Saturday, November 06, 2010
(2) Biasa Aja dong...
Lupa judulnya karena saya juga bukan penonton setia.
Pada episode yang kutonton tadi, ceritanya seorang anak presiden yang berhubungan dengan seorang polisi. Si polisi itu tidak tau bahwa kekasihnya itu ternyata putri dari presiden. Bahkan teman-teman kantor si gadis pun tak tau bahwa rekan mereka ini putri Presiden. Memang tak ada pengawalan khusus, dan dari beberapa dialog, baru ngeh kalo memang ceritanya masyarakat sendiri gak tahu kalo presiden punya seorang putri.
Di suatu perhelatan, ada satu agenda yang harus dihadiri oleh ibu negara. Berhubung negara itu tidak memiliki ibu negara (jangan tanya mengapa), maka negara itu diwakili oleh putri presiden. Barulah masyarakat ngeh baru Presiden memiliki putri yang selama ini tidak tahu rupanya.
Alkisah, si gadis gelisah karena ini berarti ia harus tampil di depan publik sebagai seorang putri. Pada pagi hari sebelum malam perhelatan itu, putri dan kekasihnya yang polisi itu lari pagi. Wajah putri yang murung, mengundang tanya dari si Polisi.
Putri pun berkata, "Bagaimana jika ternyata saya adalah anak dari orang yang status sosialnya tinggi, tinggi sekali. Bagaimana kalau ternyata saya ini anak Preseden? bagaimana perasaanmu?".
Lalu kekasihnya tertawa dan menganggap itu sebagai lelucon, "ayahmu mau mencalonkan diri jadi presiden? jadi Walikota saja dulu". Sebelum ada pembicaraan lebih lanjut, si polisi mendapat panggilan kembali ke kantor.
Sesampainya di kantor, polisi tersebut mendapat tugas ikut dalam tim seperti secret service di acara nanti malam, karena putri Presiden akan hadir sehingga harus memastikan keamanannya. Singkat cerita, di malam itulah, ketika putri Presiden tampil di atas panggung, si polisi terkejut karena yang di atas sana adalah kekasihnya.
Well, kenapa saya angkat ini?
Karena ini mengingatkanku pada satu peristiwa kira-kira dua tahun lalu. walaupun itu hanya fiksi, tapi tak ada salahnya jika saya bandingkan dengan keadan yang saya lihat.
Hari itu, saya dan adik dalam perjalanan entah kemana (lupa), mendekati daerah Abdulalie, terdengar raungan mobil yang seakan meminta (menghindari kata memaksa) pemakai jalan yang lain untuk menepi. Terlihat dua mobil mewah beriringan dengan "angkuhya" dan mendadak berhenti di depan rumah makan dedes. Saya bilang berhenti, bukan memarkir. Ya, dua mobil itu berhenti tepat di tengah jalan hanya untuk menurunkan rombongan yang mau makan di Rumah Makan Ikan bakar cukup terkenal di Kota Ambon ini. Bisik-bisik tetangga, ternyata itu adalah rombongan anak para petinggi yang mau santap siang.
Hufftt... membuat macet yang cukup panjang dan dalam waktu 10 menit, itu bukan hal biasa. Entahlah, apa karena status sosialnya yang tinggi lantas boleh bersikap seperti itu?
Heran, dan miris hati ini. Sama mirisnya dengan pandangan mata saya ketika meelusuri jalanan kota Ambon kemarin sore. Tampak pihak keamanan berjaga di banyak titik dengan jarak titik hanya sekitar 100 m. Untuk apakah? ada apakah? Cek dan ricek, karena orang pusat sedang mengunjungi Maluku. Bah, kenapa mereka datang, rakyat dijaga? Emang rakyat mau ngapain? Yang milih beliau juga rakyat kan? Kenapa keamanan beliau harus dijaga segitu rupa dari rakyat? Rakyat gak akan ngapa-ngapain kok pak. Percaya deh...
Friday, November 05, 2010
(1) tentang lara
Sebenarnya ingin posting tentang hal lain disini, ada tentang senangnya kopdar blogger maluku tadi, atau supir mobil yang saya tumpangi, atau angkot butut yang saya naiki. Tapi semua mendadak terpendam oleh lara melihat tayangan peristiwa merapi yang kembali beraktivitas..
Tak cukup kata mampu saya rangkai.. Meminta mereka bersabar dan ikhlas adalah tidak mudah karena saya pun belum tentu bisa sabar dan ikhlas jika di posisi demikian. Hanya bisa menatap kosong wajah wajah yang dipenuhi debu
Tak ada kata terucap. Semoga bisa terlalui.. Saya benar benar speechless
365 day blog project
Dan dari blogwalking sana sini, saya nemu blog mas deddy yang konsisten dengan project 365 day blog. Merasa tertantang, maka saya putuskan untuk nyemplung project ini juga.
Aturan yang saya pakai adalah one day one posting. tidak ada hutang, tidak ada deposit dalam kondisi normal. Sama dgn aturan main mas deddy. Namun, saya buat kelonggaran bahwa Hutang dan deposit boleh saya lakukan hanya jika ada hari dimana saya harus ke daerah yang tidak bersinyal. Mengingat bulan november desember ini, Saya juga punya project kantor yang mengharuskan saya turun lapangan ke beberapa desa no signal.
hari ini hari pertama, dan postingan ini belum termasuk 365 day blog project. selamat bergabung... ~jabattangansendiri~
Thursday, November 04, 2010
Seroja Part 2 yang Tertunda
FYI, pertemuan pertama blogger Maluku di tanggal 4 April 2009 di Kafe Seroja. Setelahnya berlanjut dengan banyak kali kopdar formal dan non formal. Lantas inilah saatnya Seroja Part 2, meski bukan di Kafe Seroja tapi dengan semangat yang dulu pernah berkobar di Seroja.
Then, lewat inbox fb, kami pun sepakat bertemu di hari Rabu tanggal 3 November kemarin. pukul 3 sore di Kota Ambon. Mengingat saya yang sedang terdampar di kota Piru yang berjarak 4 jam perjalanan, entah berapa mil laut itu, sudah menyiapkan diri sedari malam untuk mengikuti. Ijin kantor cuma setengah hari sudah kukantongi, ijin tidak mengikuti satu kegiatan di sore hari juga sudah didapat.
Jelang pukul 11, belum bisa meninggalkan kantor karena satu dan lain hal. Setelah menyelesaikan beberapa hal hari itu, berangkatlah kami, saya dan iwan (kerabat yang setia mengantar kemanapun saya pergi), dengan mengendarai sepeda motor menuju Waipirit. Saat itu, sudah pukul setengah dua belas siang. Jika tak ada kendala dalam perjalanan maka saya bisa sampai jam setengah satu dan menumpangi feri Waipirit-Liang jam 1 siang.
Baru saja meninggalkan Kota Piru, kami disambut hujan rintik, kecil, genit. Sisa sisa hujan lebat masih terlihat di jalanan yang basah. Bersyukur kami tidak berangkat jam 11 tadi, karena itu berarti akan kehujanan. Sembari menikmati rintik itu, kami berkelakar bahwa Tuhan juga tahu orang baik yang mau lewat, jadi hujan sudah selesai. Bukan maksud untuk takabbur atau apa, hanya sekedar menyenangkan hati dan berpositive thinking dalam perjalanan.
Hujan yang menggoda tapi tidak mengganggu ini menemani sepanjang setengah perjalanan. Mendekati desa Waisarissa, kami disambut hujan yang lebat yang memaksa kami harus berteduh di halte. Sayangnya, gunung yang sedang kami lewati ini tidak menyisakan tempat yang tepat untuk berteduh. Karena tak ada jas hujan, dan juga tak ada tempat berteduh, sementara halte masih 15 menit lagi perjalanan, mau tidak mau kami harus siap basah. Sesampai di halte, sudah banyak para pengendara sepeda motor yang juga berteduh. Dua puluh menit saya harus menunggu dengan gelisah sambil sesekali melirik jam yang justru bikin stress.
Hujan mereda sedikit, sedikit saja. Saya “memaksa” Iwan yang tanpa jas hujan, juga tanpa jaket, untuk melanjutkan perjalanan. Kembali berteman hujan, kami meneruskan perjalanan hingga Waipirit. Tapi begitulah, saya tidak ditakdirkan bertemu feri. Feri baru muncul pukul setengah dua. Dan biasanya, feri akan tambat di pelabuhan satu jam setengah untuk menurunkan penumpang serta menaikkan penumpang plus kendaraan-kendaraan.
