Friday, November 12, 2010

(8) 6 tahun 6 hari

Iseng mengobyak abyik blog tercinta ini, ternyata postingan pertama saya tertanggal 6 november 2004. Dan sekarang 12 November 2010. Waah, berarti rumah ini sudah 6 tahun 6 hari.

Banyak sudah yang tertulis. Membaca tulisan tulisan lama seperti melemparkan diri ke masa silam. Seperti melihat saya yang dulu. Kalau ada waktu lebih banyak, saya ingin obyak lebih jauh, siapa yang nyampah pertama disini. Mencari tahu kemana sahabat sahabat blog yang lama. Dan mengurai kisah kisah inspirasi lama.

Saya jabat tangan sendiri, Selamat 6 tahun 6 hari. Terimakasih telah membersamai saya, membiarkan saya menulis banyak hal gak penting disini. Terimakasih jadi tempat berteduh, ngomel gak jelas.

Semoga ke depan bisa bersama dengan lebih menebar manfaat

Thursday, November 11, 2010

(7) Sebuah Catatan

Saya suka hari ini. Meski capek tapi begitu sarat hikmah. Bertemu dengan dua orang biasa yang melakukan hal hal luar biasa.

1. Dalam kesempatan apapun, tetaplah menolong orang
2. Permudah orang yang berurusan dengan kita
3. Jangan pernah tinggalkan shalat
4. Menunda waktu saja celaka, apalagi meninggalkan
5. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? hitunglah yang ada pada dirimu
6. Allah tidak pernah menuntut balas atas apa yang telah Ia berikan, kenapa begitu sulit kita bersyukur?
7. Jika tak shalat, berarti tidak meminta pertolongan pada Allah. Lalu minta tolong sama siapa? iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin
8. Berikan tempat pada musafir
9. Kalau Allah belum mengabulkan doa, jangan putus asa. Allah suka kita terus meminta
10. Masih banyak lagi..

Nasehat dari mereka tembus ke hati saya. Karena saya tau mereka tak sekedar bicara tapi mereka melakukan apa yang mereka bagi kepada saya. Dan saya mendapati mereka berdua sebagai pribadi yang tenang dan selalu bahagia..

Ah, saya tertampar. Tentang menunda nunda waktu sholat, tentang terburu buru dalam berdoa. Saya tertampar banyak. Terutama karena baru saja saya mengecewakan beberapa rekan KPM Desa Waimital yang mengundang saya untuk berdiskusi. Mereka sudah mengkonfirmasi kehadiran saya sejak kemarin siang hingga tadi siang. Qadarullah, setengah jam sebelum agenda, saya dengan berat hati dan penyesalan mendalam serta rasa bersalah yang besar harus membatalkan rencana kehadiran karena sebab yang tak bisa dihindari.

Semoga saya tidak dicap mempersulit keadaan, tidak dianggap ingkar. Saya hanya berharap kekecewaan itu tidak ada di hati mereka, dan kalaupun ada, semoga tidak menjadi penghalang rahmat Allah pada saya. Mereka membalas sms saya dengan sebuah kalimat yang menyejukkan "gak apa apa mbak. untuk itulah ada kata InsyaAllah. Mungkin belum rezeki kami. Semoga bisa ketemu di lain kesempatan". Ya, semoga dimudahkan di lain kesempatan,insyaAllah.

eh, saya belum isya. pamit mundur temans.

Wednesday, November 10, 2010

(6) jebol satu hari

jebol sudah 365 hari blog. satu hari kemarin saya tak sempat memposting apapun. bukan hal yang disengaja, hari ini si bos berangkat ikut meeting di ibukota RI jadi saya harus mempersiapkan bahans yang akan beliau bawa sekaligus mengirimkannya ke rekans yang ada di jekate sana.

semua baru kelar di jam 6 sore lalu dilanjutkan dengan pengajian pegawai hingga jam 8. disambung ini itu, saya baru bisa memeluk bantal di 11 malam. sebenarnya jemari nan lentik ~haiyah~ ini sudah siap melenggang ke dasbor tapi apa daya, mata tak sanggup lagi terbuka. maka tangan pun memilih tidur..

jebol sudah 365 saya.

hari ini agendanya ngedit buku. dan hingga jam saya posting, br sampai di halaman 97 dari 255 halaman. ditemani gemuruh genset dan ributnya mesin potong rumput di luar sana, telingaku sudah sakit sedari tadi..

okelah, saya lanjutkan dulu ngeditnya temans.

salam hangat sehangat secangkir kopi yang menemani.

Monday, November 08, 2010

(4) Tanya : dimanakah cinta, setia?

Dua kisah yang membuat hatiku banjir hari ini. Banjir akan kisah wanita yang di dholimi juga wanita yang kebablasan.

Kisah 1 : si wanita menggugat cerai suaminya setelah 8 tahun pernikahan. apa pasal? Karena ternyata sang suami telah menikah 5 bulan yang lalu tanpa memberi tahu sang istri. Alasan sang suami adalah tak ada keturunan hingga saat ini.. haruskah begitu? haruskah? tak adakah cara yang lebih elegan? yang lebih berperasaan?

Kisah 2 : seorang lelaki yang sudah memiliki 5 anak selingkuh dengan perempuan yang sudah memiliki 2 anak. Ketahuan dan akhirnya suami si perempuan sedang menempuh jalur hukum untuk hal ini.

Saya jadi bertanya, kalo karena tidak ada keturunan, rumah tangga bisa berantakan, kenapa rumah tangga yang banyak anak juga ada yang berantakan?

