Wednesday, April 08, 2009

Haruskah kekuasaan menutup mata hati?

Euforia punya rekan kerja baru sejak 24 jam yang lalu sangat melegakan hati. Bahkan semalam kita sudah acara makan bersama. Pagi tadi, terpikir untuk membuat tulisan selamat datang kepada new comer di office, seperti tulisan selamat jalan kepada pendahulu posisi tersebut. Tapi, buum, dalam waktu 10 menit, semua bisa berubah. Betapa kekuasaan begitu memegang peranannya dan mencengkeram serta memporak porandakan sistem yang berlaku dan prosedur yang telah dijalani.

Kekecewaan yang kurasakan sekarang, tentu saja tidak sebesar kekecewaan dia yang menjadi korban. Mengapa harus ada korban atas sebuah kekuasaan yang dimaknai terlalu tinggi. Harus ada korban atas sebuah otoritas yang terlalu berlebihan. Alasan yang terkesan dibuat-buat hanya untuk menutupi alasan yang sebenarnya. Saya mempertanyakan profesionalitas. Saya mempertanyakan kejujuran. Saya mempertanyakan kualitas yang ditawarkan dari proses yang licin ini.

Mencari posisi aman tidaklah harus dengan mengorbankan perasaan orang lain. Bawahan bukanlah robot yang tidak punya hati yang atas nama kekuasaan bisa diperlakukan seenaknya. Atasan juga bukanlah seorang nabi atau malaikat yang suci yang selalu benar. Komunikasi, bagaimana cara kita mempertahankan apa yang kita yakini benar, mempertahankan hal-hal prinsip yang kita anut, semestinya bisa dilakukan sampai titik darah penghabisan.

Berulangkali saya berpikir, apakah ini saat yang tepat untuk membuka aib orang lain demi mempertahankan apa yang diyakini? Jelas sangat tidak bijaksana. Betapa tidak adilnya kenyataan yang terjadi hari ini. Hati kecil rasanya ingin berteriak meneriakkan kebenaran, meneriakkan ketidak adilan, meneriakkan kedzaliman yang secara tidak sadar dilakukan.

Bentuk apresiasi yang salah tempat. Salah kaprah. Eneg..eneg...eneg.
Aku marah sampai rasanya mau muntah.

Saturday, April 04, 2009

Blogger Maluku (Part 1)


Lets the story begin....

Dulunya, ngeblog menjadi hal yang menyenangkan. Sorry, kata "dulu" bukan berarti sekarang tidak menyenangkan lagi. Itu hanya penggambaran waktu. Setiap hari selalu ada yang baru di blog ini. Apapun itu, hal sekecil apapun itu pasti tertuang. Yang berantem sama petugas perpus, yang dorong sepeda motor dari jalan masuk UBAYA tengah malam karena banjir, yang habis nonton Perancis - Itali, yang habis dapat hadiah pepaya dari murid, apapun itu selalu tertuang. Menulis, posting tepatnya, menjadi hal yang sangat dirindukan. Dalam perjalanan, dalam benak telah berkumpul rangkaian kata yang ingin secepatnya dituang kalo nanti berhadapan dengan kompi. Dulu, ya dulu.

Sekarang, pekerjaan nge-blog menjadi hal yang jarang *sengaja tidak pakai kata tidak pernah* dilakukan. Bukan karena demam FB, karena jauh sebelum kena demam itu, blog sudah jarang di-update. Lantas karena apa, saya sendiri lupa. Namun, belakangan ini kerinduan untuk aktif nge-blog lagi muncul. Blogwalking, say hello di shoutbox, comment gak penting di postingan blogger yang lain atau hanya sekedar membaca. 

Dulu, membaca apapun yang terbaru dari blogger lain selalu menginspirasi. Secara tidak sadar, pertemanan terbentuk dengan sendirinya, keakraban yang tercipta tanpa pernah bersua menjadi sesuatu yang menakjubkan. Lalu, datanglah hari ini. Hari yang perlu dicatat dalam lembar sejarah hidupku. Sepersekian dari blogger Maluku berkumpul di Cafe Seroja. Dari kanan ke kiri AlmasOm EmbongIkhsan, TiaraAku , Masrur, Dharma. Awal yang menyenangkan dan definitely sure adalah awal dari hal-hal menakjubkan lainnya.


Banyak hal yang bisa dilakukan bersama nantinya. Bukan cuma sekedar menyebarkan virus blog pada orang-orang seperti kata bung Almas, tapi lebih dari itu. Bagaimana human connection tercipta, dan setiap kami bisa mendapat hikmah lebih dalam dari yang lainnya. Kepingan-kepingan hidup setiap kita bisa jadi sebuah inspirasi yang penting bagi yang lainnya. 

Sejak hari ini, mari bergerak bersama. Kita lakukan banyak hal-hal hebat bersama. 

Sejak hari ini, awas keduluan ***** (gak berani tulisnya, hehehe)

Catatan : Ditulis setelah pertemuan perdana bersama blogger Maluku, Sabtu 4 April 2009 di Cafe Seroja, Amplaz . Foto-foto di blog almas

Just Enjoy The Trip

It’s complicated.
Make a trip with people who sucks me for much of thing. There is a lot of criteria and all of that make me feel so uncomfortable. One, thinks that he only have one boss and no there is no one can tell him what he must do. Two, act like he knows everything. Think that he is the one and only knows everything and just talk and talk and talk. Three, act bossy with no realize who exactly he is. 
For man A, I wanna say “Stop be like a jerk”. For man B, I wanna say “Ups, it is disquisting”. For man C, I wanna say “Who the hell you are?”

One thing that make me stay that I’ve been said that I must enjoy my trip. Try to connect with nature, just enjoy it. The sound round and round in my head and make me feel comfort during the sucks thing. And then, I like to see the stones, the rockstones, the trees,fish, white sand, island,and many view which make me calm.

I enjoy my trip, I enjoy be with 3 man who makes me sick, try to take what happen to me today. And then, everything goes normally again. There is a smile, there is a laugh, there is a help, there is human connection, there is take a picture, there is much thing I love it. Fortunately, beside I have 3 annoying man,I have 5 funny man. A with his calm and it send to me. B with the “wanna know” behaviour. So, we discuss all that time. C with his funny laugh, if he laugh, I laugh although for me that’s not funny joke. D with his wise,calm. He is so adult. And the,E, who enjoy his life much. Never take everything personally, cheerfull people. Yup, I’ve work trip with 8 man. 

Just relax if you have a bad situation. Just relax if you have a friend who doesn’t respect you. Just relax if everything happen not like what you want to be happen. Just relax, just take a deep breath and enjoy it. Everything will fine. I believe in good. The good thing will happen if we believe it.the good thing will happen if we survive through the screw. Everything will be okay if we believe it will be okay.

And now, I am okay with today. And for that feeling, thanks to someone who call me at 4 a.m just for ask me to enjoy my trip today. You are my person, thanks……..

Is that the right thing?

Bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu baik untuk kita, bahwa sesuatu itu memang untuk kita? Kadang, di awal serasa tepat, serasa kita memang dilahirkan untuk mendapatkan hal itu. Tapi seiring berlalunya waktu, rasanya hambar, rasanya begitu tidak tepat lagi. 
Lalu, ketika kita mulai merasakan ketidaktepatan itu lagi, bagaimana kita bisa tahu bahwa itu memang tidak tepat? 

Belakangan ini saya berpikir, apakah memang ini yang saya inginkan? Apakah dalam hidup, ini yang saya inginkan dan yakini untuk dijalani? Siapa yang memberi jaminan bahwa pilihan-pilihan yang saya buat nantinya tidak akan membuat saya menyesal?

Yang dibutuhkan oleh saya sekarang adalah waktu. Waktu untuk berkembang,waktu untuk berpikir, atau mungkin waktu untuk membiarkan pergi. 
Megap-megap rasanya ketika harus mengupayakan semuanya sendirian. Memastikan semuanya baik-baik saja,membakar diri sendiri demi terangnya sekitar. Kadang, bersikap seperti lilin bukanlah sikap yang tepat. Bagaimana bisa kita terus menerus membakar diri sendiri supaya orang disekitar kita dipenuhi cahaya. Bagaimana setelah kita selesai terbakar? Setelah kita menjadi abu?

Memberi dan memberi, itu yang terus menerus berusaha kudengungkan agar tak menyerah. Memberi dan hanya memberi, itu saja. Karena cinta adalah memberi

Tuesday, March 24, 2009

Kembali Menulis

Menulis menjadi hal yang asing bagiku saat ini. Sepertinya tak ada waktu lagi untuk menulis. Seketika kerinduan itu menyeruak batin, saat-saat dimana aku begitu menikmati waktu merefleksikan kejadian yang kulewati setiap harinya, merenungi setiap hikmahnya dan merangkai dalam kata-kata.
Padahal, saat sekarang ini justru begitu banyak kejadian terjadi di sekitarku. Aku bertemu dengan begitu banyak orang, bersinggungan dengan begitu banyak variasi pemikiran, perasaaan yang begitu fluktuatif antara sakit, suka, duka, lelah, kecewa, gelisah, bosan, dan sebagainya. Begitu banyak hikmah yang bertebaran di sekitarku dan semua terlewatkan begitu saja, tak terdokumentasikan dalam benak dan tulisan. Ah, mutiara hidup yang kuabaikan.

Kini, puing-puing hikmah yang berserakan itu satu persatu akan kukumpulkan kembali. Mencoba menjernihkan hati dan melihat setiap hal dari kacamata kebaikan. Mencoba mengeja makna setiap peristiwa dan membingkainya dalam nilai nilai ketuhanan.

Waktunya untuk kembali menuliskan kebenaran lewat kata-kata sederhana yang seringkali tak menggigit. Waktunya menuangkan pikiran yang lebih banyak salahnya, menulis apa yang tak sanggup terucap. Waktunya untuk kembali merefleksikan diri dalam barisan kata-kata. Bukan untuk siapa, tapi untuk diri ini, untuk batin ini.

Monday, October 20, 2008

Sekali Lagi untuk Santje dan Iwan

Tahukah kau sobat?
Arasy kembali berguncang.
Tempat suci itu bergetar hebat mendengar suara perkasa seorang hamba
Suara teguhnya yang siap mengambil alih dirimu
Ya.. dirimu sobat
Yang telah dijemput dengan gagah oleh seorang pangeran

Tentu itu tak main-main bukan?
Getaran arasy pastilah sampai ke hatimu
Juga hatinya yang menggenggam tangan ayahmu
Siap mengambil alih tanggungjawab menjagamu dari seorang ayah
Seorang yang telah merelakan setiap aliran darah dan nafas untukmu selama ini

Tahukah pula kau sobat?
Sejak hari itu, kau tak lagi sendiri
Genaplah sudah sayapmu
Kau pun siap terbang tinggi, lebih tinggi dari yang selama ini kau arungi

Sobat,
Jika pun kau tak tahu itu,
Dan baru kau sadari saat ini
Aku yakin , ada satu hal yang kau tahu
Bahwa aku, disini, menemanimu dalam doa
Agar ketika kau terbang mengangkasa
Kau tetap tunduk pada Allah
Agar perjalanan yang sudah kau mulai bersamanya ini
Selalu Allah yang kalian jadikan tujuan

Sahabatku,
Doaku terangkai indah
Semoga rumah cinta kalian selalu diselimuti keberkahan


Nb : Buat Santje dan Iwan di bumi Ambon di 18 Oktober 2008. Wan, jaga Santje-ku baik-baik ya

Saturday, October 18, 2008

Persembahan Cintaku untuk Santje dan Iwan


Say, langkahmu kini tak lagi sendiri. Disampingmu telah berdiri seorang pria yang siap melakukan apapun agar kau bahagia. Telah ada seorang pria yang kudengar sendiri dengan lantangnya berakad menganbil tanggungjawab akan dirimu dari papa.

Say,
Melihatmu dengan balutan putih yang elegan dan suci tadi, sulit kujelaskan dengan kata-kata kebahagiaanku. Begitu cepatnya waktu berlalu. Sepertinya baru kemarin kita berlari-lari di sekolah saat jam istirahat tiba. Baru kemarin kau mengibarkan bendera dan aku protokolnya. Baru kemarin kita pergi les bareng hampir tiap hari. Masa-masa SD yang indah.

Persahabatan yang tak bisa dibilang sederhana ini semakin lengkap karena kehadiran suamimu sekarang. Dia yang sejak awal telah begitu mengerti arti setiap kita bagi yang lainnya. Semoga kehadirannya membuat warna persaudaraan kita semakin indah.

Sayangku,
Aku tak punya khutbah pernikahan, tak punya pula pesan untuk kalian bagaimana supaya tetap bahagia. Aku hanya punya doa. Aku hanya punya harap yang begitu besar bahwa selamanya akan selalu kulihat senyum di wajahmu. Selamanya hanya bahasa bahagia yang terangkai dari bicaramu. Selamanya hanya pancaran kilat penuh cinta yang kulihat dari indah sinar matamu.

San dan Iwan,
Pernikahan tidak cuma sampai di sini, sobat. Ada banyak pekerjaan dan tugas yang menanti. Bukan sekedar merapihkan rumah kembali dari sampah-sampah pesta pernikahan, karena itu mungkin sudah dikerjakan oleh panitia. Bukan menata letak perabotan rumah tangga, bukan juga kembali ke kantor atau beraktifitas rutin karena masa cuti habis.

Tapi ada hal yang lebih penting, menyadari sepenuhnya hakikat dan makna pernikahan. Bahwa pernikahan bukan seperti 'rumah kost' atau 'hotel'. Di mana penghuninya datang dan pergi tanpa jelas kapan kembali. Tapi lebih dari itu, pernikahan merupakan tempat dua jiwa yang menyelaraskan warna-warni dalam diri dua insan untuk menciptakan warna yang satu: warna keluarga.