Tiket feri sudah di tangan, namun hitungannya, kalau saya memaksakan diri berangkat, maka saya baru bisa bertemu dengan rekan-rekan blogger jam ½ 6. Dua setengah jam dari jadwal. Hmmm……. Setelah sms dan tlp, dengan sedikit merengek pada om Almas, saya meminta pertemuan diundur lagi. Meski sebenarnya bisa aja sih jalan tanpa saya. And, beberapa menit kemudian, telpon genggamku berdering dengan nama Almas di layarnya. Ia mengabarkan bahwa setelah kontak yang lain, agenda kopdar serius ini mundur 2 hari lagi alias Jumat. Uhuy senangnya, mereka memang menyayangiku *tsah…*
Saya pun kembali ke Piru dengan kembali basah. Hari kemarin judulnya adalah Mandi Hujan dengan rute Piru-Waipirit-Piru.
Terimakasih kepada Om Embong, Om Mamung, Pakde Dharma, Bang Almas dan Bung Semmy yang bersedia mengubah jadwal pertemuannya. Persohiblogan emang top, euy.
Sampai ketemu hari Jumat, dan mengutip kata Caca Ida Azuz “Mari katong bakaringat par ator negeri dan diri ini bae-bae supaya ada guna sadiki”
Catatan :
- Jangan kemana-mana tanpa membawa jas hujan (bagi pengendara sepeda motor)
- Saat posting ini ditulis, sempat terhenti karena bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa, menginspirasi dengan tindakan nyata bagi ummat. Wanita yang mampu tertawa saat sedih. Suatu waktu, insyaAllah saya akan menulis tentang wanita hebat ini.
Wednesday, November 03, 2010
Allah, ini beta
Allah, Ini Beta…
Oleh: Faidah Azuz Sialana
“Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang**” dan banyak sekali warning yang diberikan pada saya ketika hendak berangkat ke tanah suci beberapa waktu yang lalu. Agaknya pikiran saya mulai terpengaruh. Membuat saya menganggap orang hitam sebagai musuh yang harus saya lawan. Pikiran saya mulai menyusun strategi bagaimana menghadapi orang hitam itu. Lengkap dengan beberapa kata penolakan dalam bahasa Arab dan Inggris yang saya hafal baik-baik dari tanah air. Pokoknya saya harus fight.
Lalu tibalah saya di Madinah. Menjelang pintu masjid Nabawi untuk shalat Ashar pertama saya telah menyiapkan diri kalau-kalau bertemu dengan orang hitam. Bagaimana sikap saya, apa yang harus saya ucapkan, pokoknya saya harus mempertahankan kapling sajadah, kalau perlu sampai titik darah penghabisan dengan semangat empat lima. Demikian tekad saya.
Semakin mendekati pintu pagar masjid Nabawi, saya semakin gugup. Saya terjebak dalam pilihan prioritas antara mengucap shalawat untuk Nabi, terheran-heran menyaksikan hamparan halaman mesjid Nabawi yang sesak, dan menyiapkan strategi menghadapi orang hitam. Semua membuat kacau konsentrasi saya.
Mata saya kemudian tertumbuk pada sekelompok jama’ah dari Ethopia-Afrika. Masya Allah, mereka benar-benar hitam dan berpostur besar. Beberapa di antara mereka melambaikan tangan ke arah Masjid Nabawi sambil berlinang air mata. Beberapa memegang dada sambil menunduk dalam-dalam sambil menggigit ujung kerudung lebarnya yang berwarna-warni. Beberapa berdiri diam sambil menggigit bibir menahan tangis yang mau meluap. Tidak ada ekspresi sangar, tidak ada gerakan hendak menyerobot tempat, apalagi mau menginjak orang lain di sekitar. Mereka dalam formasi teratur sedang mengirimkan rindu lewat shalawat yang juga sampai di telinga saya. Rupanya mereka beberapa saat lagi akan meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Mereka, seperti saya, melakukan haji Tamattu’
Saya terpaku menyaksikan gerombolan ini. Segalam macam warning yang dibawa dari tanah air melayang jauh meninggalkan diri saya. Dalam kejap yang sedetik itu, pikiran saya berlari ke buku “Makna Haji” yang ditulis oleh Ali Syariati. Buku ini memang saya baca beberapa tahun sebelum berangkat ke tanah suci, bahkan saya membawanya ketika berhaji. Buku ini bukan buku fiqhi, buku ini menjelaskan makna filosofi ibadah haji. Disamping itu saya menaruh hormat pada Syariati karena mumpuni dalam ilmunya, betapa dia adalah seorang sosiolog Iran lulusan Sorbonne University, Perancis.
Ketika menjelaskan tentang Ka’bah (hal 41-53; 2002), Syariati menohok saya dengan pertanyaan “Hanya beginikah? Inikah pusat keyakinan, shalat, cinta, dan kematian?. Penjelasan tersebut berlanjut bahwa pada tiang ka’bah yang ketiga, terletak kuburan Hajar, ibunda Nabi Ismail. Di pangkuan Hajarlah Nabi Ismail di besarkan. Di bekas telapak kaki Hajarlah kita melalukan salah satu ritual wajib antara Shafa dan Marwa untuk bersa’i.
Dari buku Makna Haji saya kemudian lebih memahami keberadaan Hajar, seorang budak yang dari rahimnya lahir Nabi Ismail. Hajar ternyata adalah budak milik Sarah dari Ethopia, Hajar adalah perempuan hitam yang Allah muliakan dengan menempatkan kuburannya menyatu dengan Ka’bah (Hijir Ismalil). Thawaf kita menjadi batal jika kita tidak mengelilinginya juga. Thawaf kita menjadi tak berarti jika kita memotong jalan melewati lorong Hijir Islamil. Hajar adalah perempuan yang melahirkan Ismail yang darinya turun Nabi Muhammad. Hajar melambangkan transformasi peradaban. Hajar bermetamorfosa menjadi hijrah, sebuah momentum penting dalam perkembangan peradaban Islam.
Pikiran saya kembali menelisik beberapa literatur yang telah saya baca menjelang keberangkatan ke tanah suci, buku ini juga saya bawa ke haji. Salah satunya adalah Adversity Spiritual Quetient for Hajj yang ditulis oleh C.Ramli Bihar Anwar dan Haidar Bagir (2004). ASQ For Hajj mengajak saya memahami bahwa Tuhan tidak main-main dengan hukumNya. Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan ciptaanNya, termasuk aturan yang telah disyariatkan. Buku ini membuka mata saya tentang urutan rukun Islam. Padahal sejak kecil, sejak duduk di Sekolah Muhammadiyah jalan Permi saya telah tahu bahwa Haji adalah rukun Islam yang ke lima. Pemahaman saya tentang makna urutan tersebut menjadi benderang dari buku ASQ for Hajj ini.
Diterangkan kemudian, untuk sampai ke tanah suci jangan pernah berharap banyak jikalau kita belum menegakkan secara benar-benar empat rukun lainnya. Tidak usahlah berangan-angan ke haji, jika syahadat kita masih belum utuh, jika kita masih saja mensyarikatkan Tuhan Allah. Buanglah impian menjadi Haji atau Hajjah jikalau puasa kita masih sekedar menahan lapar dan haus, kalau kita masih meledak jika marah, kalau kita masih suka memanipulasi membuat pencitraan diri. Pupuskan cita-cita ke baitNya, jika kita masih bingung menghitung zakat.
Rupanya, Haji merupakan pendakian terakhir dari rukun Islam. Dalam ibadah Haji, semua rukun yang empat menyatu. Dalam perjalanan haji, bukankah kita senantiasa rindu shalat di mesjid Nabawi dan Haram? Bagaimana mungkin kita berhaji sementara shalat kita masih bolong-bolong?
Memang, menjalankan ibadah haji, tidak ada kewajiban puasa sebagaimana kewajiban shalat. Tetapi larangan yang berlaku di bulan puasa, terasa sekali ketika kita sedang ihram. Di bulan puasa, kita dilarang melakukan hubungan biologis di waktu siang hari, tetapi ketika kita berihram larangan ini berlaku bahkan malampun kita dilarang melakukannya. Puasa pada initinya membuat kita mampu menahan diri, menekuk ego, dan menahan diri terberat adalah saat ihram. Semoga Ihram jugalah diri saya kelak.