Cinta yang dulu dimiliki mana? Janji di depan Tuhan yang dulu diucapkan mana? Kenapa tidak bisa bertahan dengan satu cinta? Kenapa

Semoga saya, anda, tidak memiliki kisah kisah seperti di atas.

Sunday, November 07, 2010

(3) Bait Merapi

cerita kita memang telah usang
tapi tak mampu menahanku melempar sebaris doa
di antara debu debu itu
semoga kau tetap terjaga
dalam sabar
dalam ikhlas

baik baiklah disana
sungguh tak tau lagi apa kata
baik baiklah disana
baik baiklah disana

Saturday, November 06, 2010

(2) Biasa Aja dong...

Baru saja iseng (iseng kok tiap sabtu?) nonton film korea yang judulnya mmmm.. apa ya?
Lupa judulnya karena saya juga bukan penonton setia.
Pada episode yang kutonton tadi, ceritanya seorang anak presiden yang berhubungan dengan seorang polisi. Si polisi itu tidak tau bahwa kekasihnya itu ternyata putri dari presiden. Bahkan teman-teman kantor si gadis pun tak tau bahwa rekan mereka ini putri Presiden. Memang tak ada pengawalan khusus, dan dari beberapa dialog, baru ngeh kalo memang ceritanya masyarakat sendiri gak tahu kalo presiden punya seorang putri.

Di suatu perhelatan, ada satu agenda yang harus dihadiri oleh ibu negara. Berhubung negara itu tidak memiliki ibu negara (jangan tanya mengapa), maka negara itu diwakili oleh putri presiden. Barulah masyarakat ngeh baru Presiden memiliki putri yang selama ini tidak tahu rupanya.

Alkisah, si gadis gelisah karena ini berarti ia harus tampil di depan publik sebagai seorang putri. Pada pagi hari sebelum malam perhelatan itu, putri dan kekasihnya yang polisi itu lari pagi. Wajah putri yang murung, mengundang tanya dari si Polisi.
Putri pun berkata, "Bagaimana jika ternyata saya adalah anak dari orang yang status sosialnya tinggi, tinggi sekali. Bagaimana kalau ternyata saya ini anak Preseden? bagaimana perasaanmu?".
Lalu kekasihnya tertawa dan menganggap itu sebagai lelucon, "ayahmu mau mencalonkan diri jadi presiden? jadi Walikota saja dulu". Sebelum ada pembicaraan lebih lanjut, si polisi mendapat panggilan kembali ke kantor.

Sesampainya di kantor, polisi tersebut mendapat tugas ikut dalam tim seperti secret service di acara nanti malam, karena putri Presiden akan hadir sehingga harus memastikan keamanannya. Singkat cerita, di malam itulah, ketika putri Presiden tampil di atas panggung, si polisi terkejut karena yang di atas sana adalah kekasihnya.

Well, kenapa saya angkat ini?
Karena ini mengingatkanku pada satu peristiwa kira-kira dua tahun lalu. walaupun itu hanya fiksi, tapi tak ada salahnya jika saya bandingkan dengan keadan yang saya lihat.
Hari itu, saya dan adik dalam perjalanan entah kemana (lupa), mendekati daerah Abdulalie, terdengar raungan mobil yang seakan meminta (menghindari kata memaksa) pemakai jalan yang lain untuk menepi. Terlihat dua mobil mewah beriringan dengan "angkuhya" dan mendadak berhenti di depan rumah makan dedes. Saya bilang berhenti, bukan memarkir. Ya, dua mobil itu berhenti tepat di tengah jalan hanya untuk menurunkan rombongan yang mau makan di Rumah Makan Ikan bakar cukup terkenal di Kota Ambon ini. Bisik-bisik tetangga, ternyata itu adalah rombongan anak para petinggi yang mau santap siang.

Hufftt... membuat macet yang cukup panjang dan dalam waktu 10 menit, itu bukan hal biasa. Entahlah, apa karena status sosialnya yang tinggi lantas boleh bersikap seperti itu?

Heran, dan miris hati ini. Sama mirisnya dengan pandangan mata saya ketika meelusuri jalanan kota Ambon kemarin sore. Tampak pihak keamanan berjaga di banyak titik dengan jarak titik hanya sekitar 100 m. Untuk apakah? ada apakah? Cek dan ricek, karena orang pusat sedang mengunjungi Maluku. Bah, kenapa mereka datang, rakyat dijaga? Emang rakyat mau ngapain? Yang milih beliau juga rakyat kan? Kenapa keamanan beliau harus dijaga segitu rupa dari rakyat? Rakyat gak akan ngapa-ngapain kok pak. Percaya deh...

Friday, November 05, 2010

(1) tentang lara

Jelang 15 menit menutup hari pertama dr 365 day blog project. Mencoba posting sedari awal malam namun jaringan tak cukup bersahabat

Sebenarnya ingin posting tentang hal lain disini, ada tentang senangnya kopdar blogger maluku tadi, atau supir mobil yang saya tumpangi, atau angkot butut yang saya naiki. Tapi semua mendadak terpendam oleh lara melihat tayangan peristiwa merapi yang kembali beraktivitas..

Tak cukup kata mampu saya rangkai.. Meminta mereka bersabar dan ikhlas adalah tidak mudah karena saya pun belum tentu bisa sabar dan ikhlas jika di posisi demikian. Hanya bisa menatap kosong wajah wajah yang dipenuhi debu

Tak ada kata terucap. Semoga bisa terlalui.. Saya benar benar speechless

365 day blog project

5 november. resolusi bulan november saya adalah satu postingan satu harinya.http://www.blogger.com/img/blank.gif Sudah 4 hari berlalu dan alhamdulillah semangat posting masih terjaga.

