Saturday, November 17, 2007

Otakku Buntu

Buntu, kepala ini rasanya seperti berhenti berpikir. Capek dan lelah bertambah-tambah. Kerjaan di kantor yang gak selesai-selesai meski udah lembur 3 malam. Begitu selesai datang lagi setumpuk yang harus dikerjakan.

Bukan, ini bukan keluhan. Ini tugas yang harus dijalani. KOnsekuensi ketika mencemplungkan diri ke sini. Ini hanya sekedar coretan ketika otak meminta rehat. Tak sanggup lagi berpikir.

Tulisan-tulisan di kertas seperti bermain-main di mataku, berlompatan riang kesana kemari semakin memicingkan mata. Belum lagi angka-angka yang tersenyum mengejek meminta segera diselesaikan. Sampai akhirnya diri seperti ngadat. Angka-angka ruwet melilit di kepala, tak tahu harus memulai dari mana. Seperti masuk ke maze yang tak tahu berakhir dimana.

Aku butuh sekedar istirahat. Sebentar membasuh jiwa yang terlalu sibuk dengan duniawi, hingga hanya wajib yang terlaksana. Mushaf beberapa hari ini hanya sekedar mendapat lirikan. Menyentuh dan membacanya pun terhenti jika urusan duniawi memanggil. Astaghfirullah, bagaimana dunia bisa berjalan dengan lancar jika terlalu melena.

Otakku benar-benar buntu.
Aku capek, fisik dan pikiranku terkuras.
Izinkan aku rehat, mencharge energi dari Dzat yang KekuatanNYA tak pernah habis. Aku ingin tunduk sejenak, mengurai tali kusut di pikiranku ini. Agar dia terurai sempurna kembali dan aku bisa kembali menyelesaikan yang tertunda ini.
(Pamit 1/2 hari ya,ngecharge dulu, insyaAllah malam nanti baru lembur lagi).

Tulisan di atas aku buat tadi siang saat otak ini rasanya seperti berhenti berpikir. Dan saat ini aku kembali lagi berkutat dengan semua yang kutinggalkan tadi siang. Bedanya semuanya berbeda. Siang tadi, ketika diri ini memasrahkan penat , melepaskan lelah pikiran kepada Yang Maha Mendengar, Yang Mencintaiku tiada habis, beban itu meluruh, leleh seperti lilin yang terbakar.
Malam ini buktinya. Pekerjaanku memang belum selesai tapi jauh lebih enteng dari tadi siang. Bahkan otak ini seperti tak mengambil jeda untuk berpikir. Lancar semua kerjaan.

Subhanallah, Engkau memang Luar Biasa, Ya Allah....
Tempat menggantungkan segala suka, duka juga asa. Terimakasih Ya Allah

Monday, November 12, 2007

Jangan Terlalu Jauh Berlari

Harus diakui, mau tidak mau, di Maluku ini trauma akibat peristiwa 1999 itu masih ada. Memang sekarang masyarakatnya sudah lebih bijak. Mereka tidak lagi menerima informasi mentah-mentah. Ada proses mencari tahu dulu kebenarannya dan bagaimana menindaklanjutinya. Emosi tidak lagi mudah terpancing. Perkelahian antar dua kubu, berhentinya ya di dua kubu itu saja, tidak menjalar kemana-mana.

Di satu sisi, korban yang banyak berjatuhan dari dua belah pihak menyadarkan bahwa jangan lagi ada korban. Di sisi yang lain, tetap saja ketakutan itu ada. Panik jika mendengar ada ketidakberesan.

Seperti hari ini. Ketika Desa Ariate dan Dusun laala berseteru persoalan tanah, kami yang di Piru ikut panik. Ada keyakinan yang bilang bahwa tak ada apa-apa. Ini masalah lokal di dua tempat itu. Tapi seperti yang saya bilang di awal, trauma itu tetap ada, bagaimanapun penyangkalannya.

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Ada hal lain yang lebih memprihatinkan. Hal lain yang lebih memalukan dan lebih mengoyak batin. Sebuah keraguan akan pertolongan Allah.
Kaget saya melihat seorang wanita yang tadi siang baru saja terlihat memakai kerudungnya. Dan kenapa malam ini ia tidak berkerudung? Apa saya salah lihat ya tadi?
Sampai akhirnya ia sendiri yang bilang, bahwa dalam kepanikan tadi, suaminya bilang "buka jilbab dulu". Tersirat ketakutan dari suara itu yang membenarkan dirinya melepaskan kerudung yang dikenakan.

Mungkin, dalam pikiran si suami, kerudung akan mendekatkan sang istri dengan maut. Si suami yakin bahwa malikat maut akan menjauh jika istrinya tidak memakai kerudung. Sepertinya si suami belum tahu bahwa maut bisa menjemput kamu bahkan kalau kau sembunyi dilubang tikus sekalipun.

Astaghfirullah. Seandainya kita harus kehilangan banyak hari ini, bahkan nyawa sekalipun, setidaknya kita masih punya prinsip, kita mati dengan keyakinan yang masih utuh di dada. Bayangkan, jika memang hari ini terjadi sesuatu dan kita menghadapNYA tanpa berkerudung? Sementara 1 jam yang lalu kita melepasnya karena kita takut kerudung tak cukup bisa menjaga kita, apa yang akan kita katakan pada Allah? Tidak malukah kita kepada Allah yang Maha Menjaga? Tak malukah kita pada Allah yang janjiNYA adalah pasti?

Sahabat yang dekat dengan ibunya, yang tak diragukan sayangnya pada ibunda, menjawab Ibunda dengan kesantunan yang tinggi tapi tanpa melepas keyakinan, "Bu, jikapun Ibu punya seribu nyawa dan satu persatu meninggalkan ibu, tak akan kutinggalkan imanku pada Allah dan Rasul".
Santun, tapi tegas. Sederhana tapi kuat.

Saudaraku, kita boleh kehilangan segalanya. Tapi iman tidak boleh hilang sama sekali. Iman-lah yang membuat kita tetap hidup. Iman-lah yang akan menuntun langkah kita menemukan kembali semuanya. Dengan iman di dada, maka sebenarnya kita tak kehilangan apa-apa.

Saudaraku, Allah tak akan meninggalkan kita. Sayangnya, kita-lah yang terlalu jauh berlari dari-NYA. Tapi saudaraku, masih ada harap untuk kita. Sejauh apapun kita berlari, Allah selalu menerima kita kembali.

Saturday, November 10, 2007

Euforia Berlebihan

Layakkah kita memaknai amanah sebagai sebuah kesenangan, sebuah prestise yang disikapi begitu bahagia. Sampai harus ada perayaan yang wah. Apa ya yang terlintas di benak, di sela-sela jaringan otak ketika mendapat tugas itu? Mengapa adalah kegembiraan? Mengapa pula harus ada pesta? Kenapa bukan ketakutan? Akan begitu banyak beban setelah ini, lantas kenapa berhura-hura? Ah, betapa dunia telah membutakan hati

Ketika Rasulullah wafat, siapa khalifah yang menggantikan beliau?
Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah kemudian datang ke Saqifah. Dengan fasih Abu Bakar menenangkan Anshar yang sedang dibakar ghirah. "Kami (Muhajirin) adalah para Amir, dan kalian (Anshar) adalah para Wazir...maka bai'atlah 'Umar atau orang kepercayaan ummat ini Abu 'Ubaidah!"

Umar mengepalkan tangan dan gemeretak giginya karena malu sedang Abu 'Ubaidah menunduk berkeringat dingin tak mampu mengangkat kepalanya. "Justru engkau yang akan kami bai'at.."kata 'Umar kemudian sambil menggenggam tangan sahabatnya.
Kisah menyejarah akan takutnya memegang sebuah amanah.

Beratus-ratus tahun jaraknya dari kisah menyejarah itu, di sebuah ruangan Muswil DPW Maluku Utara periode 2000-2005. Kisah ini indah tertulis dalam Memoar Cinta di Medan Dakwah-nya Ust Cahyadi Takariawan. Saat pemilihan Dewan Syari'ah Wilayah sesuai tata tertib persidangan yang dipilih adalah Ketua, Wakil, dan seorang anggota. Pemilihan yang berlangsung tertutup itu menghasilkan 5 nama. Satu nama dengan 24 suara dan empat lainnya dengan 3 suara. Sebelum diputuskan mekanisme memilih 2 dari 4 nama yang sama-sama mendapatkan 3 suara tersebut, salah seorang kandidat menyatakan dirinya tidak memenuhi persyaratan sebagai anggota DSW karena belum mencapai jenjang keanggotaan sebagaimana diatur dalam AD/ART. Ia pun mengundurkan diri. Berarti masih ada 3 nama yang mendapatkan suara sama. Sedangkan yang dipilih hanya 2 di antara mereka.

Dalam kebingungan menentukan mekanisme, dengan polos dan tanpa pretensi apapun,Ketua DPW berbicara dengan suara keras, "Ayo siapa lagi yang mau mengundurkan diri?".
Begitulah keikhlasan hati seorang ikhwah yang melihat permasalahan itu dengan kacamata da'i yang tak layak berebut amanah, yang tak layak berebut jabatan apapun dalam dakwah.

Dan benar, salah satu kandidat mengacungkan tangan dan mengatakan, "Saya mengundurkan diri".

Dan hari ini saya liat bahwa ada sisi lain dari kepemimpinan. Meminta dan setelah diberi, betapa ekspresinya berlebihan bahkan memuakkan. Sadarkah bahwa pertanggungjawaban tak berhenti setelah akhir jabatan tapi berlanjut hingga menemui Sang Pencipta. Ah, dangkal dan piciknya pemikiran yang begitu bangga dengan beban yang justru dilemparkan dengan kasar.

Esensi dari pekerjaan adalah pada ketekunan, keikhlasan kesabaran, kesungguhan dalam menunaikan kegiatan, pada usaha terus menerus menebar kebajikan di setiap ruang-ruang publik. Bukan pada perebutan jabatan, bukan pada adu argumentasi tanpa kejelasan tujuan, bukan pada semangat gugat menggugat interpretasi.

Mari kita tekun bekerja, sebagai apa pun kita!

nb : catatan usai definitifnya para pejabat

Masih Ada Waktu, Nak...

Kasihan sekali hidupmu nak. Kau harus dikendalikan oleh yang secara hirarki harusnya kau kendalikan. Entah kemana perginya nurani. Ia harus kalah karena kepentingan pribadi. Tunduk pada keangkuhan dan keinginan duniawi semata. Jengkel yang terasa berganti jadi kasihan, iba karena kau tak lagi bisa menjadi dirimu sendiri. Kau tak lagi bebas menentukan pilihan-pilihan sikapmu, tak lagi mampu melihat dan berkarya sebagaimana mestinya hati menuntun.

Pun ketika ada kesempatan kedua (everybody deserve to be) memperbaiki kesalahan, tak juga kau ambil. Kau tetap bergumang dalam kesalahan yang seharusnya tak terjadi. Lalu kau masih menyebut dirimu punya kuasa? Kuasa itu sudah dirampas, nak. Mungkin kau tak sadar, tapi apa yang kau punya sekarang tidaklah sebanyak yang kau pikirkan. Karena mereka punya lebih banyak, hingga penampilanmu adalah yang berkuasa, tapi hatimu mereka belenggu.

Buka matamu, nak. Lihat sekelilingmu. Banyak yang mesti kau lakukan selain dari mendengar satu demi satu rengekan penuh darah nafsu. Banyak yang lebih butuh perhatianmu tapi mereka hanya diam. Jangankan bicara, mendekatimu saja begitu susah. Tapi harusnya kau sadar, bahwa mereka diam karena mereka memang tak perlu bicara. Kaulah yang berkewajiban memenuhi hak-hak mereka dan mereka tak perlu merengek.

Masih ada waktu.

Sunday, November 04, 2007

GADISKU, TERBANGLAH.....




Hari ini
kampusmu akan menjadi satu tapak
Yang kau tinggalkan tapi kau rindukan


Maen,
Belajar,
Senang,
Pusing,
Semangat,
Kursi taman,
Kantin,
Pohon,
Masjid,
Angin,
Hujan,
dan Kicau burungnya


Dalam lipatan memorimu kini
Ada satu masa dimana kau dan gejolak masa mudamu
menemukan tempatnya dan mengangkasa
Hingga akhirnya kau tahu alasannya
Mengapa Allah menempatkanmu disana beberapa saat

Ukiran bersama sahabat-sahabatmu
Membentuk sebuah kisah thriller, komedi
ataupun drama khas anak muda
Satu persatu merenda jejak di taman hatimu
Berharap kelak ketika semua telah berjalan sesuai masanya
Masa kalian tetaplah terkenang, tak tergantikan

Hari ini,
Kau melangkah pasti
Membentuk kembali tapakmu yang baru
di dunia yang sebenarnya
Bersiaplah karena nanti tak seindah yang kau bayangkan
Tak semulus yang kau duga
Tak semudah yang kau harap

Tapi kau tahu,
Keteguhan hatimu akan menuntun langkah berat itu
Hingga tetap mantap
Saya yakin, maka mengapa kau ragu?
Karena memang tak ada alasan untuk meragu.