Zakat yang saya lakukan selama ini, tampaknya perlu diredefinisi lagi. Saya memahami zakat sebagai ungkapan kedermawanan, sebagai upaya meringankan beban orang lain. Tetapi ternyata, zakat tidak sekedar itu. Zakat adalah kesediaan untuk taat, kesediaan untuk tidak kikir. Terlebih lagi, zakat adalah kehawatiran ketika orang lain enggan menerima apa yang kita sampaikan. Dengan demikian zakat adalah bentuk pengikisan kesombongan diri.
Buku ASQ for Hajj meninggalkan penjelasan yang mengesankan bagi saya ketika penulisnya mendemonstrasikan kata yang dipakai untuk perintah haji. Qur’an menggunakan kata Aqimash Shalat (dirikan shalat), Atuz Zakat (tunaikan/bayarkan zakat), Kutiba ‘alaikumush Shiyam (diwajibkan kepada kalian berpuasa), maka khusus untuk haji Qur’an menggunakan Walillahi ‘alannaasi Hijjul Baita (Hanya karena Allah diwajibkan atas manusia mngerjakan haji).
Ustadz Quraish Shihab menjelaskan bahwa meskipun semua syarat sah ibadah adalah hanya karena Allah, namun yang tersurat dengan jelas adalah perintah haji. Inilah isyarat Qur’an bahwa haji adalah watak yang perlu kita kejar. Tanpa tendensi apa-apa. Saya memaknai perintah haji melalui Walillahi ‘alannaasi hijjul baita.. sebagai peringatan keras dari Allah untuk tidak berpongah setelah pulang melaksanakan ibadah haji. Agaknya Allah tahu bahwa manusia kerap menggunakan label haji-nya untuk menepuk dada, untuk menunjukkan derajat sosial, bahkan kerap sebagai atribut untuk merebut hati masyarakat ketika pemilu tiba. Haji kerap diseret memasuki ranah ekonomi dan juga politik. Peringatan ini hanyalah agar kita sampai pada titik mampu memaknai kata mabrur. Semogalah saya mabrur adanya.
Bacaan dari dua buku itu kemudian mengantarkan saya duduk menunggu Ashar di halaman mesjid Nabawi. Saya hanya kebagian tempat di halaman, karena Nabawi telah penuh. Ketika mata saya kembali memandang rombongan jamaah Ethopia-Afrika yang hitam legam dari jauh, pikiran saya kembali menyusun argumen. Hajar adalah budak hitam dari Ethopia, tidak berbeda dengan mereka ini. Dari rahim Hajarlah lahir Nabi Ismail, yang kemudian menurunkan Nabi Muhammad yang sangat saya rindukan dan kalau boleh saya junjung di atas kepala.
Mungkin hitamnya Hajar persis dengan hitamnya orang-orang ini. Mungkin ketidakrelaan saya berbagi tempat dengan mereka lantaran saya merasa lebih baik dan lebih layak dari mereka. Di manakah pemaknaan zakat saya? Padahal, tidak tertutup kemungkinan perjuangan mereka untuk sampai di Nabawi jauh lebih berat dari saya. Mungkin shalawat yang mereka sampaikan jauh lebih banyak dan lebih ikhlas dari saya. Ohoi..di mana saya letakkan muka untuk merasa hebat? Bagaimana mungkin saya menganggap remeh mereka ini?
Maka, sambil memegang dada, saya mengangkat wajah lurus-lurus ke depan, ke arah kiblat. Saya berbisik, “Allah, ampong (ampuni) beta jua yang beberapa waktu lalu pandang enteng (meremehkan) orang hitam, padahal justru dari rahim seperti itulah lahir Nabi Ismail leluhur Nabi Muhammad yang beta cinta dan beta junjung tinggi-tinggi. Ilahi.. tolong beta karja haji supaya akang seng salah***), Rabbi....ini beta, perempuan dari negeri yang tengah berkonflik…
sebuah catatan harian
1. beta = saya (bahasa Ambon)
2. Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang = Ingat, orang hitam itu sukanya nginjak tempat sujud (sajadah) kita, suka serobot tanpa ijin, mereka nggak tau adat”
3. Karja haji= melaksanakan semua rukun haji.
4. Seng = tidak
Madinah, 28 Desember 2004.
Faidah Azuz Sialana = Alumnus Faperta UNPATTI Ambon. Saat ini sedang sekolah pada program S3 Jurusan Sosiologi UGM Yogyakarta.
Catatan :
Tulisan ini pernah dimuat di AMEKS tahun 2009.
Tuesday, November 02, 2010
Hari ini, Setahun Kemarin
Menjalani proses yang dimulai, apapun itu, ada beragam konsekuensi yang harus kita hadapi. Seperti kalimat yang pernah saya baca, bahwa ketika kita mengambil sebuah keputusan, saat itu kita telah menikahi konsekuensinya.
Begitupun saya, setahun lalu, ketika sebuah keputusan saya ambil dengan sadar, maka saat itu pula, ada konsekuensi yang harus saya tanggung. Konsekuensi yang kadang-kadang harus berdamai dengan banyak hal, berdamai dengan pikiran dan hati yang terkadang tak sejalan. Tapi, begitulah adanya.
Lantas apa yang membuat saya bertahan? dia bernama keyakinan. Satu keyakinan yang membuncah hebat di dada bahwa ini yang saya inginkan, ini yang terasa tepat untuk saya jalani. Tak mulus memang. Tapi apakah ada yang mulus di dunia ini? tidak ada, sungguh tidak ada. Keyakinan yang membuat saya bertahan dalam menjalani sebuah keputusan penting untuk pada masanya, ada keputusan maha penting yang harus saya ambil.
Hari-hari ini adalah hari untuk terus meneguhkan langkah, untuk terus memperbaiki apa yang harus diperbaiki, agar pada saatnya nanti, ketika sebuah langkah harus saya ambil lagi, saya akan dengan tersenyum mengambil langkah itu.
Monday, November 01, 2010
hari baru di awal minggu, awal bulan
Adakah yang istimewa? secara khusus tidak ada. tapi di hari baru ini ada satu janji yang saya buat yaitu satu postingan tiap hari. minimal di bulan november ini, target 30 postingan bisa terealisasi..
oke, ini postingan pertama saya. malam sudah mendekap namun belum tahu ingin menulis apa. hari ini diawali dengan cerita perjalanan mengawal sebuah PERDA.
Banyak yang terungkap. tak mungkin cerita disini.. yang pasti, ada sebuah kesimpulan bahwa agak sulit berhubungan dengan para wakil rakyat yang lebih memposisikan diri sebagai wakil partai. belum lagi ketika integritas mulai diragukan.
malam makin dingin, tapi saya tetap menghangatkan harapan bahwa apa yang kini sedang diupayakan bersama atas nama rakyat dapat tuntas dengan baik.
piru,malam,dingin, 0111'10
Tuesday, October 26, 2010
Tulisan Entah
kosong..
gersang..
sudahlah...
pergilah,
demi hati yang kau jaga
demi jiwa yang kau rindu
demi mimpi yang kau bangun
bahagialah
Sunday, October 24, 2010
Galau
pada bayang yang tak jua menjadi nyata.
ubahmu adalah isyarat jiwa yang gersang.
aku hilang kata.
aku hilang marah.
tak lagi peduli pada sekitar.
embun tak kurasa sejuknya, panas tak kurasa sengatnya, hujan tak kurasa dinginnya.
aku memilih damai dengan hatiku...
yang kini sedikit demi sedikit berlubang.
menganga dan tak terobati.
diamku adalah sentuhan lembut jiwa.
pada beragam kenangan yang menjalar.
tak resah, tak gelisah.
aku terdiam..
~tanjung kuako,24 okt 10~
Wednesday, August 25, 2010
Sampe Jua Basudara eee.....
