Thursday, June 30, 2011

(239) Salam Terakhir


Sejak tadi malam hingga tadi pagi, lagu ini terputar berkali kali di kepala.
Tahun 2004 lagu ini dikeluarkan oleh Five Minutes, dan sekarang mendadak muncul di kepalaku dengan mode repeat one song.

aku sadari kau harus pergi
tinggalkan diriku
menggapai semua cita

aku sadari ku harus sendiri
jalani hidupku tanpa dirimu

reff: ingin kubisikkan kata
yang menemanimu pergi
salam terakhir
semoga kau dapat menggapainya

pulanglah untukku kasih
ku akan selalu menanti
kehadiranmu selalu kunanti di sisiku

Source: http://liriklaguindonesia.net/f/five-minutes/five-minutes-salam-terakhir/#ixzz1QjCHQ0Im

Wednesday, June 29, 2011

(238) Aku Adalah Sunyi


Setelah sekian lama, berapa langkah kita kini? Jamkah atau menit?. Ya, mungkin saja hanya bilangan menit,. Bahkan dengan satu kata “boleh”, mungkin saja hanya akan berjarak kurang dari sepuluh langkah

Aku masih mengingat dengan jelas detail kalimat yang terucap di stasiun gubeng. “Jangan menangisi perpisahan, menangislah saat bertemu, Karena Allah masih memberi kesempatan bertemu”. Buatku, ini bukan kesempatan itu. Aku memang ingin menjahit potongan itu, menyulam sesuatu yang mungkin masih menganga, tapi bukan sekarang, bukan dengan cara ini. Hujan telah menerjemahkan seluruh kepingan itu, membasuh perih merubah jadi ikhlas

Pertemuan yang kuharap adalah pertemuan yang diatur Allah, dibuat olehNya tanpa campur tangan kita. Pertemuan yang tidak akan menyakiti siapapun, apalagi hatiku sendiri. Allah telah lama menyembuhkan lukaku, bahkan sebelum luka itu ada. Ia sudah menyiapkan diriku untuk setiap beban seberat apapun. Karena aku jiwa kecintaanNYA, karena jiwaku didesain sebegitu hebat olehNYA. Titipkan saja aku padaNYA seperti yang sudah dan selalu kau lakukan.

Kenanglah aku sebagai sunyi, berada antara bait bait sajak.
Kenanglah aku sebagai gerimis yang datang sejukkan sore
Kenanglah aku sebagai malam yang semakin pekat menjelang fajar
Kenanglah aku sebagai senja yang berlalu dengan singkat, namun sempurna

When a relationship fails, its both their fault. One for giving up and walking away. The other for not stopping them #quote

Tuesday, June 28, 2011

(237) Pohon Cemara


Satu pucuk cemara jatuh
Malu malu dari dahan yang setia menopangnya
Berucap salam pisah dan membuat jalannya sendiri
Muara ke laut dan mengapung

Musim demi musim berganti
Tak terhitung berapa ombak yang menerpa
Berapa kapal yang menabrak
Berapa ikan yang mencumbu detilnya

Cemara berlalu dengan senyum, meski ada luka
Menganga tapi tak perih
Cemara itu yakin ia sedang membuat kisahnya
Seperti pohon yang telah menaungi daun baru

Sejauh apapun ia pergi
Ke daratan manapun ia akan berakhir nanti
Pohon awalnya ada dalam ingat, hati dan bulir
Urat cemara menjadi semakin berkilau

Cemara tak pernah lupa pohonnya
Tak pernah
Meski ia pun tak tahu lagi dimana pohon itu mengakar
Yang ia tahu, ia akan mengenang pohon dan segala kisah mereka dengan senyum
Senyum berbalut doa
Tanpa efek, tanpa sakit

*salah satu sudut kota jogja*

Monday, June 27, 2011

(236) Jogja, sebuah potongan masa lalu


Here I am. Setelah 7 tahun yang lalu terakhir ke kota ini meninggalkan semua kenangan, menitipkan kisah masa lalu, saya ada di sini lagi. Jogja, kota kecil yang belum kuhapal likunya, tapi ada titik titik yang melekat, membawaku, mengantar dan membentukku hingga seperti saat ini.