Say,
Harapanku yang terbesar adalah tetaplah menjadi sahabat yang baik bagiku dan Lia. Karena itu sangat berharga. Melangkahlah sayang, tapaki jalan yang terbentang di hadapanmu sekarang. Jalan yang bukan hanya ditaburi mawar merah dan ditemani kicauan burung. Tapi adalah sebuah jalan yang juga banyak ditaburi kerikil kecil yang seringkali menjadi penyebab tersandung. Jalan yang sejuta rasa bercampur di dalamnya. Bahagia, senang, tawa, senyum, tapi juga ada sedih, air mata, kecewa, marah, gelisah. Bingkai ia dengan ketaatan pada Rabb. Kau akan semakin kuat dan cinta akan menjadi obatnya.


Tak ada yang bisa kuberikan. Hanya sejumput doa agar kau bahagia selamanya. Impian yang besar dari seorang sahabat yang memiliki cinta sederhana ini. Dan kepada Iwan, aku ingin meminta kembali satu hal yang sudah kusampaikan di pelaminan tadi, titip san ya, buat dia bahagia. Entah bagaimana caranya, buat dia bahagia. Terimakasih telah memilih sahabatku sebagai pendampingmu. Dia yang terbaik.

San, bersabarlah saat kurang, bersyukurlah saat berlebih. Suamimu bukan malaikat. Ia hanyalah lelaki biasa yang mencoba menjadi malaikat setidaknya untukmu. Berbaktilah dengan bakti terbaik yang bisa kau berikan.
Iwan, istrimu bukan malaikat. Ia hanyalah wanita biasa yang mencoba menjadi malaikat setidaknya untukmu. Luruskan kala bengkok, tapi jangan kau patahkan.

Ambon, 18 Oktober 2008
Sebuah harap bagi Santje dan Iwan yang telah mengambil sebuah langkah besar. Wish you happy ever after.

gambar dari : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqB7NhJucRLjwHo6PW3IMrqmQW7al31zCf3fybhyphenhyphenCNQlnq6i1sOdIIhbAMAPLxrXb5pEoEIr7Bxgg7PsEBkYfxFVTMU9JubqhZ4wnr5kUYniZ5JTnf-hfBTM09BOx3Q3e52AUi/s320/wedding.jpg (dra, ngikut nih)

Saturday, October 11, 2008

Ketika Takdir Bicara

Kehilangan orang-orang yang kita cintai dalam sekejap pastilah terasa sangat menyakitkan. Ketika beberapa jam sebelumnya, kita masih bisa menikmati tawa riang anak-anak kita.bocah-bocah lucu yang pada dirinya telah tertanam sejuta harapan untuknya dalam benak kita. Putra-putri yang padanyalah hidup kita terarah. Lalu tiba-tiba dalam hitungan menit, ia pergi dan tak akan kembali. Dengan cara yang tak biasa pula.
Lalu, apa pula rasaya ketika kita baru saja menikmati senyuman tulus pasangan kita. Melihat riang di matanya dan terpana kagum melihatya ceria menggendong buah cinta. Masih sempat bercerita tentang mimpi-mimpi yang ingin kita rajut bersama. Lalu selang beberapa saat kemudian, pasangan hidup kita mengalami musibah dan harus terbaring lemah di Rumah Sakit tanpa tahu kapan bisa keluar.

Aku memang belum punya pasangan, apatah lagi punya anak. Tapi kecamuk yang dirasakan oleh senior di kantor kini, jelas ikut menusuk batin terdalamku. Kecelakaan mobil Piru – Ambon seminggu lalu jelas menyisakan kekosongan yang mendalam di runag hati. Kehilangan dua orang anak seketika setelah sejam yang lalu masih bersama di feri sungguh sesuatu yang tak ada seorang pun bisa membayangkan. Dan pikirannya kini tercurah pada kondisi kesehatan sang istri sambil berusaha menyembunyikan kepedihan kehilangan anak di depan istrinya itu.

Anak-anak itu, masih begitu muda. 4 dan 5 tahun. Ada begitu banyak keinginan yang ingin diwujudkan orang tua mereka kelak kalau mereka besar nanti. 4 dan 5 tahun, masih banyak kelucuan-kelucuan yang bisa tercipta mewarnai har-hari indah di rumah. Ah, tak bisa kubayangkan.

Begitulah ketika takdir telah berbicara. Manusia memang tetap harus berhati-hati, berikhtiar mengusahakan yang terbaik. Namun di saat yang sama, manusia juga harus bisa menerima setiap ketentuan yang digariskan kepadaNya. Karena apapun yang terjadi, itu dengann ijinNya. Keihklasan dalam menerima takdir Allah yang berlaku pada kita, insyaAllah bisa membantu kita lebih cepat sembuh dari luka karena kita yakin seperti apapun keras dan sedihnya hidup ini, itu berjalan dengan kasih sayangNya.

Aku mencoba memaknai peristiwa ini sebagai sebuah peringatan dari Allah untuk semakin dekat denganNYa karena kita tidak tahu dalam kondisi apa kita saat kita dipanggil olehNya. Apakah dalam keadaan beriman atau tidak. Sebuah pelajaran juga bahwa kita sebenarnya tidak memiliki apa yang kita pikir kita miliki. Orang-orang yang kita sayang, sahabat-sahabat kita, keluarga kita, anak kita, teman kita, bahkan diri kita adalah kepunyaanNYa. Dan ketika Yang Memiliki mengambil kembali apa yang dititipkan ke kita, bolehkah kita protes? Apa hak kita untuk protes? Bukankah kita hanya dititipi?

Allah, jagalah diriku dan seluruh saudara-saudaraku dengan penjagaanMu yang tiada apa bisa menandingi. Tetapkanlah kami dalam keistiqomahan di jalanMu dan hiasi sayap kami dengan indahnya akhlak karena mencintaiMu.

Sunday, September 28, 2008

Happy Lebaran 1429 H

Menghitung mundur, hari Ramadhan akan segera berlalu. Bertanya pada diri, adakah Ramadhan ini berarti? Adakah berakhir dengan predikat kesayangan Allah. 

Sejujurnya, aku merasa grafik Ramadhan tahun ini menurun dari tahun kemarin.  Padahal tahun kemarin juga gak bagus-bagus amat. Bahaya nih.

Lepas dari itu semua,

Aku pengen ngucapin Selamat Lebaran buat semua teman blogger yang merayakan.

Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan. Bagi yang mudik, hati hati di jalan ya. Orang-orang terkasih menanti di rumah. 

Semoga selalu ada Allah dalam setiap lintas pikir kita, dalam setiap jejak hati kita.

Thursday, August 14, 2008

Renungan Kesyukuran dari Dahan dan Air

Seperti tahun-tahun sebelumnya, suasana mendekati perayaan kemerdekaan penuh hiruk pikuk merah putih. Setiap kantor seperti berlomba mendandani kantornya dengan nuansa merah putih atau bendera hias lainnya. Euforia itu juga terjadi di kantorku. Sebelum nanti ditegur sama yang berhak menegur, tiang bendera harus segera dipasang. Yah,biar kita bisa nyanyi ”Berkibarlah bendera negeriku, berkibarlah di depan kantorku”.