Dan dari blogwalking sana sini, saya nemu blog mas deddy yang konsisten dengan project 365 day blog. Merasa tertantang, maka saya putuskan untuk nyemplung project ini juga.

Aturan yang saya pakai adalah one day one posting. tidak ada hutang, tidak ada deposit dalam kondisi normal. Sama dgn aturan main mas deddy. Namun, saya buat kelonggaran bahwa Hutang dan deposit boleh saya lakukan hanya jika ada hari dimana saya harus ke daerah yang tidak bersinyal. Mengingat bulan november desember ini, Saya juga punya project kantor yang mengharuskan saya turun lapangan ke beberapa desa no signal.

hari ini hari pertama, dan postingan ini belum termasuk 365 day blog project. selamat bergabung... ~jabattangansendiri~

Thursday, November 04, 2010

Seroja Part 2 yang Tertunda

Pasca PB 2010, blogger Maluku pun “iri” dengan perkembangan komunitas blogger di daerah lain. Salah satu maskot blogger maluku yang berjudul Almas berkesempatan mengikuti PB 2010 dan pulang dengan membawa cerita yang cukup bikin yang lainnya “jealous”. Mumpung semangat baru saja dipanasi, kami berencana berkumpul, bukan sekedar kopdar tapi seius bahas konsep blogger maluku yang kalo kata band Armada “mau dibawa kemana hubungan kita”. *dikeplak*.

FYI, pertemuan pertama blogger Maluku di tanggal 4 April 2009 di Kafe Seroja. Setelahnya berlanjut dengan banyak kali kopdar formal dan non formal. Lantas inilah saatnya Seroja Part 2, meski bukan di Kafe Seroja tapi dengan semangat yang dulu pernah berkobar di Seroja.

Then, lewat inbox fb, kami pun sepakat bertemu di hari Rabu tanggal 3 November kemarin. pukul 3 sore di Kota Ambon. Mengingat saya yang sedang terdampar di kota Piru yang berjarak 4 jam perjalanan, entah berapa mil laut itu, sudah menyiapkan diri sedari malam untuk mengikuti. Ijin kantor cuma setengah hari sudah kukantongi, ijin tidak mengikuti satu kegiatan di sore hari juga sudah didapat.

Jelang pukul 11, belum bisa meninggalkan kantor karena satu dan lain hal. Setelah menyelesaikan beberapa hal hari itu, berangkatlah kami, saya dan iwan (kerabat yang setia mengantar kemanapun saya pergi), dengan mengendarai sepeda motor menuju Waipirit. Saat itu, sudah pukul setengah dua belas siang. Jika tak ada kendala dalam perjalanan maka saya bisa sampai jam setengah satu dan menumpangi feri Waipirit-Liang jam 1 siang.

Baru saja meninggalkan Kota Piru, kami disambut hujan rintik, kecil, genit. Sisa sisa hujan lebat masih terlihat di jalanan yang basah. Bersyukur kami tidak berangkat jam 11 tadi, karena itu berarti akan kehujanan. Sembari menikmati rintik itu, kami berkelakar bahwa Tuhan juga tahu orang baik yang mau lewat, jadi hujan sudah selesai. Bukan maksud untuk takabbur atau apa, hanya sekedar menyenangkan hati dan berpositive thinking dalam perjalanan.

Hujan yang menggoda tapi tidak mengganggu ini menemani sepanjang setengah perjalanan. Mendekati desa Waisarissa, kami disambut hujan yang lebat yang memaksa kami harus berteduh di halte. Sayangnya, gunung yang sedang kami lewati ini tidak menyisakan tempat yang tepat untuk berteduh. Karena tak ada jas hujan, dan juga tak ada tempat berteduh, sementara halte masih 15 menit lagi perjalanan, mau tidak mau kami harus siap basah. Sesampai di halte, sudah banyak para pengendara sepeda motor yang juga berteduh. Dua puluh menit saya harus menunggu dengan gelisah sambil sesekali melirik jam yang justru bikin stress.

Hujan mereda sedikit, sedikit saja. Saya “memaksa” Iwan yang tanpa jas hujan, juga tanpa jaket, untuk melanjutkan perjalanan. Kembali berteman hujan, kami meneruskan perjalanan hingga Waipirit. Tapi begitulah, saya tidak ditakdirkan bertemu feri. Feri baru muncul pukul setengah dua. Dan biasanya, feri akan tambat di pelabuhan satu jam setengah untuk menurunkan penumpang serta menaikkan penumpang plus kendaraan-kendaraan.

Tiket feri sudah di tangan, namun hitungannya, kalau saya memaksakan diri berangkat, maka saya baru bisa bertemu dengan rekan-rekan blogger jam ½ 6. Dua setengah jam dari jadwal. Hmmm……. Setelah sms dan tlp, dengan sedikit merengek pada om Almas, saya meminta pertemuan diundur lagi. Meski sebenarnya bisa aja sih jalan tanpa saya. And, beberapa menit kemudian, telpon genggamku berdering dengan nama Almas di layarnya. Ia mengabarkan bahwa setelah kontak yang lain, agenda kopdar serius ini mundur 2 hari lagi alias Jumat. Uhuy senangnya, mereka memang menyayangiku *tsah…*

Saya pun kembali ke Piru dengan kembali basah. Hari kemarin judulnya adalah Mandi Hujan dengan rute Piru-Waipirit-Piru.

