Thursday, September 29, 2011

(330) Perempuan Agung


Ada manusia yang terlahir dengan sejuta rasa
Rasa yang dibalut dengan kasih sayang tak putus
Melihatmu bunda, adalah syukur tak henti
Telah menjadi satu dari putrimu yang masih saja tertatih mencintaimu

Mencoba mengertimu adalah hal yang terus kulakukan
Memahami maumu adalah hal yang masih terus kuupayakan
Karena aku kadang tak mengertimu, bunda
Tapi yang kuyakini, yang terbaik untukkulah yang menjadi inginmu

Bunda, di doamu selalu ada nama kami
Kami yang masih saja membuatmu meneteskan air mata
Kami yang masih saja menggores luka di hati
Kami yang masih saja memupuk kecewa di batinmu

Maafkan bunda,
Aku kehilangan kata di hari indahmu ini
Tak kutemukan kata kata indah yang mampu menandingi indahmu
Sungguh, seluruh keindahan bumi luruh jatuh di kakimu

Selamat Milad Bunda..
Usiamu yang bertambah, menegaskan kau tumbuh dengan keringat kasih sayangmu
Kau hidup dengan semangat mempersembahkan yang terbaik untuk kami
Maafkan belum mampu membalas semua itu

Bunda,
Letihmu adalah nadi hidup kami
Senyummu adalah darah kami
Penuh cinta untukmu bunda………
Semoga kelak ku mampu persembahkan senyuman terbaik untukmu

Hatimu ibu..
Adalah tempat aku kembali
Kemanapun raga ini pergi.

#ditulis untuk milad bunda yang ke 59. Semakin mencintaimu, ibu..

Wednesday, September 28, 2011

(329) melihatnya beranjak

ku terbiasa dengan kicaumu
ku terbiasa dengan candamu
ku terbiasa dengan caramu memanjakanku
ku terbiasa dengan konyolmu meneduhkan amarahku

lalu tiba saat kau beranjak
melangkah meretas kembali jarak
dan kukembali menekuri pagi
hariku tak lagi sama

sabar.. itu saja pesan kecilmu
kecil dan dalam..
kutau, riak yg sama sedang bermain di hatimu kini
kita akan sabar sembari menenun ikhtiar

melangkahlah dengan gagah
tak perlu tengok ke belakang
karena aku tak tertinggal di belakang
aku ada bersamamu, di sampingmu

jangan khawatirkan apa apa
sedang kukemas bahagia untuk bekalmu
baik baiklah di setiap jengkal tanah yang kau injak
kita akan saling menjaga dalam doa

Wednesday, September 21, 2011

(322) Akhir Sejarah Cinta Kita - Anis Matta


suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita tidur saling memunggungi
tapi jiwa berpeluk peluk
senyum mendekap senyum

suatu saat dalam sejarah cinta kita
raga tak lagi saling membutuhkan
hanya jiwa kita sudah lekat menyatu
rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita hanya mengisi waktu dengan cerita
mengenang dan hanya itu
yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita mengenang masa depan kebersamaan
kemana cinta kan berakhir
di saat tak ada akhir.

Monday, September 19, 2011

(320) Gerimis dan Matahari

Selalu dalam gerimis, kita berbagi cerita. Tentang hariku, harimu hingga tentang mereka yang kita sapu pandang di tepian. Tak penting apa yang sedang kita bicarakan. Hanya bisa bersama sudah bahagia. Sesekali terdengar tawa renyah atau bunyi ngorok yang tercipta dan kembali menyajikan tawa.

Ah, kau hadir begitu saja dalam hidupku tapi menawarkan senyum yang tak henti. Mungkin kau tak tahu bahwa setiap melihat lipatan matamu saat tertawa, aku lupa akan sebab tawamu. Aku hanya menikmati mata yang segaris itu. Lucu begitu rupa..

Kau memanggilku gerimis, katamu karena gerimis itu lembut. Katamu karena aku selalu ada dalam gerimis, meski hanya sekedar bayang. Aku tersanjung meski aku tak ingin hanya menjadi gerimis. Aku ingin selalu ada di setiap cuaca. Menjadi gerimis saat kau tenang, menjadi hujan lebat yang menyapu kesedihanmu, menjadi matahari yang mampu mengeringkan airmatamu atau juga menemani harimu. Aku ingin menjadi semua yang kau perlu untuk bisa menjalani hidup lebih lapang.

