Thursday, August 20, 2009
RAMADHAN MULIA
datang lagi menyapa hamba Allah yang merindu
dalam setiap detik ada rahmatNYA
maka masih pantaskah kita tidak mau mendekat?
Tak ada alasan untuk diam
kita bahkan tak boleh berjalan,
berlarilah...berlari dengan segala hati dan kesungguhan
bahwa kita diberi satu kesempatan lagi
satu waktu untuk menyucikan diri yang berkalang dosa
Ramadhan..
datangnya adalah anugerah
dan perginya nanti adalah perayaan suci namun juga kesedihan
Ramadhan ini,...
jadikan ia berarti
karena bisa jadi...
inilah Ramadhan kita yang..............terakhir
nb : kepada seluruh blogger, maafkan kesalahan per-sua-an kita di dunia maya ini. semoga kita semua dapat menjelani RAmadhan ini dan lulus sebagai pemenang sejati Ramadhan.
Monday, August 03, 2009
Kutemukan cinta yang hangat

Di suatu masa,
Kalian pernah seperti orang tua.
Di suatu masa,
Panggilan ”nak” selalu kalian tujukan untukku
Kali ini kupinta sebuah pemaafan,
Karena tak bisa menjadi seperti yang kalian inginkan,
Karena tak bisa selamanya memanggil kalian
Dengan panggilan indah itu
Jangan ada marah,
Tak perlu pula ada penyesalan.
Ini yang terbaik,
Aku tak bersedih atas keputusan ini.
Satu-satunya kesedihanku adalah
akan tak bisa lagi bertemu kalian sesering biasanya
Aku mengagumi kalian selayaknya mengagumi hujan,
Yang hadirnya adalah rahmat,
Menyenyakkan yang tidur, membasahi yang kering.
Kalian sungguh indah
Lelaki sederhana nan bijak,
Kuat dalam kata maupun sikap.
Wanita luar biasa yang bersahaja,
Santun dalam kata, tulus dalam senyum
Terimakasih pernah menempatkanku begitu dekat di hati kalian,
Terimakasih telah membawaku begitu dalam di ruang hati kalian,
Aku anakmu, akan selalu begitu....
Walau tak bisa menjadi nyata
Kamarku, 2 Agustus 2009
Friday, July 31, 2009
punggung yang menjauh
hari-hari pernah kita renda bersama
kita menjadi kuat walau tak ada keluarga di sisi
berbagai tangis dan tawa pernah kita geluti
kita pun pernah bertukar canda dan marah
lalu tiba hari,
dimana kulihat punggungmu menjauh
bersama seorang pangeran disampingmu
yang dengan gagahnya mengambilmu, membawamu terbang
selamat jalan sayang
kami akan selalu merindukanmu
kami selalu bersama kalian
dalam doa dalam setiap helaan napas
bandara pattimura, 31 Juli 2009
burung besi membawamu pergi dan kuterpaku menatap punggung yang entah kapan bisa kulihat lagi.
Banyak cinta untuk eyha dan ardi.
Monday, July 27, 2009
Kepada Sebuah Hati

Memang sudah saatnya kita bersikap atas segala kegamangan
Yang kita ambil semalam adalah sebuah kemenangan hati kita
Dan….
Jauh lebih lega mengambil keputusan semalam,
Dibandingkan saat mengambil keputusan yang membawa kita sampai di titik ini.
Yang kita jalani, bagiku bukan kesia-siaan
Karena aku belajar.
Belajar mengerti, belajar berbagi, belajar memahami, dan belajar berkorban
Dan pelajaran yang terbesar adalah :
Kita akan saling menyakiti jika diteruskan
Masih ada yang aku simpan untukmu
Adalah doa dalam setiap sujudku
Agar selamanya kau baik-baik saja
Agar selalu ada senyum dalam hari-harimu
Aku sudah meraba hati
Tak ada sedikitpun rasa sakit, marah apalagi benci
Yang ada adalah kesyukuran bahwa kita ”diberitahu” sekarang oleh Allah
Sebelum tak ada lagi jalan untuk kembali
Terimakasih karena untuk sekian lama
........ pernah ada di sampingku
........ pernah mengkhawatirkanku
........ pernah menegurku
........ pernah merindukanku
........ pernah bertingkah menyebalkan
........ pernah mendengar tangisku
........ pernah tertawa bersamaku
........ pernah berbagi cerita denganku
........ pernah berbagi beban denganku
........ pernah banyak
Terimakasih atas segalanya
rumah, 26 Juli 2009 : dalam dingin malam
Saturday, July 25, 2009
Kematian Hati
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka", ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim malnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal,lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak
mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.
Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat?" Saat engkau muntah melihat
laki-laki (banci)berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan."
Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.
Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiai"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?"
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan
Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri ????.
Oleh: KH.Rahmat Abdullah
astaghfirullah. ..astaghfirullah ...
*dari milis KMBI -- Akhina Heri Yusuf--*
* Tertohok, ampuni hamba ya Rabb*
Friday, July 24, 2009
Rabb, bukan ku ragu...

Rabb,
Aku yakin akan janjiMU.
Aku yakin akan penjagaanMU
Maafkan jika aku bertanya,
Kau tidak akan mengecewakanku, bukan?
Bukan sebuah keraguan atau ketakutan
Hanya sebuah penegasan kepada diriku sendiri
Agar tidak semakin jauh dariMU
Rabb,
Sentuh hamba yang hina ini Rabb
Agar diri tak semakin jauh
Tak pernah kuragukan Engkau, Rabb.
Tak pernah.
Jujur, aku takut.
Tapi tak pernah ketakutan
Karena Kau tak akan meninggalkanku.
Ya, Tak Akan.
terimakasih Allah
Aku lebih tenang sekarang
Thursday, July 23, 2009
Aku Bernama .....

Aku, perkenalkan
Namaku cinta...
Aku datang membawa hati
Namaku setia
Aku ada tanpa mendua
Namaku rindu
Aku hadir setiap saat
Namaku janji..
Terpatri dalam hati
Dan namaku adalah jarak...
Tak masalah bagiku bernama itu
Lalu,
Bolehkah ku tahu siapa namamu?
*Pojok ruangan berdinding biru, dalam dekapan malam*
Wednesday, July 22, 2009
[ S.E.T.I.A]
Waktu ……
Beku …….
Hampa …..
Lalu :
Nyata …..
Banyak menjelma menjadi tanya
Tak meragu
Ragam canda berwarna yang diselingi sedikit api
Namun air selalu saja datang
Dengan cara yang indah, tepat, pas pada waktunya
Nikmatilah, renungilah
Ini kesempatan
Dan ada pengertian di dalamnya
Tak perlu ragu
Karena aku ................................... [ Setia ]
Bilik kantor, jam makan siang—22 Juli 2009
Tuesday, July 21, 2009
Cinta, Rindu, Jiwa

Menemukan apa jiwa mau
Resahmu adalah gadam, menggelinding
Serupa titah selami rasa
Merangkak lalu berjalan tertatih
Terseok dalam kubangan tanpa sela
Menjelma nyata dalam satu pastian
Kau, aku, melebur dalam impian
Gelak yang terangkai belum jua
Mampu resapi makna yang sama
Dalam hampa yang termakna sunyi
Serpihan yang tiba-tiba hadir dalam kepingan jiwa
Membekukan segala apa depan
Mimpi ini, cinta : Kita Punya
Mimpi ini, rindu : Akan ada
Mimpi ini, jiwa : Bersama
Monday, July 13, 2009
Ambon Kita
Teman (T) : Eby, tebak ko dimana ka skarang?
Saya (S) : Di Ambon ko mi?
T : Iyo, di Ambon ka dari kemaren. Tapi sa di Waiheru, baru ka ini ke Ambon.Skarang sa lagi di Pasar Mardika
S : Serius ko mi?
T : Serius ka. Sa lagi dikotamu yang jorok dan sempit
Seterusnya, itu percakapan biasa sesama teman. Kali ini saya pengen kita sama-sama menyimak kesan salah seorang yang baru menginjakkan kakinya ke kota kita yang berjulukan Manise ini.
Sempit dan Jorok.
Kesan ini bisa ditanggapi macam-macam, bisa sinis, bisa koreksi ataupun cuek beybeh. Mungkin pula kesan sempit karena dia mendapatkan kemacetan di Mardika yang nyaris tak pernah berhenti. Pun Jorok ia dapatkan karena sedang berada di Mardika yang memang jorok, begitulah kenyataannya. Agak tak fair memang, jika dengan melihat sudut Mardika lalu mengambil simpulan bahwa Ambon Sempit dan Jorok. Tapi kita juga gak bisa kan memaksa turis lokal untuk mengelilingi kota Ambon berbulan-bulan supaya mereka bisa pulang dan bilang Ambon itu indah, Ambon itu bersih, atau kesan-kesan baik lainnya.