Beta cuma mo tanya par dong samua, apa yang bisa katong bikin supaya katong bisa maso kaluar kombali deng bebas. Beta seng mau bicara sejarah, seng mau bicara fakta. Karena beta seng tau dari sejarah yang beta dengar, dari carita dolo dolo yang orang orang bacarita, beta seng tau mana yang benar mana yang salah.Dan kalo pun dapa tau sapa yang benar dan sapa yang salah, lalu mo apa? Yang beta deng katong samua parlu itu kan cuma damai jua basudara eee......
Beta orang Luhu, tapi Iha tu jua beta pung negeri. Kalo tarus bagini jua, beta sedih. Lalu sapa yang sanang par akang? Orang Iha deng Luhu kalo mo ka Piru, musti ka Ambon dolo. Atau pake katinting ka Katapang atau Lokki, kalo mo nekat, musti pake pengawalan brimob. Sioooo, seng siksa diri itu?
Itu saja yang beta pastiu deng akang. Jang katong cari salah deng batul lai. Jang katong inga dolo dolo lai. Katong pikir skarang jua, katong saling butuh, katong saling parlu. Buka diri jua. Baku kasi maaf jua. Jang tunggu satu minta maaf lai, maar sama sama kasi maaf jua. Jang katong baku batahang deng model bagini. Katong sandiri yang susah, bukan orang laeng. Voor basudara basudara yang baca catatan ini, beta yakin katong samua rindu par bale bae-bae ulang. Memang katong seng rasa akang dampak langsung tapi yang rasa langsung tu katong basudara di hena yang akang nama "saki di kuli, rasa di daging".
Bilang par katong orang tatua, katong basudara di hena, jang katong baku tahang gengsi lai, jang baku tahang ego lai. Masa katong mo wariskan dendam, wariskan permusuhan par ana cucu. Gara-gara katong skarang, anana kacil di hena sana seng bisa skola bae-bae, abis itu, beso-beso dong bale musti lanjutkan katong pung baku tar suka ini lai. Katong seng mau bagitu to.
Jadi mari katong bapikir bae-bae jua, katong bisa apa par bikin bae negeri ini deng cara paleng sederhana yang katong bisa. Supaya apa? Supaya samua sanang. Beta cuma rindu bisa pi ka Luhu kombali deng sanang, seng ada was-was. Lalu sampe Luhu, beta bisa pi maeng maeng ka Iha, beta pung negeri lai. Mangente beta pung basudara Waliulu di Iha, basudara Putuhena, basudara Pattiiha, basudara Pikahulan, basudara Samal, basudara Kaisupy, beta pung basudara samua di negeri Iha.
Sunday, August 08, 2010
Ahad dan Rindu
Pada gelak tawa mereka
Yang memudahkan hari-hariku
Yang menjadikanku jiwa yang riang
Ahad ini aku merindu
Pada raut senyum mereka
Yang mencerahkan hariku
Yang menjadikanku jiwa yang lembut
Ahad ini
Aku merindu tangis mereka
Saat ada selip khilaf dan upaya renovasinya
Yang mengajarkanku indahnya persaudaraan dalam islam
Yang menjadikanku jiwa penyayang
Saudaraku,
Lingkar cinta itu kurindu dalam setiap detak jantungku
Disini, kumiliki lingkar cinta yang lain
Tapi lingkar bersama kalian
Adalah lingkar yang kurindui setiap masa
Canda kita setiap pekannya
Adalah penawar dari seluruh rutinitas yang kadang penat
Tawa bersama kita
Adalah obat atas segala sakit fisik maupun raga
Kini,
Beda dunia kita jalani
Beda tempat kita diami
Beda lingkar cinta kita selami
Namun aku percaya
Itu tak merubah lingkar yang kita punya
Karena lingkar itu masih ada
Ia hanya melebar
*terkirim ukhuwah dari bumi raja-raja, Ambon Manise*
8 Agustus 2010
^catatan sepulang Dauroh Tarkiyyah^
Saturday, August 07, 2010
Hujan dan Senja
Bagaimana dengan senjamu?
Jika ia hujan, adakah kau merinduku?
Seperti aku yang merindumu
Sambil mencumbui hujan
Senjaku dingin
Bagaimana senjamu disana?
Jika dingin pula disana, adakah kau mengingatku?
Seperti aku yang mengingat hangatmu
Penawar dinginku disini
Hujan ini centil,kecil dan menggoda
Tapi aku suka
Karena di titik air centil itu
Kukirimkan sebuah nada
Nada yang hanya bisa didengar sang perindu
Nada yang hanya bisa dinikmati sang dirindui
Hujan dan engkau,
Dunia kecilku yang selalu penuh cerita
Engkau dan hujan,
Adalah tawa dan rinduku
~senja yang basah~
7/8/10
Friday, August 06, 2010
Sajak pagi
Didendangkan segala rupa kata
Menjadi ada dalam rumpun cinta
Menyatu dalam gelak tawa
Tak seberapa memang rupa
Saat semua berpadu di antara jejaring cinta
Tak peduli kemana nyiur itu melambai
Dan pada apa lambaian tertuju
Lihat di batas senja itu
Meski gelap menjelang
Namun emasnya tetap perkasa
Ini dia dalam nyata dan beku meski meragu
Sunyi itu kawan
Bukan disana atau di dia
Tapi ada di sini, di dadamu
Maka putuskanlah untuk mengusirnya
Jangan bersahabat dengannya
Dedaunan luruh hening dalam lembut embun
Tinggal kau pilih, nikmati embun atau terpaku pada daun
Thursday, August 05, 2010
Hidup ini sulit, singkat tapi indah

Pagi ini dengar berita kok semakin banyak yang menyayat hati.
1. Seorang ibu membunuh bayi yang dilahirkan 17 juli lalu, putri ketiganya. Alasan : tidak siap punya anak lagi. Busyet dah, alasan apa pula itu? Kalo gak siap, ya jangan bikin. Kalo gak siap dan tetap mau bikin, liat sikon, lagi (maaf) subur apa tidak.
2. Seorang bayi berumur 1 (satu) hari ditemukan dalam kardus di jembatan. MasyaAllah, apa pula ini? Satu hari usianya sudah dibuang? Dimana nurani seorang ibu membuang anaknya begitu rupa?
3. Seorang ibu mengajak 2 orang anaknya untuk bunuh diri karena sudah tak sanggup membayar hutang 3 juta tiga tahun lalu, yang sekarang jadi 21 juta. Ia mengajak anaknya bunuh diri karena khawatir kalau bunuh diri sendirian, tidak ada yang mengurus anaknya. Astaghfirullah, dimana konsep rezeki di tangan Allah, dimana penghambaan yang bertawakkal dan berusaha?
Siapa yang bilang hidup ini mudah? Hidup tidak mudah, hidup itu sulit. Tapi Allah memberikan kesulitan bukan tanpa menyediakan kemudahan kita menyelesaikan. Bunuh diri, buang anak tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Karena lari dari masalah bukan berarti meniadakan masalah, hanya menangguhkan masalah untuk suatu saat tetap harus dihadapi. Menghadapi masalah adalah satu satunya jalan untuk keluar dari masalah tersebut.
Tak ada manusia yang tak punya masalah, tapi begitu pula dengan tak ada manusia yang tak diberi akal dan pikiran. Menghambalah dan berusahalah. Hidup ini sulit, singkat, tapi indah.
Wednesday, August 04, 2010
Hidup ini singkat
Kali ini mo bahas apa ya?
oiya, bahas hati dan kehilangan saja deh.
2 minggu yang lalu, teman sekaligus sahabatku kehilangan papanya. sebulan jelang Ramadhan tentu bukan hal yang mudah menerima. Sejak pertama mendengar berita itu, dan hingga saat ini saat jari beradu dengan tuts keyboard pun, perih ini masih terasa. Ditinggalkan orang tua di kala jelang hari-hari dimana keluarga terasa begitu dekat. Saat dimana kebersamaan dengan keluarga adalah hal yang tak bisa digantikan oleh siapapun. Begitulah, takdir kematian yang tak bisa diundur atau dimajukan.
Belum sembuh perih ini, pagi ini kembali dikagetkan oleh berita kepergian. Adik, tetangga lama dalam status fesbuknya mengatakan bahwa ibu mertua dipanggil Allah hari minggu lalu, 10 hari sebelum Ramadhan. ah, kembali berderai. Bisakah kuat menghadapi?