Aku meyebutmu bintang. Awalnya begitu, karena aku begitu suka menatap bintang di atas sana. Tak terjamah tetapi begitu anggun. Bisa terlihat dimana saja kita berdiri. Lalu aku tersadar, bintang hanya bercahaya, tak bisa memancarkan sinarnya sendiri. Lalu mulai kusebut kau matahari. Karena matahari bersinar, sepanjang apapun kaki kita melangkah, di sudut bumi manapun kita berpijak, matahari menyapa. Seperti itulah kamu, menyapa di setiap detakku.

Dan lalu, aku tak lagi peduli. Bintang atau matahari atau apapun kau untukku.. Juga gerimis atau embunkah aku untukmu, aku hanya ingin bersama. Bersama sepanjang usia. Memeluk duka dan menikmati suka bersama. Aku hanya ingin menjadi makmum yang baik untukmu kelak, seperti kau yang kutahu akan menjadi imam yang baik bagiku kelak. Ya, pada akhirnya, muara keinginan kita adalah menjadi imam dan makmum yang sejalan, yang menuju surga bersama, insyaAllah...

Saturday, September 10, 2011

(311) Memeluk Hati

Diantara dua jalan, dalam temaram

Siluet kita bertemu pada rinai hujan centil

Begitu saja, dan hari hari jadi lebih indah


Isyarat isyarat hati kadang tak terbaca dengan jelas

Namun doa doa terus kejar mengejar

Menemui yang memiliki kita


Kita memulai rangkai cerita yang tak selalu berpelangi

Kadang matahari begitu menyengat

Kadang hujan menyapa satu diantara kita

Tapi, kaki kita tegar bertahan untuk melangkah bersama

Atas nama keyakinan


Raga kita tak selalu bersama

Tapi jiwa kita telah berpeluk

Dan kini, ada satu titik yang mendekat

Yang pada saatnya mengubah alku dan kamu

Menjadi kita


Gelaran sajadah menanti di ujung sana

Memanggil jiwa jiwa cinta

Mengajak beradu dalam satu nama

Bercanda dalam tawa dan tangis, atas nama sayang


Padamu, kulantunkan harap

Padamu kusambut bahagia

Genggam tangan ini

Ajak aku pergi dengan sayapmu yang melengkapi

Thursday, August 25, 2011

(295) Bersama Memeluk Bahagia

Jika cinta ini bernama, aku ingin memberinya nama.
Nama yang sama dengan namamu.
Jika cinta ini selayaknya pagelaran,
Aku ingin menggelar sajadah bersamamu.
Agar setiap hari bergulir akan tetap indah,
agar fajar di ufuk selalu tampak merekah.
Seperti kata Gibran :

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan / Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan / Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta / Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada / Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari / Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman

Bertambah lagi satu bilangan usia. Seperempat abad telah terlalui. Makna apa yang telah diberi dalam hidup? Manfaat apa yang sudah dirasa dengan kehadiranmu? Lebih dari seperempat abad bukan sekedar angka.
Ini penegasan, bahwa hidup harus lebih baik. Bahwa kehadiran harus lebih bermanfaat. Bahwa sabar dan ikhlas harus lebih meraja di jiwa. Bahwa kau akan selalu menjadi bajik dan bijak di setiap pergantian detik hidup. Jadikan apapun yang terjadi dalam hidup adalah lintasan sejarah terindah menuju cinta suciNYA.

Pernah kusampaikan padamu, kita masih mereka reka seperti apa masa depan kita. Namun kini, aku ingin kita menghargai masa kini dengan saling menggenggam hati penuh arti. Lalu berharap Tuhan akan menyemai nama kita dalam genggamanNYA.

Hari ini, kulayangkan banyak doa untuk sukses di tiap jejak langkahmu. Namun ingatlah setiap kau hendak beranjak, aku sedang mengemas kebahagiaan agar kaubawa sebagai bekal. Hingga kelak kita akan memeluk bahagia bersama sepanjang waktu.

