Sunday, June 11, 2006

Sahabat untuk Mbak Titi

Hari ini aku dapat kenalan baru. Seorang sahabat yang kutahu kisahnya dari blognya mas bayu gawtama. Seorang wanita tegar yang menjalani ujian sakit dari Allah dengan tabah. Sebenarnya sudah sejak lama pengen sms, tapi aku khawatir pulsaku gak cukup untuk membalas kembali sms-smsnya dan itu berarti membuatnya kecewwa. Jadi, pas sekarang lagi punya banyak pulsa (abis dikirimin papa tanpa diminta, thanks ya pa), aku sempatin untuk mencoba say hello dan berkenalan.
Benar kata mas gaw dalam blog-nya, mbak titi, nama wanita luar biasa itu, membalas smsku dengan sangat ramah. Bahkan kami saling berbalas sms hingga menjelang maghrib. Bahasa yang dipake pun seperti sudah lama banget kenalnya. Aku membuktikan cerita mas gaw dalam blog bahwa mbak titi akan membalas sms dengan mengetik sebanyak mungkin kalimat dalam layar ponselnya. Sekarang mbak titi sudah dapat 3 rekaman kaset cerita hidupnya, tapi mas gaw katanya sibuk banget jadi belum sempat nulis kembali cerita itu. Buat yang mengunjungi blog ini, tolong sempatkanlah menyapanya. Kusertakan cerita tentangnya dari blog-nya mas bayu gawtama :

Sahabat untuk Titi
Berbicara dengannya di telepon takkan pernah percaya kalau suara manis di seberang telepon itu sedang sakit parah. Semangat dan keceriaan tetap terpendar dari gelak tawa, dan serentetan kalimat yang takkan pernah berhenti dari mulutnya. Ia selalu rindu dering telepon dari orang lain ke nomor selularnya sekadar menyapanya lembut, "apa kabar Titi?"

Bicaranya yang tak pernah henti menyiratkan satu hal, bahwa kerinduan itu teramat dalam dan sering terlalu lama ia pendam. Selain khusyuk menghadap Allah di waktu-waktu sholatnya, membaca buku dan menonton televisi, menunggu dering telepon lah yang dilakukannya. Seutas senyum segera terlihat dan matanya berbinar ketika sebuah pesan singkat (SMS) masuk, kemudian tangannya yang gemetar mulai menyentuh tombol telepon selularnya. Ia sepertinya tahu, bahwa orang yang dibalas SMS-nya tak akan punya banyak kesempatan untuk terus me-reply pesan singkat, karenanya ia manfaatkan untuk mengetik sebanyak mungkin kalimat di layar ponselnya. Bayangkan, seberapa bahagianya ia jika tak sekadar SMS yang diterima. Suara sahabat dari seberang telepon amat sangat membuatnya bersemangat.

Hesti, begitulah namanya. Sedangkan Titi adalah panggilan kesayangannya. Perkenalan saya dengannya lewat seorang penyiar radio di Jakarta yang memberikan nomor telepon saya kepadanya. Suatu hari, seseorang menelepon dan memperkenalkan diri dengan nama "Hesti". Awalnya saya tak percaya -seperti kebanyakan sahabatnya yang lain- ketika ia menceritakan tentang penyakit yang dideritanya. Lagi-lagi, karena suara manis itu begitu bersemangat seolah ia baru saja menerima hadiah terindah dalam hidupnya. Padahl, Titi menderita radang sendi sejak ia masih remaja. Dan lima belas tahun terakhir adalah hari-hari yang memaksanya terkurung di kamar tidur tanpa bisa berbuat banyak. Gadis berusia 36 tahun itu menghabiskan hari-harinya di kamar tidur, berbalut mukena yang tak pernah lepas jika ia tak sedang dibantu keponakannya ke kamar kecil.

Jika penyakitnya sedang parah, seluruh persendiannya terasa sangat sakit tak tertahan. Titi sering menangis sendiri tanpa seorang pun yang tahu. Pernah suatu kali saya menerima SMS darinya, "Gaw, tolong saya..." isinya meminta saya menelepon tetangganya agar datang ke rumahnya untuk mengambilkannya makanan karena sejak pagi ia belum sarapan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sebenarnya jika ia punya pulsa cukup banyak di ponselnya, tak akan ada masalah. Saat itu, pulsanya hanya tersisa kurang dari 300 rupiah. Dan ia tak tahu bisa berbuat apa dengan angka sekecil itu. Ia pun teringat saya yang kebetulan sama-sama menggunakan operator kartu yang sama. "Bismillaah..." ujar Titi ketika mengirim SMS itu ke saya.

Dua jam berselang. Saya bisa bernafas lega saat mengetahui kondisinya baik-baik saja. Titi cerita, sejak pagi keponakan yang biasa mengurusnya ada materi tambahan di kampusnya. Tak seorang pun ada di rumah itu hingga sore, padahal ia sedang sangat membutuhkan seseorang untuk mengambilkannya makan siang. Seluruh tubuhnya mengejang kesakitan, satu-satunya pereda sakit adalah obat yang harus diminumnya sesudah makan. Masalahnya, ia tak bisa mengambil sendiri makanannya, begitu juga dengan obatnya. Saya bersyukur Allah memberinya jalan untuk mengirim SMS itu kepada saya, meski saat itu saya sedang berada di Aceh, delapan bulan pasca tsunami.

Di telepon, Titi berucap terima kasih atas pertolongan saya. Tetapi saya memintanya bersyukur kepada Allah. Bayangkan, bagaimana jadinya jika Titi benar-benar tak punya pulsa barang seperak pun saat itu? atau mungkin SMS-nya gagal terkirim karena ponsel saya yang tak aktif? atau boleh jadi saya yang tak sedang punya cukup pulsa karena sedang berada di luar dan tak dekat dengan fasilitas telepon umum? Allah lah yang menggerakkan saya untuk membeli pulsa beberapa menit saja sebelum SMS Titi itu masuk. Allah juga yang berkehendak membuat SMS yang merupakan 'kesempatan terakhir' Titi itu sampai ke ponsel saya.

Lima belas tahun sudah Titi 'teronggok' di kamarnya. Kadang ia lebih sering sendiri dalam deritanya. Ia harus menunggu keponakan atau kakaknya mengambilkan makan, ia yang tak pernah mandi kecuali hanya sekali dalam seminggu karena tak ingin terlalu merepotkan saudara-saudaranya. Bahkan, Titi pun sering terpaksa -maaf- tak mengenakan pakaian dalam karena tak mau saudara-saudaranya repot saat ia harus buang air kecil. Di saat seperti itu, Titi akan selalu ingat mendiang ibunya. Ia kadang menangis mengapa sang ibu pergi lebih dulu meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Sebelumnya, ibu lah yang setia dan tak kenal lelah melayani Titi. Sejak bangun tidur, memakaikan mukena untuk sholat, makan, minum, dan semua aktivitas lainnya. Setelah sang ibu tiada, Titi seperti kehilangan segalanya.

Namun Titi bukanlah orang yang kenal menyerah. Ia juga tak pernah ingin menjadi beban selamanya. Meski kondisinya semakin parah, ia tetap merasa bangga bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Mantan penyiar dan pegawai negeri di salah satu instansi pemerintahan ini memanfaatkan uang pensiunnya untuk membiayai kuliah keponakannya. "Nggak cukup sih kalau hanya uang pensiun," jelas Titi sambil mengungkapkan banyaknya orang yang simpati terhadapnya dan memberikan donasi. Dan uang pemberian para donatur itulah yang dipakainya untuk biaya kuliah keponakannya.

"Yah, itung-itung saya merasakan punya anak deh. Ternyata berat juga," terangnya. Titi tak mampu menyembunyikan perasaannya. Sebagai seorang wanita, ia juga pernah memiliki cita-cita untuk menikah, berumah tangga dan punya anak. Namun kondisinya yang seperti ini membuatnya harus mengubur dalam-dalam keinginan itu. Titi pun merelakan sang pacar untuk memilih meninggalkannya, karena Titi tahu tak akan ada lelaki yang sanggup menjadi pendamping hidupnya.

Tak hanya itu. Penyakit yang dideritanya sekarang pun kini dianggapnya sebagai kasih sayang Allah untuknya. Ya, ia memang pernah bertanya kepada Allah kenapa ia diberikan penyakit ini? kenapa ia dibuat semenderita seperti sekarang ini. Tak kini Titi tahu bahwa Allah menyayanginya dan begitu mencintainya. Bagi Titi, Allah sedang mengujinya seperti halnya Dia menguji Nabi Ayub dengan penyakitnya. "Bukankah orang yang diuji itu berarti disayang Allah?"

"Lagi pula, dengan kondisi seperti ini saya lebih sering mengingat mati. Saya tahu ajal saya sudah begitu dekat dan ini kesempatan emas saya untuk lebih mendekat kepada-Nya. Bandingkan dengan orang yang sehat yang kadang lupa kalau ia pun akan mati?" Duh, Titi. Kalimat itu begitu menohok saya.

Titi pernah meminta kepada Allah agar mengakhiri saja penderitaannya. Tapi ia juga tahu bahwa Allah lebih berkehendak atas dirinya. Penderitaan panjang yang dijalaninya, ia harapkan menjadi bekal baginya saat menghadap Tuhan kelak. Sepertinya, di hadapan Tuhan nanti Titi ingin sekali berucap, "Aku ridha akan kehendak Engkau ya Rabb..."

Kemarin, saya kembali menerima surat dari Titi untuk kesekian kalinya. Seperti biasa, ia memaksakan diri untuk menulis sendiri surat itu dengan tangannya yang kaku. Lembar pertama, tulisannya masih rapi. Begitu masuk ke halaman kedua, barisannya mulai kacau. Tergambar dengan jelas bahwa ia menahan sakit saat menulis surat itu. Kali ini, Titi bercerita tentang ibunya. Seseorang yang paling dirinduinya saat ini, juga paling ingin dijumpainya kelak di akhirat.

Saya menangis membaca suratnya. Sungguh saya tak pernah secengeng ini sebelumnya. Saya membayangkan jika saya yang diberikan ujian sepertinya, akankah saya sanggup menanggung lima belas tahun hidup dalam ketergantungan? lima belas tahun dalam keterasingan dan kesendirian? lima belas tahun saat semua sahabat lama menjauh? lima belas tahun tetap bersyukur dan sabar menanti ajal menjemputnya?

Titi bilang, ia bersyukur masih ada yang mau bersahabat dengannya. Setidaknya ia tahu, ia tak akan meninggalkan dunia ini dalam kesendirian. Dan saya katakan kepadanya, saya akan menjadi sahabat Titi sampai kapan pun.

Bayu Gawtama
085219068581, 08881902214
Bersama Titi, saya tengah menulis sebuah buku tentang perjalanan hidupnya. Doakan, semoga dilancarkan. Oya, tulisan Titi tentang ibunya akan segera saya posting di blog ini. Titi berharap bisa dibacakan oleh Shahnaz Haque -sahabatnya- di acara Delta Siesta
Titi butuh sahabat, relakanlah pulsa anda untuk menyapanya di 085216297156

Saturday, June 10, 2006

Piala Dunia 2006

Papa tengah malam sms tanyain lagi nonton bola gak? Kayaknya si papa masih mengira aku masih doyan bola kayak jaman STM dulu. Sebenarnya masih doyan tapi aku gak mau memanjakan kedoyanan itu. Setiap kali mo nonton, aku balik tanya ke diri sendiri, emang kalo aku gak nonton, ada yang marahin? Emang kalo aku gak nonton, aku rugi? Ternyata jawabannya enggak. Aku gak rugi kalo gak nonton bola lagi. Sejak jadi seperti “ini”, aku baru sekali nonton bola, itupun kurasakan tidak senikmat dulu lagi.

Kembali ke masa lalu, saat di STM, tak pernah kulewatkan satu pun pertandingan liga italia. Apalagi kalo yang maen itu mas batistuta dengan fiorentina, roma atau argentinanya. Bela-belain deh gak tidur malam. Trus besok paginya asyik ngobrolin pemainan tadi malam dan ngomel2 gak terima kalo ada yang ngeledekin batistuta. Atau juga sibuk mengoleksi apapun tentang batistuta, majalah, baju, jam tangan, jam dinding, topi, foto-foto, semuanya tentang dia. Di semester awal perkuliahan, lagi kuliah yang keinget malah batistuta, buku kuliah penuh dengan nama batigol, ikut nonton bola di parkir depan kampus waktu argentina sama inggris maen dan sibuk sms-sms-an sama teman2 STM saling jagoin jagoannya masing-masing. Apalagi sama ramadhan yang beckham abis.

Tapi itu jaman dulu. Gak tau juga kenapa kayak gitu, kayak disantet sama batistuta. Kalo ingat itu, kadang suka senyum-senyum sendiri. Sekarang mah, dimana batistuta juga gak tahu dan gak mau tahu. Aku sudah gak ngerasain serunya permainan bola lagi. Kalo di rumah, biasanya nonton bola juga karena diminta nemenin papa. Lebih sering, aku ketiduran depan TV, nanti sampe selesai, baru deh diangkat papa ke kamar. Kalo mo ngomong soal piala dunia tahun ini, aku tetap gak punya jagoan lain selain argentina. Meskipun aku sudah gak tahu siapa yang maen disana, tapi tetap argentina. Kalo gak argentina, ya ………………….. argentina. Tapi kata anak2, iran juga, apalagi iran kan negara Islam. Dont care-lah. Asal gak ada rusuh aja

10 Juni 2006
pagi banget

miss you,mom

Siang ini, untuk 10 menit aku tidur di dada tante, kakak ibu yang sedang mengunjungi kami di kost. Untuk 10 menit aku merasa seperti di rumah. Wajahnya, senyumnya dan caranya membelaiku hampir sama dengan ibuku tersayang. Aroma tubuh yang kubaui darinya persis seperti aroma tubuh yang selalu kurindukan, aroma ibuku.
Tante, untuk 10 menit yang melenakan itu, terimakasih

rasanya aku ingin bergelung di pelukmu, ibu.
entah kenapa, aku merasa kecil lagi.
entah kenapa, aku ingin kembali

01.20 pm
Pengen lebih lama di pelukan tapi harus ke lab

Kisah sebuah syuro (another syuro)

Aku nulis tulisan ini sambil senyum tapi juga merasa bersalah. Bersalah atau apa ya namanya feel like this? Tadi janji syuro sama adek2 yang ngurusi BP Puskomda. Actually, aku bukan anggota tim itu, tapi karena belum selesai transferanku ke mereka untuk nyiapin kerja pendampingan, jadi ya ikut syuro itu nyelesein tugas transfer. Tapi itu masalahnya. Apa karena aku yang paling tua disitu, mereka jadi gak banyak omong ya. kholerisku kumat, dan mereka diam saja. Ikhwan yang seangkatan sama aku yang sebenarnya harus hadir gak datang entah kenapa. Jadinya ya aku dominan banget. Sampe-sampe aku merasa seperti pemimpin syuro alais moderator, begitu mengendalikan forum. Dan parahnya, sepertinya tidak ada “perlawanan” berarti, syuro ini datar banget. Apapun yang kuusulkan langsung diterima. Apa yang kusuruh untuk dikerjain, diiyain. Sempat nyoba untuk diam saja dan membiarkan mereka berkomentar tapi komentar2nya biasa banget dan sama seperti yang ada di pikiranku. Jadinya ya mulus banget syuro itu.
Sepulang syuro, aku mikir :

1.hasil syuro ini memang hasil syuro yang murni ataukah karena mereka merasa tidak punya bargaining position di depanku.

2.Sebenarnya itu ide-ide mereka sendiri atau cari jalan aman biar gak berkonfrontasi sama aku

3.Kayak apa sih imageku di depan adek2 itu?

Tapi, aku salut banget sama mereka bertiga, uri, samsul, lina. Ghiroh mereka tinggi dan feelingku mengatakan mereka adalah ruh barunya KMBI. Lihat uri dan samsul, aku jadi ingat heri dan cholik jaman dulu, kompak banget. Semoga saja mereka bisa jadi tandem yang baik seperti mas-masnya itu. Aku pernah menangis untuk semangat mereka berdua. Saat mereka harus kecapekan membawa nama KMBI di ajang FSDa. Bermain dengan lelah dan bercanda dengan larutnya malam berteman amanah. Aku pernah bahagia karena mereka. Adek-adekku, kutitip KMBI ya.

9 juni 06 ; 10 am
Air mataku meleleh lagi

Friday, June 09, 2006

Apa Aku Salah?

Apakah salah bila aku menginginkan yang terbaik untuk kalian dengan caraku?
Apakah salah bila aku punya sebuah kepercayaan dan aku memillih caraku untuk membuktikan atau bahkan menjadikan kepercayaanku sebagai kenyataan?
Apa kalian pikir yang kulakukan adalah untukku?
Aku tidak rugi jika kalian bertingkah semaunya dan aku memilih untuk diam. Masalahnya adalah aku tidak ingin diam.
Aku ingin menjadikan kalian lebih baik karena untuk alasan itulah aku ada di tempat ini
Dan kalo kalian tidak suka, aku ingin bertanya, mengapa kalian tidak suka dengan apa yang akan menjadikan kalian baik.
Oke, kita fair aja deh. Kalo kalian bertindak sesuka kalian dan aku diam tapi kemudian aku memilih untuk tidak memberikan nilai apapun pada kalian, kalian bisa tidak terima hal itu? Kalo kalian bisa, maka aku pun bisa memilih untuk diam. Tapi kalo kalian tidak bisa, jangan salahkan aku kalo meminta kalian untuk “sedikit” belajar.
Kalian mahasiswa kan? Bukan lagi anak SD yang harus diberi permen dulu baru mau belajar. Begitu banyak keluhan yang kudengar dari mulut kalian. Diberi 5 soal sudah ngeluh, disuruh jelasin laporan, ogah2an, disuruh perbaiki laporan, minta waktu lebih, niat gak sih? Kalo cuma mau kejar nilai, yang penting lulus, maafkan aku karena aku pun tidak bisa beri nilai yang tidak bisa kupertanggungjawabkan. Dengan sikap kalian seperti ini, jangan salahkan aku kalo tidak memberi nilai yang bisa memuaskan kalian.
Bukan mengancam atau apa. Saya punya mimpi keinginan yang besar bahwa keluar dari sini, bukan capeknya doang yang kalian rasakan, tapi juga keahlian atau tambahan pengetahuan meskipun sedikit.
Saya bisa saja memilih untuk diam, menerima setiap laporan praktikum kalian, tidak mengomentari kesalahan2 kalian, tidak memberi sangsi atas apa yang kalian lakukan, bersikap masa bodoh ketika kalian tidak bisa menyelesaikan praktikum dengan baik, acuh dengan sikap kalian yang tidak disiplin, memberikan nilai sesukaku saja. Saya bisa memilih untuk itu dan yang saya dapat pun tidak kalah menariknya. Saya tidak capek, saya bisa pulang lebih cepat, saya tidak membuang energi berlebih untuk membagi apa yang saya punya, dan toh honor saya bakal keluar tanpa ada potongan.
But sorry, its not me. Saya tidak akan memilih pilihan itu. Kalo kalian mau membandingkan saya dengan asisten yang lain, terserah kalian. Tapi saya beda, dan boleh kan? Saya lebih rela pulang lebih lama, saya lebih memilih untuk memberi waktu lebih lama untuk sekedar menjelaskan apa yang saya tahu. Saya memilih untuk memberi tahu apa kesalahan kalian dan bagaimana cara memperbaikinya, saya memilih untuk melakukan banyak hal agar kalian bisa tahu apa yang kalian sedang pelajari di ruang ini, dan untuk nilai yang akan saya beri, saya ingin bisa mempertanggungjawabkannya. Ngerti kan kalian?
Oke, kalo sampe di titik ini pun, kalian masih belum mengerti dengan setiap perlakuan saya ke kalian, itu juga pilihan kalian. Satu yang saya tegaskan adalah, saya lebih respek dengan laporan yang salah tapi dikerjakan sendiri daripada yang benar tapi ketika dimintai penjelasan tentang apa yang kalian tulis, kalian tidak bisa melakukannya karena itu bukan pekerjaan kalian. I am not respect for act like that.
Aku ingin kalian bisa. Itu saja. Dan untuk sebuah keinginan yang sederhana itu, apa saya salah?
Salut buat nizar, akhmad, rizal yang terus menerus mau belajar.
Salut buat kriswan dan wirawan yang tetap bisa jadi dirinya saat berhadapan denganku.
Buat yang lain, jangan sering2 mengeluh. Childish banget, tau gak? Buat yang masih pake topeng, jangan pake topengmu di depanku. Ngomong apa yang mo diomongin.

8 Jun 2006
Buat semua praktikanku, I just want you all the best

Thursday, June 08, 2006

Secepat inikah?

Secepat inikah aku harus menentukan sesuatu untuk kujalani selamanya?
Oke, aku sudah memilih untuk memulai satu langkah awal. Setelah ini, kuserahkan pada Allah apapun keputusanNYA.
Yang ingin kutahu : “Kenapa Ana?”

7 jun 06; agak siang
setelah dapat sms yang tak terduga

Wednesday, June 07, 2006

060606

060606
Ini angka cantik untuk angkatan 6 STM Telkom Makassar (angkatan 1997). 6 tahun yang lalu, kami sepakat akan bertemu di kota makassar lagi, kami sepakat reuni di tanggal ini. Hari ini, kami masih belum bisa bertemu. Bagaimanapun, manusia hanya bisa berusaha, Allah yang menentukan. InsyaAllah kami tetap akan reuni tahun ini tapi pada tanggal 24-06-06. Kata anak2 sih, masih nyambung kok sama angka 6. 2 tambah 4 kan enam juga.
Berarti 2 minggu lagi, insyaAllah aku ketemu dengan teman2 lama, teman yang selama ini hanya terpisah jarak tapi hati kami tetap menyatu. Dari berita-berita yang kudengar tentang keadaan mereka sekarang, ada yang sudah nikah, bahkan sudah punya anak, ada yang sudah bekerja sesuai dengan bidangnya, ada yang melenceng dari jalur STMnya, ada yang buka usaha sendiri. Banyak yang sudah berubah. Aku? Apa yang berubah dari diriku. Nikah belum, kerja belum, kuliah sudah sih tinggal one last step. Tapi tidak ada perubahan yang berarti.

Eits, I realize one thing. Aku yang sekarang memang mungkin belum sebaik orang pada umumnya, mungkin belum sebaik manusia muslim sesungguhnya. Namun, aku tahu bahwa aku sekarang adalah aku yang lebih baik dari aku sebelumnya. Aku bangga karena untuk manjadi aku yang sekarang kulewati hidup dengan penuh air mata. Aku bangga dengan diriku yang sekarang karena aku telah menempuh prosesnya. Prinsip-prinsip hidupku sudah lebih baik dari sebelumnya. Caraku memandang dan menjalani hidup telah lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak bilang kehidupanku sekarang adalah ideal, bagaimanapun pembelajaran tidak boleh terhenti. Tapi yang pasti, aku yang sekarang adalah aku yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Aku mencintai diriku, menghargai diriku, memuji keistimewaan-keistimewaan yang dititipkan Allah padaku, memahami dan menerima kelemahan-kelemahanku. Perjalanan hidupku ke belakang memang terlihat banyak kesalahan, menemukan banyak kenaifan, menjumpai banyak hal yang memalukan, menemukan banyak kegetiran, ketidaksukaan, tapi inilah diriku. Aku mencintai diriku karena dari sana aku akan bisa mencintai dan dicintai orang lain

060606
9:43 am
Ternyata aku punya banyak. Thanks GOD

Kuharap kau baik-baik saja....

Setelah menekan egoku, akhirnya kuputuskan menulis hal ini. Awalnya aku tidak ingin memikirkan hal ini, tapi aku merasa aku tidak boleh membiarkan diriku berlama-lama bersikap tak peduli dengan seseorang yang pernah menyakitiku.
Saat ini dia sedang di wilayah bencana. Saat bencana gempa itu terjadi, aku menyibukkan diriku dengan memikirkan hal lain agar tidak sedetik pun terlintas dalam pikiranku “dia gimana kabarnya ya?”. Aku berusaha tidak peduli. Tapi pagi ini entah kenapa aku berpikir aku sudah jahat. Okelah, dia memang pernah menyakitiku tapi bukankah ini semua skenario Allah? dan bukankah keadaan sekarang jadi lebih baik? Bukankah jalan Allah yang IA pilihkan untukku sekarang begitu indah dan aku bahagia di dalamnya? Then, kenapa aku tidak peduli dengan keadaannya yang mungkin saja sedang susah.
Buat yang merasa tulisan ini tentang dia, aku sudah memaafkan. Aku tak membenci. Toh, kejadian itu tidak sepenuhnya salahmu. Jadi aku pun ingin minta maaf. Aku tidak tahu keadaanmu seperti apa, aku tidak mau tahu juga tidak mau mencari tahu, juga tidak tahu bagaimana mencari tahu. Tapi aku berharap kamu baik-baik saja.

060606
8:02 am
buat seorang “saudara”

Tuesday, June 06, 2006

Kapan Menikah???

Ana, teman STM, sms katanya mo nikah awal bulan juli. Dan seperti sms-sms teman2 yang mengundang dalam pernikahan mereka sebelumnya, penutupnya adalah "kapan nyusul bhy?"
Entah jawaban apa yang harus kuberi. Mereka bertanya padaku apa yang aku sendiri juga tidak tahu. Kuserahkan semuanya pada Allah. Ia akan mempertemukanku dengan orang yang tepat, di saat yang tepat, pilihan yang tepat untukku.
Jadi, jangan pernah tanyakan kapan menikah karena yang bertanya dan yang ditanya sama-sama tidak tahu jawabannya. Bukankah semua itu di tangan Allah (sampai di titik ini, teringat komentar seorang teman ketika ngobrolin hal ini "memang di tangan Allah, tapi kalo gak diusahakan, ya akan selamanya di tangan Allah, gak diberikan ke anti". Sampai di titik ini pula aku masih mencoba mengolah kata2 itu. Emangnya aku harus berusaha apa? Aku percaya, semua akan datang di waktu yang tepat)
Bertanya kapan menikah sama saja dengan bertanaya kapan meninggal. who knows?
Buat semua teman2ku yang sudah lebih dulu mengembangkan layar, memulai pelayaran dan memaksaku menyusul (ana, tari, ami, endhy, ani, phionk, any, sumi, erfin, ical, sulfi, mbak imas, mbak dina), aku hanya bilang "doakan aku saja agar bisa mengikuti jejak kalian yang begitu berani melangkah. Semoga jika saatku tiba nanti, perahu yang kudayung bersama nahkodaku, akan berlayar hingga ke tepian, SURGA."