Orang-orang yang kita sayang, bahkan diri kita sendiri bisa pergi kapan saja. tak pernah ada pemberitahuan sebelumnya. Bahkan ketika kita bisa memasuki Ramadhan pun, tak ada jaminan kita bisa sampai di ujung Ramadhan. Tak pernah ada "baik-baik" saja pada sebuah kehilangan. Hanya bagaimana cara kita mempersiapkan diri pada setiap kehilangan yang bisa datang kapan saja.
Ramadhan ini semakin dekat, tapi masih banyak hati yang membenci, yang mendengki, yang marah, yang tak bisa memberi maaf, yang tak mau meminta maaf. Padahal hidup ini singkat, lalu kenapa harus membenci? Sebesar apapun kesalahan seseorang, selalu saja bisa dimaafkan dan diberi kesempatan lagi. Setidaknya berbicaralah dari hati ke hati.
Postingan ini entah tentang kehilangan atau kematian. Yang jelas, ini tentang bagaimana tetap membangun hubungan baik dengan semua orang agar kelak memasuki Ramadhan dengan sempurna, agar kelak ketika orang yang bersinggungan dengan kita dipanggil oleh Allah, atau jika kita sendiri yang dipanggil oleh Allah, tak ada lagi penyesalan tentang kusutnya hubungan sesama manusia.
Berbaikanlah wahai semua.....
Saturday, May 15, 2010
Jiwaku Bersenandung
menarik nafas sejenak dan bersandar sambil menikmati secangkir kopi
di jelang senja diiringi musik alam yang basah
kita akan bercerita banyak hal dalam diam
kita akan berbagi banyak senyum dalam tatap
dan meski pada akhirnya ada sebuah simpulan tentang penundaan
kita akan tersenyum mendengar kata itu,
karena itu berarti banyak
ada sebuah skenario yang telah Rabb susun untuk kita
dan kau tahu,
bahkan sebelum skenario itu mulai kita jalani
aku telah merasakan kegembiraan dari udara yang kuhirup
entah bagaimana, hatiku merasa benar
dan kita akan lewati ini dengan tersenyum
jiwa,
semoga kau pun bisa merasakan kegembiraan di udara itu
dan mengalir melintasi setiap pembuluh darah
serta meninggalkan jejak kekuatan dalam dada sedikit demi sedikit
lalu,
kita akan beriringan penuh senyuman memasuki gerbang itu
dengan penuh doa dan senyum,
fw
*jelang dini hari di separuh mei*
Thursday, May 13, 2010
Kawan, ini dariku..
fakta bahwa di suatu masa ada kisah tentang kebohongan, tentang permainan hati, memang menyakitkan, kawan. tapi jika terus dipupuk dalam ingatan, apakah itu menyembuhkan?
lihat dirimu sekarang. begitu bahagia, ada yang nyata dalam hidupmu, yang teraih dengan utuh oleh hatimu. lihat wajahmu di cermin, tak pernah hilang senyuman. lantas???
sudahlah kawan, dia memang tak pernah pantas untukmu. di depanmu, ada masa depan yang bahagia, yang menghargaimu apa adanya, yang menawarkan ketulusan yang sudah langka di dunia yang banyak ambisi ini.
kawan, melangkahlah bersama bahagiamu. dan kebohongan yang kau terima di masalalu, enyahkan. tinggalkan di belakang. tertawalah bersama masa depanmu
with love,
fw
Wednesday, May 05, 2010
Menyatukan Gelisah
dalam asa yang sedang dirintis satu persatu
kadang memang menggelisahkan
namun saat tawa renyah hadir bagai pelangi
dan banyak hal mengejutkan sekaligus mempesonakan tersaji
deretan gelisah pun perlahan berganti
di batas yang tak terdefinisikan
lambaian cita menyapa dengan manja
ah, tak terlalu muluk impian itu
sederhana hingga tak mampu terucap
kau di ujung sana
dalam kegelisahan yang berbeda
dalam ikhtiar yang terenda perlahan
adalah sebuah bukti tentang impi yang hampir nyata
sampai di saat yang terencana olehNYA
gelisahmu,
gelisahku,
adalah satu.
-jelangsenjadibilanganmeiharikelima-
Tuesday, March 23, 2010
no..no...no....
sebelum menjadi basi, ada sejumput kata yang harus didendangkan
tentang satu pesan singkat berurai senyum
tentang makna yang kini menjelma pasti
tak mungkin berpaling ke belakang jika di depan sana menunggu segudang asa
apakah ini yang namanya tega?
kisahmu adalah kesalahan dan ketololan terbesar dalam hidup
tapi kisahmu memberi pelajaran tentang kesyukuran
kau dan kisahmu, pergilah
karena,
disini ada bahagia yang tak pernah kau tawarkan
Monday, January 18, 2010
Dia Teman Apa??
Si jelita bungkam mendengar pertanyaan itu, tak ia temukan kata yang tepat untuk menjawab. Meski di hadapannya telah tersodor kamus besar di atas meja berkaki empat yang kian lapuk untuk ia bebas memilih satu saja kata. Tapi tatapannya membatu di atas kamus lusuh itu.
Pria di hadapannya menuntut jawaban. Dia teman apamu? Tiga kata yang sulit untuk terjawab, karena jelita pun tak tahu, dia teman apa. Apakah teman itu bisa terkotak di dimensi ruang dan waktu? Teman SMP, teman SMA, teman kuliah atau teman kerja? Begitukah opsi jawabannya?
Jelita tetap diam.
Karena yang jelita tahu, dia adalah teman dengan segala definisinya. Dia pernah ada dan sekarang pun masih ada. Hanya telah menjalani kehidupan berbeda. Hanya sedang merangkai cerita berbeda, tak lagi sejalan dengan jelita.
Dan si pria ikut mematung. Diam jelita memberinya jawaban. Bahwa seorang dia adalah teman, setidaknya buat jelita. Dan pria tak peduli meski di luar sana jelita punya banyak teman. Karena pria tahu, jelita hanya punya satu cinta.
Satu saja,
Untuknya………
Dan itu lebih dari cukup.
Sunday, January 17, 2010
Pistol, kursi dan kesatria.....
Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Seolah ada yang menarik paksa tanganku dan berkata "ayo pulang,jangan melawan". Padahal kaki masih ingin kujejakkan lebih lama. Padahal masih banyak bahasa yang belum tersampaikan.Lamunan menyampaikanku pada satu pertanyaan. Mungkinkah ada dua waktu. Satu waktu yang menarik tanganku dengan paksa dan sepucuk pistol tertodong di kepalaku. Namun ada waktu yang lain yang dengan tangkas meraih tali temali dan mengikat kaki serta tanganku di atas kursi listrik, dan aku akan terus disitu jika tak ingin disengat berkilo watt listrik.
Sekarang kebingungan kembali melanda. Tertembak peluru atau kesetrum?
Tak ada yang lebih baik. Tak ada yang ingin kupilih. Karena ada satu pengharapan lagi.
Bahwa somehow, ksatria datang dan melumpuhkan pemegang pistol itu lalu mematikan aliran listrik.
Dan dengan sekali kedipan mata, tali temali meleleh hingga menjadi abu dan aku tetap bersama sang ksatria.
Disini atau disana,
Sudah tak penting lagi.
Thursday, October 29, 2009
Demo mahasiswa di mata kita...

berikut, percakapan tentang demo mahasiswa sekarang. bagaimana menurut kalian?
1. demo dengan kekerasan adalah bumbu demokrasi.
2. dengan Demo...... masalah dapt muncul ke Public seblum negoisasi maslah.
3. gak ada yang melarang demo. sah-sah saja. memunculkan masalah ke publik tidak harus dengan kekerasan dan melupakan kesantunan kan? apalagi dilakukan oleh mahasiswa yang dengan bangga memakai jas almamater. apa bedanya dengan preman pasar yang mempertahankan lapak-lapak yang mau digusur satpol?
4. sepgthuan gw sih... Demo itu jalan terakhir......
biasanya sblum Demo sdah diadakn pertemuan kdua blh pihak ....... " Demo " Pemerintah langsung turun lansung manangaapi pesoalan -persoalan..."
5. sepengetahuanmu. kenyataan gak kayak gitu kok. demo justru dilakukan di awal untuk menarik perhatian pemerintah. dan sayangnya, selalu saja dinodai dengan aksi kekerasan. sudah tak ada lagikah cara elegan yang terpikirkan oleh para mahasiswa?
6. demo yang santun???? enggg... pada satu pihak kekerasan bukan kemauan tapi itu adalah salah satu langkah juga untuk mencapai tujuan, bukannya lebih baik nyata dari pada manis dimuka dan penuh janji2 indah tapi kenyataannya menginjak lebih sadis dari pada penjajah? :D
7. saya tak penah percaya bahwa kekerasan adalah salah satu langkah. bukannya kita dianjurkan untuk menasehati, menyampaikan atau apapun dengan hikmah. santun bukan berarti manis di muka. santun berarti menunjukkan kebesaran jiwa untuk menyampaikan maksud dengan indah. percayalah, kekerasan tak pernah menemukan kebaikan pada akhirnya
8. betul sudara, segala hal yang paling baik adalah dengan menasehati, menyampaikan dengan baik dan lain2, tapi tidak selamanya penyampaian dengan baik itu akan berhasil, kekerasan pun diperlukan jika dibutuhkan, sayah bilang kekerasan adalah salah satu jalan, bukan satu2nya jalan bu... pada beberapa kondisi sayah sepakat dengan kekerasan dan pada hal lain saya akan menolak kekerasan :P~
9.okelah,banyak contoh kasus yang bisa diberikan. tapi skarang pembahasannya adalah demo mahasiswa. liat kan tayangan berita di tivi? lempar batu, lempar kursii, lempar kaca gedung pemerintah, robohkan pagar dewan. lalu kalo anggaran untuk perbaiki hal2 itu, didemo juga. maunya apa? jangan salahkan kalo mahasiswa-mahasiswa akan datang akan bersikap yang sama karena saat ini disuguhkan cara berdemo oleh mahasiswa sekarang.
10.ehhmmm.. ini hanyalah pengulangan sejarah saja, bukannya mahasiswa2 dulu sudah melewati sejarah gerilya dari kampus ke kampus sampai turun ke jalan, dari cara santun dan sopan aka diplomasi dengan pejabat sampai turun ke jalan membuat onar.. peristiwa malari bukannya itu terbukti nyata? kayaknya sayah lebih memilih untuk melihat hasil dari aksi ... kekerasan yang mereka buat, kalo hasilnya lebih banyak mudharatnya maka itu adalah pekerjaan yang paling sia2 selama mereka demo, kalo bermanfaat dan berhasil baik.. kenapa tidak didukung? :D
11. Mreka itu : Blum Belajar Manajemen Aksi........
Klo dah blajr n mmhami. Pasti pham Perangkt 2 aksi dlll
Bgitu.........
12. sapa bilang? kayaknya didikan semua tentang perangkat aksi dan manajemen aksi ditingkatan mahasiswa udah pada ada deh, tapi skr kayaknya chaos lebih dipilih untuk didengar pemerintah, soale aksi damai skr sudah dianggap biasa.. mahasiswa butuh ramuan baru lagi.....
13. tanpa menyalahkan sejarah lho ya. coba deh diliat lagi aksi-aksi belakangan ini. ada dampaknya? pemerintah kita tuh sudah kebal dengan demo tidak simpatik model begitu. demo ala 98an memang bawa hasil meski ada korban jiwa, namun mampu merubah kebijakan pemerintah yang dahsyat. lalu bergulirlah demo demo diwarnai kekerasan berikutnya, ... keballah pemerintah kita. mahasiswa yang berdiri berteriak mengacung-acungkan jari ke pemerintah, begitu dikasi kedudukan, begitu masuk dalam birokrasi, mandul juga mereka. tidak semua memang, tapi banyak. idealisme mereka tergadaikan oleh aroma birokrasi. forum-forum aspirasi banyak, namun tak mau dipakai. mahasiswa inginnya cepat namun harus dibayar mahal dengan korban fisik maupun jiwa. revolusi dan revolusi...
14. aksi damai sudah biasa, aksi kekerasan juga sudah biasa. malah meresahkan masyarakat. perlu dicari ramuan baru lagi kalo mau didengar.
15. Demo awalnya Simpatik...........berujung anarkis .. Why.
a. ditunggangi kpntingn Lain
b. Tuntutan aksi tdk tercapai dngn sett aksi
c. dengan cara Anarkis " Masalah dapt dipuiblikasikan " Media Masa, Electronic, Dlm n Luar Negri ...
d. Media salh stu Tujuan Aksi " terexspos '' masalh yg dperjuangkan .
16.nah itulah dia, butuh formulasi dan rekonstruksi gema yang baru, soalnya jaman sudah berubah, kekerasan jaman skr bisa dibilang ga ada efeknya sama sekali, tapi bukan berarti kekerasan harus dilepaskan dari sebuah gerakan, sebab hal itu dibutuhkan, pemerintah bisa mengikuti perubahan kenapa mahasiswa ga? soal idealisme yang tergadaikan itu kan ... sudah dari sononya, akbar tanjung dulu adalah salah satu tokoh gema yang radikal tapi akhirnya jatuh juga.. ah teringat soe hoek gie, seorang idealis yang harus terbuang dari kumpulannya :D
17. Kadang Aksi 2 demo.........
tdk murni........
Pendemo Bayaran,,,,,,,,,,,,,,,,
18. pada akhirnya semua kita kembalikan pada nurani penguasa dan pendemo. mana yang mau mereka menangkan
sumber : febry waliulu, al attamimi, muluk adul
Monday, October 12, 2009
Jejak dari Laut

Perjalanan ke Luhu baru baru ini adalah salah satu perjalanan yang berkesan.
Hari itu, Jumat Oktober 2009 jelang sore di pelabuhan perikanan. detik, menit, jam berlalu dalam angin, dingin dan sapa ombak. Lalu dari laut, mendekatlah kapal pencari ikan. Sekitar 10 pemuda yang ikut di dalamnya merapat tanpa membawa tangkapan apapun. Ombak yang cukup membuat saya ketar ketir, tak mampu melawan kekaguman saya akan apa yang saya lihat.

Motor ikan itu tidak bisa merapat, jadi sampai di batasnya, pemuda-pemuda itu nyemplung saja ke laut dan berenang atau berjalan ke daratan. Sementara dua bapak yang terakhir turun setelah memastikan motor ikan telah tertambat dengan baik, lalu mendayung melawan ombak merapat ke daratan.
Ada yang merembesi dinding hati, betapa kehidupan yang keras telah dilalui setiap hari oleh mereka-mereka ini. Kita (saya, tepatnya) tersadar bahwa hanya bisa bicara. Hanya bisa mengatakan sebaiknya di desa itu begini dan begitu. seharusnya masyarakat begini dan begitu.
ah, bodohnya diri ini. Mereka jauh lebih kuat, jauh lebih perkasa. tak perlu diajari bagaimana memperbaiki hidup karena setiap hari yang mereka lakukan adalah memperbaiki kehidupan mereka. Lihat saja guratan di wajah, pertanda perlawanan akan keangkuhan zaman. Pertanda tabuhan genderang memenangkan hidup. Tak memilih menyerah akan kesulitan yang dititipkan Allah pada mereka.
Sejam di pelabuhan itu, sejam melihat kehidupan laut itu, aku tertunduk malu karena ternyata keras yang kupunya belum pantas membuatku layak untuk mengeluh.
Monday, September 21, 2009
Tak akan mendendam
Aku tak ingin mendendam
Aku tak mau mendendam
Aku tak boleh mendendam
Aku tak bisa mendendam...
Setiap orang layak mendapatkan apa yang dia cari, even itu menyakitkan orang lain. Bagiku, bukan masalah besar jika aku disakiti, tapi masalah besarnya adalah jika aku yang menyakiti.
Maka di detik ini, jika pun pada akhirnya menyadari bahwa telah mendzholimiku, aku tak butuh permintaan maaf. Karena maaf itu sudah kuberikan jauh sebelum terpikir untuk mendzholimiku. Pembalasan pun tak akan pernah kau terima dariku, karena Allah-lah yang akan membalas dengan dengan setimpal. Aku takut, jika aku membalas, bisa jadi melebihi seharusnya dan jadinya aku yang mendzholimi.
Sikap yang kau ambil salah memang. Tujuannya benar, tapi ko pung cara yang salah. Tapi ya sudahlah, tak akan ada dendam di hati ini. Aku punya Allah yang akan menguatkanku dan ini cara Allah mendidikku merasakan sakitnya dizholimi agar aku tak mencoba mendzholimi orang lain.