Wednesday, August 17, 2011

(287) #17an


Tahun ini bisa dibilang tahun yang unik untuk bangsa Indonesia. Perayaan kemerdekaannya persis di 17 Ramadhan, sama persis dengan 66 tahun silam, Proklamator bangsa ini mengumandangkan proklamasi di 17 Ramadhan pula. Semoga saya tak salah soal ini. Melihat kenyataan ini, seharusnya semangatnya adalah semangat yang sama dengan 66 tahun lalu. Bukan sekedar upacara kenaikan bendera yang sama dengan setiap hari senin, hanya kurang mewah saja. Ulang Tahun Republik ini memang momen yang pas untuk evaluasi, memberi masukan positif pada bangsa. Namun saya tak sedang ingin mengambil bagian. Kritik, evaluasi, pesimis, dan keluh sudah sepanjang tahun kita lakukan. Hari ini saya hanya ingin merayakan, saja…….

Rangkaian upacara yang saya ikuti dari lapangan upacara Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat tergambar lewat tagar #17an dari akun twitter @febry_w berikut :

1. Sedang di lapangan. Tp saya pengen ada di tribun, biar gak panas ikut upacara #17an

2. Riuh ramai peserta upacara #17an di lapangan piru. Barisan murid SD dan SMP tampak ceria. Smg jiwa merdea mereka masih menyala

3. Ke kanan, ada barisan SMA dalam jumlah banyak. Semoga mereka pun masih mencintai Indonesia,meski konsep pendidikan kadang menyusahkan mereka #17an

4. Kanannya ada barisna pramuka. Muda dan bersemangat. Merekalah penjaga obor setia pada karya, bakti pada Negara #17an

5. Sirine sudah berbunyi. Sepertinya Bupati SERAM BAGIAN BARAT semakin dekat dengan lapangan upacara piru #17an

6. Lanjut soal barisan, barisan korpri di sebelah barisan pramuka. Berdiri di balik baliho besar, cari somber #17an

7. Penyerahan bendera kepada Wakil Bupati Seram Bagian Barat. Sumpah, saya merinding. Negara ini masih ada… #17an

8. Kanan korpri, ada satpol PP, kejaksaan, POLDA, Brimob dan TNI. Rapi sekali. Mereka penjaga tanah tumpah darah dengan nyawa taruhannya #17an

9. Sirine, beduk mesjid dan lonceng gereja dibunyikan serentak pada detik detik proklamasi. Tuhan, jaga Negara ini tetap kokoh #17an

10. Proklamasi dibacakan oleh Ketua DPRD Kab. SBB. Sdh 66 kali dibaca di bumi. Mungkin semangatnya tak lagi sama, tp harapan tetap ada #17an

11. Bendera sdh dikibarkan. Seluruh rangkaian acara telah selesai. Lagu lagu perjuangan sedang dinyanyikan. Indonesia oh Indonesia #17an

12. Ada mengheningkan cipta di awal acara td, mengenang mereka yang berkalang tanah demi tegaknya Negara ini. Adakah kita sedang berkhianat? #17an

Selanjutnya, saya hanya ingin merayakan ulang tahun ini. Perayaan ke 66 karena mungkin saja 66 tahun dari sekarang sudah tak lagi bisa mengikuti perayaan yang sama. Berkeliling pulau Seram, pulau tempat nenek moyangku dilahirkan, cukup membuka mata bahwa Indonesia begitu kaya. Indonesia tak pernah kekurangan apapun. Laut, darat dan udaranya adalah harta yang melimpah. Indonesia dapat hidup hanya dengan pohon sagu. Kelaparan bisa saja sirna, gizi buruk bisa saja tak ada lagi. Kemiskinan seharusnya tak ada dalam kamus bahasa Indonesia. Ah, mengapa kini saya meracau galau lagi? Bukankah tadi sudah bertekad tak ada kesah? Ataukah inilah Indonesia, bahkan untuk menahan keluhan atasnya pun sulit.

Di balik kekayaan yang Indonesia miliki, masih saja jeritan panjang dan lama anak bangsanya terdengar dari setiap jengkal buminya. Adakah pejuang yang berkalang tanah menyesal membebaskan bangsa dari penjajah? Karena saat ini justru para anak bangsa saling menjajah. Atas nama keserakahan, perampokan hak anak bangsa yang lain terjadi dan dilakukan oleh orang orang berdasi yang mengaku cinta Indonesia.