Sebetulnya postingan ini bukan tentang kemerdekaan.
Jadi gini, sejak beberapa hari yang lalu ada orang kantor yang sudah ngurusin pemesanan tiang bendera plus ngecat-ngecat dan nyiapin tempat bakal berdirinya itu tiang. Nah, jadilah tadi siang tiang itu berdiri ditempatnya. Tiang setinggi 6 meter jadi bagian dari kami mulai hari ini. Didepannya tiang bendera itu ada pohon besar yang tingginya mungkin mencapai 9-10 meter. Salah satu dahannya bersentuhan dengan ujung tiang baru itu. It means, bakal mengganggu penglihatan ke bendera nanti dan juga kibaran bendera bakal terganggu karena bersentuhan dengan dahan itu.

Kita memutuskan untuk memotong bagian dahan itu. Nah, si teman kantor ini gak punya keahlian manjat pohon apalagi ditambah keharusan motong dahan. Aku yang merasa gak ada urusannya dengan manjat memanjat pohon plus potong dahan lantas masuk ruangan lagi dan meneruskan pekerjaan. 15 menit kemudian, ada suara berisik di luar sana yang ternyata aktivitas memotong dahan sudah dimulai. Rekan kantor tadi pergi mencari orang yang punya keahlian di bidang panjat memanjat. Dahan-dahan yang besar dipotong agar tidak lagi mengganggu penglihatan. Kerjaan seberat itu, speechless daku.

Singkat cerita, berakhir sudah tugas si bapak ini. Lantas rekan kantor itu mengisyaratkan padaku kalau ia mau memberi upah ke si Bapak. Saya juga membalas isyarat itu dengan mengiyakan. Si teman bertanya ”berapa?”, dan dijawab si bapak ”terserah saja, beta bukan minta-minta”. Teman pun membalas ”bukan begitu, bapak minta berapa?”. lalu sambil menepuk bahu teman saya, bapak itu berkata ”terserah saja, yah, seadanya-lah”.

Lalu temanku pun mengeluarkan dompet dan mengambil duit yang belum bisa kulihat jelas nominalnya. Waktu dikasih ke si Bapak, aku melihat mata si Bapak tersenyum dengan senyum yang tak bisa kujelaskan maknanya. Mata itu menyiratkan bahagia yang tak lengkap. Iya, ada senyum dari bibirnya dan senyum itu terlihat ikhlas. Tapi kenapa hatiku seperti tak enak. Begitu kulihat, besar yang diberi temanku itu 10.000 rupiah. Segera saja aku memberi isyarat dengan mata bahwa yang ia beri itu tak cukup dengan pekerjaan seberat yang sudah dilakukan tadi. Lalu temanku mengeluarkan 5000 rupiah dan kugenapi menjadi 10000 lagi. Bapak dipanggil dan temanku menyodorkan tambahan tadi ke arahnya, aku bisa melihat jelas mata si Bapak menyiratkan sesuatu seperti ingin bertanya ”Betulkah ini?”. Entahlah, tapi aku membaca sebuah ketidakyakinan bahwa beliau diberikan tambahan

Ekspresi kesyukuran itu, membuatku trenyuh. Ada orang yang untuk mendapatkan 20ribu saja harus bekerja seperti itu, itupun sudah sangat ia syukuri. Teringat pula ibu yang setiap hari menimba air untuk memenuhi bak kamar mandi kantor. Ia dibayar 2500 untuk setiap gen 5 liter yang ia angkat. Kadang dalam sebulan ia hanya mendapatkan 300 – 400 ribu rupiah sebagai upah mengangkat air. Kadang ia ditemani anak-anaknya yang kureka sekitar 8-9 tahun yang ikut mengangkat air. Setiap kali ibu dan anak-anak itu bolak balik kantor sambil menenteng gen, aku selalu tak kuasa melihatnya. Yang kulakukan hanya memandang ke arah yang lain agar hati ini tidak tambah teriris. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk mereka. Bagaimanapun, itulah cara mereka mendapatkan uang. Kasihan dan tidak tega melihat lalu melarang ia menimba air justru sebuah kesalahan.

Sementara aku, nominal sebesar itu bisa aku dapatkan dengan mudah. Tapi kesyukuranku tak juga melimpah. Padahal aku ingat, ketika hatiku begitu gelisah, aku pernah meminta taujih dari seorang sahabat. Dan ia bilang ”eby, apapun yang sedang kau rasakan sekarang, jangan gelisah. Seorang muslim akan baik-baik saja selama ia bersyukur dan bersabar”.

Bersyukur saat mendapatkan rezeki, dan bersabar sat mendapat musibah. Dua hal yang teramat mudah untuk dibaca dan diketahui, tapi begitu sulit untuk melakukan. Bersyukur dan bersabar, dua hal yang teramat berat dilakukan jika tanpa kelapangan hati dan kebesaran jiwa. Terimakasih pak, bu, adik-adik atas pelajaran hari ini.

Wednesday, August 13, 2008

Aku merindu-MU

Malam merayap menuju pekat. Pekat yang sebenarnya sedari tadi ada. Mendung bergelayut sepanjang hari, lalu tak henti bumi basah tersirami butiran rahmat. Tiba-tiba saja, sepi menyergap diri. Perasaan sendiri, kesepian, hampa, sunyi bercampur menjadi satu. Tapi ada yang lebih menggelisahkan, mendapati kenyataan bahwa diri ini semakin jauh dari Allah.

Perih sekali rasanya, seperti ditanam di bumi. Aku marah pada diriku sendiri, bagaimana bisa lalai, bagaimana bisa merangkak menjauh, bagaimana bisa?
Ah, tak ada gunanya bertanya. Toh, diri ini pun tak mampu menjawab pertanyaan yang sebenarnya diakibatkan oleh perbuatan lalai memanjakan nafsu duniawi. Untuk apa semua kesenangan yang kurasakan sekarang, untuk apa kemapanan dan gengsi yang sedikit demi sedikit ditiupkan oleh syaitan ke telinga saya lalu menetap di hati? Untuk apa itu semua kalo ternyata kualitas hubunganku denganNYA memburuk?

Sholat, yang fardhu saja. Itupun tidak lagi tepat waktu, kecuali maghrib. Kesibukan melenakan membuat tak beranjak dari empuknya tempat duduk kalau belum merasakan lapar, lalu jadilah makan dan shalat. Lalu kalau suatu saat tidak lapar, bagaimana? Atau kalau laparnya sudah jam ½ 4 bagaimana? Ah, diri, sungguh keterlaluan dirimu.
Cumbu mesra dengan bacaan agung pun tak semesra dulu. Datar, hambar, tidak lagi menggetarkan. Pertanda keringnya hatikah? Diri, sungguh engkau merugi.

Kekosongan yang sekarang kurasakan, semakin membuat lubang di hati semakin besar. Aku merindu. Hatiku berdarah merindukanNYA. Kekasih yang aku tau tak pernah meninggalkanku. Aku yang selalu mengkhianatiNYA. Selalu membuatNYA cemburu dengan kesibukan yang kalau saja kusadari lebih awal, datang karena rahmatNYA. Sungguh tak tahu berterimakasih.

