Friday, September 01, 2006

Sebuah Episode Tentang Pak Sahab

Pak sahab namanya. Umurnya kutaksir 53-an tahun. Perawakan tinggi kurus dengan tampilan sederhana. Ramah, supel, baik hati, plus murah senyum. Itu gambaranku akan sosok seorang pak sahab, becak langgananku.

Tidak seperti biasanya, malam itu ketika ia mengantarku beli makan, becak dikayuh dengan sangat pelan.
“Pak, sakit ta?” tanyaku karena biasanya ia tidak sepelan ini dan juga tidak sediam ini
“Iya mbak ebi. Kaki saya canthengan” Jawabnya dengan suara yang lemah
“Sejak kapan? Kaki yang mana pak” tanyaku lagi dan kini aku membalikkan wajahku agar bisa melihatnya
“Tadi siang mbak, tapi cuma yang kanan kok” jawabnya lagi masih dalam suara yang lemah
Sesampainya di depan pagar kos, aku turun dan meninggalkannya sambil berucap
“Terimakasih ya pak, semoga lekas sembuh” yang kemudian diaminkan olehnya

Tadi siang, sepulang dari rumah teman, turun dari angkot, kulihat pak shahab sedang duduk dalam diamnya. Kuhampiri untuk menanyakan keadaanya
“Gimana pak kakinya? Sudah enakan?” tanyaku
“Ini mbak”.
Ia memperlihatkan jari kaki manisnya ke aku dan perutku langsung mual. Ternyata jarinya sudah putus. Sekarang jari manis itu tinggal setengah. Dagingnya kelihatan dan merah darah terlihat seperti membeku. Kepalaku pening dan perutku berputar-putar.

“Kok jadi gini pak? Bukannya kemarin Cuma canthengan? Kok malah putus sih? Kapan?” aku memboronginya dengan pertanyaan
“Gak tahu mbak. Tadi malam tuh tambah nyut-nyut gitu. Trus tadi pagi saya usap-usap sendiri, eh malah lepas” jawabnya dengan datar
“Aduuh pak. Sudah ke dokter? Bapak kenapa gak istirahat aja sih di kos?”
“Ke dokter gimana mbak, duitnya gak ada. Kalaupun ada, mendingan juga dibawa ke anak”
Ada yang meleleh di hati ini. Orang tua, semulia inikah hati orang tua. Tidak memikirkan dirinya, hanya anaknyalah alasan ia bertahan dalam sakit.

“kalo gitu diperban aja pak. Biar gak infeksi. Ayo ke kost saya pak, ada perban di kost, nanti saya perban” kataku sambil menghalau lalat yang ingin mengerubungi jari itu
“Gak usah mbak, nanti malah lama keringnya” jawabnya
Berkali-kali kukibaskan tanganku di atas jari pak sahab karena lalat-lalat selalu berputar-putar ingin singgah.

“Tuh kan pak, lalat lho. Udah ke kost saya sekarang. Atau bapak pulang aja. gak usah narik. Bapak istirahat sehari atau dua hari”
“Gak mbak, anak saya makan apa? Saya juga pengen istirahat biar seminggu tapi gimana anak saya nanti kalo butuh apa-apa” Saat berkata ini, aku lihat ada yang mengalir dari mata pak sahab
Sudah cukup, aku gak tahan lagi. Hati mereka yang bernama orang tua terlalu mulia. Maka dalam tangisku aku berkata,
“Sabar aja ya pak. Bapak nariknya gak usah ngebut. Aku masuk dulu. Nanti sore bapak ke kostku ya, aku tunggu. Nanti malam aku mo pergi, bapak anterin juga ya”
Aku pun pergi. Sebenarnya aku gak tega memintanya mengantarku tapi jika kuturuti ketidak tegaanku, justru tidak menolongnya.

Pak shahab, sosok yang sangat mencintai anak-anaknya. Sering dalam perjalanan kami, ia menceritakan ke-tiga anak perempuannya. Apalagi saat beliau baru datang dari rumah (istri&anak2nya pak sahab di lamongan), beliau akan menceritakan apa saja yang dialami beliau bersama anak2nya saat di rumah.

Hati beliau begitu baik. Pernah suatu saat dompet ini gak ada isinya sama sekali. Aku pun menemui pak sahab minta dianterin ke ATM. Ia kuberitahu bahwa aku lagi gak punya duit pak, jadi nanti bayarnya kalo ada duit di ATM. Beliau OK-OK saja. Waktu keluar dari ATM yang rusak yang dekat dari kos, mungkin karena lihat wajahku yang belum tersenyum, beliau tahu aku belum dapat duitnya. Pak sahab menawarkan diri mengantarku ke ATM yang lain tapi jaraknya relatif jauh. Aku menolak karena aku gak punya duit untuk bayar pak sahab kalo harus jauh nganternya. Tapi, subhanallah, saat itu beliau bilang,
“Ya Allah mbak, jangan ngomong gitu. Saya mau mbak nganterin mbak ebhy kemana aja. Gak dibayar juga gak apa. Saya tau mbak ebhy lagi gak punya duit. Mudah2an di tempat lain, kalo anak saya kesulitan, ada yang bisa bantuin juga. Saya tuh sedih kalo liat mbak ebhy sedih, gak tertawa seperti biasanya, gak ceria seperti biasanya, gak ngajakin saya ngobrol karena mbak lagi banyak pikiran. Saya gak bisa bantu apa-apa mbak, Cuma sama kaki saya ini aja saya bisa bantu. Saya antar ya mbak, mbak jangan nolak.”
Tulus banget aku dengar kata2 itu, dan ia pun mengantarku sampai aku dapat yang kuinginkan.

Suatu kali, ia menanyakanku
“Mbak, sampeyan kok belakangan ini setiap pagi mesti saya lihat jalan ke arah timur. Kemana mbak? Pengajian?”
“Gak pak, saya ngajinya sore. Kalo pagi itu saya berangkat ngajar pak” Jawabku
“Nagajar dimana mbak ebhy?
“Alhamdulillah sudah 2 bulan ini, saya ngajar di STM pak, di jurusan listrik tapi di jalan pawiyatan sana. Makanya saya ke arah timur karena lyn-nya disana” jawabku lagi
“Alhamdulillah mbak. Saya seneeeeng denger mbak sudah kerja. Gak sia-sia orang tuanya sampeyan nyekolahin sampeyan. Saya seneng mbak dengernya. Saya doakan mbak eby dan keluarga mbak eby semuanya sukses” Dari suaranya, kebahagiaannya melebihi bahagiaku sendiri, maka kuaminkan doa dari hamba Allah yang baik hati itu

Pak sahab, sekarang Allah sedang mengujinya. Untuk berjalan saja ia kesakitan dan harus bersandar pada sesuatu. Tapi ia tidak pernah mau istirahat. Wajah kurus itu ternyata menyimpan cinta yang sangat gemuk untuk istri dan 3 anaknya. Keempat orang itulah yang menjadi obatnya sehingga segala sakit, segala perih tak terasa lagi. Ia begitu luar biasa.

Pak sahab, cepat sembuh ya. maafkan saya tak bisa berbuat banyak

Persembahan Untuk Ibundaku

Ingatkah kawan,
Ibu yang selalu meneteskan air mata ketika engkau pergi
Ingatkah kawan,
Ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu dan airmatanya menetes ketika kau terbaring sakit
Kawan, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan ibu dalam doanya?
Tangisan dan doa itu yang mengantar kesuksesan kita.
Pernahkah kita tahu ayah dan ibu terluka dan mengiba pada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kta?Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?

Ah kawan,
betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan.
Setelah dewasa dan bisa "menghidupi" diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bhagia)
Ternyata kita masih sangat jauh...
Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?

Semalam, suara itu menggetarkan hatiku lagi
Suara wanita mulia yang dari rahim agungnya aku terlahir.
Tak henti-hentinya ia menanyakan kabarku, memastikan aku baik-baik saja
Menanyakan setiap jenak kehidupan saat ia tak ada di sampingku
Dan balasanku...
Aku menceritakan sedihku, aku menceritakan perihku yang seharusnya bisa kuatasi sendiri
Sungguh, aku menyesal berbagi sakit dengannya
Ia pelabuhanku, pelabuhan yang selalu menyediakan ketenangan untukku berlabuh setelah berlayar terombang ambing di lautan lepas

Suara itu bergetar, menandakan kerinduan yang amat sangat
Menutup pembicaraannya, dengan getaran suara menahan tangis yang hebat, ibu berkata,
"Ibu sayang eby"
3 kata yang membuat benteng pertahananku runtuh
Hangat menjalari pipiku, dan aku hanya bisa bilang,
"Eby juga sayang ibu"

Saat itu, rasanya ingin kuberikan segalanya
Akan kutukar dengan apapun
Asalkan aku bisa ada di sampingnya saat itu
Menyeka air mata itu dengan tanganku sendiri

Ibu, tak pantas kau menangis
Kau hanya boleh tersenyum
Hanya itu yang boleh kau lakukan
Jangan menangis lagi bunda
Aku akan datang, menyeka air mata itu
Menggantinya dengan senyum yang tak pernah hilang

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Kawan,
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah yang dulu kau dilahirkan.
Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu
Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yangselalu membuatmu lupa untuk pulang
Segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu sampai malam pun kian larut

Kawan, kembalilah segera..peluklah ibu yang selalu menyayangimu
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu
Berdoalah untuk kesehatnnya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya

Kawan, jangan pernah sakiti mereka.
Jangan izinkan air mata mereka mengalir lagi selain airmata kebahagiaan

Ibu...
maafkan aku sampai kapanpun tak akan terbalas baik budimu
hanya untaian doa untukmu, Semoga Allah membalas budi baikmu

Ibu, engkau selalu berada di dalam hatiku
Tiap jengkal dan hembusan nafasku, semoga bahagia selalu menyertaimu

Ibu, aku sayang padamu
Ibu, maafkan aku

@Persembahan untuk ibundaku, wanita perkasa, wanita terhebat, wanitaku@

Thursday, August 31, 2006

School of Life



Akhirnya, aku bisa beli juga bukunya Mas Gaw ini. Pas ke MIP 2 pertengahan agustus lalu, pengen beli tapi waktu itu lagi gak punya budget lebih. Alhamdulillah sekarang bisa beli buku ini juga. Isinya? .....
Subhanallah banget. Banyak hikmah yang bisa diambil. Benar-benar seperti kata Mas Gaw "Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru". Sekuel dari buku "Berhenti Sejenak" buat kita bisa mendapatkan hikmah dari hal-hal yang mungkin selama ini kita abaikan. Banyak kisah dari orang di sekitar kita yang bisa kita maknai seumur hidup hanya karena berbincang atau bertemu beberapa menit saja.

Betapa setiap orang itu punya sesuatu yang bisa kita pelajari. Saking inginnya membaca cepat buku itu, aku bacanya pas lagi ngajar. Siswanya aku suruh praktek rangkai saja, biar aku bisa duduk manis menyelesaikan bacaan. Baca buku itu kayak bercermin dan sadar bahwa yang aku lihat di cermin itu masih sangat buram. Penghambaanku pada, Baktiku pada ibu, sayangku pada saudara, perhatianku pada sesama, bantuanku pada yang membutuhkan, semuanya masih di titik kritis.

Yang paling menyentuh dari buku itu adalah kisah-kisah yang bertutur tentang ibu. Sungguh, rinduku pada ibu membuncah hingga menyesaki dada. Tersa ingin kembali dan mengambil setiap mutiara dalam kehidupannya untuk kujadikan bekalku meniti hidup. Kisah Kang Adi juga membuatku sama seperti mas Gaw, pengen jdi muridnya juga. Banyak hal yang bisa kta pelajari dari setiap orang yang kita temui. Ada sisi-sisi yang indah dari setiap perjalanan kehidupan manusia.

Aku belajar satu hal, setiap orang adalah istimewa, bagaimanapun kondisinya, tetap istimewa, karena Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia.

Monday, August 28, 2006

Bersyukur

Di balik setiap awan gelap ada garis perak bercahaya dan kita seharusnya memandang sisi terangnya dan mempertimbangkan rahmat yang kita peroleh.Tetapi terkadang kata-kata yang mendorong ini tampak kosong dan tidak berarti. Kadang kala kita merasa sungguh-sungguh tidak mampu melihat sisi baik dari situasi atau keadaan kita. Kadang-kadang kita merasa bahwa kita tidak memiliki rahmat sama sekali yang bisa kita pertimbangkan

Inilah saat ketika ungkapan syukur sering memberi hasil terbaik. Seorang wanita mengungkapkan bahwa apa yang harus ia lakukan untuk membuang suasana hati yang gundah adalah dengan "duduk merenung, mengingat-ingat di mana saya limatahun yang lalu, dan mengucap syukur. Mencari hal-hal yang paling kecil yang bisa kita syukuri bisa membantu kita melihat semua rahmat indah yang telah kita terima begitu saja.

Memandang kembali pada pertumbuhan dan perkembangan kita yang telah terjadi selama bertahun-tahun bisa membuta kita menyadari seberapa jauh kita telah tumbuh dan berkembang serta memberi kita harapan seberapa jauh lagi kita bsa melangkah mulai dari sekarang ini. Tak seorang pun di dunia ini, kapan pun dalam kehidupannya, sungguh-sungguh tidak memiliki sesuatu untuk disyukuri

@Menjelang subuh, terbangun di atas genteng, saat semalam bersama seorang teman mencoba menggali makna hingga tertidur. Dek, jangan berhenti di titik ini. Majulah ke titik yang lebih jauh@

Setelah 9 NAGA

Bismillah..
Kita sepertinya tidak perlu kehilangan sesuatu yang berharga dulu sampai kita menyadari apa yang kita lakukan itu benar atau salah. Bukankah telah ada batas yang jelas antara yang haq dan yang batil. Lantas mengapa kita begitu serakah, begitu bodoh melakukan hal yang semua orang bersepakat mengatakan itu salah dan baru menyadarinya jika telah kehilangan. Sungguh sesuatu yang bisa dihindari.


Kadang, kita melakukan banyak hal, kita melakukan hal-hal yang kita pikir baik. Mengira kita sudah bergerak maju tapi nyatanya kita hanya jalan di tempat. Hingga suatu saat, ketika ada yang hilang, ada yang pergi barulah mata kita seperti membuka dengan lebar. Apa perlu ada korban untuk menyadarkan kesalahan kita?

Kehilangan sahabat, kehilangan orang tua, kehilangan orang-orang yang dekat di hati, bahkan kehilangan jiwa kita sebelum ruh itu benar2 pergi. Resiko yang sebenarnya bisa dihindari jika saja kita bisa membuka mata kita lebih awal. Tidak melihat dari satu sisi saja setiap permasalahan. Begitu banyak hal di balik setiap peristiwa. Duduk, merenunglah, ajak Allah bersama perenunganmu, maka ada yang bisa kau lakukan selain hal bodoh dan tidak bertanggung jawa. Sekali lagi, tidak perlu ada jatuh korban dulu untuk menyadarkan kesalahan kita. Tidak perlu menunggu kehilangan dulu. Sebuah kepergian, bagaimanapun bentuknya, selalu meninggalkan sakit.

Maka perlukah kematian yang menyadarkan kita? Haruskah menunggu sebuah kepergian barulah kita mau berubah?
Perubahan itu Pilihan. Maka pilihlah untuk berubah SEKARANG !!!!!

@setelah 9 naga@

Sunday, August 27, 2006

Foto Foto Cinta




Foto-foto cinta. Kemarin siang, aku dapat sms dari salah seorang saudaraku di usroh ini. Ia menanyakan kabarku. Aku nangis (lagi???). iya, aku terharu karena usroh ini sudah lama banget tidak bertemu. Ketika ada yang mengabariku, rasanya seperti menemukan sesuatu yang hilang.


Awal perjumpaan dengan mereka sangat indah. Kami bergabung dalam sebuah remaja masjid di Surabaya, dan tergabung dalam usroh yang kami namakan Usroh Rohmah (Keluarga Kasih Sayang). Kenapa Rohmah? Karena pertemuan pertama kami sangat berkesan. Gap diantara kami langsung hilang karena dalam jumpa perdana itu kami sudah berbagi tangis. Setiap dari kami menceritakan kisahnya, dan setiap selesai, maka kami akan saling berpelukan menguatkan, berbagi bahu untuk bersandar.

Sejak pertemuan itu, pertemuan2 rutin kami berikutnya indah.Setiap tawa, senyum, sedih bahkan marah mereka adalah cinta. Bahkan ketika pertemuan rutin itu tak ada lagi, kami selalu mengadakan pertemuan2 di waktu2 yang tak terduga. Tapi, sudah lama kami tidak bertemu. 2 diantara kami baru saja mengakhiri masa lajangnya. Yang lain, berkutat dengan tugas2nya. Hingga fisik ini terasa begitu jauh. Tapi, kami tahu, ruang di hati kami selalu ada nama2 usroh Rohmah ini. Ukhti-ukhti, kapan rihlah lagi? Kapan ngumpul lagi? I miss you all

Teriring rindu untuk : mbak hani, mbak imas, mbak dina, mbak yuni, citra, binti, mbak yuli, mbak feby dan zahroh. Masih ingat rihlah2 qta? Masih ingat kajian2 qta? Curhat bareng qta? Masih ingat buka puasa bareng kita? Tukar kado kita? Masih ingat bakso bakar bareng kita? Masih ingat bareng2 ke kos zahroh, mbak yuli, dan citra? Masih ingat semua tentang kita? Indah ya…

nb : ingat foto-foto ini kan?

Saturday, August 26, 2006

Hidup Bersyarat

Berapa seringkah kita berpikir, "Dulu seharusnya saya bisa bahagia seandainya.." atau "Saya tentu akan bahagia kalau.."? Seberapa sering kita pernah merasakan ketenangan, pemenuhan diri dan kepuasan namun ternyata semua perasaan itu berubah menjadi rasa takut, marah atau kecewa hanya karena sesuatu yang kita harapkan terjadi atau tidak terjadi? Atau hanya karena kita mendengar sesuatu yang menimpa orang lain? Seberapa banyakkah persyaratan di luar diri kita yang kita yakini perlu ada demi rasa bahagia di dalam diri kita?

Ada kalanya kita yakin bahwa turunnya berat badan, mendapat pekerjaan atau promosi jabatan, menikah, mendapat momongan anak atau meraih hasil lahiriah lainnya akan membuat kita bahagia. Tetapi ketika tujuan kita terpenuhi, selalu ada tujuan-tujuan lain yang menuntut untuk dipenuhi juga. Rasanya, kebahagiaan menjadi sesuatu yang ada di luar jangkauan kita.

Mungkin sebagian besar dari kita pernah membaca stiker atau poster yang bertuliskan "Apapun yang bisa salah, pasti akan salah". Sekalipun demikian, ketika ada yang menjadi salah, kita masih saja sering heran. Kita menjadi bingung, merasa tidak siap, kehilangan keseimbangan, bahkan marah. Rasa tenang dan rasa bahagia bisa menguap begitu saja. Segala hal yang kita anggap perlu agar segala sesuatunya beres, lenyap, dan kita pun kebingungan.

Yang nyata-nyata terjadi adalah : mobil kadang kala mogok, para pemasar kadang-kadang bersikap kasar, pemesanan tempat bisa tertukar. Orang-orang yang kita anggap pahlawan ternyata lemah dan korup. Orang-orang yang kita cintai mungkin meninggal atau pergi. Kita mungkin kehilangan pekerjaan kita, relasi kita, kesehatan ataupun uang kita. Tubuh kita akan menua. Semua terjadi dan berubah, demikianlah hakikat kehidupan ini.

Mungkinkah hidup kita di dunia ini tidak terpengaruh oleh segala bentuk kebingungan, rasa sakit, dan ketidakadilan itu? Tentu saja terpengaruh. Persoalannya adalah bagaimana kita terpengaruh dan seberapa besar pengaruh itu terhadap kita? Apakh ucapan sambil lalu teman kerja membuat kita tertekan? Apakah berita-berita mengenai kecelakaan, bencana, atau kejahatan membuat kita tidak lagi mempercayai elevator, pesawat udara atau sesama kita? Apakah percakapan telpon selama 5 menit dengan seorang saudara kita membuat kita merasa bersalah atau cemas selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari?

Seberapa banyak kita rela mengorbankan kebahagiaan dan ketentraman kita demi kehidupan lahiriah kita? Jika kita memang tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa dan akan salah, mengapa kita masih mendambakan kesempurnaan? Mengapa kita menunda merasa bahagia, dengan bersikap seolah-olah kelak segala sesuatunya akan lancar sesuai dengan keinginan kita? Mengapa kita membiarkan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan lahiriah di dunia ini menyebabkan berkecamuknya pikiran, perasaan dan sikap di dalam diri kita?

Bagaimana jika kita dengan damai menerima kenyataan yang seringkali tidak selaras dengan keinginan kita? Bagaimana jika kita sungguh-sungguh percaya, di lubuk apapun yang terjadi dalam kehidupan lahiriah atau kehidupan di dunia ini?
Kalau kita baru bisa merasa bahagia hanya jika tim pertandingan kita menang, kita justru akan jauh lebih sering merasa tidak bahagia. Selama kita senantiasa menetapkan tujuan-tujuan demi kebahagiaan, ketenteraman dan kepuasan di masa depan, kita tidak akan pernah "meraih emas yang tersembunyi di ujung bianglala"

Dunia ini tercipta tidak untuk menuruti kehendak anda atau saya atau orang lain. Kita dapat menghadapi realitas hidup dengan humor, sikap fleksibel dan ketentraman. Dengan kekuatan spiritual kita, bahwa hanya Allah-lah yang punya kekuatan mengubah semuanya, maka Kita akan baik-baik saja, apapun yang terjadi

Antara Ebhy, Mmink dan Baya

Asyik, aku ditelpon sama mmink, one of my best friend di STM dulu. Mmink di Jakarta, trus kita conference sama Baya yang juga lagi ngantor di Makassar. Jadi deh ngomong bertiga. Masih rame aja kayak dulu. Jadi kangen banget sama mereka. Dari kelompok kita bertujuh, tinggal kita bertiga aja yang masih berstatus single fighter. Jadinya pas baya bilang invite lagi yang lain, kata mmink jangan dulu. Sekarang pembicaraan para lajangers dulu. Empat yang lain kan sudah emak-emak, omongannya nanti gak jauh-jauh dari anak+suami, gak nyambung sama kita. Dasar mmink.

Puas banget ngobrol 90 menit sama mereka. About kerjaan, reunian kemarin, macam2 deh. Kapan ya bisa ngumpul? Bay, barang-barangku yang ketinggalan di makassar kemarin, cepetan kirim ke surabaya.

Buat kaum ibu (ani, ami, phionk, endhy), gimana kabar dedek2nya?. Salam kangen dari kami bertiga. Doain cepet nyusul. Tadi kita bertiga pada maen feeling. Masing-masing punya feeling dia jadi yang terakhir menanggalkan jubah kebesaran "SINGLE".

Friday, August 25, 2006

Serba 9

setelah blog walking, banyak sahabat blogger pada menceritakan tentang dirinya. Serba 6 lah, serba 4 lah. Aku jadi pengen juga mengenali diriku. Pengennya sih buat serba 9 soalnya aku suka angka 9.
$ 9 buku favorit
$ 9 sahabat yang menginspirasiku
$ 9 keluarga yang luar biasa (walaupun jelas semuanya luar biasa
$ 9 film yang gak rugi aku nonton
$ 9 karakter yang gak aku sukai
$ 9 fakta ajaib tentang aku
$ 9 travelling menyenangkanku
Pokonya serba 9 deh.
Tapi kayaknya belum sempat untuk aku tulis dalam waktu dekat. Kalo sempat aja deh. O iya, buku "Sudahkah Kita Tarbiyah" sudah selesai aku baca, tapi masih belum sempat bedah nih. Afwan ya. Sudah pada baca belom sih? Buku barunya Bayu Gawtama "School Of Life" sudah punya belum? aku belum nih. Kemarin mo beli tapi ada buku yang lebih urgen untuk dibeli. Kapan ya bisa beli??

nb ; Lagi pengen banget makan duren

Thursday, August 24, 2006

WARNING : JANGAN BERKENALAN DENGAN PUTUS ASA !!!!

The Oprah Winfrey Show hari ini menarik. Kisah tentang orang-orang yang menjadikan kehancuran dan kegagalannya justru sebagai awal kesuksesannya.

Kisah 1 :
Pria yang pernikahannya dibatalkan oleh tunangannya 5 hari sebelum pesta. Semua sudah dipersiapkan. Dan yang ia lakukan? Ia melanjutkan pesta pernikahan tanpa mempelai wanita. Baginya, sulit mengumpulkan 150 orang yang ia cintai dalam satu ruangan, jadi apa salahnya mencari semangat dari berkumpul dengan 150 orang itu. Besoknya, bosnya berkata "Saya turut prihatin dengan pernikahan anda. Dan maafkan saya harus mengatakan bahwa ada perampingan karyawan dan anda kami PHK"
Hidupnya kian terpuruk. Ia pun pulang ke rumah dan melihat tiket bulan madu yang tidak bisa ditukar uang. Maka, ia pun tetap pergi ke costa rica bersama kakaknya. Setelah "bulan madu" itu, mereka memutuskan memperpanjang perjalanan mengunjunghi 53 negara selama 2 tahun, menulis buku berjudul Honeymoon With My Brother. Endingnya, he falling in love again, get married, and waiting for their baby

Kisah 2 :
Seorang pria berusia 53 tahun. Telah mengabdikan diri dalam dunia jurnalistik selama 19 tahun hingga suatu pagi, ditelpon bosnya dan bilang "Sorry, yo've lost your job". Maka, ia pun memulai menulis kisah yang selama ini hanya berputar-putar di benaknya selama 10 tahun. Endingnya, buku berjudul "The Known World" menerima penghargaan Pulitzer

Kisah 3 :
Pemuda yang ditangkap selaam 15 kali dalam usianya yang belum 15 tahun. Hidupnya bersama gangster, pengedar, germo, mafia dan sejenisnya. Hingga akhirnya ia "dibuang" ke tempat isolasi selama 2 minggu. 2 minggu yang mengerikan tetapi ia mampu melihat sudut pandang yang lain. MAka berjanjilah ia pada dirinya sendiri dan kepada ibunya bahwa sekeluarnya ia dari situ, ibunya tidak akan mencemaskannya lagi. Ia akan menjalani hidup yang lebih berarti, yang lebih bisa ia pertanggungjawabkan. Endingnya, ia kini salah seorang The Rising Star of NBA.

Bismillah..
Putus asa, kecewa, marah, tidak bisa dipungkiri akan terjadi pada kita. Kita diciptakan sudah satu paket dengan emosi-emosi itu. Dan kita adalah pemenang jika bisa mengendalikan emosi-emosi negatif itu, bukan terjebak bahkan diperbudak olehnya.

Suatu masa dalam hidupku, aku pernah merasa begitu desperate hingga duniaku seakan runtuh, hidupku seakan berakhir. Aku terpuruk tanpa tahu bagaimana harus bersikap. Tapi, 2 malaikatku, 2 cinta dalam hidupku, kedua orang tuaku, meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mengatakan bahwa mereka akan berbuat apa saja agar aku bisa berdiri tegak kembali. Hingga, akhirnya aku bisa kembali tegak menjalani hidupku, mematahkan tantangan2nya walaupun tidak mudah.

Putus asa, kecewa, marah, sedih akan datang silih berganti dalam hidup kita. Namun kita tidak perlu dikendalikan oleh emosi-emosi itu. Sangat tidak perlu emosi-emosi itu menghancurkan hari-hari kita, mingu-mingu kita bahkan hidup kita. Pengembangan spiritual akan membuat kita lebih mantap, tenang, dan lebih yakin menjalani hidup ini.

Aku Gak Jadi MAen BAsket

"Mbak eby, bisa ikutan gabung di tim basket jarsat arh? kalo bisa nanti ikut persipan di masjid Unitomo jam 1. pliz datang ya" isi sms dari teman akhwat yang sama2 ngurusi KAMMI Jarsat ARH.
Di-sms gitu, aku seneng banget. Udah lama gak maen basket. terakhir sih pas kelas 3 STM waktu masih tergabung di tim basket putri STM. After berhijab, itu gak pernah aku lakukan lagi. Terang aja aku exciting banget diajak maen. Cuma gak bisa ikut persiapannya karena masih gak di SBY nih.

Pas sms-nya sudah kubalas, dia sms lagi. Katanya yang tanding itu ikhwan. Akhwatnya bantuin nyusun strategi dan nyuporterin. Yaaa, kirain akhwatnya yang maen. Kalo ikhwan yang maen, ya sudah deh. Dan aku juga gak niat nonton atau nyuporterin ikhwan maen. Maen aja sendiri, ngapain pake disuporterin?

@mengubur lagi keinginan maen basket@

Wednesday, August 23, 2006

Kawan-kawan kecilku

Tadi malam aku mimpi gak enak tentang dua sahabatku, santje dan lia. Sebenarnya kisah dalam mimpi itu baik, tapi waktu aku cerita ke tante, kata tante coba hubungi mereka, jangan-jangan ada apa-apa. Perasaanku langsung gak enak.

Kuambil HP, mencari nama santje dalam phone book dan menekan tombol yes
"Assalamu'alaikum" salamku setelah HP-nya diangkat
"Wa'alaikumsalam"
Suara di seberang yang kukenali bukan suara santje tapi suara mamanya. Dengan heran aku bertanya,
"Ma, santjenya mana? kok mama yang angkat"
Aku memanggil mama karena kami udah dekat banget. Pertemananku dengan santje sudah 18 tahun. sejak kami kelas 1 SD, waktu itu usiaku masih 5 tahun. Sampe saat ini, kami tidak terpisahkan walaupun ia sudah balik ke ambon

"Sebentar ya bhy, mama panggilkan" begitu kata mama
"Hallo,," Suara santje terdengar lemah
"San, san sakit? Kok suaranya lemah gitu?" tanyaku
"Iya bhy, san sakit sudah 2 hari" jawabnya
Kami lalu bercerita dan aku menanyakan juga kabar lia yang semalam kumimpikan juga. Setelah berbicara, aku lebih tenang, santje sakit tapi paling tidak, ia tidak kenapa-kenapa. Kedekatan kami bikin feeling kami kuat banget. Waktu Pernah aku sakit di ambon, santje yang lagi di surabaya gak enak hati. Dia telpon berkali2 ke rumah, juga ke rumahnya meminta mamanya ngecek terus keadaanku. Waktu kami sama-sama masih di Surabaya pun, kita sering kontak pas perasaan gak enak, biasanya salah satu diantara kami lagi sakit atau lagi butuh seseorang.

Pukul 07.18, hp-ku bunyi ada sms.
"Asslmkm..eby, pha kabar? Su lama zn ada kbr nich. Bgmn kuliahnya? dah selsai blm? Kapan blk ke amq lg? Dtg jua, katong samua su takumpul lai di amq ni"
Terjemahan bebasnya "Assalamu'alaikum. Eby, apa kabar? Sudah lama gak ada kabar nih. Bagaimana kulnya? Udah selesai belum? Kapan balik ke Ambon lagi? Cepetan datang, kita semua sudah kumpul lagi di ambon nich"
Sms dari lia, teman masa kecilku dulu. Setelah dapat telponku, santje telpon lia, jadi lia sms ke aku. Sebenarnya aku pengen juga kayak mereka, balik lagi ke Ambon. Disana gak pernah kering akan cinta. Selalu ada cinta disana. Lagian, there is no place like home kan? kemanapun kita pergi, rumah selalu jadi tempat kembali kita kan?

But, i dont know. Allah-lah yang punya hak menempatkanku di tempat yang IA inginkan. Dimanapun itu, aku yakin pastilah terbaik.

Buat seluruh kawan masa kecilku, you are my forever friend

Tuesday, August 22, 2006

Hak Yang Terabaikan

Bismillah..
Kumulai hari ini dengan aksi protes dari mana-mana, dari orang-orang yang merasa selama ini telah kuabaikan. Papa dan ibu telpon, dan mempertanyakan kenapa aku gak pernah telpon ke rumah, maunya ditelpon aja. Padahal orang rumah kangen ditelpon. oh ya, papa selasa besok ke Jakarta, moga aja pulangnya bisa mampir Surabaya. Habis itu, aku dapat sms dari tante di Gresik, ngomel2 aku gak pernah nengokin tante lagi, balas sms juga gak. Aduuh, feeling guilty nih.
10 menit kemudian, aku ditelpon sama om di dukuh kupang dan keluarga di manukan. Sama, merasa gak pernah aku datangin lagi. Eh, pas lagi terima telpon mereka, sms bunyi lagi dan isinya dari keluarga di malang yang protes aku juga gak pernah kesana padahal sekarang ini aku harus ada disana, ada masalah yang harus aku ikut selesaikan. Puyeng..puyeng.

Aku teringat beberapa hari yang lalu saat pulang ngajar. Depan pintu kost, ada kertas yang aku tempelin untuk teman2 ninggalin pesan kalo aku gak ada. Sore itu pas pulang, ada pesan di kertas tersebut. Isinya "Ca, ingat dong kalo ada adek di rumah". Itu pesan dari dek ega, adik kandungku sendiri yang baru 1 minggu nyusul ke Surabaya. Waktu itu rasanya bersalaaaah banget. Pas buka pintu kamar, dia sedang tidur. Aku jadi ingat kalo sering juga mengecewakan dek eya, adekku yang sekarang lagi pulang liburan. Dia sering protes katanya aku lebih sering mikirin kerjaan luar ketimbang adek2 di rumah. Beberapa kali aku membatalkan janji sama dia karena ada panggilan amanah mendadak. Kemarin, dek ega minta aku anterin ke Tante di Gresik, juga ke Solo silaturrahim ke keluarga sana. Aku bilang gak bisa dan dia kelihatan kecewa banget. Dia cuma diam dan tidak berbicara apa-apa lagi. Bahkan sekarian kemarin dia hanya tidur menghindari bicara sama aku.

Maka, disinilah aku sekarang. Di rumah tante setelah tadi tante menelpon sampe hampir nangis karena udah lama gak ketemu kita, apalagi sekarang ada masalah yang harusnya aku juga ada untuk menghadapinya. Aku emang sudah 3 bulan gak kesana. Besok, insyaAllah mo ke malang trus lanjut ke solo-jogja beresin yang harus diberesin sekalian silaturrahim, menunaikan hak-hak mereka yang selama ini aku abaikan.

Buat saudara-saudaraku di LDK : Afwan ana gak bisa bantu sambut MABA. Ada hak yang belum ana tunaikan. Ana gak punya waktu lagi selain sekarang karena setelah ini, sudah ada 3 deadline yang ana selesaikan sampai 2 minggu ke depan. Jika kepergian ini ana tunda hingga 2 minggu, ana akan menjelma menjadi orang yang paling dzhalim yang mendzhalimi keluarganya dengan sangat teganya. Afwan

Buat saudara2ku aktivis : Diingat ya hak keluarganya. Jangan kayak aku yang diingetin dulu baru sadar bahwa gak seimbang menunaikan hak

n.b : O iya, aku punya pin baru. Pin berbentuk lumba-lumba. Aku banget deh.

Monday, August 21, 2006

Untitled

Sudah sesore ini,
Kok air mataku belum bisa berhenti ya
Padahal aku tidak mencoba mengingat, terlintas begitu saja
Tapi kenapa mata ini masih mencair
Padahal insyaAllah hatiku masih steril
Sebenarnya apa sih yang kusedihkan?

Dasar perempuan....

Coretan Di Atas Genteng

Dalam hening dan dinginnya embun pagi
Saat jiwa sedang tak tahu ada dimana
Saat batin terhempas dalam jurang ketidakpercayaan
Saat hati memaknai setiap keputusanNYA
Saat diri butuh waktu untuk sekedar duduk
Waktu merenungi semua kata, semua tulisan, semua pikiran bahkan semua angan-angan
Saat gemetar tubuh menghentak,
menyadarkan kekerdilan diri
Maka tak ada tempat selain kembali

saat ini, tak ada yang lebih nikmat selain berduaan dengan Allah,
mengadukan setiap kesah
mengadukan setiap gelisah
mempertanyakan yang tak bisa terjawab
mempercayai apa yang tak ingin kita percayai

Dan maaf itu,
Selalu ada kelapangan untuk mengatakannya
Bukankah hakikat persaudaraan adalah saling memaafkan?
Melupakan?
Entah apa bisa kulakukan
Kadang-kadang kita harus diam dan membiarkan tangan TUHAN bekerja
Yang kuyakini,
setiap luka ada obatnya
Setiap sakit, ada waktu untuk sembuh
ITU SAJA

@Seperti Pilot, aku tak bisa mengubah arah angin yang menerjang pesawat kehidupanku, tapi aku bisa merubah arah sayap pesawatku agar tidak terombang ambing. Aku tak bisa mengubah keadaan, tapi aku bisa mengubah caraku menghadapi keadaan itu. Everything will be fine. Ini hanya bagian dari perjalanan serta pelajaran yang harus kujalani@

Mujahidku, Kau Dimana?

“Keyakinan yang harus dibangun adalah pasangan hidup sudah digariskan oleh Allah. Tapi perjalanan ketemunya mungkin panjang, berliku, mendaki, atau bahkan sederhana & tidak jauh2. Yang pasti semua penantian itu indah jika dilandasi dengan kesabaran & kepasrahan pada Allah. Allah tidak akan salah memilihkan pasangan hidup bagi kita. Harus diakui, burung akan terbang lebih tinggi jika bersayap lengkap. Tapi jika sayap kita belum juga utuh, yang harus kita lakukan adalah mencoba terbang setinggi dan semampu kita bisa hingga ada sayap lain datang melengkapi. Jadi yang terpenting adalah mengisi waktu sendiri untuk hal yang berarti, bermanfaat & mencoba sebisa mungkin menjadi manusia yang bermanfaat di setiap kehadirannya. Penantian panjang pasti berakhir jk qta mampu menikmati semuanya dengan senyum kesabaran”

Dimanakah satu hati itu? Yang dengannya aku bisa berbagi beban, bisa berbagi ruang jiwa. Entah dimana, tapi aku yakin, Allah sedang menyimpannya untukku di suatu tempat, di belahan bumi dakwah yang lain. Allah hanya sedang mempersiapkan diriku dan dirinya hingga pada waktunya nanti, ia akan datang dengan segala kesiapan dan kematangan menyandingku, membawaku menempati sebelah sisi rumah jiwanya hanya padaku saja.

Mujahidku, siapapun engkau, dimanapun engkau, tetaplah berada di jalan dakwah yang indah ini, tetaplah di jalan tarbiyah yang akan mempertemukan kita. Mempertemukan dua juru nasihat, dua pemberi peringatan, dua orang yang senantiasa optimis dalam hidupnya, dua pembaru, dua aktivis, dua ustadz, dua pejuang, dua pemimpin umat dan dua lain-lainnya.

Kita akan jadikan rumah kita sebagai amunisi dakwah. Tempat dimana para mujahid mujahidah, ruhul jaddid, pedang-pedangnya Allah terlahir dan dibesarkan. Aku akan jadi ibu yang terbaik untuk mereka dan kau akan menjadi pelindung terhebat bagi kami. Deal with me?

Dan aku, doakan aku juga. Agar senantiasa menjaga kesucian ini hingga hanya untukmu kupersembahkan. Kelak, jika rumah jiwamu telah kau percayakan untuk aku sebagai ratu, maka itulah saatnya kita saling menarbiyah diri kita. Ingatkan aku atas salahku, dan aku akan jadi yang pertama mengingatkan lalaimu. Aku akan disini, menantimu datang, mengajakku meniti jalan Ilahi, mengajakku berpartner mengayuh perahu hingga ke tepian, SURGA. Jika kelak telah kau percayakan sayapku untuk melengkapimu, dan menawarkan sayapmu untuk melengkapi sayapku, maka kita akan terbang tinggi hingga pintu surga kita capai, insyaAllah.

Mujahidku, apa yang sedang kau cari saat ini hingga membuatmu belum menemuiku? Rupiahkah yang masih kau kumpulkan? Berapa banyak yang kau cari? Ekonomi apa yang ingin kau bangun bersamaku? Bagiku, tak soal berapa rupiah yang kau punya, yang penting ada engkau di sisiku, cukup. Karena dengan keihklasanlah kita akan jalani bahtera itu. Berapapun yang kau punya, yang penting bukan dari yang tak bisa kau pertanggungjawabkan datangnya.

Atau amanahmukah yang membuatmu belum menjumpaiku? Seberapa berat amanah itu? Aku ingin menemanimu menjalankan amanah itu. Aku ingin membersamaimu memikul amanah itu agar segala berat bisa kau bagi bersamaku, agar amanah2 itu bisa kau tuntaskan dan agar ada lagi amanah2 lain yang akan kita kerjakan bersama hingga menjadi pemberat kita di hari akhir nanti.

Dimanapun engkau mujahidku, aku yakin Allah tengah mempersiapkan waktu dan cara yang indah untuk pertemuan kita. Saat ini, marilah berlomba-loma memperbaiki diri, karena bunga yang istimewa hanya untuk yang istimewa. Maka mari kita sama-sama menjadikan diri kita istimewa hingga tiba saaatnya nanti, kita songsong mitsaqon Ghalidzo itu dengan penuuh keberkahan. Siapapun engkau yang Allah siapkan untukku, kutahu Allah punya rencana indah, terbaik untukku dan juga untukmu.

@aku adalah seekor lumba-lumba di lautan tarbiyah, berharap mendapatkan mujahid yang akan mempercantik gerakan-gerakan dan lompatan. Tidak memasung apalagi mematikan@

Sunday, August 20, 2006

Keputusan Allah Akhirnya Datang Juga

Bismillah…
Aku buat tulisan ini di atas genteng rumah. Tempat dimana aku biasanya duduk saat sedang ingin merenungi sesuatu. Melihat langit dengan dekat tanpa ada penghalang membuatku bisa berpikir begitu banyak rahasia Allah yang belum terkuak sehingga setiap keputusanNYA dalam hidupku, tidak boleh tergesa-gesa aku memahami dan menghakimi.

Saat ini ada yang ingin kurenungi. Sebuah keputusan yang harus kuterima, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Tak kupercaya, air mataku keluar. Padahal, sejak awal aku sudah tahu bahwa kemungkinan ini selalu ada. Aku sudah berkali-kali meyakinkan diriku bahwa apapun hasilnya nanti, skenario Allah pasti indah. Sudah lama kusiapkan diriku untuk keputusan apapun bahkan saat sholat lail dan sholat subuh tadi pun, aku sudah meminta kekuatan untuk menghadapi hasil akhirnya, apapun itu, tapi mengapa air mata itu tetap ada?

Dan kini, saat akhirnya keputusan itu telah diambil (tanpa mendengarkan pendapatku, red), keputusan yang sudah kupersiapkan hatiku untuk menerimanya, ternyata aku gagal menahan air mata ini, aku gagal menahan perasaan sedih dan terluka. Sedih karena Allah belum mempercayaiku memegang amanah baru, menjalankan perintahNYA. Terluka karena keshalihan itu pergi. Kucoba maknai, Allah masih memberiku kesempatan lebih lama mengusung amanah2 yang sekarang, dan IA belum ingin memberikanku amanah baru. Allah memberiku waktu lebih lama menyelesaikan yang harus aku selesaikan sebelum IA memberiku sebuah amanah besar.

Allah, aku percaya telah Kau buatkan jalan lain untuk kulalui. Mungkin saja tujuannya beda dari tujuanku sekarang sehingga engkau tidak mengizinkanku melangkahi jalan menujunya. Atau sebenarnya tujuannya sama, tapi Engkau ingin aku melewati jalan lain untuk kesana, atau melewati jalan itu di waktu yang lain, tidak sekarang. Apapun itu, Engkau tidak akan pernah mengecewakan hambaMU ini. Dan untuk semua ini, terima kasih ya Allah.

@mencoba memaknai skenario Allah. Saat ini, prinsip ketsiqohanku teruji, aku ingin lulus ujian ini@
nb : Kenapa air mata ini tidak mau berhenti juga? Kau tak serapuh ini, bhy. Be strong.

Serial Kepahlawanan

Teringat pembicaraan dengan seorang teman menjelang 17 agustus kemarin di atas bemo sepulang menghadiri sebuah acara. Katanya “bhy, kalo anti ditanya ‘apa yang akan kamu lakukan pertama kali jika dipercaya menjadi presiden?’, dan hanya ada 2 menit untuk jawab, jawabmu apa?”
Langsung senyum-senyum sendiri, bingung jawabnya. Mau jawab yang idealis atau buat lucu-lucuan ya. Berhubung saat itu aku lagi gak pengen ngomong yang berat-berat, kujawab aja “Yang pertama tak kerjakan, kumpulin ustadz-ustadz, trus tanya ‘ustadz, kadernya diamanahi jadi presiden nih, ngapain dulu nih ustadz?”. Jawabanku dibilang asal. Emang asal, wong aku gak niat jawab kok, yeee.

Tapi setelah itu kita ngomong serius sih tentang itu. Yang perlu diperbaiki, perekonomian dulu, soalnya kalo ekonominya lancar, yang lainnya nyusul, kayak pendidikan, moral, macem2 deh. Belakangan ini kejahatan marak dimana-mana kan tuntutan ekonomi juga alasannya, gak jauh deh dari urusan perut. Caranya ya dengan gerakkan zakat. Sudah terbukti zakat bakal bikin ekonomi suatu negara baik. Kesimpulannya, gak perlu bingung-bingung mikir apa yang harus dilakuin pertama kalo diamanahi jadi presiden karena di Islam sudah ada pedomannya, tinggal dijalani saja. Pak SBY baca gak ya blog ini? Kalo baca, buat bapak saya sarankan untuk mencari solusi-solusi permasalahan bangsa dalam Al-Qur’an. Komplit banget deh pak.

Masih dalam perjalanan pulang, karena dalam rangka agustusan, setiap kampung yang kami lewati ramai dengan pertandingan2. Salah satunya pertandingan pukul bantal, dimana dua orang duduk berhadapan di atas bambu sambil memegang bantal guling. Di bawah mereka, tentu saja kali/got besar yang warnanya sudah gak jelas. Setelah itu saling pukul-pukulan hingga ada yang jatuh ke got dan membuat seluruh yang melihat tertawa. Melihat itu, kami kembali berbincang.

“Filosofinya apa sih maen pukul2an bantal? Emang bisa memaknai kemerdekaan dengan pukul bantak kayak gitu?” tanyaku
“ya, mungkin maknanya menunjukan ke kita tantangannya pahlawan dulu ketika berjuang” jawab temanku
“Emang tantangan jaman pahlawan dulu bisa disamakan dengan tantangan pukul bantal? Di jaman pahlawan perangnya pake senjata. Resikonya nyawa. Nah ini, pake bantal, kalah juga paling-paling basah kuyup. Yang lihat juga pada ketawa-ketawa. Lagian aku sangsi mereka ikutan lomba-lomba kayak gini untuk mengenang pahlawan, untuk memaknai masa perjuangan dulu. Ikutnya juga paling-paling karena hadiahnya, sama ketawa-ketawanya. Kasihan banget ya pahlawan-pahlawan kita. Sama juga kayak permainan bawa kelereng di sendok yang diletakkan di mulut dengan jarak tertentu. Memangnya semudah itu apa pahlawan2 kita dulu?” komentarku

Kalo kita mo jujur, sekarang kemerdekaan begitu semu. Kita bilang diri kita merdeka, tapi kita kehilangan penghargaan kepada orang-orang yang membuat kita bisa berteriak “MERDEKA” walaupun hanya tiap 17 agustus saja. Berapa elemen sih yang peduli sama para veteran. Negara? Mana sempat mikirin veteran. Memang sih, insyaAlah ketika mereka berjuang dulu, tidak ada keinginan untuk dipuja puji di tahun-tahun yang akan datang, tapi apa iya kita masih bisa dikatakan punya hati jika menelantarkan mereka?

Paling tidak, mereka sudah berkorban nyawa untuk membuat kita merdeka secara fisik. Ya secara fisik saja. Karena saat ini, penjajah telah datang lagi dalam kaos lain. Fikroh, fun, fashion dan food. Kita hanya merdeka fisik tapi keinginan kita, jiwa kita, obsesi kita masihlah dijajah oleh para penjajah.

@penghargaan&penghormatanku kepada seluruh mujahid-mujahidah bangsa ini@
nb : judul diambil dari serial pak Anis Matta, walaupun kualitas isinya masih jauh banget bedanya.

Friday, August 18, 2006

GAK PAKE LAMA

Belakangan ini lagi populer banget kalimat “gak pake lama” dalam pembicaraan atau sms. GPL, gitu kata orang-orang. Dan aku, orang yang tidak suka dengan kata-kata itu. Jangan harap deh aku bakal merespon sms yang masuk padaku dengan akhiran itu. Malah bikin aku jengkel dan semakin tidak ingin membalas.

Kalimat GPL menempatkanku di tempat yang tidak bia mengendalikan kapan aku harus membalas sms, atau perlu tidaknya aku membalas sms. Dan aku gak suka. Aku yang menentukan iya dan tidak aku melakukan sesuatu termasuk membalas sms.

Suatu kali ada pesan masuk dengan nomer yang tak kukenal, isinya begini : “afwan, anti itu kakaknya aisyah ya? balas gak pake lama”. And you know what? Sms itu tidak kubalas sampe saat ini, bahkan langsung aku hapus begitu selesai kubaca. Itu kejadian sekitar 8 bulan yang lalu. Kenapa? Yang benar saja, seseorang yang tak kuketahui siapa, tiba-tiba saja sms menanyakan keluargaku tanpa tau apa maksudnya dan mendikteku untuk segera membalasnya. Padahal yang terpenting justru dalam sms itu, sertakan nama pengirim. I ignore that sms.

Tadi malam terulang lagi, seorang muridku meng-sms-i meminta tolong dicarikan tempat untuk PKL. Pas baca, niatku sudah mau balas, tapi pas di akhir sms ada tulisan “balas gak pake lama”, maka aku pun tidak membalasnya. Kata GPL menurutku adalah kata yang tidak menunjukkan penghargaan kepada orang lain. Menunjukkan bahwa di dunia ini yang penting adalah kepentingannya saja, maka apapun yang sedang kau lakukan, ada atau tidakada pulsa, kamu kudu balas sms GAK PAKE LAMA.

Suatu kali, pertengahan bulan juli, seorang adek di kost sms dan diakhiri kalimat “balasnya besok pagi aja”. Aku jelas bingung dengan kalimat itu. Pas pulang, aku tanya, maksudnya apa. Jawabnya gini :
“Mbak kan gak suka kalo ada yang sms dengan GAK PAKE LAMA. Jadi ya tak tulis besok pagi aja, maksudnya lama-lama balasnya juga gak apa”. Padahal itu sms penting lho menurutku :-)

Buat teman-teman yang tidak kubalas sms-nya karena kata GPL, aku minta maaf. Gak usah pake kata GPL untuk menandakan sms kalian penting. Aku insyaAllah akan balas sms tanpa harus pake GPL. Kata BLS atau BLS ASAP sepertinya lebih nyaman aku dengar. Lagian, kalo sms kalian benar2 penting, gak perlu pake GPL juga pasti dibalas kok, kalo ada pulsa maksudnya. Jadi, jangan pake kata itu lagi ya kalo sms aku, I don’t like it.

Wednesday, August 16, 2006

Rindu Untuk Ibu

Beberapa hari ini aku kangen banget sama ibuku, wanita yang dari rahim agungnya aku terlahir. Dalam pikiranku tak pernah lepas bayang wajah ibu. Saat ini, ia sedang terluka, hatinya aku tahu sedang terkoyak. Bukan ia yang memberitahuku, ia tak pernah memberitahukan kesedihannya padaku, karena ia selalu bisa melewatinya sendiri. Wanita tangguh yang ada di muka bumi ini begitu luar biasa. Seseorang memberitahuku tentang kesedihannya, dan akhirnya ia menyesalinya karena ternyata ibu berpesan untuk tidak memberitahukan padaku.

Ibu selalu begitu. Ia tak pernah ingin membuatku ikut dalam masalahnya. Ia selalu terbuka dengan bahagianya, dengan susahnya, tapi dengan lukanya? Ia tak pernah berbagi luka karena ia tak mau aku ikut terluka. Tak salah jika aku menganggapnya malaikat dalam hidupku.

Saat ini, sayap itu tengah terluka, teriris begitu dalam hingga mungkin akan patah. Tapi pemilik sayap itu selalu punya sayap lain, yang ia siapkan untuk kami, anak2nya, jadikan sebagai tempat berlindung yang nyaman. Berlindung dari peliknya permasalahan, berlindung dari sengatnya cobaan. Tempat ternyaman bagiku di dunia ini adalah dalam pelukan ibu. Masih kuingat dan kurasakan bagaimana hangatnya ada di balik pelukannya, dipenuhi aroma tubuhnya, menciumi setiap kulitnya, dan aku pun melayang ke langit dan tak ingin kembali.

Kini, ia tengah terhempas dalam sakit. Tapi keteguhannya tak terkalahkan bagai batu karang yang tetap kokoh di tengah lautan. Aku ingin bersamanya, berbagi kekuatan. Aku ingin memegang tangannya, menciumi tangan itu dengan sepenuh jiwaku, dan mengatakan padanya “Bu, semua akan baik-baik saja. Ibu punya Allah, ibu juga punya eby, dan itu cukup bagi ibu”. Tapi , aku tak bisa mengatakannya karena ia tak ingin aku ikut terluka.

Ibuku, wanita yang tak akan pernah habis cerita tentangnya, tak akan pernah usai lukisan kecantikannya. Ibu, aku hanya punya cinta. Yang tetap saja tidak sebanding dengan cintamu. Tidak mampu menggantikan peluh dan air matamu

Ibu, aku hanya punya doa. Memasukkanmu dalam relung hati saat doa terlantunkan. MemintaNYA menjagamu.

Ibu, ketegaranmu bagai oase dalam hidupku. Air matamu adalah pelecutku, senyummu adalah napas kehidupanku

Ibu, hati ini telah penuh dengan namamu, hingga berlubang hati ini merindukanmu
Allah, kutitip ibuku, karena Engkaulah sebaik-baiknya penjaga.

@Dalam keheningan malam, saat rindu ini tak terbendung lagi@

Sepi....

Bismillah..
Kesedihan mulai mewarnai dunia dakwahku di kampus. Tadi siang, salah seorang mbak yang kucintai karena Allah datang ke kost-an. Ngobrol-ngobrol hingga tiba saat ia menyampaikan rencananya pulang kampung, meninggalkan Surabaya sebelum ramadhan, it means kurang dari sebulan. Hati ini menangis lagi, kucoba membujuknya agar menunggu paling tidak hingga wisudanya nanti, tapi kerinduan berkumpul dengan keluarga sudah memenuhi pikirannya. Kuhargai keputusannya tapi ada yang tergores di hati ini. Apalagi ketika beliau memberitahu bahwa salah seorang mbak yang juga kucintai karena Allah juga akan meninggalkan Surabaya setelah Idul Fitri.

Lagi, aku merasa kesepian. Cerita yang kurangkai dalam kehidupanku bersama mereka terlalu indah. Pernah aku sadari, bahwa ada saat dimana kami harus bergerak maju, dan memilih jalan kami masing-masing, yang tak kusadari, sudah begitu dekat waktu itu tiba. Aku belum siap berpisah dengan mereka.

Ya Allah, bukan aku akan rapuh tanpa mereka, bukan aku akan mundur dari dakwah jika tak ada mereka, tapi aku mencintai mereka dan bukankah setiap cinta ingin selalu bersama yang dicintainya? Maka Ya Allah, teguhkanlah kami di jalan ini. Eratkanlah ukhuwah kami ini. Kami berkumpul karenaMU dan kami pun akan berpisah karenaMU.

Semakin kuat kusadari, bahwa ukhuwah ternyata begitu indah. Semoga jika tiba saatnya nanti kami terpisah, kami akan dikumpulkan kembali oleh Allah di pintu surgaNYA karena fisik kami terpisah, tapi darah kami mengalir di jalan yang sama dan ingin berujung di akhir yang sama.

Mbak anis, mbak ana, eby sayang anti. Eby pernah bilang kan kalo eby sayang? Dan akan selamanya begitu, insyaAllah.

NB : Sebelum di publish tulisan ini, dapat kabar kalo mbak ana sepertinya lebih awal kembali. Awal bulan depan sudah pulang kampung. hik..hik..aku mewek mewek lagi malam ini

Tuesday, August 15, 2006

Sudahkah Kita Tarbiyah?

Bismillah..
Aku punya satu buku baru. Judulnya "Sudahkah Kita Tarbiyah. Refleksi Seorang Mutarabbi", kalo gak salah tulisannnya Eko Novianto. Baru baca dua bab sih jadi belum bisa kasi komentar. Ada yang sudah baca?

Bukunya bagus. Pas baca itu, kadang manggut-manggut sendiri, kadang senyum sendiri, kadang juga mikir benernya. Memang banyak yang perlu dibenah.
Nanti kalo aku sudah selesai bacanya, baru deh dibedah disini. Intinya sih, jangan ngaku tarbiyah kalo cuma sekedar punya jadwal pekanan, kalo punya murobbi, kalo punya mutarabbi, kalo dapat materi yang berkelanjutan. Karena tarbiyah bukan hanya pada hal2 formal seperti itu. Tarbiyah itu perubahan. Sudah berubah gak sih kita?

Bahasnya nanti aja ya. Atau pada beli deh, insyaAllah gak rugi. Nanti kita bedah bareng2, setuju?

Amanah Baru

Bismillah...
Ada yang gak enak hari ini. Tadi pagi jemput dek Ega di bandara, pesawatnya lama banget landingnya. Aku di bandara sudah sejak jam 9. Katanya pesawatnya tiba jam 1.2 10, ternyata gak nongol2. Kira2 15 menit dari jam 9, pahri, my cousin muncul di depanku ikut jemput dek ega. Lagi ngobrol soal keluarga, ada sms dari dek ega yang bilang sudah landing. Alhamdulillah

Tunggu, gak muncul2 juga. Akhirnya ditelpon, katanya lagi nunggu satu karton belum ada. Tapi lamaaa banget. Ada kali 45 menit nunggu satu karton. Begitu keluar, ternyata kartonnya itu gak ada. Astaghfirullah, karton itu gak tau dimana. Sudah buat laporan sih dan katanya kalo mau nunggu sampe jam 1.

Pas aku tanya isi karton apa? Katanya kue kering dari Ambon, sagu plus ikan goreng. ADuuuh, itu kan gue banget. Aku sudah bayangin makan ikan sejak semalam. Sudah bisa juga ngebayangin ibu tadi malam masak ikan itu dan sekarang kartonnya gak ada. Penting banget tuh. Oke, mungkin ada yang mo bilang "cuma ikan ini". Jangan salah, gak ada deh yang nyamain bikinan ibu walau cuma ikan goreng. Apalagi ikan disini gak enak, gak ada rasanya. Makanya setiap ada yang datang, requestku ya ikan goreng. Biarin konyol. Enak kok.

Sekarang sudah jam 5. Tadi mutusin gak nunggu, nanti telp aja dan kalo sudah ada baru ambil di bandara. Tapi ditelpon berkali2 ke Lion Airnya gak nyambung2. Kok bisa ya kesasar? Jelas jelas di karton itu ada tulisan Surabayanya, kenapa bisa ketinggalan di makassar atau malah terus ke Jakarta?

Balikin dong ikanku.


Oh ya, ngomong-ngomong soal kedatangan dek Ega, berarti aku dapat satu amanah baru lagi. Setelah sebelumnya berdua sama dek eya sekarang kita bertiga. Rasanya kayak aku punya 2 anak yang harus aku urus. Gimana gak, kesimpulannya, aku pengganti ibu dan papa buat mereka. Memastikan mereka baik2 saja selama di rantau adalah tugasku. Ini tahun ke 10-ku keluar dari rumah orang tua, menjalani hidup di rantau, dengan itu semoga aku bisa membimbing adek2ku yang baru saja belajar mandiri, seperti ulat yang baru keluar dari kenyamanan kepompongnya menghadapi dunia luar. Dan aku, harus selalu ada di dekat ulat baru itu, hingga sayapnya tumbuh, indah dan dapat terbang sendiri. Bismillah, semoga amanah ini bisa aku jalankan dengan baik.

Ibu, Papa, dengan cinta dan kepercayaan kalian padaku, aku akan bagai mata air bagi mereka. Semoga. Doain eby ya

Monday, August 14, 2006

Mempertajam Kepekaan Spiritual

Bismillah..
Baru pulang ikut kajian akbar interaktif IKADI JAtim di Masjid Al Akbar Surabaya.
Temanya tentang "Mempertajam Kepekaan Spiritual" oleh Ust H Muhamad Sholeh Dreihem Lc. M.Ag.
Dari bahasan yang menarik, kesimpulannya satu : Kalo hati kita baik, kalo hati kita bersih, kepekaan spiritual kkta bakal tajam. Kalo sholat kita tidak lagi terasa nikmat, kalo tilawah kita tidak lagi masuk ke dalam hati, kalo qiyamul lail kita terasa berat, maka evaluasilah, bagaimana hati kita saat ini.

Ini ada oleh-oleh yang tidak seberapa yang ingin aku bagi. Semoga bermanfaat

Maksiat-maksiat yang Dapat Menjadi Racun Bagi Hati:
1. Banyak berbicara. Belebih-lebihan dalam berbicara. Tentu saja ini dimaksudkan untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat. Lisan hanya harus untuk amar ma;ruf nahi munkar dan berdzikir. Dari Anas Bin Malik : "Tidak akan lurus iman seseorang, jika tidak lurus hati seseorang. Tidak akan lurus hati seseorang jika tidak lurus lisannya"

2. Mengumbar pandangan mata. Melihat yang diharamkan Allah dengan syahwat. Perangkap setan itu masuknya lewat mata. Awalnya memandang, kemudian senyum, diteruskan ke saling salam, kemudian berbicara. Sudah itu buat janji dan bertemulah. Saat itulah setan hadir diantaranya. Sungguh, pandangan mata adalah anak panah beracun yang dipanahkan oleh iblis kepada manusia

3. Berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi makanan. Hadits "Tidak ada bejana yang paling kubenci selain perut yang diisi penuh dengan barang yang halal". Halal aja gak disuka kalo berlebihan, kebayang dong gimana kalo haram

4. Salah dalam memilih teman. Teman disini ada dua jenis. Pertama, teman hidup/pasangan. Kudu selektif milih. Kalo yang ini panjang banget bahasannya tadi tapi aku gak mau bahas sekarang. Teman yang kedua, teman karib. Karena kualitas iman seseorang bisa dilihat dengan siapa dia bergaul.

Kalo sudah tahu 4 yang bisa meracuni hati, kita berarti perlu tahu juga obatnya. Ada 8 resep untuk menghidupkan hati.
1. Dzikrullah
2. Tilawatil Qur'an. Yang ini jangan karena kejar target, tapi berusahalah benar2 membaca dengan hati
3. Istighfar. Rasulullah saja tiap hari beristighfar 70-100 kali
4. Do'a
5. Shalawat kepada Nabi. Shalawat yang paling dicintai RAsul adalah Shalawat Ibrahimi, yang kita baca pas tasyahhud akhir itu lho
6. Qiyamul lail
7. Zuhud terhadap urusan dunia. Maksudnya meletakkan dunia secara proporsional
8. Selalu mengevaluasi diri

Ada bonus nih. Ada 4 sifat yang harus dimiliki para penegak amar ma'ruf nahi munkar. Yaitu lembut, sabar, tenang menghadapi masalah dan berdo'a.

Semoga bermanfaat ya. Afwan Jiddan

Sunday, August 13, 2006

Haruskah Aku Menangis?

Tak bisa kutahan perasaan pagi ini. Hatiku sesak berisikan sebuah puzzle raksasa kepingan bernama KECEWA. Seseorang yang selama ini kubanggakan, pahlawan dalam hidupku, kini ia pula yang melemparku jauh dalam kekecewaan.

Serasa tubuh ini diangkat setinggi-tingginya, kemudian dilemparkan begitu keras ke sebuah gurun bernama GURUN KEKECEWAAN, justru oleh orang yang tidak pernah mengecewakanku selama ini dan kupikir akan selamanya begitu sampai aku atau ia menutup mata. Meninggalkanku disana tanpa ada perbekalan walau hanya setitik air. Tak kupercaya ini terjadi dalam hidupku. Begitu banyak yang terjadi, banyak hal yang sudah kulalui. Satu persatu kubenahi, mencoba melihat dari sisi yang lain setiap permasalahan, mencoba merubah arah sayapku ketika angin kehidupan menggoyangkan hidupku. Tapi, kali ini, sisi apa yang harus kubenarkan? Alasan apa yang bisa kuterima? Tidak, aku tidak bisa menerimanya. Untuk alasan apapun, aku dan orang-orang yang kucintai tidak bisa menerima ini. Tidak kupercaya. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Tidak, aku tidak ingin mempercayainya. Allah, mengapa ini terjadi? Kenapa ini terjadi? Allah, bukan ku menolak, kuhanya pinta kekuatan KAU alirkan untuk kami.

Aku masih ingin menganggap ia pelitaku, hadiah terbesar Allah untukku, masih ingin menganggap ia-lah napasku. Tapi apa aku masih punya alasan untuk itu? keyakinanku tidak sekuat dulu lagi. Oke, aku akan fair. Aku tetap harus mendengar penjelasannya terlebih dahulu. After that, we will see, apa ia masih pelitaku yang terang benderang, ataukah ia telah menjadi pelita yang meredup bahkan mati.

Buat yang juga sakit, Allah tidak akan menguji kita di luar kemampuan kita. Bahu ini, tempat untuk kalian menangis. Dan jangan mengira aku tak punya hati jika tak ada air mata. Bukan aku tidak punya empati, Saat ini, ia tak pantas mendapatkan air mataku. No matter what, I am with all of you.

Saturday, August 12, 2006

A Lovely Pet

Semalam ada berita duka dari mita, sahabatku. Beberapa hari yang lalu, mita kecelakaan. Tapi alhamdulillah sudah gak apa. Yang terbaru, kemarin ayam peliharannya mita meninggal. SMSnya dengan ikon sedih gitu.

Aku bisa bayangin gimana sedihnya mita, dia pasti nangis nangis soalnya ayam itu dia pelihara sejak kecil. Pas burung peliharaannya mati, mita juga sedih banget dan aku liat itu. So, sekarang bisalah aku bayangin sedihnya mita sekarang.

Tiba-tiba aku teringat dengan nuri, burung nuri peliharaan tante sekeluarga waktu masih di ngagel. Burung itu sudah lamaaaa banget jadi bagian keluarga itu. Sampe-sampe sudah menyatu banget dengan kami. Waktu nuri meninggal, suasana rumah ngagel kayak orang berkabung. Tante, Om, Mas Buyung dan Mbak Ratih kehilangan banget. Tante berhari-hari nangisnya. Kadang malah duduk dengan tatapan kosong memandangi tangga rumah, tempat dimana nuri melakukan aktivitas kesehariannya, dan tidak berapa lama kemudian, tante pun menangis tanpa suara. Selalu begitu berhari-hari.

Mas memasukkan nama Nuri dalam daftar terimakasih skripsinya, mbak sibuk menyalahkan mas yang gak peka kalo nuri lagi sakit dan kenapa gak dibawa ke dokter. Aku? Aku kehilangan juga, walau memang tidak sebesar tante, mas dan mbak ratih. Gimana gak kehilangan? Sudah beberapa kali aku diberi gigitan cinta kalo ngasi pisang. KAdang kami jadi sahabat baik dengan nuri bergelantungan di bahuku, kadang juga dia agak galak. Satu lagi yang kehilangan, bukal. Dia yang selalu mandiin nuri, dia yang selalu beri makan nuri, maen bersama nuri bahkan mereka bisa bercanda saling gigit.

Makam nuri di bawah pohon belimbing depan rumah ngagel sudah gak pernah dikunjungi lagi, soalnya tante sekeluarga sudah pindah ke driyorejo. Disana, ada nuri baru lagi. Masih kecil. Belum sedekat almarhum nuri tapi sudah mulai bisa berinteraksi. Merespon kalo diajak ngomong, ikut teriak2 protes kalo kita gak ngasi makan dia padahal kita sendiri lagi makan.

Aku gak pernah punya binatang peliharaan. Dulu pengen punya ayam. Sudah ada ayamnya, tapi baru beberapa jam, mati di depan mataku sendiri. Waktu itu rasanya takuuut banget. Trus pengen punya kelinci, sudah siap2 beli, tapi mikir lagi. Aku gak telaten, kasihan kalo mati juga. Gak jadi.

Sekali waktu pernah punya bunga. Bunga pemberian salah satu teman se-kajian pekanan. Waktu ngasih, dia bilang "mbak ebhy, anti harus jaga bunga ini. Selama bunga ini baik2 saja, berarti ukhuwah qta baik2 saja walaupun qta jauh". Waktu itu aku merinding. Gak mau dong, ukhuwah tergantung pada satu pot bunga. Jaga sih bakal jaga tapi kalo ukhuwahku dipertaruhkan dnegna bunga ini, aku gak mau. Soalnya aku gak telaten ngurusi hal2 seperti itu. So, aku ngomong aja "Afwan ukh, bukannya pesimis tapi bunga ini kayaknya gak bakalan lama hidup kalo aku yang pelihara. Jadi jangan deh ukhuwah jadi taruhannya"

Dan benar saja, usia bunga itu gak sampe 2 bulan. Aku gak telaten nyiram plus ganti tanah. Apalagi pupuk, gak pernah ngasih itu. 2 minggu lalu waktu kajian pekanan, dia tanya "mbak, gimana bunganya? masih hidup?
Aku bilang aja "Afwan, udah lama banget matinya. Usianya cuma 2 bulan. Afwan ya"
Dia ketawa dan bilang "Mbak..mbak, gak telaten amat sih. Padahal aku sudah sengaja milih bunga yang paling mudah rawatnya"

Aku jadi malu sendiri. Bunga yang paling mudah perawatannya saja bisa mati dengan cepat di tanganku. Bagaimana dengan bunga yang perlu perlakuan khusus?

Terpikir satu hal, aku pengen punya kaktus saja deh.

Mungkinkah Kami Meninggalkan Da'wah?

Jika olahragawan bisa mengalami masa pensiun karena usianya yang renta dan kekuatan fisiknya yang melemah. Jika seorang pegawai akhirnya menemui saat pensiun karena usianya telah melewati batas ketentuan umum kepegawaian. Jika seorang artis harus meninggalkan pentas karena keterampilan dan keindahan aktingnya telah digerogoti usianya. Tapi, para juru da'wah, tidak mengenal kamus pensiun dan berhenti dari panggung da'wahnya. Kami dan saudara saudara kami di jalan ini tidak mengetahui ada kondisi yan mengharuskan kami mundur dari gelanggang da'wah karena faktor usia, kemampuan fisik yang menurun, pikiran yang sulit difungsikan secara maksimal, atau bahkan karena kondisi ekstrenal yang memaksa kami untuk mundur. Singkatnya, kondisi apapun tidak akan menyebabkan kami 'uzlah atau pergi meninggalkan jalan ini.

Di jalan ini, kami mempelajari bagaimana kisah sebagian Anbiya dan para da'i yang pernah memilih 'uzlah dari tugas da'wahnya. Kami merenungi secara seksama baaimana orang-orang sebelum kami mundur dari arena da'wah dengan alasan para objek da'wahnya. Diantara banyak kisah itu, adalah kisah Nabiyulah Ibrahim as tatkala ia berniat menjauhi kaumnya dan tidak mau menghadapi problematika da'wah yang ia hadapi dari kaumnya seperti yang tergambar di Surat Maryam ayat 48-49.
Ada pula kisah Nabiyullah Musa as seperti dalam Ad-Dukhan : 20-21. Ada pula kisah pemuda Kahfi yang menghindar kaumnya degan berlindung di dalam gua

Tulisan diatas adalah sedikit pembuka esai "Mungkinkah Kami Meninggalkan Da'wah?" yang bisa antum antunna baca di bukunya M Lili Nur Aulia "Beginilah Jalan Da'wah Mengajarkan Kami" terbitan Da'watuna.

Tulisan itu kurenungi kembali setelah baca tulisan di blog ukhti fathi (Syukron ukhti) saat dimana BEM UI suksesi. Membaca tulisan fathi, aku seperti dibawa ke bulan depan. Bulan depan, KMBI, LDK tercintaku insyaAllah akan suksesi. Penggambaran fathi kuat banget membawaku mencoba meraba "seperti itukah rasanya bulan depan?". Tidak lagi ada di sana, memberi kesempatan kepada ruh baru mengisi pos yang akan kutinggalkan. Rasanya seperti tak rela tapi setiap zaman ada batas waktunya. Mungkin waktuku sebentar lagi habis.

Memang, tak ingin benar2 kutinggalkan KMBI-ku. Hanya saja, tidak lagi memiliki KMBI secara utuh, aku perlu menata hatiku. Karena, aku terlanjur membayangkan, aku ada di sekret KMBI bersama saudara2 tercintaku melakukan banyak hal, menyusun konsep demi konsep dan sebagainya.
Sudahlah, harus kuoptimalkan sebulan tersisa ini. Sekret itu harus mendapat sentuhan tanganku. Ingin kuukir sejarah di dalam sekret itu. sekret Ruhul Jaddid Fii Jasaadil Ummah

Dan pasca itu, jika ada yang bertanya "Mungkinkah kami meninggalkan da'wah?". Maka hanya ada satu jawaban : "TIDAK, TIDAK ADA KEMUNGKINAN ITU. KAMI AKAN JADI BAGIAN DA'WAH HINGGA KAMI MEMENANGKANNYA ATAU KAMI MATI KARENANYA"

Ada juga akhirnya kelas yang tenang

Ini minggu ketigaku ngajar.
Minggu pertama yang berlalu dengan permainan emosi. Minggu kedua dengan kelas yang berbeda tapi lebih tenang dari kelas di minggu pertama. Ada sih yang nakal tapi wajarlah, masih bisa kutolerir.
Dan minggu ketiga ini benar2 tenang. Tanpa harus teriak teriak, mereka sudah tenang. Menjelaskan dengan suara yang pelan pun, yang duduk paling belakang sudah bisa dengar, saking tenangnya. Kelasnya juga lebih hidup. Diskusi berjalan lebih semarak. Gue banget deh. Sayang besok gak ngajar soalnya sekolah mulai Porseni menyambut tujuh belas agustus.

Maafku

Katanya, setiap manusia punya kembaran 7 di dunia. Aku sih sudah pernah lihat 2 orang yang mirip aku. Gak mirip-mirip banget sih, ada-lah bagian yang mirip. Itupun kata orang2 yang melihatnya. Tadi, waktu masuk kelas, salah satu muridku menarik perhatian. Wajahnya mirip dengan seseorang dari masa lalu. Mirip banget sampe2 aku tidak berhenti memfokuskan pelajaran hari ini ke dia. Menanyakan materi, memberi ia kesempatan berbicara, hanya ingin mencoba melihat lebih jauh apa cuma fisik saja? Ternyata cara ia duduk, cara ia melihat, mirip.

Murid itu menarik perhatianku karena seseorang dari masa lalu itu tidak kutahu lagi dimana rimbanya. Daerahnya adalah daerah yang baru saja terkena bencana. Aku tak tahu apa ia masih hidup dan aku pun tak tau bagaimana mencari tahu. Entahlah, tipis banget antara “tidak tau bagaimana mencari tahu” dengan “tidak mau tahu”.

Pernah sih ada masalah, dan itu membuatku sangat kecewa. Tapi harus kuakui, aku juga telah mengecewakannya. Maaf itu sudah terucap, tapi melupakan? Bagian itu yang sulit. Dimanapun anda, aku minta maaf telah mengecewakan. Kita sama2 terluka, tapi untuk anda tahu, lukaku sudah sembuh, kuharap lukamu juga sudah. Semoga yang terbaiklah yang sedang kau jalani sekarang. Terimakasih pernah telah membuatku bahagia berteman denganmu

Wednesday, August 09, 2006

The 6ers, The 6ers +, dan The 6ers ++

Kabar baik datang dari memet The SIXERS. Sabtu kemarin memet tunangan sama hilda. Acaranya di Gresik di rumah Hilda, jadi aku gak datang soalnya pasti pulangnya malam banget.

Buat memet dan hilda, aku pengennya kalian cepat2 nikah. Tak bantu deh nyiapinnya. Hil, kayaknya bentar lagi kamu bakalan jadi "The SIXERS +". Selamat Bergabung di Dunia SIXERS penuh warna.

Kabar dari The SIXERS lainnya, endhy. Baru saja diberi karunia oleh Allah, bayi mungil bernama Muh Rangga Pratama. Kalo Budi, nama suami endhy itu "The SIXERS +", maka si kecil Rangga jadinya "The SIXERS ++"

Buat seluruh The SIXERS + dan The SIXERS ++, selamat Bergabung.
The SIXERS, brotherhood never ends

Ada Apa Sih Ini?

Hati ini rasanya teriris. Aku kosong, aku merasa hampa. Serasa dipermainkan oleh keinginan2 orang lain. Ingin rasanya berontak, ingin rasanya berteriak mengatakan bahwa aku juga manusia, bahwa pendapatku juga harus didengar sebelum kalian menentukan sesuatu yang ada sangkut pautnya pada diriku.

Oke, aku tetap teguh dengan prinsip ketsiqohanku tapi tidak bolehkah aku tahu kenapa itu yang diputuskan? Kenapa tidak mendengar pendapat dulu? Kenapa tidak mengajakku bicara dulu. Tiba2 saja aku diberitahu tentang perubahan. Tidak, aku tidak memprotes perubahan itu. Tapi salahkah kalo aku ingin tau mengapa ada perubahan? Bahkan Imam Hasan Al-Banna pun mendahulukan paham daripada tsiqoh. Kali ini, aku tetap tsiqoh, aku hanya ingin tau kenapa. Itu saja. Berlebihankah?

Tuesday, August 08, 2006

Gagal = Allah punya rencana lain

”Mbak, hari ini aku gagal”. Kata seorang adek sekost-an
Setelah mengatakan itu, bahuku langsung dirangkulnya dan ia pun menangis di bahuku. Aku tak ingin bertanya apa-apa. Kubalas rangkulannya, kupeluk ia erat-erat, mecoba mengalirkan kekuatanku, mencoba hingga ia bisa merasakan dari pelukanku bahwa aku bersamanya, aku merasakan kepedihannya

Ia hanya menangis, tak berbicara apa-apa. Dan aku pun tak mau memaksa ia bicara.
“Menangislah dek. Keluarkan semuanya. Menangislah, tidak ada yang salah dengan menangis” kataku

Setelah menangis, ia lepas rangkulan itu dan mengalirlah cerita tentangnya hari ini yang membuat ia begitu terluka. Untaian kata demi kata ia kisahkan hingga seluruh perasaan itu tumpah. Masih dengan air mata yang sama, kebingungan dan ketidakpercayaan bahwa ini terjadi pada dirinya. Dibuka dengan ..
“Mbak, aku gagal lulus tahun ini. Dosen pembimbingku tidak mengizinkanku maju. Tadi aku bahkan sudah dalam ruangan tapi aku tidak diizinkan berbicara, partnerku yang maju dan aku tidak diizinkan. Aku gak tau mbak, kenapa bapak itu segitu teganya…..”
Panjang mengalir kisah darinya sejak ia mulai mengerjakan TA hingga tiba waktunya, harus terganjal di salah satu dosen yang menurutku tidak cukup bijak.

Aku berusaha menyelami perasaannya. Tidak sulit untukku, karena aku pernah berada di tempatnya. Bedanya, ia masih begitu rapuh menerimanya. Kuyakinkan pada dirinya bahwa ada rencana Allah yang lain untuknya, rencana yang lebih indah. Aku sangat megerti perasaanya. Perasaan yang dimiliki oleh seluruh manusia di muka bumi, perasaan tidak ingin menyakiti orang tua, tidak ingin mengecewakan mereka. Ingin rasanya ia pulang ke rumah dan mengabarkan kelulusannya, tapi itu harus tertahan sampai tahun depan. Padahal seharusnya itu bisa ia lakukan sekarang.

Penghargaan terhadap proses, itulah yang seharusnya setiap orang bisa lakukan. Atas nama kepentingan pribadi, atas nama kepentingan nama pribadi, tidak semestinya dijadikan pembenaran bahwa orang lain boleh diabaikan. Proses yang telah dijalani orang lain seharusnya menjadi satu pertimbangan dan layak mendapat penghargaan kecil, paling tidak kesempatan. Berada pada posisi posisi penting, pada posisi dibutuhkan pun tidak seharusnya membuat kita takabbur dan merasa berhak menentukan hidup seseorang harus berhenti kapan, kuliah seseorang harus selesai kapan.

Kepada bapak yang di luar sana, adekku ini sudah bisa menerima apa yang Allah putuskan untukNYA lewat bapak. Tapi, ia hanya minta bapak tidak dengan dzhon bapak bahwa ia hanya ndompleng. Karena bapak tidak tahu, siang malamnya habis untuk menyelesaikan TA ini, yang tidak sedikit pun bapak hargai. Ia memaafkan bapak, walaupun bapak tidak meminta bahkan mungkin bapak tidak merasa bersalah. Tapi ia sudah tidak menyalahkan bapak lagi. Terimakasih ya pak telah melukai adekku itu.

Adekku sayang, you aways have my shoulder to cry on. InsyaAllah orang tuamu bisa mengerti bahwa tidak ada maksud dirimu mengecewakan mereka. Kau telah melakukan yang bisa kau lakukan, tapi ada saat dimana takdirlah yang akan berlaku. Dan dek, wilayah takdir adalah wilayah dimana kita tidak punya pilihan selain MENERIMA. Yakinlah bahwa gagal adalah bukan karena kita tidak bisa, tapi gagal adalah karena Allah punya rencana yang lain untuk kita, tentunya rencana yang jauh lebih indah dan satu hal lagi, percayalah bahwa semua akan datang pada saat yang tepat.

Monday, August 07, 2006

Kisah My Dear GPS lagi...

my GPS kehilangan sendalnya di masjid tadi. Ini syuro terakhir “Palestina Training Centre” bersamanya. Tapi, ketika kita masih mencari dan belum ketemu berbumbu pertanyaan kok bisa? Terdengar ada seorang bapak yang bertanya “sepeda saya mana? Tadi saya parkir disini?”

Subhanallah, maha suci Allah, ampuni kami yang tidak tau bersyukur ini. Baru Engkau uji dengan kehilangan sendal saja sudah kebingungan, padahal ada hambaMU yang kau uji dengan kehilangan sepeda. Ampuni kami ya Allah

Akhirnya, ia mengantarku pulang tanpa sendal. Ukhti, ini bagian kisah indah perjuangan kita di LCD. Jangan lupa ya masukin di biography tentang tim kita yang denger2 mau anti buat.

Ana uhibbuki fillah. Hati-hati berangkat besok. Kita masih se-DPW kan? So, masih ada lah kemungkinan ketemu. Kayaknya bakal jadi Kewanitaan DPW sana nih, kata anak-anak.
Kangen dari eby-mu selalu

Ikhwan kok manja

Ada ya ternyata ikhwan manja? Malees banget deh...
sudah 2 ikhwan manja kutemui. Gak banget deh
Diminta tolong ini, gak bisa, diminta ngerjain itu, belum apa-apa udah bilang gak bisa. Padahal kita para akhwat malah sudah beritau caranya. Apatis banget. Emang sih, konseptor plus revolusioner abis, tapi kalo cuek bebek gitu dengan keadaan sekitar, nanti dulu mas. Katanya ikhwah harus saling bantu. Tapi kok apatis banget dengan hal2 teknis gini. Gak bisa gitu juga kali..

Sampe-sampe ada celetukan akhwat iseng gini "Bukan ikhwan idaman". Denger akhwat itu bilang gitu, ana hanya bisa menimpali sambil senyum, "Hati-hati lho ukhti dengan ucapannya"

Sunday, August 06, 2006

Gelombang Putih Itu

6 agustus 2006
Dingin yang mendera menghentikan langkahku untuk beranjak
Namun ...
Tersentak oleh gencarnya pemberitaan hangat suasana di luar sana
Terbayang kembali gelombang putih meneriakkan AllahuAkbar di jalan Raya
Dingin itu pun pergi
Ia tak mampu lagi menghentikan langkahku
Ia tak mampu mengalahkan satu keinginan sederhana
Menjadi bagian gelombang putih itu, sekali lagi
Toh, hanya dingin
Nun jauh disana, Peluru peluru seperti hujan
Maka dingin ini belum seberapa
Jika nanti, dingin itu menerpa kembali
Tak akan ku mengeluh
Akan kunikmati lagi
Karena aku telah menikmati hangatnya gelombang tadi

Sunday, July 30, 2006

Hari-Hari Pertamaku Jadi Ibu Guru..

Minggu pertamaku ngajar. Minggu yang berlalu dengan menyenangkan tapi juga menghabiskan emosiku. Kelas yang kupegang untuk minggu ini (tiap minggu, aku megang kelas yang berbeda), benar2 membuatku terkuras emosi. Hari pertama, selasa, aku cuma capek saja karena harus teriak2 saking ramenya mereka. 45 menit pertama berlalu dengan baik-baik saja. Hingga....
"Cukup dari saya. Ada pertanyan?" Tanya saya menutup penjelasan tentang MOSFET dan SCR
Kelas hening.....
"Ada yang kurang jelas mungkin?" Ulang saya
Masih hening....
"Oke, kalo tidak ada pertanyaan, saya anggap sudah jelas. Kita pindah ke materi berikutnya" Kataku dengan tegas
Tiba-tiba ada suara : "Bu, kecepetan. