“Ukhuwah adalah degup penuh makna yang mengalir indah bersama aliran darah, berawankan ketsiqohan yang tiap tetesannya mampu menelusup jernih menembus karang prasangka dalam hati yang puncaknya berbuah keitstaran.”
Saudaraku,
Aku harus berterimakasih kepada Allah untuk hari ini. Ia memberiku jalan menyelesaikan masalah ukhuwah kita. Ane gak tahu anti merasakannya atau tidak, tapi ane merasa beberapa hari ini ada ketidakcocokan antara kita. Bukannya ane tidak mau mengkomunikasikan hal ini, tapi gimana ya? anti memang periang tapi untuk hal2 yang sensitif anti terlalu tertutup. Kadang harus ana tahan perasaan ane agar tidak kelepasan ngomong atau takut cara penyampaian ane salah yang memungkinkan timbul ketidaknyamanan yang lebih besar.
Ukh,
Kalau dilihat sekilas oleh saudara2 yang lain, sepertinya semua baik-baik saja. Karena ane memang tidak ingin terlihat ada apa-apa. Tapi perasaan ane yang sering tidak nyaman. Jika ane introspeksi, sepertinya memang ane yang salah. Karena mungkin saja ane sendiri punya sifat egois yang membuat ane agak tidak bisa menerima sikap, kata2 atau pilihan anti bereaksi terhadap sesuatu hal. Padahal itu kan hak anti untuk bereaksi yang kadang tidak sesuai dengan prinsip ane.
Ane sendiri bingung gimana menjelaskan ketidaknyaman ini karena ini masalah hati. Ini masalah yang bisa ane rasakan tapi tak bisa dijelaskan. Tapi alhamdulilah hari ini semuanya mencair.
Ukhti,
Muhassabah yang kita dengar bersama oleh ust Ibnu Jarir di kajian tadi siang membuat masalah ini selesai tanpa pernah terungkap. Renungan itu membuat ane luluh dan menyadari betapa berharganya anti. Kebaikan anti sudah sangat banyak. anti selalu ada saat ane membutuhkan. Anti selalu mendengarkan perasaan2 ane, prinsip2 ane, selalu mendengar apa yang ingin ane bicarakan. Anti selalu memberikan bahu anti untuk ane basahi dengan air mata. Anti selalu menggenggam tangan ane dengan erat jika anti tahu ane sedang gelisah. Anti beri ane banyak hal. Cinta seorang kakak, perhatian seorang saudara, ketulusan seorang sahabat.
Mbak,
Pelukan yang kuberikan pada anti di saat akhir muhasabah adalah pelukan ane yang paling indah karena pelukan itulah yang merontokkan semua ketidaknyamanan ane akhir-akhir ini. Tanpa suara, kuseka airmata di pipin anti dan anti balas dengan tatapan penuh cinta dari mata jernih anti. Sekali lagi kita berpelukan, semakin lama semakin erat. Bahu kita sama-sama terguncang tapi kita tahu, ikatan hati kita semakin kuat.
Saudaraku,
Kesadaran ini baru kembali. Betapa akhuwah adalah pilar da’wah yang besar. Betapa ukhuwah adalah keutamaan. Batapa ukhuwah adalah warisan kemuliaan yang akan memuliakan siapa saja yang tergabung didalamnya. Betapa ukhuwah mampu meringankan beban kerja dan mampu menyemai makna dalam usia. Bahkan Rasulullah telah menetapkan ukhuwah sebagai salah satu manhaj da’wah.
Saudaraku…….
Sekali lagi kesadaran ini baru kembali. Antum adalah harta terbesar dalam hidup ini. Dengan senyum ikhlas antum, dengan kesabaran antum, dengan lapang dada antum, dengan semua perhatian antum, dengan jeweran-jeweran yang antum berikan saat diri ini mulai keluar dari haluan, bahkan dengan kemarahan dan sikap keras antum, semuanya adalah penguat tapak kaki dalam menempuh perjalanan da’wah yang penuh onak dan duri ini. Kini semua itu baru tersadari.
Ukhtiku sayang,
Kupinta untuk gengam tangan ini. Sertai langkah ane menapaki jalan para Rasul ini. Genggam erat dan jangan kau lepas hingga kita sampai di telaga al-kautsar bersama. Aamiiiin
Bentar lagi ramadhan. Ya Allah, semoga aku tidak menyia-nyiakan waktu indah ini lagi dan aku bisa keluar sebagai salah satu alumni teladan ramadhanMU
Friday, September 23, 2005
Monday, September 12, 2005
Bunda, I Miss You...
Di perempatan lampu merah, bus yang kutumpangi berhenti. Mataku melihat seorang ibu yang di tangan kirinya membawa dagangan buah dan tanngan kananya memberi kode pada pak supir bus agar diijinkan menjajakan dagangannya di bus ini. Sayang, supir bus tidak mengizinkannyna.
Hatiku bergetar. Subhanallah, wanita itu pastilah seseorang yang dipanggil ibu oleh seseorang. Yang dia lakukan tadi pun, pastilah salah satu cara ia mengungkapkan cinta kepada mereka yang memanggilnya ibu. Ibu itu mengingatkanku akan ibuku.
