Thursday, February 03, 2011

(91) Ranah 3 Warna



Hari ini, buku Ranah 3 Warna tulisan Bang Fuadi, tuntas saya baca.
Saya tak pandai bikin resensi, saya juga tak pandai mengulas. Yang saya tahu, saya tercerahkan. Bahwa keinginan dan semangat yang kuat kadang tak cukup. Perlu ada sabar sebagai pelumasnya. Sabar sebagai kekuatan untuk tetap bertahan. Sabar untuk hal-hal yang tak terduga.

Buku ini juga membuka kembali kecintaan dan kebanggaan sebagai Orang Indonesia. Meski di tengah beragam kejadian yang menyedihkan di negeri ini, saya tetap akan bangga ada disini. Ranah 3 Warna juga mengajarkan sebuah kerja keras, tidak menyerah dan berusaha lebih keras dari biasanya, dari orang lain. Spirit yang sama ketika membaca 5 cm-nya Donny Dirghantoro.

Terimakasih tanpa batas kepada Bang Fuadi yang telah mengalirkan semangat kebaikan, dan energi kesabaran kepada banyak jiwa di Indonesia yang mulai lelah mengejar kehidupan dunia, mempersiapkan kehidupan akhirat.

Wednesday, February 02, 2011

(90) Masih di Losari


Agenda utama di Kota daeng sudah selesai. Saya punya kesempatan jalan-jalan dengan dua adekku tersayang. Pagi pagi sekali ke kost mereka dan mulailah perjalanan. Mulai dari menikmati kembali Lumpia Sulawesi di Jalan Lasinrang hingga berakhir di Pantai Losari mencari pisang epe rasa durian favorit saya. Di Pantai Losari ini, mata kami dihibur dengan senja yang mulai menyapa dan beragam aktivitas muda mudi Makassar. Pas asik duduk-duduk, ada seorang muda datang menghampiri dengan gitarnya dan mulai menghibur kami, menyanyikan lagu yang isinya mengenalkan Kota Makassar.

Setelah menikmati dan memberi sekedarnya, kami jalan-jalan dan setiap melewati pengamen yang sedang beraksi dengan gitarnya menghibur pengunjung, telinga saya menangkap bahwa ada satu lagi yang selalu mereka nyanyikan. Setiap pengamen menyanyikan lagu yang sama. Saya gak hapal liriknya tapi kira kira begini potongannya :

Makassar... kota Anging Mamiri
..............................
..............................

duh, lupa lupa. intinya tentang Makassar gitu deh, plus losarinya. Kenapa ya? Bagus memang, menarik tapi saya cuma ingin tahu kenapa semua pengamen menyanyikan lagu itu dulu? Kesepakatan bersamakah? atau ada peraturan yang mengaturkah? atau apa?

Ada yang tahu?

Tuesday, February 01, 2011

(89) Kopdar bersama Anging Mamiri

Dear bloggerwan dan bloggerwati,

surat ini saya tulis sepulang saya bertemu dengan rekan-rekan blogger dari kota Daeng, Makassar. Sebelum keberangkatan saya ke Kota Daeng, saya sudah mengabarkan lewat blognya Daeng Ipul. Sok penting banget ya saya. Tapi begitulah, kalau ada kesempatan bertemu dengan rekan blogger, kenapa tidak?

Nah, setelah dapat sms kalo kopdarnya itu di IGO Cafe, bertanyalah saya kesana kemari, bagaimana supaya bisa kesana. Ketemuannya jam 7 malam dan baru di jam 7 itulah saya keluar asrama. jam Indonesia, ngareeeeet terus. Sampai di depan IGO, saya masih tebingung bingung, ini anak anak AM mana ya? Ada seorang bapak (atau anak muda? gelap, gak kelihatan) di parkiran yang tiba tiba bilang sama saya "cari anak anak anging mamiri? di atas".

wups, ternyata ini basecamp sampai bapak-bapak itu tau. Mungkin di-sms sama Nanie, turunlah Daeng Ipul menjemput kami. Sampai di atas, sudah berkumpul anak anak AM yang lain. Ada Unga, Tika, Anbhar, Daeng Takdir, Siapa lagi ya? lupa, banyak soalnya. Ada adek kelas juga ternyata. Banyaklah yang diomongkan. Meski yang lebih banyak omong memang tuan rumahnya. Saya sih ketawa ketiwi saja. Apalagi kalo sudah keluar dialek-dialek makasaar dari mereka, pikiranku melayang ke teman-teman jaman STM dulu, biasanya bercanda kayak gini sama mereka dulu.

Dan, entah mengapa, tiba-tiba saja saya teringat dengan komunitas blogger maluku saya. Teringat dengan Om Embong sekeluarga, Almas, Mas Mamung, Om Dharma, Iki, Ello, Lina, Hari dan Nia Cenat Cenut, teringat kisah kisah kopdar kita. Mulai dari Seroja, Sibu-Sibu (non formal), Joas (non formal), baguala beach, kafe pasir putih, KFC urimessing hingga di kantor Om Embong yang dulu, dan yang terakhir di Hilyah. Ditambah lagi pernah bekpeker akhir tahun bersama mereka. Aih, saya kangen mereka semua.

Dan, sepulang dari Makassar ini, kopdaran lagi yuk.

Monday, January 31, 2011

(88) Beta Caca, bukan Mbak

Postingan ini berangkat dari kekagetan sekaligus kesedihan saya atas sesuatu yang sedari dulu meresahkan.
Berawal ketika pada sabtu sore 29 januari 2011, saya bersama si bapak ke studio foto di a.y patty repro pas photo. Begitu masuk, saya hampiri cewek yang berada di balik peralatan kerjanya. Dia menyapa saya duluan. Ramah sih tapi begini dia memanggil saya :

cewek : bagaimana mbak?
saya yg lgsg shock : usi, dong bisa repro pas photo seng? beta foto ni seng tau akang CD dimana lai
cewek : o bisa, mo ukuran brapa?
dst percakapan biasa plus transaksi...

itu kejadian pertama. Kejadian kedua di hari minggu kemarin, saya kembali ditemani si bapak ke travel di daerah Kudamati tempat tiket saya dipesankan. Setelah masuk,seperti ini obrolannya.

saya : abang, mo ambe tiket do atas nama febry
abang : ~mencari di laci meja~ ini tiketnya. ini tiket berangkat. ini tiket balik.
saya : ~melihat lihat tiket~ oke. brapa jadinya?
abang : ~ambil kalkulator, mencet mencet dan menunjukkan angkanya ke saya~
saya : ~sodor duitnya~ makasih e abang
abang : sama sama mbak.

catat itu. sama sama mbak.

Saya lantas teringat saat di studio photo dan bertanya dalam hati, ini saya lagi di Ambon kan? yang saya temui kemarin dan hari ini juga orang Ambon kan? Lalu kenapa bukan panggilan Caca yang dipakai?
Ini bukan soal sukuisme, apalagi tentang fanatik suku berlebihan. Bukan, sama sekali bukan. Ini cuma kegelisahan seorang mungare Ambon yang merasa tergerus oleh hal seperti ini. Jujur, saya terhenti lama setelah kata oleh tadi, tak tau menggambarkan fakta ini dengan istilah apa. Jika ada orang Jawa yang memanggil saya 'mbak' di tanah Ambon, saya merasa 'terjajah'. Apalagi oleh orang Ambon, di tanah Ambon, saya tidak bisa menggambarkan perasaan yang berkecamuk selain kecewa dan sedih.

Teringat seorang rekan kerja di Jakarta sana, dalam setiap rapat, dia cukup memanggil kami dengan nama karena memang usiany lebih tua. Namun kalau dengan satu rekan lagi yang lebih tua dari dia dan berasal dari Maluku Utara, dia panggil dengan sebutan kak. Dan menurut pengakuannya adalah karena dia tidak mau menjajah dengan panggilan 'mbak'. Salam salut saya untuk beliau.

Saya tidak melarang saudara saudara Jawa kita memanggil kita 'mbak'. Tapi kita yang notabene Ambon, hidup dari sagu dan ikan bakar colo colo, jang iko iko lai sodara. Panggel Caca deng Abang jua.

Ini belum menjadi hal yang dominan memang dan itu patut diapresiasi. Di lorong lorong pasar, di atas angkot, di toko toko kecil, di warung warung, masih dan selalu didengar sapaan 'caca' 'abang'. Tapi di sektor sektor seperti travel dan sebangsanya, kadang kadang 'mbak' yang dipakai. Pernah saya melakukan transaksi di travel via telpon, sepanjang pembicaraan, saya terus disapa 'mbak' padahal saya berkali kali manggil lawan bicara saya itu dengan 'caca' ditambah dengan logat Ambon manta manta.

Begitulah catatan kecil saya tentang kegelisahan. Terus terang, telinga dan darah Ambon saya tidak nyaman.

Thursday, January 27, 2011

(84) Jangan Biarkan Nuranimu Mati


Beberapa hari ini status fesbukku rada-rada keras. Beberapa teman sempat sms terkejut dengan status-status itu. sebenarnya itu status biasa. banyak yang lebih keras, cuma mungkin karena saya jarang begitu maka heranlah kawan-kawan saya.

kenapa saya mesti malu tidak lebih hebat dari dia, kalo dia bisa sehebat itu karena mental bobrok. ukuran hebat bukan dari rumah gedongan kayak hotel itu bung. daripada punya rumah sebesar gedong tapi setiap orang yang melewati malah mencibir. dimata saya, dia tak lebih kerikil di telapak sepatu saya (26 januari)

dikau petantang petenteng borju di depanku trus berpikir saya mau salut gitu? salah orang kau bleh, letakmu tetap di bawah telapak sepatuku. gak ngefek jual harta yang hasil rampokan itu. untuk jadi kayak skarang, dikau tidak dengan perjuangan tapi penindasan terhadap hak rakyat. dan apakah saya iri? apakah saya merasa kalah? TIDAK... SAMA SEKALI TIDAK (masih 26 januari)

si rakus beraksi lagi. eling, eling, bukan hak jangan dimakan. kebanyakan makan bisa sakit perut. jadi orang gak usah kemaruk-lah. apalagi bukan punya sendiri. masak sih ndak punya malu? (27 januari)

ini semua terlintas manakala kami melewati sebuah rumah dan salah seorang rekan sibuk ber-ckckckck melihat kemewahan rumah itu. Padahal sudah jadirahasia umum-lah tentang trek rekor si empunya rumah. sampai disini gak ada masalah sih sebenarnya. Nemnun begitu salah seorang rekan bilang "kalah kamu bhy. dia lebih hebat berarti, lebih jago".

Maka saya pun mau muntah. Kalah? Siapa yang kalah? siapa yang lebih? Ngapain saya mesti minder untuk harta panas itu? kenapa saya mesti malu kemana mana naik ojek dibandingkan dia yang terlindungi manis dari debu dan panas hujan di balik mobil mewahnya. Dia yang kalah. Coba tanya dia, dengan mobil mewahnya dia, sudahkah dia ke Dusun Melati nun jauh disana? Tanya dia, sudahkah dia menikmati ikan bakar dipulau Tatunai? Tanya dia, sudahkah dia menangis bersama masyarakat di malam dingin? Tanya dia, sudahkah dia bercanda sambil minum kopi di tepi pantai dengan masyarakat? Tanya dia, sudahkah dia seranjang dengan masyarakat desa yang jauh disana yang tak dikenal? Tanya dia, sudahkah dia tertawa bersama tanpa ada perbedaan strata dengan mereka? Tanya dia, sudahkah dia hampir didemo massa karena mengusung perdamaian? Tanya dia, pernahkah makan bersama para masyarakat sebagai sesama manusia bukan sebagai penjilat? Tanya dia sana.