Selamat mengepakkan sayapmu yang telah lama belajar terbang
Saatnya membuktikan dirimu
Saatnya orang-orang tahu
Bahwa dunia ini indah karena ada kau di dalamnya
Dengan segala keajaiban yang mampu kau cipta



Teruntuk : Adekku sayang, yang hari ini menambah S.Psi di belakang namanya.
S. Faradilla Waliulu, S.Psi

Saturday, November 03, 2007

Di Balik Awan

Tiba-tiba saja diri ini ingin pulang ke rumah di Ambon. Kembali ke hangatnya kasur dan belaian bacaan menjelang tidur. Tadinya sih pengen gak ke kantor, tapi berhubung laporan yang saya buat kemarin belum diberi ke si Bapak, jadi ya harus ke kantor dulu. Tunggu menunggu, kok si Bapak belum datang-datang juga. Kalo gak datang, nyesel dong ke kantor. Pas lagi seru-serunya bahas bukunya Dan Brown sama rekan, si Bapak muncul. Laporan saya beri dan berharap cemas tak ada perubahan (mau kabur nih).

"Ya sudah" *alhamdulillah, ijin pulang ah*

"Tapi.... *o..ow, apaan*, ini laporan kecamatan apa?"

"Dua-duanya pak, Kairatu dan Huamual Belakang"

"Seng buat sendiri-sendiri?"

"Seng pak, itu sudah digabung. Kemarin saya tanya, kata Bapak jadi satu saja"

"Harusnya dipisah *ugh, selesai jam berapa ya? dapat feri jam berapa nanti?*

Si Bapak meneliti lagi laporan itu. Dan saya masih berharap ada kalimat yang melegakan.
Dan...
"Ya sudah, begini saja juga seng apa-apa. Cuma nanti buat kecamatan sendiri-sendiri secara umum ya. Ini kan masih gambarkan desa-nya saja"

"Iya pak" *tapi senin aja pak, pengen pulang nih*



Maka,Sebelum jam kantor berakhir, saya sudah ada di jalan menuju Waipirit. Perjalanan yang menyenangkan, benar2 menyenangkan. saya selalu menikmati perjalanan Piru-ambon. Mata saya benar-benar termanjakan.


Gelap yang tadinya saya pikir hujan di gunung sana, ternyata setelah saya lewat, bukan hujan tapi kabut. Serasa berkendara dibalik awan (kayak Denias yang bersenandung). Dinginnya tuh enak, segar. Dinginnya beda. Dia gak masuk ke pori menusuk kulit, tapi justru membelai. Asyik menikmati awan yang membelai, tiba-tiba "byar", langit menangis hingga kulit ini serasa sakit ditusuk tetesannya yang besar. Tapi perjalanan tetap berlanjut. Tak peduli hujan, toh juga di gunung, tak ada tempat berteduh. Hujan adalah rahmat, maka biarkan rahmat ini menemani kepulanganku.

Piru, tunggu saya 2 hari lagi ya. Mau reses dulu nih.

Monday, October 22, 2007

Jiwa, Siapkan kematianmu....

Beberapa bulan ini begitu banyak kematian di dekatku.
Sebulan lalu, adik dari kakek yang dibelai oleh kematian dan sekitar 2 minggu lalu, kematian ada di jalan yang kulewati lima belas menit setelahnya. Terbujur kaku seorang pria mencium tanah dengan merah terus menetes dari kepalanya. Saat itu kubayangkan perihnya hati keluarga yang mendengar berita perginya tempat menyambung hidup dengan cara yang tak biasa. Kubayangkan pula perasaan pengendara yang menjadi sebab perginya nyawa itu. Bagaimana ia akan menghadapi hari-hari berikutnya dengan perasaan bersalah dan penyesalan berkepanjangan. Bagaimana pula perjalanan batin sang pembawa berita. Kata-kata seperti apa yang harus ia ucapkan agar berita luka duka itu tidak seluka kelihatannya. Yang walaupun dicari di kamus setebal apapun tak akan ditemukan. Kepergian tetaplah menyakitkan seperti apapun balutan kata-kata membungkusnya.

Dan pagi tadi, kami sekeluarga dikejutkan oleh berita duka kepergian seorang bibi di Luhu, kampung keluarga besar saya. Begitu tiba-tiba karena heart attack. Terkirim doa untuknya, semoga beliau tenang. Maafkan karena tak bisa ke sana. Tapi doaku tak berhenti semoga ketenangan kau dapatkan.

Kita telah lahir, pada gilirannya kita akan "pergi". begitulah kepastian. Maka, wahai jiwa, persiapkanlah kematianmu dengan indah....

Ada sebuah kematian yang begitu indah 4 hari yang lalu. Seorang kerabat muallaf pergi dengan begitu sempurna. Saat berdzikir usai sholat subuh, masih dengan mukena ia kenakan. Pagi tadi sebelum sholat, beliau sudah membersihkan diri dan beliau ditemukan masih dengan mukena, tidur dengan tangan yang ia bentuk sendiri.
Subhanallh, begitu indah.
Jiwa, akankah kematianmu akan kau songsong dengan indah?

nb : Ma Enga, doaku, semoga Allah mendekapmu erat, membuatmu nyaman hingga berkumpul lagi nanti. Om, abang, yang sabar ya...............

Sunday, October 21, 2007

Lebaran ini

Senja ramadhan telah tenggelam, mentari syawal datang. Entah harus bahagia atas datangnya kemenangan ini atau bersedih atas perpisahan ini. Tak pelak ada tanya, akankah sua kembali ataukah perpisahan ini untuk selamanya.

Seminggu lebih menghabiskan hari-hari di rumah, bersama orang orang tercinta. Ramadhan dan ied fitri selalu menawarkan keceriaan, senyum dan pertemuan fisik yang begitu bermakna. Dek eya yang datang dari Surabaya, dek Ega yang mudik dari makassar, bikin pertemuan kami berlima yang sudah tak lama berjumpa begitu bermakna. Seru, asyik, lebaran kali ini. Pisang ijo favorit buatan ibu jadi penutup berbuka dan ketupat plus opor ayam masih jadi menu utama lebaran. Siip, mantrrrraaap.

Ke rumah sanak saudara, didatangi sama sanak saudara, pertemuan yang begitu menyenangkan. Ada yang kurang dari lebaran ini. Baru kali ini, kita gak ada kumpul-kumpul sama teman2 SD, dan gak ada acara ke sekolahan SD. Sedih juga tapi gak apa, kemarin sudah telpon Ibu Nun, terobati lah kangen itu.

Sore tadi untuk pertama kali sholat di masjid agung An-Nuur di batu merah. Jalan ke batu merah sore hari dari arah Galunggung liat mentari senja, subhanallah. Laut di kanan dan gunung di depan. Bagus deh pokoknya.

Besok, saya mau balik ke SBB, kembali bertugas mengabdi pada negara (weits). Rasa-rasanya sudah cukup persediaan energi untuk balik. Ditutup dengan indah. Rame-rame tadi makan di AREMA. Ada evi, dek eya, dek uni, caca, ca lely, mbak ratih dan dek Putri. Menu semuanya sama, Bakso. Rada mengecewakan sih, gak seenak yang diceritakan but at least ketemuan rame2 sudah cukup lah. i love you all, sista......

Thursday, October 11, 2007

Inspirasi dari LASKAR PELANGI

Bismillah....

Biasanya buku baru yang dibaca gak pernah lebih dari satu hari. Tapi karena lagi banyak kerjaan maka terlantarlah buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, padahal hati sudah garuk-garuk pengen baca.
Walhasil setelah 7 hari membaca di sela-sela waktu senggang, selesailah juga buku keren ini saya baca, berenti di titik tujuh lewat lima belas menit pagi.
Kehilangan kata-kata gambarkan buku ini. Keren, bagus, mendidik, inspiring. Memang sih, banyak sekali metafora dan deskripsi yang imajinatif yang mungkin bagi sebagian orang terkesan berlebihan dan susah. Tapi mungkin disitulah daya tariknya. Seperti ketika Andrea mengumpamakan Ibu Muslimah seperti sekuntum Crinum Giganteum yang mekar dan posturnya jangkung persis tangkai bunga itu. Atau ketika ia mengibaratkan Lintang seperti Pilea, bunga meriam, yang jika butiran air jatuh di atas daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan, mekar dan penuh daya hidup. Deskripsi itu cukup jelas menggambarkan sosok Lintang dalam imajinasi saya.

Dan hingga pada akhir cerita, Ibu Mus dan Lintang yang jadi tokoh favorit saya. Karakter yang kuat, penuh percaya diri. Ibu Muslimah dengan dedikasinya yang tinggi, pengabdian dari hati. Benar2 luar biasa buat saya. Di zaman yang kayak gini, masih adakah yang seperti Ibu Mus dengan dedikasi setinggi itu puluh tahun lalu. Beliau berjuang dengan percaya bahwa setiap anak punya sesuatu yang suatu saat akan muncul selama kita membiarkannya berkembang, tidak mengkebirinya.

Lintang, cerita tentang Lintang sukses membuat cairan dingin menetes keluar dari mata. Keinginannya yang kuat untuk bersekolah hingga akhirnya dia menemukan dirinya begitu berbeda, luar biasa di balik ke-biasa-annya. Menaiki sepeda hingga empat puluh kilometer untuk bisa ke sekolah. Hingga sandal yang terbuat dari ban mobil jadi aus, dan ia harus berangkat sejak subuh. Lewati empat kawasan pohon nipah, tempat berawa-rawa dan ada buayanya. Anak sekecil itu.

Hingga pada satu hari, rantai sepedanya putus dan ia tetap memilih ke sekolah sambil menuntun sepedanya. Maka ketika ia sampai dan yang tersisa dari sekolah hari itu adalah menyanyikan lagu BAGIMU NEGERI, yang ditemukan adalah Lintang yang paling semangat serta paling menghayati. Menyanyikannya dengan senyum dan kembali menuntun sepedanya sejauh 40 kilometer pulang ke rumah. Inspiring, So Inspiring....

Pilihan kata : Kami adalah sepuluh umpan nasib dan kami seumpama kerang-kerang halus yang merekat satu sama lain dihantam deburan ombak ilmu. Keren abis kan.
Dari segi bahasa, saya suka metaforanya. Saya suka cara Andrea mendeskripsikan sesuatu. Indah. Segi cerita, kekuatannya oks banget. Mantap, penuh isi dan penuh inspirasi.
Ini buku yang saya rekomendasikan buat siapapun yang mau melihat sudut pandang lain dari dunia pendidikan. Kamu bakal tersejukkan dengan kenyataan bahwa pernah ada zaman dimana anak-anak memiliki keinginan kuat untuk peroleh pendidikan dan manusia-manusia perkasa seperti Ibu Mus dan Pak Harfan itu ada. Dan semoga di zaman sekarang, entah dimana, masih ada yang seperti itu. Tidak hanya di dunia pendidikan, tapi di setiap frame hidup. Dan semoga kita bisa termasuk yang berdedikasi tinggi, bekerja dengan hati di bidang apapun yang sedang kita geluti saat ini.
Berharap sangat............

setelah tuntas Laskar Pelangi
18 September 2007. 7 : 15 pagi

Wednesday, October 03, 2007

Di Antara Dua Pilihan

Bismillahirrahmanirrahim...
Kalau kita dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, apa yang harus kita lakukan? Kebanyakan orang akan menganjurkan untuk memilih yang paling sedikit mudhoratnya. Sekarang pertanyannya adalah
"bagaimana kalau kita gak tau yang mana yang paling sedikit mudhoratnya?"
"bagaimana kalau kita sama sekali asing dengan dua pilihan itu?"
"bagaimana kalau kita gak tau mana yang terbaik untuk kita?"

Begitulah kini yang rasanya menggelantung di kepala. Bingung berada di antara dua pilihan yang saya sama sekali tidak tahu harus memilih yang mana. Ada hal-hal yang bisa saya dapatkan dari yang satu tapi tidak di yang lain, begitu pula sebaliknya. Kalo boleh saya memilih dua-duanya, sepertinya itu lebih baik. Jadi lengkap yang saya dapatkan. Tapi itu gak mungkin. Dan sekarang kalo Allah membuka satu pintu untuk saya masuki sementara saat ini saya tengah riang dan bergembira di ruangan yang lain, apa saya mesti melangkahkan kaki ke ruangan baru itu atau tetap di ruangan yang lama. Mungkinkah kaki saya ada di dua ruangan tersebut secara bersamaan?

Saya gamang, takut memutuskan karena takut keputusan saya salah. Dengarkan kata hati sudah. Dan kata hati saya sudah menjawab tapi saya masih ragu akan ke depannya. Kalut, bimbang, bingung, takut, semuanya serba buntu.

Dan sampailah saya pada jawabannya.
Bahwa saya tak perlu memutuskan apa-apa. Allah-lah yang akan menjawabnya untukku. Allah telah membuka pintu, maka berarti Ia menginginkanku masuk. Kalau nanti Ia tak menghendakiku berlama-lama di situ, Ia pasti akan menutupnya untukku. Aku tak perlu risau. Semua akan berjalan sesuai kehendakNYA dan itu pastilah yang terbaik. saya gak perlu untuk membingungkan mana yang terbaik buat saya. Cukup masuki pintu itu, dan Allah-lah yang akan menunjukkan arahnya.