Saat ini, nun jauh di sana, beliau juga sedang melakukan hal yang sama. Menunjukkan cintanya kepada kami lewat cara yang ia bisa. Telah banyak hal yang ia lakukan untukku, sampai hati ini berlubang karena tak bisa membalas budinya.
Ibu, aku merindukanmu. Sangat…..
11 sept 05/Sya’ban 1426
Mom, I miss you…
Hatiku bergetar. Subhanallah, wanita itu pastilah seseorang yang dipanggil ibu oleh seseorang. Yang dia lakukan tadi pun, pastilah salah satu cara ia mengungkapkan cinta kepada mereka yang memanggilnya ibu. Ibu itu mengingatkanku akan ibuku.
Saat ini, nun jauh di sana, beliau juga sedang melakukan hal yang sama. Menunjukkan cintanya kepada kami lewat cara yang ia bisa. Telah banyak hal yang ia lakukan untukku, sampai hati ini berlubang karena tak bisa membalas budinya.
Ibu, aku merindukanmu. Sangat…..
11 sept 05/Sya’ban 1426
Mom, I miss you…
Baitul 'Izzah, tempatku merajut cinta
Masih dalam bus yang sama yang membawaku ke salah satu tempatku men-charge semangatku, sempat mata ini menangkap nama sebuah masjid yang terletak di Jalan Jemur Andayani Surabaya. Masjid Baitul Ilmi namanya. Ingatanku terbawa pada sebuah masjid yang berawalan baitul juga. Namanya Baitul ‘Izzah, nama masjid kampusku.
Kerinduan akan bangunan bersahaja itu membuncah dengan kuat di dada. Di sana, kutemui ketenangan. Di sana, kurasakan kedamaian. Di tempat itu pula, aku bertemu dengan orang-orang yang dari mereka aku belajar banyak hal tentang hidup.
Masjid itu, tempat cinta berkumpul. Cinta kepada Allah, cinta kepada orang-orang yang mengikat hati dan hidupnya kepada Allah, cinta karena hati-hati ini berhimpun karena cintaNYA, dan cinta pula yang menyatukan kami dalam KOMUNITAS MUDA BAITUL ‘IZZAH.
Masjid baitul ‘Izzah, tempatku belajar tentang menpersiapkan hidup yang kekal. Baitul ‘Izzah, tempatku merajut cinta
11 sep 05/Sya’ban 1426
Dalam Kerinduan akan KMBI
Kerinduan akan bangunan bersahaja itu membuncah dengan kuat di dada. Di sana, kutemui ketenangan. Di sana, kurasakan kedamaian. Di tempat itu pula, aku bertemu dengan orang-orang yang dari mereka aku belajar banyak hal tentang hidup.
Masjid itu, tempat cinta berkumpul. Cinta kepada Allah, cinta kepada orang-orang yang mengikat hati dan hidupnya kepada Allah, cinta karena hati-hati ini berhimpun karena cintaNYA, dan cinta pula yang menyatukan kami dalam KOMUNITAS MUDA BAITUL ‘IZZAH.
Masjid baitul ‘Izzah, tempatku belajar tentang menpersiapkan hidup yang kekal. Baitul ‘Izzah, tempatku merajut cinta
11 sep 05/Sya’ban 1426
Dalam Kerinduan akan KMBI
Pelajaran dari pengamen..
Dua pemuda tangung naik di bus yang telah kunaiki lebih dulu. Yang satu membawa gitar di tangannya, yang satunya membawa biola. Gampang ditebak, mereka adalah pengamen. Benar saja, tidak berapa lama kemudian terdengar nada petikan gitar dan gesekan biola. Saya pun bersikap tidak acuh karena hal seperti ini bukan suasana asing lagi. But wait, perpaduan dua alat musik itu tidak mengiringi suara siapa pun.
Ada yang berbeda dari mereka. Gitar dan biola saja yang terdengar melantunkan lagu-lagu yang berirama sentimentil seperti boulevard dan let it be me. Mereka diam saja, hanya mengiringi para penumpang yang mungkin sedang bernyanyi dalam hati.
Aku terhibur. Bukan karena lagunya, tapi karena keunikan mereka. Mereka membawakan penampilan yang lain dari yang lain. Di saat yang lain datang dengan bermodalkan gitar dan suara ngepas, atau yang lain lagi datang dengan krincingan di tangannya yang menghasilkan nada ke kanan sementara suara penyanyinya ke kiri.
Aku tidak sedang membandingkan dua pemuda ini dengan rekan-rekan seprofesi mereka. Bagaimanapun, setiap mereka punya masalah masing-masing yang harus mereka atasi. Yang menjadi perhatianku adalah keunikan mereka, tampil beda.
That’s what we need. KMBI butuh dakwah yang kreatif. Butuh kemasan-kemasan unik agar banyak yang tertarik dan berkata “that’s my choice”.
Atas pelajaran inilah, dua pemuda ini layak mendapatkan lebihi dari yang biasanya saya berikan. Thanks ya
11 September 05
Saat ingin beruzlah….
Ada yang berbeda dari mereka. Gitar dan biola saja yang terdengar melantunkan lagu-lagu yang berirama sentimentil seperti boulevard dan let it be me. Mereka diam saja, hanya mengiringi para penumpang yang mungkin sedang bernyanyi dalam hati.
