Postingan ini berangkat dari kekagetan sekaligus kesedihan saya atas sesuatu yang sedari dulu meresahkan.
Berawal ketika pada sabtu sore 29 januari 2011, saya bersama si bapak ke studio foto di a.y patty repro pas photo. Begitu masuk, saya hampiri cewek yang berada di balik peralatan kerjanya. Dia menyapa saya duluan. Ramah sih tapi begini dia memanggil saya :
cewek : bagaimana mbak?
saya yg lgsg shock : usi, dong bisa repro pas photo seng? beta foto ni seng tau akang CD dimana lai
cewek : o bisa, mo ukuran brapa?
dst percakapan biasa plus transaksi...
itu kejadian pertama. Kejadian kedua di hari minggu kemarin, saya kembali ditemani si bapak ke travel di daerah Kudamati tempat tiket saya dipesankan. Setelah masuk,seperti ini obrolannya.
saya : abang, mo ambe tiket do atas nama febry
abang : ~mencari di laci meja~ ini tiketnya. ini tiket berangkat. ini tiket balik.
saya : ~melihat lihat tiket~ oke. brapa jadinya?
abang : ~ambil kalkulator, mencet mencet dan menunjukkan angkanya ke saya~
saya : ~sodor duitnya~ makasih e abang
abang : sama sama mbak.
catat itu. sama sama mbak.
Saya lantas teringat saat di studio photo dan bertanya dalam hati, ini saya lagi di Ambon kan? yang saya temui kemarin dan hari ini juga orang Ambon kan? Lalu kenapa bukan panggilan Caca yang dipakai?
Ini bukan soal sukuisme, apalagi tentang fanatik suku berlebihan. Bukan, sama sekali bukan. Ini cuma kegelisahan seorang mungare Ambon yang merasa tergerus oleh hal seperti ini. Jujur, saya terhenti lama setelah kata oleh tadi, tak tau menggambarkan fakta ini dengan istilah apa. Jika ada orang Jawa yang memanggil saya 'mbak' di tanah Ambon, saya merasa 'terjajah'. Apalagi oleh orang Ambon, di tanah Ambon, saya tidak bisa menggambarkan perasaan yang berkecamuk selain kecewa dan sedih.
Teringat seorang rekan kerja di Jakarta sana, dalam setiap rapat, dia cukup memanggil kami dengan nama karena memang usiany lebih tua. Namun kalau dengan satu rekan lagi yang lebih tua dari dia dan berasal dari Maluku Utara, dia panggil dengan sebutan kak. Dan menurut pengakuannya adalah karena dia tidak mau menjajah dengan panggilan 'mbak'. Salam salut saya untuk beliau.
Saya tidak melarang saudara saudara Jawa kita memanggil kita 'mbak'. Tapi kita yang notabene Ambon, hidup dari sagu dan ikan bakar colo colo, jang iko iko lai sodara. Panggel Caca deng Abang jua.
Ini belum menjadi hal yang dominan memang dan itu patut diapresiasi. Di lorong lorong pasar, di atas angkot, di toko toko kecil, di warung warung, masih dan selalu didengar sapaan 'caca' 'abang'. Tapi di sektor sektor seperti travel dan sebangsanya, kadang kadang 'mbak' yang dipakai. Pernah saya melakukan transaksi di travel via telpon, sepanjang pembicaraan, saya terus disapa 'mbak' padahal saya berkali kali manggil lawan bicara saya itu dengan 'caca' ditambah dengan logat Ambon manta manta.
Begitulah catatan kecil saya tentang kegelisahan. Terus terang, telinga dan darah Ambon saya tidak nyaman.
Monday, January 31, 2011
Thursday, January 27, 2011
(84) Jangan Biarkan Nuranimu Mati

Beberapa hari ini status fesbukku rada-rada keras. Beberapa teman sempat sms terkejut dengan status-status itu. sebenarnya itu status biasa. banyak yang lebih keras, cuma mungkin karena saya jarang begitu maka heranlah kawan-kawan saya.
kenapa saya mesti malu tidak lebih hebat dari dia, kalo dia bisa sehebat itu karena mental bobrok. ukuran hebat bukan dari rumah gedongan kayak hotel itu bung. daripada punya rumah sebesar gedong tapi setiap orang yang melewati malah mencibir. dimata saya, dia tak lebih kerikil di telapak sepatu saya (26 januari)
dikau petantang petenteng borju di depanku trus berpikir saya mau salut gitu? salah orang kau bleh, letakmu tetap di bawah telapak sepatuku. gak ngefek jual harta yang hasil rampokan itu. untuk jadi kayak skarang, dikau tidak dengan perjuangan tapi penindasan terhadap hak rakyat. dan apakah saya iri? apakah saya merasa kalah? TIDAK... SAMA SEKALI TIDAK (masih 26 januari)
si rakus beraksi lagi. eling, eling, bukan hak jangan dimakan. kebanyakan makan bisa sakit perut. jadi orang gak usah kemaruk-lah. apalagi bukan punya sendiri. masak sih ndak punya malu? (27 januari)
ini semua terlintas manakala kami melewati sebuah rumah dan salah seorang rekan sibuk ber-ckckckck melihat kemewahan rumah itu. Padahal sudah jadirahasia umum-lah tentang trek rekor si empunya rumah. sampai disini gak ada masalah sih sebenarnya. Nemnun begitu salah seorang rekan bilang "kalah kamu bhy. dia lebih hebat berarti, lebih jago".
Maka saya pun mau muntah. Kalah? Siapa yang kalah? siapa yang lebih? Ngapain saya mesti minder untuk harta panas itu? kenapa saya mesti malu kemana mana naik ojek dibandingkan dia yang terlindungi manis dari debu dan panas hujan di balik mobil mewahnya. Dia yang kalah. Coba tanya dia, dengan mobil mewahnya dia, sudahkah dia ke Dusun Melati nun jauh disana? Tanya dia, sudahkah dia menikmati ikan bakar dipulau Tatunai? Tanya dia, sudahkah dia menangis bersama masyarakat di malam dingin? Tanya dia, sudahkah dia bercanda sambil minum kopi di tepi pantai dengan masyarakat? Tanya dia, sudahkah dia seranjang dengan masyarakat desa yang jauh disana yang tak dikenal? Tanya dia, sudahkah dia tertawa bersama tanpa ada perbedaan strata dengan mereka? Tanya dia, sudahkah dia hampir didemo massa karena mengusung perdamaian? Tanya dia, pernahkah makan bersama para masyarakat sebagai sesama manusia bukan sebagai penjilat? Tanya dia sana.
Saya bangga naik ojek lalu sibuk menyapa dan disapa orang orang. Daripada dia yang naik mobil tetapi tak tahu bahwa setiap dia lewat, semua memicingkan mata mengelengkan kepala dan beristighfar tak ingin serupa dengannya. Duh,saya tak punya iri untuk hal-hal seperti itu. Sombong itu cuma milik Allah. itu selendangnya Allah. Mana bisa kita bawa kemana-mana.