Aku merindu, rindu ini menyiksaku. Rindu kembali akrab denganMU seperti dulu. Rindu untuk hanya berdua denganMU dalam hening malam, rindu membaca surat cintaMU yang indah, rindu dengan kerinduanku padaMU, aku rindu.

Lalu bergetar tangan ini membuka surat cintaMU selepas maghrib tadi. Ah, memandangi hurufnya yang terangkai indah saja sudah membuatku terkesima, terpesona. Lalu kulantunkan suratMU dengan suara hatiku, serasa terserap seluruh beban. Serasa semua kesempitan dan kegelisahan terhisap habis oleh kesucian kata-kataMU.

Bulir hangat menjalari pipi. Betapa kerdil diri ini. Betapa hina diri ini,. Tapi masih saja ENGKAU menyapaku dengan manis. Sungguh, aku merinduMU.
Allah, sampaikan aku pada RamadhanMU, agar kutebus semua kelalaianku, agar aku masih punya kesempatan untuk mendekat padaMU, mencintaiMU dengan cintaku yang sederhana ini, mencintaiMU dengan shaum yang kadang terasa berat, mencintaiMU dengan sahur yang ngantuk, mencintaiMU dengan tarawihku yang bolong, mencintaiMU dengan tadarusku yang singkat. Aku hanya ingin mencintaiMU dengan cara yang aku bisa. Aku tahu aku kalah dengan hamba-hambaMU yang lain yang begitu luar biasa mengejarMU, tapi Allah, aku juga ingin ikut berlari, walaupun langkahku tak cepat, walaupun nafasku tak panjang. Aku hanya ingin mencintaiMU dengan semua energi yang bisa aku persembahkan. Itu karena aku ingin KAU cintai walaupun tak banyak.

Allah, aku tersungkur lagi kali ini. Tapi aku akan berdiri lagi dan kembali dalam barisan yang bersegera kepadaMU.

Thursday, August 07, 2008

Undangan Lagi, Lagi-lagi Undangan

Awal bulan yang lalu, dua berita pernikahan kuterima. Keduanya dari teman-teman STM, Iswandi dan Arieswati, tentunya dengan pasangan masing-masing. Siang tadi, di sela-sela kesibukan di kantor, bunyi sms di hp memberitahukan satu lagi. Begitu menginjak kata-kata ”you are all invited to our wedding reception” maka tuing,





lonceng di kepalaku berdentang. Siapa dia?






Siapa kenalanku yang menikah?








Taraaa,




ternyata mas Danang, mantan Ketos.
Seneng...seneng. tapi juga sedih.
Kapan ya giliran aku yang ngundang? (Ngarep...*boleh dong*)

Untuk iswandi dan istri, juga Aries dan Suami, Barakallah ya. Semoga sakinah, mawaddah warahmah, pokoknya semoga bahagia deh.

Buat mas Danang, kayaknya gak bisa dateng tuh (ya iya lah, di Bandung gitu lho), tapi doaku menembus batas waktu dan jarak. Semoga bahagia hingga menua.
Buat stelkers yang belum, kapan pada nyusul mereka yang sudah berlayar duluan. Kok kita di tepi-tepi gini aja nge-dadah mereka yang sudah berlayar?

Slank, cepat ma ko. Atau belum pi ada calonmu? Cari ko…

Amha, apa ji. Danang, Jyo, Cobho sudah mi. Kau iya? Perasaan, calonmu ada mi sejak kita sekolah dulu. Kenapa beng kau yang paling tertinggal?

Armand, hey ayo segera maju

Baya, tinggal kita berdua nih. Gimana dong?

Budi, apa masih berlaku ”Yang tersisa adalah yang terbaik?”. masa lomba-lombaan jadi yang tersisa?

Jadi,
Buat yang sudah duluan menemukan pelayaran, berlayarlah menuju pulau bahagia.
Buat yang belum juga berani berlayar, bersegeralah.
Buat yang mau tapi belum ada yang mengajak atau diajak berlayar, hunting terus yak. Chayo....

Jiwa, Aku Bicara Padamu

Jiwa,
Coba kau renungkan kembali
Dimanakah kau berada saat ini?
Di dunia mana kau sedang berpijak

Wahai diri,
Tak malukah kau pada dirimu
Bahwa ketika di luar sana, semuanya berlomba mendekat
Kau malah menjauh

Jiwa,
Lalu sampai kapan kau biarkan dirimu berlari
Apa kau pikir kulitmu itu sanggup menahan panasnya neraka?
Setebal apa sih kulitmu itu?

Lupa ya jiwa, bahwa kulit itu buatan Allah
Dan lupakah pula kalau api neraka itu juga punya Allah?
Sombong sekali kau bah...
Tak tahu diri

Hai manusia hina,
Beraninya engkau mengulur-ulur waktu
Seakan matimu masih lama.
Tak sadarkah bahwa ia tengah mengintaimu
Dan mampu menyergapmu kapan saja

Sudahlah,
Berhentilah bermain-main dengan dosa
Karena kau tak akan sanggup menahan siksaNYA
Balasan yang kau sendiri cari

PS : Tulisan pada diri sendiri yang semakin sombong. Astaghfirullah........

Monday, June 09, 2008

Gundah Pak Supir

Perjalanan balik ke Piru hari itu seperti biasa. Rute Mardika - liang, Feri, Waipirit - Piru. Semua seperti biasanya. Sampai di Feri, ketemu sama Abang yang kebetulan aktif di sebuah LSM di Ambon. Maka berdiskusilah kami sepanjang perjalanan Waipirit - Piru. Pak Sopir yang duduk di samping saya (ato saya yang duduk disampingnya ya?) diam saja. Aku dan abang terus saja berdiskusi tanpa ada selaan dari Pak Supir. Sampe di suatu belokan di gunung parang, ada sebuah bus jurusan Ambon - Waesala yang parkir dan kondisinya mengisyaratkan terjadi sesuatu tadi. Tanya-tanya serupa bisikan seolah bertanya pada diri sendiri itu ternyata didengar juga oleh Pak Supir. Dan mengalirlah rangkaian kata dari Bapak yang dari tadi diam saja. ia berucap begini :