Dan saya disini lagi, untuk sekedar melihat lagi, adakah kota ini seperti dulu? Adakah titik titik itu masih di tempatnya? Dan ya, aku melewati stasiun tugu. Tempatku meletakkan harap, menaruhnya disana setelah membawa dalam 6 jam untuk tak lagi kuambil, selamanya. Melewati satu pemberhentian yang mengingatkanku akan kisah brownies yang kubuat untuk pertama dan terakhir kalinya.

Aku disini, dan masih mengingat airmata yang pernah tumpah. Melepaskan hati yang enggan. Melepas kisah yang manis, yang sampai saat ini belum pernah ada kisah semanis itu. Setiap kenangannya membuatku tersenyum dan bersyukur pernah memiliki indah itu. Hanya diisi bahagia tanpa sakit. Tanpa cela, hadir dan masuk dalam hidupku. Sempurna, begitulah adanya. Hingga takdirNYA lah yang menuntun melepaskan kebahagiaan itu, lalu merangkai bahagia yang lain. Keikhlasan kita membuat semuanya terasa begitu mudah dan tetap bahagia.

Aku mengingat setiap potongan itu tanpa rasa rindu, tapi dengan doa. Apa yang diambil dengan begitu berat dulu, akhirnya membawa ke bahagia saat ini, di tempat masing masing.

Thursday, June 16, 2011

(225) Ibu.. Kau Cahaya


Baru saja berdiskusi dengan seorang sahabat tentang ibu. Dan aku merindunya lagi malam ini

Diskusi tentang ibu dengan seorang sahabat sebelum tidur ini, justru buatku tak bisa tidur. Aku lapar akan hangat tubuhnya

Ingin sekali bisa membahagiakan ibu di sisa usiaku ini

Ingin sekali bisa memenuhi kemauannya secepat mungkin.

Ibu, semua hidupku untukmu

Ibu, sedang apakah kau disana? Lelapkah tidurmu? Sehatkah engkau? Ingin mendengar suaramu tp detik ini tak mungkin

Ibu, kalau aku kembali, kita akan ulang episode secangkir teh di teras rumah. Sore hari jelang maghrib. Berdua, hanya berdua

Padamu ibu, aku titipkan doa tentang bahagia. Hadiah kehidupan yang kau berikan,tak mampu kubalas meski berkalang nyawa.

Sehat sehat disana ya bu. Aku sayang ibu. aku ingin suaramu mengawali hariku pagi nanti. Aku sayang ibu

Wednesday, June 15, 2011

(224) Pelajaran dari Jalan


Di macet tadi, ada banyak petikan hidup yang bisa kita liat. Mozaik kehidupan sebagian orang yang menggantungkan harap pada cemas macet.

Tak terhitung pengamen cilik, tak kenal lelah dari mobil satu ke mobil lain. Teman seusianya banyak yang sedang main PS atau renang.

Kemana orang tua mereka? Adakah juga sedang berjibaku dengan keringat yang sama, tempat yang berbeda?

Kapan waktu belajar? Kapan bermain? Ataukah di jalanan itulah mereka sedang bermain? Di situlah mereka sedang belajar, belajar hidup

Lalu, potongan lainnya...

Pasangan suami istri renta, jelang maghrib masih di jalan. Masih mengharap uluran dari pengguna jalan. Ada gejolak di batin ini. Merontak

Kemana anak mereka? Kenapa harus mereka yang duduk di jalanan? Begitu kerasnyakah hidup? Dimana mereka tidur? Naik apa pulang?

Malam ini,sebelum tidur, mari berucap syukur atas semua kemudahan.Jangan mengeluh. Jangan mengeluh. Hidupmu tak lebih susah dari orang lain

Setelah ucap syukur nikmat hari ini, minta maaf atas dosa hari ini, melupakan kerikil pertemanan hari ini, saatnya tidur *gosominyakayuputi*

Friday, June 10, 2011

(219) Memoar untuk Alm Asrullah, saudara Shindan kami

Berita kematian bukanlah sekedar berita kehilangan nyawa,

Tetapi adalah sebuah pelajaran bagi yang masih merasakan hidup.

