biarkan aku menampung bara itu
untuk menghangatkan kebekuan jiwa
Andai indahnya ukhuwah ini bisa terlukiskan
maka tak cukup warna cinta untuk menuangkannya ……..
Andai cinta ini bernama
Maka biarkan namamu selalu bersanding dengannya ......

”Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat ” ( Q.S 49:10)

Sekpa, 4 Dzulhijjah 1425 H

al faqir Ilallah
posted by M. Awan Eko Sabilah

Baca puisi postingan akh awan di blognya bikin air mata ini meleleh lagi. Teringat akan muktamar yang indah, yang diselingi air mata berlandaskan cinta. Cinta akan amanah, cinta akan saudara, cinta akan ukhuwah, cinta akan dakwah.

22 april 2005 yang lalu, Saat muktamar itu, kita berkumpul untuk melihat dengan jelas masalahnya apa dan mencari solusi bersama2. Semua mata menangis. Suara isak tangis akhwat terdengar dengan jelas di telinga ana menambah sedih dalam hati ini. Sambil terus berurai air mata, kupinta teman2 untuk bersatu. Untuk bisa merasa memiliki KMBI. Untuk tetap solid, saling dukung. Karena dalam AD-ART pun ada kewajiban kita yang salah satunya adalah “mnenjalankan amanah dengan baik” yang ketika itu dibacakan, semua peserta muktamar berteriak “SEPAKAT”. Ingatlah bahwa kata SEPAKAT itu bukan hanya diteriakkan di forum tapi Allahlah yang menjadi saksi kata itu dan kita sudah berjanji. Apapun amanah kita, di posisi manapun kita ditempatkan, berjuanglah karena Allah yang akan menilai. Allah yang akan menilai kita dari usaha kita, dari keseriusan kita menjalankan amanah, bukan pada posisi kita. Setelah itu., forum pun ditutup dengan teriakan Allahu Akbar yang menggetarkan semangat. Para ikhwan saling berpelukan menguatkan. Kami, para akhwat pun saling berpelukan dan mendoakan keistiqomahan. Saat itu pandangan semu ana menangkap seorang akh yang masih duduk mematung di kursinya sambil nangis hingga dadanya sesenggukan dan ditemani 2 akh yang lain memberi kekuatan untuk berhenti menangis.
Muktamar kali itu memberikan banyak pelajaran. Satu hal yang jelas, ana semakin mencintai antum semua dan ana akan terus berada di sisi antum semua. Cinta ana sudah terlalu besar kepada antum semua, dengan segala kekurangan dan kelebihan antum. Cinta ini akan selalu ada di hati. Ya Allah, kuatkan kami ya Allah. Kuatkan kami untuk terus menjaga rumah dawah kami ini. Amiiin

Monday, February 27, 2006

Gak Salah Kan Ngingetin Saudara?

Kenapa aku harus merasa bersalah? niatku baik, karena kita sama2 menyandang label seorang muslim. Aku hanya ingin mengingatkan tentang apa yang tujuan kita berada di sini dan bagaimana cara kita untuk menggapainya? Allahu ghayatuna... Allah - dan hanya Dia - yang berhak menjadi tujuan kita.. Benar bukan?

Then, kenapa harus merasa bersalah?
Jika nasihat yang aku berikan ternyata menyakitkan, apa iya aku harus minta maaf. Bagaimana kalo permintaan maffku malah membuat nasihat yang coba kulantangkan tidak terdengar? Bukannya lebih baik mengatakan yang benar walaupun itu menyakitkan?

Apa yang saya kemukakan tadi sama sekali tidak melunturkan ukhuwah saya ke antum, dua orang ikhwah yang begitu saya hormati. Saya sampaikan maaf sebesar-besarnya jika tadi saya terlalu kasar atau tidak ahsan cara penyampaian sikap saya ini. Ini hanya ikhtiar saya untuk saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran, untuk bersikap profesional. Tidak bertumpu pada egoisme pribadi. Tidak merasa penting dalam dakwah karena dakwah tidak pernah membutuhkan kita. Kita ada dan tidak pun, roda dakwah akan tetap berputar. Justru, kitalah yang sangat membutuhkan dakwah. Karena tanpa dakwah, kita hanya diam dan seperti air yang tergenang, bau busuknya mengganggu dan menjadi sarang penyakit. Berlapang dadalah.

Ibarat perjalanan, KMBI adalah perahu yang kita huni bersama. Kayu-kayu yang sudah mulai keropos, layar yang mulai sobek, kabin yang sudah mulai kotor, ayo kita bersihkan bersama agar perahu ini tetap berjalan sampai tujuan. Jangan memilih untuk terjun ke laut karena kita tidak akan sanggup mengarungi lautan dengan berenang seorang diri. Mungkin memang ada lumba-lumba yang akan menemani kita bermain, tapi bukan tidak mungkin ada hiu yang siap menerkam kita. Mungkin laut akan tenang sehingga kita bisa berenang dengan mudah, tapi bukan tidak mungkin tiba-tiba ombak yang besar menghantam. Begitu juga pasti ada siang yang sinar mataharinya bisa membuat kita hangat, tapi saat malam tiba apakah kita bisa menahan kedinginan airnya? Jika setiap ketidak puasan, setiap kekecewaan disikapi dengan mundur atau bahkan berbalik menjadi musuh, maka kapankah dakwah ini bisa baik?

Disinilah, kematangan tarbiyah kita diuji

Astaghfirullah.. Rabb, tolong singkirkan rasa tak berdaya ini dari dadaku. Aku hanya ingin menjalankan perintah-Mu.
Bukankah kewajiban kita hanya mengingatkan?