Hal terakhir yang ingin kukatakan adalah, berhentilah memakai topeng yang selama ini kau kenakan. Jujurlah pada dirimu sendiri, jujurlah pada hatimu, dan belajarlah untuk bisa menghargai orang lain. Belajarlah untuk melihat sesuatu juga dari sudut pandang orang lain, sehingga kau tak melulu merasa paling benar. Sehingga kau tak melulu menyakiti orang lain dengan perkataanmu.
Tak ada dendam, setidaknya aku sedang mencoba sekuat tenaga untuk tidak membiarkan dendam masuk ke pintu hati. Kau masih akan selalu melihatku tersenyum setiap kali kita bertemu. Kau akan selalu kutempatkan menjadi teman baikku. Aku akan tetap menjadi orang yang pertama bahagia saat kau bahagia dan yang akan lebih bersedih melebihi kesediahnmu jika kau bersedih. Kau akan selalu bisa datang kapanpun berbagi lara denganku.
Hanya satu, belajarlah menghargai orang lain. Itu saja yang kupinta.
Your best, always
Ingin bisa membuat bangga..
Judul buku Donny Dhirgantoro yang baru saja saya baca setelah harus menunggu selama 4 bulan untuk sampai di genggaman. Penantian yang tidak sia-sia karena buku ini membuatku menyadari kembali satu hal tentang mimpi dan jembatan untuk meraihnya. Nyesal ketemu buku itu sekarang, setelahempat tahun buku itu terbit, setelah cetakan ke 15-nya (atau lebih) beredar, tapi daripada enggak kan?
Ada sebuah quote yang menarik,
Taruh mimpimu mengambang depan kening (agar selalu kau lihat), dan yang diperlukan sekarang Cuma....
Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya
Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya
Leher yang akan lebih sering melihat ke atas
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari biasanya
Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya
Serta mulut yang akan selalu berdoa.
Buku ini juga membuatku bangga akan Indonesiaku. Bumi dimana mahameru berpijak, pecel madiun ada, tempe penyet terhidang, papeda dan colo-colo menggoda. Indonesia yang kaya, yang sejak lahir, kita minum dari airnya.
Tapi tulisan ini bisa hadir bukan tentang itu, teman. Buku itu memang mengembalikan tekadku untuk memindahkan daftar mimpi dari buku coklat ke depan keningku. Mengembalikan kebanggaan akan Indonesia meski di tengah carut marut terseok memperbaiki diri. Tapi ini bukan tentang itu. Ini adalah tentang saya dan kalian, sobat. Adakah saya berarti ataukah hanya kesia-siaan yang kalian dapat dari pertemanan ini.
Almarhum Adrian menginspirasi teman-temannya dengan selalu mengulang kalimat “sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain”. Almarhum Adrian pasti dan sangat pasti terinspirasi dari pesan baginda Rasul sejak berabad-abad tahun sebelumnya “Khairunnaas anfa’uhum linnaas...sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”.
Lalu melintaslah pikiran itu.
Bagaimana dengan saya?
Sudahkah saya memberi sesuatu yang bikin orang lain bahagia?
Sudahkah saya memberi makna di setiap kehadiran saya?
Sudahkah saya toreh jejak kebaikan di setiap perjumpaan?
Ataukah saya hanya seonggok daging yang bernama???
Teman,
Saya hanya ingin meminta maaf atas setiap kesia-siaan yang saya timbulkan. Atas berlalunya waktu tanpa makna dalam kehadiran saya di kehidupan kalian. Mungkin juga justru rasa sakit yang saya tingglkan, omongan tak penting yang bisa saja menoreh luka yang tak disadari.
Seorang bijak pernah menyuruh anaknya menempelkan paku di pagar setiap kali ia menyakiti orang lain. Dan ketika pagar itu mulai penuh, anak itu ingin memperbaikinya. Si ayah lantas menyuruh anaknya untuk mencabut paku itu satu persatu setiap kali ia berhasil meminta maaf dari setiap yang ia sakiti. Sampailah pada cabutan paku terakhir, namun si anak melihat pagar itu tak lagi sama dan tak akan pernah sama seperti sebelum dipaku.
Inilah usaha saya mencabuti paku-paku yang saya torehkan di hati kalian. Mungkin tak akan pernah sama, tapi yang saya butuhkan sekarang adalah kesempatan.
Kesempatan untuk menjadi berarti dalam tiap perjumpaan.
Kesempatan untuk bermmakna dalam setiap pembicaraan.
Kesempatan menjadi terindah dalam setiap terkenang.
Dan yang terpenting adalah kesempatan agara aku bisa belajar menjadi pribadi yang membuat orang lain bisa bernapas lebih lega karena keberadaanku disitu,
Hingga suatu ketika, saat kita tak lagi mampu berjumpa dan namaku terdengar, kalian bisa tersenyum dan bilang “itu temanku, sahabatku, saudaraku”
Maafkan segala perilaku bodohku. Dan sejak hari ini, aku akan berusaha memberi jejak kebaikan, bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku. Maafkanku, sobat jika belum membanggakan kalian.
p.s : Menjadi sempurna adalah ketika menatap mata orang tua dan orang-orang yang menyayangi kita dan tahu bahwa kita tak akan mengecewakan mereka.
Sincerely,
Eby (dengan harap tak akan mengecewakan kalian)
Sunday, September 20, 2009
Kembali menjadi hambaMU
Simpuh ini tak mampu meluruhkan puing puing sesalku
Akan Ramadhan yang kubiarkan berlalu sia-sia
Tak ada yang bisa kubanggakan dari perjalanan Ramadhan kali ini
Tak ada amalan istimewa yang mampu dengan bangga kupersembahkan
Rabb,
Akankah rahmatMU menjauhiku karenanya?
Kupinta, jangan, Ya Rabb...
Karena jika tanpa rahmatMU, maka aku tak punya apa-apa
Rabbi,
Sepertinya tak bisa kusandang kefitrian di hari ini
Namun Rabb, beri aku kesempatan sekali lagi
Untuk menghidupkan semangat Ramadhan ini senantiasa
Agar aku dapat menemuiMU dengan fitri suatu saat ketika Kau memanggilku
Allah,
Terlalu banyak dosa yang kulakukan.
Terlalu banyak perintahMU yang kulanggar
Hingga rasanya aku tak pantas mengaku menjadi hambaMU
Pintaku, Rabb
Beri kesempatan sekali lagi
Ijinkan aku kembali menjadi hambaMU
Sayangi aku, Rabb.
Itu satu-satunya yang ku perlu dalam hidupku.
Thursday, September 10, 2009
Jelang Akhir Ramadhan
Hari berlalu sedemikian cepat
Kemuliaan ini sebentar lagi berlalu
Entah apakah bisa bertemu lagi,
Ataukah menjadi pertemuan terakhir
Saat-saat akhir seperti ini,
Resah, cemas, kesempatan ini sebentar lagi berlalu
Sudahkah termanfaatkan dengan baik?
Tarawih itu, tadarrus itu, subuh berjamaah itu,
Pukulan beduk lepas tarawih itu,
Wajah2 penuh senyum dan ceria
Khas ketundukan yang keluar dari rumah Allah
Ramadhan, sungguh bulan penuh berkah
Mempertemukan setiap yang berjauhan
Saudara, kerabat, semuanya
Subhanallah......
Allah.....
Ramadhan ini, akankah jadi yang terakhir untukku?
Gambar dari sini
Tuesday, September 01, 2009
Obrolan Hati Dua Sahabat
Suatu waktu, seseorang berkata padaku....
"by, kenapa? aduh, saya sedih dengarnya. Kenapa sih? Sudah dipikirkan baik2?"
*sambil meneteskan air mata yang tak kumengerti untuk apa*
saat itu aku hanya mampu bilang....
"ini jawaban istikharahku. Mungkin terlihat salah bagi orang lain, tapi inilah yang benar-benar ingin kujalani, kuambil dengan penuh keyakinan. mengertilah"
*tanpa air mata*
ia berkata lagi ...
"tapi kenapa by? tolong dipikirkan lagi"
*masih dengan air mata*
.....hening....
lalu ku menjawab
"suatu saat kau akan mengerti. tidak sekarang, tapi nanti"
*dan aku berlalu*
lalu, baru saja ia menghubungi dan bilang...