3 Juni 2011, pagi seperti biasa menyapa bumi Lembah Hijau

Membangunkan kami yang

serasa enggan beranjak dari balik selimut

Tak ada yang berbeda dari hari hari yang lalu

Sampai berita itu datang, kepergianmu Abang, di pukul 9.45 WITA

Hening menyelimuti ruangan

Haru mengabuti hati setiap kami

Sahabat yang baru saja masuk dalam kehiduan kami

Tiba tiba harus pergi, memenuhi panggilan Ilahi yang telah pasti waktunya

Satu persatu kenangan tentangmu berkelabat dalam ingatan kami

Canda tawa yang menceriakan,

Celoteh yang kadang tak terkira

Juga tebakan yang biasanya tak tertebak oleh kami


Kau tahu bang,


Bahkan papan nama di mejamu tak pernah kami angkat

Kami masih berharap suatu saat kau sembuh

Lalu datang menemui kami disini

Dan pulang bersama nanti di 25 juli


Tapi, itulah perputarannya

Setiap kita akan kembali

Hanya tinggal waktu

Dan ketetapanNYA adalah waktumu telah tiba


Bang, tahu gak…

Sudah seminggu ini kami mengunjungi abang di 343

Abang gak ada, tapi kami tahu abang ada

Bentar lagi kami OJT Tiga

Jalan jalan lagi, trus begadang lagi bikin laporan


Meski kita baru bertemu 2 bulan

Tapi kita saudara bang, yang akan selalu mengenang

Dan kenangan tentang abang semua terisi indah

Abang hidup di hati kami


Selamat jalan kawan

Kamu telah tiba di tempat yang indah

Kami semua pun sedang menuju kesana

Terima kasih atas semua ceria yang telah kamu sebar

Tidurlah bang, dengan tenang….

Thursday, June 02, 2011

(211) Di 25 yang Cantik


Hari ini ada banyak doa yang naik ke langit

Sejak hari dibuka,

Bahkan nanti bila malam mulai semakin pekat.

Semua hanya untukmu, teman


Di seperempat abadmu ini

Selamat selamat dan rangkaian doa tertuju padamu

Pejamkan matamu sejenak.

Di dua puluh lima ini.

Betapa anggunnya angka itu

Tapi anggunkah pula kehidupan yang kau jalani di bilang dua lima ini?


Meski dua lima adalah masa yang teramat muda

Tapi nyawa bukan kita yang punya

Nyawa, sepenuhnya ada dalam genggamanNYA

Dalam kuasaNYA


Pada hari ini,

Pintaku tertuju pada Rabb

Beri kesempatan engkau menuntaskan segala urusanmu di dunia

Selesaikan semua dengan indah

Melewatkan waktu waktu dengan detik manfaat

Menjadi berarti, menjadi berisi


Aku berharap besok ketika kau lihat matahari tersenyum

Itu senyum untukmu, mencerahkan harimu

Meninggikan citamu

Jika mendung kau temui nanti

Itu pekat doa yang melekat dalam ingatan setiap orang yang menyayangimu

Langit menangis bahagia melihat indahmu


Selamat milad, cantik...

Tetaplah cantik ..

Cantik fisik, cantik hati

Aamiin..


Untuk Roommate : Vanesha Mayadita

Thursday, April 21, 2011

(169) Sujud #2


Ini aku, Tuhan
Datang padaMu dengan segala kurangku
Dengan segala lemah yang kupunya

Ini aku, Tuhan
hambaMu yang selalu saja memanja
Padahal telah Kau beri banyak
Ikhlas dan syukur hanya kata kata

Tuhan,
Satu pengharapan yang tak pernah mati
Bahwa tak akan pernah diri ini Kau tinggalkan
Bahwa Kau selalu ada setiap diri ini datang mengadu

Tuhanku,
Ajarkan hamba untuk menyandingkan sabar dan syukur
Agar menjadi senjata hamba menjalani setiap putusanMu
Ajarkan hamba untuk selalu mendekat dan tetap dekat padaMU
Hanya PadaMU.........

gambar diambil di www.kmip.co.cc

Sunday, April 10, 2011

(158) Untuk Sahabat Baruku



Ada alasan mengapa Tuhan mempertemukan kita.
Dan tentu saja ada alasan yang jauh lebih baik mengapa kini Tuhan memisahkan kita.
Yang penting adalah tak ada kata-kata yang saling melukai saat perpisahan ini terjadi.
Itu awal yang baik untuk persahabatan kita.

