Thursday, July 23, 2009

Aku Bernama .....


Aku, perkenalkan
Namaku cinta...
Aku datang membawa hati

Namaku setia
Aku ada tanpa mendua

Namaku rindu
Aku hadir setiap saat

Namaku janji..
Terpatri dalam hati

Dan namaku adalah jarak...
Tak masalah bagiku bernama itu

Lalu,
Bolehkah ku tahu siapa namamu?

*Pojok ruangan berdinding biru, dalam dekapan malam*

Wednesday, July 22, 2009

[ S.E.T.I.A]

Waktu ……

Beku …….

Hampa …..

Lalu :

Nyata …..


Banyak menjelma menjadi tanya

Tak meragu

Ragam canda berwarna yang diselingi sedikit api

Namun air selalu saja datang

Dengan cara yang indah, tepat, pas pada waktunya


Nikmatilah, renungilah

Ini kesempatan

Dan ada pengertian di dalamnya

Tak perlu ragu


Karena aku ................................... [ Setia ]


Bilik kantor, jam makan siang—22 Juli 2009


Tuesday, July 21, 2009

Cinta, Rindu, Jiwa



Kebekuan hati tak melengahkanku

Menemukan apa jiwa mau

Resahmu adalah gadam, menggelinding

Serupa titah selami rasa



Merangkak lalu berjalan tertatih

Terseok dalam kubangan tanpa sela

Menjelma nyata dalam satu pastian

Kau, aku, melebur dalam impian



Gelak yang terangkai belum jua

Mampu resapi makna yang sama

Dalam hampa yang termakna sunyi

Serpihan yang tiba-tiba hadir dalam kepingan jiwa

Membekukan segala apa depan



Mimpi ini, cinta : Kita Punya

Mimpi ini, rindu : Akan ada

Mimpi ini, jiwa : Bersama

Waipirit - Piru, 21 Juli 2009

Monday, July 13, 2009

Ambon Kita

Senja tadi, saya dikejutkan oleh hp yang berdering dari teman STM. Lebih terkejut lagi ketika dia meminta saya menebak sedang dimana dia sekarang. Pertanyaan yang tak biasa itu gampang sekali ditebak jawabannya. Kira-kira begini percakapan kami :

Teman (T) : Eby, tebak ko dimana ka skarang?
Saya (S) : Di Ambon ko mi?
T : Iyo, di Ambon ka dari kemaren. Tapi sa di Waiheru, baru ka ini ke Ambon.Skarang sa lagi di Pasar Mardika
S : Serius ko mi?
T : Serius ka. Sa lagi dikotamu yang jorok dan sempit

Seterusnya, itu percakapan biasa sesama teman. Kali ini saya pengen kita sama-sama menyimak kesan salah seorang yang baru menginjakkan kakinya ke kota kita yang berjulukan Manise ini.

Sempit dan Jorok.

Kesan ini bisa ditanggapi macam-macam, bisa sinis, bisa koreksi ataupun cuek beybeh. Mungkin pula kesan sempit karena dia mendapatkan kemacetan di Mardika yang nyaris tak pernah berhenti. Pun Jorok ia dapatkan karena sedang berada di Mardika yang memang jorok, begitulah kenyataannya. Agak tak fair memang, jika dengan melihat sudut Mardika lalu mengambil simpulan bahwa Ambon Sempit dan Jorok. Tapi kita juga gak bisa kan memaksa turis lokal untuk mengelilingi kota Ambon berbulan-bulan supaya mereka bisa pulang dan bilang Ambon itu indah, Ambon itu bersih, atau kesan-kesan baik lainnya.

Pasar Mardika, 15 sampai 12 tahun lalu saat masih SMP, sepertinya tidak sekacau sekarang. Mobil umum punya tempat antriannya masing-masing, pedagang punya lahan sendiri tanpa perlu mengambil lahan terminal. Laut yang dulunya menjadi view menarik dari terminal sekarang tergantikan dengan sampah-sampah yang tentu tak bisa dikatakan menarik. Bukankah seharusnya semakin hari, semakin tahun, pembangunan serta keteraturan kota semakin baik?

Kita boleh bangga dengan pantai-pantai kita yang saking banyaknya kita sendiri tidak menghafalnya, dan saya haqqul yaqin tak ada seorang pun anak Maluku yang sudah mendatangi seluruh, sekali lagi, seluruh tempat-tempat indah di Maluku yang tentu dimiliki setiap desa. Kebanggaan itu mau kita jual ke luar? Silahkan saja. Namun jika untuk ke tempat-tempat yang membanggakan itu, harus melewati jorok dan sempitnya Mardika atau sudut-sudut lain yang tak bisa dibilang bersih, apa jawaban kita jika ditanya? Menyalahkan pemerintah? Atau menyayangkan kesadaran masyarakat?

Jawab pakai hati, nyamankah kita tinggal di Ambon? Saya sendiri merasa belum saatnya menjawab iya untuk pertanyaan itu. Karena Mardika adalah tempat yang saya lewati setiap hari jika saya sedang berada di Ambon, dan kemacetan serta suasananya sangat tidak me-nyaman-kan. Bukankah pasar tradisional tidak harus sama dengan kumuh?

Anda ??????????????????