Saya bangga naik ojek lalu sibuk menyapa dan disapa orang orang. Daripada dia yang naik mobil tetapi tak tahu bahwa setiap dia lewat, semua memicingkan mata mengelengkan kepala dan beristighfar tak ingin serupa dengannya. Duh,saya tak punya iri untuk hal-hal seperti itu. Sombong itu cuma milik Allah. itu selendangnya Allah. Mana bisa kita bawa kemana-mana.

Apa yang menjadi tanggungjawab kita sekarang, itu bukan punya kita, kawan. itu punya rakyat. Milik rakyat itu, gak bisa kita seenak jidat berbuat lalu kita sibuk pula menyengsarakan mereka. Cobalah sesekali berjalan bersama mereka, lihat bahwa apa yang kamu rasakan sekarang, betul-betul ironi dengan apa yang mereka rasakan. Masih bisakah kau tersenyum kawan?

Akuyakin, kau tidak bahagia. Hidupmu tak tenteram. Tidurmu tak nyenyak, makanmu tak enak. Saya, meski sagu dan kacang masih jadi pengganjal perut, tapi tidurku tanpa beban. Saya masih bisa tegak berhadapan dengan masyarakat dan berjabatan tangan tanpa menundukkan muka malu atau mengangkat wajah angkuh. Belum terlambat sebenarnya. Saya tidak pandai bicara undang-undang. Saya pun tak pandai menggunakan ayat-ayat suci. Saya hanya ingin mengetuk nurani. Bahwa senyummu saat ini adalah duka banyak jiwa. Raba hati (kalo masih ada), dan tanyakan padanya, benarkah adanya apa yang kamu jalani sekarang? Tak perlulah mencoba hebat di mata manusia, di mata penguasa, tak perlu. Cukuplah jadi hebat untuk dirimu sendiri, keluargamu, masyarakatmu. Tak perlu berlomba-lomba mewah kalau didapatkan dengan menindas banyak hak orang lain. Tak perlu kawan, jangan.

Pakailah nurani. Pakailah hati. hanya nurani yang bisa selamatkan Indonesia, selamatkan dunia.

nb : gambar hasil pencarian gugel, nemunya di samaggi-phala.or.id

Friday, January 21, 2011

(78) Energi Berpikir Positif

dulu.. dulu waktu jaman STM, ada masa dimana saya benar-benar hidup dalam lingkaran positif thinking. Padahal saat itu hidup lebih berat, tekanannya lebih dahsyat. Banyak hal yang tidak bisa saya terima dengan akal sehat apalagi hati. Konflik batin ada tiap hari dan bom dalam kepala bisa meledak kapan saja. Namun karena saat itu saya memutuskan berpegang pada pikiran positif, semua jadi lebih mudah. Saya tidak gampang marah. rasanya apa yang saya hadapi itu selalu bisa diambil hikmahnya, selalu bisa diterima alasannya, saya jalani dengan mudah.

Semakin kesini, selepas kuliah dan sudah mengenal dunia baru, dunia kerja, dimana saya bertanggungjawab penuh pada diri sendiri, energi positif itu mulai berkurang. Mungkin karena saya menentukan apa apa sendiri, ego lebih keluar. Apa-apa maunya didengar. Juga mungkin disebabkan kedekatan saya dengan Allah melonggar. yah, masa-masa yang suram buat saya. Hati jadi lebih cepat kesal, ada rekan yang "lambat", langsung ngomel, makanan di warung gak pas, langsung protes, macam-macam. seringkali emosi tak terkontrol dan seringkali pula tercengang, seperti tak kenal diri sendiri.

Nah, sampailah di tanggal 1 Januari 2011 lalu, ketika saya dihadapkan pada sebuah masalah hati yang implikasinya buat saya lebih pada perenungan spiritual, lebih pada mengenal lagi siapa saya sekarang, bagaimana keadaan diri saya sekarang. Lalu, saya merindukan momen itu. Momen positif yang pernah begitu lekat. Saya putuskan untuk kembali bersahabat dengan positif, dan hari itu juga, masalah hati pun terselesaikan.

Well, sampai di sepuluh hari terakhir di bulan Januari ini, positif masih menemani saya kemana-mana. Dan luar biasanya, semuanya jadi lebih mudah. Hati jadi lebih ringan, dan enteng terus otak saya. Saya jadi lebih punya semangat dan emosi tidak terbuang percuma untuk hal-hal sederhana. Senyum pun bisa terus saya sanding. Semoga saya bisa menikahi positif ini selamanya.

Guys, be positive.

nb : gambar hasil pencarian mbah gugel, diambil dari tim69.blogspot.com

Thursday, January 20, 2011

(77) Pagar Baru

15 hari tanpa postingan. waktu yang lama sekali. padahal di 15 hari kemarin banyak kejadian banyak hikmah yang harusnya bisa saya bagi..

Mmmm...jadi skarang mau tulis apa ya? hujan terus saja mengguyur tapi alhamdulillah turunnya setelah seluruh pagar ter-cat dgn rapi. tentang pagar, rumah di tempat tugas ini sudah dipagar setelah hampir 4 tahun tinggal disini. dan senangnya adalah pagar ini bisa berdiri dan di-cat karena persahabatan dan persaudaraan saja..

setelah beli material, saya belum punya dana lagi untuk nyari tenaga. tapi disinilah indahnya tinggal di Ambon. laeng lia laeng. dimulai dari basudara dari Luhu yang dinas di piru, mereka butuh 3 sore,sepulang kerja untuk mendirikan pagar keliling setengah rumah.

dan setengahnya lagi diteruskan oleh teman teman nongkrong kakak yang menyebut diri mereka anak anak Mutel (Muka Terminal). Sepulang gereja,sekitar 12an orang datang di hari minggu kemaren dan mulai bekerja dipenuhi canda tawa.

2 hari terakhir ini, saya dan iwan, ojek langganan yang sudah seperti saudara sendiri, memberikan sentuhan akhir dengan cat. untuk itu semua, tak ada dana lebih yang saya keluarkan. cukup bakwan atau pisang moleng, atau es teh kalo panas dan rokok bagi yang request.

baik bener mereka mau capek capek tapi mereka senyum dan tidak menganggap ini pekerjaan. bahkan katanya kalo tau tau pagar jadi tanpa mereka, mereka malu kalo ke rumah nanti. duh,baiknya.

untuk semua bantuan, terimakasih. biar Allah sahaja yang membalas kebaikan kalian. kalian baik, baik sekali..

Wednesday, January 05, 2011

(62) cerah ceria

rabu ceria
dia disana
menyapa dengan renyah tawa
juga senyum selaksa

rabu indah
berbunga bunga
penuh cinta
pada semua memori

rabuku berseri

Tuesday, January 04, 2011

(61) sunyi.

hari ini sepi. di rumah agak sunyi. di kantor tidak ada orang. kantor tetangga juga yang datang bisa diitung dengan satu tangan itupun tidak habis. efek taun barukah? liburnya panjaaaaang dan lamaaaaaa.

padahal kabupaten Seram Bagian Barat, tempat saya berasal dan kini mengabdi mau ulang tahun 3 hari lagi. kok belum ada nuansa nuansanya. biasanya para pejabat atau yang ngebet jadi pejabat suka eksis dengan baliho narsis. tapi kenapa baliho slamat ultah buat kabupaten belum ada? masih aja ucapan natal dan taun baru. naga-naganya memang tidak ada nih.

ya, terserah deh dimana mana sunyi. yang penting hati ini tidak ikut sepi..

Monday, January 03, 2011

(60) Kita dan Pagi

Pagi ini kita jemput bersama. seolah menggambarkan tekad kita yang baru. sinar mentari tersenyum pada kita yang bercanda di bibir pantai sembari melihat ikan ikan berkejaran.

pagi ini adalah harapan baru. pada hati hati kita yang juga baru. menyulam mimpi, merajut masa depan bersama.. kita dan pagi ini adalah satu.

terimakasih atas pagi yang indah ini, Tuhan. semoga aku, dia, dan pagi bahkan senja akan selalu satu

~Samandar, 3 jan 11~

Sunday, January 02, 2011

(59) semoga kau tahu

tahukah kamu
bahwa hari ini aku berganti warna
dari mendung menjadi pelangi

tahukah kamu
bahwa hari ini aku berganti ekspresi
dari murung menjadi senyum

tahukah kamu
hari ini aku kembali hidup
pada tatapan tajam yang baru saja membunuh

kau harus tahu
karena semua karena kau penyebabnya

Saturday, January 01, 2011

(58) ada yang baru

postingan pertama di 2011. hari ini sama seperti hari hari kemarin. tidak ada pesta kembang api, sama seperti tahun tahun kemarin. buat saya, memang tak perlu dirayakan karena memang tak ada yang berbeda. semangat baru, harap baru, keinginan baru, itu harus direvisi tanpa perlu menunggu momen pergantian tahun.

sebenarnya semalam ada rencana berkumpul lagi dengan rekan rekan blogger maluku bakar bakar jagung di kompleksnya mas mamung, bahkan nia sudah siapkan spagheti tapi ujan gak berenti. cuma gerimis sih, tapi cukup menghambat semangat keluar rumah saya. enakan mlingker di atas tempat tidur, ditambah suasana hati yang semalam masih saja sedih. jadilah malam pergantian tahunku ditemani airmata. tapi saya sudah bisa menikmati butir butir hangat ini. membersihkan luka..

hari ini seperti sabtu sabtu yang lalu, wiken di rumah yang hangat ditemani wajah innocent ponakanku naya tersayang. lalu datanglah sebuah harap baru. setitik cahaya mentari yang mengusir sedikit mendung. ya, sedikit saja tapi tak mengapa. selanjutnya adalah doa yang berkepanjangan, doa yang tak putus. semoga takdir yang akan berlaku nanti adalah ketetapan yang akan dengan ikhlas kujalani.

apa yang terjadi di 2010 ada bahagia, ada duka, ada hikmah, ada banyak kisah. banyak bahagianya, dan untuk setiap kejadian apabila ada syukur maka pasti bahagia saja jadinya. ikhlas dan sabar. penting sekali untuk menjalani hidup.

dan jika di taun 2010 ada sukses yang teraih. maka yang terbaik itu ada di masa depan. jadi harus tetap semangat berkarya untuk membuat sekecil apapun perubahan baik pada hidup kita, dan orang orang di sekitar kita.

Friday, December 31, 2010

(57) aku mundur

hari terakhir di 2010.. dan aku masih saja menyeka sisa sisa airmata. masih mengeja irama batin yang sendu, gelap dan terasing.
malam ini adalah malam kesekian aku membangun kekuatanku kembali. mengais remeh remeh semangat. menjajaki senyum yang baru dalam hampa.

duka ini mengikatku sebegitu rupa. menyiksa hingga kosong sudah segala rasa. mendera di ujung hingga pangkal hati. dalam gulita di hutan.

pada titik ini, aku telah menyerah kalah. kupasrahkan apa takdir membimbingku. hatiku kering, terkoyak hingga tak lagi memberi arah.. pada titik ini, aku terjatuh. lesu tak bertenaga dalam kepingan tak berongga. aku menyerah. aku tak lagi sanggup bertahan. aku mundur.

Thursday, December 30, 2010

(56) masih pahit

senda gurau telah usai
pada angkuh diri yang tiba tiba datang
di deretan pahit yang terhampar ramai
dalam jelaga perih terpasung

kau tawarkan sebaris guratan ceria
pada hati yang mulai menyerah
dan guratan itu sempat bahagia
walau akhirnya kalah

bukan pribadi
bukan waktu
hanya keadaan tidak menjadi lebih baik
begini begini saja lalu memburuk

sementara istana pasir yang kubangun dengan tanganku sendiri
belum sempat kubuat bentengnya
air pasang menyapanya
mencumbu dalam sepi

Wednesday, December 29, 2010

(55) catatan senja

ini tentang keruh yang tengah mendiami rongga batin. membuyarkan kenangan yang sempat dijalin sebagai harap. ini pula tentang buram yang sedang menari dalam kertas kehidupan.

pada pucuk pelangi kutitipkan sekantung tangis. agar hilang saat matahari mulai menyapa. kini biarkan aku dalam sendu. pada hujan yang menambah syahdu. dan sepi yang menggelayut di bahu.

pada dinding senja kusampaikan pesan cinta. pada angsa yang tengah mencumbui laut. dengan tatapan cemburu langit yang terus menangis.

pada satu bintang, ada asa yang terkumpul. menunggu untuk hadir. sampai di bumiku...