Monday, June 05, 2006

Kemana Larinya Toleransi?

fenomena yang menyedihkan. Di sudut bumi Allah, di jogja, ada yang terluka, ada yang tidak punya lagi tempat tinggal, yang berharap perut terisi dari bantuan orang-orang sementara di sudut bumi Allah yang lain, di surabaya, mall penuh dengan orang yang kebingungan menghabiskan duitnya untuk apa. Masuk ke wahana permainan tanpa berpikir berapa duit yang dihabiskan hanya untuk sekedar berteriak di Galleon atau sekedar memasukkan bola basket ke keranjangnya atau juga sekedar berpura-pura ada di arena balap. Ada juga orang-orang yang sibuk menjejali perutnya dengan makanan yang ia sendiri pada akhirnya tidak sanggup ia habiskan. Ada apa ini? Masih belum cukupkan Allah menunjukkan kepada kita kebesaranNYA? Masih belum cukupkah peristiwa-peristiwa ini untuk diambil hikmahnya agar kita lebih memperhatikan sesama, dan lebih dekat denganNYA. Belum cukupkah? Apa masih harus menunggu hingga tiba saatnya kita yang menjadi korban? Naudzubillahi min dzalik…

03.30 pm
tertegun menatap isi Tunjungan Plaza

Kisah Sebuah Syuro

Berangkat syuro tadi, ana berpikir bagaimana jadinya ya 2 akhwat kholeris syuro dengan 2 ikhwan yang cenderung pendiam, datar tapi smart. Yang terbayang adalah syuro bakal didominasi oleh kami berdua yang bertipe sama, tidak banyak tanggapan, datar, tanpa lonjakan , tanpa “perlawanan” berarti dan itu adalah suasana yang membosankan bagi tipe kholeris seperti kami yang suka akan tantangan, yang tidak suka akan sesuatu yang stagnan dan datar.
Kenyataannya, pada awal syuro memang seperti itu. Kami, 2 akhwat kholeris ini lebih mendominasi sampe akhirnya kami berpikir harus ada yang dipancing agar syuro lebih hidup. Terlontarlah kalimat “Akh Z ada ya? Katanya antum mau bicara tentang ….. Gimana?”. It works. Dipancing seperti itu, mulai deh beliau ngomong panjang lebar tentang pendapatnya, ditangapi akhwat, kemudian ditanggapi balik, sampe akhirnya syuro benar-benar hidup dan serasa seperti permainan badminton yang seru. Ini ilustrasi saja kok, jadi jangan dipikir ngotot-ngototan seperti permainan badminton sebenarnya. Ini seperti permainan badminton yang saling merespon balik. Setelah eksplorasi ide selesai dilakukan, ana puas dengan syuro ini. Karena tidak banyak buang waktu, tepat sasaran, dan jelas hasilnya. Ternyata kuncinya adalah, perlu dipancing dulu.
Buat para pejuang syuro : Kalo syuro jangan mbulet-mbulet ya. Langsung aja, fokus dan selesaikan, Biar gak buang banyak waktu. Tus kalo ada ide, jangan disimpan sendir apalagi malu-malul kucing buat ngomong. Syuro emang tempatnya bicara kok. Segala sesuatu akan jadi resmi. So, jangan kapok-kapok syuro ya. Itu proses yang harus kita lewati untuk membuat dakwah lebih berakar kuat dan menyebar. Semangat ya….

Sunday, June 04, 2006

Selamat Jalan, Sahabat......

Buat seorang ikhwah yang telah hijrah :

Secara pribadi, terimakasih ana sampaikan atas bantuan antum selama ini. Terimakasih atas setiap pelajaran yang ana dapat dari antum tanpa antum sadari. Afwan atas segala kerepotan yang ana buat. Afwan jika dalam interaksi ukhuwah kita, ada kelalaian kronis yang ana lakukan, yang secara sadar atau tidak telah mengurangi timbangan hak dalam berukhuwah dengan antum. Afwan jika dalam majelis dakwah, pernah keluar ucapan kasar, ada ganjalan yang menghujam kalbu. Afwan jiddan atas setiap kesalahan yang sadar atau tidak sadar melukai antum.

Secara jama’ah, mewakili KMBI ana ucapkan terimakasih atas dukungan antum selama ini dalam perjalanan dakwah KMBI. Ucapan terimakasih ini sungguh tidak sebanding dengan apa yang telah antum lakukan. Apa yang kami berikan, apa yang kami katakan, hanyalah sebuah isyarat kecil dalam hidup antum. Bagaimanapaun, ketulusan antum hanya layak dibalas oleh Yang Menciptakan Kita, Allah SWT.
Semoga keberkahan dakwah meliputi antum dan kami.

Mewakili DPRa, terimakasih telah membersamai, memimpin kami dalam suka duka dakwah DPRa. Just Allah can give you a reward for all of that.

Selamat Jalan sahabat,
Selamat berjuang menegakkan cahaya Islam di negeri seberang
Allah bersama selalu
Semoga tunai segala cita-cita
Raih gelar syuhada

Saturday, June 03, 2006

i am OK !!!!!

I am fine. Memang bukan saat ini waktu yang tepat untukku. Ketidakhadiranku ke acara itu bukan karena aku tidak berlapang dada. Aku sudah bisa terima kenyataan ini karena yang terpenting orang tuaku tidak masalah, itu cukup untukku. Buat semua temanku yang berbahagia hari ini, SELAMAT Ya dan semoga langkah kalian ke depan lebih baik. Aku ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian. Aku sangat ingin hadir, tapi keadaan yang tidak memungkinkan. Jadi, tolong jangan buat kesimpulan macam-macam dengan ketidakhadiranku karena AKU BAIK-BAIK SAJA

Suksesi Dadakan DPRa

DPRa yang unik. Digerakkan oleh mahasiswa yang akhirnya ketika satu persatu lulus dan harus memilih jalannya, maka DPRa menjadi korban.
Dimulai dari saat ini ketika ketua DPRa harus pindah kota maka suksesi pun dilakukan untuk memilih PJs. Ditunjuklah seorang akh yang ternyata di surabaya hanya tugas belajar dan insyaAllah akan berakhir maret 2007 dan kembali ke kampung asal.
It means, kejadian ini akan kembali berulang saat 2007, mencari kembali PJs.
Ini PR besar dakwah DPRa. Merekrut kader penduduk tetap klampis agar dakwah DPRa tidak berhenti ketika satu persatu mahasiswa penggerak DPRa harus kembali untuk berdakwah di tempat yang lebih membutuhkannya.
Ya Allah, bimbinglah jalan kami untuk tetap mengukuhkan dakwah di jengkal bumi milikMU yang bernama klampis ngasem

Wednesday, May 31, 2006

There is another way, my dear sister

Maaf. nomor anda tidak termasuk dalam daftar yang diterima. Semoga sukses di lain waktu.

Tulisan yang muncul di monitor komputer, di pojok sebuah warnet dekat kost, saat kutekan sederet angka membuatku kembali ke masa lalu. Kegagalan seorang saudara yang pernah kurasakan sebelumnya. Walaupun terlihat tegar, walaupun terlihat biasa, aku tahu hatinya luka. Aku bisa merasakan bahwa dadanya penuh sesak. Ingin kurengkuh ia dalam pelukanku, tapi aku tidak ingin menularkan kesedihanku. Aku ingin berbagi kekuatan dengannya, sedang saat ini aku sedih karenanya.

Dek, masih ada jalan lain. Kegagalan akan datang siih berganti dalam hidup kita tapi yakinlah bahwa suatu saat sukses pun akan datang selama kita menyikapi kegagalan itu dengan bijak. Adekku sayang, Allah punya banyak pintu untuk umatnya. Ketika IA menutup satu pintu, ada pintu lain yang IA buka. Ikhtiar kita adalah mencari pintu lain itu. Jangan pernah putus asa. Semua ada hikmahnya. Pasti ada hikmahnya. Entah kapan kau sadari, tapi pasti akan kau sadari hikmahnya. Pasti !!!!!

Adekku tercinta, dirimu mulai beranjak dewasa. Ini awal kau menjalani hidupmu yang sebenarnya, setelah selama ini kau lebih banyak berlindung di balik kekuatan ddan keteguhan ibu dan papa. Saatnya kau belajar menata hati dan pikiranmu atas setiap takdir Allah atasmu, dan kami, saudaraa-saudaramu, orang-orang yang senantiasa mencintaimu, akan tetap disampingmu, membersamai jalanmu hingga kau menemukan jalanmu dan bahagia di dalamnya.

Sayangku, ada banyak hal yang harus kulakukan untukmu, dan aku akan melakukannya biidznillaah. AAku ada untukmu dan akan bertanggungjawab penuh untukmu. Aaku mencintaimu sangat, dek. Kita akan mencari pintu yang lain itu. Aku tidak akan melaragmu menangis karena aku pun menangis. Toh, menangis bukanah hal yang tabu. Menangislah dan setelah selesai, hapus air matamu, pegang tangan ini, kita akan menemukan pintu yang lain, InsyaAllah

Persembahan cinta untuk adikku tercinta. i am with you. aku telah berjanji untuk diriku sendiri, tak akan meninggalkanmu, dan akan kupenuhi janji itu

Monday, May 29, 2006

Buat Jogja

Buat Jogja,
Aku tak mampu berkata-kata
Aklu berduka untukmu.

Saturday, May 27, 2006

Lulus Ujian Akhir? Bidadari Surga Menantimu, Akh…

Posted by: ayat_al_akrash on Monday, January 02, 2006 - 09:52 PM

Oleh : Ayat Al Akrash

Hudzaifah.org - Hidup penuh ujian. Allah SWT berfirman bahwa Ia memberi ujian agar mengetahui siapakah yang terbaik amalnya. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagimu, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka terbaik perbuatannya." (QS. al-Kahfi: 17)

Sesungguhnya ritme ujian hidup tak ubahnya seperti ujian akhir yang dihadapi para mahasiswa. Sebelum ujian tiba, mahasiswa harus mengikuti perkuliahan reguler dengan tekun dan menyimak apa yang diajarkan dosen agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan lulus ujian. Mahasiswa yang terbaik persiapan belajarnya, maka niscaya akan mampu menghadapi ujian itu dengan baik pula. Suka atau tidak, mahasiswa harus menghadapinya, sehingga wajib baginya untuk menyiapkan perbekalannya, sebelum, menjelang, saat dan sesudah ujian. Demikian pula seorang muslim, ia harus menyiapkan bekal untuk menghadapi ujian hidup agar sukses memasuki surga.

Sebelum Ujian Tiba
Setidaknya ada 5 hal yang harus disiapkan seorang muslim sebelum menghadapi ujian hidupnya, yaitu :

1. Kenali sang pemberi ujian, Allah SWT.
Sebagai mahasiswa, kita harus mengenali tipe dosen yang mengajar dan mengetahui cara mengajarnya, pun dalam memberikan nilai. Apa yang dinilai dan bagaimana ia menilai. Seorang dosen tentu memiliki bobot penilaian sekian persen untuk nilai uts, uas, kehadiran, quiz dan tugas.
Allah SWT memiliki 99 asmaul husna. Rasulullah SAW bersabda, “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu).” (HR. Bukhari). Ia Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi jangan lupa, Ia juga Maha Keras Siksanya.

2. Simak apa yang diajarkan sang pemberi ujian
Dosen biasanya memberi kisi-kisi ketika mendekati ujian, bahkan jauh hari, saat tengah mengajar, dengan kata-katanya, “Catat ini, karena biasanya akan keluar dalam soal ujian.” Kisi-kisi ujian itu difirmankan Allah SWT, “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dan sedikit ketakutan, penyakit, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar ". (QS. Al Baqarah : 153 )

3. Banyak latihan
Mahasiswa harus berlatih dengan mengerjakan soal-soal dan banyak membaca. Ini akan memudahkan ketika menghadapi ujian.
Seorang muslim pun demikian, ia harus menempa dirinya dengan ibadah harian, dan tidak memanjakan diri dengan kesenangan duniawi. Orang beriman, mereka telah dilatih oleh-Nya untuk hanya bergantung pada-Nya melalui shalat, doa dan zikir. Mereka dilatih untuk hidup Zuhud (dunia ditangannya namun tidak di hati) melalui zakat, infaq dan shodaqoh. Mereka dilatih untuk bersabar, menahan hawa nafsu melalui puasa. Mereka dilatih untuk bersatu antar sesamanya, kaum mu'minin, melalui haji. Semua itu adalah bekal untuk mempersiapkan pejuang sejati.

4. Jangan absen untuk menghadap-Nya.
Mahasiswa absen lebih dari 4 kali di kelas? Dapat dipastikan, tidak akan bisa mengikuti ujian akhir.
Shalat wajib Anda tinggalkan? Maka kesempatan untuk berkompetisi hilang sudah. Shalat adalah tiang agama. “Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi.” (HR. Annasa’i dan Attirmidzi)

5. Kerjakan tugas-tugas dari Allah SWT.
Dosen memberi tugas? Kerjakan, karena jika tidak, kita tidak akan bisa mendapat nilai A.
Apa yang ditugaskan Allah SWT pada kita?
“Dan hendaklah ada diantara kamu orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, dan menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Naml : 120)

6. Bertanya jika ada yang tidak diketahui.
Mahasiswa belajar sendiri, mungkin bisa saja dilakukan, namun belum tentu sempurna hasilnya karena terkadang ada catatan yang tak lengkap atau ada ilmu yang diketahui teman, tetapi tak diketahui oleh kita. Bertanya, adalah kunci pembuka ilmu.
Seorang muslim dapat saja belajar sendiri dengan membaca buku-buku Islam, tetapi ia tetap harus bertanya pada teman yang lebih paham ataupun kepada para ulama. " Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."(QS.16 : 43)

Menjelang Ujian
Waktu ujian tengah semester maupun akhir semester, telah ditetapkan waktunya. Dalam hidup, tidak bisa tidak, cepat atau lambat, ujian pasti terjadi. Ada 4 hal yang harus dipersiapkan ketika ujian semakin dekat, yaitu :

1. Persiapkan ilmu, analisa ujian
Analisa ujian yang dihadapi, jangan reaktif. Siapkan jurus-jurus untuk menghadapi ujian, karena setiap soal berbeda bobotnya.
Bekal ilmu untuk menghadapi ujian hidup, sangat penting. Dengan ilmu, kita dapat mengetahui mana jalan yang diridhai-Nya dan mana yang tidak. “Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri.” (HR. Athabrani).