Waimeteng, 13 Juli 2009

Sunday, July 12, 2009

Goresan Saja

Terkadang, untuk sesuatu yang kita yakini
Kita perlu melakukan hal-hal yang dalam keadaan normal tak mungkin mau dilakukan
Hal-hal sederhana yang kita percayai dengan sungguh
Di suatu waktu mampu melecut kita mengerjakan hal yang tak biasa

Apa yang terjadi kemarin adalah langkah yang terseret hati
Nurani tak bisa menunggu untuk sesuatu yang diinginkan
Bukankah bola harus dijemput
Dan aku sudah menjemput

Lega,
Tak mulus memang, tapi lega
Karena memperjuangkan sebuah keinginan adalah istimewa

RumahTiga, 12 Juli 2009

Sunday, June 28, 2009

Gadisku, Mengangkasalah..........


Cinta, kau temukan jua

Sayap pendamping yang kau nantikan

Menjemputmu memulai pengembaraan

Yang semoga selamanya


Cinta,

Dalam temaram senja, wajahmu bercahaya

Belum pernah ada senyum semanis ini

Yang kau hadirkan selama hidupku bersamamu


Cinta,

Kau telah dijemput

Siapkah kau meninggalkan kami?

Karena aku tak siap kau tinggalkan


Cinta,

Serupa makna matahari bagi manusia

Serupa itulah kau padaku

Lantas jika kau pergi,

Kemanalagi aku berharap sinar?


Cinta,

Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan terbesarku

Melihatmu tersenyum adalah senyuman terindahku

Membelaimu, melihatmu, adalah sejuk mataku


Dia telah datang,

Seorang pangeran yang bersiap menggandeng tanganmu pergi

Mitsaqan ghalidza itu, bahagia dan duka bercampur tak karuan

Dia, kenapa dia datang lalu membawamu pergi?


Cinta,

Tak ada kata yang pantas menyematkan bahagia di hatiku

Melihatmu tersenyum manis..manis sekali

Lalu terkadang tersipu memerah


Cinta,

Aku mencintaimu, dengan seluruh hidup yang aku punya

Aku mencintai keputusanmu dengan seluruh napas yang aku hirup

Aku mencintaimu dengan sepenuh doa seumur hidupku


Selamat sayang,

Barakallah untuk kalian berdua

Aku disini, bersama kalian hingga detik terakhir hidupku


Rumah cinta Wailahan, 28 Juni 2009 : Ditulis untuk seorang gadis berjilbab biru

Nb : Ardi, jaga adekku dengan seluruh hidupmu. Bimbing dia disisimu. Dia bunga terindah yang kau petik dari taman kami.

Monday, June 22, 2009

Salah satu sisi Allang Asaude





Allang Asaude, satu desa diantara 89 desa di SBB yang berpenduduk mayoritas Kristen (bukan mayoritas, tapi semuanya). Di Allas, kami tinggal di rumah keluarga Bu Ulis. Bu Ulis beserta istrinya, Usi May dan 3 anaknya (Versi dll), begitu hangat menyambut kami dan memberikan pelayanan terutama kenyamanan serta suasana hati yang enak yang tak bisa ditawarkan oleh hotel bintang lima manapun. Di sela-sela tugas yang harus kami jalankan di desa Allang Asaude, Kecamatan Waesala Kabupaten Seram Bagian Barat, Kamis yang lalu kami mendaki gunung Kotahalu, sebuah gunung karang yang konon katanya dulu gunung yang tinggi lalu pada zaman penjajahan Belanda, dari arah Laut, Belanda mengira gunung ini adalah bangunan. Belanda kemudian membombardir gunung dengan tembakan-tembakan hingga gunung Kotahalu ini runtuh dan berbentuk seperti sekarang ini. Beruntung rasanya diberi kesempatan oleh Allah berkunjung di satu sisi lain dari bumiNYA yang begitu indah.


Perjalanan kami mulai pukul 05.30 WIB dan setelah berjalan sekitar 10 menit ke kaki gunung, mulailah pendakian yang lumayan sulit itu. Dalam kondisi gelap, berbekal 2 senter, kami berlima memanjat dan mendaki dengan rasa penasaran apa yang akan kami lihat di puncak nanti. Medan yang sulit dalam kondisi gelap membuat perjalanan lebih lama dari yang biasanya, itu kata Aty dan Angki yang menjadi guide kami bertiga. Yah, buat pemula oke-lah. Apalagi ini karang semua, kudu lebih hati-hati kalo gak mau kena tajamnya karang. Pendakian yang luar biasa. Capeknya minta ampun. Tapi semakin dekat ke puncak, dan semakin capek dirasa, semakin bersemangat kami mendaki. Dan ternyata benar. Sampai di puncak, semua kelelahan itu terbayarkan oleh suguhan alam yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Angin puncak yang bertiup menghapus keringat hasil pendakian dan mata benar2 termanjakan oleh alam. Di depan pulau Allang yang terlihat dari puncak gunung Kotahalu ini, ada tiga pulau yang terlihat. Ada pulau hoffman (atau hotman ya?), katanya ada gua yang isinya tengkorak. Sebelahnya ada pulau yang lebih kecil dari pulau Hoffman (atau hotman) bernama pulau Air, dan pulau Tatinai. Ketiga pulau ini tidak berpenghuni. Pulau Hoffman ini akan jadi target kunjungan berikut jika saya ke Allas lagi. Untuk kesana, kita cuma perlu naik ketinting alias dayung sendiri setengah jam. Dari puncak, juga terlihat sebuah danau/telaga yang disebut talaga Halong. Dua tempat ini serta merta masuk dalam daftar daerah berikut yang harus kukunjungi.