Pasar Mardika, 15 sampai 12 tahun lalu saat masih SMP, sepertinya tidak sekacau sekarang. Mobil umum punya tempat antriannya masing-masing, pedagang punya lahan sendiri tanpa perlu mengambil lahan terminal. Laut yang dulunya menjadi view menarik dari terminal sekarang tergantikan dengan sampah-sampah yang tentu tak bisa dikatakan menarik. Bukankah seharusnya semakin hari, semakin tahun, pembangunan serta keteraturan kota semakin baik?
Kita boleh bangga dengan pantai-pantai kita yang saking banyaknya kita sendiri tidak menghafalnya, dan saya haqqul yaqin tak ada seorang pun anak Maluku yang sudah mendatangi seluruh, sekali lagi, seluruh tempat-tempat indah di Maluku yang tentu dimiliki setiap desa. Kebanggaan itu mau kita jual ke luar? Silahkan saja. Namun jika untuk ke tempat-tempat yang membanggakan itu, harus melewati jorok dan sempitnya Mardika atau sudut-sudut lain yang tak bisa dibilang bersih, apa jawaban kita jika ditanya? Menyalahkan pemerintah? Atau menyayangkan kesadaran masyarakat?
Jawab pakai hati, nyamankah kita tinggal di Ambon? Saya sendiri merasa belum saatnya menjawab iya untuk pertanyaan itu. Karena Mardika adalah tempat yang saya lewati setiap hari jika saya sedang berada di Ambon, dan kemacetan serta suasananya sangat tidak me-nyaman-kan. Bukankah pasar tradisional tidak harus sama dengan kumuh?
Anda ??????????????????
Waimeteng, 13 Juli 2009
Sunday, July 12, 2009
Goresan Saja
Kita perlu melakukan hal-hal yang dalam keadaan normal tak mungkin mau dilakukan
Hal-hal sederhana yang kita percayai dengan sungguh
Di suatu waktu mampu melecut kita mengerjakan hal yang tak biasa
Apa yang terjadi kemarin adalah langkah yang terseret hati
Nurani tak bisa menunggu untuk sesuatu yang diinginkan
Bukankah bola harus dijemput
Dan aku sudah menjemput
Lega,
Tak mulus memang, tapi lega
Karena memperjuangkan sebuah keinginan adalah istimewa
RumahTiga, 12 Juli 2009
Sunday, June 28, 2009
Gadisku, Mengangkasalah..........
Cinta, kau temukan jua
Sayap pendamping yang kau nantikan
Menjemputmu memulai pengembaraan
Yang semoga selamanya
Cinta,
Dalam temaram senja, wajahmu bercahaya
Belum pernah ada senyum semanis ini
Yang kau hadirkan selama hidupku bersamamu
Cinta,
Kau telah dijemput
Siapkah kau meninggalkan kami?
Karena aku tak siap kau tinggalkan
Cinta,
Serupa makna matahari bagi manusia
Serupa itulah kau padaku
Lantas jika kau pergi,
Kemanalagi aku berharap sinar?
Cinta,
Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan terbesarku
Melihatmu tersenyum adalah senyuman terindahku
Membelaimu, melihatmu, adalah sejuk mataku
Dia telah datang,
Seorang pangeran yang bersiap menggandeng tanganmu pergi
Mitsaqan ghalidza itu, bahagia dan duka bercampur tak karuan
Dia, kenapa dia datang lalu membawamu pergi?
Cinta,
Tak ada kata yang pantas menyematkan bahagia di hatiku
Melihatmu tersenyum manis..manis sekali
Lalu terkadang tersipu memerah
Cinta,
Aku mencintaimu, dengan seluruh hidup yang aku punya
Aku mencintai keputusanmu dengan seluruh napas yang aku hirup
Aku mencintaimu dengan sepenuh doa seumur hidupku
Selamat sayang,
Barakallah untuk kalian berdua
Aku disini, bersama kalian hingga detik terakhir hidupku
Rumah cinta Wailahan, 28 Juni 2009 : Ditulis untuk seorang gadis berjilbab biru
Nb : Ardi, jaga adekku dengan seluruh hidupmu. Bimbing dia disisimu. Dia bunga terindah yang kau petik dari taman kami.