Sudahlah, tak tepat rasanya saya meracau disini karena saya pun belum berbuat apa apa untuk Indonesia. Belum mengabdikan sebuah karya untuk Indonesia yang lebih baik. Saya hanya bisa berkata bahwa meski belum berbuat apa apa, tapi urat nadi saya adalah Indonesia. Saya besar dari air dan makanan yang bangsa ini miliki. Saya menghirup udara yang Allah berikan di Negara ini meski kadang terkotori oleh rokok anak bangsa yang lain. Saya tidur di atas tanah yang Allah percayakan pada Indonesia. Dan saya menjadi bagian dari anak Maluku, daerah yang turut memerdekakan Indonesia meski hingga sekarang tak maju maju seperti di wilayah barat sana. Saya cinta Indonesia, itu saja. Sekian

Thursday, August 11, 2011

(281) Isyarat Tak Terbaca

Tak pernah mengerti akan isyarat. Pada dinding hati yang mencoba cerita. Tentang malam yang berkabut. Tentang siang yang berdebu

Pekerjaan hati tersulit adalah menjaga hati tetap berada di tempatnya. Disaat yang sama ketika kedamaian lain tertawar dengan goda. Serupa kelak elang yang merindu di batas senja.

Segaris tersulam perlahan. Belum rapi seumpama gaun bidadari. Masih mengeja irama. Masih menyulam kata yakin.

Dan semua yang tak terurai itu. Biarkan tetap begini hingga terurus indah. Menanti di ujung jalan. Menanti untuk mengamini setiap doa. Semua doa

#subuh11ramadhan

Sunday, August 07, 2011

(277) Catatan Usang

sedu menyapa hati
pada makna hujan ia bertanya
dinginkah kau rasa
atau memang begitulah adamu

tak menemukan tempat untuk berlabuh
tapak kaki masih harus tertatih
merengkuh asa berselimut mimpi
menjelma kesunyian dan bisikan takbir
betapa kesyukuran menggelembungi naif diri
tak bisa begini jika tak ada kasih sayangNYA

makna apalagi yang masih dicari
ketika harap tak kunjung tiba
padahal telah banyak tetes-tetes penantian
lalu bertanya ia pada angin
tak lelahkah kau mengembara
atau memang begitulah adamu
menyinggahi tempat tak terjamah sebelumnya
penuh yakin makna nyata kehadiranmu
diiringi salam tasbih, salam selamat datang

lalu matahari kembali tersenyum
seringainya lebar hingga menusuk pori
maka bertanyalah ia pada matahari
tak bosankah kau menyinari
atau memang begitulah adamu

Saturday, August 06, 2011

(276) Munajatku

Rabb, Engkau tahu betapa batin ini telah lelah
Lebih dari apa yang batinku tahu
Episode apa yang Kau ingin aku jalani sekarang, Rabb?
Takdir apa yang kini sedang berlaku untukku?

Rabb,
Sungguh aku tak lagi punya tenaga untuk bertahan dalam kelelahan ini
Hanya atas namaMu, hanya karenaMu, hanya karena yakin akan janjiMu
Aku mencoba bertahan, lagi dan lagi

Seperti apapun kelelahan ini menderaku
Aku tak ingin berputus asa dari rahmatMu
Karena Kau tak akan membawaku sampai ke titik ini
Jika hanya untuk meninggalkanku

Rabb,
Dengan ijinMu-lah aku melangkah saat ini
Dengan rahmatMu-lah aku masih bisa tegak disini
Dengan cahayaMu-lah aku masih bisa menatap ke depan

Di Ramadhan agungMu
Aku bersimpuh dengan segala kelemahanku
Ketidakberdayaan ini tersungkur memujaMu
Aku lemah Tuhan, aku lemah……

Thursday, August 04, 2011

(274) Untuk Yang Masih Gundah - masih dari sahabat

Lentera itu mendekatimu,
Dan engkau telah memilihnya....tanpa kau sadari
Namun, ada ragu singgah di ruangmu yang kosong
Benarkah dia?
Kata yang selalu diucap oleh hatimu