Pas lagi pose-pose narsis di atas, dari arah Waesala, muncul pelangi yang melengkapi keindahan pagi itu. Matahari pun mulai muncul malu-malu dari timur menerpa menyegarkan wajah. Di Allang Asaude, tidak ada komunikasi. Masyarakat yang mau berkomunikasi, biasanya naik ke gunung ini lalu mencari sinyal kiriman dari Namlea. Kadang sinyal muncul, namun lebih sering tidak munculnya. Hari kami mendaki itu, sinyal hanya “singgah” di handphone Aty yang digantung di dahan pohon. Gantung di dahan pohon, memang cara mencari sinyal. Di handphone yang lain, sinyal tidak mau “mampir”. But its not a big deal karena kedatangan kami bukan untuk telpon. Lucunya, sudah jauh2 kita mendaki, dua orang yang dihubungi Aty, satunya tidak aktif dan satunya tidak menerima telpon. Kasian amat ya.


Konon pula, kata Aty dan Angki, selama ini orang-orang dari luar Allang Asaude yang naik ke gunung Kotahalu ini tidak bisa mengambil gambar. Sementara kami, semua peralatan narsis mulai dari handycam, kamera digital dan 3 hp kamera, semuanya berfungsi maksimal. Aty bilang “dong bisa foto-foto e. Orang luar kalau kesini to seng bisa foto. Dong pung hp dan kamera seng bisa pake foto. Tapi ini bisa tu. Memang dong nae deng hati bersih jadi bisa”. Senang dengarnya, karena memang tak ada apapun yang kami inginkan selain ingin mengagumi.

Waktu hal ini kuceritakan ke Bapa Raja Allang Asaude, beliau tersenyum dan bilang “Nona eby kan orang Luhu, katong pung Tamaela”. Tamaela, saya tidak tahu apa itu arti jelasnya Tamaela dan bedanya dengan pela. Yang saya tahu, kalau orang Luhu ada kegiatan besar atau ada musim cengkeh, yang datang untuk bantu dan juga naik cengkeh adalah orang Allang, begitu juga sebaliknya. Berasa istimewa setiap kali Bapa Raja bicara dan menyebut saya dengan panggilan “Nona Ela” dan saya pun disuruh untuk tidak memanggilnya Bapa Raja, tapi “Bapa Ela”. Its wonderful…..

Monday, June 15, 2009

tak berjudul

sedu menyapa hati
pada makna hujan ia bertanya
dinginkah kau rasa
atau memang begitulah adamu

tak menemukan tempat untuk berlabuh
tapak kaki masih harus tertatih
merengkuh asa berselimut mimpi
menjelma kesunyian dan bisikan takbir
betapa kesyukuran menggelembungi naif diri
tak bisa begini jika tak ada kasih sayangNYA

makna apalagi yang masih dicari
ketika harap tak kunjung tiba
padahal telah banyak tetes-tetes penantian
lalu bertanya ia pada angin
tak lelahkah kau mengembara
atau memang begitulah adamu
menyinggahi tempat tak terjamah sebelumnya
penuh yakin makna nyata kehadiranmu
diiringi salam tasbih, salam selamat datang

lalu matahari kembali tersenyum
seringainya lebar hingga menusuk pori
maka bertanyalah ia pada matahari
tak bosankah kau menyinari
atau memang begitulah adamu

Wednesday, May 06, 2009

Masih Berharap .................

Dunia pendidikan adalah dunia yang penuh warna. Dunia yang begitu sempurna, luar biasa, heroik, patriotik dan segala yang berbau kepahlawanan. Setiap melihat seorang guru, timbul sebuah rasa kagum, ada manusia-manusia pilihan yang mendedikasikan hidupnya kepada sesuatu yang baru bisa terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian.

Banyak yang bisa diberikan oleh seorang guru, banyak pula sebenarnya yang bisa mereka minta. Tapi tak pernah sedikit pun mereka menuntut balasan atas setiap kesuksesan yang mereka toreh, setiap kesuksesan yang mereka siapkan sejak awal mereka mendidik. Namun terkadang mereka malah lupa, bahwa mereka pernah menitipkan segores asa dan meletakkan satu bata kesuksesan kepada anak muridnya.

Kesan di atas adalah kesan saya terhadap pendidikan dan para guru di masa lalu. Dulu, ya dulu. Sekarang ini, sulit mencari guru yang menjadikan kata “mendidik” sebagai semangat hidupnya. Sekarang, guru hanya profesi yang mudah dilakoni siapa saja, bahkan jika ia tidak memiliki basic keguruan sekalipun. Aktivitas mengajar hanya sebagai rutinitas, tak lagi menyertakan hati.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para guru senior yang masih sangat berdedikasi terhadap tugasnya tapi tak diperhatikan haknya oleh Pemerintah, saya ingin mengatakan bahwa saat ini sepertinya siapa pun bisa menjadi guru. Mereka yang setelah selesai kuliah lalu tak kunjung mendapatkan pekerjaan, berbondong-bondong mengajukan lamaran sebagai guru dan dengan mudah diterima. Modal Akta 4 yang hanya 2 tahun cukup bisa disejajarkan dengan lulusan keguruan yang memang sejak awal berniat menjadi pendidik. Karena itu, langkah menutup Akta 4 adalah langkah yang sangat tepat dan sangat bertanggungjawab, karena itulah yang tanpa disadari akan menghancurkan sistem dan kualitas pendidikan kita.