"by, saya tau sekarang kenapa keputusan itu yang kau ambil"
"kenapa?" jawabku
"karena kau bahagia dengan keputusan itu
Terimakasih kawan. akhirnya kau mengerti mengapa sahabatmu ini mengambil jalan ini. akhirnya kau tahu, bahwa inilah langkahku menuju bahagia, meski harus bersakit dahulu. Karena bukankah malam akan semakin kelam jika fajar akan terbit?
seandainya kau ada disampingku saat ini, ingin kupeluk dirimu atas pengertianmu sekarang. Terimakasih untuk selalu disampingku meski kita berbatas jarak.
Monday, August 24, 2009
Sahabat, di Ramadhan ini aku merindu

Dan kini, kita kembali dipeluk Ramadhan. Kesempatan yang tak didapat beberapa saudara kita yang ramadhan lalu masih bersama kita.
Ramadhan seperti ini, banyak hal yang ingin kulakukan. Terlebih lagi, ada hal yang kurindukan. Bersama menyusun jadwal jaga ta'jil, bersama mengonsep kegiatan semarak ramadhan, sembari tak lupa berlomba lomba mempersembahkan ibadah terbaik. Aku rindu kebersamaan dan hangatnya ukhuwah di bulan suci, di masjid kampus tercinta. Aku sudah jauh tertinggal, aku sudah meluruh dan khilaf. Ramadhan ini, aku ingin kembali berada dalam rengkuhan dakwah yang tak sadar merenggang menjauhiku (atau aku yg menjauhinya??).
Pintaku, ALLAH.....
Izinkan hamba berada di antara hamba hamba pilihanMU
Yang ketika kudengar suaranya mengingatkan aku akan panggilanMU
Yang ketika kulihat akhlaknya mengingatkan aku pada akhlak rasulMU
Yang ketika kulihat wajahnya mengingatkan aku pada keteduhan saat berjumpa denganMU
Yang ketika kudengar tangisnya mengingatkan aku pada nikmatnya sujud menghadapMU
Yang ketika kudengar tawanya mengingatkan aku pada canda rasulMU bersama sahabat.
Saudaraku,
disebabkan oleh cinta, kuurai benang kasih yang tersimpan dalam dada ini. ALLAH menjadi saksi atas cinta ini. Karena cinta itu maka kita berjumpa, berjuang bersama, membina ukhuwah, menyatukan hati hati kita yg penuh warna ini. Hanya Allah yang mampu menyinari hati ini hingga tertawan padaNYA.
Kuteringat dengan kalimat yg selalu kita ucapkan tiap ada yang akan pergi. Bahwa meski terulur jarak, selama kita masih dalam perjuangan meraih ridha Allah, maka sebenarnya kita tak pernah terpisah.
Aku sudah jauh tertinggal, sahabat. Tapi kini, telah kusiapkan stamina dan niat untuk kembali mengambil tempat dalam barisan perjuangan kita.
Untuk itu kuucapkan,
Selamat berjuang saudaraku...
Semoga warna warni kehidupan yang telah kita lukis bersama, menyadarkan kita bahwa hidup ini memang butuh perjuangan.
Ana uhibbukum fillah.
nb : catatan cinta untuk KMBI dan semua ikhwah yang pernah membersamaiku dalam perjuangan
Thursday, August 20, 2009
RAMADHAN MULIA
datang lagi menyapa hamba Allah yang merindu
dalam setiap detik ada rahmatNYA
maka masih pantaskah kita tidak mau mendekat?
Tak ada alasan untuk diam
kita bahkan tak boleh berjalan,
berlarilah...berlari dengan segala hati dan kesungguhan
bahwa kita diberi satu kesempatan lagi
satu waktu untuk menyucikan diri yang berkalang dosa
Ramadhan..
datangnya adalah anugerah
dan perginya nanti adalah perayaan suci namun juga kesedihan
Ramadhan ini,...
jadikan ia berarti
karena bisa jadi...
inilah Ramadhan kita yang..............terakhir
nb : kepada seluruh blogger, maafkan kesalahan per-sua-an kita di dunia maya ini. semoga kita semua dapat menjelani RAmadhan ini dan lulus sebagai pemenang sejati Ramadhan.
Monday, August 03, 2009
Kutemukan cinta yang hangat

Di suatu masa,
Kalian pernah seperti orang tua.
Di suatu masa,
Panggilan ”nak” selalu kalian tujukan untukku
Kali ini kupinta sebuah pemaafan,
Karena tak bisa menjadi seperti yang kalian inginkan,
Karena tak bisa selamanya memanggil kalian
Dengan panggilan indah itu
Jangan ada marah,
Tak perlu pula ada penyesalan.
Ini yang terbaik,
Aku tak bersedih atas keputusan ini.
Satu-satunya kesedihanku adalah
akan tak bisa lagi bertemu kalian sesering biasanya
Aku mengagumi kalian selayaknya mengagumi hujan,
Yang hadirnya adalah rahmat,
Menyenyakkan yang tidur, membasahi yang kering.
Kalian sungguh indah
Lelaki sederhana nan bijak,
Kuat dalam kata maupun sikap.
Wanita luar biasa yang bersahaja,
Santun dalam kata, tulus dalam senyum
Terimakasih pernah menempatkanku begitu dekat di hati kalian,
Terimakasih telah membawaku begitu dalam di ruang hati kalian,
Aku anakmu, akan selalu begitu....
Walau tak bisa menjadi nyata
Kamarku, 2 Agustus 2009
Friday, July 31, 2009
punggung yang menjauh
hari-hari pernah kita renda bersama
kita menjadi kuat walau tak ada keluarga di sisi
berbagai tangis dan tawa pernah kita geluti
kita pun pernah bertukar canda dan marah
lalu tiba hari,
dimana kulihat punggungmu menjauh
bersama seorang pangeran disampingmu
yang dengan gagahnya mengambilmu, membawamu terbang
selamat jalan sayang
kami akan selalu merindukanmu
kami selalu bersama kalian
dalam doa dalam setiap helaan napas
bandara pattimura, 31 Juli 2009
burung besi membawamu pergi dan kuterpaku menatap punggung yang entah kapan bisa kulihat lagi.
Banyak cinta untuk eyha dan ardi.
Monday, July 27, 2009
Kepada Sebuah Hati

Memang sudah saatnya kita bersikap atas segala kegamangan
Yang kita ambil semalam adalah sebuah kemenangan hati kita
Dan….
Jauh lebih lega mengambil keputusan semalam,
Dibandingkan saat mengambil keputusan yang membawa kita sampai di titik ini.
Yang kita jalani, bagiku bukan kesia-siaan
Karena aku belajar.
Belajar mengerti, belajar berbagi, belajar memahami, dan belajar berkorban
Dan pelajaran yang terbesar adalah :
Kita akan saling menyakiti jika diteruskan
Masih ada yang aku simpan untukmu
Adalah doa dalam setiap sujudku
Agar selamanya kau baik-baik saja
Agar selalu ada senyum dalam hari-harimu
Aku sudah meraba hati
Tak ada sedikitpun rasa sakit, marah apalagi benci
Yang ada adalah kesyukuran bahwa kita ”diberitahu” sekarang oleh Allah
Sebelum tak ada lagi jalan untuk kembali
Terimakasih karena untuk sekian lama
........ pernah ada di sampingku
........ pernah mengkhawatirkanku
........ pernah menegurku
........ pernah merindukanku
........ pernah bertingkah menyebalkan
........ pernah mendengar tangisku
........ pernah tertawa bersamaku
........ pernah berbagi cerita denganku
........ pernah berbagi beban denganku
........ pernah banyak
Terimakasih atas segalanya
rumah, 26 Juli 2009 : dalam dingin malam
Saturday, July 25, 2009
Kematian Hati
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka", ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim malnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal,lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak
mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.
Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat?" Saat engkau muntah melihat
laki-laki (banci)berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan."
Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.
Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiai"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?"
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan
Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri ????.
Oleh: KH.Rahmat Abdullah
astaghfirullah. ..astaghfirullah ...
*dari milis KMBI -- Akhina Heri Yusuf--*
* Tertohok, ampuni hamba ya Rabb*