"Mobil itu abis jato. Liat itu body-nya, sudah seng bisa bilang lai. Padahal itu punya BUMN. kalo swasta la iyo jua. Ini BUMN tapi oto su bobrok, su seng layak pakai lai. Bagaimana kalo supir musti kasi jatah par disini, disini jatah par disana, disana kasi par disitu lalu disitu kasih jatah par di atas lai. Lalu kalo 100 akang sampai di atas cuma 10, la iyo jua, mo dapa biaya perbaikan dari mana. Susah memang seng tau pemimpin bagaimana yang betul. Mar Rakyat Indonesia ni memang paling sanang sudah. Tinggal dong datang kasi permen, la sudah, katong pilih jua. Asal datang sa bilang kalo terpilih nanti KTP gratis. Abis nae, urus KTP 3 bulan seng jadi-jadi. Jadi wajar kalo rakyat sakarang su apatis. Seng bisa kasih salah rakyat. Dong su bosan deng janji-janji, tau sama sa. Padahal rakyat tu seng mau apa-apa. Katong ni seng manuntut banyak. Yang penting jalan bagus, pendidikan bagus, kesehatan bagus, air bagus, la sudah. Jalan bagus, katong pi mancari bagini enak, katong pung anak-anak bisa sekolah. Kalo dong sakit, katong bisa pi bawa rumah sakit. Jang kong katong bawa rumah sakit, lalu kalo dong seng bisa, la rujuk ke Ambon mo pake ambulans katong musti bayar lai. Macam bagitu katong tunggu waktu sa. Kalo orang muslim, tinggal tunggu baca yasin sa. Beta kamareng kamareng ada pi antar orang BAWASDA liat polindes di desa balakang-balakang. Beta sampe tanya par dong, Polindes ni biking par kambing tinggal ka par perawat tinggal. Polindes kosong baru kambing su pono di muka akang. Kalo memang seng bisa orang luar yang praktek di situ, musti pemerintah pikir akang pung cara. Kalo orang luar datang jauh-jauh baru sampe situ kesejahteraan seng ada, dong makan susah, jelas jua dong seng betah. Maknya kas sekolah orang asli situ supaya biar bagaimana dong akan betah karena dong pikir itu dong pung daerah. Baru pemerintah ni seng bisa kerjasama baik. Kalo memang su rencana bikin bangunan kayak begitu, harusnya su siapkan siapa nanti yang mo masuk akang. Daripada kayak begini, tinggal par kambing jaga akang"

Aku ngapain?

Gak ngapa-ngapain. Hanya mendengarkan semua yang terpikirkan oleh Pak Supir. Bisa jadi itu juga dipikirkan oleh berjuta rakyat yang lain. Jujur, saya gak bisa berkata-kata. Saya yang setiap hari berinteraksi dengan pihak-pihak yang bisa saja mengambil kebijakan, toh juga masih belum memberi kontribusi apa-apa. Idealisme saya belum bisa disalurkan dengan maksimal. Jadi saya tak bisa menimpali apa-apa karena memang seperti itu realitanya.

Lalu apa yang sedang atau bisa saya lakukan? Saya ingin sekali mengajak semua pihak untuk bekerja dengan jujur, dengan menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai motivasi utama. Terlalu berlebihankah? Terlalu sok-kah? Entahlah, hanya saja saya berusaha untuk jujur dalam pekerjaan saya. At least saya berusaha merancang sesuatu yang tepat guna untuk rakyat.
Kadang hati ini begitu gelisah melihat realita di depan mata. Gemas dan sedih tak bisa berbuat apa-apa. Sistem telah mendukung, semua terpola dengan baik untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Dan tak ada yang bisa bicara karena semua terjebak di dalamnya. Pernah terpikirkan untuk berhenti ketika dada ini semakin sesak. Tapi teringat diskusi di salah satu rumah makan di Jl A.Y. Patty bersama sahabat-sahabat sekolah dulu, saat awal memilih di tempat ini. Dia bilang "By, kalo semua orang seperti kamu memilih mundur, lantas siapa dan kapan semua bisa diubah?. Kalo semua orang yang melihat ketidakberesan memilih pergi ketimbang membenarkan ketidakberesan itu, lantas kapan ketidakberesan itu bisa jadi beres?"

Lantas teringat pula kata-kata saya sendiri pada salah seorang teman yang dulu saat tertatih-tatih di dakwah kampus dan memilih mundur. Saat itu saya bilang "Akhi, kalo antum naik kapal bersama teman-teman dan dalam kapal ada kerusakan, mana yang lebih baik? Tinggal dan bersama-sama memperbaiki kerusakan itu atau terjun menyelamatkan diri sendiri ke laut? Kalo pilihan ke dua yang antum ambil, berapa lama antum pikir bisa bertahan dengan dinginnya air laut? Bisakah antum menjamin tidak ada hiu yang akan datang. Lalu berapa lama antum bisa bertahan berenang hingga menemukan pulau lain?".

Kata-kata itu sekarang tertuju pada saya.

nb : soal analogi kapal, pernah baca di Al-Izzah entah edisi berapa. Salah satu motivation word-ku. Makasih ya Pak Supir atas celoteh indahnya. Sebelum tulisan ini diposting, sempat diskusi dengan rekan kerja, Mr K tentang pilihan untuk PNS. Sudah bahas panjang lebar, Eh, kemarin ditanya lagi sama rekan yang lain, Mr. J, tapi tak terjawab karena sudah gak tahu harus bilang apa.

Saturday, May 31, 2008

Gak ada judul

Jarum jam menunjuk pukul tiga lebih lima belas sore. Pengen tetap di kantor, tapi kerjaan udah kelar (masih ada sih, cuma sudah gak produktif). Pengen pulang, tapi lagi ujan lebat di luar sana. Maka disinilah saya, terjebak dalam tembok berukuran 3x4 meter sambil melihat ujan, wallpaper monitor dan jam dinding bergantian. Wallpaper ruang utama masjid kampus itu selalu saja membuatku adem setiap melihatnya. Seperti bongkahan kenangan manis di masjid itu berenang di kepalaku, keluar dari ruang memori menuju sunggingan senyum. 5 hari yang lalu, paket yang dikirim sahabat-sahabat surgaku, UKMBI, sampai juga kuterima.

Total isinya tuh : baju kaos, note book, pamflet dan undangan FSDa, Pembatas bukunya UKMBI, CD Dokuementasi FSDa, Gantungan Kunci, Brosur Q-blat dan brosur Sambut Maba, Stiker dan hiasan pintu/id ruangan bertuliskan "Serambi KMBI"


Dokumentasi yang ikut mereka kirimkan sudah saya putar. Subhanallah, semoga perjuangan mereka disana mendapat catatan indah. Semoga suatu saat, entah kapan, entah bagaimana, Islam yang mulia bisa terefleksi dengan gagahnya di kampus.
Sudah hampir setengah empat, Bumi Piru masih saja dibasahi oleh rahmat. Dari winamp, terlantun nasyid Brothers ”Lagu Untuk Ibu”. Lagu yang selalu saja mengingatkanku akan wnita tercantik dalam hidupku. Besok, insyaAllah, aku akan melakukan perjalanan menemuimu, ibu. Besok, ibu, dengan izin Allah, kita akan bertemu di rumah cinta kita. Tunggu aku ya, bu. Miss you

nb : mudah2an besok gak ujan, jadi perjalanan piru-ambon bisa lancar. Harga-harga naik ya? ongkos pulang pergi bengkak dong....

nb lagi : Ditulis kemarin, diposting setelah sampe di ambon yang disambut dengan menu makan malam sayur favorit plus hujan lebat.