Saya ambil contoh di sebuah desa yang tak perlu disebut namanya, mutu dan kualitas guru perlu dipertanyakan. Para guru yang terhitung masih sangat muda itu di siang hari mengajarkan pelajaran di sekolah dan di malam hari, masih bisa kita lihat joget di saat pesta kampung atau berkata tidak sopan dalam pergaulannya. Bukankah seorang guru yang diikuti bukan hanya pelajarannya tetapi juga bagaimana dia ber-akhlak. Apa jadinya jika akhlah dan mental pendidik bobrok? Apa yang bisa ditiru oleh muridnya? Tak ada lagi pendidikan berkualitas yang bisa dihasilkan. Tak ada lagi pola mengajar dan komunikasi yang mampu membuat siswa rindu akan sekolah. Beberapa guru muda pernah datang bertamu ke rumah saya, dan masuk sampai dapur tanpa mengucapkan salam. Dan setelah yang dicari tak ada, mereka pergi tanpa mengucapkan salam pula. Kemana larinya sopan santun seorang guru? Bagaimana ia bisa mengajarkan sopan santun kepada siswanya jika ia sendiri tak punya itu? Padahal, Pendidikan adalah instrumen rekonsiliasi sosial. Jika tak direkayasa pola pikir siswa secara baik dari sekarang, hal ini bisamengancam eksistensi integral sosial dalam sebuah masyarakat di masa yang akan datang.

Sungguh, saya berduka atas mental-mental pendidik seperti ini. Namun, saya percaya masih ada para pendidik yang luar biasa. Masih ada pendidik yang menjadikan pendidikan sebagai nafasnya, sebagai hidupnya. Sungguh, saya percaya mereka masih ada.

Dan sungguh, saya masih berharap akan sebuah perbaikan .......

* Ditulis untuk postingan MBC meramaikan Hardiknas*

Para Pelukis Semangat

3 tahun sudah saya tinggalkan dunia pendidikan formal, kemudian mengakrabi pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan dimana setiap orang adalah tempat kita belajar. Setiap peristiwa adalah bab yang diajarkan oleh alam, oleh Tuhan. Pelajaran yang baru kita tahu temanya setelah dijalani, ya, belajar tentang kehidupan itu sendiri.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang 18 tahun di bangku sekolah resmi sejak TK hingga kuliah. Masuk TK di usia 4 tahun hanya karena ingin berpakaian putih biru seperti kakak, yang karena itu pula ditolak oleh salah satu SD favorit di Ambon pasca lulus TK karena katanya tidak menerima siswa berusia 5 tahun. Sampailah saya pada sebuah SD yang sederhana, yang saat itu hanya karena kekecewaan ditolak oleh SD yang sebenarnya saya dambakan. SD Negeri 5 Tawiri Ambon, sebuah sekolah di Bilangan Tawiri yang sunyi dari lalu lalang kendaraan. Sekolah yang tampak sangat sederhana tapi disitulah saya menemukan pendidikan yang sebenarnya. Guru-guru yang luar biasa yang percaya akan setiap anak didiknya, yang menganggap setiap muridnya adalah emas yang layak untuk disepuh.

Persahabatan yang muncul di sekolah sederhana nan bersahaja ini bukan hanya persahabatan antara para siswa tapi juga persahabatan antara saya dan beberapa guru bahkan hingga detik ini. Diawali dari Ibu Kariuw di kelas 1, lalu seterusnya Ibu Mina Waliulu, (alm) Pak Sabban, Ibu Sahertian, Ibu Sapulette, Ibu Mien Berhitu, Ibu Rat, Ibu Nun Keliobas, dan Pak Dadiara. Mereka inilah yang sangat yakin akan kami, para muridnya. Mereka yang selalu memompa semangat kami agar yakin akan kemampuan kami. Dan hingga kini, setiap tahun kami selalu menyempatkan diri ke SD tercinta itu menjenguk mereka dan setiap tahun pula mereka selalu bilang bahwa mereka bangga akan kami. Sesungguhnya kami-lah yang bangga akan mereka. Karena mereka-lah, kami bisa sampai di titik ini.

Di SMP (SMP Negeri 2 Ambon), tak banyak sosok guru yang bisa saya ceritakan. Tapi ada satu guru yang melekat di hati yaitu Pak Umar (Guru PPKN). Di satu kesempatan, beliau pernah menjaga kami saat tak diijinkan keluar sekolah sementara kami belum shalat maghrib. Beliau lalu meminjam lab Biologi,dan menyuruh kami shalat di atas meja lab, sementara beliau di luar lab menunggui. Sungguh luar biasa. Entah dimana beliau sekarang. Terakhir ketika beliau bertemu dengan Ayah, beliau sempat menanyakan keadaan saya, dan katanya beliau sudah ngajar di Ternate, pindah karena konflik 1999 itu. Di SMA (STM Telkom Makassar), banyak guru yang kocak, yang santai. Tapi ada juga yang killer. Disini tak banyak yang bisa saya ceritakan karena semua gurunya luar biasa. Ada kenangan dari setiap pendidiknya.