Monday, June 22, 2009
Salah satu sisi Allang Asaude




Allang Asaude, satu desa diantara 89 desa di SBB yang berpenduduk mayoritas Kristen (bukan mayoritas, tapi semuanya). Di Allas, kami tinggal di rumah keluarga Bu Ulis. Bu Ulis beserta istrinya, Usi May dan 3 anaknya (Versi dll), begitu hangat menyambut kami dan memberikan pelayanan terutama kenyamanan serta suasana hati yang enak yang tak bisa ditawarkan oleh hotel bintang
Perjalanan kami mulai pukul 05.30 WIB dan setelah berjalan sekitar 10 menit ke kaki gunung, mulailah pendakian yang lumayan sulit itu. Dalam kondisi gelap, berbekal 2 senter, kami berlima memanjat dan mendaki dengan rasa penasaran apa yang akan kami lihat di puncak nanti.
Pas lagi pose-pose narsis di atas, dari arah Waesala, muncul pelangi yang melengkapi keindahan pagi itu. Matahari pun mulai muncul malu-malu dari timur menerpa menyegarkan wajah. Di Allang Asaude, tidak ada komunikasi. Masyarakat yang mau berkomunikasi, biasanya naik ke gunung ini lalu mencari sinyal kiriman dari Namlea. Kadang sinyal muncul, namun lebih sering tidak munculnya. Hari kami mendaki itu, sinyal hanya “singgah” di handphone Aty yang digantung di dahan pohon. Gantung di dahan pohon, memang cara mencari sinyal. Di handphone yang lain, sinyal tidak mau “mampir”. But its not a big deal karena kedatangan kami bukan untuk telpon. Lucunya, sudah jauh2 kita mendaki, dua orang yang dihubungi Aty, satunya tidak aktif dan satunya tidak menerima telpon. Kasian amat ya.
Konon pula, kata Aty dan Angki, selama ini orang-orang dari luar Allang Asaude yang naik ke gunung Kotahalu ini tidak bisa mengambil gambar. Sementara kami, semua peralatan narsis mulai dari handycam, kamera digital dan 3 hp kamera, semuanya berfungsi maksimal. Aty bilang “dong bisa foto-foto e. Orang luar kalau kesini to seng bisa foto. Dong pung hp dan kamera seng bisa pake foto. Tapi ini bisa tu. Memang dong nae deng hati bersih jadi bisa”. Senang dengarnya, karena memang tak ada apapun yang kami inginkan selain ingin mengagumi.
Waktu hal ini kuceritakan ke Bapa Raja Allang Asaude, beliau tersenyum dan bilang “Nona eby
Monday, June 15, 2009
tak berjudul
pada makna hujan ia bertanya
dinginkah kau rasa
atau memang begitulah adamu
tak menemukan tempat untuk berlabuh
tapak kaki masih harus tertatih
merengkuh asa berselimut mimpi
menjelma kesunyian dan bisikan takbir
betapa kesyukuran menggelembungi naif diri
tak bisa begini jika tak ada kasih sayangNYA
makna apalagi yang masih dicari
ketika harap tak kunjung tiba
padahal telah banyak tetes-tetes penantian
lalu bertanya ia pada angin
tak lelahkah kau mengembara
atau memang begitulah adamu
menyinggahi tempat tak terjamah sebelumnya
penuh yakin makna nyata kehadiranmu
diiringi salam tasbih, salam selamat datang
lalu matahari kembali tersenyum
seringainya lebar hingga menusuk pori
maka bertanyalah ia pada matahari
tak bosankah kau menyinari
atau memang begitulah adamu
Wednesday, May 06, 2009
Masih Berharap .................
Banyak yang bisa diberikan oleh seorang guru, banyak pula sebenarnya yang bisa mereka minta. Tapi tak pernah sedikit pun mereka menuntut balasan atas setiap kesuksesan yang mereka toreh, setiap kesuksesan yang mereka siapkan sejak awal mereka mendidik. Namun terkadang mereka malah lupa, bahwa mereka pernah menitipkan segores asa dan meletakkan satu bata kesuksesan kepada anak muridnya.