Apa yang menjadi tanggungjawab kita sekarang, itu bukan punya kita, kawan. itu punya rakyat. Milik rakyat itu, gak bisa kita seenak jidat berbuat lalu kita sibuk pula menyengsarakan mereka. Cobalah sesekali berjalan bersama mereka, lihat bahwa apa yang kamu rasakan sekarang, betul-betul ironi dengan apa yang mereka rasakan. Masih bisakah kau tersenyum kawan?
Akuyakin, kau tidak bahagia. Hidupmu tak tenteram. Tidurmu tak nyenyak, makanmu tak enak. Saya, meski sagu dan kacang masih jadi pengganjal perut, tapi tidurku tanpa beban. Saya masih bisa tegak berhadapan dengan masyarakat dan berjabatan tangan tanpa menundukkan muka malu atau mengangkat wajah angkuh. Belum terlambat sebenarnya. Saya tidak pandai bicara undang-undang. Saya pun tak pandai menggunakan ayat-ayat suci. Saya hanya ingin mengetuk nurani. Bahwa senyummu saat ini adalah duka banyak jiwa. Raba hati (kalo masih ada), dan tanyakan padanya, benarkah adanya apa yang kamu jalani sekarang? Tak perlulah mencoba hebat di mata manusia, di mata penguasa, tak perlu. Cukuplah jadi hebat untuk dirimu sendiri, keluargamu, masyarakatmu. Tak perlu berlomba-lomba mewah kalau didapatkan dengan menindas banyak hak orang lain. Tak perlu kawan, jangan.
Pakailah nurani. Pakailah hati. hanya nurani yang bisa selamatkan Indonesia, selamatkan dunia.
nb : gambar hasil pencarian gugel, nemunya di samaggi-phala.or.id
Label:
#365 day blog project,
Ambon,
Catatan Hati,
Kerjaan
Friday, January 21, 2011
(78) Energi Berpikir Positif
dulu.. dulu waktu jaman STM, ada masa dimana saya benar-benar hidup dalam lingkaran positif thinking. Padahal saat itu hidup lebih berat, tekanannya lebih dahsyat. Banyak hal yang tidak bisa saya terima dengan akal sehat apalagi hati. Konflik batin ada tiap hari dan bom dalam kepala bisa meledak kapan saja. Namun karena saat itu saya memutuskan berpegang pada pikiran positif, semua jadi lebih mudah. Saya tidak gampang marah. rasanya apa yang saya hadapi itu selalu bisa diambil hikmahnya, selalu bisa diterima alasannya, saya jalani dengan mudah.Semakin kesini, selepas kuliah dan sudah mengenal dunia baru, dunia kerja, dimana saya bertanggungjawab penuh pada diri sendiri, energi positif itu mulai berkurang. Mungkin karena saya menentukan apa apa sendiri, ego lebih keluar. Apa-apa maunya didengar. Juga mungkin disebabkan kedekatan saya dengan Allah melonggar. yah, masa-masa yang suram buat saya. Hati jadi lebih cepat kesal, ada rekan yang "lambat", langsung ngomel, makanan di warung gak pas, langsung protes, macam-macam. seringkali emosi tak terkontrol dan seringkali pula tercengang, seperti tak kenal diri sendiri.
Nah, sampailah di tanggal 1 Januari 2011 lalu, ketika saya dihadapkan pada sebuah masalah hati yang implikasinya buat saya lebih pada perenungan spiritual, lebih pada mengenal lagi siapa saya sekarang, bagaimana keadaan diri saya sekarang. Lalu, saya merindukan momen itu. Momen positif yang pernah begitu lekat. Saya putuskan untuk kembali bersahabat dengan positif, dan hari itu juga, masalah hati pun terselesaikan.
Well, sampai di sepuluh hari terakhir di bulan Januari ini, positif masih menemani saya kemana-mana. Dan luar biasanya, semuanya jadi lebih mudah. Hati jadi lebih ringan, dan enteng terus otak saya. Saya jadi lebih punya semangat dan emosi tidak terbuang percuma untuk hal-hal sederhana. Senyum pun bisa terus saya sanding. Semoga saya bisa menikahi positif ini selamanya.
Guys, be positive.
nb : gambar hasil pencarian mbah gugel, diambil dari tim69.blogspot.com
Label:
#365 day blog project,
Ambon,
Blogger,
Catatan Hati
Thursday, January 20, 2011
(77) Pagar Baru
15 hari tanpa postingan. waktu yang lama sekali. padahal di 15 hari kemarin banyak kejadian banyak hikmah yang harusnya bisa saya bagi..
Mmmm...jadi skarang mau tulis apa ya? hujan terus saja mengguyur tapi alhamdulillah turunnya setelah seluruh pagar ter-cat dgn rapi. tentang pagar, rumah di tempat tugas ini sudah dipagar setelah hampir 4 tahun tinggal disini. dan senangnya adalah pagar ini bisa berdiri dan di-cat karena persahabatan dan persaudaraan saja..
setelah beli material, saya belum punya dana lagi untuk nyari tenaga. tapi disinilah indahnya tinggal di Ambon. laeng lia laeng. dimulai dari basudara dari Luhu yang dinas di piru, mereka butuh 3 sore,sepulang kerja untuk mendirikan pagar keliling setengah rumah.
dan setengahnya lagi diteruskan oleh teman teman nongkrong kakak yang menyebut diri mereka anak anak Mutel (Muka Terminal). Sepulang gereja,sekitar 12an orang datang di hari minggu kemaren dan mulai bekerja dipenuhi canda tawa.
2 hari terakhir ini, saya dan iwan, ojek langganan yang sudah seperti saudara sendiri, memberikan sentuhan akhir dengan cat. untuk itu semua, tak ada dana lebih yang saya keluarkan. cukup bakwan atau pisang moleng, atau es teh kalo panas dan rokok bagi yang request.
baik bener mereka mau capek capek tapi mereka senyum dan tidak menganggap ini pekerjaan. bahkan katanya kalo tau tau pagar jadi tanpa mereka, mereka malu kalo ke rumah nanti. duh,baiknya.
untuk semua bantuan, terimakasih. biar Allah sahaja yang membalas kebaikan kalian. kalian baik, baik sekali..
Mmmm...jadi skarang mau tulis apa ya? hujan terus saja mengguyur tapi alhamdulillah turunnya setelah seluruh pagar ter-cat dgn rapi. tentang pagar, rumah di tempat tugas ini sudah dipagar setelah hampir 4 tahun tinggal disini. dan senangnya adalah pagar ini bisa berdiri dan di-cat karena persahabatan dan persaudaraan saja..
setelah beli material, saya belum punya dana lagi untuk nyari tenaga. tapi disinilah indahnya tinggal di Ambon. laeng lia laeng. dimulai dari basudara dari Luhu yang dinas di piru, mereka butuh 3 sore,sepulang kerja untuk mendirikan pagar keliling setengah rumah.
dan setengahnya lagi diteruskan oleh teman teman nongkrong kakak yang menyebut diri mereka anak anak Mutel (Muka Terminal). Sepulang gereja,sekitar 12an orang datang di hari minggu kemaren dan mulai bekerja dipenuhi canda tawa.