Beras atau nasi?
Itu ibarat yang selalu terucap dalam lisanmu saat mencari sosok sang pendamping
Siapapun ingin pendampingnya adalah ibarat nasi
Sudah siap untuk kita nikmati
Terima jadi, istilahnya
Tapi, tahukah kamu?
Ketika pasangan kita masih sosok beras, kita akan lebih menghargainya
Karena kita tahu wujud aslinya
Belum ada penambahan atau pengurangan apa-apa
Dia, adalah dia... beras, masih polos dan bisa diubah menjadi apapun...
Kita akan lebih menghormatinya, atas segala usahanya saat ingin menjadi Nasi yang bisa dinikmati

Namun,
Darahmu yang paling tahu pada siapa dia berdesir cepat
Jantungmu yang paling yakin pada siapa dia berdetak melebihi irama yang seharusnya
Tubuh dan jiwamu yang paling menyadari pada siapa dia merasa nyaman
Bukan untuk mencari mana yang lebih baik
Karena tiap saat pasti ada yang lebih baik

Tapi mencari,
Yang mampu membuatmu berjalan dengan kakimu sendiri
Yang mampu membuatmu tersenyum dengan lebar
Yang mampu membuatmu menjadi diri sendiri
Tanpa beban
Tanpa kompromi
Karena bukanlah suatu pilihan hati jika itu harus memakai kompromi, dan menjauh dari siapa dirimu sebenarnya...


ps : speechless honey...

diambil dari http://gerimisdansecangkirkopi.blogspot.com/2011/08/untuk-yang-masih-gundah.html

Wednesday, August 03, 2011

(273) .......nyata

Malam ini
Untuk pertama kalinya hadir dalam bayang nyata
Tak sekedar simbol, tak sekedar sapa
Ada yang berbeda, aneh tepatnya
Belum bisa diurai maknanya
Namun apakah engkau lilin atau kembang api?
Apakah engkau nasi atau beras?
Tak sempat lagi berpikir tentang itu
Yang kutau akhirnya ia bernama
………………… nyata


(after destrit)

Sunday, July 31, 2011

(270) Gundah - catatan sahabat

Gundah...
Resah...
Galau...
Bersalah...
Menjadi kabut yang menyelimuti ruang hatimu kini
Ranjau-ranjau seakan ditebar dalam dinding jiwa dan pikiranmu
Yang sewaktu-waktu dapat meledak terinjak-injak keadaan yang tak tentu

Hatimu terasa sempit, membuat sesak menghampirimu
Kau butuh udara, namun tak kau dapatkan
Hanya jalan gelap yang kau tapaki
Ada dua cahaya yang menghampirimu

Cahaya satu menghadirkan KEMBANG API untukmu
Cahaya kedua menawarkan sebuah LILIN KECIL
Mana yang akan kau pilih?

Kembang api, dengan cahayanya yang –mungkin-cantik, namun menyakitkan dan sekejap saja dia bersinar
Atau,
Lilin, dengan cahayanya yang –memang- remang, namun dia memberi kehangatan tanpa menyakiti, sepanjang waktu

Hatimu sedang tak berada dalam porosnya
Berdetak tanpa terduga, menyimpang dari irama yang sesungguhnya
Tapi, aku punya keyakinan kau mampu melewatinya
Karena kau paling percaya bahwa ini semua adalah rencana-Nya

Seperti selalu terucap dalam lisanmu
“Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk meninggalkan kita”
Artinya, Tuhan tidak akan membawa kamu pada dua pilihan jika kamu tak sanggup memilihnya

kau adalah Ilalang...
dapat mengatasi musim apapun dan tetap berdiri tegak
malam tanpa matahari atau siang dengan panasnya
Ilalang tetap mampu bertahan

Lenteramu ada dua Jangan biarkan membuatmu gundah
Karena aku yakin, kau lebih kuat dari ini

Karena kau istimewa

**untuk sahabat q yang (mungkin) sedang gundah**

#dari sahabat yang mengerti gundah#

dicomot dari

Saturday, July 30, 2011

(269) Yang Tersisa

Sampai sudah disini, semua rangkai cerita.
Satu satunya yang tersisa, satu satunya yang jadi perekat
Sudah kuikhlaskan detik ini
Melepas di tempat yang tak mungkin aku atau siapapun temui lagi