Thursday, May 22, 2008

Sekali Lagi tentang Ibu

16-05-08, 12:16 pm
"Ca Ebhy mengapa seng bel atau sms ibu sedikit ka? ibu rindu, ibu dan ade berlawanan jam sekolah. sering-sering sms ibu ee, salam rindu ibu dan ade dari ambon"

Begitu isi pesan yang ibunda tercinta kirim tepat siang hari saat pekerjaan begitu melenakan. Ada yang mengalir di sudut hati, betapa hati bidadariku sedang sedih karena tak ada berita dariku. Belakangan ini, saya memang sedang sibuk-sibuknya berlari mengikuti ritme pekerjaan di kantor baru ini. Dan yang tersisa saat pulang hanyalah istirahat hingga terlupa berkirim berita.

sms itu kubalas dengan penuh penyesalan dan keinginan akan menelpon ibu setiap hari. :Ibu cinta, maaf e. Iya nanti eby sering sms ibu. mmmuuuaaah.

Hanya begitu saja. Dan sms itupun terlupa begitu saja. Hingga kemarin sore, 5 hari setelah sms pertama itu beliau berkirim kabar dengan begitu singkat "Ca ebhy, ada bikin apa. sms ibu ka"

Deg, betapa berdosanya diriku yang tak jua bisa membahagiakannya meski hanya sekedar sms. Maka tak menunggu lama, setelah maghrib, aku menelpon wanita mulia itu, mendengar suaranya, meraba kerinduannya dan mencumbu kasihnya.

Kawan, ada kalanya kita lupa bahwa ibu kita yang jauh di sana menanti kita. Bukan fisik, hanya suara atau bahkan menyapa lewat sms. se-simple itu tapi terkadang kita lupakan. Sering-seringlah mengabarinya. Ini bukan nasehat murni untuk kalian, ini sebenarnya untuk saya. Ini sekedar mengajak, mari kembali dapatkan kekuatan dan spirit dari suara indahnya.

Ibu, putrimu ini sudah memenuhi hatinya dengan namamu. Hanya saja mungkin tak bisa ia ekspresikan dengan indah. Aku mencintaimu ibu, hingga hati ini berkarat dan berlubang tak sanggup menahan cintaku padamu.

Tuesday, May 20, 2008

Menjenguk Kematian

Sms masuk pas jam 12 malam. Jam segitu biasanya saya malah beraktivitas setelah bangun dari tidur awal waktu. Bunyi sms sempat membuat jengkel dan bergumam "siapa sih tengah malam begini sms, kurang kerjaan". Tapi tak urung, kaki ini melangkah juga mengambil handphone dan ...... Shock, kaget, tak percaya.

"maaf, ganggu. cuma mau kasih tau, baeng yang eby titip novel ayat2 cinta itu baru saja meninggal.

Pemuda itu bernama baeng. Entah siapa nama aslinya, tapi sebulan lalu pertama kali dia bertamu ke rumah untuk suatu urusan, kami mengenalnya dengan nama Baeng. Tak banyak bicara. Pertemuan kedua, masih ketika dia ke rumah menyelesaikan keperluannya itu, kebetulan di rumah saudara2 lagi ngumpul bikin pagar. Maka ikutlah dia maku-maku kayu buat pagar. Masih tanpa bicara. Pertemuan ketiga, adalah ketika di SBB lagi penerimaan guru kontrak. Dia datang lagi ke Piru untuk ikut testnya. Pemuda Baeng tidak tinggal di rumah, dia hanya datang maen karena di rumah, banyak yang tinggal sementara untuk ikut test juga.
Masih tidak banyak bicara, sewaktu pulang, kutitipkan novel ayat-ayat cinta yang mo dipinjam saudara. Kebetulan pemuda Baeng tinggal di tempat Saudara itu. Besoknya dia datang lagi silaturrahim kumpul2 dengan saudara-saudara dan dia sempat mengabari bahwa novel titipan itu sudah sampai sesuai amanah.

Dan berita kepulangannya itu terus terang bikin tubuh saya bergetar sedemikian hebatnya. Dia, pemuda Baeng itu, masih sangat muda. Usianya bahkan di bawah saya. Dalam kesederhanaan pribadi dan mudanya usia, ia telah dijenguk kematian. Lalu saya, apa masih bisa tersenyum dan merasa waktuku masih lama?

Dua hari kemudian, ibunda tercintaku datang ke Piru. Sore ketika baru pulang dari koordinasi kegiatan di Waesala dan Allang Asaude, kedatangan ibu seperti oase bagi kelelahan fisik dan pikiran. Kami kemudian ziarah ke makamnya kakek dari pihak Ibu.
Mengunjungi tempat itu sungguh sebuah perjalanan ruhani yang menyadarkan. Bahwa hari ini kau menjenguk, mungkin besok kau yang dijenguk. Sering, setiap kali aku ke makam kakek, hatiku bertanya, jika waktuku sampai, akankah cucu-cucuku datang membersihkan tempat kecilku? Akankah ada doa yang mereka sampaikan padaku?
Di sebelah makam kakek, ada makam saudara yang kata ibu, meninggalnya bersamaan dengan kakek. Makam itu ukurannya begitu kecil. Kata ibu juga, memang meninggalnya masih sangat kecil. Tak sempat ia berbuat dosa. Ah, sebesar ini, berapa banyak dosa yang harus kutanggung hukumannya nanti?

Waktuku tak lagi banyak. Kematian bisa menjenguk dan membawaku kapan saja.
Ya Allah, jadikan akhirku indah.


Nb : Postingan lama, baru diupload sekarang

Monday, April 07, 2008

Tidur Panjang Om Ance

06 April 2008
Ia pergi dalam kesendirian,
Di sebuah tempat dimana hanya ada dia dan ALlah.
Dan berita kepergian dalam sepi itu
Menghentak kesepian dan ketenangan waktu maghrib.

Lagi-lagi, tak terasa, tak terbaca
Allah menjemput satu lagi keluargaku
Ia yang semasa hidupnya begitu diam,
Sering hanya senyum saja yang menatapku jika bertemu
Tak banyak kata, tak banyak ucap,
Senyum lewat tarikan bibir dan pandangan mata
Itu saja.

Om,
Kami tak ada disisimu saat ini
Kami tak bisa ikut berjalan disamping kerandamu
Tapi Om, doa kami menemanimu tidur panjang
Sampaikan salam kami pada yang kau temui disana.
Mungkin hari ini, besok, lusa, atau entah
kami akan menyusulmu, pasti....

Selamat Jalan Om,
Sampai jumpa

Thursday, April 03, 2008

1/4 Abad sudah

Rabu, 27 Februari 2008, usia saya genap seperempat abad.
Ah, usia yang sudah begitu banyak diberi oleh Allah. Adakah itu berarti? Apakah sudah ada percik kebahagiaan yang saya kucurkan ke orang lain? Adakah manfaat yang dirasakan oleh orang-orang dengan kehadiran saya? Ataukah justru kebencian yang telah saya sebar?