2 hari terakhir ini, saya dan iwan, ojek langganan yang sudah seperti saudara sendiri, memberikan sentuhan akhir dengan cat. untuk itu semua, tak ada dana lebih yang saya keluarkan. cukup bakwan atau pisang moleng, atau es teh kalo panas dan rokok bagi yang request. baik bener mereka mau capek capek tapi mereka senyum dan tidak menganggap ini pekerjaan. bahkan katanya kalo tau tau pagar jadi tanpa mereka, mereka malu kalo ke rumah nanti. duh,baiknya.
untuk semua bantuan, terimakasih. biar Allah sahaja yang membalas kebaikan kalian. kalian baik, baik sekali..
Label:
#365 day blog project,
Ambon,
Cerita,
Maluku,
Sahabat
Wednesday, January 05, 2011
(62) cerah ceria
rabu ceria
dia disana
menyapa dengan renyah tawa
juga senyum selaksa
rabu indah
berbunga bunga
penuh cinta
pada semua memori
rabuku berseri
dia disana
menyapa dengan renyah tawa
juga senyum selaksa
rabu indah
berbunga bunga
penuh cinta
pada semua memori
rabuku berseri
Tuesday, January 04, 2011
(61) sunyi.
hari ini sepi. di rumah agak sunyi. di kantor tidak ada orang. kantor tetangga juga yang datang bisa diitung dengan satu tangan itupun tidak habis. efek taun barukah? liburnya panjaaaaang dan lamaaaaaa.
padahal kabupaten Seram Bagian Barat, tempat saya berasal dan kini mengabdi mau ulang tahun 3 hari lagi. kok belum ada nuansa nuansanya. biasanya para pejabat atau yang ngebet jadi pejabat suka eksis dengan baliho narsis. tapi kenapa baliho slamat ultah buat kabupaten belum ada? masih aja ucapan natal dan taun baru. naga-naganya memang tidak ada nih.
ya, terserah deh dimana mana sunyi. yang penting hati ini tidak ikut sepi..
padahal kabupaten Seram Bagian Barat, tempat saya berasal dan kini mengabdi mau ulang tahun 3 hari lagi. kok belum ada nuansa nuansanya. biasanya para pejabat atau yang ngebet jadi pejabat suka eksis dengan baliho narsis. tapi kenapa baliho slamat ultah buat kabupaten belum ada? masih aja ucapan natal dan taun baru. naga-naganya memang tidak ada nih.
ya, terserah deh dimana mana sunyi. yang penting hati ini tidak ikut sepi..
Monday, January 03, 2011
(60) Kita dan Pagi
Pagi ini kita jemput bersama. seolah menggambarkan tekad kita yang baru. sinar mentari tersenyum pada kita yang bercanda di bibir pantai sembari melihat ikan ikan berkejaran.
pagi ini adalah harapan baru. pada hati hati kita yang juga baru. menyulam mimpi, merajut masa depan bersama.. kita dan pagi ini adalah satu.
terimakasih atas pagi yang indah ini, Tuhan. semoga aku, dia, dan pagi bahkan senja akan selalu satu
~Samandar, 3 jan 11~
pagi ini adalah harapan baru. pada hati hati kita yang juga baru. menyulam mimpi, merajut masa depan bersama.. kita dan pagi ini adalah satu.
terimakasih atas pagi yang indah ini, Tuhan. semoga aku, dia, dan pagi bahkan senja akan selalu satu
~Samandar, 3 jan 11~
Sunday, January 02, 2011
(59) semoga kau tahu
tahukah kamu
bahwa hari ini aku berganti warna
dari mendung menjadi pelangi
tahukah kamu
bahwa hari ini aku berganti ekspresi
dari murung menjadi senyum
tahukah kamu
hari ini aku kembali hidup
pada tatapan tajam yang baru saja membunuh
kau harus tahu
karena semua karena kau penyebabnya
bahwa hari ini aku berganti warna
dari mendung menjadi pelangi
tahukah kamu
bahwa hari ini aku berganti ekspresi
dari murung menjadi senyum
tahukah kamu
hari ini aku kembali hidup
pada tatapan tajam yang baru saja membunuh
kau harus tahu
karena semua karena kau penyebabnya
Saturday, January 01, 2011
(58) ada yang baru
postingan pertama di 2011. hari ini sama seperti hari hari kemarin. tidak ada pesta kembang api, sama seperti tahun tahun kemarin. buat saya, memang tak perlu dirayakan karena memang tak ada yang berbeda. semangat baru, harap baru, keinginan baru, itu harus direvisi tanpa perlu menunggu momen pergantian tahun.
sebenarnya semalam ada rencana berkumpul lagi dengan rekan rekan blogger maluku bakar bakar jagung di kompleksnya mas mamung, bahkan nia sudah siapkan spagheti tapi ujan gak berenti. cuma gerimis sih, tapi cukup menghambat semangat keluar rumah saya. enakan mlingker di atas tempat tidur, ditambah suasana hati yang semalam masih saja sedih. jadilah malam pergantian tahunku ditemani airmata. tapi saya sudah bisa menikmati butir butir hangat ini. membersihkan luka..
hari ini seperti sabtu sabtu yang lalu, wiken di rumah yang hangat ditemani wajah innocent ponakanku naya tersayang. lalu datanglah sebuah harap baru. setitik cahaya mentari yang mengusir sedikit mendung. ya, sedikit saja tapi tak mengapa. selanjutnya adalah doa yang berkepanjangan, doa yang tak putus. semoga takdir yang akan berlaku nanti adalah ketetapan yang akan dengan ikhlas kujalani.
apa yang terjadi di 2010 ada bahagia, ada duka, ada hikmah, ada banyak kisah. banyak bahagianya, dan untuk setiap kejadian apabila ada syukur maka pasti bahagia saja jadinya. ikhlas dan sabar. penting sekali untuk menjalani hidup.
dan jika di taun 2010 ada sukses yang teraih. maka yang terbaik itu ada di masa depan. jadi harus tetap semangat berkarya untuk membuat sekecil apapun perubahan baik pada hidup kita, dan orang orang di sekitar kita.
sebenarnya semalam ada rencana berkumpul lagi dengan rekan rekan blogger maluku bakar bakar jagung di kompleksnya mas mamung, bahkan nia sudah siapkan spagheti tapi ujan gak berenti. cuma gerimis sih, tapi cukup menghambat semangat keluar rumah saya. enakan mlingker di atas tempat tidur, ditambah suasana hati yang semalam masih saja sedih. jadilah malam pergantian tahunku ditemani airmata. tapi saya sudah bisa menikmati butir butir hangat ini. membersihkan luka..
hari ini seperti sabtu sabtu yang lalu, wiken di rumah yang hangat ditemani wajah innocent ponakanku naya tersayang. lalu datanglah sebuah harap baru. setitik cahaya mentari yang mengusir sedikit mendung. ya, sedikit saja tapi tak mengapa. selanjutnya adalah doa yang berkepanjangan, doa yang tak putus. semoga takdir yang akan berlaku nanti adalah ketetapan yang akan dengan ikhlas kujalani.
apa yang terjadi di 2010 ada bahagia, ada duka, ada hikmah, ada banyak kisah. banyak bahagianya, dan untuk setiap kejadian apabila ada syukur maka pasti bahagia saja jadinya. ikhlas dan sabar. penting sekali untuk menjalani hidup.
dan jika di taun 2010 ada sukses yang teraih. maka yang terbaik itu ada di masa depan. jadi harus tetap semangat berkarya untuk membuat sekecil apapun perubahan baik pada hidup kita, dan orang orang di sekitar kita.