Semua pendidik yang saya temui selama 18 tahun ini adalah pribadi-pribadi yang luar biasa. Mereka berkorban banyak untuk anak-anak didiknya. Hal itu baru saya sadari 3 tahun yang lalu. Saat kuliah sudah berakhir, LAB yang saya kelola sedang tak ada praktikum, dan belum ada keinginan untuk pulang kampung ke Ambon, ada tawaran dari Dosen untuk mengajar di salah satu STM Listrik di Surabaya. Saya mengajar di kelas 1 dan 2 dengan total 6 kelas yang per kelasnya 36 orang. Bisa dibayangkan, menghadapi 216 anak usia SMA yang kesemuanya laki-laki. 216 keinginan, 216 karakter, 216 kemauan, 216 tingkah aneh-aneh, dan beberapa yang kurang ajar.

Memang, masih ada jenis murid yang menyenangkan. Yang sering berdiskusi, yang kemauan belajarnya tinggi. Beberapa yang setiap harinya curhat masalah pribadi. Kita juga sering makan bersama sambil berdiskusi di ruang kelas. Banyak hal yang menyenangkan. Namun ada satu peristiwa yang begitu menyesakkan dada. Saat itu, entah bagaimana, kelakuan semuanya begitu menjengkelkan. Mungkin juga karena pembawaan yang memang sedang capek, semua hal jadi begitu menyebalkan. Kelakuan mereka di dalam kelas yang kelewat batas dan saya yang tak bisa mengeluarkan emosi di depan mereka hanya memilih diam. Dan sebelum jam mengajar berakhir, mereka saya pulangkan karena batin saya yang capek.

Saya pun pulang. Dan dalam perjalanan pulang itulah, tangis tak bisa dibendung. Tangis capek dan tangis mengingat jasa para guru dan terutama ibu saya yang juga seorang guru. Betapa susahnya menjadi seorang guru. Di sekolah, dihadapkan dengan berbagai macam masalah dan sampai di rumah, bisa saja ada masalah-masalah baru dalam keluarganya. Atau sebaliknya, di rumah sedang bermasalah dengan keluarga, namun harus tetap ke sekolah dan mengajar tanpa melibatkan emosi, mengabaikan suasana batin yang sedang tidak enak.

Itu pula mungkin penyebabnya, kenapa kita sering melihat guru-guru yang melakukan tindak kekerasan. Tekanan pekerjaan dan suasana yang batin yang tidak mendukung bisa menjadi alasan seseorang tak bisa mengendalikan emosinya. Karena itulah, melalui tulisan ini, saya ingin memberikan apresiasi yang luar biasa kepada guru-guru yang masih bisa tersenyum di sekolah. Bahkan kadang senyuman itu yang bikin murid-muridnya tersenyum lebih ceria. Apresiasi yang tinggi kepada para pendidik yang mampu melejitkan setiap anak didiknya menjadi orang yang lebih hebat darinya dan tersenyum bangga tak menuntut balas.

Terimakasih tak terhinggaku kepada seluruh guruku di SD Negeri 5 Tawiri Ambon (Ibu Kariuw, (alm) Pak Sabban, Ibu Sahertian, Ibu Sapulette, Ibu Mien Berhitu, Ibu Mina Waliulu, Ibu Rat, Ibu Nun dan Pak Dadiara). Mereka-lah peletak kedua batu semangat belajarku (setelah orang tuaku, tentu saja). Mereka yang hingga detik ini, setiap kali bertemu dengan saya, selalu mengatakan kebanggaannya, meski saya tak tahu apa yang mereka banggakan. Saya-lah yang bangga dan beruntung dididik oleh mereka. Love you all.

*ditulis dalam rangka Hardiknas*

*ditulis dalam rangka apresiasi MBC (Maluku Blogger Community) pada guru lewat tulisan*

Thursday, April 30, 2009

--- Sempurna Mencintai Ketidaksempurnaan ---


Kadangkala kita hanya butuh didengar. 
Kadang pula kita hanya butuh diam 
dan setelah beberapa saat,
rasanya sudah bicara banyak.

Kesempurnaan adalah hal,
yang tak akan pernah didapat sampai tutup usia. 
Karena sempurna bukanlah barang yang sudah ada. 
Kesempurnaan itu ada di hati yang siap menerima. 

Mengerti lalu berdamai, 
baru di saat itulah sempurna menjelma 
menjadi bahagia yang nyata. 

Saturday, April 18, 2009

Menangislah ... !!!!!