Terimakasih atas cerita dan candatawa pertama kita sebagai sahabat tadi pagi.
Begitu lepas tawa di ujung telpon itu.
Dan disini pun, tawaku menggema dengan lapang.

Selamat mencari bahagia masing-masing ya.
Ketemu di puncak kebahagiaan kita dan kembali melempar canda.
Ini satu langkah lagi yang mendewasakan kita.
Aku percaya, tak ada keadaan yang lebih baik dari ini.

sumbergambar dari : kata-eko.blogspot.com

Thursday, April 07, 2011

(155) Akhir Perjalanan


Tak ada yang memaksamu tinggal.
Tak ada pula yang menahanmu pergi.
Jika itu putusan yang harus diambil, jalanilah.
Tak akan pernah kau lihat airmata dari mata beningku.

Aku baik-baik saja.....

sumber gambar dari : www.abangdani.wordpress.com

Monday, April 04, 2011

(151) Untuk Maluku, Arumbai Ada.

4 April adalah tanggal yang tak bisa lepas dari hidupku. Di tanggal ini, 2 tahun yang lalu kami bertemu untuk pertama kalinya di Kafe Seroja. Menjadi bagian dari pertemuan perdana rasanya menyenangkan. Seperti bersama sama melahirkan sesuatu dan bersama sama pula merawatnya.

Dari MBC, KBM, wacana BBM (Beta Blogger Maluku) hingga kemudian berakhir dengan nama Arumbai. Disinilah kami sekarang, para jojaro dan mongare Ambon berkumpul menyatukan ide dan cinta pada Ambon lewat tulisan kami di dunia maya dan aksi kami di dunia nyata. Merayakan #2 tahun Blogger Maluku ini, setiap kami memposting tentang keterikatan masing-masing dengan komunitas. Kalau cerita soal awal terbentuk, sudah ada tempatnya di arumbai.org, kalo soal Seroja, juga sudah ada di sini dan sini. Jadi yang mau saya bahas disini adalah bagaimana para Arumbai-ers tiba tiba hadir dalam hidupku dan menjadi salah satu bagian penting.

Dimulai dari Tanase, almas, tulisan-tulisan almas banyak tentang idealismenya sebagai seorang pemuda Ambon. Dia sering “menyindir” untuk perbaikan dan kadang menohok serta menyentil kebanggaan sebagai putra Maluku.

Lalu Om Embong sekeluarga, keluarga kecil yang besar *dijitak* yang selalu dengan kaos hitam dan tenteng kamera kemana-mana. Ya iyalah, fotografer professional gitu lho. Meski blog sering tidak ter-apdet, meski prioritas utama adalah foto, tapi selalu ada support bagi kami di Arumbai, jarang ikut kopdar tapi sekalinya ikut, langsung brilian ide-idenya.

Lanjut dengan Mas Mamung, tulisannya bagus bagus, kasi banyak pencerahan. Kadang memposting hal sederhana yang tak lazim macam postingan soal jongkok atau duduk. Ide ide konyol dan kata kata spontan sering muncul dan bikin terpingkal.

Kemudian om Dharma, blogger ini selalu serius. Ya postingannya, ya kalo ketemunya. Kurang becanda-nya kalo sama Om Dhar, bawaannya seriuuuuus terus.

Iki dan Ello, dua alumnus pelat IAIN, angkatan lampu mati. Iki selalu tau apa yang dia mau dan tidak berhenti di kata tapi juga karya. Ello, cerpenis muda yang selalu semangat menelorkan karya dan membuat resensi dari banyak buku yang sudah dia baca, saya sering dibuat terkagum dengan tulisannya.

Ada bung Semmy Toding, apa ya? Apa ya? Pemuda asal Toraja ini banyak ilmunya. Tapi sedikit jaim.

Nia, perempuan jogja yang sedang merantau di Ambon, ramah, ketawa terus, sadar kamera dan celetuknya sering anh bin ajaib. Tulisannya mengundang senyum.