2. Belajar dari soal-soal sebelumnya
Mahasiswa harus rajin mencari foto kopi soal di semester sebelumnya, karena soal ujian biasanya mirip.
Pelajarilah ujian yang dihadapi para nabi, ambil hikmah dari setiap ujian. Bagaimana ending penderitaan yang dialami para nabi? Semuanya ada di dalam Al Qur’an. "Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS. al-Baqarah: 214)

3. Belajar dari buku wajib dan buku tambahan
Ada buku wajib kampus dan buku tambahan.
Buku wajib seorang muslim adalah Al Qur’an dan Hadits. Dan untuk buku tambahan adalah buku-buku Islam kontemporer agar wawasan bertambah. “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah saw.” (HR. Muslim).

4. Berdoa
Berdoalah kepada Allah SWT semoga Ia memudahkan dalam mengerjakan soal-soal ujian.
Senjata orang-orang beriman adalah doa. “Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi.” (HR. Abu Ya’la)

Saat Ujian
1. Hadapi dengan tenang dan sabar.
Saat memasuki ruang ujian, hadapilah dengan tenang dan sabar, jangan tergesa-gesa.
Pun di dalam menghadapi ujian hidup, wajib sabar ketika ujian itu datang. Rasulullah SAW bersabda, ”Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula tertimpa musibah.” (HR. Al Bukhari)

2. Konsentrasi pada soal ujian, jangan curang.
Soal telah dibagikan. Konsentrasilah pada soal ujian dan jangan coba-coba menyontek!
Saat ujian datang, seorang muslim jangan justru lari dari-Nya dengan cara bermaksiat kepada-Nya. Berapa banyak kita saksikan manusia yang ditimpa ujian dan cobaan, bukannya mendekat kepada-Nya, tetapi justru bermaksiat dengan lari dari jalan da’wah ataupun memisahkan diri dari barisan. "syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (QS. 48:11)

3. Selesaikan yang mudah dahulu.
Menghadapi ujian dari dosen, membutuhkan strategi, jangan mengerjakan soal-soal yang sulit dahulu, tetapi kerjakan yang mudah.
Jangan memasuki bidang ujian yang kita tidak mampu memasukinya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.”(HR. Ahmad dan Attirmidzi)

4. Jangan mengeluh bila soalnya sulit.
Ujian kita sangat sulit? Jangan mengeluh. Karena percuma saja, toh ujian tak akan selesai dengan keluhan.
Seorang muslim janganlah sampai mengeluh ketika ujian menimpa, karena Rasulullah SAW bersabda, “Ada 3 hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan).” (HR. Athabrani).

Sesudah Ujian
1. Evaluasi
Apakah ujian itu dapat kita lalui dengan baik? Ucapkan hamdalah bila berhasil melaluinya. Seorang muslim ketika telah melewati ujian berupa penderitaan dan kesedihan, hendaknya tetap istiqomah di jalan-Nya. Dari Abu Hurairah ra katanya, sabda Rasulullah saw, “Tidak disengat seseorang mukmin itu dua kali dalam satu lubang.”

2. Ambil hikmahnya.
Ada hikmah di setiap kejadian. Karena khasanah kebaikan kembali kepada-Nya. Bahkan ketika tertusuk duri, ada hikmahnya. “Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa.” (HR. Al Bukhari)

3. Bersiap menghadapi ujian selanjutnya.
Ujian mahasiswa tentu tidak hanya satu mata kuliah, tetapi ada beberapa macam.
Selama hayat masih dikandung badan, maka bersiaplah menghadapi ujian-ujian yang beraneka ragam bentuknya. “Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi?” (QS. Al Ankaabut: 2-3)

Untuk Apa Ujian Itu?
Untuk apakah ujian itu Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya?

Ujian adalah sunnatullah dari Allah untuk memisahkan orang-orang munafik dari barisan orang-orang beriman, memisahkan antara loyang dengan emas. “Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Athabrani)

Ujian adalah tarbiyah dari Allah untuk meningkatkan derajat hamba-Nya, sebagai wujud kasih sayang-Nya. “Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu.” (HR. Athabrani).

Ujian adalah sunntullah untuk orang-orang yang berada di jalan Al Haq. Jika kita tidak merasakan adanya ujian yang berat, maka patut dipertanyakan apakah jalan yang kita lalui adalah jalan yang benar. Saad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seroang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Al Bukhari)

Dalam menghadapi ujian, seorang mu’min harus selalu berprasangka baik kepada Tuhannya. “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.” (HR. Attirmidzi).

Allah SWT menghibur orang-orang beriman dalam menghadapi ujian dengan firman-Nya, “Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3 : 139).

Penutup
Ujian hidup tidak selamanya berbentuk penderitaan dan kesedihan hati, tetapi bisa juga dalam bentuk kenikmatan dan kesenangan. Bila ujian itu dalam bentuk kesenangan, apakah sang hamba dapat bersyukur? Bila dalam penderitaan, apakah sang hamba bersabar? Syukur dan sabar adalah keistimewaan orang-orang yang beriman, yang dikagumi oleh sang nabi.

Surga memiliki kriteria (muwashofat) untuk orang-orang yang akan memasukinya. Nilai A, B, C, D, atau E, adalah hak prerogatif Allah SWT. Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar dan bersabar. Dan tentu saja, untuk mengetahui apakah kita benar-benar lulus atau tidak, jawabannya ada di hari akhir nanti.

Lulus ujian, akan menaikkan derajat kita di sisi-Nya dan tiada lain balasannya adalah ridha-Nya, surga-Nya, dan bidarari yang bermata jeli. Allah SWT berfirman, “Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik." (QS. Al Waqiah : 22-23). Bidadari menantimu, akh… Selamat ujian. (Ayat al akrash)



Di waktu ujian badai terus melanda
Engkau tetap gigih berjuang
Membenarkan sabda junjungan
Terus memburu menuntut janji,
Pastilah Islam gemilang lagi
Ujian bukan batu penghalang
Karena itulah syarat dalam berjuang
Ujian adalah tarbiyah dari Allah
Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya

- The Zikr -

Friday, May 26, 2006

There Is A Right Time For Everything...

Salah satu hari yang berpengaruh besar dalam hidupku. Skenario yang Allah tetapkan padaku hari ini, walaupun ada rasa sakit dan kecewa secara manusiawi, tapi aku yakin inilah yang terbaik untukku dari-NYA.
Hari ini, aku belajar dan merasakan kasih sayang Allah yang luar biasa besar untukku. Secara kacamata manusia biasa, aku gagal, tapi dari kacamata hamba Allah, aku mendapatkan sebuah pencerahan. Aku pun belajar bahwa semua akan datang pada waktu yang tepat. Dan yang tau kapan waktu itu hanyalah Allah dan itulah yang akan berlaku. Pena-pena telah diangkat, tinta telah kering, yang berlaku pasti akan berlaku.
Skenario ini membuktikan bahwa apa yang kita inginkan tidak selamanya yang diinginkan Allah dan yang akan terjadi adalah apa yang diinginkan Allah, bukan apa yang kita inginkan. Sedih, iya. Kecewa, jelas. Tapi berhenti dan putus asa? Tidak, tidak ada dalam kamusku.
Hikmah yang bisa kuambil :
1.Allah memberiku kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik
2.Allah memberiku kesempatan untuk lebih lama berjuang bersama di KMBI, di DPRa PKS Klampis Ngasem, di FSLDK.
3.Allah memberiku kesempatan lebih lama bersama adekku eya dan adek ega yang bentar lagi menyusul ke surabaya
4.Allah membantuku dengan mengirim seorang pak mantri yang akan full memback-upku menghasilkan yang lebih baik
5.Allah memberiku sebuah akhir yang indah. Aku akan bersama saudara sekaligus teman terbaikku, sri, saat waktunya datang nanti. Juga sama lebih banyak orang-orang terdekatku, bagus, ronald, arif, maya, juga mas yan
6.Akhir yang indah, senyuman yang terindah yang akan kurasakan saat tiba waktunya. Aku sudah bisa membayangkan hari itu, dan i feel so good
7.Yang terpenting, Allah telah menjagaku dari sifat takabbur. Karena bisa jadi, jika keinginanku yang terjadi, ada kemungkinan sifat takabbur melekat di diriku karena hal itu. Allah begitu luar biasa menjagaku

Satu hal yang kuinginkan adalah, aku diberi kekuatan untuk memberitahu hasil ini kepada orang tua. Karena aku selalu insyaAllah bisa menerima setiap keputusan Allah atas diriku, tapi orang tuaku, bagaimana perasaan mereka?

Tapi Alhamdulillah, Allah menuntunku, Ia memberiku kekuatan dan Ia pun memberikan ibu dan bapakku kelapangan sehingga mereka tetap menjadi orang-orang yang terbaik yang tetap berada di sampingku apapun keadaanku. I love you , Pa, Bu.

Tuesday, May 23, 2006

Bagaimana Kabar Iman Anda Hari Ini?

taken from: hudzaifah.org
yang Posted by: nin_dhita on Saturday, March 19, 2005 - 10:41 AM


Hudzaifah.org - Apa kabar saudaraku? Bagaimana keadaan imanmu hari ini? Bagaimana pula kabar imanmu hari ini? Karena engkau pasti tahu bahwa yang menjadi ukuran kita selamat di Yaumil Akhir nanti adalah tingkat amal kita di dunia.

Pernahkah engkau mengingat kematian wahai saudaraku? Karena kematian menjadi kepastian; tanah menjadi tempat pembaringan; munkar dan nankir menjadi tamu; kuburan menjadi tempat tinggal; perut bumi menjadi tempat menetap; kiamat menjadi janji yang pasti; surga dan neraka menjadi tempat kembali.

Pernahkah terbersit difikiranmu? Tatkala manusi dikumpulkan dipadang mahsyar?
Pernahkah terbersit difikiranmu wahai saudaraku, tatkala disana matahari sangat dekat di ujung kepala? Rasulullah SAW bersabda : “Di hari kiamat nanti matahari akan mendekati manusia, sehingga jaraknya hanya satu mil. Manusia akan berada dalam keringatnya masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya. Ada yang keringatnya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai setengah badan dan ada yang tenggelam sampai mulutnya.”

Saudaraku…
Pernahkah engkau membayangkan tentang neraka?
Tentang kegelapa neraka yang sangat pekat?
Rasulullah bersabda : “Api neraka dinyalakan seribu tahun hingga memerah, kemudian dinyalakan lagi seribu tahun hingga memutih dan dinyalakan lagi seribu tahun hingga menghitam. Dan jadilah neraka itu gelap pekat.”

Saudaraku…
Pernahkah engkau membayangkan tentang minuman akhli neraka?
Allah berfirman “… dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumkanny air nanah tersebut…” (Q.S Ibrahim : 16)
Rasulullah bersabda : “Ketika didekatkan kemulutnya maka mulutnya terpanggang dan kulit kepalanya terkelupas. Dan ketika dia meminumnya, maka terputuslah ususnya sehingga minumannya keluar dari duburnya”

Saudaraku…
Cukuplah cerita tadi bagi kita, karena keadaan sesungguhnya pastilah lebih mengerikan!

Maafkan aku saudaraku, karena membuat hatimu gelisah oleh cerita itu.
Tapi karena kecintaanku padamu karena ALLAH SWT, maka aku ceritakan pula. Aku hanya ingin kita menjadi orang-orang yang selamat dari keburukan-keburukan itu.

Saudaraku…
Yang aku harapkan hanyalah agar kita selalu waspada terhadap kematian dengan jalan perbaiki diri tentunya. Dan pada saatnya nanti, kita menjadi orang yang siap mengahadap’Nya.

“ Rabbana atina fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhiratihasanataw waqinaa ‘adzaabannar” (Q.S Al-Baqarah : 210)

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat; dan periharalah kami dari siksa neraka. AMIN.(Tim.Jurnalis.SKIFE-bob)

-wahai saudaraku tolong ceritakan lah… indah Surga Nya-

Friday, May 19, 2006

Catatan saat menjelang Musda Surabaya

Bukan sebuah euforia kemenangan, bukan pula sebuah kebanggaan akan jumlah, tapi suatu ghiroh yang tiba-tiba membuncah dengan hebatnya di dada untuk terus dan selamanya berada dalam lingkaran dakwah yang indah ini.