Menangis bukan dosa 
Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik
Menangislah jika itu satu satunya cara bikin kau tersenyum kembali
Menangislah jika hanya itu caramu mengekspresikan segala gundah atau bahagia

Dan malam ini,
Aku ingin menangis untuk banyak alasan.
Untuk kenyataan yang tak seindah harapan
Untuk kekecewaan yang terus menerus bertambah
Untuk sakit yang kian meradang

Aku pun ingin menangis untuk ...
Segala kesenangan yang sudah Allah berikan
Segala rezeki yang tak putus dialirkan
Semua kebahagiaan yang melengkapi hidup
Dan untuk setiap senyum yang masih bisa kutebar

Tangisan ini juga untuk.....
Ketidakadilan yang dipertontonkan di hadapanku
Keangkuhan yang diperlihatkan dengan penuh kebanggaan
Kemunafikan yang menjijikkan yang terus dimainkan dengan sempurna
Kebutaan hati nurani yang tak lagi tahu membedakan mana yang haq dan mana yang batil

Tangisan ini untuk diriku,
Yang belum bisa berbuat apa-apa
Yang hanya bisa menangis melihat kenyataan pahit ini

Malam ini, aku ingin menangis
Agar esok aku bisa menatap dunia


*ditulis di sudut kamar dengan uraian air mata dan rasa sesak tak terjelaskan*
18 April 2009, 11 : 13 PM

Friday, April 17, 2009

Road to Waesala






Tadinya pengen cerita panjang tentang kisah ke Waesala. Tapi sampai depan kompi, rasanya tak ada yang bisa diceritakan dengan pas lewat tulisan. Perjalanan tugas seklaigus perjalanan batin. Dua hari bersama masyarakat yang tanpa penerangan selama 48 jam itu. Belum lagi aura ketulusan, kewibawaan dari seorang abi, panggilan untuk Bapa Raja Waesala, yang langsung masuk ke ruang batin paling dalam.

Perjalanan ini biarlah jadi cerita jiwa yang indah. Untuk kalian, saya share foto-fotonya karena foto-foto ini juga bercerita ....

1.Demi Waesala, dorong mobil juga dijabanin

2. Mejeng setelah dorong mobil

3. Kopi tubruk terenak yang pernah saya coba, layak mendapatkan setelah liat mereka dorong mobil

4. Menu makan malam hari pertama, ikan bakar buatan umi

5. Pemandangan dari gunung Waesala

Road to Waesala (2)

1. Salah satu jalan ke Waesala

2. Pemandangan dari belakang rumah Abi

3. Hiburannya anak2 Waesala

4. Salah satu rumah sisa Konflik Sosial di Waesala




Tuesday, April 14, 2009

Pertanda atau Sindrom?

Hari-hari belakangan ini, kok ya rasanya semakin berat. Orang bilang ini sindrom. Saya bilang ini pertanda. Entah pertanda baik atau buruk. Ada saja hal-hal yang bikin tidak yakin, bikin serasa mengambil keputusan yang salah. Kayak memikul beban yang berat dengan kekuatan yang tak seberapa ini. Dont know, tapi ada bagian hati yang bilang “yakin lo?”. Dan itu pertanyaan yang belum bisa saya jawab sampai saat ini.

Mungkin ini pertanda untuk sedikit mundur. Mundur melihat lagi apakah ini benar-benar hal yang saya inginkan? Sebelum semuanya terlambat ketika keputusan telah diambil. ini saatnya untuk merefleksikan kembali apa yang saya butuhkan sebenarnya. Ini saatnya untuk berkontemplasi, lalu kembali dan memutuskan bertahan atau menyerah.
Maaf, tapi saya harus pergi, entah untuk berapa lama. Ada yang harus kuselesaikan dengan diriku sendiri. Dan jika kembali, lets talk.

*14 hari sudah, hufffh, tarik napas panjang gak habis-habis*

* Kangen Batistuta, apa hubungannya yak????*

Friday, April 10, 2009

Siap Kalahkah?

Satu hari pasca pencontrengan. Hasil memang belum diketahui. Masih banyak proses perhitungan yang harus dilakukan. Namun, bagi sebagian besar dari mereka yang punya hajatan alias caleg, pasti sudah bisa mengetahui ini saat untuk berlapang dada, atau melanjutkan merekap suara. Yang menarik perhatian saya adalah sudahkah para Caleg ini menyiapkan mental untuk kalah sejak awal? SBB misalnya, kursi dewan hanya 25 dan itu direbut oleh 527 orang. Versi lain mengatakan 800 sekian. See, akan ada 522 atau 775an orang yang bakal gigit jari. Apalagi kalau dalam usahanya sudah banyak dana yang dikeluarkan. Iya kalau dana pribadi, hitungannya cuma rugi doang, lah kalau ngutang?

Yang perlu dicermati lainnya adalah apakah kekalahan dalam Pemilihan ini berdampak pada kehidupan sosial setelah ini? Tak tahu siapa lawan siapa kawan. Tak jelas pula apakah yang dipercayai untuk memenangkan dirinya, benar-benar bekerja untuk dirinya atau tidak. Lantas, jika di satu tempat yang tadinya diprediksi bisa mendulang suara karena punya tisu dan ternyata nihil atau tidak sesuai prediksi, bagaimana hubungan si Caleg dengan tisunya itu? Burukkah atau baik-baik saja?

Lalu, perasaan tidak percaya lagi, perasaan sudah dibohongi dan macam-macam mulai bermunculan. Aduh, tak kuasa rasanya kalau harus hidup dengan beban perasaan seperti itu. Hidup ini terlalu indah untuk disibukan dengan perasaan-perasaan negatif. So, tak perlulahada dendam, tak perlulah ada benci atau apapun. Tetaplah menyebar kebaikan dna hidup tak berhenti hanya karena tidak di kursi panas itu. Dan bagi mereka yang nantinya duduk di kursi panas itu, sering-seringlah berdiri dan mengunjungi mereka yang membuat kalian duduk disitu. Kalau betah duduk dan melupakan mereka, hati-hati,bisa terbakar saking panasnya.

Mungkin terlalu dini buat saya menulis ini. Yang jelas, saya ingin menyampaikan kepada siapapun nanti yang duduk di Dewan, masih banyak yang percaya bahwa Golput adalah jalan terbaik. Namun masih banyak pula yang merasa masih punya harapan dengan tidak Golput. Tugas kalianlah untuk tidak mengecewakan mereka, agar tidak menambah daftar panjang Golput 5 tahun mendatang. Amanah tidak sepantasnya direbut seperti ini, karena langit dan bumi saja menolaknya. Namun jika amanah sudah diemban, jalankanlah dengan penuh tanggung jawab. Masyarakat masih berharap.

Catatan : Ada caleg yang lulus SMA-nya kejar paket C, tapi perolehan suaranya bagus. Apa karena punya uang ya? Ah, ternyata masyarakat masih belum cerdas memilih.

Thursday, April 09, 2009

Contreng Day !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

9 April 2009, tanggal yang 8 bulan terakhir ini hampir setiap hari kita dengar di media cetak maupun elektronik. Demikian pula dengan kata contreng yang tiba-tiba menjadi kosakata bahasa Indonesia. Kami, yang ada di belahan bumi tidur, dengan sedikit “dipaksa” harus familiar dengan kata contreng yang notabene bahasa Jawa itu. Kenapa pula tidak pakai kata centang saja? Oke, its not a big deal now, toh sepertinya semua sepakat bahwa pada tanggal 9 April 2009, kita semua harus ke TPS untuk mencontreng.

Dan saatnyalah hari ini,9 April 2009 telah tiba dan aktivitas mencontreng diperbolehkan untuk dilakukan. Suasana TPS 6 di tempat saya memilih pukul 11 rame, rameee banget.
Ada beberapa hal menarik terjadi seputar Pemilu Legislatif ini. Pukul 11, antrian masih banyak. Kondisi ruangan yang sempit dengan antrian yang panjang bikin keringat tidak berhenti mengucur. Uniknya tak ada yang mengeluh, semua tetap mengantri meski berpeluh. Beberapa menit lewat dari jam 11, ada PPS yang datang dan bilang tentang aturan batas waktu pencontrengan yaitu jam 12. Tahu apa yang terjadi setelah itu? Pemilih ngamuk choy, mereka gak mau hak pilih mereka tidak terpakai karena aturan jam 12 itu. Mereka memprotes keputusan itu. Perang mulut-lah PPS dan para pemilih dan proses antrian tertunda sekitar 15 menit.

Saya sebenarnya juga mau ikut protes dengan keputusan itu, tapi mulut ini sudah kelu untuk ikut bicara. Terpesona akan kemarahan para pemilih. Padahal kalau mereka tidak memilih, yang rugi caleg-calegnya. Kemarahan itu juga bikin takjub karena di balik itu saya melihat mereka masih punya harapan. Harapan untuk 5 tahun lebih baik dengan menentukan siapa yang akan mengawal keinginan mereka, at least untuk 5 tahun ke depan. Golput karena alasan apapun, mungkin di sebagian tempat jadi trend. Tapi di Kabupaten Seram Bagian Barat, tepatnya Piru, masyarakat masih punya harapan.

Melihat mereka dengan antrian penuh peluh, saya berharap semoga ini tidak sia-sia. Ada yang bilang “contreng 5 menit untuk derita 5 tahun”. Bagi mereka yang mengatakan itu, saya ingin bilang, setidaknya mereka punya usaha untuk terlibat dalam memutuskan masa depannya. Daripada kalian yang sibuk mencaci maki demokrasi, meneriakkan golput, tanpa memberi solusi.

9 April 2009.
*Indonesia dalam harapan menuju lebih baik*

Wednesday, April 08, 2009

Haruskah kekuasaan menutup mata hati?

Euforia punya rekan kerja baru sejak 24 jam yang lalu sangat melegakan hati. Bahkan semalam kita sudah acara makan bersama. Pagi tadi, terpikir untuk membuat tulisan selamat datang kepada new comer di office, seperti tulisan selamat jalan kepada pendahulu posisi tersebut. Tapi, buum, dalam waktu 10 menit, semua bisa berubah. Betapa kekuasaan begitu memegang peranannya dan mencengkeram serta memporak porandakan sistem yang berlaku dan prosedur yang telah dijalani.

Kekecewaan yang kurasakan sekarang, tentu saja tidak sebesar kekecewaan dia yang menjadi korban. Mengapa harus ada korban atas sebuah kekuasaan yang dimaknai terlalu tinggi. Harus ada korban atas sebuah otoritas yang terlalu berlebihan. Alasan yang terkesan dibuat-buat hanya untuk menutupi alasan yang sebenarnya. Saya mempertanyakan profesionalitas. Saya mempertanyakan kejujuran. Saya mempertanyakan kualitas yang ditawarkan dari proses yang licin ini.

Mencari posisi aman tidaklah harus dengan mengorbankan perasaan orang lain. Bawahan bukanlah robot yang tidak punya hati yang atas nama kekuasaan bisa diperlakukan seenaknya. Atasan juga bukanlah seorang nabi atau malaikat yang suci yang selalu benar. Komunikasi, bagaimana cara kita mempertahankan apa yang kita yakini benar, mempertahankan hal-hal prinsip yang kita anut, semestinya bisa dilakukan sampai titik darah penghabisan.

Berulangkali saya berpikir, apakah ini saat yang tepat untuk membuka aib orang lain demi mempertahankan apa yang diyakini? Jelas sangat tidak bijaksana. Betapa tidak adilnya kenyataan yang terjadi hari ini. Hati kecil rasanya ingin berteriak meneriakkan kebenaran, meneriakkan ketidak adilan, meneriakkan kedzaliman yang secara tidak sadar dilakukan.

Bentuk apresiasi yang salah tempat. Salah kaprah. Eneg..eneg...eneg.
Aku marah sampai rasanya mau muntah.

Saturday, April 04, 2009

Blogger Maluku (Part 1)


Lets the story begin....

Dulunya, ngeblog menjadi hal yang menyenangkan. Sorry, kata "dulu" bukan berarti sekarang tidak menyenangkan lagi. Itu hanya penggambaran waktu. Setiap hari selalu ada yang baru di blog ini. Apapun itu, hal sekecil apapun itu pasti tertuang. Yang berantem sama petugas perpus, yang dorong sepeda motor dari jalan masuk UBAYA tengah malam karena banjir, yang habis nonton Perancis - Itali, yang habis dapat hadiah pepaya dari murid, apapun itu selalu tertuang. Menulis, posting tepatnya, menjadi hal yang sangat dirindukan. Dalam perjalanan, dalam benak telah berkumpul rangkaian kata yang ingin secepatnya dituang kalo nanti berhadapan dengan kompi. Dulu, ya dulu.

Sekarang, pekerjaan nge-blog menjadi hal yang jarang *sengaja tidak pakai kata tidak pernah* dilakukan. Bukan karena demam FB, karena jauh sebelum kena demam itu, blog sudah jarang di-update. Lantas karena apa, saya sendiri lupa. Namun, belakangan ini kerinduan untuk aktif nge-blog lagi muncul. Blogwalking, say hello di shoutbox, comment gak penting di postingan blogger yang lain atau hanya sekedar membaca. 

Dulu, membaca apapun yang terbaru dari blogger lain selalu menginspirasi. Secara tidak sadar, pertemanan terbentuk dengan sendirinya, keakraban yang tercipta tanpa pernah bersua menjadi sesuatu yang menakjubkan. Lalu, datanglah hari ini. Hari yang perlu dicatat dalam lembar sejarah hidupku. Sepersekian dari blogger Maluku berkumpul di Cafe Seroja. Dari kanan ke kiri AlmasOm EmbongIkhsan, TiaraAku , Masrur, Dharma. Awal yang menyenangkan dan definitely sure adalah awal dari hal-hal menakjubkan lainnya.


Banyak hal yang bisa dilakukan bersama nantinya. Bukan cuma sekedar menyebarkan virus blog pada orang-orang seperti kata bung Almas, tapi lebih dari itu. Bagaimana human connection tercipta, dan setiap kami bisa mendapat hikmah lebih dalam dari yang lainnya. Kepingan-kepingan hidup setiap kita bisa jadi sebuah inspirasi yang penting bagi yang lainnya. 

Sejak hari ini, mari bergerak bersama. Kita lakukan banyak hal-hal hebat bersama. 

Sejak hari ini, awas keduluan ***** (gak berani tulisnya, hehehe)

Catatan : Ditulis setelah pertemuan perdana bersama blogger Maluku, Sabtu 4 April 2009 di Cafe Seroja, Amplaz . Foto-foto di blog almas

Just Enjoy The Trip

It’s complicated.
Make a trip with people who sucks me for much of thing. There is a lot of criteria and all of that make me feel so uncomfortable. One, thinks that he only have one boss and no there is no one can tell him what he must do. Two, act like he knows everything. Think that he is the one and only knows everything and just talk and talk and talk. Three, act bossy with no realize who exactly he is. 
For man A, I wanna say “Stop be like a jerk”. For man B, I wanna say “Ups, it is disquisting”. For man C, I wanna say “Who the hell you are?”

One thing that make me stay that I’ve been said that I must enjoy my trip. Try to connect with nature, just enjoy it. The sound round and round in my head and make me feel comfort during the sucks thing. And then, I like to see the stones, the rockstones, the trees,fish, white sand, island,and many view which make me calm.

I enjoy my trip, I enjoy be with 3 man who makes me sick, try to take what happen to me today. And then, everything goes normally again. There is a smile, there is a laugh, there is a help, there is human connection, there is take a picture, there is much thing I love it. Fortunately, beside I have 3 annoying man,I have 5 funny man. A with his calm and it send to me. B with the “wanna know” behaviour. So, we discuss all that time. C with his funny laugh, if he laugh, I laugh although for me that’s not funny joke. D with his wise,calm. He is so adult. And the,E, who enjoy his life much. Never take everything personally, cheerfull people. Yup, I’ve work trip with 8 man. 

Just relax if you have a bad situation. Just relax if you have a friend who doesn’t respect you. Just relax if everything happen not like what you want to be happen. Just relax, just take a deep breath and enjoy it. Everything will fine. I believe in good. The good thing will happen if we believe it.the good thing will happen if we survive through the screw. Everything will be okay if we believe it will be okay.

And now, I am okay with today. And for that feeling, thanks to someone who call me at 4 a.m just for ask me to enjoy my trip today. You are my person, thanks……..