Kepingan terakhir itu kini lenyap
Hilang bersama semua hal yang pernah dimiliki
Tak ada sedikitpun, secuil pun sesal
Serpihan itu pergi diiringi keikhlasan yang sangat

Berdamai dengan takdir adalah senyuman
Telah datang takdir yang lain
Memberi warna lain dalam hidupku
Warna yang kuharap akan kekal

Friday, July 29, 2011

(268) Disini Lagi


dan saya disini lagi, sebuah tempat saya pernah merajut cinta, tempat saya mencoba menaruh jejak kebaikan, tempat saya pernah belajar sebuah persahabatan dan persaudaraan atas nama Islam.

hampir tidak ada yang berubah. mading masih di tempatnya, perpustakaan masjid masih ada di tempat dulu kutinggal, semua masih sama. hanya satu yang tidak ada. para sahabat yang dulu membersamaiku, sedang melebarkan sayap kebaikan di tempat lain.

duduk disini, memandangi setiap sudut masjid baitul izzah ini, semua momen seperti berputar lagi. bayangan setiap saudara yang hilir mudik dalam masjid juga pelatarannya seperti hadir tiba tiba. masih ada tulisan tanganku di beberapa majalah di masjid, masih ada pohon pohon yang kami letakkan bersama di samping masjid. sumpah demi Allah, aku merindukan mereka dan setiap momen kebersamaan kami.

aku hanya ingin kita tidak saling melupakan. aku hanya ingin kita saling mendoakan. seperti janji janji kita dulu, kita akan selalu bertemu dalam doa doa yang berkejaran di langit.

ada danau yang tergenang di sudut mata mengenang setiap wajah wajah cinta milik kalian, ada pula banyak doa yang terselip juga untuk kalian. bekerjalaha terus kawan. jangan berhenti. kejahatan hanya akan menang jika orang orang baik seperti kalian tidak melakukan apa apa.

Bersabarlah karena para sahabat menorehkan kisah cinta mereka menanti kemenangan yang Allah janjikan dengan darah kesabaran.

Monday, July 25, 2011

Catatan untuk Shindanman

ada resah yang ingin kutekan dengan kuat
dalam dinding hati yang terbiasa bersama
aku percaya ada satu rahasia dariNYA
hingga kita dipertemukan di titik kehidupan yang sama

dan jika kita harus kembali untuk menjalani titik yang lain
itu bukan sebuah kesalahan
tapi sungguh, inilah kebenaran yang harus terjadi
inilah satu satunya takdir yang paling tepat kita jalani

di apa yang kita alami
tak ada persahabatan yang sempurna
yang ada adalah orang orang yang berusaha sebisa mungkin mempertahankannya

sampai jumpa kawan
kita telah petik dawai bersama
resonansi persahabatan kita telah sama
saling ingatkan. saling doakan
biarkan doa doa kita berkejaran di langit

bangga mengenal kalian semua

(264) Sekali dan Berarti


Seperti baru kemarin menginjakkan kaki dengan berat hati di Ciloto. Membayangkan akan melewati 5 bulan dengan belajar, terpisah dari keluarga, keluar dari kotak nyaman. Tibalah hari ini, hari mengakhiri 5 bulan itu dengan “berat” juga.
5 bulan memang terlalu lama untuk sebuah pelatihan. Tapi 5 bulan sungguhlah cukup untuk menyatukan 60 kepala, 60 hati dalam satu keceriaan.

Disini ada ilmu yang tentu saja melimpah, ilmu yang sama sekali tidak pernah kusentuh selama ini. Berawal dari pusing mendengar satu persatu istilah di dunia keuangan dan dunia industry hingga akhirnya terbiasa dan bisa bercanda dengan istilah istilah itu. Tapi disini pula, pelajaran kehidupan begitu banyak. Persahabatan yang terjalin dengan segala dinamikanya. Berbagai karakter orang dengan segala problemanya ditemui disini.