Hall Mina Asrama Haji tidak cukup menampung kehadiran kami, Kader Partai Keadilan Sejahtera Kota Surabaya yang berkumpul demi sebuah semangat baru. Belajar dan mengikuti semangat dari masayikh dakwah yang telah berkecimpung lama dalam dunia tarbiyah Indonesia. Untuk sejenak, saya coba melihat dan mengklarifikasi sebuah kintasan fikiran tentang fanatisme tokoh. Sebuah lintasan pikiran yang menyimpulkan adanya figuritas yang jika dibiarkan akan berpengaruh pada datangnya keberkahan dakwah dari Allah. dan Alhamdulillah, setelah kucerna setiap sikap yang terlihat mata, setiap kata yang terdengar telinga, setiap gurat wajah yang tertangkap mata, menandakan bahwa sesaknya Hall Mina ini karena rindunya jiwa mendengar sebuah pencerahan dari salah seorang tokoh tarbiyah. Ini bukan figuritas, ini hanyalah sebuah bentuk ikhtiar kami untuk menimba ilmu dan pengalaman dari seorang aktivis dakwah, sehingga keluar dari ruangan ini, ada sebuah semangat baru tentang dakwah. Keluar dari ruangan ini, kaki ini akan semakin kuat tertanam di halaman dakwah hingga bertemu dengan Sang Kekasih, Rabb Semesta Alam.

Ya Allah, tetapkanlah dan teguhkanlah kaki kami di jalan ini. Ceburkanlah kami lebih dalam ke lembah dakwah yang mulia ini hingga tiba saatnya nanti, kami akan berada di puncak keridhoanMU

Tuesday, May 09, 2006

One Hard Day

Bismillahirrahmanirrahim....

"Demi Waktu. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran" (QS Al-Ashr 1-3)

One hard day. Menghitung hari pendaftaran sidang dan bab IV-ku belum selesai. If i could turn back time but it is impossible. Aku siap untuk kecewa, aku siap dengan apapun yang akan terjadi karena semua salahku yang wasting much time. Tapi aku tidak siap jika ada yang akan kecewa. Ibu, abang, om yang sudah sangat menginginkanku selesai bulan ini. Aku tak siap untuk itu. So, i decide to do the best in the end of time. Bagaimanapun, hidup adalah berjalan ke depan bukan mneyesali keadaan lalu.
Tidak ada kata menyerah dalam kamusku meski di detik-detik terakhir.
Ya Allah, semua kupasrahkan padaMU karena KAU lebih tahu yang terbaik untukku.

Buat mita : Thanks for crying with me today. Air mata tadi bukan air mata pesimis. Kadang kita butuh air mata untuk menenangkan hati dan pikiran. Kadang air mata bisa mengobati gundah. Kadang kita butuh waktu untuk menangis. Dan setelah itu, hapuslah air mata dan bangkitlah. SELESAIKAN YANG TERTUNDA. SELESAIKAN YANG BELUM SELESAI. Untuk kita, untuk orang-orang yang menyayangi dan mencintai kita. Untuk ibu kita

Monday, May 08, 2006

Palestina, Amerika, dan Nurani Pak Polisi

Bismillah ........

Palestina memanggil kami. Dan maaf, hanya ini yang bisa kami lakukan. Sekedar longmarch dari taman bungkul menuju konjen AS di Jl. Dr Soetomo Surabaya. Hanya itu dan setelah itu bisa pulang untuk bisa beristirahat di empuknya kasur. Maafkan kami saudara-saudaraku. Hanya ini yang bisa kami lakukan. Semoga usaha kecil kami ini bisa menambah semangat jihad bagi kalian, terutama bagi kami. Semoga murka Allah segera turun pada biang terorisme yang telah membuat kalian seperti saat ini. Semoga langkah-langkah ini tidak berhenti disini saja karena ....
LANGKAH INI LANGKAH-LANGKAH ABADI
MENAPAK TEGAK MAJU TANPA HENTI

Saat aksi tadi, ustadz sigir dan ustadz sirodj banyak berbicara tentang polisi yang ikut menjaga aksi kami. Posisi berdiriku yang lumayan dekat dengan penjagaan polisi membuatku melihat tidak ada semangat di mata para bepak berbaju coklat itu. Mata mereka menunjukkan hati mereka. Aku yakin, jauh di dalam hati mereka, mereka setuju dengan kami. Dalam nurani mereka yang terdalam sebagai seorang muslim, mereka tahu siapa yang harus mereka bela. Dan jika sekarang mereka ada di garis yang bersebelahan dengan kami, hanyalah semata menunaikan tugas mereka. Terlihat je;as, sangat jelas, berdiri mereka tidak lagi gagah. Kenapa? Karena mereka sedang menjaga yang bertentangan dengan hati nurani mereka. Mereka, para polisi yang berjaga agar kami tidak mendekati kantor konjen AS itu hanyalah korban digdaya, korban dari ketakutan Amerika, korban dari kepengecutan Amerika dan merekalah yang harus menjaga agar si pengecut dan penakut itu baik-baik saja.

Semangat yang beda dengan yang kami bawa. Wajah para akhwat yang kulihat, semangat anak-anak yang ikut aksi, pekikan-pekikan takbir yang penuh ketegasan dan keyakinan akan sebuah kebenaran dan kemenangan, serta keteguhan sikap dari tapak kaki yang melangkah menyusuri jalanan Darmo. Pak polisi itu, kulihat keinginan untuk ikut bersama kami. Kuyakini satu hal, bahwa mereka yang juga muslim tau siapa yang sebenarnya haruis dibela, tahu siapa sebenarnya yang bersalah. Mereka tahu itu. Dan jika tiba saat mereka melepas baju coklat itu, mereka tahu mana yang harus mereka jaga.

LANTANG TLAH TERDENGAR PANGGILAN SUCI
MENYERUKAN JIWA MUSLIM SEJATI
SAMBUT SEMANGAT MEMBEBASKAN NEGRI
TANAH PERSADA SUCI PARA NABI
PANGGILAN SUCI BEBASKAN NEGERI
PALESTINA

satu hati bebaskan palestina

Sunday, May 07, 2006

Belajar Untuk Lebih Under Control

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Sudah seminggu berlalu dari bulan mei. Seminggu yang berat untukku. Tanggal 2 kemarin seminar TA dan hari itu kesabaranku benar-benar diuji. Bagaimana aku harus tetap tenang di bawah tekanan, baik tekanan orang lain, tekanan waktu, bahkan tekanan dari diriku sendiri. Hari-hari selanjutnya masih belum mudah untukku.
Entah kenapa, tapi orang-orang di sekitarku sepertinya bersepakat untuk mengujiku. Atau itu hanya perasaanku saja. Mereka terlihat menjadi orang-orang yang terus saja menambah beban di pundak dan otakku yang sudah penuh sesak oleh beban yang bernama TUGAS AKHIR. Tapi alhamdulillah semua bisa kulewati. Alhamdulillah tidak seorang pun diantara mereka yang berhasil membuatku berteriak, marah atau sekedar menunjukkan tampang kesal. Dan aku bahagia karenanya. Aku bahagia bisa melewatinya tanpa harus menyakiti siapapun. Walaupun memang tidak menyelesaikan bebanku tapi paling tidak tidak menambah beban itu.
Aku kembali belajar dan membuktikan bahwa kita tidak bisa mengubah apa yang terjadi pada kita, tapi kita bisa memilih cara kita menghadapi dan merespon kejadian-kejadian itu.
About TA, aku pribadi optimis tapi jika harus realistis, aku tidak keberatan jika aku tidak ikut wisuda bulan juni ini. Aku insyaAllah bisa ikut bulan desember. Permasalahannya adalah, bagaimana dengan kedua orang tuaku terutama ibu yang ingin melihatku selesai bulan depan. JIka kuberi penjelasan, insyaAllah beliau bisa mnegerti, tapi tetap saja, aku telah mnegecewakannya.
Ya Allah, bantulah hambaMU yang lemah dan tak berdaya ini. Mudahkanlah urusanku Ya Allah. Aaamiiiin

Sudah jam 7, time to munasharoh Palestina

Wednesday, April 26, 2006

My Dear GPS episode 2

Sedikit kerinduanku kepada saudaraku yang kugelari GPS terobati. Secara mengejutkan dia datang saat kami syuro di teras masjid Nuruzzaman UNAIR tadi pagi. Senang banget bisa ketemu dia yang sedang ke Surabaya untuk bantu penelitian dosennya. Ceria dan ketegasannya tetap dengan kuat muncul.
Ukhti, kapan ketemu lagi? i will miss you

Tuesday, April 25, 2006

JANGAN COBA COBA ISENG !!!!!

Dakwah akan berhasil diusung oleh orang-orang yang ikhlas, yang tidak menodai dakwah dengan hal-hal yang tidak dibenarkan.
Fenomena curhat diantara aktivis dakwah yang berbeda gender adalah fenomena yang harus segera dihentikan. Bagaimana mungkin keberkahan Allah akan turun pada dakwah yang diusung oleh orang yang masih iseng mencoba-coba mengotori hati.

Kasuistik memang dan hal seperti itu sudah terjadi sejak zaman baheula. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana menumbukan kesadaran bahwa masih banyak pe-er dakwah yang harus kita selesaikan. Masih banyak problema umat yang harus kita bantu. Masih sangat banyak umat di luar sana yang menunggu kedatangan kita menawarkan keindahan Islam. Sudah terlalu banyak. Jangan tambahi lagi dengan masalah klasik ini. Karena keisengan kita hanyalah menjadi penghalang turunnya keberkahan.

Kita semua tentu setuju bahwa dakwah ini tidaklah mudah. Kita semua tahu itu dan kita tetap saja menyemplungkan diri ke jalan ini. Itu berarti kita telah siap menerima dan menghadapi setiap resiko serta konsekuensi berada di jalan ini. maka ketika timbul sesuatu yang sangat mengganggu pikiran dan perasaan, maka pembina kita, teman se-gender kita ada untuk mendengarkan setiap curahan dan membantu mencari solusi bersama. Di atas semua itu, ada Allh yang selalu ada untuk didengar. Tanpa perlu transportasi untuk bertemu, tanpa perlu jeda waktu untuk berbicara. Kapanpun engkau butuh, kapan punitu, IA ada. Tidak perlu kita mencari aktivis dakwah yang berbeda gender untuk dicurhati walaupun memang secara psikologi, curhat antar gender menyenangkan. Buktinya, banyak yang lebih suka curhat dengan lawan jenisnya, kan?

Tapi, jangan pernah engkau relakan, jangan pernah engkau gadaikan keindahan di jalan ini karena masalah klasik dan tidak bermutu seperti ini. Ayo, kita sama-sama benahi diri untuk lebih menjaga adab interaksi antar ikhwan-akhwat.
Allahu Ghoyatuna............

kepada seorang saudaraku : Sabar ya ukhti. Jangan sampai kekecewaan anti karena hal ini membuat anti mutung di jalan ini.

Kepada para akhwat :Jangan coba-coba iseng. Masih sangat banyak stock akhwat yang masih bisa dicurhati masalah dakwah kampus. Kalaupun ada hal-hal yang harus dikomunikasikan dengan ikhwan, terbatas pada masalah-masalah dakwah yang memungkinkan untuk didiskusikan dalam forum. Bagaimanapun, kita adalah kumpulan manusia, bukan malaikat. Kita punya hati yang tentu saja diberi fitrah kecenderungan terhadap lawan jenis, dalam hal ini kecenderungan kita tentulah seorang ikhwan bukan pria pada umumnya. Begitupun mereka, mereka bukan tidak punya hati. Sepintar-pintarnya mereka menjaga pandangan dari wanita, tetap saja kecenderungan mereka adalah akhwat. Berhati-hatilah saudaraku. Masih banyak pe-er dakwah yang harus kita selesaikan. Jangan lagi tambahi dengan masalah anti yang muncul karena keisengan anti. Saudara-saudara akhwat di kampus anti, atau di kampus lain, masih ada untuk menemani anti bicara, sama-sama kita cari solusinya. Minimalkanlah urusan kita dengan ikhwan. Bukan kaku, bukan pula ekstrim. Tapi upaya untuk menjaga kesucian diri, membuka kemungkinan keberkahan dakwah turun.

Kepada para ikhwan :
Posisi ikhwan sebagai pemimpin dalam setiap wajihah bukanlah sebuah pembenaran untuk jauh berinteraksi dengan akhwat. Jalankanlah tanggung jawab antum dengan baik tanpa harus mencampuri urusan akhwat. Dalam artian, antum bisa saja mencari tahu kondisi akhwat, tapi sebatas gambaran umum. Tidak perlu mencari tahu kondisi detail ukhti A, ukhti B, mengomentari seorang akhwat dengan sebutan kaku, padahal ia hanya berusaha menjaga kefitrahannya, ia hanya berusaha menjaga adab pergaulan.

Tuesday, April 18, 2006

Indahnya Membina

"Malaikat, penduduk langit dan bumi, smpai semut-semut di lubang dan ikan-ikan di lautan memohonkan rahmat-Nya bagi manusia yang mengajarkan kebaikan"

Siapa sih yang tidak ingin didoakan oleh ciptaan ciptaan Allah yang tidak berdosa yang insyaAllah diijabah oleh Allah? Rahmat Allah, siapa juga yang tidak menginginkannya?