Hari Nugroho, nyong Tegal yang lucu, seru, postingannya sering narsis, sedang mencari jodoh *wkwkwkw* dan tabah *preet*. Saking tabahnya, sering dia diusili oleh kami, tapi gak pernah marah. Mungkin karena dia pikir, dosa dia dipindah ke kita kali ya.

Ada juga Ical dan Ary, alumni pelatihan IAIN yang jarang jarang ketemu tapi sering meng-gila kalo ketemu.

Terakhir Opa Brad, admin Arumbai yang cocok jadi anggota dewan (kata Mas Mamung), karena selalu menampung semua aspirasi kami. Baru sekali ketemu, meninggalkan kesan ramah dan bersahabat.

Ada juga yang lain seperti Sem dan Noel (baru pertama ketemu), Dhanie dan Sarah (gak pernah ketemu) dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu satu karena keterbatasan saya.

2 tahun ini sudah banyak yang kami lakukan sama sama, meski hanya dalam bentuk kopdar di berbagai tempat. Di tahun kedua ini, Arumbai berkomitmen untuk merangkak dan mulai berkarya, bergandeng tangan dengan komunitas komunitas lain di Maluku untuk satu kata, Maluku Maju. Ada banyak yang bisa kami lakukan dan mengajak semua elemen melakukan bersama. Lingkungan kita, seni kita, budaya kita, pariwisata kita, sejarah kita, semua untuk #ArumbaiTomma untuk Maluku. Kami berhimpun, menyatukan perbedaan, mencoba melahirkan karya nyata, memadukan mimpi dan aksi. Meski ada kesedihan karena tak bisa bersama #arumbai saat ini, semangat #tabaos Arumbai menyumbang senyuman lebar di setiap pagiku.

Etapi, di setahun setengah pertama, dengan tidak mengurangi rasa hormat pada Tante Ivon dan Tiara (kan mereka satu paket dengan Om Embong), saya jadi yang paling cantik. Di setengah tahun terakhir ini, hadirlah nia dan sarah yang meramaikan dunia blogger Maluku. Saya yakin masih banyak wanita wanita cantik Ambon di luar sana yang punya blog. Gabunglah bersama kami. Akan ada keluarga baru, persahabatan baru dan tak akan disesali. Saya disini, mendapat satu keluarga baru yang jumlahnya cukup buat jadi panitia pernikahan saya nanti *tsah*…

Kalau diijinkan berbagi mimpi, saya punya mimpi untuk Arumbai. Kita punya rumah baca, kita punya kelompok belajar bagi anak jalanan, kita ada di setiap even penting Kota Ambon, kita punya merchandise, kita punya buku, kita punya usaha kuliner, kita punya agen wisata sejarah dan wisata ke pulau-pulau, kita punya toko buku, kita punya banyak. Pelan pelan kita wujudkan semua impi kita. Dengan senyum dan hati yang terikat dalam semangat #manggurebe tomma maju, beta yakin katong bisa.

Selamat Ulang Tahun keluarga Arumbai-ku. Banyak cinta untuk kalian. *peluk peluk*

  • Postingan ini dalam rangka Ulang Tahun Arumbai yang ke-2, hari ini 4 April 2011.
  • Puncak acara Ultah ke-2 Arumbai berupa Tabaos Arumbai yaitu Nonton Bareng Film Linimas(s)a dan Seminar Internet Sehat: Ambon, 8 – 9 April 2011.

Sunday, April 03, 2011

(150) Surat Untuk Sahabat dan Para Wanita


Surat ini kutujukan pada seorang sahabat yang sedang gundah gulana dan kepada seluruh wanita. Surat ini kutulis dengan sedihku melihat keadaanmu sekarang. Aku tidak menyayangkan apa yang dilakukan oleh seseorang yang kau sebut kekasih padamu saat ini. Yang aku sayangkan adalah keadaanmu saat ini. Terus terang, aku kehilangan dirimu yang kukenal. Yang ceria, yang selalu membagi tawa dan kadang kegilaan kegilaan kecil. Sekarang, yang tampak di wajahmu itu hanya mendung. Kenapa? Segitu hebatnyakah dia hingga mampu menembus benteng air matamu. Ya, boleh saja kau mengatakan aku sok suci, sok gak butuh, sok tegar. Dan disini pun aku mau mengakui bahwa aku tak setegar itu. Tapi sepertinya kita tak perlu kehilangan senyuman kan? Dengan semua yang pernah kulewati, aku sampai ada kesimpulan yang ingin kubagi untukmu. Bahwa lelaki yang pantas mendapatkan airmata kita, para wanita, adalah lelaki dalam garis keturunan keluarga dan suami kita nanti. Orang yang tiba tiba hadir dalam hidupmu, merubah segala prioritas dalam hidupmu, kau biarkan saja dia membuatmu boros serta banjir air mata? Terlalu mudah kawan. Tak pantas dia memperolehnya.