Kesan di atas adalah kesan saya terhadap pendidikan dan para guru di masa lalu. Dulu, ya dulu. Sekarang ini, sulit mencari guru yang menjadikan kata “mendidik” sebagai semangat hidupnya. Sekarang, guru hanya profesi yang mudah dilakoni siapa saja, bahkan jika ia tidak memiliki basic keguruan sekalipun. Aktivitas mengajar hanya sebagai rutinitas, tak lagi menyertakan hati.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para guru senior yang masih sangat berdedikasi terhadap tugasnya tapi tak diperhatikan haknya oleh Pemerintah, saya ingin mengatakan bahwa saat ini sepertinya siapa pun bisa menjadi guru. Mereka yang setelah selesai kuliah lalu tak kunjung mendapatkan pekerjaan, berbondong-bondong mengajukan lamaran sebagai guru dan dengan mudah diterima. Modal Akta 4 yang hanya 2 tahun cukup bisa disejajarkan dengan lulusan keguruan yang memang sejak awal berniat menjadi pendidik. Karena itu, langkah menutup Akta 4 adalah langkah yang sangat tepat dan sangat bertanggungjawab, karena itulah yang tanpa disadari akan menghancurkan sistem dan kualitas pendidikan kita.
Saya ambil contoh di sebuah desa yang tak perlu disebut namanya, mutu dan kualitas guru perlu dipertanyakan. Para guru yang terhitung masih sangat muda itu di siang hari mengajarkan pelajaran di sekolah dan di malam hari, masih bisa kita lihat joget di saat pesta kampung atau berkata tidak sopan dalam pergaulannya. Bukankah seorang guru yang diikuti bukan hanya pelajarannya tetapi juga bagaimana dia ber-akhlak. Apa jadinya jika akhlah dan mental pendidik bobrok? Apa yang bisa ditiru oleh muridnya? Tak ada lagi pendidikan berkualitas yang bisa dihasilkan. Tak ada lagi pola mengajar dan komunikasi yang mampu membuat siswa rindu akan sekolah. Beberapa guru muda pernah datang bertamu ke rumah saya, dan masuk sampai dapur tanpa mengucapkan salam. Dan setelah yang dicari tak ada, mereka pergi tanpa mengucapkan salam pula. Kemana larinya sopan santun seorang guru? Bagaimana ia bisa mengajarkan sopan santun kepada siswanya jika ia sendiri tak punya itu? Padahal, Pendidikan adalah instrumen rekonsiliasi sosial. Jika tak direkayasa pola pikir siswa secara baik dari sekarang, hal ini bisamengancam eksistensi integral sosial dalam sebuah masyarakat di masa yang akan datang.
Sungguh, saya berduka atas mental-mental pendidik seperti ini. Namun, saya percaya masih ada para pendidik yang luar biasa. Masih ada pendidik yang menjadikan pendidikan sebagai nafasnya, sebagai hidupnya. Sungguh, saya percaya mereka masih ada.
Dan sungguh, saya masih berharap akan sebuah perbaikan .......
* Ditulis untuk postingan MBC meramaikan Hardiknas*
Para Pelukis Semangat
Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang 18 tahun di bangku sekolah resmi sejak TK hingga kuliah. Masuk TK di usia 4 tahun hanya karena ingin berpakaian putih biru seperti kakak, yang karena itu pula ditolak oleh salah satu SD favorit di Ambon pasca lulus TK karena katanya tidak menerima siswa berusia 5 tahun. Sampailah saya pada sebuah SD yang sederhana, yang saat itu hanya karena kekecewaan ditolak oleh SD yang sebenarnya saya dambakan. SD Negeri 5 Tawiri Ambon, sebuah sekolah di Bilangan Tawiri yang sunyi dari lalu lalang kendaraan. Sekolah yang tampak sangat sederhana tapi disitulah saya menemukan pendidikan yang sebenarnya. Guru-guru yang luar biasa yang percaya akan setiap anak didiknya, yang menganggap setiap muridnya adalah emas yang layak untuk disepuh.