Label:
#365 day blog project,
Ambon,
Catatan Hati,
Cerita,
Kita
Friday, December 31, 2010
(57) aku mundur
hari terakhir di 2010.. dan aku masih saja menyeka sisa sisa airmata. masih mengeja irama batin yang sendu, gelap dan terasing.
malam ini adalah malam kesekian aku membangun kekuatanku kembali. mengais remeh remeh semangat. menjajaki senyum yang baru dalam hampa.
duka ini mengikatku sebegitu rupa. menyiksa hingga kosong sudah segala rasa. mendera di ujung hingga pangkal hati. dalam gulita di hutan.
pada titik ini, aku telah menyerah kalah. kupasrahkan apa takdir membimbingku. hatiku kering, terkoyak hingga tak lagi memberi arah.. pada titik ini, aku terjatuh. lesu tak bertenaga dalam kepingan tak berongga. aku menyerah. aku tak lagi sanggup bertahan. aku mundur.
malam ini adalah malam kesekian aku membangun kekuatanku kembali. mengais remeh remeh semangat. menjajaki senyum yang baru dalam hampa.
duka ini mengikatku sebegitu rupa. menyiksa hingga kosong sudah segala rasa. mendera di ujung hingga pangkal hati. dalam gulita di hutan.
pada titik ini, aku telah menyerah kalah. kupasrahkan apa takdir membimbingku. hatiku kering, terkoyak hingga tak lagi memberi arah.. pada titik ini, aku terjatuh. lesu tak bertenaga dalam kepingan tak berongga. aku menyerah. aku tak lagi sanggup bertahan. aku mundur.
Thursday, December 30, 2010
(56) masih pahit
senda gurau telah usai
pada angkuh diri yang tiba tiba datang
di deretan pahit yang terhampar ramai
dalam jelaga perih terpasung
kau tawarkan sebaris guratan ceria
pada hati yang mulai menyerah
dan guratan itu sempat bahagia
walau akhirnya kalah
bukan pribadi
bukan waktu
hanya keadaan tidak menjadi lebih baik
begini begini saja lalu memburuk
sementara istana pasir yang kubangun dengan tanganku sendiri
belum sempat kubuat bentengnya
air pasang menyapanya
mencumbu dalam sepi
pada angkuh diri yang tiba tiba datang
di deretan pahit yang terhampar ramai
dalam jelaga perih terpasung
kau tawarkan sebaris guratan ceria
pada hati yang mulai menyerah
dan guratan itu sempat bahagia
walau akhirnya kalah
bukan pribadi
bukan waktu
hanya keadaan tidak menjadi lebih baik
begini begini saja lalu memburuk
sementara istana pasir yang kubangun dengan tanganku sendiri
belum sempat kubuat bentengnya
air pasang menyapanya
mencumbu dalam sepi
Wednesday, December 29, 2010
(55) catatan senja
ini tentang keruh yang tengah mendiami rongga batin. membuyarkan kenangan yang sempat dijalin sebagai harap. ini pula tentang buram yang sedang menari dalam kertas kehidupan.
pada pucuk pelangi kutitipkan sekantung tangis. agar hilang saat matahari mulai menyapa. kini biarkan aku dalam sendu. pada hujan yang menambah syahdu. dan sepi yang menggelayut di bahu.
pada dinding senja kusampaikan pesan cinta. pada angsa yang tengah mencumbui laut. dengan tatapan cemburu langit yang terus menangis.
pada satu bintang, ada asa yang terkumpul. menunggu untuk hadir. sampai di bumiku...
pada pucuk pelangi kutitipkan sekantung tangis. agar hilang saat matahari mulai menyapa. kini biarkan aku dalam sendu. pada hujan yang menambah syahdu. dan sepi yang menggelayut di bahu.
pada dinding senja kusampaikan pesan cinta. pada angsa yang tengah mencumbui laut. dengan tatapan cemburu langit yang terus menangis.
pada satu bintang, ada asa yang terkumpul. menunggu untuk hadir. sampai di bumiku...
Tuesday, December 28, 2010
(54) sebelah sayapku terluka
saya ditanya "kenapa eby kayak biasa saja?"
saya jawab "karena memang tak perlu ada resah. ini hanya satu lagi cara Allah menyayangiku"
ya,saat ini aku sedang terluka. hati teriris akan sebuah kenyataan pahit. jangan ditanya tentang air mata. habis sudah. airmata tak mampu lagi melesak keluar. ia masuk, langsung ke titik luka..
tapi aku tak ingin terus menangis. toh tangis ini bukan kesedihan, ini airmata obat yang membasuh perih. lalu kutinggalkan dalam peti kenangan. mimpiku usai. tapi inilah caraku, berhenti mimpi, bangun dan menapak langkah baru meski dengan airmata.
jangan mimpi memiliki mutiara jika tak tahu bagaimana merawatnya. pergilah, kita telah berbeda. namun aku tak meresahkan apapun. takdir Allah sedang bekerja untukku. suatu waktu nanti, aku akan kembali tersenyum bersama takdir Allah yang dikirim untukku, menggenapi dengan sayapnya.
saya jawab "karena memang tak perlu ada resah. ini hanya satu lagi cara Allah menyayangiku"
ya,saat ini aku sedang terluka. hati teriris akan sebuah kenyataan pahit. jangan ditanya tentang air mata. habis sudah. airmata tak mampu lagi melesak keluar. ia masuk, langsung ke titik luka..
tapi aku tak ingin terus menangis. toh tangis ini bukan kesedihan, ini airmata obat yang membasuh perih. lalu kutinggalkan dalam peti kenangan. mimpiku usai. tapi inilah caraku, berhenti mimpi, bangun dan menapak langkah baru meski dengan airmata.
jangan mimpi memiliki mutiara jika tak tahu bagaimana merawatnya. pergilah, kita telah berbeda. namun aku tak meresahkan apapun. takdir Allah sedang bekerja untukku. suatu waktu nanti, aku akan kembali tersenyum bersama takdir Allah yang dikirim untukku, menggenapi dengan sayapnya.
Wednesday, December 22, 2010
(48) Ibu
Di jelang subuh ini, aku merindu seorang wanita yang dari rahimnya aku terlahir. Dari tangannya aku besar. Dan dari senyumnya aku hidup. Seorang wanita yang kini kesehariannya berjarak beberapa mil laut dariku, wanita yang senyumnya baru kujumpai setiap satu atau dua pekan.
Wanita luar biasa yang perkasa. Membesarkan aku dan saudara-saudaraku dengan kepayahan yang amat sangat namun berbalut ketulusan yang lebih dari kepayahan itu. Dengan tangan lembutnya, mengusap dahiku setiap saat, mengecup pipiku setiap bepergian, membanjiri hidupku dengan doa panjang di setiap sujudnya bahkan sesekali bersama linangan air mata saat kulukai.