Terimakasih kepada Om Embong, Om Mamung, Pakde Dharma, Bang Almas dan Bung Semmy yang bersedia mengubah jadwal pertemuannya. Persohiblogan emang top, euy.

Sampai ketemu hari Jumat, dan mengutip kata Caca Ida Azuz “Mari katong bakaringat par ator negeri dan diri ini bae-bae supaya ada guna sadiki”

Catatan :

  1. Jangan kemana-mana tanpa membawa jas hujan (bagi pengendara sepeda motor)
  2. Saat posting ini ditulis, sempat terhenti karena bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa, menginspirasi dengan tindakan nyata bagi ummat. Wanita yang mampu tertawa saat sedih. Suatu waktu, insyaAllah saya akan menulis tentang wanita hebat ini.

Wednesday, November 03, 2010

Allah, ini beta

Apa yang akan teman-teman baca ini adalah salah satu tulisan indah dari saudara saya, kakak saya, inspirasi saya, Faidah Azuz Sialana. Ia yang sering saya sapa dengan ca ida, pagi pagi sudah membuat saya terharu dengan tulisan ini. Ada yang mengalir di dinding hati lalu dengan pertanyaan "kapankah saya dipanggil?". Dan jawaban juga saya temui bahwa saya akan dipanggil ke Baitullah, hanya jika saya memantaskan diri untuk dipanggil. Tulisan ini pernah dimuat di Harian Ambon Ekspress di Tahun 2009, sengaja kami, saya dan ca Ida, mengangkatnya kembali untuk berbagi. Buat saya, tulisan ini ada pendidikan, ada renungan, ada inspirasi, komplit seperti nasi goreng, ada telur, ada ayam eh ada dendeng juga. Mantap pokoknya. Selamat menikmati sajian kami.




Allah, Ini Beta…
Oleh: Faidah Azuz Sialana

“Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang**” dan banyak sekali warning yang diberikan pada saya ketika hendak berangkat ke tanah suci beberapa waktu yang lalu. Agaknya pikiran saya mulai terpengaruh. Membuat saya menganggap orang hitam sebagai musuh yang harus saya lawan. Pikiran saya mulai menyusun strategi bagaimana menghadapi orang hitam itu. Lengkap dengan beberapa kata penolakan dalam bahasa Arab dan Inggris yang saya hafal baik-baik dari tanah air. Pokoknya saya harus fight.

Lalu tibalah saya di Madinah. Menjelang pintu masjid Nabawi untuk shalat Ashar pertama saya telah menyiapkan diri kalau-kalau bertemu dengan orang hitam. Bagaimana sikap saya, apa yang harus saya ucapkan, pokoknya saya harus mempertahankan kapling sajadah, kalau perlu sampai titik darah penghabisan dengan semangat empat lima. Demikian tekad saya.
Semakin mendekati pintu pagar masjid Nabawi, saya semakin gugup. Saya terjebak dalam pilihan prioritas antara mengucap shalawat untuk Nabi, terheran-heran menyaksikan hamparan halaman mesjid Nabawi yang sesak, dan menyiapkan strategi menghadapi orang hitam. Semua membuat kacau konsentrasi saya.

Mata saya kemudian tertumbuk pada sekelompok jama’ah dari Ethopia-Afrika. Masya Allah, mereka benar-benar hitam dan berpostur besar. Beberapa di antara mereka melambaikan tangan ke arah Masjid Nabawi sambil berlinang air mata. Beberapa memegang dada sambil menunduk dalam-dalam sambil menggigit ujung kerudung lebarnya yang berwarna-warni. Beberapa berdiri diam sambil menggigit bibir menahan tangis yang mau meluap. Tidak ada ekspresi sangar, tidak ada gerakan hendak menyerobot tempat, apalagi mau menginjak orang lain di sekitar. Mereka dalam formasi teratur sedang mengirimkan rindu lewat shalawat yang juga sampai di telinga saya. Rupanya mereka beberapa saat lagi akan meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Mereka, seperti saya, melakukan haji Tamattu’

Saya terpaku menyaksikan gerombolan ini. Segalam macam warning yang dibawa dari tanah air melayang jauh meninggalkan diri saya. Dalam kejap yang sedetik itu, pikiran saya berlari ke buku “Makna Haji” yang ditulis oleh Ali Syariati. Buku ini memang saya baca beberapa tahun sebelum berangkat ke tanah suci, bahkan saya membawanya ketika berhaji. Buku ini bukan buku fiqhi, buku ini menjelaskan makna filosofi ibadah haji. Disamping itu saya menaruh hormat pada Syariati karena mumpuni dalam ilmunya, betapa dia adalah seorang sosiolog Iran lulusan Sorbonne University, Perancis.