Maka disinilah saya sekarang, mencoba memasuki pintu itu. Arahnya kemudian mulai jelas. Ketidaksetujuan dari pihak yang paling kuharap dukungannya, hati dan pikiran saya yang terus menggelitik di tempat lain, hingga alur yang harus kuhadapi di pintu baru itu. It's all clear, yang terbaik untukku bukanlah disitu. Allah menunjukkannya untukku. Toh, kalo pintu itu kembali terbuka, kurasa saya sudah tau jawabannya apa.

Allah, terimakasih atas pelajaran yang engkau berikan ini. Aku tau, dan aku yakin mendarah daging dalam tubuhku bahwa "RidhoMU ada pada keridhoan orang tua, MurkaMu ada pada murka orang tua"

Ibu, maafin eby, dan terimakasih ya bu telah memberiku nafas kehidupan. Aku tau, hatimu-lah yang terbaik menuntun jalanku. Keyakinanmu adalah titah untukku. Love you, mom........

Saturday, September 15, 2007

Moga Allah makin sayang

Ramadhan tiba, pengennya ngomong tentang Ramadhan tapi malu. Ilmu dan praktek masih jauh untuk bicara banyak. Hanya tekad untuk mengisi serta memperbaiki diri dan mengajak semua yang membaca blog sederhana ini untuk berbenah, kata Adis, mumpung Setannya lagi dipenjara.

Dari semua sms yang masuk, ada satu yang begitu kuat melekat di hati. Sms dari seorang kawan lama yang sedang mengabdi nun jauh disana.

Mohon dimaafkan segala kesalahan
Selamat ber-Ramadhan
Semoga Allah makin sayang


Sederhana lugas tapi kuat. Apa lagi yang diharapkan selain disayangi oleh Allah? Maka Ramadhan ini, berlombalah agar kita menjadi kesayangan Allah.
Kepada seluruh Saudara, kawan, sahabat, seluruh hamba Allah,

SELAMAT BER-RAMADHAN
SEMOGA ALLAH MAKIN SAYANG

Monday, September 10, 2007

Bijak di balik kesederhanaan

Bismillahirrahmanirrahim....

Judulnya hari ini, bersih-bersih menjelang Ramadhan. Salah satu hasil rapat beberapa malam sebelumnya adalah hari ini Remas bersih-bersih Masjid. Jam 9, dari masjid sudah terdengar alat pemotong rumput beraksi. Berhubung rumah saya di Piru pas depan mesjid jadi bisa liat sikon dulu. Ternyata baru yang pria yang bersih2. Begitu sudah ada beberapa cewek yang datang, barulah saya merapat ke mesjid. Kaca, Lantai, Karpet, Mimbar, semuanya dibersihkan sama anak2. Rumput dipotong. kinclong jadinya Masjid tercinta itu.

Pas istirahat, sejuk banget rasanya duduk di teras masjid sama mereka istirahat sambil makan kacang ijo. Apa pasal? Terharu, saya jelas terharu banget.
Bayangpun, mereka yang datang bersihkan masjid itu benar2 di luar dugaan. Mereka memang sambil merokok, mereka memang datang dengan penampilan yang jauh dari bayangan saya tentang aktivis masjid. Pakai kalung dari rantai putih itu, trus di tangannya banyak gelang. Macem-macem deh pokoknya. Musik yang keluar dari MP3 HP mereka juga dangdutan. Semua memang perlu diubah, tapi mereka mau datang saja, sudah luar biasa buat saya. Di kampus, mungkin mereka yang berpenampilan seperti itu, yang koleksi musiknya kayak gitu, mungkin gak mau muncul di masjid. Jangankan yang berpenampilan begitu, yang berpenampilan baik-baik saja juga susah diajak ke masjid. Yang takut ini-lah, yang males itu-lah.

Tapi disini beda. Mereka datang, mereka gantian bersihin masjid, mereka ngecat pagar masjid. Bahkan, ketika ada pemuda yang profesinya bawa becak lewat depan masjid nganterin penumpang, baliknya dia mampir ke masjid. Becaknya diparkir di depan masjid dan dia turun ikut bantu-bantu motong rumput. Subhanallah...., pemandangan yang asing bagi saya.

Teringat ketika rapat Kamis malam untuk susunan panitia Ramadhan, seorang pemuda mendatangi saya sambil mutar-mutar kunci motornya. Dari model rambutnya, saya pikir dia polisi. Saya yang saat itu sedang berembuk dengan Korwil untuk distribusi anggota ke tiap divisi, menoleh ke arahnya,
"Abang polisi ya?" tanyaku
"Bukan, kenapa?" jawabnya
"Seng, barang abang pung model rambut kayak polisi. Beta kira abang polisi, beta mau kasi masuk abang di divisi keamanan" jelasku
"Seng, beta bukan polisi. Beta tukang ojek. Makanya beta mau tanya beta di divisi mana lalu beta mau pigi ngojek lagi seng bisa ikut rapat sampai selesai" terangnya

Subhanallah, seperti disirami kata-kata yang mencerahkan. Dia masih sempet2in datang ke masjid mencari tahu dia punya amanah apa buat Ramadhan nanti, padahal saat itu dia lagi mencari nafkah.
Malu rasanya diri ini.
Abang becak dan abang ojek, maaf, saya belum sempat tahu siapa nama kalian. Tapi siapa pun kalian, kalian guru saya. Malu rasanya diri ini bertemu kalian yang begitu bijak di balik kesederhanaan. Terimakasih telah memberiku pelajaran indah hari ini.


Sorenya, saya, caca, ca lely dan ca Nakul ke kuburnya Tete Zein, bersih2 disana juga. Lewati kuburan2 itu, saya membayangkan seandainya saya yang ada di bawahnya. Akankah lapang kuburanku, akankah terang kuburanku? Ya Allah, ampuni segala dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa saudara-saudaraku, dosa hamba-hambaMU yang merinduMU

Saturday, September 08, 2007

Selamat memulai pelayaran

Tiba-tiba aja pengen nelpon teman-teman kuliah. Deni ta' telpon dan dia kasih kabar yang menggembirakan juga menjengkelkan. Berita gembiranya adalah Samsul tanggal 2 kemarin nikah di nganjuk dan Amin insyaAllah akan nikah tanggal 11 besok di Surabaya. Barakallahu lakum....

Berita menjengkelkannya, kenapa saya taunya dari Deni? itu pun saya yang iseng telpon. Walhasil, Samsul ta' telpon. Maunya sih protes gitu, kenapa saya gak diberitahu, minimal sms. Eh, Samsul malah ngasih istrinya, Mia, yang bicara dan Mia minta maaf. Kok jadi sungkan dhewe ya aku? Kata mereka sih, gak ada rencana. Cepat banget. Minggu kemarin lamaran trus nikah deh. Ya, sibuk kali ya. Pas lagi telpon-telponan sama Samsul dan Mia, si Amin sms. Isinya, menanyakan kabar dan posisi di mana?.

Ndilalah, Deni sudah kabari Amin kalo tadi aku protes-protes gak dikabari. Meskipun gak bisa datang, kan kudune tetap dikabari. Amin bilang, sudah kirim undangan ke email. Alasan Amin sederhana, biar ada yang nyiapin sahur dan buka pas Ramadhan nanti. Nice reason.

Amin, Samsul, Selamat berlayar ya. Jadilah kalian nahkoda yang baik. Pernikahan ini barulah titik keberangkatan. Kawal kapal yang kalian pilih itu hingga berakhir di rumah impian terindah, surga, di kampung abadi, akhirat.
Doaku selalu, bro...

Thursday, September 06, 2007

Kawah baru



Saya baru saja pulang rapat Remas. Antara senang dan sedih. Senang karena remaja-remaja disini mau bergabung di Remas tapi juga sedih melihat kondisinya. Inilah kawah candradimuka lain yang harus kuhadapi lepas dari kampus. Masyarakat yang variatif tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, tingkat pemahaman, kebiasaan dan hal-hal lainnya.

Rapat Remas modelnya sudah kayak karang taruna. Konsep hijab masih jauh. Ada yang sambil merokok, tertawa terbahak-bahak sudah biasa dalam rapat.
Satu hal yang kusyukuri, mereka mau datang. Itu aja dulu. Mereka mau gabung di Remas, mau duduk dan bicarakan program2 Remas, itu sudah satu langkah awal yang baik. Menandakan bahwa mata, hati dan telinga masih terbuka untuk sebuah perubahan. Iklim yang berbeda yang saya rasakan dengan dakwah di kampus. Tapi inilah dinamika dakwah yang harus saya hadapi. Ini pula satu lagi proses penempaan dalam jalan ini.

Maka, penat-penatlah dalam dakwah. Lelah-lelahlah dalam dakwah. jika amal kita tak cukup sebagai bekal kita, semoga tetes-tetes keringat penat dan bulir-bulir airmata lelah akan menjadi syafaat di akhirat kelak. Aaamiiin

Thursday, August 30, 2007

Heboh pagi hari

Bismilahirrahmanirrahim...
Pagi-pagi, rumah di Piru sudah heboh banget. Sumur yang baru saja dibersihkan hari ahad kemarin sama tetangga-tetangga sebelah (makasih semuanya), kemasukan anjing.

Itu anjing nyemplung, kecebur karena memang stelah dibersihkan kemarin, belum sempat ditutup. Saya yang sedang di kamar mau bersiap ke Kantor, waktu tau kejadiannya rasanya pengen nangis. Hati rasanya wis was, gimana bersihinnya. Kak Lely yang tadinya mau mandi, akhirnya ngungsi dulu mandi di rumahnya Mama Ece. Bingung juga mau diapakan. Sementara dengar tersu suara orang2 berhitung untuk keluarkan anjing itu. Saya gak mau keluar lihat. Bukannya takut, cuma gak mau aja meletakkan penggalan kejadian itu di memori. Katanya, Anjingnya besar banget dan lagi hamil. Waktu diangkat, sudah lemas.

Setelah anjingnya dikeluarkan, kita tanya pak Zubair via telpon sumurnya diapakan. Caca malah sudah ganti baju kantornya berniat gak masuk kantor kalau-kalau harus membersihkan sumur lagi. Pak Zubair akhirnya jelaskan kalo tidak apa-apa. Kalau anjingnya sudah dikeluarkan, ya sudah. Airnya tetap bisa dipakai. Di zaman Rasulullah, ada sebuah sumurterkenal di Madinah juga kemasukan najis. Dan Rasulullah meminta mengeluarkan najisnya, dan airnya tetap suci dan bisa dipakai seperti biasa.
Secara hukum, airnya sudah suci. Cuman, kita di rumah sudah geli sendiri. Jadi ya, airnya ditarik lagi pake alkon sampe sumurnya kering dan ganti air baru. Baru deh kita bertiga ke kantor, sudah jam sepuluh. Ada-ada aja...

Saturday, August 25, 2007

Congratulation, mom,..

IBU ujian Sarjana. Papa nemenin dan hasilnya

"Lulus dengan SANGAT MEMUASKAN"

Congratulation ya mom. Kami, anak-anakmu bangga padamu dan mencintaimu tak habis.
Ibu, Selamat ya. Facial bareng yuk, bu.....

Friday, August 24, 2007

Rolling Staf

Bismillahirrahmanirrahim...

Resmi pindah bidang. Kemarin waktu masih di Ambon, kak Amu sms ngasih tahu kalo di kantor rolling staf, dan saya dipindahkan ke bidang sebelah. Tapi tadi, agak kikuk langsung masuk ke ruangan baru jadi maenn masuk aja tetap di ruangan lama, dan ngobrolin rollingan ini. Sampai ada panggilan dari bidang sebelah, baru deh saya ke sana.

Bidang baru berarti pimpinan baru, berarti pola kerja baru. Disini,gaya kepemimpinan yang baru yang saya dapatkan. Pimpinan yang sportif, fair dan selalu mau kita belajar. Pekerjaan yang ada harus diselesaikan hari itu juga. Beliau tidak mau menumpuk pekerjaan karena akan terus beri dampak ke pekerjaan-pekerjaan berikut.
Proses pembelajaran di bidang ini berjalan cepat. Hanya saja, saya meninggalkan kehangatan dari bidang sebelah. Makanya, walaupun lagi banyak kerjaan, tetap aja disempet-sempetin maen ke bidang sebelumnya.
Wherever i am, the best i will give, insyaAllah

nb : Foto2 pas olahraga jumat di halaman kantor. Males ikut, ngambil foto doang dari dalam ruangan

Thursday, August 16, 2007

After That Call

Allah,
Terimakasih atas kesempatan yang kau berikan.
Cahaya yang kau tunjukkan saat aku sedang berjalan
di gua yang gelap ini.
Lubang itu terlihat, cahayanya berpantul indah.
Sampaikan aku di sumber cahaya itu, ya Allah
tapi jangan sampai membuatku silau.
Terimakasih Allah

Tuesday, August 14, 2007

Nurani Yang Hilang

Bismillahirrahmanirrahim

Tak habis pikir rasanya, kemana hati nurani disembunyikan. Bisa dengan mudahnya mengambil hak orang lain, orang banyak untuk kepentingan pribadi. Atau juga mendzhalimi hak orang lain karena merasa punya power untuk itu. Marah mendengar apa yang terjadi, melihat dan menyaksikan kedzhaliman itu seenaknya dipraktekkan sambil tersenyum. Marah, sampai kemarahan itu berubah menjadi simpati. Simpati atas matinya hati nurani. Simpati akan musnahnya rasa takut akan dosa. Simpati pada kedangkalan moral tapi mengaku intelek.