Ya, aku masih saja tak bisa membalas dengan tepat apa yang sudah Ibu berikan padaku. Terkadang masih ada sungut kalau beliau menyuruh ini itu atau malas ketika harus mengulang ngulang bicara sesuatu. Tapi ibu tetap lembut, ia tetap memaafkan tanpa aku meminta maaf. Ah, ibuku memang berjiwa malaikat.
Ibu, di rantau ini, anakmu merindumu. Seperti rindu seorang petani akan hujan, nelayan akan ikan, seperti rindu seorang pecinta. Ibu, anakmu ini masih butuh pelukan hangatmu yang menenteramkan. Butuh sekali doamu atas hari dan hati yang sedang terluka. Ibu, aku mencintaimu, hingga hati ini berlubang. Maafkan aku bu, atas banyak kesalahan dan rasa sakit yang kutimbulkan. Tetaplah tersenyum di tengah dukamu, bu. Karena senyummu adalah kekuatan kami, anak-anakmu.
Ibu, kehebatanmu mengangkasa dalam langit hidupku. Senyummu meliputi seluruh udara di hidupku. Love you, mom.
Wanita luar biasa yang perkasa. Membesarkan aku dan saudara-saudaraku dengan kepayahan yang amat sangat namun berbalut ketulusan yang lebih dari kepayahan itu. Dengan tangan lembutnya, mengusap dahiku setiap saat, mengecup pipiku setiap bepergian, membanjiri hidupku dengan doa panjang di setiap sujudnya bahkan sesekali bersama linangan air mata saat kulukai.
Ya, aku masih saja tak bisa membalas dengan tepat apa yang sudah Ibu berikan padaku. Terkadang masih ada sungut kalau beliau menyuruh ini itu atau malas ketika harus mengulang ngulang bicara sesuatu. Tapi ibu tetap lembut, ia tetap memaafkan tanpa aku meminta maaf. Ah, ibuku memang berjiwa malaikat.
Ibu, di rantau ini, anakmu merindumu. Seperti rindu seorang petani akan hujan, nelayan akan ikan, seperti rindu seorang pecinta. Ibu, anakmu ini masih butuh pelukan hangatmu yang menenteramkan. Butuh sekali doamu atas hari dan hati yang sedang terluka. Ibu, aku mencintaimu, hingga hati ini berlubang. Maafkan aku bu, atas banyak kesalahan dan rasa sakit yang kutimbulkan. Tetaplah tersenyum di tengah dukamu, bu. Karena senyummu adalah kekuatan kami, anak-anakmu.
Ibu, kehebatanmu mengangkasa dalam langit hidupku. Senyummu meliputi seluruh udara di hidupku. Love you, mom.
Tuesday, December 21, 2010
(47) Yang Tak Akan Pernah Menyakiti
Pagi-pagi, berharap bisa memulai dengan senyuman tapi semua di luar dugaan. Hariku dimulai dengan begitu berat. Air yang pagi pagi sudah menggantung di bola mata, sebisa mungkin kutahan agar tak mengeluarkan isak. Memang terkadang banyak hal yang berjalan tak sesuai dengan harap kita. Tapi siapa yang bisa disalahkan? Memang manusia tempatnya kecewa, tempatnya sakit kan? Satu satunya yang tidak akan pernah mengecewakan kita memang cuma Allah sahaja, hanya Allah saja.
Langkah kakiku berat memulai hari, namun ketika menatap sajadah yang baru saja kucium subuh tadi, aku kembali teringat bahwa tak ada yang perlu kusedihkan dan cemaskan. Karena memang begitulah adanya. Hanya ketika harapan kita gantungkan pada Allah, kita akan bahagia. Jadi, kalau sekarang ada seorang hambaNya yang menyakitiku, sepertinya tidak ada yang perlu dikagetkan.
Airmata dan sesak ini lantas kuserahkan pada Sang Kekasih Sejati. Tanpa sadar, kaki ini tertuntun ke sudut tempat tidur. Aku duduk disana dan menengadah,
"Rabb, Engkau Maha Pencinta. Segala yang terjadi padaku, sesakit apapun itu pada awalnya, adalah salah satu bentuk cintaMU. Kuterima Rabb, dengan hatiku yang sedang tertatih tatih belajar mencintaiMU'
Selepas dialog pagi itu, udara sekitar serasa lega kembali. Aku pun mengumpulkan kepingan semangat yang berantakan, kugenggam dan kualiri dalam darah. Aktivitas hari ini kujalani dengan lapang, begitu mudah dilewati. Hingga tiba waktu dhuhur, aku dikejutkan oleh adzan yang terdengar jelas di telinga. Mengagetkan, mengingat selama ini adzan hanya samar terdengar karena jarak kantor dan masjid cukup jauh. Adzan itu seperti khusus ditujukan untuk memanggilku kembali merendahkan diri di hadapan Kekasihku.
Telah kuserahkan semuanya pada Kekasihku, yang tak akan pernah mengecewakanku, tak akan pernah menyakitiku, tak akan pernah menjauh dariku meski taku terkadang menjauh dariNya. Duka ini kawan, aku tahu akan berlalu. Bersama Kekasihku, semua akan baik baik saja. Aku akan sembuh dari setiap luka dan nanah.
"Rabb, aku kembali lagi. Dengan segudang keluh kesah dan sebungkus rasa perih. Aku bawa ke hadapanMU Rabb, untuk Kau sembuhkan karena Engkaulah tempatku bergantung menyerahkan hidup matiku. Ini aku, Rabb, hambaMU yang penuh khilaf, hambaMU yang bandel, yang perlu Engkau jewer di dunia, di dunia saja Rabb, jangan Engkau tangguhkan di akhirat karena sungguh, aku tak kan sanggup. Rabb, ini aku, menunduk dan malu di depanMU. Aku yang sedang belajar mencintaiMU dengan seluruh cinta yang Engkau titipkan di dadaku. Bantu aku Rabb, yang sedang terbata mengeja cinta suci tak tertandingi milikMU"
Langkah kakiku berat memulai hari, namun ketika menatap sajadah yang baru saja kucium subuh tadi, aku kembali teringat bahwa tak ada yang perlu kusedihkan dan cemaskan. Karena memang begitulah adanya. Hanya ketika harapan kita gantungkan pada Allah, kita akan bahagia. Jadi, kalau sekarang ada seorang hambaNya yang menyakitiku, sepertinya tidak ada yang perlu dikagetkan.
Airmata dan sesak ini lantas kuserahkan pada Sang Kekasih Sejati. Tanpa sadar, kaki ini tertuntun ke sudut tempat tidur. Aku duduk disana dan menengadah,
"Rabb, Engkau Maha Pencinta. Segala yang terjadi padaku, sesakit apapun itu pada awalnya, adalah salah satu bentuk cintaMU. Kuterima Rabb, dengan hatiku yang sedang tertatih tatih belajar mencintaiMU'
Selepas dialog pagi itu, udara sekitar serasa lega kembali. Aku pun mengumpulkan kepingan semangat yang berantakan, kugenggam dan kualiri dalam darah. Aktivitas hari ini kujalani dengan lapang, begitu mudah dilewati. Hingga tiba waktu dhuhur, aku dikejutkan oleh adzan yang terdengar jelas di telinga. Mengagetkan, mengingat selama ini adzan hanya samar terdengar karena jarak kantor dan masjid cukup jauh. Adzan itu seperti khusus ditujukan untuk memanggilku kembali merendahkan diri di hadapan Kekasihku.