Aku terhibur. Bukan karena lagunya, tapi karena keunikan mereka. Mereka membawakan penampilan yang lain dari yang lain. Di saat yang lain datang dengan bermodalkan gitar dan suara ngepas, atau yang lain lagi datang dengan krincingan di tangannya yang menghasilkan nada ke kanan sementara suara penyanyinya ke kiri.
Aku tidak sedang membandingkan dua pemuda ini dengan rekan-rekan seprofesi mereka. Bagaimanapun, setiap mereka punya masalah masing-masing yang harus mereka atasi. Yang menjadi perhatianku adalah keunikan mereka, tampil beda.
That’s what we need. KMBI butuh dakwah yang kreatif. Butuh kemasan-kemasan unik agar banyak yang tertarik dan berkata “that’s my choice”.
Atas pelajaran inilah, dua pemuda ini layak mendapatkan lebihi dari yang biasanya saya berikan. Thanks ya
11 September 05
Saat ingin beruzlah….
Thursday, March 31, 2005
Aku tak ingin futur..
silahkan mundur bagi yang tidak kuat bertahan
silahkan yang ingin mengalami kefuturan
jika semua sepakat untuk meninggalkan dakwah ini
aku akan tetap disini bersama ROBBku
hingga kemenangan Islam atau syahid menjemputku
Hari ini aku hampir saja tidak tahan. Jika diibaratkan komputer, aku sedang hang. Aku merasa sedang mengalami kefuturan. Rasanya aku ingin istirahat. Aku rasanya capeeek banget. Ingin rasanya lari sebentar dari aktivitasku selama ini. Ingin rasanya pergi dan tidak melihat siapapun yang selama ini sering kulihat. Sepertinya semua amanah yang selama ini kuanggap sebagai ladang, kini kuanggap beban yang memberatkan bahu dan pikiranku. Dan itu pula membuat aku lebih sensitif jika tiba2 ada ikhwah datang dan menyodorkan amanah yang baru. Aku tidak menolaknya tapi aku merasa langkahku berat.
Apa karena saat ini aku sedang mengalami kekeringan ruhiyah ya? Jangankan sholat sunnah, sholat wajib aja standar minimal tanpa wirid. Tilawah? 1 halaman 1 hari sudah syukur. Sholat tahajjud? Jangan ditanya deh. Ya, pasti karena itu. aku mengabaikan aspek itu sehingga kini aku pincang.
Tidak, aku tidak boleh terus tertidur.
Ya Allah, berikanlah hamba-Mu ini pelipur
Agar saya tidak semakin futur
Apalagi sampai jatuh tersungkur
Kuntum bunga boleh layu, namun rekahnya bunga-bunga mujahid harus terjaga tetap hadir di sebuah kebun…
silahkan mundur bagi yang tidak kuat bertahan
silahkan yang ingin mengalami kefuturan
jika semua sepakat untuk meninggalkan dakwah ini
aku akan tetap disini bersama ROBBku
hingga kemenangan Islam atau syahid menjemputku
silahkan yang ingin mengalami kefuturan
jika semua sepakat untuk meninggalkan dakwah ini
aku akan tetap disini bersama ROBBku
hingga kemenangan Islam atau syahid menjemputku
Hari ini aku hampir saja tidak tahan. Jika diibaratkan komputer, aku sedang hang. Aku merasa sedang mengalami kefuturan. Rasanya aku ingin istirahat. Aku rasanya capeeek banget. Ingin rasanya lari sebentar dari aktivitasku selama ini. Ingin rasanya pergi dan tidak melihat siapapun yang selama ini sering kulihat. Sepertinya semua amanah yang selama ini kuanggap sebagai ladang, kini kuanggap beban yang memberatkan bahu dan pikiranku. Dan itu pula membuat aku lebih sensitif jika tiba2 ada ikhwah datang dan menyodorkan amanah yang baru. Aku tidak menolaknya tapi aku merasa langkahku berat.
Apa karena saat ini aku sedang mengalami kekeringan ruhiyah ya? Jangankan sholat sunnah, sholat wajib aja standar minimal tanpa wirid. Tilawah? 1 halaman 1 hari sudah syukur. Sholat tahajjud? Jangan ditanya deh. Ya, pasti karena itu. aku mengabaikan aspek itu sehingga kini aku pincang.
Tidak, aku tidak boleh terus tertidur.
Ya Allah, berikanlah hamba-Mu ini pelipur
Agar saya tidak semakin futur
Apalagi sampai jatuh tersungkur
Kuntum bunga boleh layu, namun rekahnya bunga-bunga mujahid harus terjaga tetap hadir di sebuah kebun…
silahkan mundur bagi yang tidak kuat bertahan
silahkan yang ingin mengalami kefuturan
jika semua sepakat untuk meninggalkan dakwah ini
aku akan tetap disini bersama ROBBku
hingga kemenangan Islam atau syahid menjemputku
Friday, March 25, 2005
We Can Make It If We Try...
Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.
Hanya itu kata yang pantas diucapkan atas selesainya amanah ini. Amanah menyelenggarakan lomba kreatifitas anak se-Kecamatan. Banyak sudah kisah suka dan duka selama penyiapan ini. Yang tidur tengah malamlah, malah pernah gak sempat tidur, yang riwa riwi kesana kemarilah, tapi lebih banyak kisah sukanya. Kita tambah akrab. Kita bisa lebih terbuka, kita bisa lebih dekat. Bahkan di sela2 penyiapan acara, aku harus praktikum dan kalian mau membuat laporan pendahuluan untukku.
