Saturday, September 15, 2007

Moga Allah makin sayang

Ramadhan tiba, pengennya ngomong tentang Ramadhan tapi malu. Ilmu dan praktek masih jauh untuk bicara banyak. Hanya tekad untuk mengisi serta memperbaiki diri dan mengajak semua yang membaca blog sederhana ini untuk berbenah, kata Adis, mumpung Setannya lagi dipenjara.

Dari semua sms yang masuk, ada satu yang begitu kuat melekat di hati. Sms dari seorang kawan lama yang sedang mengabdi nun jauh disana.

Mohon dimaafkan segala kesalahan
Selamat ber-Ramadhan
Semoga Allah makin sayang


Sederhana lugas tapi kuat. Apa lagi yang diharapkan selain disayangi oleh Allah? Maka Ramadhan ini, berlombalah agar kita menjadi kesayangan Allah.
Kepada seluruh Saudara, kawan, sahabat, seluruh hamba Allah,

SELAMAT BER-RAMADHAN
SEMOGA ALLAH MAKIN SAYANG

Monday, September 10, 2007

Bijak di balik kesederhanaan

Bismillahirrahmanirrahim....

Judulnya hari ini, bersih-bersih menjelang Ramadhan. Salah satu hasil rapat beberapa malam sebelumnya adalah hari ini Remas bersih-bersih Masjid. Jam 9, dari masjid sudah terdengar alat pemotong rumput beraksi. Berhubung rumah saya di Piru pas depan mesjid jadi bisa liat sikon dulu. Ternyata baru yang pria yang bersih2. Begitu sudah ada beberapa cewek yang datang, barulah saya merapat ke mesjid. Kaca, Lantai, Karpet, Mimbar, semuanya dibersihkan sama anak2. Rumput dipotong. kinclong jadinya Masjid tercinta itu.

Pas istirahat, sejuk banget rasanya duduk di teras masjid sama mereka istirahat sambil makan kacang ijo. Apa pasal? Terharu, saya jelas terharu banget.
Bayangpun, mereka yang datang bersihkan masjid itu benar2 di luar dugaan. Mereka memang sambil merokok, mereka memang datang dengan penampilan yang jauh dari bayangan saya tentang aktivis masjid. Pakai kalung dari rantai putih itu, trus di tangannya banyak gelang. Macem-macem deh pokoknya. Musik yang keluar dari MP3 HP mereka juga dangdutan. Semua memang perlu diubah, tapi mereka mau datang saja, sudah luar biasa buat saya. Di kampus, mungkin mereka yang berpenampilan seperti itu, yang koleksi musiknya kayak gitu, mungkin gak mau muncul di masjid. Jangankan yang berpenampilan begitu, yang berpenampilan baik-baik saja juga susah diajak ke masjid. Yang takut ini-lah, yang males itu-lah.

Tapi disini beda. Mereka datang, mereka gantian bersihin masjid, mereka ngecat pagar masjid. Bahkan, ketika ada pemuda yang profesinya bawa becak lewat depan masjid nganterin penumpang, baliknya dia mampir ke masjid. Becaknya diparkir di depan masjid dan dia turun ikut bantu-bantu motong rumput. Subhanallah...., pemandangan yang asing bagi saya.

Teringat ketika rapat Kamis malam untuk susunan panitia Ramadhan, seorang pemuda mendatangi saya sambil mutar-mutar kunci motornya. Dari model rambutnya, saya pikir dia polisi. Saya yang saat itu sedang berembuk dengan Korwil untuk distribusi anggota ke tiap divisi, menoleh ke arahnya,
"Abang polisi ya?" tanyaku
"Bukan, kenapa?" jawabnya
"Seng, barang abang pung model rambut kayak polisi. Beta kira abang polisi, beta mau kasi masuk abang di divisi keamanan" jelasku
"Seng, beta bukan polisi. Beta tukang ojek. Makanya beta mau tanya beta di divisi mana lalu beta mau pigi ngojek lagi seng bisa ikut rapat sampai selesai" terangnya

Subhanallah, seperti disirami kata-kata yang mencerahkan. Dia masih sempet2in datang ke masjid mencari tahu dia punya amanah apa buat Ramadhan nanti, padahal saat itu dia lagi mencari nafkah.
Malu rasanya diri ini.
Abang becak dan abang ojek, maaf, saya belum sempat tahu siapa nama kalian. Tapi siapa pun kalian, kalian guru saya. Malu rasanya diri ini bertemu kalian yang begitu bijak di balik kesederhanaan. Terimakasih telah memberiku pelajaran indah hari ini.


Sorenya, saya, caca, ca lely dan ca Nakul ke kuburnya Tete Zein, bersih2 disana juga. Lewati kuburan2 itu, saya membayangkan seandainya saya yang ada di bawahnya. Akankah lapang kuburanku, akankah terang kuburanku? Ya Allah, ampuni segala dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa saudara-saudaraku, dosa hamba-hambaMU yang merinduMU

Saturday, September 08, 2007

Selamat memulai pelayaran

Tiba-tiba aja pengen nelpon teman-teman kuliah. Deni ta' telpon dan dia kasih kabar yang menggembirakan juga menjengkelkan. Berita gembiranya adalah Samsul tanggal 2 kemarin nikah di nganjuk dan Amin insyaAllah akan nikah tanggal 11 besok di Surabaya. Barakallahu lakum....

Berita menjengkelkannya, kenapa saya taunya dari Deni? itu pun saya yang iseng telpon. Walhasil, Samsul ta' telpon. Maunya sih protes gitu, kenapa saya gak diberitahu, minimal sms. Eh, Samsul malah ngasih istrinya, Mia, yang bicara dan Mia minta maaf. Kok jadi sungkan dhewe ya aku? Kata mereka sih, gak ada rencana. Cepat banget. Minggu kemarin lamaran trus nikah deh. Ya, sibuk kali ya. Pas lagi telpon-telponan sama Samsul dan Mia, si Amin sms. Isinya, menanyakan kabar dan posisi di mana?.

Ndilalah, Deni sudah kabari Amin kalo tadi aku protes-protes gak dikabari. Meskipun gak bisa datang, kan kudune tetap dikabari. Amin bilang, sudah kirim undangan ke email. Alasan Amin sederhana, biar ada yang nyiapin sahur dan buka pas Ramadhan nanti. Nice reason.

Amin, Samsul, Selamat berlayar ya. Jadilah kalian nahkoda yang baik. Pernikahan ini barulah titik keberangkatan. Kawal kapal yang kalian pilih itu hingga berakhir di rumah impian terindah, surga, di kampung abadi, akhirat.
Doaku selalu, bro...

Thursday, September 06, 2007

Kawah baru



Saya baru saja pulang rapat Remas. Antara senang dan sedih. Senang karena remaja-remaja disini mau bergabung di Remas tapi juga sedih melihat kondisinya. Inilah kawah candradimuka lain yang harus kuhadapi lepas dari kampus. Masyarakat yang variatif tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, tingkat pemahaman, kebiasaan dan hal-hal lainnya.

Rapat Remas modelnya sudah kayak karang taruna. Konsep hijab masih jauh. Ada yang sambil merokok, tertawa terbahak-bahak sudah biasa dalam rapat.
Satu hal yang kusyukuri, mereka mau datang. Itu aja dulu. Mereka mau gabung di Remas, mau duduk dan bicarakan program2 Remas, itu sudah satu langkah awal yang baik. Menandakan bahwa mata, hati dan telinga masih terbuka untuk sebuah perubahan. Iklim yang berbeda yang saya rasakan dengan dakwah di kampus. Tapi inilah dinamika dakwah yang harus saya hadapi. Ini pula satu lagi proses penempaan dalam jalan ini.

Maka, penat-penatlah dalam dakwah. Lelah-lelahlah dalam dakwah. jika amal kita tak cukup sebagai bekal kita, semoga tetes-tetes keringat penat dan bulir-bulir airmata lelah akan menjadi syafaat di akhirat kelak. Aaamiiin

Thursday, August 30, 2007

Heboh pagi hari

Bismilahirrahmanirrahim...
Pagi-pagi, rumah di Piru sudah heboh banget. Sumur yang baru saja dibersihkan hari ahad kemarin sama tetangga-tetangga sebelah (makasih semuanya), kemasukan anjing.

Itu anjing nyemplung, kecebur karena memang stelah dibersihkan kemarin, belum sempat ditutup. Saya yang sedang di kamar mau bersiap ke Kantor, waktu tau kejadiannya rasanya pengen nangis. Hati rasanya wis was, gimana bersihinnya. Kak Lely yang tadinya mau mandi, akhirnya ngungsi dulu mandi di rumahnya Mama Ece. Bingung juga mau diapakan. Sementara dengar tersu suara orang2 berhitung untuk keluarkan anjing itu. Saya gak mau keluar lihat. Bukannya takut, cuma gak mau aja meletakkan penggalan kejadian itu di memori. Katanya, Anjingnya besar banget dan lagi hamil. Waktu diangkat, sudah lemas.

Setelah anjingnya dikeluarkan, kita tanya pak Zubair via telpon sumurnya diapakan. Caca malah sudah ganti baju kantornya berniat gak masuk kantor kalau-kalau harus membersihkan sumur lagi. Pak Zubair akhirnya jelaskan kalo tidak apa-apa. Kalau anjingnya sudah dikeluarkan, ya sudah. Airnya tetap bisa dipakai. Di zaman Rasulullah, ada sebuah sumurterkenal di Madinah juga kemasukan najis. Dan Rasulullah meminta mengeluarkan najisnya, dan airnya tetap suci dan bisa dipakai seperti biasa.
Secara hukum, airnya sudah suci. Cuman, kita di rumah sudah geli sendiri. Jadi ya, airnya ditarik lagi pake alkon sampe sumurnya kering dan ganti air baru. Baru deh kita bertiga ke kantor, sudah jam sepuluh. Ada-ada aja...

Saturday, August 25, 2007

Congratulation, mom,..

IBU ujian Sarjana. Papa nemenin dan hasilnya

"Lulus dengan SANGAT MEMUASKAN"

Congratulation ya mom. Kami, anak-anakmu bangga padamu dan mencintaimu tak habis.
Ibu, Selamat ya. Facial bareng yuk, bu.....

Friday, August 24, 2007

Rolling Staf

Bismillahirrahmanirrahim...

Resmi pindah bidang. Kemarin waktu masih di Ambon, kak Amu sms ngasih tahu kalo di kantor rolling staf, dan saya dipindahkan ke bidang sebelah. Tapi tadi, agak kikuk langsung masuk ke ruangan baru jadi maenn masuk aja tetap di ruangan lama, dan ngobrolin rollingan ini. Sampai ada panggilan dari bidang sebelah, baru deh saya ke sana.

Bidang baru berarti pimpinan baru, berarti pola kerja baru. Disini,gaya kepemimpinan yang baru yang saya dapatkan. Pimpinan yang sportif, fair dan selalu mau kita belajar. Pekerjaan yang ada harus diselesaikan hari itu juga. Beliau tidak mau menumpuk pekerjaan karena akan terus beri dampak ke pekerjaan-pekerjaan berikut.
Proses pembelajaran di bidang ini berjalan cepat. Hanya saja, saya meninggalkan kehangatan dari bidang sebelah. Makanya, walaupun lagi banyak kerjaan, tetap aja disempet-sempetin maen ke bidang sebelumnya.
Wherever i am, the best i will give, insyaAllah

nb : Foto2 pas olahraga jumat di halaman kantor. Males ikut, ngambil foto doang dari dalam ruangan

Thursday, August 16, 2007

After That Call

Allah,
Terimakasih atas kesempatan yang kau berikan.
Cahaya yang kau tunjukkan saat aku sedang berjalan
di gua yang gelap ini.
Lubang itu terlihat, cahayanya berpantul indah.
Sampaikan aku di sumber cahaya itu, ya Allah
tapi jangan sampai membuatku silau.
Terimakasih Allah

Tuesday, August 14, 2007

Nurani Yang Hilang

Bismillahirrahmanirrahim

Tak habis pikir rasanya, kemana hati nurani disembunyikan. Bisa dengan mudahnya mengambil hak orang lain, orang banyak untuk kepentingan pribadi. Atau juga mendzhalimi hak orang lain karena merasa punya power untuk itu. Marah mendengar apa yang terjadi, melihat dan menyaksikan kedzhaliman itu seenaknya dipraktekkan sambil tersenyum. Marah, sampai kemarahan itu berubah menjadi simpati. Simpati atas matinya hati nurani. Simpati akan musnahnya rasa takut akan dosa. Simpati pada kedangkalan moral tapi mengaku intelek.

Tanggung jawab yang diberikan dipakai seenaknya sendiri. Dan dibungkus dengan senyuman dan usaha menunjukkan wibawa. Ya, saya sebut usaha karena aura wibawa itu gak kelihatan. Tertutup oleh beringasnya mata isyarat perampok. Perampok yang merampok hak orang lain, yang membuang lebih banyak keringat tapi menikmati sedikit karena telah dicuri sebelum ia dapatkan.

Hai orang-orang yang kumaksud, berhentilah. Ada banyak tangan yang menunggu sesuatu yang seharusnya ada pada mereka tapi kini telah masuk ke perutmu. Juga berhentilah, karena ada banyak orang yang telah kau dzhalimi haknya demi sebuah kekuasaan yang kau lamunkan tiap malam.

Sunday, August 12, 2007

Kutunggu Kau di Masjid

Bismillahirrahmanirrahim...

Pernikahan seorang da'i adalah pernikahan da'wah.Maka ketika seorang da'i memutuskan untuk menikah, maka salah satu hal yang harus mempengaruhi keputusannya adalah sebuah pertanyaan "Apakah pernikahan ini membawa kualitas pada dakwah saya dan pasangan saya nanti?".

Menurut saya, adalah sebuah kemunduran ketika seorang da'i yang setelah menikah, aktivitas dakwahnya menurun. Kemundurannya lebih jauh lagi jika ternyata pasangannya pun adalah seorang da'i. Ketika pernikahan membuat kualitas kesertaan dan produktivitas dakwahnya menjadi lebih mundur dari sebelumnya, evaluasilah dan bangkitlah. Kita dibesarkan oleh dakwah. Dakwah yang mengenalkan pada kita sebuah kehidupan yang tenang. Dan ketika satu nikmat Allah kita rasakan, apa layak bagi kita mundur dari dakwah?

Menjadi sulit ditemui, susah diajak syuro, susah ditelpon, jarang muncul di masjid, peduli terhadap perkembangan dakwah tak terasa lagi, itu mengecewakan. Dengan pernikahan itu, saya berharap banyak. Saya berharap dampaknya pada dakwah akan luar biasa. Sudahlah, kita memang hanya boleh berharap pada Allah.

ps : Saudaraku, kutunggu engkau di masjid tempat kita merajut cinta

Kerja Tanpa Hasil

Satu lagi penjilat saya temui hari ini. Dan dengan tampangnya yang seperti tak bersalah, sibuk menunjukkan siapa sebenarnya dia. Saya sama sekali tidak mengenal dia tapi saya mau muntah mendengar dia bicara. Dalam bemo tadi, ada orang yang ngobrol sama orang di depannya. Awalnya sih dia cerita kalo dia sekarang sedang sibuk dengan apa yang dia sebut aktivitas politik. Masih biasa-biasa saja pembicaraan itu, hingga saya seperti melihat tanduk keluar dari kepalanya dan taring menyembul dari balik giginya.

"Beta skarang ada karja deng A. ininya bagus (jarinya membuat kode duit). xxxx rupiah satu orang. Dolo beta deng B tapi beta su kecewa. Itu seng jalan, janji sa. Beta deng C lai, karja dua. Lumayan to" kata orang itu dengan taring penuh darah segar ***

Begitu ya kelakuan orang sekarang. Berafiliasi dengan sesuatu tapi niatannya materi. Kerja yang tidak keluar dari hati. Semua ada harganya, semua harus dihitung. Yang saya herankan, kenapa orang itu bisa membicarakan kemunafikan dia kerja di A dan di C, yang jelas-jelas A dan C adalah kompetitor. Dan perbincangan itu di bemo yang penuh orang. Apa waktu dia bilang begitu, dia merasa bangga? Saya malah muntah.

(***) Saya sekarang kerja sama A. Ininya bangus. xxxx rupiah per kepala. Dulu saya sama B tapi sudah kecewa. Itunya tidak jalan, cuma janji. Saya juga sama C, kerjanya dua. lumayan kan

Saturday, August 04, 2007

So Glad for you, Dear Sista...

Setahun yang lalu, tulisan ini pernah saya goreskan. Goresan sebuah empati atas kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan adik tercinta saya. Betapa kami tau hatinya terluka dan sakit karena langkahnya menggapai cita-cita harus ia tahan dulu. Tapi saat itu, justru ia yang meminta maaf pada kami karena merasa telah mengecewakan keluarganya. Melihatnya setahun yang lalu, terlihat jelas sebuah senyum yang ia paksakan. Dan dengan tegarnya ia justru membesarkan hati kami menerima keputusan Allah yang pasti lebih terasa menyakitkan untuknya.

Dan, ia tak pantang menyerah. Selama setahun saya menjadi saksi bagaimana ia mempersiapkan langkah berikutnya. Perjuangannya ingin membuktikan dirinya serta cita-citanya. Setiap hari, tak ada yang berlalu tanpa usahanya menancapkan satu persatu kesuksesan yang ingin ia ukir. Dan testimoni friendster saya pun, selalu sempat ia torehkan permintaan doa setiap ia berkunjung. Permintaan kepada kami, keluarganya, agar selalu mendoakan dia, mengawal usaha yang sedikit demi sedikit ia tanam.

Hingga pagi ini, sebuah berita yang membahagiakan kami semua. Bahwa ia diterima SPMB di fakultas impiannya. Fakultas yang setahun ia upayakan dengan gigih. Berita yang kudengar saat sedang apel pagi di halaman kantor membuyarkan konsentrasiku dan memindahkan alam pikiranku ke dirinya. Terbayang olehku saat ini, wajahnya, senyumnya, cerianya dengan berita ini.

Dek, gerbang itu telah terbuka. Masukilah dengan anggun. Tapaki jalannya yang akan semakin sulit ini. Tapi ketika kau yakin inilah citamu, keyakinan itu akan membuatmu maju dan maju. Tak peduli sepesar apa aralnya. Dan percayalah, kami semua disini, keluargamu, tau perjuanganmu, dan akan mensupport adek sampai citamu tercapai.

Sunday, July 29, 2007

My Friend of A Lifetime

Birthday is just another day.
It just changing date on calendar
It just different number in Age identity
What makess it diferent?
If in your birthday,
You have passion to be better than yesterday
(Dariku untuk Santje)

Hari ini, Santje tambah satu usianya. Sayang, dia di Namlea menunaikan tugas jadi tidak bisa ketemu. Tapi, semalam tepat pukul 00:00, doa telah terlantun untuknya.

Santje, di usianya yang sekarang dia sudah sangat memberi warna dalam hidup saya. Sepanjang usiaku, hanya 5 tahun pertama, saya tidak mengenalnya. Setelah itu, sejak saya mulai bersosialisasi dengan orang lain di usia 5 tahun, dia menjadi sahabat pertama saya hingga saat ini.

Di setiap momen, dia selalu ada. Tidak selalu fisik, tapi doanya, sms-nya, suaranya, perhatiannya ada hingga saat ini. Dia yang saya sebut "Friend of a Lifetime" di daftar terimakasih skripsi saya.
Dan di hari ini, ingin rasanya memberi dia sesuatu yang begitu ingin saya lihat ia pakai. Entah kapan Sansay, tapi eby selalu ingin melihatmu dalam balutan muslimah.

Jika setiap orang hanya boleh punya satu kata untuk persahabatan,
maka kataku adalah....
SANTJE

Ready To Work

Back to Work,
I am ready to back.
Sudah kangen sama suasana kantor.
Setelah 15 hari kutinggalkan, sudah ada apa ya?

Sunday, July 22, 2007

Thanks for loving Me

Bismillahirrahmanirrahim..

Alhamdulillah tak berenti saya panjatkan setelah apa yang terjadi seminggu yang lalu. Sebuah ujian yang Allah berikan pada keluargaku, tepatnya padaku.  
InsyaAllah akan kubayar dengan cintaku, walau ku tau tak cukup. 
Kejadian itu paling tidak menyadarkan banyak hal pada saya. Bahwa apa yang kita miliki sekarang, belum tentu akan jadi milik kita selamanya. Bahwa sejatinya kita memang tidak memiliki apa-apa. Semua titipan yang ketika diambil lagi oleh yang menitipkan, tak ada jalan untuk memintanya kembali. Bahwa hanya sampai disini kepercayaan Allah menitipkan yang Ia punya pada kita.

Kejadian itu juga membuatku tau bahwa begitu banyak orang yang mencintaiku, 
yang mengkhawatirkanku. Merindukan aku dan tulus menyayangi aku. Pengalaman hidup mengajariku kepekaan akan ketulusan dan semua yang saya terima karena kejadian kemarin adalah tulus. Meski tetap ada yang bisa saya rasakan ketidaktulusannya, tapi saya tidak peduli. Karena masih lebih banyak orang yang menyayangiku. Ketidaktulusan yang tumbuh karena kepongahan tak akan pernah mendapat tempat di hati dan pikiranku.

Buat Ibu dan Papa, Tante Ade, Tante Dja, Ma Onco, Tante Sum, Caca, Dek Eya, 
Dek Ega, Dek Uni, Ca Ena, Ca Leli, Ca Dja, Ca Erni, Mbak Ratih, Mas Buyung, Abang Jab, Abang Ondy, Bukal, Abang Ari, Abang Bur, Abang Deddy, Abang, Abang Rusdi dan istri, Caca Nipa dan Abang Ipin, Onco Ton, Onco Ju, Ibu Latu dan Ria, Tante Ica, Abang Nyong, Kak Ida, Kak Deda, Tante Ica, Tete Haji sekeluarga di Luhu, Om Malas, Dek Dinda, Dek Nus, 
Dek Putri, Dek Nisa, Dek Vicky, Dek Vira, Laken, Abang Awil, Kak Wace dan yang mungkin terlupa :
Terimakasih, terimakasih, terimakasih atas sebuah tanda manis yang kalian buat di hatiku.