Telah kuserahkan semuanya pada Kekasihku, yang tak akan pernah mengecewakanku, tak akan pernah menyakitiku, tak akan pernah menjauh dariku meski taku terkadang menjauh dariNya. Duka ini kawan, aku tahu akan berlalu. Bersama Kekasihku, semua akan baik baik saja. Aku akan sembuh dari setiap luka dan nanah.
"Rabb, aku kembali lagi. Dengan segudang keluh kesah dan sebungkus rasa perih. Aku bawa ke hadapanMU Rabb, untuk Kau sembuhkan karena Engkaulah tempatku bergantung menyerahkan hidup matiku. Ini aku, Rabb, hambaMU yang penuh khilaf, hambaMU yang bandel, yang perlu Engkau jewer di dunia, di dunia saja Rabb, jangan Engkau tangguhkan di akhirat karena sungguh, aku tak kan sanggup. Rabb, ini aku, menunduk dan malu di depanMU. Aku yang sedang belajar mencintaiMU dengan seluruh cinta yang Engkau titipkan di dadaku. Bantu aku Rabb, yang sedang terbata mengeja cinta suci tak tertandingi milikMU"
Monday, December 20, 2010
(46) subuh ini
di luar sana ada ramai kicau burung
dan dari balik jendela kunikmati semilir angin pagi
ayam pun tak mau kalah
ambil bagian dalam harmoni pagi
subuh ini indah
seindah pelangi yang muncul setelah hujan
menawarkan sebait ketenangan
serta sekotak harapan
tentang harapan,
telah kugantungkan pada Yang Memiliki Hidup
di atas panjang sajadah
dalam balutan putih penghancur keangkuhan
yang membuat kita sempurna
ia bernama cinta
dan cinta sejati itu
ia bernama Allah
dan dari balik jendela kunikmati semilir angin pagi
ayam pun tak mau kalah
ambil bagian dalam harmoni pagi
subuh ini indah
seindah pelangi yang muncul setelah hujan
menawarkan sebait ketenangan
serta sekotak harapan
tentang harapan,
telah kugantungkan pada Yang Memiliki Hidup
di atas panjang sajadah
dalam balutan putih penghancur keangkuhan
yang membuat kita sempurna
ia bernama cinta
dan cinta sejati itu
ia bernama Allah
Label:
#365 day blog project,
Catatan Hati,
Kita,
Puisi,
Sujud
Sunday, December 19, 2010
(45) zam zam
happy weekend temans...
3 hari lalu,tepatnya kamis 16 desember 2010, saya sekali lagi mengunjungi desa Waesala untuk mendampingi satu kegiatan masyarakat disana. Jelang berakhirnya agenda kami, seorang abang, anak dari Raja Waesala mendatangi saya dan menyampaikan pesan dari abi (sapaan akrab bapa Raja Waesala) yang meminta saya mampir di istana alias rumahnya sebelum kembali ke piru.
Beberapa menit kemudian,saya ke rumah beliau dan ternyata saya diberi oleh oleh dari perjalanan haji beliau berupa sebotol zam zam dan kurma ajwaa, kurma dari kebun sang kekasih, Rasulullah SAW. Beliau ngasih zam zam sambil bilang gini : by,zam zam itu temannya doa (ngomong pake bahasa arab,entah hadits atau apa, saya tidak tahu pasti) artinya zam zam itu mengikuti keinginan peminumnya. jadi sebelum minum tu, eby angka hati bae bae minta apa yang eby mau.
Nah,gara gara pesan itu,saya sampai sekarang belum berani minum zam zam pemberian abi. Saya masih belum berani meminta apa yang benar benar saya inginkan dalam hidup. Saya insyaAllah siap menerima takdir, tapi Allah juga suka kalau kita meminta dan saya benar benar ingin doa yang saya panjatkan sebelum meminum zam zam adalah doa yang benar benar istimewa. Dan pada suatu saat, jika hati ini telah tahu, biarlah hati ini yang menggerakkanku untuk menikmati zam zam itu.
Kalau temans mau minta doa istimewa apa?
Salah satu yang saya inginkan adalah suatu hari nanti saya dapat mengambil zam zam langsung dengan tangan saya sendiri. InsyaAllah...
3 hari lalu,tepatnya kamis 16 desember 2010, saya sekali lagi mengunjungi desa Waesala untuk mendampingi satu kegiatan masyarakat disana. Jelang berakhirnya agenda kami, seorang abang, anak dari Raja Waesala mendatangi saya dan menyampaikan pesan dari abi (sapaan akrab bapa Raja Waesala) yang meminta saya mampir di istana alias rumahnya sebelum kembali ke piru.
Beberapa menit kemudian,saya ke rumah beliau dan ternyata saya diberi oleh oleh dari perjalanan haji beliau berupa sebotol zam zam dan kurma ajwaa, kurma dari kebun sang kekasih, Rasulullah SAW. Beliau ngasih zam zam sambil bilang gini : by,zam zam itu temannya doa (ngomong pake bahasa arab,entah hadits atau apa, saya tidak tahu pasti) artinya zam zam itu mengikuti keinginan peminumnya. jadi sebelum minum tu, eby angka hati bae bae minta apa yang eby mau.
Nah,gara gara pesan itu,saya sampai sekarang belum berani minum zam zam pemberian abi. Saya masih belum berani meminta apa yang benar benar saya inginkan dalam hidup. Saya insyaAllah siap menerima takdir, tapi Allah juga suka kalau kita meminta dan saya benar benar ingin doa yang saya panjatkan sebelum meminum zam zam adalah doa yang benar benar istimewa. Dan pada suatu saat, jika hati ini telah tahu, biarlah hati ini yang menggerakkanku untuk menikmati zam zam itu.
Kalau temans mau minta doa istimewa apa?
Salah satu yang saya inginkan adalah suatu hari nanti saya dapat mengambil zam zam langsung dengan tangan saya sendiri. InsyaAllah...
Friday, December 17, 2010
(43) Mengeja Syukur di Dusun Melati
I am back setelah hiatus 12 hari lamanya. Hiatus ini karena tugas yang harus saya jalankan di daerah yang tidak bersinyal. Ini sedikit ceritanya.
Sabtu, 11 Desember 2010 lalu, saya dan rekan-rekan kantor bertugas di desa Waesala kecamatan Waesala Kabupaten Seram Bagian Barat. Tepatnya pada hari itu, kami mengunjungi dusun Melati, satu diantara 12 dusun yang dimiliki Desa Waesala. Perjalanan dari kota kabupaten, Piru, menuju Desa Waesala sekitar 2 jam atau sekitar 40 km. Perjalanan kali ini boleh dibilang baik-baik saja karena kondisi jalan yang sudah jauh lebih baik. Jalan yang masih sedikit berbatu dan berlubang namun sudah bisa dikatakan baik mengingat di tahun-tahun sebelumnya, jalanan menuju Waesala begitu sulit dilewati apalagi dalam kondisi hujan atau pasca hujan seperti yang pernah saya dan rekan-rekan lain alami disini dan disini.