Tuesday, December 28, 2010

(54) sebelah sayapku terluka

saya ditanya "kenapa eby kayak biasa saja?"

saya jawab "karena memang tak perlu ada resah. ini hanya satu lagi cara Allah menyayangiku"

ya,saat ini aku sedang terluka. hati teriris akan sebuah kenyataan pahit. jangan ditanya tentang air mata. habis sudah. airmata tak mampu lagi melesak keluar. ia masuk, langsung ke titik luka..

tapi aku tak ingin terus menangis. toh tangis ini bukan kesedihan, ini airmata obat yang membasuh perih. lalu kutinggalkan dalam peti kenangan. mimpiku usai. tapi inilah caraku, berhenti mimpi, bangun dan menapak langkah baru meski dengan airmata.

jangan mimpi memiliki mutiara jika tak tahu bagaimana merawatnya. pergilah, kita telah berbeda. namun aku tak meresahkan apapun. takdir Allah sedang bekerja untukku. suatu waktu nanti, aku akan kembali tersenyum bersama takdir Allah yang dikirim untukku, menggenapi dengan sayapnya.

Wednesday, December 22, 2010

(48) Ibu

Di jelang subuh ini, aku merindu seorang wanita yang dari rahimnya aku terlahir. Dari tangannya aku besar. Dan dari senyumnya aku hidup. Seorang wanita yang kini kesehariannya berjarak beberapa mil laut dariku, wanita yang senyumnya baru kujumpai setiap satu atau dua pekan.

Wanita luar biasa yang perkasa. Membesarkan aku dan saudara-saudaraku dengan kepayahan yang amat sangat namun berbalut ketulusan yang lebih dari kepayahan itu. Dengan tangan lembutnya, mengusap dahiku setiap saat, mengecup pipiku setiap bepergian, membanjiri hidupku dengan doa panjang di setiap sujudnya bahkan sesekali bersama linangan air mata saat kulukai.

Ya, aku masih saja tak bisa membalas dengan tepat apa yang sudah Ibu berikan padaku. Terkadang masih ada sungut kalau beliau menyuruh ini itu atau malas ketika harus mengulang ngulang bicara sesuatu. Tapi ibu tetap lembut, ia tetap memaafkan tanpa aku meminta maaf. Ah, ibuku memang berjiwa malaikat.

Ibu, di rantau ini, anakmu merindumu. Seperti rindu seorang petani akan hujan, nelayan akan ikan, seperti rindu seorang pecinta. Ibu, anakmu ini masih butuh pelukan hangatmu yang menenteramkan. Butuh sekali doamu atas hari dan hati yang sedang terluka. Ibu, aku mencintaimu, hingga hati ini berlubang. Maafkan aku bu, atas banyak kesalahan dan rasa sakit yang kutimbulkan. Tetaplah tersenyum di tengah dukamu, bu. Karena senyummu adalah kekuatan kami, anak-anakmu.

Ibu, kehebatanmu mengangkasa dalam langit hidupku. Senyummu meliputi seluruh udara di hidupku. Love you, mom.

Tuesday, December 21, 2010

(47) Yang Tak Akan Pernah Menyakiti

Pagi-pagi, berharap bisa memulai dengan senyuman tapi semua di luar dugaan. Hariku dimulai dengan begitu berat. Air yang pagi pagi sudah menggantung di bola mata, sebisa mungkin kutahan agar tak mengeluarkan isak. Memang terkadang banyak hal yang berjalan tak sesuai dengan harap kita. Tapi siapa yang bisa disalahkan? Memang manusia tempatnya kecewa, tempatnya sakit kan? Satu satunya yang tidak akan pernah mengecewakan kita memang cuma Allah sahaja, hanya Allah saja.

Langkah kakiku berat memulai hari, namun ketika menatap sajadah yang baru saja kucium subuh tadi, aku kembali teringat bahwa tak ada yang perlu kusedihkan dan cemaskan. Karena memang begitulah adanya. Hanya ketika harapan kita gantungkan pada Allah, kita akan bahagia. Jadi, kalau sekarang ada seorang hambaNya yang menyakitiku, sepertinya tidak ada yang perlu dikagetkan.

Airmata dan sesak ini lantas kuserahkan pada Sang Kekasih Sejati. Tanpa sadar, kaki ini tertuntun ke sudut tempat tidur. Aku duduk disana dan menengadah,

"Rabb, Engkau Maha Pencinta. Segala yang terjadi padaku, sesakit apapun itu pada awalnya, adalah salah satu bentuk cintaMU. Kuterima Rabb, dengan hatiku yang sedang tertatih tatih belajar mencintaiMU'

Selepas dialog pagi itu, udara sekitar serasa lega kembali. Aku pun mengumpulkan kepingan semangat yang berantakan, kugenggam dan kualiri dalam darah. Aktivitas hari ini kujalani dengan lapang, begitu mudah dilewati. Hingga tiba waktu dhuhur, aku dikejutkan oleh adzan yang terdengar jelas di telinga. Mengagetkan, mengingat selama ini adzan hanya samar terdengar karena jarak kantor dan masjid cukup jauh. Adzan itu seperti khusus ditujukan untuk memanggilku kembali merendahkan diri di hadapan Kekasihku.

Telah kuserahkan semuanya pada Kekasihku, yang tak akan pernah mengecewakanku, tak akan pernah menyakitiku, tak akan pernah menjauh dariku meski taku terkadang menjauh dariNya. Duka ini kawan, aku tahu akan berlalu. Bersama Kekasihku, semua akan baik baik saja. Aku akan sembuh dari setiap luka dan nanah.

"Rabb, aku kembali lagi. Dengan segudang keluh kesah dan sebungkus rasa perih. Aku bawa ke hadapanMU Rabb, untuk Kau sembuhkan karena Engkaulah tempatku bergantung menyerahkan hidup matiku. Ini aku, Rabb, hambaMU yang penuh khilaf, hambaMU yang bandel, yang perlu Engkau jewer di dunia, di dunia saja Rabb, jangan Engkau tangguhkan di akhirat karena sungguh, aku tak kan sanggup. Rabb, ini aku, menunduk dan malu di depanMU. Aku yang sedang belajar mencintaiMU dengan seluruh cinta yang Engkau titipkan di dadaku. Bantu aku Rabb, yang sedang terbata mengeja cinta suci tak tertandingi milikMU"

Monday, December 20, 2010

(46) subuh ini

di luar sana ada ramai kicau burung
dan dari balik jendela kunikmati semilir angin pagi
ayam pun tak mau kalah
ambil bagian dalam harmoni pagi

subuh ini indah
seindah pelangi yang muncul setelah hujan
menawarkan sebait ketenangan
serta sekotak harapan

tentang harapan,
telah kugantungkan pada Yang Memiliki Hidup
di atas panjang sajadah
dalam balutan putih penghancur keangkuhan

yang membuat kita sempurna
ia bernama cinta
dan cinta sejati itu
ia bernama Allah

Sunday, December 19, 2010

(45) zam zam

happy weekend temans...

3 hari lalu,tepatnya kamis 16 desember 2010, saya sekali lagi mengunjungi desa Waesala untuk mendampingi satu kegiatan masyarakat disana. Jelang berakhirnya agenda kami, seorang abang, anak dari Raja Waesala mendatangi saya dan menyampaikan pesan dari abi (sapaan akrab bapa Raja Waesala) yang meminta saya mampir di istana alias rumahnya sebelum kembali ke piru.

Beberapa menit kemudian,saya ke rumah beliau dan ternyata saya diberi oleh oleh dari perjalanan haji beliau berupa sebotol zam zam dan kurma ajwaa, kurma dari kebun sang kekasih, Rasulullah SAW. Beliau ngasih zam zam sambil bilang gini : by,zam zam itu temannya doa (ngomong pake bahasa arab,entah hadits atau apa, saya tidak tahu pasti) artinya zam zam itu mengikuti keinginan peminumnya. jadi sebelum minum tu, eby angka hati bae bae minta apa yang eby mau.

Nah,gara gara pesan itu,saya sampai sekarang belum berani minum zam zam pemberian abi. Saya masih belum berani meminta apa yang benar benar saya inginkan dalam hidup. Saya insyaAllah siap menerima takdir, tapi Allah juga suka kalau kita meminta dan saya benar benar ingin doa yang saya panjatkan sebelum meminum zam zam adalah doa yang benar benar istimewa. Dan pada suatu saat, jika hati ini telah tahu, biarlah hati ini yang menggerakkanku untuk menikmati zam zam itu.

Kalau temans mau minta doa istimewa apa?
Salah satu yang saya inginkan adalah suatu hari nanti saya dapat mengambil zam zam langsung dengan tangan saya sendiri. InsyaAllah...

Friday, December 17, 2010

(43) Mengeja Syukur di Dusun Melati

I am back setelah hiatus 12 hari lamanya. Hiatus ini karena tugas yang harus saya jalankan di daerah yang tidak bersinyal. Ini sedikit ceritanya.
Sabtu, 11 Desember 2010 lalu, saya dan rekan-rekan kantor bertugas di desa Waesala kecamatan Waesala Kabupaten Seram Bagian Barat. Tepatnya pada hari itu, kami mengunjungi dusun Melati, satu diantara 12 dusun yang dimiliki Desa Waesala. Perjalanan dari kota kabupaten, Piru, menuju Desa Waesala sekitar 2 jam atau sekitar 40 km. Perjalanan kali ini boleh dibilang baik-baik saja karena kondisi jalan yang sudah jauh lebih baik. Jalan yang masih sedikit berbatu dan berlubang namun sudah bisa dikatakan baik mengingat di tahun-tahun sebelumnya, jalanan menuju Waesala begitu sulit dilewati apalagi dalam kondisi hujan atau pasca hujan seperti yang pernah saya dan rekan-rekan lain alami disini dan disini.

Sayangnya, baterai kamera digital kosong. Pemotretan perjalanan pun hanya bisa diabadikan melalui kamera telpon genggam dan di kesempatan lain akan di-ekspose gambar-gambar di dusun Melati. Benwit di piru belum memungkinkan mengupload banyak foto.

Sampai di Desa Waesala, Bang Jumra, salah satu fasilitator di Waesala sudah menunggu kami dan mengabari bahwa speedboat yang akan membawa kami ke Dusun Melati sudah siap. Tanpa menaruh barang bawaan di wisma, kami langsung menuju pantai. Perjalanan dari Desa Waesala menuju dusun Melati dengan transportasi laut memakan waktu hampir setengah jam. Sebenarnya bisa lewat darat tapi harus dengan berjalan kaki sekitar 50 menit dan jangan bayangkan jalan yang mudah dilalui. Bagi yang tidak biasa, mungkin harus menyediakan banyak stok tekad baja karena menurut cerita, melewati hutan mendaki dan ada satu tempat yang terputus daratan jadi harus melewati selat atau teluk atau rawa (saya tak tahu namanya), yang tinggi air sampai di atas pinggang. Well, tentu saya tak ingin memilih jalan itu jika masih ada alternative lain.
Setelah menikmati pemandangan yang maha indah, sampailah kami di dusun Melati. Dari kejauhan, sudah terlihat bang Ruslan, satu lagi fasilitator kami, bersama dengan bapak Husen, Sekretaris Dusun Melati yang sudah menunggu di bibir pantai.