Ketika menjelaskan tentang Ka’bah (hal 41-53; 2002), Syariati menohok saya dengan pertanyaan “Hanya beginikah? Inikah pusat keyakinan, shalat, cinta, dan kematian?. Penjelasan tersebut berlanjut bahwa pada tiang ka’bah yang ketiga, terletak kuburan Hajar, ibunda Nabi Ismail. Di pangkuan Hajarlah Nabi Ismail di besarkan. Di bekas telapak kaki Hajarlah kita melalukan salah satu ritual wajib antara Shafa dan Marwa untuk bersa’i.
Dari buku Makna Haji saya kemudian lebih memahami keberadaan Hajar, seorang budak yang dari rahimnya lahir Nabi Ismail. Hajar ternyata adalah budak milik Sarah dari Ethopia, Hajar adalah perempuan hitam yang Allah muliakan dengan menempatkan kuburannya menyatu dengan Ka’bah (Hijir Ismalil). Thawaf kita menjadi batal jika kita tidak mengelilinginya juga. Thawaf kita menjadi tak berarti jika kita memotong jalan melewati lorong Hijir Islamil. Hajar adalah perempuan yang melahirkan Ismail yang darinya turun Nabi Muhammad. Hajar melambangkan transformasi peradaban. Hajar bermetamorfosa menjadi hijrah, sebuah momentum penting dalam perkembangan peradaban Islam.

Pikiran saya kembali menelisik beberapa literatur yang telah saya baca menjelang keberangkatan ke tanah suci, buku ini juga saya bawa ke haji. Salah satunya adalah Adversity Spiritual Quetient for Hajj yang ditulis oleh C.Ramli Bihar Anwar dan Haidar Bagir (2004). ASQ For Hajj mengajak saya memahami bahwa Tuhan tidak main-main dengan hukumNya. Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan ciptaanNya, termasuk aturan yang telah disyariatkan. Buku ini membuka mata saya tentang urutan rukun Islam. Padahal sejak kecil, sejak duduk di Sekolah Muhammadiyah jalan Permi saya telah tahu bahwa Haji adalah rukun Islam yang ke lima. Pemahaman saya tentang makna urutan tersebut menjadi benderang dari buku ASQ for Hajj ini.
Diterangkan kemudian, untuk sampai ke tanah suci jangan pernah berharap banyak jikalau kita belum menegakkan secara benar-benar empat rukun lainnya. Tidak usahlah berangan-angan ke haji, jika syahadat kita masih belum utuh, jika kita masih saja mensyarikatkan Tuhan Allah. Buanglah impian menjadi Haji atau Hajjah jikalau puasa kita masih sekedar menahan lapar dan haus, kalau kita masih meledak jika marah, kalau kita masih suka memanipulasi membuat pencitraan diri. Pupuskan cita-cita ke baitNya, jika kita masih bingung menghitung zakat.
Rupanya, Haji merupakan pendakian terakhir dari rukun Islam. Dalam ibadah Haji, semua rukun yang empat menyatu. Dalam perjalanan haji, bukankah kita senantiasa rindu shalat di mesjid Nabawi dan Haram? Bagaimana mungkin kita berhaji sementara shalat kita masih bolong-bolong?

Memang, menjalankan ibadah haji, tidak ada kewajiban puasa sebagaimana kewajiban shalat. Tetapi larangan yang berlaku di bulan puasa, terasa sekali ketika kita sedang ihram. Di bulan puasa, kita dilarang melakukan hubungan biologis di waktu siang hari, tetapi ketika kita berihram larangan ini berlaku bahkan malampun kita dilarang melakukannya. Puasa pada initinya membuat kita mampu menahan diri, menekuk ego, dan menahan diri terberat adalah saat ihram. Semoga Ihram jugalah diri saya kelak.
Zakat yang saya lakukan selama ini, tampaknya perlu diredefinisi lagi. Saya memahami zakat sebagai ungkapan kedermawanan, sebagai upaya meringankan beban orang lain. Tetapi ternyata, zakat tidak sekedar itu. Zakat adalah kesediaan untuk taat, kesediaan untuk tidak kikir. Terlebih lagi, zakat adalah kehawatiran ketika orang lain enggan menerima apa yang kita sampaikan. Dengan demikian zakat adalah bentuk pengikisan kesombongan diri.
Buku ASQ for Hajj meninggalkan penjelasan yang mengesankan bagi saya ketika penulisnya mendemonstrasikan kata yang dipakai untuk perintah haji. Qur’an menggunakan kata Aqimash Shalat (dirikan shalat), Atuz Zakat (tunaikan/bayarkan zakat), Kutiba ‘alaikumush Shiyam (diwajibkan kepada kalian berpuasa), maka khusus untuk haji Qur’an menggunakan Walillahi ‘alannaasi Hijjul Baita (Hanya karena Allah diwajibkan atas manusia mngerjakan haji).

Ustadz Quraish Shihab menjelaskan bahwa meskipun semua syarat sah ibadah adalah hanya karena Allah, namun yang tersurat dengan jelas adalah perintah haji. Inilah isyarat Qur’an bahwa haji adalah watak yang perlu kita kejar. Tanpa tendensi apa-apa. Saya memaknai perintah haji melalui Walillahi ‘alannaasi hijjul baita.. sebagai peringatan keras dari Allah untuk tidak berpongah setelah pulang melaksanakan ibadah haji. Agaknya Allah tahu bahwa manusia kerap menggunakan label haji-nya untuk menepuk dada, untuk menunjukkan derajat sosial, bahkan kerap sebagai atribut untuk merebut hati masyarakat ketika pemilu tiba. Haji kerap diseret memasuki ranah ekonomi dan juga politik. Peringatan ini hanyalah agar kita sampai pada titik mampu memaknai kata mabrur. Semogalah saya mabrur adanya.