Persahabatan yang muncul di sekolah sederhana nan bersahaja ini bukan hanya persahabatan antara para siswa tapi juga persahabatan antara saya dan beberapa guru bahkan hingga detik ini. Diawali dari Ibu Kariuw di kelas 1, lalu seterusnya Ibu Mina Waliulu, (alm) Pak Sabban, Ibu Sahertian, Ibu Sapulette, Ibu Mien Berhitu, Ibu Rat, Ibu Nun Keliobas, dan Pak Dadiara. Mereka inilah yang sangat yakin akan kami, para muridnya. Mereka yang selalu memompa semangat kami agar yakin akan kemampuan kami. Dan hingga kini, setiap tahun kami selalu menyempatkan diri ke SD tercinta itu menjenguk mereka dan setiap tahun pula mereka selalu bilang bahwa mereka bangga akan kami. Sesungguhnya kami-lah yang bangga akan mereka. Karena mereka-lah, kami bisa sampai di titik ini.
Di SMP (SMP Negeri 2 Ambon), tak banyak sosok guru yang bisa saya ceritakan. Tapi ada satu guru yang melekat di hati yaitu Pak Umar (Guru PPKN). Di satu kesempatan, beliau pernah menjaga kami saat tak diijinkan keluar sekolah sementara kami belum shalat maghrib. Beliau lalu meminjam lab Biologi,dan menyuruh kami shalat di atas meja lab, sementara beliau di luar lab menunggui. Sungguh luar biasa. Entah dimana beliau sekarang. Terakhir ketika beliau bertemu dengan Ayah, beliau sempat menanyakan keadaan saya, dan katanya beliau sudah ngajar di Ternate, pindah karena konflik 1999 itu. Di SMA (STM Telkom Makassar), banyak guru yang kocak, yang santai. Tapi ada juga yang killer. Disini tak banyak yang bisa saya ceritakan karena semua gurunya luar biasa. Ada kenangan dari setiap pendidiknya.
Semua pendidik yang saya temui selama 18 tahun ini adalah pribadi-pribadi yang luar biasa. Mereka berkorban banyak untuk anak-anak didiknya. Hal itu baru saya sadari 3 tahun yang lalu. Saat kuliah sudah berakhir, LAB yang saya kelola sedang tak ada praktikum, dan belum ada keinginan untuk pulang kampung ke Ambon, ada tawaran dari Dosen untuk mengajar di salah satu STM Listrik di Surabaya. Saya mengajar di kelas 1 dan 2 dengan total 6 kelas yang per kelasnya 36 orang. Bisa dibayangkan, menghadapi 216 anak usia SMA yang kesemuanya laki-laki. 216 keinginan, 216 karakter, 216 kemauan, 216 tingkah aneh-aneh, dan beberapa yang kurang ajar.
Memang, masih ada jenis murid yang menyenangkan. Yang sering berdiskusi, yang kemauan belajarnya tinggi. Beberapa yang setiap harinya curhat masalah pribadi. Kita juga sering makan bersama sambil berdiskusi di ruang kelas. Banyak hal yang menyenangkan. Namun ada satu peristiwa yang begitu menyesakkan dada. Saat itu, entah bagaimana, kelakuan semuanya begitu menjengkelkan. Mungkin juga karena pembawaan yang memang sedang capek, semua hal jadi begitu menyebalkan. Kelakuan mereka di dalam kelas yang kelewat batas dan saya yang tak bisa mengeluarkan emosi di depan mereka hanya memilih diam. Dan sebelum jam mengajar berakhir, mereka saya pulangkan karena batin saya yang capek.
Saya pun pulang. Dan dalam perjalanan pulang itulah, tangis tak bisa dibendung. Tangis capek dan tangis mengingat jasa para guru dan terutama ibu saya yang juga seorang guru. Betapa susahnya menjadi seorang guru. Di sekolah, dihadapkan dengan berbagai macam masalah dan sampai di rumah, bisa saja ada masalah-masalah baru dalam keluarganya. Atau sebaliknya, di rumah sedang bermasalah dengan keluarga, namun harus tetap ke sekolah dan mengajar tanpa melibatkan emosi, mengabaikan suasana batin yang sedang tidak enak.
Itu pula mungkin penyebabnya, kenapa kita sering melihat guru-guru yang melakukan tindak kekerasan. Tekanan pekerjaan dan suasana yang batin yang tidak mendukung bisa menjadi alasan seseorang tak bisa mengendalikan emosinya. Karena itulah, melalui tulisan ini, saya ingin memberikan apresiasi yang luar biasa kepada guru-guru yang masih bisa tersenyum di sekolah. Bahkan kadang senyuman itu yang bikin murid-muridnya tersenyum lebih ceria. Apresiasi yang tinggi kepada para pendidik yang mampu melejitkan setiap anak didiknya menjadi orang yang lebih hebat darinya dan tersenyum bangga tak menuntut balas.