Tanggung jawab yang diberikan dipakai seenaknya sendiri. Dan dibungkus dengan senyuman dan usaha menunjukkan wibawa. Ya, saya sebut usaha karena aura wibawa itu gak kelihatan. Tertutup oleh beringasnya mata isyarat perampok. Perampok yang merampok hak orang lain, yang membuang lebih banyak keringat tapi menikmati sedikit karena telah dicuri sebelum ia dapatkan.

Hai orang-orang yang kumaksud, berhentilah. Ada banyak tangan yang menunggu sesuatu yang seharusnya ada pada mereka tapi kini telah masuk ke perutmu. Juga berhentilah, karena ada banyak orang yang telah kau dzhalimi haknya demi sebuah kekuasaan yang kau lamunkan tiap malam.

Sunday, August 12, 2007

Kutunggu Kau di Masjid

Bismillahirrahmanirrahim...

Pernikahan seorang da'i adalah pernikahan da'wah.Maka ketika seorang da'i memutuskan untuk menikah, maka salah satu hal yang harus mempengaruhi keputusannya adalah sebuah pertanyaan "Apakah pernikahan ini membawa kualitas pada dakwah saya dan pasangan saya nanti?".

Menurut saya, adalah sebuah kemunduran ketika seorang da'i yang setelah menikah, aktivitas dakwahnya menurun. Kemundurannya lebih jauh lagi jika ternyata pasangannya pun adalah seorang da'i. Ketika pernikahan membuat kualitas kesertaan dan produktivitas dakwahnya menjadi lebih mundur dari sebelumnya, evaluasilah dan bangkitlah. Kita dibesarkan oleh dakwah. Dakwah yang mengenalkan pada kita sebuah kehidupan yang tenang. Dan ketika satu nikmat Allah kita rasakan, apa layak bagi kita mundur dari dakwah?

Menjadi sulit ditemui, susah diajak syuro, susah ditelpon, jarang muncul di masjid, peduli terhadap perkembangan dakwah tak terasa lagi, itu mengecewakan. Dengan pernikahan itu, saya berharap banyak. Saya berharap dampaknya pada dakwah akan luar biasa. Sudahlah, kita memang hanya boleh berharap pada Allah.

ps : Saudaraku, kutunggu engkau di masjid tempat kita merajut cinta

Kerja Tanpa Hasil

Satu lagi penjilat saya temui hari ini. Dan dengan tampangnya yang seperti tak bersalah, sibuk menunjukkan siapa sebenarnya dia. Saya sama sekali tidak mengenal dia tapi saya mau muntah mendengar dia bicara. Dalam bemo tadi, ada orang yang ngobrol sama orang di depannya. Awalnya sih dia cerita kalo dia sekarang sedang sibuk dengan apa yang dia sebut aktivitas politik. Masih biasa-biasa saja pembicaraan itu, hingga saya seperti melihat tanduk keluar dari kepalanya dan taring menyembul dari balik giginya.

"Beta skarang ada karja deng A. ininya bagus (jarinya membuat kode duit). xxxx rupiah satu orang. Dolo beta deng B tapi beta su kecewa. Itu seng jalan, janji sa. Beta deng C lai, karja dua. Lumayan to" kata orang itu dengan taring penuh darah segar ***

Begitu ya kelakuan orang sekarang. Berafiliasi dengan sesuatu tapi niatannya materi. Kerja yang tidak keluar dari hati. Semua ada harganya, semua harus dihitung. Yang saya herankan, kenapa orang itu bisa membicarakan kemunafikan dia kerja di A dan di C, yang jelas-jelas A dan C adalah kompetitor. Dan perbincangan itu di bemo yang penuh orang. Apa waktu dia bilang begitu, dia merasa bangga? Saya malah muntah.

(***) Saya sekarang kerja sama A. Ininya bangus. xxxx rupiah per kepala. Dulu saya sama B tapi sudah kecewa. Itunya tidak jalan, cuma janji. Saya juga sama C, kerjanya dua. lumayan kan

Saturday, August 04, 2007

So Glad for you, Dear Sista...

Setahun yang lalu, tulisan ini pernah saya goreskan. Goresan sebuah empati atas kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan adik tercinta saya. Betapa kami tau hatinya terluka dan sakit karena langkahnya menggapai cita-cita harus ia tahan dulu. Tapi saat itu, justru ia yang meminta maaf pada kami karena merasa telah mengecewakan keluarganya. Melihatnya setahun yang lalu, terlihat jelas sebuah senyum yang ia paksakan. Dan dengan tegarnya ia justru membesarkan hati kami menerima keputusan Allah yang pasti lebih terasa menyakitkan untuknya.

Dan, ia tak pantang menyerah. Selama setahun saya menjadi saksi bagaimana ia mempersiapkan langkah berikutnya. Perjuangannya ingin membuktikan dirinya serta cita-citanya. Setiap hari, tak ada yang berlalu tanpa usahanya menancapkan satu persatu kesuksesan yang ingin ia ukir. Dan testimoni friendster saya pun, selalu sempat ia torehkan permintaan doa setiap ia berkunjung. Permintaan kepada kami, keluarganya, agar selalu mendoakan dia, mengawal usaha yang sedikit demi sedikit ia tanam.

Hingga pagi ini, sebuah berita yang membahagiakan kami semua. Bahwa ia diterima SPMB di fakultas impiannya. Fakultas yang setahun ia upayakan dengan gigih. Berita yang kudengar saat sedang apel pagi di halaman kantor membuyarkan konsentrasiku dan memindahkan alam pikiranku ke dirinya. Terbayang olehku saat ini, wajahnya, senyumnya, cerianya dengan berita ini.

Dek, gerbang itu telah terbuka. Masukilah dengan anggun. Tapaki jalannya yang akan semakin sulit ini. Tapi ketika kau yakin inilah citamu, keyakinan itu akan membuatmu maju dan maju. Tak peduli sepesar apa aralnya. Dan percayalah, kami semua disini, keluargamu, tau perjuanganmu, dan akan mensupport adek sampai citamu tercapai.

Sunday, July 29, 2007

My Friend of A Lifetime

Birthday is just another day.
It just changing date on calendar
It just different number in Age identity
What makess it diferent?
If in your birthday,
You have passion to be better than yesterday
(Dariku untuk Santje)

Hari ini, Santje tambah satu usianya. Sayang, dia di Namlea menunaikan tugas jadi tidak bisa ketemu. Tapi, semalam tepat pukul 00:00, doa telah terlantun untuknya.

Santje, di usianya yang sekarang dia sudah sangat memberi warna dalam hidup saya. Sepanjang usiaku, hanya 5 tahun pertama, saya tidak mengenalnya. Setelah itu, sejak saya mulai bersosialisasi dengan orang lain di usia 5 tahun, dia menjadi sahabat pertama saya hingga saat ini.

Di setiap momen, dia selalu ada. Tidak selalu fisik, tapi doanya, sms-nya, suaranya, perhatiannya ada hingga saat ini. Dia yang saya sebut "Friend of a Lifetime" di daftar terimakasih skripsi saya.
Dan di hari ini, ingin rasanya memberi dia sesuatu yang begitu ingin saya lihat ia pakai. Entah kapan Sansay, tapi eby selalu ingin melihatmu dalam balutan muslimah.

Jika setiap orang hanya boleh punya satu kata untuk persahabatan,
maka kataku adalah....
SANTJE

Ready To Work

Back to Work,
I am ready to back.
Sudah kangen sama suasana kantor.
Setelah 15 hari kutinggalkan, sudah ada apa ya?

Sunday, July 22, 2007

Thanks for loving Me

Bismillahirrahmanirrahim..

Alhamdulillah tak berenti saya panjatkan setelah apa yang terjadi seminggu yang lalu. Sebuah ujian yang Allah berikan pada keluargaku, tepatnya padaku.  
InsyaAllah akan kubayar dengan cintaku, walau ku tau tak cukup. 
Kejadian itu paling tidak menyadarkan banyak hal pada saya. Bahwa apa yang kita miliki sekarang, belum tentu akan jadi milik kita selamanya. Bahwa sejatinya kita memang tidak memiliki apa-apa. Semua titipan yang ketika diambil lagi oleh yang menitipkan, tak ada jalan untuk memintanya kembali. Bahwa hanya sampai disini kepercayaan Allah menitipkan yang Ia punya pada kita.

Kejadian itu juga membuatku tau bahwa begitu banyak orang yang mencintaiku, 
yang mengkhawatirkanku. Merindukan aku dan tulus menyayangi aku. Pengalaman hidup mengajariku kepekaan akan ketulusan dan semua yang saya terima karena kejadian kemarin adalah tulus. Meski tetap ada yang bisa saya rasakan ketidaktulusannya, tapi saya tidak peduli. Karena masih lebih banyak orang yang menyayangiku. Ketidaktulusan yang tumbuh karena kepongahan tak akan pernah mendapat tempat di hati dan pikiranku.

Buat Ibu dan Papa, Tante Ade, Tante Dja, Ma Onco, Tante Sum, Caca, Dek Eya, 
Dek Ega, Dek Uni, Ca Ena, Ca Leli, Ca Dja, Ca Erni, Mbak Ratih, Mas Buyung, Abang Jab, Abang Ondy, Bukal, Abang Ari, Abang Bur, Abang Deddy, Abang, Abang Rusdi dan istri, Caca Nipa dan Abang Ipin, Onco Ton, Onco Ju, Ibu Latu dan Ria, Tante Ica, Abang Nyong, Kak Ida, Kak Deda, Tante Ica, Tete Haji sekeluarga di Luhu, Om Malas, Dek Dinda, Dek Nus, 
Dek Putri, Dek Nisa, Dek Vicky, Dek Vira, Laken, Abang Awil, Kak Wace dan yang mungkin terlupa :
Terimakasih, terimakasih, terimakasih atas sebuah tanda manis yang kalian buat di hatiku.

Sunday, July 08, 2007

070707

Tanggal yang cantik, 070707.
Hari ini saya lemparkan sms penyambung silaturrahim ke nama-nama sahabat di phonebook secara acak. Senangnya dapat balasan yang hangat dari mereka. Kembali bertukar kabar, bertanya keadaan.
Jadi tau kalo Mbak Imas dua bulan lalu tepatnya 21 April sudah jadi ibu dari seorang mujahidah. Jadi tau juga kalo Ukhti Wiwin 2 hari yang lalu jadi ibu pula. Trus, Mbak Umi 15 Juli nanti insyaAllah melepas masa lajang. Seorang saudara di Surabaya juga sudah ada kabar mau menyusul 2 minggu lagi. Trus yang di Jakarta lagi bawa dedek dalam perut. Yang di daerah Mojokerto sana sudah ngasih signal mau sebar undangan. Yang di Makassar, satunya bawa dedek, satunya baru aja jadi Ibu dan kali ini Ibu seorang mujahid. Kabar adek2 yang curhat mau sidang, ada yang pusing dengan skripsinya, yang sudah kelar pusing dengan cari kerjaannya. Murid-muridku dulu di STM juga kasih kabar kalo ada guru baru yang gantiin saya. Cantik tapi jahat, kata mereka. Dasar anak2 bandel. Bandel tapi menyenangkan..
Selain berita sukanya, ada juga berita duka bahwa salah seorang teman Remas dulu ditinggal abi-nya tadi pagi. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un.

Selain dapat kabar dari mereka, mereka juga menuntut kabar dari aku. Dan pertanyaan dari semua mereka tanpa kecuali adalah "Mbak, ayo dong segera menyempurnakan setengah dien", "Ukhti, kapan nih walimahannya?", "Dek, undangannya kapan?", "bhy, kapan nyusul?"

Ini nih yang bikin males. Bukannya gak mau jawab tapi gak tau mau jawab apa. Istilahnya "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang ditanya". Saya mau jawab kapan coba? Gak tau kan.. 
Saya cukup punya gambaran tentang seseorang yang nanti mau saya ajak membangun keluarga dunia akhirat. Kapan dia datang, sepenuhnya saya serahkan pada Allah.
Jadi buat yang selalu nanya-nanya ke saya, saya hanya bisa bilang :
Kapan dan dengan siapa, saya tidak tahu. Sepenuhnya saya percayakan padaNYA. Yang saya lakukan hanya menjadi seorang sholehah agar dipertemukan dengan yang sholeh di saat yang tepat menurutNYA

Friday, July 06, 2007

Kangen kost kumat....

Senengnya....
Akhirnya MP3-ku kembali. MP3 yang diservis sejak Desember 2006, dan diambil Caca yang kebetulan lagi ke Surabaya, akhirnya nyampe juga ke tanganku. Kayaknya bukan MP3-ku deh, pasti sudah diganti sama yang baru, setingkat lebih anyar. 
Kemarin sempat minta dek Eya isi Murottal dan nasyid. And, dengar nasyid deh aku sekarang. Bahagianyaaaa................