Tak bisa, saya tak bisa menjawab pertanyaan itu. Hampir tak ada yang berarti yang saya semai padahal waktu merangsek hebat dan tiba-tiba saya sudah di angka seperempat abad. Padahal pula, saya tak tahu masih bisakah saya tiba di seperempat abad berikutnya. Akankah Allah memberi kesempatan pada saya menggenapi setengah abad? Tak ada jaminan. Kalaupun iya, akankah ia terlewati dengan sempurna ataukah seperti mengulang lembar seperempat abad ini, berlalu dengan kesia-siaan?

Saya tergugu. Betapa telah banyak yang Allah berikan pada saya. Panca indera yang lengkap tanpa pernah saya minta, udara yang selalu bisa saya hirup tanpa pernah Ia minta bayarannya, air yang selalu masih bisa saya rasakan kesegarannya, orang-orang yang mencintai saya, sungguh teramat banyak. Dan adakah yang saya berikan? Ah, betapa jiwa kerdil ini tidak mampu membalas semua anugerah yang didapat. Padahal maut jelas-jelas tengah mengintai dan bisa menyergap kapan saja.

Aku hanya berharap dan mencoba memastikan semua yang aku lakukan adalah rangkaian sejarah hidup yang kutulis dengan tinta kebaikan saja. Agar kelak di saat maut telah mendekapku, orang-orang yang mengenalku hanya punya kenangan indah tentangku. Aku hanya ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang berarti. Seperti kata Mbak HTR dalam multiply-nya "Menjadi orang yang berarti di mataMu. Yang selalu sampai padaMu"

Allah, aku ingin sampai padaMU dengan indah
agar Kau mau memelukku,
menuntaskan dahagaku yang tertatih-tatih ........
......... mencintaiMU.
Terimakasih Rabb, atas nikmat seperempat abadMU,
aku butuh pandangan cintaMU
agar nikmat itu tak tersia-siakan.
Genggam tanganku, Rabb.

27 Februari 2008
Titik 11.58 pm
Ah, aku sudah begini tua

Monday, March 03, 2008

Menjaga Keikhlasan

Menghadirkan keikhlasan memang sulit, tapi lebih sulit lagi menjaga agar keikhlasan itu tetap ada. Begitu kurang lebih jargon yang dipakai salah satu sahabat dunia maya saya, indra (aku lebih suka memanggilnya fathi), sebagai tema blog-nya di suatu masa. Di masa-masa itu, tertanam kuat bahwa kata-kata itu memang betul. Dan hari-hari belakangan ini kalimat itu berputar-putar di kepalaku, bermain-main di sekitarku.
Pantaskah ketika di suatu masa kita berbuat baik lalu kemudian mengungkitnya karena orang yang dibaiki itu melakukan sesuatu yang mengecewakan diri? Lalu apa dengan begitu, pahala kebaikan itu menguap, membumbung ke angkasa dan jatuh menjadi hujan penyesalan?. Alangkah ruginya.

Dulu, semasa kuliah, saya pernah membaca di sebuah tulisan yang entah milis, entah web sebuah organisasi atau apa, yang jelas sejak baca sampai saat ini, inti tulisan itu menjadi salah satu prinsip dalam hidup.
1. Jangan berkata " Untung ada saya". Karena kalo Allah mau, Allah bisa saja kasih kesempatan berbuat baik itu untuk orang lain. Kayak gak ada orang lain saja.
2. Jangan berkata "Bukannya saya menuntut balasan, paling tidak ingat dong kalo pernah dibantu". Katanya gak nuntut balasan, lah, tadi tuh apa?
3. Jangan berkata "Sudah dibantu gak tau terimakasih". Kalo mo bantu, bantu aja. Ngapain repot-repot minta di-terimakasih-i

Pertama baca langsung saja saya notepad-in tanpa sempat menulis sumbernya. Siapapun anda, thank you.
Back to topic, eneg aja (emosi, red) kalo ada orang yang tiba-tiba ngomong di depan saya kalo pernah tolong si Anu-lah, pernah minjemin duit si Inu-lah, pernah bantu si Enu-lah. Males banget. Atau "Punyamu istri saya yang lunasi, 60 ribu harganya". Bah, apapula itu. Emang kamu pernah diminta bayarin? Gak kan? Trus skarang kalo istrimu sok mau bayarin, ngapain lu pengumuman?.
Atau juga seorang suami yang lain bilang ke istrinya yang berniat ngasih sesuatu ke saudara2nya "Kamu mau kasih ini ke mereka, emangnya mereka nanti kasih apa?" Ih, males banget. Apaan sih? Sama sekali bukan omongan yang bermutu. Kalaupun niatnya bercanda, itu candaan yang basi, yang gak berbobot.
Yang kayak gini nih sia-sia semua yang sudah kita lakukan, se-sia-sia membuang garam ke lautan dan ajarin cicak terbang.

Kalo dengan mendengar dan melihat sikap seseorang kayak gitu, sudah sangat cukup menyedot hormon emosi saya, apatah lagi jika kata-kata itu tertujunya ke saya. Sedihnya, ini yang belakangan terjadi dalam hari-hariku. Sibuk mengungkit betapa sudah banyak hal yang dilakukan untuk saya. Betapa telah dikorbankan banyak hal. Oke, fine, saya ngerti itu sepenuhnya benar. Tapi dengan mengutarakannya, apa yang kamu tuntut dari saya? Berterimakasih? Hanya Allah yang tahu betapa terimakasih itu berada di kantong hati saya paling dalam dan tulus. Terimakasih saya kembalikan pada Allah karena telah memilihmu yang berbagi denganku, yang do much thing for me. Dan terimakasih itu menguap, membumbung ke angkasa berwujud doa semoga segala kemudahan, kebahagiaan dan keberkahan Allah menyertai hari-harimu. Saya gak bisa ngapa-ngapain. Hanya seucap kata "Terimakasih" setiap kau menanam satu lagi saham kebaikan dalam kehidupanku. Kadang ucapan itu saya ganti dengan "Gak usah repot-repot" dan bahkan kadang mencoba menolak sebisaku. Selain itu, apa yang kau pikir bisa aku lakukan? Terus terang, saya gak bisa membalas dengan cara yang sama karena saya tak mampu untuk itu. Kalaupun ada saat saya mampu melakukannya, saya tak mau. Saya cenderung memilih untuk membalas dengan tindakan, dengan telinga untuk mendengar, dengan kehadiran setiap kau butuh, tapi tidak materi. Bukan pelit, tapi karena saya tak bisa menilai kebaikan dengan materi karena memang tak ada nilai materi yang sebanding dengan kebaikan yang efeknya nembus sampai ke hati, gak ada.

Saya berharap kau tahu, jeng, bahwa tanpa semua yang kau beri pun, kau sudah teramat indah di hatiku. Maaf jika telah menyakiti hatimu. Dan, ssst, saya tahu kamu membelai rambut saya semalam ketika kau pikir saya telah tertidur, padahal beberapa jam sebelumnya kita sempat bertengkar hebat. Aku tahu, belaian itu adalah ekspresi maaf darimu.
Sist, maaf telah banyak membebani. Hanya Allah yang mampu membalas dengan kebaikan yang setimpal, bahkan lebih besar.