Dan semua kelelahan itu terbalas sudah ketika acara itu bisa berjalan dengan sukses. Walaupun kita sempat ragu kita bisa atau tidak, tapi ternyata kita bisa kan? Ukhti-ukhtiku, kita telah membuktikan satu hal, bahwa we can make it if we try.
LKA, acara itu membuat ane semakin mengenali watak saudara2 akhwatku dan semakin bertambahnya cinta ana pada mereka. Acara itu, membuat ukhuwah kami semakin erat. Acara itu, membuat kami semakin saling sayang. Ana takut berpisah dengan mereka. Acara itu membuat kami yakin, bahwa dengan kebersamaan kami, kami bisa melakukan banyak hal.
Akhi, Ukhti, ana jazakallah banget antum mau memberi banyak sumbangan ide, tenaga, pikiran untuk kesuksesan ini. Sampai akhwatnya gak tidur 3 malam. Ikhwannya harus keliling2, belum lagi tidur bersama nyamuk di mushola kelurahan. Jazakallah banget. Ana minta maaf jika selama ana menunaikan amanah ini, ada hati yang ane sakiti, ada ucapan yang melukai, ana minta maaf. Maaf juga jika ane tidak bisa mengkoordinir antum dengan baik. Afwan jiddan akhi, ukhti. Semoga kebersamaan kita ini bisa sampai di JannahNya Allah. Semoga apa yang kita lakukan ini mendapat nilai di sisiNYA. Ana uhibbukum fillah.
Satu kata untuk DPRa kita, SEMANGAT.
Hanya itu kata yang pantas diucapkan atas selesainya amanah ini. Amanah menyelenggarakan lomba kreatifitas anak se-Kecamatan. Banyak sudah kisah suka dan duka selama penyiapan ini. Yang tidur tengah malamlah, malah pernah gak sempat tidur, yang riwa riwi kesana kemarilah, tapi lebih banyak kisah sukanya. Kita tambah akrab. Kita bisa lebih terbuka, kita bisa lebih dekat. Bahkan di sela2 penyiapan acara, aku harus praktikum dan kalian mau membuat laporan pendahuluan untukku.
Dan semua kelelahan itu terbalas sudah ketika acara itu bisa berjalan dengan sukses. Walaupun kita sempat ragu kita bisa atau tidak, tapi ternyata kita bisa kan? Ukhti-ukhtiku, kita telah membuktikan satu hal, bahwa we can make it if we try.
LKA, acara itu membuat ane semakin mengenali watak saudara2 akhwatku dan semakin bertambahnya cinta ana pada mereka. Acara itu, membuat ukhuwah kami semakin erat. Acara itu, membuat kami semakin saling sayang. Ana takut berpisah dengan mereka. Acara itu membuat kami yakin, bahwa dengan kebersamaan kami, kami bisa melakukan banyak hal.
Akhi, Ukhti, ana jazakallah banget antum mau memberi banyak sumbangan ide, tenaga, pikiran untuk kesuksesan ini. Sampai akhwatnya gak tidur 3 malam. Ikhwannya harus keliling2, belum lagi tidur bersama nyamuk di mushola kelurahan. Jazakallah banget. Ana minta maaf jika selama ana menunaikan amanah ini, ada hati yang ane sakiti, ada ucapan yang melukai, ana minta maaf. Maaf juga jika ane tidak bisa mengkoordinir antum dengan baik. Afwan jiddan akhi, ukhti. Semoga kebersamaan kita ini bisa sampai di JannahNya Allah. Semoga apa yang kita lakukan ini mendapat nilai di sisiNYA. Ana uhibbukum fillah.
Satu kata untuk DPRa kita, SEMANGAT.
Friday, March 11, 2005
Boleh lelah, tapi JANGAN MUNDUR !!!
(Disadur dari sebuah milis, dengan perubanahn sesuai kondisi)
“ Aku ingin mundur dari wasilah dakwah ini, aku sudah tidak kuat lagi menunaikan amanah yang semakin menyesakkan dadaku, aku sudah tidak kuat lagi menelan kekecewaan demi kekecewaan, batas kesabaranku telah habis”. Kalimat itu terlontar dari lisan salah seorang saudariku yang berjuang bersamaku di sebuah organisasi kepartaian beberapa waktu yang lalu di tanah kelahiran.
“ Ana ingin mengurangi aktivitas dakwah ini, ana ingin lebih berkonsentrasi dengan perkuliahan ana yang semakin banyak menuntut perhatian dan penyelesaian dengan segala tugas, dan persiapan-persiapan lainnya”
Begitulah kira-kira implisit kalimat yang terlontar dari lisan salah seorang saudaraku yang biasanya terlihat tegar dan selalu memperlihatkan semangatnya dan menularkannya padaku setiap kali berinteraksi, tapi sore itu seolah kesedihannya telah menghapus semua lukisan senyum dan semangat yang terpancar dari suaranya, seakan keputus asaan telah menyedot seluruh semangat dan harapannya. Padahal, dia memegang peranan yang sangat penting dalam wasilah dakwah kami. Sikapnya jelas akan berpengaruh bagi ikhwah-ikhwah yang ia pimpin.
Untuk sejenak aku termenung, udara dingin yang sedari tadi membekap tubuh tak kurasa lagi. Ah....masih belum begitu lama, aku pun pernah berada pada posisi yang sama layaknya yang dialami saudaraku ini, saat itu pun begitu putus pengharapanku hingga aku pun benar-benar sudah tidak kuat lagi menanggung amanah ini dan seperti dia aku pun ingin mengakhirinya dengan cara keluar dari aktivitas ini. Aku melihat masalah yang dia hadapi pun sepertinya sama denganku, bahkan mungkin masalahku dulu lebih parah. Amanah dakwah yang kuemban yang benar-benar membutuhkan perhatian yang serius, ditambah dengan desakan dari dosen pembimbing untuk sesegera mungkin menyelesaikan laporan KP. Belum lagi Kepala Lab yang menekan untuk secepat mungkin membuat jadwal untuk memulai praktikum yang merupakan konsekuensi sebagai asisten lab, yang notabene akan semakin menambah panjang agenda yang harus aku selesaikan, ditambah dengan masalah keluarga yang begitu menghimpit dada, kepergian seorang dosen pembimbing yang membuat aku harus memulai dari nol lagi, ada kepingan – kepingan kekecewaan dan keletihan yang akhirnya menjadi puzzle raksasa bergambar kata Putus Asa.
Tapi, semua itu Alhamdulillah tidak sampai membuatku memutuskan untuk pergi. Karena aku tahu, aku sadar bahwa bukan dakwah yang membutuhkan aku, tapi akulah yang membutuhkan dakwah. Tanpa dakwah, jiwaku akan mati, hidupku akan kosong. Tanpa dakwah, maka aku tidak akan menjadi apa-apa. Aku tidak akan pernah merasakan sebuah kesuksesan. Aku sangat membutuhkan dakwah. Untuk apa? Untuk ridho Allah. Untuk sebuah keridhaanNYA. Karena aku sadar, bahwa surgaNYA tidaklah mudah, tidaklah murah. Aku tidak ingin mengalami kesenangan di dunia, tapi derita di akhirat. Aku ingin merasakan ujian dakwah itu, karena aku tahu ujian itulah yang akan membuatku bertambah kuat. Satu yang aku yakini, bahwa jika aku tidak sukses dalam berdakwah, maka aku harus segera mengubur semua harapan bisa sukses di bidang yang lain. Karena, aku adalah seorang da’i sebelum aku menjadi yang lain.
Kelelahan adalah sebuah efek yang wajar dari aktivitas yang berulang ulang, kontinu bahkan terkadang membosankankan. Keletihan adalah kenikmatan yang diberikan-Nya di sela-sela aktivitas kita karena kedatangannya membuat kita merasakan nikmatnya beristirahat, kedatangannya membuat kita memperoleh kesempatan untuk menarik nafas panjang sebelum kita kembali berlaga, namun adalah keletihan yang meraja yang akan membekap bara semangat, azam dan harapan, meredupkannya dan diam-diam memadamkannya. Oleh karenanya ketika kita bermain-main dengan keletihan, maka seyogyanya kita menjaga agar keletihan itu tidak menjadi penjara untuk perjalanan kita selanjutnya dan pada saat yang sama hendaknya kita selalu sadar akan keberadaann cawan-cawan yang berisi cairan energi yang senantiasa dihidangkan untuk kita. Sumber kekuatan yang akan membuat kita untuk tidak betah berkubang dalam lembah kefuturan, energi itu yakni keikhlasan dan indahnya ukhuwah.
Ketika kekecewaan dan keletihan bersemayam di dada maka menyadari kembali bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah usaha dan pengharapan besar kita untuk menggapai rahmat dan ridho Alloh SWT, akan mengembalikan kekuatan untuk bangkit. Keikhlasan adalah tidak berbesar kepala saat pujian mengguyur , begitu pun tidak berputus asa bilamana cercaan menghujam dan menghimpit, adalah keikhlasan tidak bergantung pada makhluk yang biasanya menjadi sumber kefuturan. Sebuah keikhlasan tidak mengenal kata lelah karena segala keluh kesah senantiasa dititipkan pada angin yang membumbungkan doa dalam sujud-sujud panjang kita.dan DIA senantiasa menyediakan “telinga-Nya” untuk kita.
Saat tubuh tidak lagi tegak, saat kaki mulai lemah, saat lisan mulai keluh untuk menyuarakan kebenaran, maka pada saat yang sama ada saudara kita yang memapah, saudara yang akan menopang kaki yang telah rapuh, dan menggantikan kita untuk bersuara lebih lantang. Senyumnya bagai oase dalam kegersangan jiwa kita, perhatiannya adalah penentram kegundahan kita, tausyiahnya adalah semangat baru yang disematkan pada diri ini. Karena dialah kita yakin bahwa kita tidak sendirian.
Andaikan saja kita layaknya sekuntum bunga edelweis yang terus mekar dalam kegersangan, terus mempersembahkan senyum dalam kesederhanaan dan kebersahajaannya, semangat abadi hidupnya dalam keterhimpitan. Ya... seperti halnya edelweis, tekad untuk memberikan sesuatu bagi kemaslahatan umat adalah ruh hidup itu sendiri sehingga ketika kita ingin keluar dari aktivitas yang menjadi media untuk tumbuh dan hidupnya ruh itu maka kita telah menyiapkan prosesi HARAKIRI untuk jiwa ini.