FYI, Dusun Melati ini berusia 47 tahun. Dinamakan Dusun Melati karena dulu kala, banyak bunga melati di daerah ini. Seperti yang dituturkan Pak Husen, Sekdus Melati, awalnya di tahun 1963 ada 5 orang atau 5 KK yang mendiami pulau ini dan setelah 47 tahun berlalu, kini ada sekitar 150 KK dengan 1050 jumlah jiwa. Yang unik dari dusun ini adalah semua penduduknya berpakaian muslim rapi dan nilai islamnya sangat kental. Yang lelaki dengan tampilan janggut, dan itu hampir seluruh lelaki di Dusun ini berjanggut dan mengenakan peci serta sarung atau celana di atas mata kaki. Wanitanya, berbaju panjang dengan jilbab panjang rapi, hampir semua, bahkan anak-anak usia SD atau SMP pun,bermain di teras rumah dengan menutup aurat. Indah sekali dan sejuk dilihat.

Pun pada saat setelah makan siang, adzan dhuhur terdengar dari mesjid dusun, sontak balai dusun tempat berlangsungnya Pra Musrenbang kosong melompong. Bukan hanya balai dusun, jalanan pun mendadak terlihat sunyi. Ndilalah, seluruh penduduk dusun menuju masjid memenuhi panggilan adzan itu. Bang Jumra sempat bilang pada saya, “by, disini kalo dhuhur, suasananya seperti sholat jumat di desa lain”. Subhanallah… Pulang dari sholat, saya kembali berbincang dengan Pak Husen, menanyakan kondisi ini apakah sudah sejak awal atau baru di tahun berapa, atas kejadian apa sehingga suasananya seperti ini. Kata Pak Husen, sejak tahun 1963 itu, kondisi dusun Melati ini memang sudah islami. Tidak ada musik musik yang mengganggu telinga, jangan ditanya soal mabuk-mabukan atau perkelahian pemuda. Pak Husen juga bercerita, pernah suatu ketika, ada kunjungan Gubernur Prov Maluku, K. A. Ralahalu ke dusun Melati, belum lama dari kedatangan beliau, adzan maghrib berkumandang. Maka semua penduduk pun meninggalkan rombongan provinsi untuk sementara waktu menuju Masjid. Ah, tak bisa saya bayangkan kejadian yang sama di desa lain, bisakah seperti itu? Luar biasa. Salut, saya benar benar salut.

Namun kesalutan saya lalu berubah menjadi diam berkepanjangan ketika pertanyaan saya tentang listrik dijawab Pak Husen dengan jawaban “tak ada listrik disini”. 47 tahun mereka hidup tanpa listrik. Setrika pakai bara. Kalaupun ada beberapa rumah yang lampunya nyala, itu karena memakai genset. Saya tak kuasa berkata. Mengingat bahwa ketika lampu mati sebentar saja di rumah, saya sudah tidak nyaman dan merutuk PLN. Lah, mereka yang 47 tahun tanpa listrik, bagaimanakah hari-hari yang mereka lalui?
Perjalanan ke dusun Melati adalah perjalanan tentang syukur, syukur dan syukur. Betapa ternyata ketidakpuasan saya pada banyak hal di sekitar adalah berlebihan karena di dusun Melati ini, ada 1050 jiwa yang bersabar dengan kondisi mereka, dengan hidup yang mereka jalani dan bahagia dengannya. Ada 1050 jiwa yang akses informasi tidak ada, akses transportasi terbatas, akses komunikasi apalagi. Ah, dan saya hanya satu orang, mengapa tak pandai bersyukur?

Sunday, December 05, 2010

(31) Dosa Paling Tua

Seperti biasa, minggu saya tanpa melewatkan tayangan U2 bareng uje dan udin. Dakwahnya bersemangat, santai tapi selalu menjewer. Bikin saya selalu mengucapkan Subhanallah atas indahnya Islam, Alhamdulillah atas semua nikmat dan Astaghfirullah atas segala dosa.

Tayangan hari ini menyisakan satu kalimat yang memaksa otak dan hati ngobrol. Kata Uje tadi, dosa paling pertama, paling tua, adalah sombong. Penyakit hati itu merasa. Merasa paling pintar, paling kaya, paling baik, paling bijak. Tak disadari bahwa saat kita sedang merasa itulah, dosa paling tua masuk ke hati.

Saya tertampar. Masih saja menyimpan bibit bibit dosa itu. Padahal, siapa saya? Apa yang patut saya sombongkan? Betapa iman ini masih jauh dari sempurna. Betapa hari hari saya ada saja tambahan dosanya. Lalu mengapa masih merasa paling?

Kuedarkan ingatan ke banyak orang di sekitar saya. Ada banyak yang lebih. Mereka lebih baik, lebih sabar, lebih pintar, lebih pemurah, lebih penolong, lebih lapang dada, lebih dan lebih....

Banyak yang harus saya perbaiki, tata hati jelang Muharram ini.

Saturday, December 04, 2010

(30) aku dan malam

Bisikkan aku satu kata
Tentang rasa yang memborgol diri
Juga kecemasan di dinding hati
Agar aku tahu cara membebaskan

Pada setiap bulirnya
Ada nyawamu disana
Menukik tajam pada selipan benak
Meruntuhkan ego batin

Jika begitu dalam dirasa
Tak ada niat yang jelas tercetak
Semoga masih ada sempat

Thursday, December 02, 2010

(28) Memori kawan Aceh.

Hello world…
Lama saya menghilang di blog ini. Baru beberapa hari sih, tapi karena project 365 day blog, beberapa hari kosong ini terasa lama. Menghilang ini bukan tanpa alasan. Menjadi panitia pelatihan Fasilitator Musrenbang Desa selama 3 hari ini benar benar menguras tenaga tapi juga menyisakan kenangan yang sangat manis, manis sekali menjelang masa masa terakhir saya di lahan manfaat ini.

3 hari ini saya disibukkan mulai dari persiapan mengundang peserta, mengatur penginapan peserta juga fasilitator dan mengatur jadwal penjemputan driver kantor yang harus bolak balik ke Waipirit demi menjemput para fasilitator dari kota kembang. Satu hari sebelum kegiatan, sebelum peserta dari 6 Desa di Kabupaten Seram Bagian Barat datang, saya menemani 5 peserta dari Aceh yang memang sudah hadir dua hari sebelum acara. Kami mengunjungi Dusun Kotania dan Dusun Wael. Dusun Kotania yang berjarak 20 km dari kota Piru adalah salah satu dusun penghasil minyak Kayu Putih. Rombongan kami menuju salah satu ketel minyak kayu putih dan berdiskusi dengan pemilik ketel dan membandingkan dengan proses penyulingan minyak NIlam di Aceh sana. Perjalanan dilanjutkan ke Dusun Wael yang berjarak sekitar 3 km dari Dusun Kotania, disana kami belajar tentang rumput laut. Ternyata di Aceh sana, rumput laut atau yang mereka sebut bunga laut tidak dibudidayakan. Tumbuh di batu karang begitu saja dan tidak diolah.

Sepanjang perjalanan mulai dari berangkat hingga pulang,, kesan bersahabat begitu akrab melekat bersama orang-orang dari Sabang itu. Mereka sangat hangat dan bersahaja. Tak ada kesan sebagai tamu, menyatu dan melebur.
Begitupun saat bertemu dengan 20 peserta dari SBB yang telah hadir. Tidak ada jarak antara peserta dengan peserta, juga dengan kami. Banyak kesan yang muncul dari para peserta dan semua adalah kesan manis. 3 hari penutupan ditutup dengan menyanyikan lagu Gandong bersama-sama sambil berpegangan tangan dan banyak airmata disana. Ah, Indonesiaku kaya sekali, Ambonku manis sekali.

Ketika memastikan semua peserta telah pulang ke desa masing-masing, saya mengantar rombongan Aceh ke Waimital. Awalnya biasa, ada masalah kecil dengan penginapan disana, tapi sungguh, mereka adalah pemuda-pemuda Aceh yang berjiwa besar. Namun setelah memastikan mereka telah mendapatkan penginapan, saya pun kembali ke Piru. Dalam perjalanan pulang itulah, hati rasanya kosong. 5 hari bersama mereka membuat mereka begitu saja tercetak di hatiku. Indah sekali persahabatan yang dimulai dengan singkat ini, semoga selamanya.

Pak Ubay, Kak Lina, Bang Masrul, Bang Nasrul, dan Susi, terimakasih telah sudi mengunjungi kami di Seram Bagian Barat. Terimakasih telah menularkan semangat untuk terus belajar dan terus bersama masyarakat.
Buat semua peserta fasilitator, terimakasih telah bersama kami selama 3 hari ini. Mari bersama bergandengan tangan mendampingi masyarakat. Mari kita contohkan kepada pihak-pihak yang seharusnya berdiri bersama masyarakat, kita contohkan bagaimana sebenarnya, bagaimana seharusnya berdiri bersama mesyarakat itu, menggandeng tangan masyarakat itu yang seperti apa. Kita tunjukkan bahwa kata-kata manis tak pernah membawa hasil sampai kata kata itu menjadi tindakan positif.

Love you all. Salut untuk kita semua

ps. saat catatan ini dibuat, baru saja dikabarai bahwa mereka sudah berkeliling Ambon berfoto di depan kantor Gubernur, membeli oleh oleh khas Ambon dan saat ini bersiap menaiki burung besi yang akan membawa mereka pulang

Saturday, November 27, 2010

(23) kawan baru

beberapa hari ini saya bertemu dengan 5 kawan dari kabupaten Aceh Selatan. Saat saya berkumpul dengan kawan kawan Ambon dan mereka ada di sekitar, raut mereka bingung dengan bahasa kami juga kecepatan kami dalam bicara..

Sampai tadi,ketika saya menemani mereka berlima makan malam, saya yang terkagum kagum dengan bahasa mereka. Serasa ada di ujung Indonesia sana..

Orang Aceh itu sopan, ceria, lucu dan mereka tidak canggung dengan kami,orang timur ini. cepat sekali mereka melebur dan bahkan menitikkan air mata ketika menyanyikan lagu Gandong bersama kami..

Senang bertemu kalian,5 kawan baruku, 5 saudara baruku..

Friday, November 26, 2010

(22) tentang rasa

sudahlah...
terima saja.
sebuah takdir sedang terjadi
bukan sekali ini kan?

melepas dan dilepas adalah niscaya
dan jika harus terjadi sekarang
lantas kenapa?
terima saja.

ikhlaskan saja
yang lebih baik akan hadir
pada saatnya
pada masanya
ayuk, ceria yuk...

Thursday, November 25, 2010

(21) Melepas Dari Hati

Memiliki sesuatu dalam waktu yang lama mungkin adalah sebuah hal yang menyenangkan. Tapi jika sesuatu itu pada akhirnya ternyata mendatangkan hal hal yang tidak menyenangkan, kenapa mesti enggan melepas?

Orang kudu belajar kan?
Saya juga belajar lho. Bahwa gak baik ternyata jika terlalu merasa memiliki sesuatu. Karena pada kenyataannya kita tidak pernah memiliki apa apa kan di dunia ini.

Jadi intinya, saya harus melepas sesuatu yang selama ini saya pikir punya saya. Tapi buat saya tidak terlalu berat, kenapa? Karena saya yakin dengan penuh yakin seyakin yakinnya bahwa Allah akan mengganti dengan lebih baik.

Monday, November 22, 2010

(18) Tetangga Resehhh....

Kok ada ya tetangga rese~nya naudzubillah min dzalik. Muka tembok bener. Seenaknya aje datang mandi di kamar mandi orang gak pake basa basi dulu. Malah lewat depan yang punya rumah kayak liat patung gak pake permisi dulu. Udah gitu meninggalkan sampah di area kamar mandi, gak ngajarin anaknya yang buang bungkusan cemilan ke dalam sumur. Sudah gitu pulangnya bawa kayu kayu sisa pagar kita tanpa minta euy.. Busyet dah punya tetangga kayak begini.

Amit amit dah. Bukannya kikir aer, ngapaen juga air disimpan simpan. Tapi sikapmu ketika di rumah orang gimana? Tidak beretika..

Sungguh, saya kasihan sama 3 anaknya yang hidup di lingkungan keluarga yang tidak punya etika. Pasti tidak dapat pelajaran etika nanti. Besarnya nanti mau jalani hidup seperti apa?

Sunday, November 21, 2010

(17) menjadi bermanfaat

kembali membaca 5 cm-nya Donny Dirgantoro..

dan kembali hatiku menggigil.

semoga tidak terlambat untuk saya mencoba menjadi bermanfaat bagi siapapun. membuat orang bernafas lebih lega karena keberadaanku disitu

Saturday, November 20, 2010

(16) Rekonsiliasi

Need to know...that you will always be
Same old someone that i knew


~penggalan Just The Way You Are - Billy Joel~

Friday, November 19, 2010

(15) Episode Sumiati

Episode Sumiati digelar. Rasa rasanya kita sudah terlalu sering dengar hal seperti ini. Kenapa selalu berulang ya? Gak di Malay, di Arab, semua sama saja. Tapi kita lagi korbannya. Perlu berapa Sumiati supaya kita bisa belajar. Apakah manajemen atau kontrol penyalur yang perlu diperbaiki? atau komunikasi KBRI KBRI disana dgn pemerintah setempat intens? Atau selain bekal ketrampilan yg harus dimiliki, TKI juga dibekali bela diri biar bisa smek don balik majikannya..

Apa sajalah. Yang jelas harus ada yang diperbuat karena Sumiati bukan pertama dan yakin bukan yang terakhir.
Ternyata Indonesiaku masih dijajah...

Saya juga TKI, tenaga kerja asal Indonesia. Alhamdulillah saya gak perlu sampai ke Malay atau Arab sana.

Thursday, November 18, 2010

(14) Sejenak

Baru sebentar singgah
Jejak yang ditinggal terlalu dalam
Mungkinkah sembuh?
Saat tak ingin sembuh?

Berlari dalam keasingan
Dan senja mengabarkan satu rasa
Tanpa menunggu hadir bintang
Penat telah hadir tanpa permisi

Tak apa,
Terbanglah,
Ukir harimu sendiri.
Aku pun sedang mengukir punyaku

Wednesday, November 17, 2010

(13) 10 Dzulhijjah

Lebaran itu selalu menyejukkan. Menyentil ketaatan kita. Lihat pagi ini, kaum muslim berbondong bondong dengan rapi, wajah yang bersih berseri, pakaian terbaik (bukan terbaru) menuju rumah Allah.

Sesampai di masjid, shaf disusun dengan indah. Tak peduli ketua RT atau Kepala Dinas atau Abang becak atau Manajer atau Pemulung, semua sejajar. Tunduk menghamba Sang Pencipta.

Lalu kambing dan sapi itu. Di hari biasa, betapa menjengkelkannya menghirup udara tidak sedap dari hewan hewan itu. Nae nae otak, kata orang Ambon. Tapi di Idul Adha ini, tak ada keluh kesah berdampingan dengan hewan hewan persembahan. Betapa keikhlasan telah menundukkan rasa tak enak. Indah, indah sekali rasanya.

Allah, jika hari ini, di 10 dzulhijjah ini, saya masih menghadapmu di masjid terdekat dari rumah, ijinkan hamba, suatu saat nanti, bisa menghadapMU di ka'bahMU, di 10 dzulhijjah yang lain..

Selamat ber-ied Adha, teman. Semoga meneguhkan pengorbanan pada Rabb Tercinta, dengan keikhlasan sempurna.

Tuesday, November 16, 2010

(12) Ikhtiar Berhaji; Ramadhan ke tujuh 2003




Allah, saya tidak tahu kapan akan bersimpuh di depan RumahMu, saya hanya tahu, hari ini saya melangkah ke Bank untuk menabung…maka jika sudah cukup waktu untuk mencerap liku-liku itu, ijinkan saya membasuh wajah yang gelap ini dengan zam-zamMu. Berkatilah saya… (Dhuha, sesaat sebelum ke BNI)

Lama saya melantunkan permintaan untuk ke haji. Lama saya mengamalkan bacaan surah Al-Hajj. Saya juga membaca bermacam buku tentang perjalanan haji. Tetapi terus terang saya sama sekali belum memulai menabung sepeser pun untuk ke sana.
Tiap kali saya membaca surah Hajj, dan beberapa surah tentang haji, mata saya berkaca-kaca. Saya menyimak perintah haji dan ritualnya langsung dari sumbernya. Hati saya berdegup kencang manakala bacaan saya sampai pada ayat yang menceritakan perjalanan Sitti Hajar, ibunda Nabi Ismail, antara shafa dan Marwa. Kelak ayat inilah yang menjadi bacaan wajib ketika kaki mulai menapaki perbukitan shafa dan marwa, begitu saya baca dari buku petunjuk Haji.

Di tengah ketidakpastian kecukupan dana, sungguh mati perjuangan Ibunda Sitti Hajar bolak balik antara shafa dan marwa membayang di mata saya. Ooo…perjuangan yang saya lakukan, pengharapan yang saya panjatkan, sesungguhnya belum apa-apa dibandingkan kerasnya perjuangan yang dihadapi oleh Ibunda Sitti Hajar.
Membayangkan perempuan yang baru beberapa bulan melahirkan bayi laki-laki, harus berlarian dari satu bukit ke bukit lain di tengah kesendirian untuk mencari air bagi anaknya. Membayangkan perempuan hitam yang tengah kepanasan, yang harus menekuk perasaan ditinggal sendirian di padang tandus…Tak ada keterangan terperinci pada Qur’an bagaimana suasana hatinya. Tetapi sebagai perempuan, apakah saya tidak dapat sedikitpun merasakan penderitaan itu? Ooo..adakah kesulitan yang menyamainya? Bahagia melahirkan bayi sehat, tetapi sekaligus juga harus menelan kenyataan ditinggalkan oleh suami untuk berupaya survive..adakah kesakitan pasca melahirkan dihapuskan Allah untuknya? Ataukah sakit itu tetap terasa sambil berlari mencari sumber kehidupan?

Melihat ke diri, membanding apa yang dilakukan oleh ibunda Sitti Hajar, ahai…adakah celah dalam diri untuk berputus asa? Saya menjadi tak berani membanding kesukaran yang saya hadapi dengan apa yang pernah dialami oleh perempuan yang dari rahim mulianya terlahir Nabi Ismail. Inilah bagian yang menyemangati saya untuk terus berharap dan berusaha mencukupi diri dengan bekal materi dan non materi untuk tiba di rumahNya.

Dalam pengharapan itu, saya bertemu dengan seorang guru Taman Kanak-Kanak. Beliau baru pulang dari menjalankan Haji. “Saya menabung selama dua puluh tahun dik”. Biar mi* lantai rumah hanya semen biasa, tetapi saya ingin letakkan wajah saya di Keramik Mesjid Haram” saya menyimak ceritanya di satu pagi saat kami hendak melakukan pertemuan rutin pengurus ‘Aisyiyah Makassar. “Jadi guru TK ‘Aisyiyah itu berapa gajinya? Adik tentunya tahu..” timpalnya pada saya. “tetapi saya tetap tabah saja. Saya tetap menabung, biar sepuluh ribu” wah..saya mulai membanding penghasilnnya dengan penghasilan saya selaku dosen.

Perbedaan penghasilan yang Allah berikan pada saya dengannya berlipat lipat kali. Memang dalam hitungan penghasilan saya berlebih dari Bu Guru TK ‘Aisyiyah. Tetapi dalam hal kegigihan menganyam niat ke tanah suci..saya jauh..jauh sekali di bawahnya. Dua puluh tahun bukan hal yang singkat untuk meneguhkan sebuah niat. Mungkin niat itu telah mengeras menjadi batu.
Kiranya cukup sudah pergolakan batin saya. Ada Guru TK ‘Aisyiyah yang tabah menabung. Ada perjalanan Sitti Hajar yang sangat gigih dan tabah. Ada dorongan Haji Udin Wally, kakak sepengajian saya di Ambon, untuk segera menabung “Tugas Ida menabung, bukan barekeng** cukup atau tar*** cukup. Itu urusan Allah. Nanti Antua yang kasi cukup akang****” begitu nasihatnya untuk saya. Juga amalan-amalan yang saya lakukan, semuanya bercampur menjadi satu. Saya menggigit geraham kuat-kuat. Adakah keraguan saya untuk melangkahkan kaki menabung haji?

Maka, ketika saya terseleksi menjadi Fasilitator Panwas Pusat untuk melakukan pelatihan bagi anggota Panwas di tingkat propinsi, kesempatan itu muncul dengan entengnya. Karena saya terseleksi, saya harus mengikuti penataran fasilitator di Jakarta selama seminggu. Saya diberi uang saku sebanyak Rp.1.250.000. Saya bertekad untuk menggunakan sepenuhnyan uang ini untuk membuka tabungan haji. Saya sama sekali tidak membuka amplopnya. Utuh.

Usai penataran, pagi itu, di atas sajadah saya memegang amplop berkop Panwas Pusat Jakarta dengan gemetar. Saya memeluk amplop itu kuat-kuat. Saya meletakkannya di dada saya. Menunduk dalam-dalam, di atas sajadah..”Allah, beta pung modal cuma ini*****”. Saya bergumam. “beta tar tau apa tempo bisa sampai ke RumahMu, tetapi sioo.. ini beta pung ikhtiar******”.

Saya mengangkat tangan ke atas, memandang langit-langit kamar..betapa ingin saya menembus langit-langit itu. Betapa ingin saya melihat gemawan yang putih, betapa rindu saya pada jejak Nabi. Amplop itu masih ada dalam dekapan saya. Dalam sujud yang sederhana, saya mengangkat permohonan dengan segala rasa dan asa..saya membenamkan segala keinginan di situ...lalu bergulirlah harapan dari mulut saya.. “Allah, saya tidak tahu kapan akan bersimpuh di depan RumahMu, saya hanya tahu, hari ini saya melangkah ke Bank untuk menabung…maka jika sudah cukup waktu untuk mencerap liku-liku itu, ijinkan saya membasuh wajah yang gelap ini dengan zam-zamMu. Berkatilah saya…terima kasih Allah atas perasaan ini”

Usai sudah dhuha di ramadhan ke tujuh. Ketika saya mengisi form aplikasi tabungan haji, petugas bank menanyakan kapan mau ke haji. Saya hanya tersenyum. Saya menggeleng kepala padanya. Saya tidak tahu kapan saya bisa ke sana. Saya hanya tahu kalau hari ini saya melengkapi ikhtiar itu.
Form itu tidak rumit, tetapi saya mengisinya dengan lantunan doa dan shalawat. Saya tidak mau kehilangan sedikitpun moment ini. Saya harus selalu terjaga ketika tangan saya mengisi form tabungan haji. Lalu ketika saya harus mengisi nama lengkap dengan nama Aba, ayah saya...duh.. ada yang menggetarkan hati saya. Aba, ayah dan juga guru ngaji saya, yang berangkat ke haji tiga hari setelah saya lahir, nanti tidak sempat melihat saya berangkat ke haji jika masa itu tiba. Meskipun Aba telah berpulang ke rahmatullah jauh melewati saya, hari ini saya masih menggunakan namanya untuk melengkapi nama saya, Faidah Binti Agil Azuz. Duh..entah kapan nama Aba ikut tertulis di koper haji..

Catatan kata-kata :
*Biar mi (logat Makassar) = biarlah
**barekeng (bhs Ambon) = berhitung
***tar (bhs Ambon ) = tidak
****akang = itu
*****Allah, beta pung modal cuma ini (bhs`Ambon) = Allah, modal saya cuma ini.
******beta tar tau apa tempo bisa sampai ke RumahMu, tetapi sioo.. ini beta pung ikhtiar (bhs Ambon) = saya tidak tahu kapan bisa tiba di rumahMU, tetapi duhai.. inilah isktiar saya.

---------------------------------------------------------------------------------

Satu lagi tulisan dari Ca Ida Sialana. Kisah tentangnya berhaji juga sudah pernah kutuangkan di sini.

Kawan, membaca catatan hatinya kali ini sungguhlah membuat diri ini bersimpuh malu. Tulisan ini saya terima di email pada dini hari. Sungguh tahajjud malam itu begitu beda. Banjir akan sebuah pengharapan dan rasa malu kepada Rabb bahwa diri ini hanya meminta tanpa berusaha. Tanpa satu langkah kecil, tanpa ikhtiar apapun.

Jiwa ini lemah di hadapan Rabb, jiwa ini begitu tergugu dengan panggilanNya. Hanya bulir air yang membasahi pipi tertunduk malu, tertunduk penuh nista di hadapan Pencipta. Lalu diri ini berkaca, bagaimana mungkin Allah akan memanggilku ke rumahNya jika aku masih sering menunda panggilan adzanNya. Bagaimana mungkin Allah memanggilku ke rumahNya jika berlama lama di sajadah pun ku tak mampu. Bagaimana mungkin aku dipanggil melantunkan banyak doa langsung di rumahNya jika surat cinta dariNya jarang kubuka. Bagaimana mungkin aku dipanggil ke rumahNya jika aku tak mulai mengumpulkan duit sesen demi sesen untuk kesana. Bagaimana mungkin aku berharap kesana tanpa satu pun ikhtiar. Dan aku pun tergugu...

gambar dari hasil googling, diambil dari sini

Monday, November 15, 2010

(11) Panggil Kami

Rumah itu, Tuhan
Sudikah kau panggil aku kesana?
RumahMu, Rabb
Bolehkah aku kunjungi?

Di bening hari
Dalam remang senja
Pada pekat malam
RumahMu indah

Panggil kami, Allah
Jamu kami
Di rumahMu
RumahMu

Sunday, November 14, 2010

(10) kamu

ini tentang....



kamu.
ya, kamu
yang bikin sesuatu rumit jadi mudah
tapi di saat yang lain
hal mudah jadi ribet

ini tentangmu
yang selalu tersenyum saat aku marah
yang tenang saat aku meledak
yang marah saat aku mulai tak biasa

tahukah kau?
kalau di doaku
selalu ada namamu
nama kita

banyak doa berkejaran di langit
untuk harapan harapan kita
kelak atas izinNYA
nama kita akan bersanding

dalam bahagia..

Saturday, November 13, 2010

(9) pusing

lembur semalam dan kerja all day long menyisakan sakit kepala kini..

tapi daripada postingan hari ini kosong. maka saya tuliskan hal gak penting ini.

maafkan, tak bisa berlama lama. saya harus, saya perlu istirahat

Friday, November 12, 2010

(8) 6 tahun 6 hari

Iseng mengobyak abyik blog tercinta ini, ternyata postingan pertama saya tertanggal 6 november 2004. Dan sekarang 12 November 2010. Waah, berarti rumah ini sudah 6 tahun 6 hari.

Banyak sudah yang tertulis. Membaca tulisan tulisan lama seperti melemparkan diri ke masa silam. Seperti melihat saya yang dulu. Kalau ada waktu lebih banyak, saya ingin obyak lebih jauh, siapa yang nyampah pertama disini. Mencari tahu kemana sahabat sahabat blog yang lama. Dan mengurai kisah kisah inspirasi lama.

Saya jabat tangan sendiri, Selamat 6 tahun 6 hari. Terimakasih telah membersamai saya, membiarkan saya menulis banyak hal gak penting disini. Terimakasih jadi tempat berteduh, ngomel gak jelas.

Semoga ke depan bisa bersama dengan lebih menebar manfaat

Thursday, November 11, 2010

(7) Sebuah Catatan

Saya suka hari ini. Meski capek tapi begitu sarat hikmah. Bertemu dengan dua orang biasa yang melakukan hal hal luar biasa.

1. Dalam kesempatan apapun, tetaplah menolong orang
2. Permudah orang yang berurusan dengan kita
3. Jangan pernah tinggalkan shalat
4. Menunda waktu saja celaka, apalagi meninggalkan
5. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? hitunglah yang ada pada dirimu
6. Allah tidak pernah menuntut balas atas apa yang telah Ia berikan, kenapa begitu sulit kita bersyukur?
7. Jika tak shalat, berarti tidak meminta pertolongan pada Allah. Lalu minta tolong sama siapa? iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin
8. Berikan tempat pada musafir
9. Kalau Allah belum mengabulkan doa, jangan putus asa. Allah suka kita terus meminta
10. Masih banyak lagi..

Nasehat dari mereka tembus ke hati saya. Karena saya tau mereka tak sekedar bicara tapi mereka melakukan apa yang mereka bagi kepada saya. Dan saya mendapati mereka berdua sebagai pribadi yang tenang dan selalu bahagia..

Ah, saya tertampar. Tentang menunda nunda waktu sholat, tentang terburu buru dalam berdoa. Saya tertampar banyak. Terutama karena baru saja saya mengecewakan beberapa rekan KPM Desa Waimital yang mengundang saya untuk berdiskusi. Mereka sudah mengkonfirmasi kehadiran saya sejak kemarin siang hingga tadi siang. Qadarullah, setengah jam sebelum agenda, saya dengan berat hati dan penyesalan mendalam serta rasa bersalah yang besar harus membatalkan rencana kehadiran karena sebab yang tak bisa dihindari.

Semoga saya tidak dicap mempersulit keadaan, tidak dianggap ingkar. Saya hanya berharap kekecewaan itu tidak ada di hati mereka, dan kalaupun ada, semoga tidak menjadi penghalang rahmat Allah pada saya. Mereka membalas sms saya dengan sebuah kalimat yang menyejukkan "gak apa apa mbak. untuk itulah ada kata InsyaAllah. Mungkin belum rezeki kami. Semoga bisa ketemu di lain kesempatan". Ya, semoga dimudahkan di lain kesempatan,insyaAllah.

eh, saya belum isya. pamit mundur temans.

Wednesday, November 10, 2010

(6) jebol satu hari

jebol sudah 365 hari blog. satu hari kemarin saya tak sempat memposting apapun. bukan hal yang disengaja, hari ini si bos berangkat ikut meeting di ibukota RI jadi saya harus mempersiapkan bahans yang akan beliau bawa sekaligus mengirimkannya ke rekans yang ada di jekate sana.

semua baru kelar di jam 6 sore lalu dilanjutkan dengan pengajian pegawai hingga jam 8. disambung ini itu, saya baru bisa memeluk bantal di 11 malam. sebenarnya jemari nan lentik ~haiyah~ ini sudah siap melenggang ke dasbor tapi apa daya, mata tak sanggup lagi terbuka. maka tangan pun memilih tidur..

jebol sudah 365 saya.

hari ini agendanya ngedit buku. dan hingga jam saya posting, br sampai di halaman 97 dari 255 halaman. ditemani gemuruh genset dan ributnya mesin potong rumput di luar sana, telingaku sudah sakit sedari tadi..

okelah, saya lanjutkan dulu ngeditnya temans.

salam hangat sehangat secangkir kopi yang menemani.

Monday, November 08, 2010

(4) Tanya : dimanakah cinta, setia?

Dua kisah yang membuat hatiku banjir hari ini. Banjir akan kisah wanita yang di dholimi juga wanita yang kebablasan.

Kisah 1 : si wanita menggugat cerai suaminya setelah 8 tahun pernikahan. apa pasal? Karena ternyata sang suami telah menikah 5 bulan yang lalu tanpa memberi tahu sang istri. Alasan sang suami adalah tak ada keturunan hingga saat ini.. haruskah begitu? haruskah? tak adakah cara yang lebih elegan? yang lebih berperasaan?

Kisah 2 : seorang lelaki yang sudah memiliki 5 anak selingkuh dengan perempuan yang sudah memiliki 2 anak. Ketahuan dan akhirnya suami si perempuan sedang menempuh jalur hukum untuk hal ini.

Saya jadi bertanya, kalo karena tidak ada keturunan, rumah tangga bisa berantakan, kenapa rumah tangga yang banyak anak juga ada yang berantakan?

Cinta yang dulu dimiliki mana? Janji di depan Tuhan yang dulu diucapkan mana? Kenapa tidak bisa bertahan dengan satu cinta? Kenapa

Semoga saya, anda, tidak memiliki kisah kisah seperti di atas.

Sunday, November 07, 2010

(3) Bait Merapi

cerita kita memang telah usang
tapi tak mampu menahanku melempar sebaris doa
di antara debu debu itu
semoga kau tetap terjaga
dalam sabar
dalam ikhlas

baik baiklah disana
sungguh tak tau lagi apa kata
baik baiklah disana
baik baiklah disana

Saturday, November 06, 2010

(2) Biasa Aja dong...

Baru saja iseng (iseng kok tiap sabtu?) nonton film korea yang judulnya mmmm.. apa ya?
Lupa judulnya karena saya juga bukan penonton setia.
Pada episode yang kutonton tadi, ceritanya seorang anak presiden yang berhubungan dengan seorang polisi. Si polisi itu tidak tau bahwa kekasihnya itu ternyata putri dari presiden. Bahkan teman-teman kantor si gadis pun tak tau bahwa rekan mereka ini putri Presiden. Memang tak ada pengawalan khusus, dan dari beberapa dialog, baru ngeh kalo memang ceritanya masyarakat sendiri gak tahu kalo presiden punya seorang putri.

Di suatu perhelatan, ada satu agenda yang harus dihadiri oleh ibu negara. Berhubung negara itu tidak memiliki ibu negara (jangan tanya mengapa), maka negara itu diwakili oleh putri presiden. Barulah masyarakat ngeh baru Presiden memiliki putri yang selama ini tidak tahu rupanya.

Alkisah, si gadis gelisah karena ini berarti ia harus tampil di depan publik sebagai seorang putri. Pada pagi hari sebelum malam perhelatan itu, putri dan kekasihnya yang polisi itu lari pagi. Wajah putri yang murung, mengundang tanya dari si Polisi.
Putri pun berkata, "Bagaimana jika ternyata saya adalah anak dari orang yang status sosialnya tinggi, tinggi sekali. Bagaimana kalau ternyata saya ini anak Preseden? bagaimana perasaanmu?".
Lalu kekasihnya tertawa dan menganggap itu sebagai lelucon, "ayahmu mau mencalonkan diri jadi presiden? jadi Walikota saja dulu". Sebelum ada pembicaraan lebih lanjut, si polisi mendapat panggilan kembali ke kantor.

Sesampainya di kantor, polisi tersebut mendapat tugas ikut dalam tim seperti secret service di acara nanti malam, karena putri Presiden akan hadir sehingga harus memastikan keamanannya. Singkat cerita, di malam itulah, ketika putri Presiden tampil di atas panggung, si polisi terkejut karena yang di atas sana adalah kekasihnya.

Well, kenapa saya angkat ini?
Karena ini mengingatkanku pada satu peristiwa kira-kira dua tahun lalu. walaupun itu hanya fiksi, tapi tak ada salahnya jika saya bandingkan dengan keadan yang saya lihat.
Hari itu, saya dan adik dalam perjalanan entah kemana (lupa), mendekati daerah Abdulalie, terdengar raungan mobil yang seakan meminta (menghindari kata memaksa) pemakai jalan yang lain untuk menepi. Terlihat dua mobil mewah beriringan dengan "angkuhya" dan mendadak berhenti di depan rumah makan dedes. Saya bilang berhenti, bukan memarkir. Ya, dua mobil itu berhenti tepat di tengah jalan hanya untuk menurunkan rombongan yang mau makan di Rumah Makan Ikan bakar cukup terkenal di Kota Ambon ini. Bisik-bisik tetangga, ternyata itu adalah rombongan anak para petinggi yang mau santap siang.

Hufftt... membuat macet yang cukup panjang dan dalam waktu 10 menit, itu bukan hal biasa. Entahlah, apa karena status sosialnya yang tinggi lantas boleh bersikap seperti itu?

Heran, dan miris hati ini. Sama mirisnya dengan pandangan mata saya ketika meelusuri jalanan kota Ambon kemarin sore. Tampak pihak keamanan berjaga di banyak titik dengan jarak titik hanya sekitar 100 m. Untuk apakah? ada apakah? Cek dan ricek, karena orang pusat sedang mengunjungi Maluku. Bah, kenapa mereka datang, rakyat dijaga? Emang rakyat mau ngapain? Yang milih beliau juga rakyat kan? Kenapa keamanan beliau harus dijaga segitu rupa dari rakyat? Rakyat gak akan ngapa-ngapain kok pak. Percaya deh...

Friday, November 05, 2010

(1) tentang lara

Jelang 15 menit menutup hari pertama dr 365 day blog project. Mencoba posting sedari awal malam namun jaringan tak cukup bersahabat

Sebenarnya ingin posting tentang hal lain disini, ada tentang senangnya kopdar blogger maluku tadi, atau supir mobil yang saya tumpangi, atau angkot butut yang saya naiki. Tapi semua mendadak terpendam oleh lara melihat tayangan peristiwa merapi yang kembali beraktivitas..

Tak cukup kata mampu saya rangkai.. Meminta mereka bersabar dan ikhlas adalah tidak mudah karena saya pun belum tentu bisa sabar dan ikhlas jika di posisi demikian. Hanya bisa menatap kosong wajah wajah yang dipenuhi debu

Tak ada kata terucap. Semoga bisa terlalui.. Saya benar benar speechless

365 day blog project

5 november. resolusi bulan november saya adalah satu postingan satu harinya.http://www.blogger.com/img/blank.gif Sudah 4 hari berlalu dan alhamdulillah semangat posting masih terjaga.

Dan dari blogwalking sana sini, saya nemu blog mas deddy yang konsisten dengan project 365 day blog. Merasa tertantang, maka saya putuskan untuk nyemplung project ini juga.

Aturan yang saya pakai adalah one day one posting. tidak ada hutang, tidak ada deposit dalam kondisi normal. Sama dgn aturan main mas deddy. Namun, saya buat kelonggaran bahwa Hutang dan deposit boleh saya lakukan hanya jika ada hari dimana saya harus ke daerah yang tidak bersinyal. Mengingat bulan november desember ini, Saya juga punya project kantor yang mengharuskan saya turun lapangan ke beberapa desa no signal.

hari ini hari pertama, dan postingan ini belum termasuk 365 day blog project. selamat bergabung... ~jabattangansendiri~

Thursday, November 04, 2010

Seroja Part 2 yang Tertunda

Pasca PB 2010, blogger Maluku pun “iri” dengan perkembangan komunitas blogger di daerah lain. Salah satu maskot blogger maluku yang berjudul Almas berkesempatan mengikuti PB 2010 dan pulang dengan membawa cerita yang cukup bikin yang lainnya “jealous”. Mumpung semangat baru saja dipanasi, kami berencana berkumpul, bukan sekedar kopdar tapi seius bahas konsep blogger maluku yang kalo kata band Armada “mau dibawa kemana hubungan kita”. *dikeplak*.

FYI, pertemuan pertama blogger Maluku di tanggal 4 April 2009 di Kafe Seroja. Setelahnya berlanjut dengan banyak kali kopdar formal dan non formal. Lantas inilah saatnya Seroja Part 2, meski bukan di Kafe Seroja tapi dengan semangat yang dulu pernah berkobar di Seroja.

Then, lewat inbox fb, kami pun sepakat bertemu di hari Rabu tanggal 3 November kemarin. pukul 3 sore di Kota Ambon. Mengingat saya yang sedang terdampar di kota Piru yang berjarak 4 jam perjalanan, entah berapa mil laut itu, sudah menyiapkan diri sedari malam untuk mengikuti. Ijin kantor cuma setengah hari sudah kukantongi, ijin tidak mengikuti satu kegiatan di sore hari juga sudah didapat.

Jelang pukul 11, belum bisa meninggalkan kantor karena satu dan lain hal. Setelah menyelesaikan beberapa hal hari itu, berangkatlah kami, saya dan iwan (kerabat yang setia mengantar kemanapun saya pergi), dengan mengendarai sepeda motor menuju Waipirit. Saat itu, sudah pukul setengah dua belas siang. Jika tak ada kendala dalam perjalanan maka saya bisa sampai jam setengah satu dan menumpangi feri Waipirit-Liang jam 1 siang.

Baru saja meninggalkan Kota Piru, kami disambut hujan rintik, kecil, genit. Sisa sisa hujan lebat masih terlihat di jalanan yang basah. Bersyukur kami tidak berangkat jam 11 tadi, karena itu berarti akan kehujanan. Sembari menikmati rintik itu, kami berkelakar bahwa Tuhan juga tahu orang baik yang mau lewat, jadi hujan sudah selesai. Bukan maksud untuk takabbur atau apa, hanya sekedar menyenangkan hati dan berpositive thinking dalam perjalanan.

Hujan yang menggoda tapi tidak mengganggu ini menemani sepanjang setengah perjalanan. Mendekati desa Waisarissa, kami disambut hujan yang lebat yang memaksa kami harus berteduh di halte. Sayangnya, gunung yang sedang kami lewati ini tidak menyisakan tempat yang tepat untuk berteduh. Karena tak ada jas hujan, dan juga tak ada tempat berteduh, sementara halte masih 15 menit lagi perjalanan, mau tidak mau kami harus siap basah. Sesampai di halte, sudah banyak para pengendara sepeda motor yang juga berteduh. Dua puluh menit saya harus menunggu dengan gelisah sambil sesekali melirik jam yang justru bikin stress.

Hujan mereda sedikit, sedikit saja. Saya “memaksa” Iwan yang tanpa jas hujan, juga tanpa jaket, untuk melanjutkan perjalanan. Kembali berteman hujan, kami meneruskan perjalanan hingga Waipirit. Tapi begitulah, saya tidak ditakdirkan bertemu feri. Feri baru muncul pukul setengah dua. Dan biasanya, feri akan tambat di pelabuhan satu jam setengah untuk menurunkan penumpang serta menaikkan penumpang plus kendaraan-kendaraan.

Tiket feri sudah di tangan, namun hitungannya, kalau saya memaksakan diri berangkat, maka saya baru bisa bertemu dengan rekan-rekan blogger jam ½ 6. Dua setengah jam dari jadwal. Hmmm……. Setelah sms dan tlp, dengan sedikit merengek pada om Almas, saya meminta pertemuan diundur lagi. Meski sebenarnya bisa aja sih jalan tanpa saya. And, beberapa menit kemudian, telpon genggamku berdering dengan nama Almas di layarnya. Ia mengabarkan bahwa setelah kontak yang lain, agenda kopdar serius ini mundur 2 hari lagi alias Jumat. Uhuy senangnya, mereka memang menyayangiku *tsah…*

Saya pun kembali ke Piru dengan kembali basah. Hari kemarin judulnya adalah Mandi Hujan dengan rute Piru-Waipirit-Piru.

Terimakasih kepada Om Embong, Om Mamung, Pakde Dharma, Bang Almas dan Bung Semmy yang bersedia mengubah jadwal pertemuannya. Persohiblogan emang top, euy.

Sampai ketemu hari Jumat, dan mengutip kata Caca Ida Azuz “Mari katong bakaringat par ator negeri dan diri ini bae-bae supaya ada guna sadiki”

Catatan :

  1. Jangan kemana-mana tanpa membawa jas hujan (bagi pengendara sepeda motor)
  2. Saat posting ini ditulis, sempat terhenti karena bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa, menginspirasi dengan tindakan nyata bagi ummat. Wanita yang mampu tertawa saat sedih. Suatu waktu, insyaAllah saya akan menulis tentang wanita hebat ini.

Wednesday, November 03, 2010

Allah, ini beta

Apa yang akan teman-teman baca ini adalah salah satu tulisan indah dari saudara saya, kakak saya, inspirasi saya, Faidah Azuz Sialana. Ia yang sering saya sapa dengan ca ida, pagi pagi sudah membuat saya terharu dengan tulisan ini. Ada yang mengalir di dinding hati lalu dengan pertanyaan "kapankah saya dipanggil?". Dan jawaban juga saya temui bahwa saya akan dipanggil ke Baitullah, hanya jika saya memantaskan diri untuk dipanggil. Tulisan ini pernah dimuat di Harian Ambon Ekspress di Tahun 2009, sengaja kami, saya dan ca Ida, mengangkatnya kembali untuk berbagi. Buat saya, tulisan ini ada pendidikan, ada renungan, ada inspirasi, komplit seperti nasi goreng, ada telur, ada ayam eh ada dendeng juga. Mantap pokoknya. Selamat menikmati sajian kami.




Allah, Ini Beta…
Oleh: Faidah Azuz Sialana

“Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang**” dan banyak sekali warning yang diberikan pada saya ketika hendak berangkat ke tanah suci beberapa waktu yang lalu. Agaknya pikiran saya mulai terpengaruh. Membuat saya menganggap orang hitam sebagai musuh yang harus saya lawan. Pikiran saya mulai menyusun strategi bagaimana menghadapi orang hitam itu. Lengkap dengan beberapa kata penolakan dalam bahasa Arab dan Inggris yang saya hafal baik-baik dari tanah air. Pokoknya saya harus fight.

Lalu tibalah saya di Madinah. Menjelang pintu masjid Nabawi untuk shalat Ashar pertama saya telah menyiapkan diri kalau-kalau bertemu dengan orang hitam. Bagaimana sikap saya, apa yang harus saya ucapkan, pokoknya saya harus mempertahankan kapling sajadah, kalau perlu sampai titik darah penghabisan dengan semangat empat lima. Demikian tekad saya.
Semakin mendekati pintu pagar masjid Nabawi, saya semakin gugup. Saya terjebak dalam pilihan prioritas antara mengucap shalawat untuk Nabi, terheran-heran menyaksikan hamparan halaman mesjid Nabawi yang sesak, dan menyiapkan strategi menghadapi orang hitam. Semua membuat kacau konsentrasi saya.

Mata saya kemudian tertumbuk pada sekelompok jama’ah dari Ethopia-Afrika. Masya Allah, mereka benar-benar hitam dan berpostur besar. Beberapa di antara mereka melambaikan tangan ke arah Masjid Nabawi sambil berlinang air mata. Beberapa memegang dada sambil menunduk dalam-dalam sambil menggigit ujung kerudung lebarnya yang berwarna-warni. Beberapa berdiri diam sambil menggigit bibir menahan tangis yang mau meluap. Tidak ada ekspresi sangar, tidak ada gerakan hendak menyerobot tempat, apalagi mau menginjak orang lain di sekitar. Mereka dalam formasi teratur sedang mengirimkan rindu lewat shalawat yang juga sampai di telinga saya. Rupanya mereka beberapa saat lagi akan meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Mereka, seperti saya, melakukan haji Tamattu’

Saya terpaku menyaksikan gerombolan ini. Segalam macam warning yang dibawa dari tanah air melayang jauh meninggalkan diri saya. Dalam kejap yang sedetik itu, pikiran saya berlari ke buku “Makna Haji” yang ditulis oleh Ali Syariati. Buku ini memang saya baca beberapa tahun sebelum berangkat ke tanah suci, bahkan saya membawanya ketika berhaji. Buku ini bukan buku fiqhi, buku ini menjelaskan makna filosofi ibadah haji. Disamping itu saya menaruh hormat pada Syariati karena mumpuni dalam ilmunya, betapa dia adalah seorang sosiolog Iran lulusan Sorbonne University, Perancis.

Ketika menjelaskan tentang Ka’bah (hal 41-53; 2002), Syariati menohok saya dengan pertanyaan “Hanya beginikah? Inikah pusat keyakinan, shalat, cinta, dan kematian?. Penjelasan tersebut berlanjut bahwa pada tiang ka’bah yang ketiga, terletak kuburan Hajar, ibunda Nabi Ismail. Di pangkuan Hajarlah Nabi Ismail di besarkan. Di bekas telapak kaki Hajarlah kita melalukan salah satu ritual wajib antara Shafa dan Marwa untuk bersa’i.
Dari buku Makna Haji saya kemudian lebih memahami keberadaan Hajar, seorang budak yang dari rahimnya lahir Nabi Ismail. Hajar ternyata adalah budak milik Sarah dari Ethopia, Hajar adalah perempuan hitam yang Allah muliakan dengan menempatkan kuburannya menyatu dengan Ka’bah (Hijir Ismalil). Thawaf kita menjadi batal jika kita tidak mengelilinginya juga. Thawaf kita menjadi tak berarti jika kita memotong jalan melewati lorong Hijir Islamil. Hajar adalah perempuan yang melahirkan Ismail yang darinya turun Nabi Muhammad. Hajar melambangkan transformasi peradaban. Hajar bermetamorfosa menjadi hijrah, sebuah momentum penting dalam perkembangan peradaban Islam.

Pikiran saya kembali menelisik beberapa literatur yang telah saya baca menjelang keberangkatan ke tanah suci, buku ini juga saya bawa ke haji. Salah satunya adalah Adversity Spiritual Quetient for Hajj yang ditulis oleh C.Ramli Bihar Anwar dan Haidar Bagir (2004). ASQ For Hajj mengajak saya memahami bahwa Tuhan tidak main-main dengan hukumNya. Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan ciptaanNya, termasuk aturan yang telah disyariatkan. Buku ini membuka mata saya tentang urutan rukun Islam. Padahal sejak kecil, sejak duduk di Sekolah Muhammadiyah jalan Permi saya telah tahu bahwa Haji adalah rukun Islam yang ke lima. Pemahaman saya tentang makna urutan tersebut menjadi benderang dari buku ASQ for Hajj ini.
Diterangkan kemudian, untuk sampai ke tanah suci jangan pernah berharap banyak jikalau kita belum menegakkan secara benar-benar empat rukun lainnya. Tidak usahlah berangan-angan ke haji, jika syahadat kita masih belum utuh, jika kita masih saja mensyarikatkan Tuhan Allah. Buanglah impian menjadi Haji atau Hajjah jikalau puasa kita masih sekedar menahan lapar dan haus, kalau kita masih meledak jika marah, kalau kita masih suka memanipulasi membuat pencitraan diri. Pupuskan cita-cita ke baitNya, jika kita masih bingung menghitung zakat.
Rupanya, Haji merupakan pendakian terakhir dari rukun Islam. Dalam ibadah Haji, semua rukun yang empat menyatu. Dalam perjalanan haji, bukankah kita senantiasa rindu shalat di mesjid Nabawi dan Haram? Bagaimana mungkin kita berhaji sementara shalat kita masih bolong-bolong?

Memang, menjalankan ibadah haji, tidak ada kewajiban puasa sebagaimana kewajiban shalat. Tetapi larangan yang berlaku di bulan puasa, terasa sekali ketika kita sedang ihram. Di bulan puasa, kita dilarang melakukan hubungan biologis di waktu siang hari, tetapi ketika kita berihram larangan ini berlaku bahkan malampun kita dilarang melakukannya. Puasa pada initinya membuat kita mampu menahan diri, menekuk ego, dan menahan diri terberat adalah saat ihram. Semoga Ihram jugalah diri saya kelak.
Zakat yang saya lakukan selama ini, tampaknya perlu diredefinisi lagi. Saya memahami zakat sebagai ungkapan kedermawanan, sebagai upaya meringankan beban orang lain. Tetapi ternyata, zakat tidak sekedar itu. Zakat adalah kesediaan untuk taat, kesediaan untuk tidak kikir. Terlebih lagi, zakat adalah kehawatiran ketika orang lain enggan menerima apa yang kita sampaikan. Dengan demikian zakat adalah bentuk pengikisan kesombongan diri.
Buku ASQ for Hajj meninggalkan penjelasan yang mengesankan bagi saya ketika penulisnya mendemonstrasikan kata yang dipakai untuk perintah haji. Qur’an menggunakan kata Aqimash Shalat (dirikan shalat), Atuz Zakat (tunaikan/bayarkan zakat), Kutiba ‘alaikumush Shiyam (diwajibkan kepada kalian berpuasa), maka khusus untuk haji Qur’an menggunakan Walillahi ‘alannaasi Hijjul Baita (Hanya karena Allah diwajibkan atas manusia mngerjakan haji).

Ustadz Quraish Shihab menjelaskan bahwa meskipun semua syarat sah ibadah adalah hanya karena Allah, namun yang tersurat dengan jelas adalah perintah haji. Inilah isyarat Qur’an bahwa haji adalah watak yang perlu kita kejar. Tanpa tendensi apa-apa. Saya memaknai perintah haji melalui Walillahi ‘alannaasi hijjul baita.. sebagai peringatan keras dari Allah untuk tidak berpongah setelah pulang melaksanakan ibadah haji. Agaknya Allah tahu bahwa manusia kerap menggunakan label haji-nya untuk menepuk dada, untuk menunjukkan derajat sosial, bahkan kerap sebagai atribut untuk merebut hati masyarakat ketika pemilu tiba. Haji kerap diseret memasuki ranah ekonomi dan juga politik. Peringatan ini hanyalah agar kita sampai pada titik mampu memaknai kata mabrur. Semogalah saya mabrur adanya.

Bacaan dari dua buku itu kemudian mengantarkan saya duduk menunggu Ashar di halaman mesjid Nabawi. Saya hanya kebagian tempat di halaman, karena Nabawi telah penuh. Ketika mata saya kembali memandang rombongan jamaah Ethopia-Afrika yang hitam legam dari jauh, pikiran saya kembali menyusun argumen. Hajar adalah budak hitam dari Ethopia, tidak berbeda dengan mereka ini. Dari rahim Hajarlah lahir Nabi Ismail, yang kemudian menurunkan Nabi Muhammad yang sangat saya rindukan dan kalau boleh saya junjung di atas kepala.
Mungkin hitamnya Hajar persis dengan hitamnya orang-orang ini. Mungkin ketidakrelaan saya berbagi tempat dengan mereka lantaran saya merasa lebih baik dan lebih layak dari mereka. Di manakah pemaknaan zakat saya? Padahal, tidak tertutup kemungkinan perjuangan mereka untuk sampai di Nabawi jauh lebih berat dari saya. Mungkin shalawat yang mereka sampaikan jauh lebih banyak dan lebih ikhlas dari saya. Ohoi..di mana saya letakkan muka untuk merasa hebat? Bagaimana mungkin saya menganggap remeh mereka ini?

Maka, sambil memegang dada, saya mengangkat wajah lurus-lurus ke depan, ke arah kiblat. Saya berbisik, “Allah, ampong (ampuni) beta jua yang beberapa waktu lalu pandang enteng (meremehkan) orang hitam, padahal justru dari rahim seperti itulah lahir Nabi Ismail leluhur Nabi Muhammad yang beta cinta dan beta junjung tinggi-tinggi. Ilahi.. tolong beta karja haji supaya akang seng salah***), Rabbi....ini beta, perempuan dari negeri yang tengah berkonflik…

sebuah catatan harian
1. beta = saya (bahasa Ambon)
2. Ingatang, orang itang (jama’a haji Afrika) tu suka injak katong pung tampa testa, dong suka sarobot tampa sonder parmisi, dong tar tau atorang = Ingat, orang hitam itu sukanya nginjak tempat sujud (sajadah) kita, suka serobot tanpa ijin, mereka nggak tau adat”
3. Karja haji= melaksanakan semua rukun haji.
4. Seng = tidak

Madinah, 28 Desember 2004.

Faidah Azuz Sialana = Alumnus Faperta UNPATTI Ambon. Saat ini sedang sekolah pada program S3 Jurusan Sosiologi UGM Yogyakarta.

Catatan :
Tulisan ini pernah dimuat di AMEKS tahun 2009.

Tuesday, November 02, 2010

Hari ini, Setahun Kemarin

Hari ke-dua november. Well, ini sebenarnya hari yang bersejarah dalam setahun ini. Hari ini di setahun kemarin, adalah hari mengawali semua yang perlu kuukir dalam perjalanan panjang hidup.
Menjalani proses yang dimulai, apapun itu, ada beragam konsekuensi yang harus kita hadapi. Seperti kalimat yang pernah saya baca, bahwa ketika kita mengambil sebuah keputusan, saat itu kita telah menikahi konsekuensinya.

Begitupun saya, setahun lalu, ketika sebuah keputusan saya ambil dengan sadar, maka saat itu pula, ada konsekuensi yang harus saya tanggung. Konsekuensi yang kadang-kadang harus berdamai dengan banyak hal, berdamai dengan pikiran dan hati yang terkadang tak sejalan. Tapi, begitulah adanya.

Lantas apa yang membuat saya bertahan? dia bernama keyakinan. Satu keyakinan yang membuncah hebat di dada bahwa ini yang saya inginkan, ini yang terasa tepat untuk saya jalani. Tak mulus memang. Tapi apakah ada yang mulus di dunia ini? tidak ada, sungguh tidak ada. Keyakinan yang membuat saya bertahan dalam menjalani sebuah keputusan penting untuk pada masanya, ada keputusan maha penting yang harus saya ambil.

Hari-hari ini adalah hari untuk terus meneguhkan langkah, untuk terus memperbaiki apa yang harus diperbaiki, agar pada saatnya nanti, ketika sebuah langkah harus saya ambil lagi, saya akan dengan tersenyum mengambil langkah itu.

Monday, November 01, 2010

hari baru di awal minggu, awal bulan

tanggal 1. bulan 11.
Adakah yang istimewa? secara khusus tidak ada. tapi di hari baru ini ada satu janji yang saya buat yaitu satu postingan tiap hari. minimal di bulan november ini, target 30 postingan bisa terealisasi..

oke, ini postingan pertama saya. malam sudah mendekap namun belum tahu ingin menulis apa. hari ini diawali dengan cerita perjalanan mengawal sebuah PERDA.

Banyak yang terungkap. tak mungkin cerita disini.. yang pasti, ada sebuah kesimpulan bahwa agak sulit berhubungan dengan para wakil rakyat yang lebih memposisikan diri sebagai wakil partai. belum lagi ketika integritas mulai diragukan.

malam makin dingin, tapi saya tetap menghangatkan harapan bahwa apa yang kini sedang diupayakan bersama atas nama rakyat dapat tuntas dengan baik.

piru,malam,dingin, 0111'10

Tuesday, October 26, 2010

Tulisan Entah

hampa..
kosong..
gersang..
sudahlah...

pergilah,
demi hati yang kau jaga
demi jiwa yang kau rindu
demi mimpi yang kau bangun

bahagialah

Sunday, October 24, 2010

Galau

galauku adalah bentangan resah yang kian menajam.
pada bayang yang tak jua menjadi nyata.
ubahmu adalah isyarat jiwa yang gersang.

aku hilang kata.
aku hilang marah.
tak lagi peduli pada sekitar.
embun tak kurasa sejuknya, panas tak kurasa sengatnya, hujan tak kurasa dinginnya.

aku memilih damai dengan hatiku...
yang kini sedikit demi sedikit berlubang.
menganga dan tak terobati.

diamku adalah sentuhan lembut jiwa.
pada beragam kenangan yang menjalar.
tak resah, tak gelisah.
aku terdiam..

~tanjung kuako,24 okt 10~