Kasihan ya aku, dengar nasyid aja kayak dapat durian runtuh. Gimana nggak gitu, sejak di Ambon belum pernah dengar nasyid. Saya gak tau orang jualan kaset nasyid dimana. Di Piru (tempat tugas), juga gak ada tape buat setel murottal. Lampunya saja cuma nyala kalo malam. MP3nya caca sih ada, tapi gak bisa masukin nasyid. Secara di Piru daerah merah, ya jelas gak ada lah. ada juga lagu jrang jreng. Kasihan kan..

Sebenarnya ini bukan cuma masalah nasyidnya (nasyidnya cuma 4), tapi suasananya itu lho. Serasa ada di kamar kost, ngerjain tugas kuliah, bahan ngajar, tugas dakwah atau sekedar baca-baca artikel dari internet sambil denger Winamp. Kostku.... Lagi-lagi kangen kost kumat.

Kamarnya emang kecil tapi nyaman. Tempatku melepas penat sepulang beraktivitas. Waktu packing buat pulang, heran juga kamar sekecil itu, begitu banyak yang bisa diisi. Di kamar kecil itulah, banyak hal besar tercipta. Banyak tugas dakwah selesai dari kamar itu. Banyak ide dakwah muncul setelah berbagi dengan akhwat-akhwatku, juga di kamar itu. Kamar mungil, bahkan tak ada tempat yang cukup luas untuk baring di lantai karena penuh dengan rak buku yang berjejer.

Di kamar itu pula, segala kenangan tercipta :
1. Sekedar baring sambil mendengarkan alunan murottal atau nasyid dari winamp setelah makan nasi tempe penyet samping warung Ridhoni.
2. Baring sambil baca ditemani adek-adek kost yang nebeng bikin tugas, baca artikel2 di folder2 bergizi atau sekedar maen game
3. Rame-rame sama anak2 kost nonton teve dan masing2 cari pewe, tumpang tindih gak karuan sambil santap es kacang ijo atau es teler dari warung Bratang yang mas-nya girang sangat kalo ada cewek cakep masuk pesan bakso (jelas, kami bukan salah satunya)
4. Matiin lampu, tutup gorden jendela, ciptain suasana bioskop di kamar, nonton film bergizi sambil makan cemilan yang dibeli di Minimarket Handayani seberang jalan. Kadang film-nya harus di-pause kalo salah seorang ada yang terima telpon dan yang lainnya ganti posisi cari pewe yang lain
5. Terbaring sakit dan teman2 berjejalan di kamar jengukin, makan nasi rawon yang dibawa mereka beli dari Warung sederhana gang sebelah, sambil ngobrol dan bikin aku senyum lagi

Satu sms masuk dari seorang teman kost yang juga sudah pulang ke rumahnya di Nganjuk
"Setetes ilmu membuat qta pandai,
  Setitik kasih membuat qta sayang,
  Seucap janji membuat qta percaya,
  Sekecil luka membuat qta kecewa,
  Tapi pertemuan dengan sampeyan, selamanya kan selalu bermakna. Miss you"


Ukhuwah ini, indahnya...
Dek LIna-ku, Mbak Eby juga kangen

Sunday, July 01, 2007

Back to Work, OMG

Finally, matahari muncul di langit kota Ambon. Setelah beberapa hari, akhirnya bisa juga liat birunya langit. Sayang, gak sempat diabadikan. Berhubung hari ini gak hujan, jadi round and round the city kudu dan wajib plus mengunjungi rumah sodara-sodara. Apalagi besok sudah mau balik ke Piru.

OMG, Piru lagi? So sad but must. Ninggalin lagi hangatnya kasur empuk di kamar tercinta, ninggalin lagi nyantai dan bebas mau ngapain aja di home sweet home. Kembali ke rutinitas.

Harus ya? Ugh, however, ini tanggung jawab man. Tugas, so tetap mesti berangkat suka atau gak suka. Kembali ke ritual delapan pagi ke tiga sore. Kembali lagi depan layar monitor berteman kertas-kertas. Kembali ke ruangan 5X6 (maybe) bersama rekan2 tercinta. Kembali lagi menjalani hari-hari yang sudah saya tinggal seminggu.

Okay, i have some energy to do that. Full batere nih buat menjalani hari-hari itu. Lagi dan lagi, perulangan waktu, perulangan ritual tapi yang jelas selalu ada "sesuatu" setiap harinya. At least, di sana ada proyek berinvestasi akhirat memanggil. Brother and sista, i always waiting for our plan. Cant you imagine we will do "fastabiqul khairat" di medan yang luar biasa itu? I am waiting

Ps : Tadi pagi telpon Caca yang lagi di Surabaya, katanya masih tidur. Oh God, jadi kangen sama kamar kos saya itu. Enaknya mengurung diri setelah beraktivitas dalam kamar kos yang kecil tapi semua ada. Hehehe

Saturday, June 30, 2007

Cahaya yang Tersisa

Bismillahirrahmanirrahim....

Berada di antara dua pihak yang berseteru, dan dua-duanya adalah orang yang kau sayang, adalah hal yang tentu tak pernah kau inginkan. Sementara kau punya prinsip bahwa kesalahan pun pasti ada alasannya, dan perlu didengar sebelum menghakimi. Situasi yang sangat tidak menyenangkan kala kau tahu seseorang di dekatmu terluka, jatuh, terhempas dan kau tak bisa apa-apa. Saking bingungnya, kau malah memilih untuk diam dan berpura-pura tidak tahu. Lama kelamaan kau akan sadar bahwa kau salah dengan diam. Salah besar ketika kau memilih menjauh dan membiarkan kehancuran sedikit demi sedikit tercipta tanpa ada sedikitpun usaha mencegahnya.

Menjemukan, ingin berlari tapi tak bisa. Ingin tinggal tapi tak kuat. Hingga air mata yang kau lihat membuatmu merasa bahwa paling tidak ada telinga yang bisa kau berikan untuk mendengarnya menumpahkan kata demi kata. mengeja setiap bulir air mata yang kau lihat dan tak kuasa ingin merengkuh dalam peluk.

Saat itu pula kau sadar, kau telah kehilangan satu cahaya. Sesuatu yang tadinya bintang kini berganti debu. Harapmu tentang sebuah figur luluh lantak terinjak kepingan hati yang terurai burai pecah tak bersisa. Padahal jalanmu masih panjang, tapi tongkatmu tinggal satu. Terpincang-pincang kau kini dengan satu tekad, cahaya yang tersisa ini tak akan kau biarkan redup apalagi padam.


Kebanggaan musnah berganti hina
Bintang itu kini telah menjadi debu
Cahaya hilang, redup kemudian padam
Satu cahaya yang tersisa,
Tak akan kau biarkan mati
Biarlah kini ia melemah
Tapi ia kuat, tegar
Dan ia tak akan padam
Selama kau ada, selama kau menjadi bahan bakarnya

Sebuah cahaya yang tersisa
Kini kau genggam erat
Erat.....

Friday, June 29, 2007

Hujan 4 hari = Rahmat 4 hari


Matahari sudah 4 hari ini gak nongol di langit kota Ambon. Hujan gak berenti-berenti. Jadinya gak bisa kemana2. Di rumah jadinya makan, tidur, nonton teve, baca, sampe akhirnya ganti dekorasi kamarku dan kamarnya dek Uni.
Males kemana-mana padahal lagi ada event nasional di Ambon, cuma gak mood buat kesana. Apalagi di pameran tuh ada stand-nya kabupaten. Sungkan aja muncul disitu, berarti gak ngantor dong.

Sabtu pulang kantor kemarin, pulang ke Ambon dan rencananya Senin kemarin balik. Berhubung kata orang kantor, di kantor malah sepi jadi ya ditunda aja selasa. Selasa pagi malah dapat sms dari orang kantor kalo kantor sepi dan nyaranin Ahad aja balik dan masuk kantor Senin. Ya sudah, saya sih senang-senang aja. Dan sekarang, jadi deh saya gak ngantor seminggu.

Malam rabu kemarin ke Pameran, agak sembunyi-sembunyi juga pas lewat depan Stan yang lagi dijaga teman kantor. tetap aja ketauan, secara papa malah masuk ke stand itu dan saya gak mungkin jauh-jauh. Akhirnya senyum tak berdosa saya lemparkan, swing. Ditangkap sama dia dan bertanya "Sama siapa?". Masih senyum tak berdosa campur sungkan "Sama Papa".


Benar2 gak ada matahari. Dingin, rumah serasa di Villa-villa gitu. Biar kata sudah selimutan tebal, tetap aja gemetar kedinginan. Ini gambar2 yang saya ambil dari teras atas rumah. Keliatan banget di gambar, cuaca kota Ambon yang berkabut. Apalagi saya di daerah pegunungan, tambah dekat dengan kabut.

Ada kabar, pawang hujan didatangin supaya gak hujan karena RI 1 mau datang. Tapi, mau gimana? Mau kata pawang hujan tercanggih juga, yang punya hujan kan Allah, gak ada tandingannya. Jadi, nikmatin aja hujan2 gini. Makan mie kuah panas-panas, pedes sudah itu tidur. Bangun goreng kasbi (ubi), pake sambel yang enak. Top abis deh. Hujan itu rahmat lagi. Jadi kalo 4 hari hujan terus, berarti rahmatnya terus juga mengalir. Jadi males balik ke Piru, tapi tanggung jawab harus dijalanin. Seminggu cukup-lah untuk menyenangkan diri setelah minggu kemarin sempat lembur sampe jam 3 pagi.


Hujan, saya senang hujan. Gambar atas ini diambil dari atap seng di luar kamar tempat biasanya berkontemplasi. Lompat dari jendela kamar, duduk di atap seng, angin dingin kena tubuh, makan mie kuah panas, titik2 air malu-malu menyentuh wajah, liat pemandangan yang indah sambil dengar murottal-nya Mishari Rasyid. Subhanallah....

Monday, June 25, 2007

Tidak PENTING!!!

Belakangan saya belajar untuk tidak peduli pada hal-hal yang bikin saya lupa waktu, yang bikin saya menghabiskan waktu dan mencurahkan perhatian pada sesuatu yang tidak penting. Benar-benar tidak ada untungnya. Kenapa juga ya baru sadar sekarang? At least, kesadaran itu datang.

Saya gak perlu dan gak boleh musingin sesuatu yang belum tentu saya miliki. Kalau nanti gak dapat, gimana? Lagian apa untungnya sih ikut nafsu setan, duniawi yang jelas tak akan memberi saya apa-apa. Suatu saat, gak perlu saya pusingin kapan, Allah lebih tahu. Saya capek juga.

Sedikit khawatir tapi saya tak ingin berlarut-larut. Allah tahu, itu saja. Semua sudah kuserahkan. Mengenai pekerjaan, Mr Head Office sudah bicara banyak. Ada benarnya juga sih yang beliau bicarakan. Entahlah, keputusan belum saya buat. Saya masih ingin mempelajari situasinya. Saya hanya ingin berada di tempat yang memang membutuhkan. I just wanna give the best of me.

Ps : Dora is nothing, nothing and nothing.

Catatan Sudut Aula usai Penelitian

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia akan belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menebukan cinta
(Dorothy Law Nolte)

Sunday, June 24, 2007

Kagak Jadi..

Assalamu'alaikum....
Harus kukubur impianku ke Surabaya dalam waktu dekat ini. Padahal sudah sedemikian matangnya persiapan ke Surabaya paling tidak pekan depan. Tapi Allah jua-lah berkehendak. Padahal juga, saya sudah sampai mimpi ada di Surabaya. Sudah banyak yang terpikirkan untuk dikerjakan, tempat yang akan dikunjungi, semua hal yang harus saya wujudkan di Surabaya. Tapi, harus kukubur sementara impian itu.

Saya ditanya, "Eby marah? Eby kecewa?"
Gak tau harus jawab apa. Marah? Tidak sepertinya. Kecewa? sedikit mungkin. Secara saya gak mungkin marah pada hal yang tak bisa saya kendalikan. Memang gak boleh karena gak akan bikin saya tiba2 ada di Surabaya.

Kini, kembali saya harus menimbun lagi harapan dan usaha bahwa suatu saat saya ada kesempatan, dimudahkan Allah untuk ke sana menyelesaikan segala yang tertunda.

Ps : Something empty. Allah, please show me

Tuesday, June 19, 2007

Tafakkur..

Berbekallah ketakwaan
Kamu tak tahu saat malam berlalu
Adakah ia menyisakan umur bagimu,
hingga fajar datang menjelang
Berapa banyak orang yang sehat,
Meninggal tanpa ada penyakit
Berapa banyak orang yang sakit
Hidup lama sepanjang hayat
Berapa banyak anak-anak belia memotong perjalanan umurnya
Jasad mereka terlanjur lelap di kuburnya yang hitam dan gelap
Berapa banyak muda mati
Pagi bercanda, sore bersenang hati
Tiada pengetahuan yang terpaut
Kain kafannya sedang dirajut

Monday, June 18, 2007

Di tangan, bukan di hati

Minggu-minggu terakhir adalah minggu yang menegangkan di lingkungan tempat kerja saya. Disiplin tiba-tiba saja jadi topik menarik di setiap ruang. Lepas dari kantor pun begitu. Di warung saat istirahat makan siang, di perjalanan pulang, bahkan saat bertamu malam-malam pun, orang2 ramai membicarakan soal kedisiplinan yang lagi galak-galaknya diterapkan. Sayangnya, begitu banyak suara tentang itu. Masing2 dengan pendapatnya. Ada yang bilang gak mesti kayak gitu-lah, ada yang bilang itu cuma sementara aja, ada yang pro, ada juga yang apatis. Tak tahulah saya. Saya di pihak yang tidak mau berkomentar. Saya tidak dirugikan dengan peraturan yang memang agak menyusahkan. Tapi saya pikir, dengan ngomel2 gak suka atau kencang bilang suka juga kayaknya gak ada efeknya.

Ada hal lain yang lebih penting di balik itu. Bahwa seperti apapun gebrakan yang ingin dibuat, haruslah tetap punya timbang rasa dengan orang lain. Saya salut dengan Pak W. Bagaimanapun, ia di pihak yang didzholimi. Dilihat dari kacamata manapun, kacamata siapapun, Pak W didzholimi. Tapi coba liat bagaimana Pak W sekarang. Ia tak pernah kehilangan senyumnya. Ia tak pernah terlihat bersedih.

Teman2 yang seruangan sama Pak W cerita kalo Pak W pernah keluar dari ruangannya, gabung sama para staf dan bilang "Ternyata enak juga ya duduk-duduk seperti kalian". Tetangga Pak W juga cerita kalo di rumah Pak W terlihat lebih santai, beliau tidur lebih nyenyak, tidak seperti dulu.
Salut saya makin tambah, ketika kedzholiman itu ia terima di depan seluruh staf-nya. Ia masih bisa tersenyum. Ia masih sempat berkelakar usai itu. Bahkan sempat mengerjai salah satu temannya.

Sungguh, pribadi yang luar biasa. Pribadi yang meletakkan kekuasaan di tangan bukan di hati. Sehingga ketika tidak ada, semuanya baik2 saja. Hatinya tetap tenang, tak ada perubahan bahkan masih menunjukkan dedikasi yang luar biasa pada tugasnya.

Tak heran bila pak T pernah bilang "Saya dari dulu suka sama Pak W. Orangnya tenang, gak macam-macam"
Pak, saya perlu belajar banyak nih kayaknya...

Sahabatku dari Surga

Tit..tit...
di kotak masuk, tertera ID "KMBI basecamp". Penasaran, apa isi sms dari flexyhome sekretariat KMBI, tombol Yes kutekan dan...

"Assalamu'alaikum. Tetep semangat saudaraku, doa kami menyertaimu. kmbi"

Subhanallah, Allahu Akbar, saya merinding. Begitu singkat, sederhana, tapi sangat dalam. Saya gak tau siapa yang mengirimnya. Secara itu flexyhome sekretariat, so itu bisa siapa saja. Tapi itu gak penting. Karena itu semacam alarm peringatan untuk saya yang saat ini sedang begitu terlena dengan urusan dunia. Urusan kantor yang sepertinya terlalu mbulet, sibuk dengan keresahan akan orang2 yang berebut kekuasaan hingga melupakan tugasnya yang sebenarnya tanpa sadar saya justru tidak berbuat apa-apa, keluhan demi keluhan karena kerjaan yang sepertinya tidak kelar-kelar, lingkungan yang butuh iman kuat, dan masih banyak urusan dunia lainnya.

Sms itu bikin saya termenung, untuk sejenak memalingkan perhatian dari laptop dan tumpukan kertas. Di suatu tempat sana, saudara-saudaraku sedang berjuang. Apa yang aku lakukan disini? Mengapa saya hanya diam, hanya sekedar menentang dalam hati pertanda dangal dan lemahnya iman? Semangat itu, mana , masihkah tersisa? Saudara-saudaraku disana masih mengingatku dan bahkan mendoakanku. Maka, aku tak boleh menyia-nyiakan doa mereka.

KMBI, sebuah komunitas tempat saya lahir, tempat saya tahu kemana sebenarnya seharusnya saya menuju. KMBI, tempat saya bertemu dengan saudara2 yang luar biasa. Belajar tentang kesabaran, tentang istiqomah, tentang ukhuwah dan tentang semangat menjalani hidup.

Saya pernah membaca sebuah kisah berjudul :Sahabat dari Surga".
Bagi saya, mereka-lah sahabat-sahabatku dari Surga. Mereka-lah yang dikirim Allah untukku, mengajari dan menunjukkanku jalan ke surga. Kini, kami begitu jauh. Tapi semoga perjalanan kami bertemu di satu titik, surga.
Karena kami adalah Sahabat dari Surga

Rumah Hati

Bismillah...
Senang rasanya bisa ada di rumah lagi. Padahal baru 2 minggu lalu saya dari sini, tapi kok sekarang rasanya beda ya?. Sampe rumah sudah sore, abis feri-nya agak lama. Papa sama Ibu sampe bengong dan heran kenapa saya ke Ambon padahal kan gak libur? Gimana lagi, saya kangen sama Ibu. Abis maghrib, mijit kaki Ibu sambil cerita banyaaaaak banget. Ibu tidur, baru deh ngobrol sama Papa sambil nonton teve dan makan langsat. Cuman sekarang gantian, saya yang dipijit Papa. Hehehe...

Seneng, asli seneeeng banget. Gak tau ya kok bisa beda begini. Hari ini saya gak kemana-mana, pengen seharian di rumah. Benar2 di rumah. Selama ini kalo pulang, bawaannya jalaan aja kemana2. Semalam saya tidurnya di kamar adek. Jadi baru hari ini masuk kamar saya sendiri. Ada Bukal dan Pigly nungging di atas tempat tidur. Saya peluk dan cium, wanginya masih sama sejak saya tinggal. Empuknya kasur di tempat tidurku, sambil liat bintang dari balik jendela. Secara kamar saya di atas, jadi gak pernah tutup jendela biar bisa lompat ke atas seng rumah dan duduk natap bintang. Keren, Subhanallah.

Ini bukan saja tempat tinggal, ini rumah. Rumahku dan rumah hatiku...

Tuesday, June 05, 2007

Menanti dalam kecemasan


Serupa air yang mengalir, serupa angin yang berhembus
Gejolak membara dalam ingatan
Mencari cara membayar segala kealpaan, kekhilafan
Peluh basah bercampur debu
Gali yang tersisa, sekedar membayar

Entah kapan rahasia itu terkuak
berapa lama lagi bisa bertahan
bisakah terungkap tanpa menyakiti, tanpa airmata apalagi marah
Tak bisa sepertinya
Maka kekuatan sajalah persiapannya

Hampir saja aku menyerah
Ingin rasanya berlari atau tiba-tiba menghilang
Tapi pilihan itu harus dipertanggungjawabkan
Bisakah tanpa menyakiti?

Bunga, daun, ranting, dan akar
Semua seakan berbicara
berkata : Hampir tiba saat kau panen
Bisakah tanpa menyakiti banyak hati?

Ada harga yang harus dibayar,
saatnya hampir tiba

Saturday, June 02, 2007

Rahasia-MU selalu indah

Bismillahirrahmanirrahim....

Postingan terakhir saya bulan lalu, berputar masalah kerjaan. Dan setelah sebulan lebih berlalu sejak keresahan itu, banyak hal yang terjadi. Di kehidupan pribadi saya, keluarga saya, dunia kerja saya, lingkungan masyarakat sampai pada agama saya.

Banyak hal yang akhirnya pelan-pelan mulai terkuak. Pertanyaan mengapa Allah menempatkan saya di lingkungan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Serangkaian tanda tanya itu satu persatu mulai terjawab. Ada rahasia Allah yang begitu indah hinga saya ditugaskan disini. Lingkungan dimana aqidah menjadi tipis dengan toleransi, wilayah abu-abu tergantung kepentingan siapa, saling sikut dengan licik tapi masih halus hingga ingin sekali saya beri label "serigala berbulu domba"

Awalnya saya ingin menyerah, sampai Allah menuntun saya ke suatu titik, bahwa saya disini ditugaskan untuk do the right thing, melebarkan sayap-sayap kebenaran meskipun harus terinjak. Berpegang pada prinsip meski kadang harus dibantai. Di balik semua itu, Allah menunjukkan kuasaNYA.

Saya sadar banyak hal. terlalu banyak, dan meski kemudian tantangan itu begitu nyata dan besar di depan mata, tapi hati saya berbicara bahwa ada kekuatan Allah di balik aral itu. Ia hanyalah sekelumit debu di mata Allah yang dapat ditiupnya sekejap saja.

Sebulan ini,
kekecewaan banyak pula saya rasakan dari orang2 yang mengaku bergairah dengan kebaikan tapi tidak bersegera. Sekali lagi introspeksi saya alamatkan pada diri saya sendiri, ada apa dengan saya? Mengapa orang2 di sekitar saya begitu cepat dan kompak menunaikan urusan dunianya. Tak perlu menunggu, kereta harus segera berangkat. Saya yakin, ada gerbong lain yang akan kalian naiki, selalu ada gerbong itu. Pertanyaannya, maukah kita naiki?

Allah, keindahanNYA-lah yang membuatku bertahan. Melihat riak ombak yang menepi di pantai dari depan teras rumah, merasakan sejuk dan dinginnya angin pagi hari, indahnya lukisan Allah bernama matahari senja dan matahari fajar adalah satu keindahanNYA yang tak pernah bisa tergantikan. Selalu dan selalu ada bantuan Allah pada mereka yang memintaNYA.

Waktuku entah sampai kapan,
Bagaimanapun, HARUS BERARTI

Thursday, April 19, 2007

Kerja, kerja dan kerja

Bismillah...
So Complicated. Semua urusan kembali kepada Allah.
Jika tubuh dan jiwa ini bukanlah buatanNYA,
Mungkin saat ini, ia sedang meregang kesakitan
Menangis melihat begitu banyak hal yang perlu diperbaiki
Begitu banyak idealisme dan kejujuran harus berbenturan dengan urusan duniawi
Betapa sulit menjaga keikhlasan, berpijak di atas kebenaran
Ketika sekeliling terasa begitu menyesakkan dan memaksa
Memaksa menerima yang tak mau dan tak boleh diterima

Haruskah kemudian menutup mata dan telinga
Sementara memperbaiki dengan segala resikonya adalah sebuah pilihan
Pilihan yang baik meski harus menerima getah di baliknya
Bukankah kebenaran dan kebaikan harus diteriakkan meski menyakitkan
Bukankah sebuah profesionalitas harus dijunjung tinggi?
Bukankah kualitas layak dan pantas sebagai patokan,
bukan sekedar memicingkan mata dengan pertimbangan2 yang sangat tidak intelek

Apa harus diam saja?
Ataukah harus berteriak?
Atau harus berpura-pura tidak tahu
Just be professional, okay?
Just be fair and we will move together

Allah,
Alhamdulillah hati ini buatanMU
Terimakasih karena telah menguatkan
Saat tak yakin bisa kuat

Monday, April 09, 2007

Bahagia selamanya

Subhanallah...
Bergetar rasanya dengar kalimat tadi. Ini kali pertama saya melihat langsung prosesi akad nikah. Selama ini liatnya di Tivi tivi gitu. Atau ke Walimahan yang udah kelar akadnya.
tapi, tadi itu kita sekeluarga ke pernikahannya Mas Yudi dan for the first time dengar langsung ucapan akad itu.

Terus terang, saya merinding. Entah kenapa, saya merinding.
Satu lagi rahasia Allah yang terjadi pada kehidupan manusia. Seminggu kemarin ada tiga berita bahagia yang saya dapat. Satu dari Mbak Yuyun yang mengabarkan kehamilannya di usia 10 minggu, Ami yang mengabari kehamilannya yang Alhamdulillah baik2 saja di usia 6 bulan ini dan kabar bahagia yang paling bikin saya bahagia, bahwa seorang sahabatku, saudaraku akan melangsungkan pernikahan di awal Mei. Semoga saya bisa menghadirinya meski di lain daerah. Karena itu adalah berita yang paling saya nantikan setelah sekian lama.
Plus, hari ini kakak saya tercinta juga lagi milad. Met milad ya Ca. Semoga segala kebaikan untukmu karena kami semua menyayangimu.

Kembali ke akad tadi.
Subhanallah. Saya sudah mendengar dan tahu serta percaya bahwa akad nikah itu mampu menggetarkan Arsy, tempat tinggal Allah.
Tapi, ketika saya mendengarnya langsung, Subhanallah, tubuh saya berguncang hebat. Betapa mitshaqan Ghaliza itu mampu membuat semua yang tidak menjadi iya, membuat yang haram menjadi halal. Subhanallah..
Pantas saja saya melihat banyak orang yang justru menangis jika menghadiri sebuah akad pernikahan.

BTW,
Selamat buat Mas Yudi. Saya memang tidak terlalu mengenal anda. Yang saya tahu, keluarga saya menyukai anda, maka anda pasti orang baik. Dan semoga segala kebaikan memenuhi setiap relung hidup anda dan istri.

Barakallahu Laka Wabaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoiri

Buat Mbak Yuyun dan Ami, jaga kesehatan kalian. Agar ponakan2 eby nanti lahir dengan sehat. Eby percaya kalian akan menjadi ibu yang terbaik buat mereka.
Dan buat saudaraku yang masih memintaku merahasiakan pernikahannya, kurang dari sebulan engkau akan memasuki gerbang baru. Bersiaplah, eby mendoakanmu karena sa sayang ko, ces...

sUBhaNaLLAh, AlhAMDULILAH, AllahuAKBAR

Bismillah....

Baru seminggu tidak neg-net, tapi rasanya sudah lamaaa banget. Secara di lokasi tempat kerja, belum ada koneksi internet-nya, jadul banget ya. Jadi, mumpung sekarang lagi di Ambon, gak lengkap rasanya kalo tidak surfing.

Bicara soal tempat kerja yang jauh di ujung sana, sebenarnya banyak pengalaman yang bisa dipetik. Kayak dua kali saya pulang ini. Di perjalanan pertama minggu lalu, dari atas feri yang membawa saya dari pelabuhan Waipirit ke Pelabuhan Hunimua, saya melihat satu lagi cinta di atas bumi Allah ini.

Seperti seorang nelayan yang berada di tengah laut hanya untuk anak istrinya. Mendayung sendirian. Belum lagi ketika dalam perjalanan kedua kemarin, warna langit begitu sempurna. Sinar keperakan memantul di permukaan laut mengawali tenggelamnya matahari.
Subhanallah...Subhanallah, begitu kecil rasanya

Tiba-tiba saja teringat 2 hari yang lalu, saat begitu resah, begitu merasa tak berdaya melawan takdir yang Allah tetapkan atasku.
Hingga sebuah SMS mengejutkanku, betapa aku seharusnya bisa lebih banyak bersyukur dengan semua yang terjadi, karena seperti bunyi pesan itu :

DARI SITULAH QT BISA MENYATAKAN
SUBHANALLAH,
ALHAMDULILLAH,
ALLAHU AKBAR.

Thursday, March 15, 2007

Mau Cerita Aja...

Bismillah...
Akhirnya setelah satu bulan lebih saya di Ambon, baru tadi ini saya bisa ketemuan sama teman2 ADK di kampus UNPATTI.
Janjiannya sih jam 1/2 12. Tapi berhubung ukhti Mimi rumahnya jauh, jadi agak molor gitu sampe jam 12 lebih ketemuan di masjid RS. Iya, di masjid RS yang ada di depan kampus. Soalnya ternyata UNPATTI kampus sini gak ada masjidnya, mushola aja gak ada. Padahal itu kan fasilitas umum, harusnya ada, gimana sih?

After ngobrol2 sama Ukhti Mimi perihal perkembangan dakwah kampus sini, saya jadi pengen balik kampus lagi. Pengen ngerasain suhu dakwah kampus lagi. Apalagi menjelang FSLDK Nasional di Lampung Juli nanti. Aduh, kayaknya Post Power Syndrome saya belum sembuh nih.

Ada yang menarik waktu saya sedang menunggu Ukhti Mimi di teras masjid. Pas datang, di teras itu ada 2 mahasiswi yang lagi ngobrol, bisik2 gitu. Naluri saya bilang, mereka lagi curhat. Beberapa saat kemudian datang 3 mahasiswi dengan jajanan dan mereka langsung ngobrol. Waktu makanan selesai dibuka, gak dinyana saya disapa sama mereka,
"Caca, mari makan" gitu kata mereka. FYI, Caca itu panggilan untuk kakak cewek, mbak gitu deh.
Saya jawab "Iya, silahkan"

Yang bikin saya bengong, kok ramah banget ya. Saya sih sudah hapal dengan karakter masyarakat daerah asal saya tercinta ini yang ramah2, gampang banget negor orang. Mereka bisa saja ngobrol, sapa yang mereka gak kenal dalam bemo. Pokoknya mulut mereka tuh ringan banget untuk negor meski gak dikenal.
Tapi kali ini saya heran, karena selama saya kuliah di Jawa, kayak gini tuh gak pernah kejadian. Meskipun di masjid bareng, kalo gak dikenal ya gak bakal disapa. Paling kalo gak dikenal tapi sering liat, senyum itu udah menthok. Kalau mau makan, ya makan aja. Pokoknya, acara negur gitu kalo dikenal aja.
La ini, gak tau siapa tapi mereka mau aja negor basa basi ngajak makan. Padahal wajah saya jelas-jelas baru mereka liat. Mereka juga pasti langsung tahu kalo saya gak kuliah disitu. Salut banget, seketika saya merasa sangat nyaman ada di masjid itu.

Sebulan ini, saya belum ketemu sama teman2 lama. Sudah sih, ke rumahnya Santje, trus ketemu Ical SMP secara gak sengaja di jalan, ketemu Michael SMP di tenmpat kerjanya gak sengaja juga, Yani juga gitu. Yang lain, cuma lewat sms. Abisnya sdh pada sibuk sendiri2. Lia malah belum ketemu sama sekali. Tapi gak apa, yang penting komunikasi tetap lancar.

Banyak kejadian di rumah seminggu ini. Yang Papa sakit, aku juga ikut2an. Sebenarnya batuk saya ini batuk biasa kalo dingin. Tapi ibu ngotot suruh ke dokter. Sampe ke Dokter, batuk saya yang di rumah biasa2 saja jadi menjadi2. Dan itu bikin ibu tambah membenarkan usahanya membawaku ke dokter. Padahal, gimana gak batuk menggila kalo ruang tunggu dokter aja dinginnya kayak di kulkas. Dan ibu baru percaya kalo saya ittu alergi dingin waktu dokter yang bilang. Di rumah tuh dingiin banget. Baru anget jam 9 pagi sampia jam 5 sudah dingin lagi. Tapi papa yang belum sembuh2 juga. Sedih...

Tante juga besok mau ke Ternate. Aturannya kan saya juga ikut, tapi gak bisa. Padahal ini sudah direncanain. Di daftar obsesi saya, di daftar HAL@ YANG HARUS SAYA LAKUKAN DALAM HIDUP, ke Ternate tuh salah satunya. Tapi mau gimana, saya harus masuk kantor. Minggu depan malah masuk kantornya di Piru sana. Piru itu ibukota kabupaten SBB yang jaraknya 4 jam perjalanan dari kota Ambon. 1 jam ke terminal penyeberangan Liang, naik feri 2 jam, trus bus ke Piru-nya 1 jam lagi. Di Piru lampunya nyala cuma malam. Tapi kabar terbaru yang saya dengar sih, lampu sudah nyala sampe jam 2 siang trus mati dan baru nyala jam 6 sore. Ya, gak apa deh. Daripada kemaren2 yang mati dari jam 7 pagi sampe jam 6 sore. Fasilitas internetnya gak ada. Terima aja deh. Namanya juga orang mengabdi. Lagian saya percaya, gak selamanya desa itu begitu. Apalagi itu ibukota kabupaten, pasti ada percepatan pembangunannya. Moga2 aja saya bisa betah disana. Dan saya pasti bisa, ketemu dunia baru bukan hal baru lagi buat saya. InsyaAllah bisa

Tapi, jauh di lubuk hati, saya masih optimis bakal balik lagi ngabdi di Ambon tercinta saja. Bukannya apa, tapi saya pengen dekat ibu, papa dan dek Uni saja. Pengen nemani mereka saja. Sudah lama saya jauh dari mereka, setelah saya pulang, saya agak berat kalo harus pergi lagi walaupun cuma 4 jam perjalanan dan masih bisa pulang tiap pekan (kalo mau).

Apapun itu, saya yakin saya bakal bisa menjalani hidup saya dengan santai, dengan lebih percaya diri dan saya yakin bisa melewati apapun yang ada di hadapan saya. At least, sudah banyak kejadian dalam hidup saya yang telah membentuk diri saya punya modal melanjutkan dan menghadapi hari2 ke depan.

Dan modal yang paling penting adalah kekuatan dari ALLAH. Tempat bersandar yang sejati, sandaran yang tak akan pernah goyah dan lelah. Saya optimis karena saya punya Allah yang akan selalu mendengar cerita2 saya.

Saya punya Allah !!!!

Saturday, March 10, 2007

Hanya ALLAH saja

Bismillah..
Tit..tiit
"Mb, aku sudah gak kuat. Aku gak tahan lagi jalani hidup ini"

Tit..tiit
"Mb, apa kabar? Mbak, aku sudah gak tahan. Hari demi hari cobaan hrs aq hdpi. Rasanya aku ini cewek yang lemah"

Tit..tit
"Aku harus apa supaya bisa sabar? AKu udah putus asa. Aku capek nangis mbak. Aku sudah gak kuat"

Tit..Titt
"Mbak, rasanay kaki ini sudah gak kuat lagi untuk berjalan"

Tit..Tit..
Mbak, bagaimana menghadapi rasa sakithati dan ketakutan? Orang2 di sekitarku juga rasanya begitu menjengkelkan. Aku harus bagaimana mbak hadapi hidup ini?"

Tit..Tit
"Mbak...."

Lagi dan lagi, sms-sms seperti itu yang muncul di layar HP saya hampir setiap malam. Kadang ingin rasanya tidak membalas sms situ, tapi langsung ingin merengkuh mereka dalam pelukan dan berbagi kekuatan. Sms-sms seperti itu pada satu sisi membuat saya sadar bahwa ternyata perasaan yang saya alami adalah normal.

Rasa takut, rasa hampir putus asa, rasa tak kuat lagi untuk bertahan dan semacamnya yang sebenarnya juga saya rasakan, ternyata juga dimiliki orang lain.
Bedanya, saya bisa lebih mudah melewati itu semua justru karena sms-sms itu. Balasan saya ke mereka sejatinya adalah balasan untuk diri saya sendiri. Saya jadi lebih bisa melihat dan mendalami perasaan takut saya akan hidup dari kacamata yang berbeda.

Siapa sih manusia yang bebas dari cobaan? Siapa pula yang merasa semua dalam hidupnya adalah baik2 saja? Tidak ada. Tidak satu pun. Bahkan ketika tak pernah ada tangis pun, sebenarnya tak pernah tak ada luka. Tapi semua berpulang kepada kemana kita mencari sumber kekuatan. Selalu saya bilang kepada semua yang sms juga kepada diri saya sendiri, bahwa hanya Allah yang bisa. Seberapa besar keinginan kita untuk bertahan, untuk kuat, kalau kita tidak mencari sumber kekuatan dari tempatnya yang benar, maka akan sia-sia.

Ketakutan akan hidup saya sendiri, ketakutan akan apa yang bakal terjadi, ketakutan akan apa resiko yang harus saya ambil juga ketakutan2 lainnya membuat diri serasa ingin menghilang begitu saja. Atau sibuk dengan mengenang masa-masa kejayaan saat semuanya begitu indah. Atau sibuk menyesali kenapa tidak begini waktu itu atau mengapa tidak begitu waktu itu. Wajar, alami, pada saatnya mungkin kita memang butuh rasa takut itu. Untu apa? Untuk menyadari bahwa kita hanyalah hamba. Bahwa kita hanyalah seseorang yang tidak ada kekuatan apa-apa tanpaNYA.

Ya, hanya Allah saja yang bisa membuat kita bebas dari ketakutan kita. Kedekatan kita denganNYA saja yang bisa membuat kita survive, membuat kita yakin dengan apa yang kita lakukan dan mampu membuat kita menikmati hidup ini dengan cara yang benar. Hanya Allah saja

Allah, aku merinduMU. Peluk aku..

Monday, February 26, 2007

Mari Lebih Bijak Menjaga Belanga

Bismillah...
Beberapa hari yang lalu saya sedikit "diomeli" lantaran saya bilang mau ke rumahnya seorang kenalan. Dalam sedikit "omelan" itu, barulah saya tau bahwa saya dilarang (baca:dianjurkan tidak alias gak seberapa suka) ke situ karena ada satu sikap dari ortu kenalan saya yang gak disuka sama saudara yang mengomeli saya. Nah, ribet kan?

Itu masalahnya. Keribetan yang gak penting. Siapa yang bermasalah, siapa yang harus ikut kena getah? Masak lantaran ortu kenalan ada sedikit salah sama saudara dari orang yang juga mengenal saya, saya lantas harus ikut-ikutan tidak kontak. Aduh, itu kan gak penting banget,BANGET.

Apalagi, dari cerita yang saya dengar, itu bisa saja hanya salah paham. Ortu kenalan saya pasti punya alasan mengapa bersikap seperti itu dan ternyata selama ini belkum ada komunikasi untuk mencaritahu mengapa ortu kenalan itu bersikap begitu. Trus, atas dasar apa saudara yang mengomeli saya itu merasa anggapannya yang benar dan ortu kenalan saya salah tanpa pernah bertanya mengapa?
Kalaupun memang salah, trus apa juga hubungannya dengan saya?
Apalagi keperluan saya adalah dengan kenalan saya itu. Kalaupun saya perlu sama ortunya pun, saya kira its not a big deal. Toh, ortunya selama ini baik-baik saja ke saya.

Terlepas dari apapun permasalahannya, kenalan saya itu beserta keluarganya sudah sangat saya sayangi. Mereka buat saya orang-orang yang luar biasa. Saya belajar banyak tentang kesederhanaan, kekeluargaan dan yang terpenting dari semua, saya belajar tentang KETULUSAN.
Jujur, mereka-lah orang2 yang membuat saya percaya bahwa masih ada orang yang bersikap baik tanpa pamrih di dunia ini. Saya sudah tau dan berhubungan dengan banyak karakter. Ada tipe penjilat, ada tipe bermuka dua, ada tipe baik tapi pamrih, ada tipe baik tapi selalu mengungkit kebaikannya, dan mereka adalah tipe yang lain. Benar2 tulus. Itu sangat bisa saya rasakan dari setiap tindakan mereka ke saya dan itu pula yang membuat saya begitu nyaman jika berada di keluarga mereka karena saya tahu apa yang mereka lakukan adalah dari hati.