Simple-nya begini, jika cinta itu menyajikanmu kesedihan, tinggalkanlah karena cinta tak pernah membuatmu sedih. Buka matamu sist, dia bukan suamimu. Kenapa harus bersedih ketika tahu dia menggila dan menduakan? Itu berarti dia bukan pria hebat. Karena pria hebat hanya melabuhkan satu cinta. Tentu saja ini akan menjadi lain ketika sudah menikah dan kita kaitkan dengan kebolehan berpoligami dengan kondisi-kondisi tertentu. Yang saya ingin garis bawahi adalah, dia bukan suamimu. Itu saja. Dia tak berhak menyakitimu cinta. Tak ada yang memberinya hak untuk merubah hari hari ceriamu jadi mendung. Ada pepatah begini, seorang pria menjadi dewasa ketika mereka mulai belajar tuk tidak menyakiti wanita, pria yang tahu bagaimana rapuhnya hati seorang wanita. See, dia berarti bukan pria dewasa. Jadi kamu yang harus dewasa.

Sahabat, merelakan itu bukan berarti kamu menyerah. Tapi memang ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan. Bangun dong say, jangan bengong tak bersemangat begitu. Percayalah, hidupmu akan jauh lebih positif. Seorang pria dikatakan hebat ketika dia menyadari kehebatan wanita yang dia cintai. Dan kamu itu hebat. Jadi kalau dia memilih memperlakukanmu dengan picik, jelas menunjukkan bahwa dia tidak hebat. Putuskan sesuatu untuk kebaikanmu, jangan paksakan segala sesuatu berjalan sesuai maumu setelah apa yang sekarang tersaji di depanmu oleh laki laki yang mengaku mencintaimu. Cinta tak pernah menyakiti, cinta tak pernah membuatmu sedih.

Hidupmu bukan berakhir disini. Jangan lagi ada airmata untuk seseorang yang tak bisa komitmen dengan apa yang diucapkan. Pria dipegang dari ucapannya. Takdir akan menuntunmu pada pria yang tak mengobral kata, namun lakunya adalah cerminan hatinya. Senyumlah sahabatku, hiduplah seperti yang selama ini aku melihatmu hidup. Aku tahu kau perlu waktu untuk menyembuhkan luka tpi jangan lama lama ya. Aku kehilangan dirimu karena kau asyik dengan airmatamu.

Thursday, March 31, 2011

(147) Sebulan Merantau

Akhir bulan. Berarti pas sebulan meninggalkan Ambon. Sebulan di Ciloto, bersama teman-teman dari daerah lain. Bertukar bahasa, bertukar kebudayaan, dan bertukar cita rasa. Kadang-kadang kangen sama Ambon. Makanannya, suasananya dan yang paling sering adalah kangen keluarga di rumah, Ibu, Papa, ddan si kecil Naya.
Sebulan disini, jalan-jalan sudah meski belum banyak. Yang banyak itu pusingnya. Saya yang orang teknik, tak pernah tau soal keuangan tiba tiba harus dijejaali otaknya dengan Dasar Manajemen, Manajemen Keuangan dan Manajemen Biaya. Istilah istilah seperti aktiva, neraca, passiva, likuiditas, depresiasi, factory cost, leverage, break even point, average collection period, debt ratio, net income after tax, earning before interest and tax dan tau deh. Senang sih, bisa jadi tau perhitungan begitu, tapi kalo dijejal hanya dalam kurang dari 2 minggu bisa semua, kalo kata orang Makassar, poge ma’. Kalo kata orang Ambon, sampe pastiu.