Kami, 60 orang yang tak saling mengenal awalnya, lantas kebersamaan setiap hari di sudut sudut hotel lembah hijau ciloto, semakin mengukuhkan kami adalah saudara. 60 orang yang awalnya hanya saling menebak dan membangun image sendiri tentang orang lain, kini kami lebur dan begitu mengenal pribadi yang lain. 59 orang yang tiba tiba saja masuk dalam hidupku memberi warna lain. Bahwa Indonesia itu luas, Indonesia itu kaya, dan yang terpenting adalah ada 59 orang baik di dunia ini.

Banyak hal telah kita lewati. Dari kehilangan, kepergian seorang sahabat, momen momen ulang tahun dan bahkan pernikahan. Ini semua takkan terulang. Karena takdirnya memang begitu. Kalaupun terulang, tak mungkin bisa seindah ini. Ini sekali dan berarti. Hari ini kami akan saling melepas. Kembali ke kehidupan normal lagi. Kembali ke rutinitas lalu dengan semangat persaudaraan yang baru. Mengharukan, tapi itulah perputarannya. Bahkan saat pertama kita ketemu, kita sudah tahu hari ini akan tiba cepat atau lambat. Ada pertemuan ada pula perpisahan. Tapi sejatinya kita bukan berpisah. Kita sedang melebarkan pertemanan dari sekian hektar hotel lembah hijau ciloto menjadi pertemanan seluas Indonesia.

Kita akan saling mengenang, kawan. Apa yang kita lalui bersama selama 5 bulan ini hanyalah awal untuk persahabatan seumur hidup. Saya bangga menjadi bagian dari kalian. Saya belajar sesuatu dari setiap kalian, setiap kalian, per orangnya. Satu hal, persahabatan kita mungkin saja ada yang tergores, marilah melebur. Gugurkan semua saat jabat tangan nanti. Karena tak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada hanyalah orang orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

Sampai ketemu lagi kawan. Di tempat yang berbeda, di kesempatan yang berbeda dalam resonansi persahabatan yang sama. Love you all, shindanman………

Tuesday, July 05, 2011

(244) Menyelamatkan Masa Depan

tulisan ini untukmu teman
atau tepatnya yang mengaku sebagai teman
setiap alasan bisa diterima
hanya karena itu terlontar dari bibirmu

percaya bahwa kata dan pikirmu sejalan
tak pernah sedetik pun kuragu
kutelan mentah mentah setiap ucap
masuk dalam otak tanpa diolah

begitu rapi tersimpan
namun Allah tak pernah tidur, benar benar tak pernah
IA memberitahuku dengan caraNYA
bahwa semua yang kutelan mentah mentah ini hanyalah sampah

Bau busukmu sudah menusuk hidungku
Aku ingin muntah, memuntahkan semua rasa percaya
Melemparkan setiap jengkal pertemanan
Karena teman tak mungkin bisa begini

Aku tak membalas, bukan hakku
Itu hak Allah dan tak akan mungkin kurampas
cukuplah aku dengan doa
doa yang tak kupikir, tapi hatiku yang bicara

tak kupertanyakan lagi takdir
pasti ada alasan kenapa kita bertemu, berteman, lalu begini
yang perlu kuingatkan,
meskipun nanti ada bahagia yang kaurasa
itu semu karena kau memulainya dengan mengabaikan kemanusiaan

Aku maafkan,
karena dengan itu masa depan bisa kuselamatkan
Memaafkanmu adalah hadiah perpisahan dariku

Sunday, July 03, 2011

(242) Selamat Ulang Tahun, Ay


Pagi..
Embun menyapa, matahari bersinar
Demi apa?
Demi senyummu, cantik

Siang..
Matahari meninggi
Teriknya membakar semangat
Demi apa?
Demi nyala semangatmu menjadi berarti

Senja..
Matahari mulai malu malu
Tak pernah istirahat, hanya menepi
Kilaunya memantulkan sinar cantik di laut
Demi apa?
Demi kilatan juang hidup di matamu

Malam..
Bulan menggantung indah di langit
Putih, merendah di antara banyak bintang tapi mempesona
Demi apa?
Demi rendah hatimu yang mempesona

Pagi, siang, senja hingga malam nanti
Matahari, bulan dan bintang tersenyum
Menjembatani banyak doa untukmu
Kesuksesan, kebahagiaan dan segala harapan

Selamat ulang tahun, gagah.
Tetaplah gagah.....


*kado ultah untuk sahabatku Maya Talanila*