Membina adalah hal mutlak yang harus dilakukan oleh kader yang sudah terbina karena adalah sebuah keindahan ketika kita bisa memberi apa yang selama ini kita dapat. Bertemu dengan wajah-wajah baru dengan berbagai karakter, berbeda kecenderungan untuk kemudian dipersatukan dalam sebuah lingkar ukhuwah, melakukan pembenahan secara fardiyah maupun secara kolektif adalah salah satu dari sekian banyak keindahan membina. Sunnatullah jika ada binaan kita yang mutung, yang futur. berbagai introspeksi harus kita lakukan, tapi bukan berhenti. karena yang bisa kita lakukan adalah memberi, membagi sedikit ilmu yang kita punya dengan seoptimal mungkin, dan kembalikanlah kepada Allah karena Ia-lah yang memilih hambaNYA yang akan diberi hidayah.
bagi para kader muda yang telah membina : Sabarlah dalam membina
bagi kader muda yang belum membina : what are you waiting for?

catatan kecil untukku, semoga kedewasaan dan kematangan tarbiyah dapat lebih kurasakan dengan dibina dan membina.
Buat "adek-adek"ku, semoga lingkaran indah kita berlanjut hingga ke surga. Aamiiiin
Buat "saudara-saudara"ku, lingkaran kita selalu jadi moment yang kutunggu-tunggu

NO IKHTILATH !!!!!

Ada pemandangan yang menarik hari ini. Baru kali ini aku merasakan kenyamanan yang sangat ketika naek bemo. Yang biasanya berdempetan dengan non muhrim, belum lagi asap rokok penumpang yang tidak punya etika. Hari ini beda. Aku naek bemo dan sampe turunnya, bagian belakang bemo itu isinya cewek semua. Yang cowok hanya 2 orang dan duduknya di bengku depan samping pak sopir. Gak ada khawatir, gak ada asap rokok, gak ada zina mata, steril deh.
Aku jadi teringat bagian dari sebuah surat dari seorang sahabat FSLDK yang menceritakan sebuah mimpi, yang isinya :

"Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath!"

Perjuangan belum usai. Bahkan mungkin sampai ujung usia kita, perjuangan belum usai. Perjalanan perjuangan ini ikhwah, masih jauh....hampir tak bertemu ujung. Banyak pe-er yang menanti kita. Mengenalkan Islam yang indah, menerapkan nilai-nilainya hingga TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN.

Menapak Tegak Laju Tanpa Henti. Syurga Allah Menanti

Monday, April 17, 2006

My Dear CPU .....

Inna Lilahi Wa Ina Ilaihi Roji’un. Sejak jumat sore kemarin komputerku hang. Gak mau masuk windows. Rasanya pengen nangis, terbayang TA-ku yang belum kelar. Aku bawa ke servis dan katanya perlu diinstall ulang. That’s only one they can do to repair my CPU. Oke, ane hanya berharap data-dataku tidak kena masalah. Dan alhamdulillah kemarin sore ketika ngambil, everything is OK!!!. Serem banget klo semua data hilang apalagi data TA. Nangis darah deh (berlebihan kaleeee……).

Saturday, April 15, 2006

Dakwah kok mahal ya????

"Mbak, dakwah kok mahal ya?. Mo manggil ustadz X aja sampe 45 juta. Ngundang DEWA po-o, rame".

Kalimat di atas adalah keluhan seorang siswa SMA tempat dimana seorang teman mendapat amanah mengisi mentoring disana. Saat kajian pekanan kami, ia menceritakannya. Terus terang, kalimat itu menggangguku. Benarkah dakwah itu mahal? Haruskah seseorang mengeluarkan dana yang segitu banyaknya untuk sebuah ceramah? Apa itu bisa termasuk tadhiyah?

Bandingkan dengan para murobbi (pengajar) kita. Setiap pekan mereka meluangkan waktunya untuk kita. Apalagi yang megang beberapa kelompok. Belum lagi amanah mereka yang berjubel di tingkat struktur, apatah lagi ditambah dengan usaha-usaha mereka mencari maisyah, atau para murobiyah yang punya amanah juga di rumah. Dengan semua itu, mereka selalu menemui kita setiap pekannya dengan senyum, tanpa cemberut ataupun keluhan. Bayaran? Adakah sepeser yang kita berikan pada mereka? Adakah angka yang mereka patok untuk mengganti waktu mereka? Tidak ada kan? Tidak sepeser pun kan? Bahkan kalo kita datang dengan jajanan atau mainan untuk anak2 mereka (itupun jarang banget), jelas itu bukan permintaan mereka. Infaq yang kita keluarkan di setiap pertemuan kita tidak pernah masuk ke kantong mereka. Semuanya kembali ke kita, ke program2 kita. Rihlah atau cooking class atau program lainnya. Padahal infaq kita seringkali kita samakan dengan pengamen di jalanan, mencari recehan yang terselip di dalam tas atau saku. Kesimpulannya, tidak sepeser pun kita keluarkan. Apa itu berarti kita tidak berkorban? Itu pembahasan lain lagi. Yang ingin saya angkat disini adalah nilai keikhlasan yang tetap terpancar, yang kita rasakan setiap bertemu dengan murobbi murobbiyah kita. Kita datang dengan tangan kosong dan kita pulang dengan tambahan ilmu, tambahan semangat, plus senyuman manis saudara-saudara kita berbonus tatapan cinta sang murobbi.

Saya tidak mengatakan bahwa ustadz X tidak ikhlas. Keikhlasan hanya Allah yang tahu. Begitupun ketika si ustadz memasang harga 45 juta untuk sekali tampil, bisa jadi pihak managemen punya berbagai alasan untuk merasionalisasi harga itu.
Tapi lihatkah dampaknya? Kesimpulan yang diambil oleh mereka yang sedang semangat-semangatnya belajar Islam. Harapan mereka untuk lebih mendapatkan pencerahan lewat kalimat-kalimat si Ustadz harus kandas, bertekuk lutut di bawah angka 45 juta. Sampai akhirnya membandingkan dengn grup band DEWA. Saya sendiri tidak tahu berapa harga yang dipasang DEWA sekali tampil. Bisa jadi malah lebih mahal dari 45 juta. Tapi kenapa mereka lebih berani memanggil DEWA dibanding ustadz jika harus mengeluarkan dana yang banyak. Mungkin menurut mereka, kalau memang harus bayar mahal, sekalian aja manggil yang sudah jelas penikmatnya, yang sudah bisa diprediksikan bisa balik modal. Iya juga sih. Coba kita pikir, jika yang dipanggil DEWA, mungkin seluruh siswa SMA itu, bahkan dari sekolah-sekolah lain akan datang menonton, sebesar apapun kontribusi yang ditetapkan panitia. Sponsornya pun jelas. Rokok, perusahaan jasa telekomunikasi, jasa transport, hotel, banyak yang ngantri untuk mensponsori kegiatan ini. Liputan infotainment, jelas ada.
dalam kondisi yang seperti itu, apa perlu dakwah mematok nilai seperti itu? menurut pandangan saya, tidak menjadi masalah kalau dakwah mematok nilai tapi jika nilai itu jauh di awang-awang, maka kapan dakwah akan mnyentuh masyarakat yang tidak bisa menyentuh awang-awang itu?

Untuk semua ini, jazakumullah khoiron katsiron kepada seluruh murobbi murobbiyah di dunia yang telah menjadikan kami seperti ini, yang telah mengenalkan kami yang tidak bermodal ini dengan indahnya tarbiyah. Jazakumullah khoiron atas tidak pernahnya menuntut balasan dari kami selain harapan kami menjadi lebih baik dari hari ke hari. Karena bimbingan, doa tulus serta air mata para ibu dan bapak MR-lah, Allah masih meneguhkan kaki kami di jalan ini. Jazakumullah khoiron katsiron juga kepada para ustadz ustadzah yang mengisi dauroh-dauroh kami, seminar-seminar kami. Apa yang kami dapatkan, kami sadari tidak bisa hanya dibalas dengan amplop yang tipis yang tidak seberapa itu. Karena lebih dari itu, Allah yang akan membalas. Karena kami tahu, ilmu yang kalian berikan kepada kami adalah untukNYA, maka hanya ALLAH-lah yang bisa membalasnya. HANYA ALLAH

Friday, April 14, 2006

my dream city

Ternate. Pulang dari pemutaran film Ar-Risalah kemarin di masjid kampus, di program Jelajah-nya Trans TV, yang dijelajahi ternyata my dream city, Ternate. Si penjelajah memulai perjalanannya dari bandara sultan baabullah ternate, trus ke danau tobire besar, danau tobire kecil, trus ke pantai sulamadaka maen bambu gila dan ke tempat2 indah lainnya. Dia keliling ternate dengan bersepeda motor. Aduuuh, pengen banget kesana. Indah banget.
Pagi tadi, setelah subuh, pengennya buat puding crispy tapi pas mo liat berita ternyata di trans TV diputar ulang program jelajah yang kemarin di ternate. Walhasil, ane buat pudingnya di depan TV. Gak mau dong ketinggalan nonton indahnya ternate. Kapan ya ane bisa kesana? Suatu hari, ane akan kesana, insyaAllah

Thursday, April 13, 2006

BISA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Seminarku 2 Mei 2006 pukul 13.00 WIB. Bisa gak ya aku menyelesaikan bab 4-ku sebelum tanggal itu??????????????????????????????????????????????????????????????
????????????????????????????????????????????????????????????
????????????????????????????????????????????????????????????
??????????????????????????????????????????????????????????
?????????????????????????????????????? BISA. WITH ALLAH, I CAN DO THAT

Wednesday, April 12, 2006

Aku rindu zaman itu...

Cerita "mbak" tentang kehidupan tarbiyah di awal tahunnya di Indonesia adalah cerita indah yang semakin jarang terulang lagi. Dan malam ini, aku mengetahui sendiri ketika berkumpul dengan ikhwan akhwat dari wilayah lain, bahasa-bahasa yang dipergunakan antara ikhwan dan akhwat sudah semakin akrab dan longgar. Panggil nama sudah biasa. Ya sih, mereka memang seangkatan, tapi ketika hanya manggil nama dan pembicaraannya pun hanya untuk bercanda, jelas bukan akhlaq tarbiyah yang dimunculkan. Wallahu a'lam

Aku rindu zaman dimana cerita indah itu terjadi. Ada kisah indah seperti seorang akhwat yang tidak sadar sudah ditinggal ikhwan karena mereka saling membelakangi ketika ngomon dan ia tidak tahu kalo si ikhwan sudah pergi, sementara ia masih saja ngomong tentang dakwah, atau seperti kisah seorang akhwat yang tidak tau rupa seorang ikhwan yang sama2 di kepanitiaan sampe saat hari H ketika si ikhwan memberi sambutan selaku ketua panitia. Padahal si akhwat adalah bendahara panitiia dan si ikhwan hampir tiap hari selama 2 bulan ke kontrakan akhwat tersebut untuk masalah keuangan, atau kisah-kisah lain tentang betapa terjaganya interaksi ikhwan-akhwat. Aku yakin kisah seperti itu masih terjadi di saat sekarang ini, di suatu tempat. Sama yakinnya dengan keyakinanku bahwa insyaAllah ikhwan-akhwat di masa sekarang ini bisa lebih bijak dan menjaga npola interaksinya, baik dari segi bahasa lisan, tulisan, sms, maupun jenis interaksi lainnya.

Ini bukan kesimpulan dari pergaulan ikhwan akhwat yang ana amati karena apa yang ana lihat itu bukanlah representasi dari keseluruhan sikap kumpulan ikhwan-akhwat yang bagaimanapaun masih bernama manusia, bukan malaikat. Ana yakin, tetap masih ada banyak ikhwan dan akhwat yang bisa menjaga baik sikpa mereka. Bahkan ana punya kenalan mereka yang masih bisa menjaga sikap dengan sangat baik. Semoga ana bisa seperti itu juga.

Kita sama-sama perbaiki diri saja. Karena tarbiyah telah mengajarkan kiat untuk menjadi pribadi-pribadi muslim yang lebih baik dari hari ke hari. Semoga kekeliruan yang mungkin telah dianggap biasa ini bisa segera diluruskan sehingga dakwah kita menjadi lebih berkah. Aamiiiin

Nikah (Again....)

Nikah.
Belakangan ini topik itu jadi topik yang selalu kudengar di setiap obrolahn sehingga kadang aku jadi ilfil bahas ini. Apa gak ada bahasan lain? Bukan anti dengan pernikahan, tidak sama sekali. tapi jangan waktu terbuang banyak untuk urusan itu dong, tawadzun juga perlu kan. Amanah dakwah sudah kelar belom? kelarin dulu, minimal jalan bareng. jangan deh jadi topik pembicaraan favorit. Banyak tugas2 besar dakwah menanti. Nanti juga kalo waktunya tiba, kejadian juga. Tenang aja deh
Nikah.
Belakangan ini banyak orang di sekitarku yang menikah. Setiap minggu selalu ada kabar pernikahan dari orang-orang yang kukenal. Dan pagi ini pun begitu. Tidak tanggung-tanggung. Jam 9 pagi, usrohku di masjid Al-Falah dulu berkumpul di rumahku. Tidak tahu untuk apa mereka berkumpul. Ternyata ada pengumuman penting dari 2 saudaraku.
Mbak dina mengumumkan rencana pernikahannya tanggal 14 mei. Mbak imas mengumumkan rencana pernikahannya tapi masih lama, mungkin sekitar juni atau juli. Tapi besok, mbak imas akan berangkat ke medan mengurus surat2 pernikahannya disana.
Buat 2 akhwat tercintaku ini, aku hanya bisa mengucapkan selamat dan semoga Allah selalu menuntun langkah kalian hingga tiba saatnya nanti. Bahagiaku untuk kalian.
Mbak yuni, kapan nyusul?
Eby? kapan ya? kapan-kapan deh. :-)

Monday, April 10, 2006

Buat akhi safar (yang tak pernah kutahu sebelumnya)

Assalamu'alaikum
Ukhti ami sayang, aku baca puisi bagus di internet dan kutitipkan lewat anti untuk suami anti. Aku hanya ingin ia mampu menggenggam tangan anti erat-erat bersama menapaki jalan Allah dan membangun rumah untuk anti di surga, insyaAllah...