Sunday, July 08, 2007

070707

Tanggal yang cantik, 070707.
Hari ini saya lemparkan sms penyambung silaturrahim ke nama-nama sahabat di phonebook secara acak. Senangnya dapat balasan yang hangat dari mereka. Kembali bertukar kabar, bertanya keadaan.
Jadi tau kalo Mbak Imas dua bulan lalu tepatnya 21 April sudah jadi ibu dari seorang mujahidah. Jadi tau juga kalo Ukhti Wiwin 2 hari yang lalu jadi ibu pula. Trus, Mbak Umi 15 Juli nanti insyaAllah melepas masa lajang. Seorang saudara di Surabaya juga sudah ada kabar mau menyusul 2 minggu lagi. Trus yang di Jakarta lagi bawa dedek dalam perut. Yang di daerah Mojokerto sana sudah ngasih signal mau sebar undangan. Yang di Makassar, satunya bawa dedek, satunya baru aja jadi Ibu dan kali ini Ibu seorang mujahid. Kabar adek2 yang curhat mau sidang, ada yang pusing dengan skripsinya, yang sudah kelar pusing dengan cari kerjaannya. Murid-muridku dulu di STM juga kasih kabar kalo ada guru baru yang gantiin saya. Cantik tapi jahat, kata mereka. Dasar anak2 bandel. Bandel tapi menyenangkan..
Selain berita sukanya, ada juga berita duka bahwa salah seorang teman Remas dulu ditinggal abi-nya tadi pagi. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un.

Selain dapat kabar dari mereka, mereka juga menuntut kabar dari aku. Dan pertanyaan dari semua mereka tanpa kecuali adalah "Mbak, ayo dong segera menyempurnakan setengah dien", "Ukhti, kapan nih walimahannya?", "Dek, undangannya kapan?", "bhy, kapan nyusul?"

Ini nih yang bikin males. Bukannya gak mau jawab tapi gak tau mau jawab apa. Istilahnya "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang ditanya". Saya mau jawab kapan coba? Gak tau kan.. 
Saya cukup punya gambaran tentang seseorang yang nanti mau saya ajak membangun keluarga dunia akhirat. Kapan dia datang, sepenuhnya saya serahkan pada Allah.
Jadi buat yang selalu nanya-nanya ke saya, saya hanya bisa bilang :
Kapan dan dengan siapa, saya tidak tahu. Sepenuhnya saya percayakan padaNYA. Yang saya lakukan hanya menjadi seorang sholehah agar dipertemukan dengan yang sholeh di saat yang tepat menurutNYA

Friday, July 06, 2007

Kangen kost kumat....

Senengnya....
Akhirnya MP3-ku kembali. MP3 yang diservis sejak Desember 2006, dan diambil Caca yang kebetulan lagi ke Surabaya, akhirnya nyampe juga ke tanganku. Kayaknya bukan MP3-ku deh, pasti sudah diganti sama yang baru, setingkat lebih anyar. 
Kemarin sempat minta dek Eya isi Murottal dan nasyid. And, dengar nasyid deh aku sekarang. Bahagianyaaaa................

Kasihan ya aku, dengar nasyid aja kayak dapat durian runtuh. Gimana nggak gitu, sejak di Ambon belum pernah dengar nasyid. Saya gak tau orang jualan kaset nasyid dimana. Di Piru (tempat tugas), juga gak ada tape buat setel murottal. Lampunya saja cuma nyala kalo malam. MP3nya caca sih ada, tapi gak bisa masukin nasyid. Secara di Piru daerah merah, ya jelas gak ada lah. ada juga lagu jrang jreng. Kasihan kan..

Sebenarnya ini bukan cuma masalah nasyidnya (nasyidnya cuma 4), tapi suasananya itu lho. Serasa ada di kamar kost, ngerjain tugas kuliah, bahan ngajar, tugas dakwah atau sekedar baca-baca artikel dari internet sambil denger Winamp. Kostku.... Lagi-lagi kangen kost kumat.

Kamarnya emang kecil tapi nyaman. Tempatku melepas penat sepulang beraktivitas. Waktu packing buat pulang, heran juga kamar sekecil itu, begitu banyak yang bisa diisi. Di kamar kecil itulah, banyak hal besar tercipta. Banyak tugas dakwah selesai dari kamar itu. Banyak ide dakwah muncul setelah berbagi dengan akhwat-akhwatku, juga di kamar itu. Kamar mungil, bahkan tak ada tempat yang cukup luas untuk baring di lantai karena penuh dengan rak buku yang berjejer.

Di kamar itu pula, segala kenangan tercipta :
1. Sekedar baring sambil mendengarkan alunan murottal atau nasyid dari winamp setelah makan nasi tempe penyet samping warung Ridhoni.
2. Baring sambil baca ditemani adek-adek kost yang nebeng bikin tugas, baca artikel2 di folder2 bergizi atau sekedar maen game
3. Rame-rame sama anak2 kost nonton teve dan masing2 cari pewe, tumpang tindih gak karuan sambil santap es kacang ijo atau es teler dari warung Bratang yang mas-nya girang sangat kalo ada cewek cakep masuk pesan bakso (jelas, kami bukan salah satunya)
4. Matiin lampu, tutup gorden jendela, ciptain suasana bioskop di kamar, nonton film bergizi sambil makan cemilan yang dibeli di Minimarket Handayani seberang jalan. Kadang film-nya harus di-pause kalo salah seorang ada yang terima telpon dan yang lainnya ganti posisi cari pewe yang lain
5. Terbaring sakit dan teman2 berjejalan di kamar jengukin, makan nasi rawon yang dibawa mereka beli dari Warung sederhana gang sebelah, sambil ngobrol dan bikin aku senyum lagi

Satu sms masuk dari seorang teman kost yang juga sudah pulang ke rumahnya di Nganjuk
"Setetes ilmu membuat qta pandai,
  Setitik kasih membuat qta sayang,
  Seucap janji membuat qta percaya,
  Sekecil luka membuat qta kecewa,
  Tapi pertemuan dengan sampeyan, selamanya kan selalu bermakna. Miss you"


Ukhuwah ini, indahnya...
Dek LIna-ku, Mbak Eby juga kangen

Sunday, July 01, 2007

Back to Work, OMG

Finally, matahari muncul di langit kota Ambon. Setelah beberapa hari, akhirnya bisa juga liat birunya langit. Sayang, gak sempat diabadikan. Berhubung hari ini gak hujan, jadi round and round the city kudu dan wajib plus mengunjungi rumah sodara-sodara. Apalagi besok sudah mau balik ke Piru.

OMG, Piru lagi? So sad but must. Ninggalin lagi hangatnya kasur empuk di kamar tercinta, ninggalin lagi nyantai dan bebas mau ngapain aja di home sweet home. Kembali ke rutinitas.

Harus ya? Ugh, however, ini tanggung jawab man. Tugas, so tetap mesti berangkat suka atau gak suka. Kembali ke ritual delapan pagi ke tiga sore. Kembali lagi depan layar monitor berteman kertas-kertas. Kembali ke ruangan 5X6 (maybe) bersama rekan2 tercinta. Kembali lagi menjalani hari-hari yang sudah saya tinggal seminggu.

Okay, i have some energy to do that. Full batere nih buat menjalani hari-hari itu. Lagi dan lagi, perulangan waktu, perulangan ritual tapi yang jelas selalu ada "sesuatu" setiap harinya. At least, di sana ada proyek berinvestasi akhirat memanggil. Brother and sista, i always waiting for our plan. Cant you imagine we will do "fastabiqul khairat" di medan yang luar biasa itu? I am waiting

Ps : Tadi pagi telpon Caca yang lagi di Surabaya, katanya masih tidur. Oh God, jadi kangen sama kamar kos saya itu. Enaknya mengurung diri setelah beraktivitas dalam kamar kos yang kecil tapi semua ada. Hehehe

Saturday, June 30, 2007

Cahaya yang Tersisa

Bismillahirrahmanirrahim....

Berada di antara dua pihak yang berseteru, dan dua-duanya adalah orang yang kau sayang, adalah hal yang tentu tak pernah kau inginkan. Sementara kau punya prinsip bahwa kesalahan pun pasti ada alasannya, dan perlu didengar sebelum menghakimi. Situasi yang sangat tidak menyenangkan kala kau tahu seseorang di dekatmu terluka, jatuh, terhempas dan kau tak bisa apa-apa. Saking bingungnya, kau malah memilih untuk diam dan berpura-pura tidak tahu. Lama kelamaan kau akan sadar bahwa kau salah dengan diam. Salah besar ketika kau memilih menjauh dan membiarkan kehancuran sedikit demi sedikit tercipta tanpa ada sedikitpun usaha mencegahnya.

Menjemukan, ingin berlari tapi tak bisa. Ingin tinggal tapi tak kuat. Hingga air mata yang kau lihat membuatmu merasa bahwa paling tidak ada telinga yang bisa kau berikan untuk mendengarnya menumpahkan kata demi kata. mengeja setiap bulir air mata yang kau lihat dan tak kuasa ingin merengkuh dalam peluk.

Saat itu pula kau sadar, kau telah kehilangan satu cahaya. Sesuatu yang tadinya bintang kini berganti debu. Harapmu tentang sebuah figur luluh lantak terinjak kepingan hati yang terurai burai pecah tak bersisa. Padahal jalanmu masih panjang, tapi tongkatmu tinggal satu. Terpincang-pincang kau kini dengan satu tekad, cahaya yang tersisa ini tak akan kau biarkan redup apalagi padam.


Kebanggaan musnah berganti hina
Bintang itu kini telah menjadi debu
Cahaya hilang, redup kemudian padam
Satu cahaya yang tersisa,
Tak akan kau biarkan mati
Biarlah kini ia melemah
Tapi ia kuat, tegar
Dan ia tak akan padam
Selama kau ada, selama kau menjadi bahan bakarnya

Sebuah cahaya yang tersisa
Kini kau genggam erat
Erat.....

Friday, June 29, 2007

Hujan 4 hari = Rahmat 4 hari


Matahari sudah 4 hari ini gak nongol di langit kota Ambon. Hujan gak berenti-berenti. Jadinya gak bisa kemana2. Di rumah jadinya makan, tidur, nonton teve, baca, sampe akhirnya ganti dekorasi kamarku dan kamarnya dek Uni.
Males kemana-mana padahal lagi ada event nasional di Ambon, cuma gak mood buat kesana. Apalagi di pameran tuh ada stand-nya kabupaten. Sungkan aja muncul disitu, berarti gak ngantor dong.

Sabtu pulang kantor kemarin, pulang ke Ambon dan rencananya Senin kemarin balik. Berhubung kata orang kantor, di kantor malah sepi jadi ya ditunda aja selasa. Selasa pagi malah dapat sms dari orang kantor kalo kantor sepi dan nyaranin Ahad aja balik dan masuk kantor Senin. Ya sudah, saya sih senang-senang aja. Dan sekarang, jadi deh saya gak ngantor seminggu.

Malam rabu kemarin ke Pameran, agak sembunyi-sembunyi juga pas lewat depan Stan yang lagi dijaga teman kantor. tetap aja ketauan, secara papa malah masuk ke stand itu dan saya gak mungkin jauh-jauh. Akhirnya senyum tak berdosa saya lemparkan, swing. Ditangkap sama dia dan bertanya "Sama siapa?". Masih senyum tak berdosa campur sungkan "Sama Papa".


Benar2 gak ada matahari. Dingin, rumah serasa di Villa-villa gitu. Biar kata sudah selimutan tebal, tetap aja gemetar kedinginan. Ini gambar2 yang saya ambil dari teras atas rumah. Keliatan banget di gambar, cuaca kota Ambon yang berkabut. Apalagi saya di daerah pegunungan, tambah dekat dengan kabut.

Ada kabar, pawang hujan didatangin supaya gak hujan karena RI 1 mau datang. Tapi, mau gimana? Mau kata pawang hujan tercanggih juga, yang punya hujan kan Allah, gak ada tandingannya. Jadi, nikmatin aja hujan2 gini. Makan mie kuah panas-panas, pedes sudah itu tidur. Bangun goreng kasbi (ubi), pake sambel yang enak. Top abis deh. Hujan itu rahmat lagi. Jadi kalo 4 hari hujan terus, berarti rahmatnya terus juga mengalir. Jadi males balik ke Piru, tapi tanggung jawab harus dijalanin. Seminggu cukup-lah untuk menyenangkan diri setelah minggu kemarin sempat lembur sampe jam 3 pagi.


Hujan, saya senang hujan. Gambar atas ini diambil dari atap seng di luar kamar tempat biasanya berkontemplasi. Lompat dari jendela kamar, duduk di atap seng, angin dingin kena tubuh, makan mie kuah panas, titik2 air malu-malu menyentuh wajah, liat pemandangan yang indah sambil dengar murottal-nya Mishari Rasyid. Subhanallah....