Kalaupun memang pada akhirnya ortu kenalan saya itu yang salah, saya kira tidak akan merubah apapun. Bagaimana mungkin kesalahan itu bisa membuat saya lupa kebaikan-kebaikan yang sudah mereka berikan pada saya. Bahkan jika mereka buat kesalahan pada saya pun, kebaikan mereka tetaplah memiliki timbangan yang lebih berat.

Juga ketika saya dikomentari masalah kedekatan saya dengan seorang sepupu. Selama ini baik2 saja dan kedekatan saya mulai dikomentari karena sepupu saya itu sempat punya sedikit mau yang cara penyampaiannya terkesan tidak sopan pada saudara2 saya yang lain. Oke, memang saya akui tidak sopan. Tapi kalua karena itu saya gak boleh dekat, ya maaf saja. Saya gak mungkin bisa lupa kebaikan dia selama kami sama2 di Surabaya. Dia gak makan sebelum saya makan. Dia gak tidur sebelum saya tidur. Dia juga memmastikan bahwa saya baik2 saja. Dia sudah begitu banyak membantu saya supaya tetap merasa nyaman dan bahagia di rantau. Trus, kalo sekarang dia buat sedikit salah, kenapa gak ada maaf? Lupakah kalian dengan sikapnya yang selalu menuruti apapun yang kalian perintahkan? Masa sih kalian lupa? Toh, dia juga manusia.

Lagi, saya dilarang gak boleh berteman dengan teman saya karena dia sudah berlaku kurang ajar pada orang tuanya. Oke, saya gak tau seperti apa bentuk kekurangajarannya itu. Tapi, seperti apapun bentuknya, saya tetap tidak bisa bilang dia benar kalau namanya sudah kurang ajar pada orang tua.
Permasalahannya adalah mengapa saya jadi dilarang berteman dengan dia? Berteman dengan dia insyaAllah tidak akan membuat saya kurang ajar juga kepada orang tua saya.

Dia punya satu kebaikan yang tak pernah bisa saya lupa dalam hidup saya. Semasa saya sekolah di Makassar dulu, saya pernah jatuh sakit dan harus diopname. Dialah yang menemani saya selama di rumah sakit. 24 jam dia menemani saya. Dia tidak meninggalkan kamar selain untuk ambil baju ganti saya dan mengurus askes saya. Dia tidur malam bersama saya di lantai rumah sakit. Dia bahkan tidak kuliah selama saya berada di rumah sakit.
Selain itu, kami juga sama2 menghadapi berbagai masalah selama kami di perantauan makassar. Kami tertawa dan menangis bersama. Dia begitu punya arti buat saya. Dan kalau sekarang dia buat satu kesalahan, itupun bukan pada saya, tidak mungkin saya tidak berteman lagi dengan dia.

Ini satu hal yang tidak saya sukai. Kita begitu cepat lupa akan kebaikan2 orang lain setelah ia buat satu saja kesalahan. Tolong mengertilah. Lihatlah sesuatu secara total. Ketika seseorang berbuat salah, cukup perbaiki di situ, jangan merembet kemana2. Jangan sampai membuat kalian lupa bahwa sebelum satu kesalahan itu, sudah ada banyak kebaikan yang tercipta.

Memang karena nila setitik bisa rusak susu sebelanga. Tapi, tidak semua hal bisa dianggap sebagai nila. dan kalaupun itu nila untuk kalian, jangan jadikan itu nila juga untuk saya. Karena belanga saya masih sangat bersih. Mereka tidak pernah meneteskan nila di belanga kenangan saya bersama mereka.

Saturday, February 17, 2007

Aku merindu

Kemarin pas nunggu Evi dan Kak Deda datang, saya dan Mbak Ratih nunggunya di teras masjid Raya AlFatah. Masjid kebanggaan Masyarakat muslim Maluku.
Dulu masjid ini kayaknya besaaaaaar banget. Liat halaman, saya seperti liat eby kecil yang berlari-lari dengan teman2 ngaji sepulang ikut acara di masjid itu.

Aku kangen masa kecilku, masa-masa aku mulai belajar mengenal Allah
Terlepas dari itu semua, aku lebih merindukan satu hal.

Allah, aku merinduMU..........................

Hari Sepupu Sedunia

Beberapa hari ini judulnya HARI SEPUPU SEDUNIA.
Kemarin, sama mbak Ratih janjian ketemuan sama Evie dan Kak Deda makan bakso dan es kacang di warungnya pak Djafar. Pulangnya kita mampir ke rumahnay tante ade ketemu Dek Putri. Abis itu ke rumahnya Ma Onco ketemu Ervin, Dek Ois, sama si kecil Pasha. Pulangnya mampir lagi ke rumahnya Om Uya ketemu sama Kak Ida, Evi dan Toriq.

Hari ini, di rumah pada kumpul semua tanpa janji sebekumnya. Ma Onco, Ervin, Dek Ois dan si kecil Pasha datang siang. Sorenya, tante Sum dan Kak Ida satang dan kak Leli nyusul. Caca datang juga dari piru. Bagaimana gak rame, 4 ibu, 8 saudara, 1 ponakan ketemu.

Keluarga besar saya dari pihak ibu ada 7 tante, 7 om, 24 sepupu, 6 sepupu ipar, 7 ponakan. Total 50 orang minus Bibi yang sudah gak ada. kapan ya bisa kejadian kumpul semua?

Tuesday, February 13, 2007

LUHU (Nice Adventure)

Bismillah.
Udah diwanti-wanti sama Ibu dari kemarin untuk banyak berdzikir di perjalanan.
Pas berangkat juga Tante dan Om Put kasi pesan yang sama. Belum pernah memang lewat darat Piru-Luhu yang kata orang, perjalanannya itu menanjak, masuk hutan, dekat jurang, gambarannya pokoknya kudu benar2 hati2 dan banyak dzikirnya.

Perjalanan Yang menyenangkan sekaligus mendebarkan.
Lewat gunung, jurang, pantai, trus liat gunung yang Subhanallah seperti permadani yang halus, sudah itu lewat pantai lagi yang dasarnya keliatan begitu bersih dan putih seperti mutiara. Belum pake acara mesin mogok, kehabisan bensin, jatuh di jembatan kayu karena licin, terjebak ujan dan malam di daerah yang penuh pohon tinggi dan kanan kirinya jurang. But, perjalanan ini
sama Papa dan Abang Nyong yang Alhamdulillah sedikit banyak bisa bikin saya merasa lebih aman. Kalo diajak lagi, saya mau ngulang perjalanan ini. Mendebarkan memang dengan tanjakan
yang tajam, jurang yang menganga, badan yang sakit karena jalan yang tidak mulus, tapi tidak sedikit ucapan Subhanallah yang bisa terucap melihat betapa indahnya Karya Allah SWT, sebuah karya yang tak tertandingi.
Sampe rumah sudah jam 8 malam, tapi langsung silaturrahim. FYI, Luhu ini kampung asalnya
kedua orang tua. Jelas, disinilah berkumpul seluruh keluarga besar. Rumah Papa ada di kompleks kampung baru, kalo rumah ibu di kompleks kampung tengah. Capek memang, tapi saya gak bisa nahan keinginan untuk silaturrahim. Ditemani Bukal, saya ke rumah keluarga di kampung tengah. Pulangnya, baru makan duren di rumah kampung baru 4 buah sebelum tidur.

Besok paginya, saya mulai kunjungan lagi kemana-mana dan ditemani Bukal. Waktu sarapan
sebelum berangkat, Tete haji (panggilan untuk kakek dari papa) sudah gak di rumah. kata orang rumah, Tete Haji sudah brgkat dari subuh ke Pohon Duren.
Nah, pas saya lagi di jalan, dari jauh saya liat seseorang dengan kaos oblong putih, celana selutut, ransel, tidak bersandal dan memikul sepotong bambu. Semakin dekat saya semakin kenal sosok itu. Ternyata itu Tete Haji.
Saya kemudian berlari menyongsongnya dan memeluknya ...


A : tete, tete dari mana?
T : Tete dari pohon durian
A : Tete sendiri? Tete ambil duren untuk siapa?
T : Ya untuk kamong (kalian, red)
A : Tete kok jalan? Kan jauh. Tete naik ojek ya
T : Seng usah, tete jalan saja biar sehat
A : Tete kenapa sih harus ke pohon duren? Mana jalan kaki lagi
T : Tadi sudah naik ojek, tapi tete minta turun. Jalan saja, kan sehat
A : Trus duriannya mana?
T : Pe satu ni (Nih, satu) * sambil nunjuk satu buah duren yang digantung di bambu yang ia pikul

Terharu banget saya dengan apa yang Tete Haji lakukan pagi ini. Hanya dengan cintalah ia mau melakukan ini, walaupun cuma sebuah duren. Duren ini saya sebut DURIAN CINTA. Setelah itu, saya tuntaskan ciuman sayang dan melanjutkan perjalanan



Setelah itu, kita ke rumah sanak saudara. Sampai di rumah abang Jab, saya makan duren 6 buah. Trus ke rumah abang Nyong, dibawain duren lagi sama Bukal. Waktu lagi istirahat, Abang Jab datang dan ngajak balik ke rumahnya. Disana, saya makan duren lagi 5 buah dan sampe malam karena diajak makan malam disana. Waktu lagi makan malam, Bang Ondi datang dan ikut makan malam. Ternyata, Bang Ondi datang itu untuk ngajak saya ke rumahnya. Disana, sudah ada Mbak Ratih dan Tante Dja yang baru tiba dari Piru. Kita makan duren 13 buah. Total hati itu saya makan duren 29 buah.

Waktu pulang tadi pagi, banyak yang nganterin ke jembatan Luhu. Trus, mereka rame2 kasi duren. Tante Ani, Tete Ma'i, tete Haji, Bukal, Mama Nona, Om Isun, Bibi Ece, Nenek Pama, yang kami (Saya, papa, Tante Dja, Mbak Ratih, dan Kak Ida) bawa sejumlah 2 karung dan 3 karton. 
Total 30 buah duren. Musim ini, saya puas banget makan duren. 

Tete Haji ikut nganter ke Jembatan. FYI, beliau satu-satunya kakek kandung yang masih ada. 
Kakek Nenek dari pihak Ibu dan Nenek dari pihak Papa sudah gak ada. Thats why, entah kenapa, belakangan ini saya sering memikirkan Tete Haji dan ingin lebih berlama-lama dengan beliau. Dan DURIAN CINTA beliau itu saya jadikan pemimpin bagi 30 duren yang saya bawa pulang ke Ambon. Makasih ya Tete Haji. Makasih juga untuk semua keluarga yang sudah begitu hangat menerimaku

ps : Ambon-Luhu 3 jam perjalanan 1 jam darat ke Hitu dan 2 jam perjalanan laut ke Luhu

Tuesday, February 06, 2007

Meninggalkan Kenangan, Menjemput Masa Depan

Bismillah.

Seminggu yang lalu, saya pulang ke rumah. Rasanya campur-campur. Ada senang bisa kumpul lagi sama keluarga, ada sedih juga karena meningalkan kenangan. Tiba-tiba saja seperti memutar kaset seminggu sebelum kepulangan. Betapa orang-orang yang selama ini memberi warna dalam hidup saya selama di Surabaya, silih berganti menemui. Ada yang bawa surat, ada yang bawa hadiah, ada yang bawa surat dan hadiah, tapi yang pasti, semua membawa tangis.
Saat harus menatap mereka di bandara, rasanya seperti ada yang tertinggal. Momen ketika harus melihat mereka for the last dan gak tau kapan bisa ketemu lagi. Bahkan ketika saya sudah di pintu masuk, tasku ditarik oleh seseorang yang memelukku erat dan seorang adik lagi yang minta memeluk sambil bilang "Mbak, sebentar ya mbak. Aku cuma pengen meluk mbak erat-erat. Kasi kesempatan ya Mbak"

Di pesawat, Mbak Ratih bilang "Ini judulnya MENINGGALKAN KENANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN".
Ya, ini perjalanan pulang menyambut masa depan. Tanpa menafikkan masa lalu, tapi masa depan adalah sesuatu yang harus diusahakan sebaik-baiknya. Masa lalu, kenangan adalah modal, adalah pijakan untuk melayang lebih tinggi.

Dan setelah seminggu disini, belum ada yang kuperbuat. Aku terlalu sibuk menikmati ada di dekat orang tua. Setiap hari, membaca surat-surat cinta dari saudara-saudaraku disana, mencoba mengunjungi mereka satu persatu di ruang hatiku. Dan cukup, seminggu sudah cukup.
Besok, aku akan memulaisebuah pengembaraan, mengusahakan sebuah masa depan, mengusahakan sebuah awal menuju proses pembuktian, pembaktian serta pengabdian kepada Allah dan kepada kedua orang tuaku.

May GOD bless me in every step of mine.