Menapak Mitsaqan Galizha bagi Mujahid..
(Sumber : http://www.boemi-islam.com)


Jiwa yang lelah, ...
Toek menapaki jalan yang semakin susah
Ruang hati yang gelisah..
Toek memahami makna resah
Sayap yang setengah..
Toek mengepak di Langit basah

Maka kan segera jelang..
saat sejenak bersandar bagi pejuang badar..
Saat sejenak berlabuh bagi pejuang teguh..

Dan sejenak itu Mitsaqan galizha..

Mujahid..biadadarimu jemputlah..
Dialah separuh sayap..
separuh pemakna resah
pun separuh jiwa yang lelah..

perjanjian teguh itu akan menangkupkan jiwanya dan mu
Namun jangan terlena mujahid..
Ini awal derap panjang..
bawalah dia bersama lewat perjuangan menuju cintaNya


kampoeng soerabaja selesei titik 11.00 di 9 April 2006

for my sister : Ukhti Ami di Barru city, didetik itu doaku barakallahulaka wa baraka alaika wajama'a bainakuma fii khoiir amiin
for my new brother : Saya mewakili seluruh keluarga besar STM Telkom Makassar Angkatan 6, kepada Akhi Abdul Safar, jaga saudara kami baik-baik. Kau telah memilih memetik salah satu bunga terindah di taman hidup kami (saudara-saudaranya)

(eby)

Mendayunglah Kalian Hingga Ke Tepian (episode ami dan safar)

Mendayunglah Kalian Hingga ke Tepian...
Dimanapun engkau,
Dan dalam keadaan apapun,
Berusahalah dengan sungguh-sungguh
Tuk menjadi seorang pencinta
Tatkala cinta benar-benar tiba
Dan menyelimutimu
Maka selamanya kau akan menjadi seorang pencinta.
(Kearifan cinta, Jalaluddin Rumi)

Ketika mengetahui seorang sahabat akan menikah lewat sms, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang tak bisa saya lihat.
Sms itu kuterima tanggal 31 Maret, yang berari 9 hari lagi sahabat tersayangku akan memulai lembaran baru hidupnya. Dan jika saat ini, ia telah menjadi istri dari seseorang, maka saya yakin tanpa saya melihat, senyum indah selalu tersungging di bibirnya. Senyumnya pasti selalu saja mengembang. Aih...

Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir." (QS. Ar-Rum: 21).

Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah
ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati.
Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda.

Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami
tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati
mereka seolah selalu tersambung. Ada do'a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri
kepada Allahi supaya suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.

Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Patrikan firman Allah dalam ingatan : "...Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami)
dan kalian adalah pakaian bagi mereka..." (QS.Al-Baqarah:187)
Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya"
(Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a)

Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.
Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.
Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang
menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya.
Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki "Surga". Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)

Maka di hari yang sama dengan hari dimana kalian mengguncangkan arsy Allah, aku yang jauh disini, di sudut bumi Allah yang berbeda dengan kalian, hanya mampu berdoa, Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena
Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan.
Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan.
Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world "Akhirat".
Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampaiketepian. Allahumma Aamiin.

Barakallahu, untuk ukhti ami dan akhi abd. safar.
Mudah-mudahan saya mampu mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya sendiri.

9 April 2006
Doaku untukmu, saudaraku
Ebymu

Sunday, April 09, 2006

Barakallahu laka......

Memori STM kembali terulang. Pagi ini banyak teman2 STM yang aku telpon memanfaatkan murahnya sesama simpati sebelum jam 7 pagi. Semua yang di makassar pada mau ke Barru ke walimahannya ami besok. Dari semua yang aku telpon, satu yang jadi tujuan utamaku yaitu my sister ami yang besok mau walimah. Asyik ngobrol sama ami di hari terakhir ia single fighter. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoiri. Semoga sejak besok, kalian akan terus bersama hingga ke surgaNYA. Aaamiiiin.

Seandainya....

Seandainya semua pria adalah ikhwan. Kenapa? Habisnya aku rada-rada muak dengan para pria yang kerjaannya usil gangguin cewek-cewek. Di pabrik tadi, banyak yang suit-suit. Aku jadi mikir, aku yang sudah menutup aurat rapat ini aja masih digoda seperti itu, bagaimana dengan mereka yang mengumbar aurat kemana-mana ya. Sering juga liat para pria yang dengan pandangan matanya menoleh ke wanita yang berjalan di depannya dengan tatapan seperti mau menyantap habis. Rasanya aku pengen datang dan gamparin setiap pria yang berkelakuan minus kayak gitu. Di bemo juga gitu. Supir godain calon penumpang yang sedangn nunggu bemo dengan bahasa yang sangat tidak sopan. Dasar pria.

Makanya aku pengen di dunia ini, lawan jenisnya ikhwan semua. Lho, bukannya ikhwan juga pria? Iya sih. Secara umum, mereka sama aja. Tapi secara khusus, mereka beda. Ikhwan lebih bisa jaga sikap. Gak bakalan deh gangguin cewek-cewek.

Balik ke kasus sopir, aku teringat. Para calon penumpang itu ya mau-mau aja diganggu. Mana balas godain lagi. Atau kalo gak gitu, dibalas dengan tatapan dan senyuman yang mengundang. Aduh, ternyata ceweknya sama aja.

Jadi kalo dipikir-pikir lagi, ikhwan ikhwan itu juga pasti eneg juga. Kasihan juga sih mereka. Tiap hari dihadirkan pemandangan yang "luar biasa". Pasti terganggu juga tuh. Dan pasti berharap juga biar wanita di dunia ini bisa jadi akhwat semua aja.

Seandainya gitu ya. Indah banget. gak ada ikhtilath, zina mata bisa berkurang, gak terdengar lagi suit-suit, indah banget deh. Tapi itu insyaAllah akan terjadi kok. Ketika Islam telah kembali tegak berdiri menjadi satu-satunya ideologi yang ada di bumi ini. Dan InsyaAllah masa itu pasti akan tiba.
Inilah tugas kita akhi, ukhti. Mengenalkan kepada mereka yang belum kenal akan indahnya Islam. Akan kesucian yang dimiliki Islam.Inilah tugas kita yang belum selesai. Dan mari kita satukan tekad, kita akan tetap disini, menunaikan tugas ini hingga islam akan menang atau kita mati karena membelanya.

Allahu Akbar !!!!!!!!!!!

I LEARN SOMETHING !!!

Finally, ini hari terakhir aku ke pabrik untuk survey. Ini juga kunjungan tersingkatku. Bayangin aja, aku menghabiskan waku 6 jam pulang pergi hanya untuk 5 menit di sana, hanya untuk tanda tangan pembimbing dan stempel perusahaan di form pengambilan data yang aku bawa. 6 jam untuk 5 menit? wow....
Tapi ya sudah, its over now. Paling tidak banyak hal yang bisa kupelajari dalam setiap perjalananku ke pabrik. Aku belajar mengenai :
1. Kesabaran
Kadang bemo yang kunaiki jalannya siput aja menang, mana sering mandeg lagi, ngetem nunggu penumpang. Dan ngetemnya bukan cuma sekali. Mau protes juga gak bisa. Paling-paling dijawab, kita kan butuh uang, non. Padahal aku juga pengennya cepat nyampe, keburu yang dicari gak ada di kantor. Tapi ya itu tadi, kudu sabar. Bagaimanapun, kadang memang kepentingan kita berbenturan dengan kepentingan orang lain. Jadi ya, mesti nyiapin stok lapang dada yang besar saja. Solusinya ya, tasku pasti ada buku bacaan ringan.
Ada juga masalah rokok. Penumpang yang seenak perutnya merokok di dalam bemo yang sirkulasi udaranya tidak berputar bagus. Kalo untuk kasus ini, aku gak punya toleransi tabrakan kepentingan. Bagaimanapun, kepentingan seseorang tidak boleh sampai merugikan orang lain. Kalian butuh asap rokok, maka telan saja semuanya. Jangan sisakan untuk kami, karena kami gak butuh. Sebenarnya para perokok itu harusnya bisa ngerti kapan dan dimana dia boleh merokok. Kami tidak melarang kalian merokok. Toh, kalian pasti sudah hafal-lah dengan rugi yang ditimbulkannya. Dan kalau kalian tetap merokok, berarti kalian emang gak peduli sama diri kalian sendiri. Tapi please dong, jangan sampe kita kena ruginya juga.

2. Kedisiplinan
Karena aku gak ikuti peraturan, aku dipanggil dan data yang sudah kuambil ditarik lagi. i accept that. Toh, aklu emang harus tanggung jawab dan mau terima resiko dari kesalahan yang kuperbuat. Setelah kuikuti prosedur dengan baik (walaupun emang lebih lama), tapi semuanya ternyata berjalan lebih mudah. Data yang kuterima malah lebih banyak dari yang sebelumnya. Bahkan lebih valid dan resmi. So, gak ada salahnya kok ikuti prosedur walaupun agak njelimet.

3. Sosial
Aku bertemu dengan orang-orang yang orientasinya beda banget sama aku. Orang lapangan yang mikirnya praktis dan lebih tepat sasaran. Gak kayak orang akademik yang banyak banget pertimbangan kalo mo do something. Disitu, aku terapkan cara-cara bernegosiasi, berargumentasi dan melobi yang selama ini lebih sering kuterapkan ke orang-orang yang karakter dan cara hidupnya tidak beda jauh sama aku.

4. Mandiri
Everything i do with myself. and i am proud for that. jika emang bisa ngelakuin sendiri, kenapa harus bersama orang lain? terkesan individualis sih, tapi sebenarnya aku bukan tipe orang yang individualis. Boleh dong, berprinsip seperti itu.

5. Kepolosan anak SD
Setiap perjalanan pulang dari pabrik, aku pasti se-bemo dengan anak-anak SD. Wajah mereka, cara bicara mereka bikin aku ingat masa kecilku. Bau keringat mereka sepulang sekolah menjadi tanda bahwa dari dulu sampe sekarang, anak SD ya gitu itu. ke sekolah hanya untuk menanti waktu istirahat. Supaya bisa lari-larian sampe keringatnya seember. Capek tapi senang. Mereka juga polos banget. Tapi kepolosan itu hanya dimiliki anak SD sampe usia kelas 3 SD kali ya untuk zaman sekarang ini. Di atas itu, otak mereka sudah ter-brain wash sama televisi. jadi sudah tau tentang pacaran-lah, jodoh-jodohanlah, naksirlah.

but, finally its over. sekarang fokusku ke pengolahan data. Ya Allah, bantu aku ya..................

Saturday, April 08, 2006

Selamat Jalan, teman...

Satu lagi orang yang dekat denganku, orang yang membersamaiku di Surabaya kembali ke Ambon. Setelah bang Ondy yang sudah menyelesaikan kuliahnya thn 2003, kemudian mas buyung yang keterima kerja di ternate tahun 2004, bukal yang selesai kuliah 2005 lalu, kak ida yang selesai kuliah juga tahun lalu, dan kini santje, seorang sahabat dulu, kini dan nanti.

Temanku sejak SD hingga saat ini sama-sama di Surabaya kembali ke Ambon. Tadinya dia bilang ke ambonnya besok, jadi aku telpon untuk buat janji malam ini nginap di rumahnya dan ikut nganter ke bandara. Tapi waktu ditelpon, dia udah minta maaf duluan karena gak sempat pamit. Ternyata saat ini dia sudah di Ambon. AKu marah, ya. Karena kenapa dia gak ngasi tau kalo ada perubahan rencana. Tapi ternyata dia ditelpon selasa sore jam 4 untuk pulang ke ambon paling lama besok pagi, kalo tidak, ya gak usah sekalian. Dan akhirnya dia muter cari tiket malam itu dan dapatnya jam 8 malam untuk pesawat jam 2 dinihari besok. So, dia gak bisa mikir apa-apa selain packing. Bahkan gak sempat pamitan sama orang2 di kantor tempatnya bekerja.Sedih, jelas. Untuk sesaat, air mataku mengalir. Dia pun begitu. Kami tidak sempat bertemu. Kami hanya berharap semoga Allah masih berkenan mempertemukan kami di Ambon suatu saat nanti.

Aku teringat sesuatu. Kami pernah ngobrolin kenangan-kenangan kami selama di Ambon. Waktu kami SD, SMP, sampe terpisah saat SMA karena aku meneruskan SMA di Makassar, dan kemudian dipertemukan Allah kembali di Surabaya di pelabuhan pada hari pertama aku menginjakkan kakiku di Surabaya tahun pertengahan tahun 2000. Sejak saat itu kami selalu bersama. Pulang ke Ambon bareng naik kapal saat mudik lebaran, keliling2 silaturrahim bareng di Ambon, sampe balik lagi ke surabaya. Dan setiap kali kami bertemu, kota tercinta Ambon selalu jadi tema utama. Kami punya mimpi yang sama. Bahwa suatu saat kami akan kembali ke kota indah itu, menetap di sana, berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai, dengan suasana kota dan orang2nya yang menyenangkan. Dan kini, her dream come true. ya Allah, hambaMU ini tak tahu kemana Engkau akan menempatkan hamba tapi ana yakin dimanapun itu, itu adalah tempat terbaik untukku menjalankan tugasku sebagai khalifahmu di muka bumi ini. Dan buat sahabat sejatiku, santje, apapun ikhtiarmu, jangan lupa sertai dengan doa ya say.