Sebulan disini, teman teman semakin hari semakin menyenangkan. Mulai dari Aceh sampai Raja Ampa ada disini. Ada juga dari daerah daerah yang belum pernah kudengar sebelumnya seperti kepulauan anambas, sijunjung, bulungan. Mungkin itu yang bikin sedikit lebih betah. Lingkungan persahabatan yang baru, lintas suku. Dengar cerita tentang banyak daerah, banyak budaya, liat banyak gambar dari daerah lain, Indonesia memang kaya. Bertemu mereka semua, resolusi travelling saya adalah menjelajahi Indonesia, melihat kekayaan Indonesia lebih dekat.

Wednesday, March 30, 2011

(146) Gendut

Nah, sekarang bicara soal berat badan ya. Ada perbedaan dulu dan sekarang. Dulu itu sejak STM sampai selesai kuliah dan awal kerja. Sekarang yang sekarang, tepatnya sejak setahun terakhir.

Dulu berat badan gak pernah di atas 40  sekarang di atas 50
Dulu setiap gak makan, dipaksa makan  sering dilarang makan
Dulu kalau makan, disemangati “makan yang banyak,by”  sekarang kalau ambil makan, yang dibilang “jangan banyak banyak, by”
Dulu setiap ketemu orang, disuruh menggemukkan badan  sekarang disuruh mengurangi berat badan
Dulu kuliah dibilang kayak anak SMP  sekarang dibilang udah kayak emak emak.
Dulu dibilang “kamu tuh bukan kurus by, tapi tipis"  sekarang dibilang “makin lebar aja, by”

Duuh…. Setelah saya menggemukkan badan dengan mengkonsumsi susu setiap hari dan makan terus, sekarang saya disuruh menurunkan dengan sit up, mengurangi makan dan lain-lain. Tahulah, yang penting saya sehat. Naik dan turunnya, lihat nanti, saya tak upayakan apa apa. Paling sit-up saja soalnya perut jadi buncit.

Ada tips buat nurunin lemak di perut?

Tuesday, March 29, 2011

(145) Belajar dari Supir Angkot



Menolong seseorang yang tidak kita kenal, tiba tiba bertemu di jalan, mungkin saja menjadi sesuatu yang langka. Hanya orang orang yang berhati bersih, berhati putih saja yang bisa melakukannya karena tak akan ada pamrih yang bisa diharapkan dari pertemuan tiba tiba nan singkat itu.
Sore tadi, di layar kaca, sebuah reality show kembali mengajarkan kita bahwa merek ayang berhati bersih dan putih itu masih ada. Dan kebanyakan dari mereka, adalah orang orang yang tak memiliki pendidikan tinggi. Begitulah adanya, memiliki hati bersih dan putih tak diajarkan di universitas manapun. Ia hanya ada di universitas kehidupan.

Pak Suprihatin, begitu namanya kalau saya tidak salah ingat. Seorang supir angkot yang dalam perjalanan menuju kantor Kabupaten, bertemu dengan seorang nenek yang minta tolong dibelikan ikan asin dan beras karena nasi yangn ia belikan untuk anaknya di rumah jatuh saat diserempet motor. Si bapak yang sebenarnya juga sedang dalam keadaan sulit, tetap membantu nenek hingga tuntas. Singkat cerita, setelah menolong nenek, Bapak Pri melanjutkan perjalanan ke kantor Kabupaten sebagai tujuan utamanya. Sesampai di kantor Kabupaten, pak Pri malah bingung saat ditanya ada tujuan apa kesitu. Beliau dengan polosnya menjawab : “Anak saya sakit. Ada tumor di telinganya sejak Desember. Saya kesini disuruh Pak Lurah aja. Saya juga gak tau mau ngapain disini”.

See, kesulitan bapak ini tidak menutup hatinya untuk melihat kesulitan orang di sekitarnya. Lalu setelah tim acara reality show memberi rezeki kepada beliau dalam bentuk uang, tak terkira betapa bersyukurnya beliau. Deraian air mata dan lafadz syukur kepada Allah tak berhenti ia ucapkan dan ditandai dengan sujud syukur di jalanan Ibukota itu. Mari berkaca kawan-kawan, kita, saya terutama, masih saja kurang rasa syukur ketika diberi kenikmatan yang sama dengan yang sedang Bapak Suprihatin alami.