Terimakasih tak terhinggaku kepada seluruh guruku di SD Negeri 5 Tawiri Ambon (Ibu Kariuw, (alm) Pak Sabban, Ibu Sahertian, Ibu Sapulette, Ibu Mien Berhitu, Ibu Mina Waliulu, Ibu Rat, Ibu Nun dan Pak Dadiara). Mereka-lah peletak kedua batu semangat belajarku (setelah orang tuaku, tentu saja). Mereka yang hingga detik ini, setiap kali bertemu dengan saya, selalu mengatakan kebanggaannya, meski saya tak tahu apa yang mereka banggakan. Saya-lah yang bangga dan beruntung dididik oleh mereka. Love you all.
*ditulis dalam rangka Hardiknas*
*ditulis dalam rangka apresiasi MBC (Maluku Blogger Community) pada guru lewat tulisan*
Thursday, April 30, 2009
--- Sempurna Mencintai Ketidaksempurnaan ---
Kadang pula kita hanya butuh diam
rasanya sudah bicara banyak.
Kesempurnaan adalah hal,
yang tak akan pernah didapat sampai tutup usia.
Karena sempurna bukanlah barang yang sudah ada.
Kesempurnaan itu ada di hati yang siap menerima.
Mengerti lalu berdamai,
baru di saat itulah sempurna menjelma
menjadi bahagia yang nyata.
Saturday, April 18, 2009
Menangislah ... !!!!!

Menangis bukan dosa
Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik
Menangislah jika itu satu satunya cara bikin kau tersenyum kembali
Menangislah jika hanya itu caramu mengekspresikan segala gundah atau bahagia
Dan malam ini,
Aku ingin menangis untuk banyak alasan.
Untuk kenyataan yang tak seindah harapan
Untuk kekecewaan yang terus menerus bertambah
Untuk sakit yang kian meradang
Aku pun ingin menangis untuk ...
Segala kesenangan yang sudah Allah berikan
Segala rezeki yang tak putus dialirkan
Semua kebahagiaan yang melengkapi hidup
Dan untuk setiap senyum yang masih bisa kutebar
Tangisan ini juga untuk.....
Ketidakadilan yang dipertontonkan di hadapanku
Keangkuhan yang diperlihatkan dengan penuh kebanggaan
Kemunafikan yang menjijikkan yang terus dimainkan dengan sempurna
Kebutaan hati nurani yang tak lagi tahu membedakan mana yang haq dan mana yang batil
Tangisan ini untuk diriku,
Yang belum bisa berbuat apa-apa
Yang hanya bisa menangis melihat kenyataan pahit ini
Malam ini, aku ingin menangis
Agar esok aku bisa menatap dunia
*ditulis di sudut kamar dengan uraian air mata dan rasa sesak tak terjelaskan*
18 April 2009, 11 : 13 PM
Friday, April 17, 2009
Road to Waesala

Tadinya pengen cerita panjang tentang kisah ke Waesala. Tapi sampai depan kompi, rasanya tak ada yang bisa diceritakan dengan pas lewat tulisan. Perjalanan tugas seklaigus perjalanan batin. Dua hari bersama masyarakat yang tanpa penerangan selama 48 jam itu. Belum lagi aura ketulusan, kewibawaan dari seorang abi, panggilan untuk Bapa Raja Waesala, yang langsung masuk ke ruang batin paling dalam.
Perjalanan ini biarlah jadi cerita jiwa yang indah. Untuk kalian, saya share foto-fotonya karena foto-foto ini juga bercerita ....
1.Demi Waesala, dorong mobil juga dijabanin
2. Mejeng setelah dorong mobil
3. Kopi tubruk terenak yang pernah saya coba, layak mendapatkan setelah liat mereka dorong mobil
4. Menu makan malam hari pertama, ikan bakar buatan umi
5. Pemandangan dari gunung Waesala
Road to Waesala (2)
1. Salah satu jalan ke Waesala
2. Pemandangan dari belakang rumah Abi
3. Hiburannya anak2 Waesala
4. Salah satu rumah sisa Konflik Sosial di Waesala