Sby, 23 Syawal 1425 H / 6 des 04
Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan ada prioritas. Ambillah yang terbaik untukmu
“ Aku ingin mundur dari wasilah dakwah ini, aku sudah tidak kuat lagi menunaikan amanah yang semakin menyesakkan dadaku, aku sudah tidak kuat lagi menelan kekecewaan demi kekecewaan, batas kesabaranku telah habis”. Kalimat itu terlontar dari lisan salah seorang saudariku yang berjuang bersamaku di sebuah organisasi kepartaian beberapa waktu yang lalu di tanah kelahiran.
“ Ana ingin mengurangi aktivitas dakwah ini, ana ingin lebih berkonsentrasi dengan perkuliahan ana yang semakin banyak menuntut perhatian dan penyelesaian dengan segala tugas, dan persiapan-persiapan lainnya”
Begitulah kira-kira implisit kalimat yang terlontar dari lisan salah seorang saudaraku yang biasanya terlihat tegar dan selalu memperlihatkan semangatnya dan menularkannya padaku setiap kali berinteraksi, tapi sore itu seolah kesedihannya telah menghapus semua lukisan senyum dan semangat yang terpancar dari suaranya, seakan keputus asaan telah menyedot seluruh semangat dan harapannya. Padahal, dia memegang peranan yang sangat penting dalam wasilah dakwah kami. Sikapnya jelas akan berpengaruh bagi ikhwah-ikhwah yang ia pimpin.
Untuk sejenak aku termenung, udara dingin yang sedari tadi membekap tubuh tak kurasa lagi. Ah....masih belum begitu lama, aku pun pernah berada pada posisi yang sama layaknya yang dialami saudaraku ini, saat itu pun begitu putus pengharapanku hingga aku pun benar-benar sudah tidak kuat lagi menanggung amanah ini dan seperti dia aku pun ingin mengakhirinya dengan cara keluar dari aktivitas ini. Aku melihat masalah yang dia hadapi pun sepertinya sama denganku, bahkan mungkin masalahku dulu lebih parah. Amanah dakwah yang kuemban yang benar-benar membutuhkan perhatian yang serius, ditambah dengan desakan dari dosen pembimbing untuk sesegera mungkin menyelesaikan laporan KP. Belum lagi Kepala Lab yang menekan untuk secepat mungkin membuat jadwal untuk memulai praktikum yang merupakan konsekuensi sebagai asisten lab, yang notabene akan semakin menambah panjang agenda yang harus aku selesaikan, ditambah dengan masalah keluarga yang begitu menghimpit dada, kepergian seorang dosen pembimbing yang membuat aku harus memulai dari nol lagi, ada kepingan – kepingan kekecewaan dan keletihan yang akhirnya menjadi puzzle raksasa bergambar kata Putus Asa.
Tapi, semua itu Alhamdulillah tidak sampai membuatku memutuskan untuk pergi. Karena aku tahu, aku sadar bahwa bukan dakwah yang membutuhkan aku, tapi akulah yang membutuhkan dakwah. Tanpa dakwah, jiwaku akan mati, hidupku akan kosong. Tanpa dakwah, maka aku tidak akan menjadi apa-apa. Aku tidak akan pernah merasakan sebuah kesuksesan. Aku sangat membutuhkan dakwah. Untuk apa? Untuk ridho Allah. Untuk sebuah keridhaanNYA. Karena aku sadar, bahwa surgaNYA tidaklah mudah, tidaklah murah. Aku tidak ingin mengalami kesenangan di dunia, tapi derita di akhirat. Aku ingin merasakan ujian dakwah itu, karena aku tahu ujian itulah yang akan membuatku bertambah kuat. Satu yang aku yakini, bahwa jika aku tidak sukses dalam berdakwah, maka aku harus segera mengubur semua harapan bisa sukses di bidang yang lain. Karena, aku adalah seorang da’i sebelum aku menjadi yang lain.
Kelelahan adalah sebuah efek yang wajar dari aktivitas yang berulang ulang, kontinu bahkan terkadang membosankankan. Keletihan adalah kenikmatan yang diberikan-Nya di sela-sela aktivitas kita karena kedatangannya membuat kita merasakan nikmatnya beristirahat, kedatangannya membuat kita memperoleh kesempatan untuk menarik nafas panjang sebelum kita kembali berlaga, namun adalah keletihan yang meraja yang akan membekap bara semangat, azam dan harapan, meredupkannya dan diam-diam memadamkannya. Oleh karenanya ketika kita bermain-main dengan keletihan, maka seyogyanya kita menjaga agar keletihan itu tidak menjadi penjara untuk perjalanan kita selanjutnya dan pada saat yang sama hendaknya kita selalu sadar akan keberadaann cawan-cawan yang berisi cairan energi yang senantiasa dihidangkan untuk kita. Sumber kekuatan yang akan membuat kita untuk tidak betah berkubang dalam lembah kefuturan, energi itu yakni keikhlasan dan indahnya ukhuwah.
Ketika kekecewaan dan keletihan bersemayam di dada maka menyadari kembali bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah usaha dan pengharapan besar kita untuk menggapai rahmat dan ridho Alloh SWT, akan mengembalikan kekuatan untuk bangkit. Keikhlasan adalah tidak berbesar kepala saat pujian mengguyur , begitu pun tidak berputus asa bilamana cercaan menghujam dan menghimpit, adalah keikhlasan tidak bergantung pada makhluk yang biasanya menjadi sumber kefuturan. Sebuah keikhlasan tidak mengenal kata lelah karena segala keluh kesah senantiasa dititipkan pada angin yang membumbungkan doa dalam sujud-sujud panjang kita.dan DIA senantiasa menyediakan “telinga-Nya” untuk kita.
Saat tubuh tidak lagi tegak, saat kaki mulai lemah, saat lisan mulai keluh untuk menyuarakan kebenaran, maka pada saat yang sama ada saudara kita yang memapah, saudara yang akan menopang kaki yang telah rapuh, dan menggantikan kita untuk bersuara lebih lantang. Senyumnya bagai oase dalam kegersangan jiwa kita, perhatiannya adalah penentram kegundahan kita, tausyiahnya adalah semangat baru yang disematkan pada diri ini. Karena dialah kita yakin bahwa kita tidak sendirian.
Andaikan saja kita layaknya sekuntum bunga edelweis yang terus mekar dalam kegersangan, terus mempersembahkan senyum dalam kesederhanaan dan kebersahajaannya, semangat abadi hidupnya dalam keterhimpitan. Ya... seperti halnya edelweis, tekad untuk memberikan sesuatu bagi kemaslahatan umat adalah ruh hidup itu sendiri sehingga ketika kita ingin keluar dari aktivitas yang menjadi media untuk tumbuh dan hidupnya ruh itu maka kita telah menyiapkan prosesi HARAKIRI untuk jiwa ini.
Sby, 23 Syawal 1425 H / 6 des 04
Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan ada prioritas. Ambillah yang terbaik untukmu
Tuesday, November 09, 2004
Saatnya pulang...
Asyik, alhamdulillah, besok aku pulang ke rumah. Kota ambon, aku begitu merindukannya. Tak sabar rasanya aku ingin tiba di sana. Menikmati semuanya, pohon-pohonnya, lautnya, pantainya, orang-orangnya, bangunannya, makanannya, suasananya, semuanya. I really love this city. Aku sudah bisa merasakan perasaan ajaib yang insyaAllah akan kurasakan besok. Ya Allah, hanya Engkau yang bisa melukiskan perasaan ajaib ini. Bertemu dengan orang2 yang selama ini kurindukan. Orang2 yang menjadi semangatku dalam hidup, apapun cobaan yang terjadi pada diriku. Orang2 yang hanya dengan mengingat mereka, bisa membuat kerinduan ini semakin meletup-letup. Tak sabar rasanya mendengar cerita-cerita seru mereka selama tidak berada di sisi mereka. Wallahi, aku mencintai mereka. Tidak kan pernah diri ini membuat mereka terluka atau membiarkan siapapun menyakiti mereka. Ya Allah, aku benar-benar menyayangi mereka lebih dari diriku sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Entahlah,aku kehabisan kata-kata untuk melukiskan perasaan ajaib ini, saat berada dalam rumah tersayangku. Rumah yang selalu membuatku kangen. Rumah yang bisa membuatku menitikkan airmata di perantauan. Rumah, tempat dimana aku ingin kembali. Tempat dimana selalu ada cinta untukku.
Tuesday, November 02, 2004
My Last KP Days
Hari ini hari terakhir ana KP di Indosat. huh, finally 2 bulan sudah ana lewati hari-hari KP. Awalnya menyenangkan banget, orang-orangnya ramah dan lingkungannya pun sangat kondusif, islami abis. Tapi, dari hari ke hari bosan juga. bukan karena orang2nya tapi karena memang gak ada yang bisa ana lakukan. Pekerjaan mengidentifikasi sudah selesai tapi tetap harus masuk, akhirnya waktu terpakai hanya untuk browsing, sementara di luar sana saudara-saudaraku sedang melakukan aktifitas menyeru. Ana hanya bisa membantu dengan doa.
Ada untungnya juga sih, browsing berjam-jam selama 2 bulan GRATIS bow. Buat semua yang ada di sarpen indosat kayon, ana salut dengan semuanya. keramahan, ketakwaan, dan rendah hatinya. Pak zam (zainal muttaqien), makasih atas bimbingan dan tausiyahnya. maaf jika saya terlalu banyak minta izin. hehehe. Pak spy (supriyanto), makasih atas cerianya bapak. bapak welcome banget sama kita. Selalu buat keadaan menjadi lebih cair. Penghargaan bapak ke orang-orang patut untuk ana ikuti. pak tri, makasih atas cerita2nya tentang dakwah ini. Sebagai ujung tombak ski indosat, tetap semangat ya pak. jadikan perusahaan ini lebih islami lagi. Pak awan terimakasih juga ya pak.
Buat karyawati-karyawati Indosat. Thanks a lot atas semua yang ane terima. Walaupun kita cuma ketemu di dua waktu shalat di mushala, tapi menyisakan kenanngan manis karena senyuman-senyuman yang saya terima. Buat mbak fitri, mbak mala, dan mbak vivi, kembangkan terus SKInya ya mbak. Kantor ini benar-benar subhanallah. Lingkungannya benar-benar kondusif. Stay in jihad ya. Buat mbak feri, makasih banyak untuk senyuman manisnya setiap bertemu dengan mbak. Buat mbak yuyun, thanks atas kebaikannya. Atas kesediaannya menungguku pulang bareng, atas manisan mangganya, atas mie pangsitnya, atas nasi krawunya, atas jajan-jajannya, atas email-email apiknya dan atas 10 ribunya. Kan aku mo ganti, kok ditolak sih 10 ribu dari aku? Tapi thanks ya, ALLAH yang membalasnya. Thanks juga atas kejujurannya bilang kalo kangen sama aku. aku emang ngangeni kok. hehehe. Makasih banyak ya mbak atas bantuannya selama ini. Aku juga kangen sama mbak. Jangan lupa maen ke kos.
Untuk teman2ku se KP, Nesia, thanks ya udah buat KPku tidak membosankan. Buat sa'adah, thaks banget atas berbagi kisah ruhaninya. Ane doakan anti bisa nyelesein skripsi dengan baik. Untuk siti dan dian, tidak rugi saya mengenal kalian. Senang dapat teman seperti kalian. Kalo aku maen ke solo, boleh dong ke tempat kalian berdua. Kalo kalian yang ke surabaya, ingat, kosku harus jadi tujuan utama. Erna, dimana kamu say? kpku juga menyenangkan karena ada kamu. seneng deh.
Buat bagus, teman seperjuanganku, thanks bro atas bantuannya. Kapan nih jadi ikhwan beneran?
Buat pak tri, thanks atas ustadz-ustadznya yang ngisi di musholla. Luar biasa, subhanallah. Ust sholeh, Ust Roem Rowi, Ust Shobir, Ust. Mudhoffar, Ust Ahsami Sami'un Jazuli, Ustdzh Andham dll, Syukron jaza untuk semua tausiyahnya di musholla indah itu.
15 oktober 2004
Ada untungnya juga sih, browsing berjam-jam selama 2 bulan GRATIS bow. Buat semua yang ada di sarpen indosat kayon, ana salut dengan semuanya. keramahan, ketakwaan, dan rendah hatinya. Pak zam (zainal muttaqien), makasih atas bimbingan dan tausiyahnya. maaf jika saya terlalu banyak minta izin. hehehe. Pak spy (supriyanto), makasih atas cerianya bapak. bapak welcome banget sama kita. Selalu buat keadaan menjadi lebih cair. Penghargaan bapak ke orang-orang patut untuk ana ikuti. pak tri, makasih atas cerita2nya tentang dakwah ini. Sebagai ujung tombak ski indosat, tetap semangat ya pak. jadikan perusahaan ini lebih islami lagi. Pak awan terimakasih juga ya pak.
Buat karyawati-karyawati Indosat. Thanks a lot atas semua yang ane terima. Walaupun kita cuma ketemu di dua waktu shalat di mushala, tapi menyisakan kenanngan manis karena senyuman-senyuman yang saya terima. Buat mbak fitri, mbak mala, dan mbak vivi, kembangkan terus SKInya ya mbak. Kantor ini benar-benar subhanallah. Lingkungannya benar-benar kondusif. Stay in jihad ya. Buat mbak feri, makasih banyak untuk senyuman manisnya setiap bertemu dengan mbak. Buat mbak yuyun, thanks atas kebaikannya. Atas kesediaannya menungguku pulang bareng, atas manisan mangganya, atas mie pangsitnya, atas nasi krawunya, atas jajan-jajannya, atas email-email apiknya dan atas 10 ribunya. Kan aku mo ganti, kok ditolak sih 10 ribu dari aku? Tapi thanks ya, ALLAH yang membalasnya. Thanks juga atas kejujurannya bilang kalo kangen sama aku. aku emang ngangeni kok. hehehe. Makasih banyak ya mbak atas bantuannya selama ini. Aku juga kangen sama mbak. Jangan lupa maen ke kos.
Untuk teman2ku se KP, Nesia, thanks ya udah buat KPku tidak membosankan. Buat sa'adah, thaks banget atas berbagi kisah ruhaninya. Ane doakan anti bisa nyelesein skripsi dengan baik. Untuk siti dan dian, tidak rugi saya mengenal kalian. Senang dapat teman seperti kalian. Kalo aku maen ke solo, boleh dong ke tempat kalian berdua. Kalo kalian yang ke surabaya, ingat, kosku harus jadi tujuan utama. Erna, dimana kamu say? kpku juga menyenangkan karena ada kamu. seneng deh.
Buat bagus, teman seperjuanganku, thanks bro atas bantuannya. Kapan nih jadi ikhwan beneran?
Buat pak tri, thanks atas ustadz-ustadznya yang ngisi di musholla. Luar biasa, subhanallah. Ust sholeh, Ust Roem Rowi, Ust Shobir, Ust. Mudhoffar, Ust Ahsami Sami'un Jazuli, Ustdzh Andham dll, Syukron jaza untuk semua tausiyahnya di musholla indah itu.
15 oktober 2004
Subscribe to:
Posts (Atom)