Thursday, April 06, 2006

You always have My Shoulder To Cry On, Sist....

Finally, setelah seminggu kucoba menata hati, kucoba telpon seorang saudara yang sedang diuji Allah dengan sakitnya. Kuhargai keputusannya untuk tidak memberitahuku tentang penyakitnya. Dan jika kini aku telah tahu, aku tak ingin mengatakan padanya kalo aku sudah tahu karena aku harus menjaga perasaan seorang teman yang sudah memberitahuku hal ini. Aku mengerti ia tidak mau membebaniku sehingga tidak mau aku tahu tentang penyakitnya.
Saat dengar suaranya tadi pagi, tetes air mata mengalir tanpa kusadari. Tapi kukuatkan suaraku agar ia tidak curiga. Aku ingin membersamainya di hari-hari sulit baginya ini. But how?

Sist, You always have my shoulder to cry on. Penyakit itu adalah cara Allah mencintaimu. Be Optimism. Banyak kok orang yang sembuh. Itu bukan harga mati. Semua sudah diatur Allah. Bahkan kami yang terlihat segar bugar ini, tidak ada jaminan akan hidup lebih lama darimu. Allah love you karena itu IA memilihmu.

UNTUKMU SAHABAT

Disaat kita nikmati kebersamaan
Banyak hal terlewatkan begitu saja
Keceriaan, gelak-tawa serta canda
Semuanya mengalir begitu saja

Waktu yang tersedia
Seolah tak mampu untuk menampungnya
Begitu cepat berlalu
Berlari seolah tak mau berhenti
Kenangan-kenangan itu terasa indah tatkala kita pergi
Pergi meninggalkan semua kegembiraan yang melenakan
Satu persatu kenangan itu diputar kembali
Ada sederet senyum saat terlintas film-film yang lalu
Kenapa kegembiraan itu harus pergi?
Kenapa tak selalu mengikutiku kemana pergi?
Kapan ini semua akan terulang?
Akankah kita tetap seperti ini?

Sahabat...Semua yang pernah kita jalani
Hari demi hari, waktu demi waktu
Tatkala kita lalui semuanya bersama
Banyak hal yang pernah terjadi
Semua kita lalui dengan segala kekurangan yang kita miliki
Kadang benci, kesal dan kecewa
Juga senang, hormat dan sayang

Sungguh luar biasa apa yang telah kita lalui bersama
Inikah pemberian tak ternilai dari Sang Kuasa?
Yang sering kali tak pernah kita syukuri
Ya, Allah.. Lindungilah mereka yang ku-cinta

NB:'tuk sahabat-sahabatku yang pernah bersama-sama dalam mengisi sepenggal perjalanan 'The Sixers of STELK'. Ingat waktu demo pak menno gak? Ingat waktu ke Malino gak? Ingat Bazar-bazar kita gak? Kisah kita emang indah ya, friend...

(Ini puisinya Jovi Hijjau, kuambil dari internet dan kukirimkan kesini karena cukup mewakili kisah kita, friend. I miss you and hope the best for all of you wherever you are, whatever you do)








Wednesday, April 05, 2006

Memoar Cinta di Jalan Dakwah

Memoar Cinta di Jalan Dakwah, Catatan Harian Seorang Aktivis. Itu judul buku yang kubaca dalam perjalanan ke pabrik untuk survey tadi pagi. Setiap aku bepergian, bisa dipastikan ada minimal satu buku yang menemaniku dan pagi tadi, buku itulah yang terpilih. Entah sudah untuk keberapa kalinya aku membaca buku itu. bahkan jika aku membaca awalnya saja, aku sudah tahu gimana cerita dan akhirnya nanti, saking hafalnya kali ya. tapi aku gak pernah bosan. Itu salah satu buku favoritku.

Kenapa? Karena buku itu berkisah tentang perjalanan dakwah di daerah indonesia timur. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Semangatku berdakwah bisa tercharge salah satunya dengan baca buku ini. Betapa tantangan dakwah di daerah indonesai timur melahirkan karakter-karakter yang kuat dan keras serta tangguh. Medan yang selama ini kugeluti sudah kuangap berat, tapi ternyata ada medan yang ebih berat dan ada ikhwah yang berhasil dakwah disana. Ah, betapa tak ada apa-apanya aku dibandingkan mereka.

Selain itu, buku itu juga banyak menggambarkan keindahan kota ternate yang terletak di Maluku Utara. Keindahannya telah memikat banyak orang, termasuk aku. Padahal aku belum pernah sekalipun menyentuhkan kakiku disana. Ustadz Salim Segaf al-Jufri mengatakan dalam candanya “Jika ada jalan tol dari Jakarta, saya mau tiap hari tabligh akbar disini”, ini karena beliau sangat terpesona dengan indahnya kota ternate dan makan ikan akar di tepi pantai. Ustadz Hidayat Nur Wahid juga sangat terkesan dengan kota ini dan mengatakan kota ternate adalah kota yang romantis. Ust Cahyadi Takariawan, penulis buku tersebut, mengatakan “Jika engkau tidak memiliki jiwa romantis, datanglah ke ternate. Alam akan mengajarimu romantis”. Seorang ustadz ditugaskan DPP selama 2 bulan tabligh di Indonesia Timur. Selama waktu itu beliau berkeliling dari makassar hingga papua, dan hati beliau tertambat di Bumi Kieraha, Ternate. Kieraha itu kalo gak salah artinya empat bukit. Disebut seperti itu karena memang kota Ternate dikelilingi bukit, gunung dan lautan yang indah banget.

Semua kesan itu ditambah dengan cerita serta gambar mas buyung saat berkunjung ke ternate, membuatku semakin ingin ke ternate. Bahkan ke ternate adalah salah satu keinginan (sebenarnya pengen pake kata obsesi, tapi kayaknya berlebihan deh) dalam hidupku. Ke ternate masuk dalam daftar hal-hal yang ingin kulakukan dalam hidupku.
Kadang, kalo keinginan ini kuceritakan ke teman-teman, mereka sering mencandaiku dengan berkata “wah, mo cari ikhwan ternate ya”, ada yang polos aja bilang “cari suami orang sana aja mbak”. No no no, itu tidak termasuk usahaku supaya bisa sampe sana. Itu mah urusannya Allah, aku terima saja. Tidak juga terfikirkan untukku untuk tinggal disana. Kita tidak sedang membicarakan takdir Allah lho ya. Kalo kata Allah aku tinggal disana, ya itu pasti akan jadi kenyataan. Aku sedang bicara tentang hal-hal yang kira-kira menjadi wilayah manusia, yang diinginkan saja terlepas dari kemana garis hidup akan membawa manusia itu. Keinginanku ini bukan untuk tinggal atau seperti candaan anak-anak untuk nyari suami yang asalnya sana, aku hanya ingin menginjakkan kakiku disana. Sebentaaar aja. sehari juga gak apa. Sejam aja deh. Gak ding, 2 atau 3 jam deh. Minimal 1/ 2 hari aja ah, maximalnya berhari-hari. Sekali seumur hidup juga gak apa deh.

Kenapa? Gak tau. Pengen aja. aku hanya igin menuntaskan kerinduanku terhadap kota itu. Kalo bicara soal kota yang ingin dikunjungi, tentu saja yang pertama adalah Mekkah dan Madinah, tapi aku pikir kalo kesana itu semua orang pastilah mau. Semua umat Islam pasti ada kerinduan di hatinya untuk kesana. Aku sedang membicarakan keinginan pribadiku. Aku benar2 ingin ke Ternate. Dan membaca buku itu, paling tidak bisa memperkuat gambaran di kepalaku tentang indahnya Ternate. Ini seperti
I KNEW I LOVED YOU BEFORE I MET YOU.
Someday, i'll be there, InsyaAllah.....

Saturday, April 01, 2006

3 GOOD NEWS

Tiga kebahagiaan kudengar hari ini.

Pertama, finally beberapa dosen perempuan di kampus membentuk halaqoh. Alhamdulillah.

Kedua, salah seorang ikhwan (kalo gak mau disebut bapak), akan menikah 2 minggu lagi. Pasti heran, kenapa juga ikhwan ini nikah jadi berita bahagia? Ya bahagia dong, masak orang lain bahagia kita malah sedih. Oke, ana ngerti kok maksud pertanyaannya. Ini jadi berita bagus untukku karena ana males banget liat ikhwan-ikhwan yang sebenarnya usianya udah cukup banget, banget-banget deh cukupnya tapi gak nikah-nikah. Dan ikhwan yang akan nikah termasuk yang banget-banget cukup umurnya dan tarbiyahnya. Yakin deh dari kalian ada yang bilang “lho, kan belum datang aja jodohnya”. Itu lain lagi perkaranya. Perkaranya adalah mereka tuh pada usaha gak sih? Sementara ana kenal banyak akhwat yang juga banget-banget cukup usianya dan kemantapan serta kesiapannya tapi gak ada yang datang-datang. Sementara yang ikhwan yang banget-banget cukup umurnya juga, masih santai dan menganggap gampanglah. Emang mereka pikir karena mereka tidak ada batas waktu, terus mereka tenang-tenang aja. mikir kalo mereka punya hak milih jadi tenang-tenang aja karena saat sudah mau, tinggal nunjuk. Gak bisa gitu uga kan? Akhwat kan juga punya hak nolak. Padahal akhwat kan punya batasan yang harus dipikirkan. Usia untuk bereproduksi jadi hal yang sensitif. Kalo akhwat yang usia 30-an yang udah rawan banget untuk memiliki keturunan cemas dengan keadaannya, sementara ikhwan yang usia segitu tidak ada masalah, yang kasian kan akhwatnya. Ikhwan usia segitu kalo kita mau bicara tentang memiliki keturunan, kecenderungannya jelas kepada yang masih dalam level aman. Ikhwan yang 20-an apalagi, kecenderungannya juga ke yang usianya sama, mbeda tipis juga gak apa lah. Kalo semua ikhwan kayak gitu, lantas akhwat yang usia dalam ambang yang khawatir seperti itu mo diapakan? Kasihan kan.
Jadi ya, Alhamdulillah aja. Finally ikhwan ini (sekali lagi, kalo gak mau disebut bapak) akan menikah. Kita sudah bisa bilang “akhirnya, menikah juga, Alhamdulillah”. Kepada para ikhwan yang dari semua sisi sudah layak, menikahlah. Jangan biarkan para akhwat yang telah di usia yangsangat cukup dalam kecemasannya menanti lebih lama lagi. Mereka adalah akhwat-akhwat tangguh yang ridho dengan ketentuanNYA. Mereka adalah akhwat-akhwat yang luar biasa dalam perjuangan dakwah. Jadi, segera genggam tangan mereka dan terbanglah bersama dalam angkasa perjuangan da’wah.

Kebahagiaan ketiga ketika sms masuk ke HP ane, dan isinya
“Undangan:Akan mnikah,insya4JJl (RAHMI,ST&ABDUL SAFAR,ST)tgl:9 April 2006 di Jl.A.Mappasiling No 3 Barru.Akad nikah jam 11 rsepsi jam 13~selesai.Mohon doa restu”

Satu lagi sahabat terbaikku akan melangsungkan pernikahan menyusul 3 sahabatku yang lain. Kenangan kami bertujuh yang indah semasa STM dulu terbayang lagi. Dulu, kami adalah siswi-siswi yang masuk kategori gak mau diatur. Tapi akademis tetap kami perhatikan dong. Setelah lulus tahun 2000, phionk yang pertama kali menikah di makassar. Satu tahun yang lalu (awal 2005), endhy yang menikah di Jakarta dan sekarang sudah punya one baby. Akhir tahun kemarin (november 2005), anieq menikah di makassar juga dan sayangku ami akan menyusul minggu depan. Berarti tinggal kami bertiga, ane, mmink, dan baya yang belum.
Ami, that’s what we called her, adalah temen yang menyenangkan. Lembut, gak pernah marah, kayaknya gak bisa banget ngomong keras ataupun sekedar untuk tegas. Cewek banget deh. Lembut dan gak bisa nyakitin hati siapapun. Semua orang di STM menyayanginya. Kesedihannya adalah kesedihan kita. Waktu ia dapat musibah, kami semua ke rumahnya di Barru yang berjarak 5 jam perjalanan dari makassar. Bukan Cuma perwakilan atau orang-orang yang dekat dengan dia aja tapi semua, seangkatan. Kita berangkat dengan 2 bus. Hari itu untuk angkatan kami (waktu itu kelas 3 STM) gak ada pelajaran. Itu tanda bahwa kami semua menyayanginya. Dan saat ini, bunga terindah kami akan dipetik oleh seseorang yang tidak pernah kami kenal sebelumnya dengan izin Allah. Cerita yang aku tahu setelah kami lulus adalah Allah memilihnya menjadi salah satu pejuang tarbiyah di kampus hingga saat ini. By phone, kami berdua sering bertukar pikiran tentang kondisi tarbiyah yang sama-sama sedang kami jalani. Sejak lulus, Kami belum pernah sekalipun bertemu dalam keadaan kami yang berbeda dari masa STM dulu. Tapi ane yakin, ia adalah akhwat yang luar biasa. Dan jika ikhwan itu yang Allah pilihkan untuknya, ikhwan itu pastilah juga luar biasa.
Ami, satu fase dalam hidup akan segera kau jalani. Peran baru dalam hidup[ akan segera kau masuki. Berikanlah yang terbaik untuk peran itu. Maka ami, saat awal amanah dan peran baru itu kau emban, saat sebuah kalimat mengguncangkan arsy diucapkan, di detik itu, doaku mengalun “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khoiri”