26 Februari 2006
Ba’da maghrib selepas syuro BPH dan syuro perdana kembalinya seorang ikhwah

Saturday, February 25, 2006

Dakwah tidak butuh engkau, KAU yang membutuhkannya

"Terinspirasi dari kammi.or.id yang pas banget sama situasi sekarang"

Setiap orang pasti menginginkan kesempurnaan dimanapun dia berada, namun hanya sedikit sekali orang yang bersedia berkorban untuk mewujudkan kesempurnaan yang diinginkannya.

KMBI adalah organisasi yang didirikan oleh manusia, penggeraknya, manusia, anggotanya terdiri dari manusia-manusia, intinya KMBI adalah kumpulan manusia. Suatu keniscayaan organisasi yang didirikan oleh manusia dan digerakkan oleh manusia pasti memiliki kekurangan dan kelemahan,begitu pun dengan KMBI. Untuk itu yang dibutuhkan KMBI adalah orang-orang yang mau berkorban untuk mempebaiki kekurangannya tersebut dan meminimalisir kelemahan yang muncul.

KMBI sama sekali TIDAK membutuhkan orang-orang yang “lari” dari medan pertempuran yang hanya dikarenakan “senjata” yang dimiliki sudah rusak. KMBI tidak membutuhkan orang-orang yang meninggalkan “kapal” hanya karena di dalam ‘kapal’ tersebut terjadi perpecahan, peralatan dalam “kapal” tersebut mengalami kerusakan atau bahkan “kapal” tersebut sudah memilih jalur yang salah dan menyimpang dari tujuan semula. Sungguh sangat egois ketika ada orang meninggalkan “kendaraan” yang mogok atau tersesat, sementara dirinya yang tahu cara membetulkan ‘kendaraan’ tersebut atau tahu jalan yang benar yang bisa dilalui lebih memilih kendaraan lain yang lebih bagus dan berisi sopir dan kenek yang terlatih. Apakah jiwa pengecut itu yang sekarang ada dalam diri pasukan KMBI.

Seandainya hari ini setiap anggota KMBI berfikir egois seperti telah dianalogikan di atas, niscaya dua atau tiga hari mendatang KMBI sudah tidak ada lagi yang tersisa hanya sebuah nama dan mungkin bendera yang usang. Apa yang akan kita katakan kepada Muasis KNBI ? Apakah alasan-alasan sepele tadi yang akan kita katakan sebagai “kambinghitam” matinya KMBI. Niscaya pendiri-pendiri yang sudah bersusah payah mencurahkan segala yang dimilikinya demi berdirinya KMBI serta membangun landasan bagi generasi berikutnya akan kecewa dengan kondisi penerus-penerusnya yang berpikiran “egois”serta memiliki mentalitas yang lemah. Apakah generasi seperti ini yang akan menjadi pemimpin masa depan, yang diharapkan mampu mewujudkan masyarakat kampus yang islami seperti yang tertulis dalam VISI besar kita? Saya rasa bukan, karakter yang dicita-citakan KMBI bukan seperti itu.

Buktikanlah wahai saudaraku bahwa kalianlah mujahid/mujahidah Allah yang akan meneruskan estafet perjuangan pendahulu KMBI dan merebut tongkat estafet dakwah yang mulia ini. Torehkanlah diri kita dalam lembaran sejarah sebagai orang-orang yang sukses melakukan perbaikan bukan hanya sekedar “numpang lewat” atau bahkan hanya sekedar menjadi penonton.

Buat seorang al-akh, jika antum bertanya apa antum masih dibutuhkan oleh KMBI? Jawabannya adalah "TIDAK". KMBI tidak pernah membutuhkan antum, ana atau siapapun. Karena kitalah yang butuh untuk berputar dan berbahagia dengannya. Kembalilah jika antum ingin kembali, kembalilah karena antum memang ingin kembali, kembalilah karena antum butuh untuk kembali. Tapi jika keegoisan itu masih ada, jangan dulu kembali. Habiskanlah dulu seluruh kesenangan antum di luar sana, karena jika antum kembali, tiada lagi kesenangan yang antum rasakan. Memilih di jalan ini, berarti memilih untuk menderita, memilih untuk berkorban, memilih untuk tidak bersenang, tapi itu pun berarti memilih untuk merasakan kebahagiaan hakiki dari janji Allah yang pasti.
Antum boleh memilih kembali atu tidak, karena Allah akan menggantikan antum, ana atu siapapun yang mutung dengan yang lebih baik. Setiap masa ada pahlawannya.

24 Feb 2006
08.45 am
Terpekur membaca SMS seorang ikhwah dan ana marah membacanya

Monday, January 16, 2006

Maafkan kami saudaraku...

Ya Allah, ampuni kelalaian kami, kecongkakan kami, keegoisan kami.
Ampuni kami yang masih setengah setengah mengusung dakwahMU
Ampuni kami yang masih sombong karena merasa dibutuhkan dalam dakwahMU
Padahal kami yakin justru kamilah yang membutuhkannya
Karena sekiranya kami tidak disini pun,
Engkau akan menggantikan kami dengan jundi-jundiMU yang lebih baik
Ya Allah, maafkan dan ampuni kami
Dan beri kami kesempatan untuk menjadi mulia di jalanMU tanpa kesombongan
Kami tidak mau tergantikan Ya Allah
Kami hanya ingin menambah partner untuk mengusung dakwahMU, bukan digantikan oleh mereka
YA Allah, ampuni keangkuhan kami ini

U/ seorang saudara yang kami dzholimi karena menunggu ½ jam untuk syuro