Sayangnya, baterai kamera digital kosong. Pemotretan perjalanan pun hanya bisa diabadikan melalui kamera telpon genggam dan di kesempatan lain akan di-ekspose gambar-gambar di dusun Melati. Benwit di piru belum memungkinkan mengupload banyak foto.
Sampai di Desa Waesala, Bang Jumra, salah satu fasilitator di Waesala sudah menunggu kami dan mengabari bahwa speedboat yang akan membawa kami ke Dusun Melati sudah siap. Tanpa menaruh barang bawaan di wisma, kami langsung menuju pantai. Perjalanan dari Desa Waesala menuju dusun Melati dengan transportasi laut memakan waktu hampir setengah jam. Sebenarnya bisa lewat darat tapi harus dengan berjalan kaki sekitar 50 menit dan jangan bayangkan jalan yang mudah dilalui. Bagi yang tidak biasa, mungkin harus menyediakan banyak stok tekad baja karena menurut cerita, melewati hutan mendaki dan ada satu tempat yang terputus daratan jadi harus melewati selat atau teluk atau rawa (saya tak tahu namanya), yang tinggi air sampai di atas pinggang. Well, tentu saya tak ingin memilih jalan itu jika masih ada alternative lain.
Setelah menikmati pemandangan yang maha indah, sampailah kami di dusun Melati. Dari kejauhan, sudah terlihat bang Ruslan, satu lagi fasilitator kami, bersama dengan bapak Husen, Sekretaris Dusun Melati yang sudah menunggu di bibir pantai.
FYI, Dusun Melati ini berusia 47 tahun. Dinamakan Dusun Melati karena dulu kala, banyak bunga melati di daerah ini. Seperti yang dituturkan Pak Husen, Sekdus Melati, awalnya di tahun 1963 ada 5 orang atau 5 KK yang mendiami pulau ini dan setelah 47 tahun berlalu, kini ada sekitar 150 KK dengan 1050 jumlah jiwa. Yang unik dari dusun ini adalah semua penduduknya berpakaian muslim rapi dan nilai islamnya sangat kental. Yang lelaki dengan tampilan janggut, dan itu hampir seluruh lelaki di Dusun ini berjanggut dan mengenakan peci serta sarung atau celana di atas mata kaki. Wanitanya, berbaju panjang dengan jilbab panjang rapi, hampir semua, bahkan anak-anak usia SD atau SMP pun,bermain di teras rumah dengan menutup aurat. Indah sekali dan sejuk dilihat.
Pun pada saat setelah makan siang, adzan dhuhur terdengar dari mesjid dusun, sontak balai dusun tempat berlangsungnya Pra Musrenbang kosong melompong. Bukan hanya balai dusun, jalanan pun mendadak terlihat sunyi. Ndilalah, seluruh penduduk dusun menuju masjid memenuhi panggilan adzan itu. Bang Jumra sempat bilang pada saya, “by, disini kalo dhuhur, suasananya seperti sholat jumat di desa lain”. Subhanallah… Pulang dari sholat, saya kembali berbincang dengan Pak Husen, menanyakan kondisi ini apakah sudah sejak awal atau baru di tahun berapa, atas kejadian apa sehingga suasananya seperti ini. Kata Pak Husen, sejak tahun 1963 itu, kondisi dusun Melati ini memang sudah islami. Tidak ada musik musik yang mengganggu telinga, jangan ditanya soal mabuk-mabukan atau perkelahian pemuda. Pak Husen juga bercerita, pernah suatu ketika, ada kunjungan Gubernur Prov Maluku, K. A. Ralahalu ke dusun Melati, belum lama dari kedatangan beliau, adzan maghrib berkumandang. Maka semua penduduk pun meninggalkan rombongan provinsi untuk sementara waktu menuju Masjid. Ah, tak bisa saya bayangkan kejadian yang sama di desa lain, bisakah seperti itu? Luar biasa. Salut, saya benar benar salut.
Namun kesalutan saya lalu berubah menjadi diam berkepanjangan ketika pertanyaan saya tentang listrik dijawab Pak Husen dengan jawaban “tak ada listrik disini”. 47 tahun mereka hidup tanpa listrik. Setrika pakai bara. Kalaupun ada beberapa rumah yang lampunya nyala, itu karena memakai genset. Saya tak kuasa berkata. Mengingat bahwa ketika lampu mati sebentar saja di rumah, saya sudah tidak nyaman dan merutuk PLN. Lah, mereka yang 47 tahun tanpa listrik, bagaimanakah hari-hari yang mereka lalui?
Perjalanan ke dusun Melati adalah perjalanan tentang syukur, syukur dan syukur. Betapa ternyata ketidakpuasan saya pada banyak hal di sekitar adalah berlebihan karena di dusun Melati ini, ada 1050 jiwa yang bersabar dengan kondisi mereka, dengan hidup yang mereka jalani dan bahagia dengannya. Ada 1050 jiwa yang akses informasi tidak ada, akses transportasi terbatas, akses komunikasi apalagi. Ah, dan saya hanya satu orang, mengapa tak pandai bersyukur?
Sabtu, 11 Desember 2010 lalu, saya dan rekan-rekan kantor bertugas di desa Waesala kecamatan Waesala Kabupaten Seram Bagian Barat. Tepatnya pada hari itu, kami mengunjungi dusun Melati, satu diantara 12 dusun yang dimiliki Desa Waesala. Perjalanan dari kota kabupaten, Piru, menuju Desa Waesala sekitar 2 jam atau sekitar 40 km. Perjalanan kali ini boleh dibilang baik-baik saja karena kondisi jalan yang sudah jauh lebih baik. Jalan yang masih sedikit berbatu dan berlubang namun sudah bisa dikatakan baik mengingat di tahun-tahun sebelumnya, jalanan menuju Waesala begitu sulit dilewati apalagi dalam kondisi hujan atau pasca hujan seperti yang pernah saya dan rekan-rekan lain alami disini dan disini.
Sampai di Desa Waesala, Bang Jumra, salah satu fasilitator di Waesala sudah menunggu kami dan mengabari bahwa speedboat yang akan membawa kami ke Dusun Melati sudah siap. Tanpa menaruh barang bawaan di wisma, kami langsung menuju pantai. Perjalanan dari Desa Waesala menuju dusun Melati dengan transportasi laut memakan waktu hampir setengah jam. Sebenarnya bisa lewat darat tapi harus dengan berjalan kaki sekitar 50 menit dan jangan bayangkan jalan yang mudah dilalui. Bagi yang tidak biasa, mungkin harus menyediakan banyak stok tekad baja karena menurut cerita, melewati hutan mendaki dan ada satu tempat yang terputus daratan jadi harus melewati selat atau teluk atau rawa (saya tak tahu namanya), yang tinggi air sampai di atas pinggang. Well, tentu saya tak ingin memilih jalan itu jika masih ada alternative lain.