Bacaan dari dua buku itu kemudian mengantarkan saya duduk menunggu Ashar di halaman mesjid Nabawi. Saya hanya kebagian tempat di halaman, karena Nabawi telah penuh. Ketika mata saya kembali memandang rombongan jamaah Ethopia-Afrika yang hitam legam dari jauh, pikiran saya kembali menyusun argumen. Hajar adalah budak hitam dari Ethopia, tidak berbeda dengan mereka ini. Dari rahim Hajarlah lahir Nabi Ismail, yang kemudian menurunkan Nabi Muhammad yang sangat saya rindukan dan kalau boleh saya junjung di atas kepala.
Mungkin hitamnya Hajar persis dengan hitamnya orang-orang ini. Mungkin ketidakrelaan saya berbagi tempat dengan mereka lantaran saya merasa lebih baik dan lebih layak dari mereka. Di manakah pemaknaan zakat saya? Padahal, tidak tertutup kemungkinan perjuangan mereka untuk sampai di Nabawi jauh lebih berat dari saya. Mungkin shalawat yang mereka sampaikan jauh lebih banyak dan lebih ikhlas dari saya. Ohoi..di mana saya letakkan muka untuk merasa hebat? Bagaimana mungkin saya menganggap remeh mereka ini?

Maka, sambil memegang dada, saya mengangkat wajah lurus-lurus ke depan, ke arah kiblat. Saya berbisik, “Allah, ampong (ampuni) beta jua yang beberapa waktu lalu pandang enteng (meremehkan) orang hitam, padahal justru dari rahim seperti itulah lahir Nabi Ismail leluhur Nabi Muhammad yang beta cinta dan beta junjung tinggi-tinggi. Ilahi.. tolong beta karja haji supaya akang seng salah***), Rabbi....ini beta, perempuan dari negeri yang tengah berkonflik…

sebuah catatan harian
1. beta = saya (bahasa Ambon)
2. Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang = Ingat, orang hitam itu sukanya nginjak tempat sujud (sajadah) kita, suka serobot tanpa ijin, mereka nggak tau adat”
3. Karja haji= melaksanakan semua rukun haji.
4. Seng = tidak

Madinah, 28 Desember 2004.

Faidah Azuz Sialana = Alumnus Faperta UNPATTI Ambon. Saat ini sedang sekolah pada program S3 Jurusan Sosiologi UGM Yogyakarta.

Catatan :
Tulisan ini pernah dimuat di AMEKS tahun 2009.

Tuesday, November 02, 2010

Hari ini, Setahun Kemarin

Hari ke-dua november. Well, ini sebenarnya hari yang bersejarah dalam setahun ini. Hari ini di setahun kemarin, adalah hari mengawali semua yang perlu kuukir dalam perjalanan panjang hidup.
Menjalani proses yang dimulai, apapun itu, ada beragam konsekuensi yang harus kita hadapi. Seperti kalimat yang pernah saya baca, bahwa ketika kita mengambil sebuah keputusan, saat itu kita telah menikahi konsekuensinya.

Begitupun saya, setahun lalu, ketika sebuah keputusan saya ambil dengan sadar, maka saat itu pula, ada konsekuensi yang harus saya tanggung. Konsekuensi yang kadang-kadang harus berdamai dengan banyak hal, berdamai dengan pikiran dan hati yang terkadang tak sejalan. Tapi, begitulah adanya.

Lantas apa yang membuat saya bertahan? dia bernama keyakinan. Satu keyakinan yang membuncah hebat di dada bahwa ini yang saya inginkan, ini yang terasa tepat untuk saya jalani. Tak mulus memang. Tapi apakah ada yang mulus di dunia ini? tidak ada, sungguh tidak ada. Keyakinan yang membuat saya bertahan dalam menjalani sebuah keputusan penting untuk pada masanya, ada keputusan maha penting yang harus saya ambil.

Hari-hari ini adalah hari untuk terus meneguhkan langkah, untuk terus memperbaiki apa yang harus diperbaiki, agar pada saatnya nanti, ketika sebuah langkah harus saya ambil lagi, saya akan dengan tersenyum mengambil langkah itu.

Monday, November 01, 2010

hari baru di awal minggu, awal bulan

tanggal 1. bulan 11.
Adakah yang istimewa? secara khusus tidak ada. tapi di hari baru ini ada satu janji yang saya buat yaitu satu postingan tiap hari. minimal di bulan november ini, target 30 postingan bisa terealisasi..

oke, ini postingan pertama saya. malam sudah mendekap namun belum tahu ingin menulis apa. hari ini diawali dengan cerita perjalanan mengawal sebuah PERDA.

Banyak yang terungkap. tak mungkin cerita disini.. yang pasti, ada sebuah kesimpulan bahwa agak sulit berhubungan dengan para wakil rakyat yang lebih memposisikan diri sebagai wakil partai. belum lagi ketika integritas mulai diragukan.

malam makin dingin, tapi saya tetap menghangatkan harapan bahwa apa yang kini sedang diupayakan bersama atas nama rakyat dapat tuntas dengan baik.

piru,malam,dingin, 0111'10

Tuesday, October 26, 2010

Tulisan Entah

hampa..
kosong..
gersang..
sudahlah...

pergilah,
demi hati yang kau jaga
demi jiwa yang kau rindu
demi mimpi yang kau bangun

bahagialah

Sunday, October 24, 2010

Galau

galauku adalah bentangan resah yang kian menajam.
pada bayang yang tak jua menjadi nyata.
ubahmu adalah isyarat jiwa yang gersang.

aku hilang kata.
aku hilang marah.
tak lagi peduli pada sekitar.
embun tak kurasa sejuknya, panas tak kurasa sengatnya, hujan tak kurasa dinginnya.

aku memilih damai dengan hatiku...
yang kini sedikit demi sedikit berlubang.
menganga dan tak terobati.

diamku adalah sentuhan lembut jiwa.
pada beragam kenangan yang menjalar.
tak resah, tak gelisah.
aku terdiam..