Adzan maghrib sudah terdengar. Saatnya untuk kita kembali menundukkan hati, menundukkan jiwa dan raga, mengibarkan kesyukuran kepada Sang Pemilik Hidup.

sumber gambar : andhikakurniawanpontoh.blogspot.com

Monday, March 28, 2011

(144) Malu Nge-blog



Duh, malu juga kalo berkunjung disini. Janji 365 hari nge-blog, biasanya kosong 3-4 hari. Ini sudah sebulan lebih. Kalau ditanya kenapa, sebenarnya gak ada alasan. Toh, kalo gak bisa di depan kompi juga bisa lewat hp. Socmed lain model Fb dan Twit masih sering ditengok, rajin malah. Tapi blog sendiri malah tidak terjenguk.

Well, saya kembali. Entah dengan semangat yang baru atau tidak. Yang jelas dengan penyesalan yang mendalam tidak pernah menjenguk blog ini dalam satu bulan terakhir. Sebulan ini saya tidak sedang di tanah tercinta, Ambon Manise. Setelah dinyatakan lulus seleksi Diklat Pengembangan Konsultasi Diagnosis IKM, saya beserta 59 teman lain dari seluruh Indonesia bertemu di Ciloto, Kec Cipanas Kabupaten Cianjur.

Disini dingin, saya yang berasal dari daerah yang panasnya minta ampun, kini harus tinggal di daerah yang dinginnya minta ampun. Keluar kemana mana dengan jaket tebal, atau baju berlapis. Sementara yang saya lihat di jalan-jalan, mereka keluar dengan pakaian seadanya. Sempat terpikir, seandainya penduduk sini saya ajak tinggal sehari di ambon, kuat gak ya. Secara mereka gak pernah nemu matahari dengan utuh kayak kita.

Well, sudah sebulan dan alhamdulillah sudah bisa beradaptasi dengan udara dan makanannya walau kadang-kadang sering kangen dengan masakan Ambon. Kangen dengan keluarga di Ambon. Masih ada empat bulan yang harus dilewati. Semoga tetap semangat. Di kesempatan lain, insyaAllah saya akan berbagi cerita seputar serunya bersama 59 teman baru dari daerah berbeda, bahasa berbeda.


sumber gambar dari : endralife.co.cc

Tuesday, February 22, 2011

(110) Galau dan Sahabat

Hujan mengguyur kota Piru tanpa belas kasihan. Langit yang mendung sedari pagi dan gerimis sejak siang, tiba tiba saja seperti menurunkan bergalon galon air. Tanpa ampun, disertai gemuruh yang sempat membuat ketakutan..

Dan saya masih sendiri di rumah perantauan. Semakin menegaskan galau atas jauhnya jarak.. Aku butuh keluarga ada disini bersamaku. Menyajikan kebingungan ke hadapan mereka lalu mencari solusi bersama.

Terkaget oleh dering hp dengan nomor tak dikenal. Begitu diangkat, ternyata suara sahabat di jalan Allah yang lama tak berkomunikasi. Berawal dari membaca status fb-ku yang bernada galau, ia menanyakan kabar dan ada apa gerangan. Speechless, seseorang di belahan bumi jawa sana memutuskan menjadi telinga untuk kebingungan dan kerisauanku.

Persahabatan di jalan Allah memang abadi dan sudah berkali kali kubuktikan. Semoga jadi salah satu obat galauku..

Monday, February 21, 2011

(109) Sepi Perantau

Rumah sepi. Akhirnya hatiku juga jadi berasa sepi. Entah mengapa satu hari ini agak mellow dan menggalau. Mungkin karena sepi ini menemani dan menegaskan bahwa aku sedang berada jauh dari orang orang yang kusayang.

Gak kuliah, gak kerja, judulnya tetap saja merantau. Capek sebenarnya tapi ini hidup yang kupilih untuk dijalani. Ini aku dikirim Allah kesini. Ingin bisa berkantor di daerah yang sama yang aku sebut rumah. Pulang kantor langsung bertemu orang tua dan bukan hanya sekedar ruangan 3 x 4 tempatku melepas penat.

Ah, semoga ini bukan keluhan. Ini tetap harus kusyukuri..