Setelah menikmati pemandangan yang maha indah, sampailah kami di dusun Melati. Dari kejauhan, sudah terlihat bang Ruslan, satu lagi fasilitator kami, bersama dengan bapak Husen, Sekretaris Dusun Melati yang sudah menunggu di bibir pantai.
FYI, Dusun Melati ini berusia 47 tahun. Dinamakan Dusun Melati karena dulu kala, banyak bunga melati di daerah ini. Seperti yang dituturkan Pak Husen, Sekdus Melati, awalnya di tahun 1963 ada 5 orang atau 5 KK yang mendiami pulau ini dan setelah 47 tahun berlalu, kini ada sekitar 150 KK dengan 1050 jumlah jiwa. Yang unik dari dusun ini adalah semua penduduknya berpakaian muslim rapi dan nilai islamnya sangat kental. Yang lelaki dengan tampilan janggut, dan itu hampir seluruh lelaki di Dusun ini berjanggut dan mengenakan peci serta sarung atau celana di atas mata kaki. Wanitanya, berbaju panjang dengan jilbab panjang rapi, hampir semua, bahkan anak-anak usia SD atau SMP pun,bermain di teras rumah dengan menutup aurat. Indah sekali dan sejuk dilihat.
Pun pada saat setelah makan siang, adzan dhuhur terdengar dari mesjid dusun, sontak balai dusun tempat berlangsungnya Pra Musrenbang kosong melompong. Bukan hanya balai dusun, jalanan pun mendadak terlihat sunyi. Ndilalah, seluruh penduduk dusun menuju masjid memenuhi panggilan adzan itu. Bang Jumra sempat bilang pada saya, “by, disini kalo dhuhur, suasananya seperti sholat jumat di desa lain”. Subhanallah… Pulang dari sholat, saya kembali berbincang dengan Pak Husen, menanyakan kondisi ini apakah sudah sejak awal atau baru di tahun berapa, atas kejadian apa sehingga suasananya seperti ini. Kata Pak Husen, sejak tahun 1963 itu, kondisi dusun Melati ini memang sudah islami. Tidak ada musik musik yang mengganggu telinga, jangan ditanya soal mabuk-mabukan atau perkelahian pemuda. Pak Husen juga bercerita, pernah suatu ketika, ada kunjungan Gubernur Prov Maluku, K. A. Ralahalu ke dusun Melati, belum lama dari kedatangan beliau, adzan maghrib berkumandang. Maka semua penduduk pun meninggalkan rombongan provinsi untuk sementara waktu menuju Masjid. Ah, tak bisa saya bayangkan kejadian yang sama di desa lain, bisakah seperti itu? Luar biasa. Salut, saya benar benar salut.
Namun kesalutan saya lalu berubah menjadi diam berkepanjangan ketika pertanyaan saya tentang listrik dijawab Pak Husen dengan jawaban “tak ada listrik disini”. 47 tahun mereka hidup tanpa listrik. Setrika pakai bara. Kalaupun ada beberapa rumah yang lampunya nyala, itu karena memakai genset. Saya tak kuasa berkata. Mengingat bahwa ketika lampu mati sebentar saja di rumah, saya sudah tidak nyaman dan merutuk PLN. Lah, mereka yang 47 tahun tanpa listrik, bagaimanakah hari-hari yang mereka lalui?
Perjalanan ke dusun Melati adalah perjalanan tentang syukur, syukur dan syukur. Betapa ternyata ketidakpuasan saya pada banyak hal di sekitar adalah berlebihan karena di dusun Melati ini, ada 1050 jiwa yang bersabar dengan kondisi mereka, dengan hidup yang mereka jalani dan bahagia dengannya. Ada 1050 jiwa yang akses informasi tidak ada, akses transportasi terbatas, akses komunikasi apalagi. Ah, dan saya hanya satu orang, mengapa tak pandai bersyukur?
Label:
#365 day blog project,
Ambon,
Catatan Hati,
Jalan-Jalan,
Kerjaan,
Maluku
Sunday, December 05, 2010
(31) Dosa Paling Tua
Seperti biasa, minggu saya tanpa melewatkan tayangan U2 bareng uje dan udin. Dakwahnya bersemangat, santai tapi selalu menjewer. Bikin saya selalu mengucapkan Subhanallah atas indahnya Islam, Alhamdulillah atas semua nikmat dan Astaghfirullah atas segala dosa.
Tayangan hari ini menyisakan satu kalimat yang memaksa otak dan hati ngobrol. Kata Uje tadi, dosa paling pertama, paling tua, adalah sombong. Penyakit hati itu merasa. Merasa paling pintar, paling kaya, paling baik, paling bijak. Tak disadari bahwa saat kita sedang merasa itulah, dosa paling tua masuk ke hati.
Saya tertampar. Masih saja menyimpan bibit bibit dosa itu. Padahal, siapa saya? Apa yang patut saya sombongkan? Betapa iman ini masih jauh dari sempurna. Betapa hari hari saya ada saja tambahan dosanya. Lalu mengapa masih merasa paling?
Kuedarkan ingatan ke banyak orang di sekitar saya. Ada banyak yang lebih. Mereka lebih baik, lebih sabar, lebih pintar, lebih pemurah, lebih penolong, lebih lapang dada, lebih dan lebih....
Banyak yang harus saya perbaiki, tata hati jelang Muharram ini.
Tayangan hari ini menyisakan satu kalimat yang memaksa otak dan hati ngobrol. Kata Uje tadi, dosa paling pertama, paling tua, adalah sombong. Penyakit hati itu merasa. Merasa paling pintar, paling kaya, paling baik, paling bijak. Tak disadari bahwa saat kita sedang merasa itulah, dosa paling tua masuk ke hati.
Saya tertampar. Masih saja menyimpan bibit bibit dosa itu. Padahal, siapa saya? Apa yang patut saya sombongkan? Betapa iman ini masih jauh dari sempurna. Betapa hari hari saya ada saja tambahan dosanya. Lalu mengapa masih merasa paling?
Kuedarkan ingatan ke banyak orang di sekitar saya. Ada banyak yang lebih. Mereka lebih baik, lebih sabar, lebih pintar, lebih pemurah, lebih penolong, lebih lapang dada, lebih dan lebih....
Banyak yang harus saya perbaiki, tata hati jelang Muharram ini.
Saturday, December 04, 2010
(30) aku dan malam
Bisikkan aku satu kata
Tentang rasa yang memborgol diri
Juga kecemasan di dinding hati
Agar aku tahu cara membebaskan
Pada setiap bulirnya
Ada nyawamu disana
Menukik tajam pada selipan benak
Meruntuhkan ego batin
Jika begitu dalam dirasa
Tak ada niat yang jelas tercetak
Semoga masih ada sempat
Tentang rasa yang memborgol diri
Juga kecemasan di dinding hati
Agar aku tahu cara membebaskan
Pada setiap bulirnya
Ada nyawamu disana
Menukik tajam pada selipan benak
Meruntuhkan ego batin
Jika begitu dalam dirasa
Tak ada niat yang jelas tercetak
Semoga masih ada sempat
Subscribe to:
Posts (Atom)