~tanjung kuako,24 okt 10~

Wednesday, August 25, 2010

Sampe Jua Basudara eee.....

Beta skarang ni mo stori sadiki tentang apa yang ada biking beta hati garu-garu. Beta kira samua ni su selesai. Oke, beta tau balom sepenuhnya selesai tapi paleng kurang ada tado sadiki. Sampe tadi pagi waktu beta bilang mau pulang ka Luhu lewat darat dari Piru, ada yang larang. Dong bilang, kemaren ada kejadian lai. Jang beta bilang lai kejadiannya apa dan dimana karena bukan itu inti yang bikin beta galisah.

Beta cuma mo tanya par dong samua, apa yang bisa katong bikin supaya katong bisa maso kaluar kombali deng bebas. Beta seng mau bicara sejarah, seng mau bicara fakta. Karena beta seng tau dari sejarah yang beta dengar, dari carita dolo dolo yang orang orang bacarita, beta seng tau mana yang benar mana yang salah.Dan kalo pun dapa tau sapa yang benar dan sapa yang salah, lalu mo apa? Yang beta deng katong samua parlu itu kan cuma damai jua basudara eee......

Beta orang Luhu, tapi Iha tu jua beta pung negeri. Kalo tarus bagini jua, beta sedih. Lalu sapa yang sanang par akang? Orang Iha deng Luhu kalo mo ka Piru, musti ka Ambon dolo. Atau pake katinting ka Katapang atau Lokki, kalo mo nekat, musti pake pengawalan brimob. Sioooo, seng siksa diri itu?

Itu saja yang beta pastiu deng akang. Jang katong cari salah deng batul lai. Jang katong inga dolo dolo lai. Katong pikir skarang jua, katong saling butuh, katong saling parlu. Buka diri jua. Baku kasi maaf jua. Jang tunggu satu minta maaf lai, maar sama sama kasi maaf jua. Jang katong baku batahang deng model bagini. Katong sandiri yang susah, bukan orang laeng. Voor basudara basudara yang baca catatan ini, beta yakin katong samua rindu par bale bae-bae ulang. Memang katong seng rasa akang dampak langsung tapi yang rasa langsung tu katong basudara di hena yang akang nama "saki di kuli, rasa di daging".

Bilang par katong orang tatua, katong basudara di hena, jang katong baku tahang gengsi lai, jang baku tahang ego lai. Masa katong mo wariskan dendam, wariskan permusuhan par ana cucu. Gara-gara katong skarang, anana kacil di hena sana seng bisa skola bae-bae, abis itu, beso-beso dong bale musti lanjutkan katong pung baku tar suka ini lai. Katong seng mau bagitu to.

Jadi mari katong bapikir bae-bae jua, katong bisa apa par bikin bae negeri ini deng cara paleng sederhana yang katong bisa. Supaya apa? Supaya samua sanang. Beta cuma rindu bisa pi ka Luhu kombali deng sanang, seng ada was-was. Lalu sampe Luhu, beta bisa pi maeng maeng ka Iha, beta pung negeri lai. Mangente beta pung basudara Waliulu di Iha, basudara Putuhena, basudara Pattiiha, basudara Pikahulan, basudara Samal, basudara Kaisupy, beta pung basudara samua di negeri Iha.

Sunday, August 08, 2010

Ahad dan Rindu

Ahad ini aku merindu
Pada gelak tawa mereka
Yang memudahkan hari-hariku
Yang menjadikanku jiwa yang riang

Ahad ini aku merindu
Pada raut senyum mereka
Yang mencerahkan hariku
Yang menjadikanku jiwa yang lembut

Ahad ini
Aku merindu tangis mereka
Saat ada selip khilaf dan upaya renovasinya
Yang mengajarkanku indahnya persaudaraan dalam islam
Yang menjadikanku jiwa penyayang

Saudaraku,
Lingkar cinta itu kurindu dalam setiap detak jantungku
Disini, kumiliki lingkar cinta yang lain
Tapi lingkar bersama kalian
Adalah lingkar yang kurindui setiap masa

Canda kita setiap pekannya
Adalah penawar dari seluruh rutinitas yang kadang penat
Tawa bersama kita
Adalah obat atas segala sakit fisik maupun raga

Kini,
Beda dunia kita jalani
Beda tempat kita diami
Beda lingkar cinta kita selami
Namun aku percaya
Itu tak merubah lingkar yang kita punya
Karena lingkar itu masih ada
Ia hanya melebar

*terkirim ukhuwah dari bumi raja-raja, Ambon Manise*

8 Agustus 2010
^catatan sepulang Dauroh Tarkiyyah^

Saturday, August 07, 2010

Hujan dan Senja

Senjaku hujan disini
Bagaimana dengan senjamu?
Jika ia hujan, adakah kau merinduku?
Seperti aku yang merindumu
Sambil mencumbui hujan

Senjaku dingin
Bagaimana senjamu disana?
Jika dingin pula disana, adakah kau mengingatku?
Seperti aku yang mengingat hangatmu
Penawar dinginku disini

Hujan ini centil,kecil dan menggoda
Tapi aku suka
Karena di titik air centil itu
Kukirimkan sebuah nada
Nada yang hanya bisa didengar sang perindu
Nada yang hanya bisa dinikmati sang dirindui

Hujan dan engkau,
Dunia kecilku yang selalu penuh cerita
Engkau dan hujan,
Adalah tawa dan rinduku

~senja yang basah~
7/8/10

Friday, August 06, 2010

Sajak pagi

Pada semesta raya
Didendangkan segala rupa kata
Menjadi ada dalam rumpun cinta
Menyatu dalam gelak tawa

Tak seberapa memang rupa
Saat semua berpadu di antara jejaring cinta
Tak peduli kemana nyiur itu melambai
Dan pada apa lambaian tertuju

Lihat di batas senja itu
Meski gelap menjelang
Namun emasnya tetap perkasa
Ini dia dalam nyata dan beku meski meragu

Sunyi itu kawan
Bukan disana atau di dia
Tapi ada di sini, di dadamu
Maka putuskanlah untuk mengusirnya
Jangan bersahabat dengannya

Dedaunan luruh hening dalam lembut embun
Tinggal kau pilih, nikmati embun atau terpaku pada daun

Thursday, August 05, 2010

Hidup ini sulit, singkat tapi indah


Pagi ini dengar berita kok semakin banyak yang menyayat hati.
1. Seorang ibu membunuh bayi yang dilahirkan 17 juli lalu, putri ketiganya. Alasan : tidak siap punya anak lagi. Busyet dah, alasan apa pula itu? Kalo gak siap, ya jangan bikin. Kalo gak siap dan tetap mau bikin, liat sikon, lagi (maaf) subur apa tidak.
2. Seorang bayi berumur 1 (satu) hari ditemukan dalam kardus di jembatan. MasyaAllah, apa pula ini? Satu hari usianya sudah dibuang? Dimana nurani seorang ibu membuang anaknya begitu rupa?
3. Seorang ibu mengajak 2 orang anaknya untuk bunuh diri karena sudah tak sanggup membayar hutang 3 juta tiga tahun lalu, yang sekarang jadi 21 juta. Ia mengajak anaknya bunuh diri karena khawatir kalau bunuh diri sendirian, tidak ada yang mengurus anaknya. Astaghfirullah, dimana konsep rezeki di tangan Allah, dimana penghambaan yang bertawakkal dan berusaha?

Siapa yang bilang hidup ini mudah? Hidup tidak mudah, hidup itu sulit. Tapi Allah memberikan kesulitan bukan tanpa menyediakan kemudahan kita menyelesaikan. Bunuh diri, buang anak tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Karena lari dari masalah bukan berarti meniadakan masalah, hanya menangguhkan masalah untuk suatu saat tetap harus dihadapi. Menghadapi masalah adalah satu satunya jalan untuk keluar dari masalah tersebut.

Tak ada manusia yang tak punya masalah, tapi begitu pula dengan tak ada manusia yang tak diberi akal dan pikiran. Menghambalah dan berusahalah. Hidup ini sulit, singkat, tapi indah.

Wednesday, August 04, 2010

Hidup ini singkat

Sudah lama tidak berkunjung di blog sendiri. Rasanya berdosa sama blog. Padahal dulu selalu dijenguk setiap hari. Berkali-kali bilang kangen nge-blog tapi selalu saja terulang. hah, dasar geblek.

Kali ini mo bahas apa ya?
oiya, bahas hati dan kehilangan saja deh.
2 minggu yang lalu, teman sekaligus sahabatku kehilangan papanya. sebulan jelang Ramadhan tentu bukan hal yang mudah menerima. Sejak pertama mendengar berita itu, dan hingga saat ini saat jari beradu dengan tuts keyboard pun, perih ini masih terasa. Ditinggalkan orang tua di kala jelang hari-hari dimana keluarga terasa begitu dekat. Saat dimana kebersamaan dengan keluarga adalah hal yang tak bisa digantikan oleh siapapun. Begitulah, takdir kematian yang tak bisa diundur atau dimajukan.

Belum sembuh perih ini, pagi ini kembali dikagetkan oleh berita kepergian. Adik, tetangga lama dalam status fesbuknya mengatakan bahwa ibu mertua dipanggil Allah hari minggu lalu, 10 hari sebelum Ramadhan. ah, kembali berderai. Bisakah kuat menghadapi?

Orang-orang yang kita sayang, bahkan diri kita sendiri bisa pergi kapan saja. tak pernah ada pemberitahuan sebelumnya. Bahkan ketika kita bisa memasuki Ramadhan pun, tak ada jaminan kita bisa sampai di ujung Ramadhan. Tak pernah ada "baik-baik" saja pada sebuah kehilangan. Hanya bagaimana cara kita mempersiapkan diri pada setiap kehilangan yang bisa datang kapan saja.

Ramadhan ini semakin dekat, tapi masih banyak hati yang membenci, yang mendengki, yang marah, yang tak bisa memberi maaf, yang tak mau meminta maaf. Padahal hidup ini singkat, lalu kenapa harus membenci? Sebesar apapun kesalahan seseorang, selalu saja bisa dimaafkan dan diberi kesempatan lagi. Setidaknya berbicaralah dari hati ke hati.

Postingan ini entah tentang kehilangan atau kematian. Yang jelas, ini tentang bagaimana tetap membangun hubungan baik dengan semua orang agar kelak memasuki Ramadhan dengan sempurna, agar kelak ketika orang yang bersinggungan dengan kita dipanggil oleh Allah, atau jika kita sendiri yang dipanggil oleh Allah, tak ada lagi penyesalan tentang kusutnya hubungan sesama manusia.

Berbaikanlah wahai semua.....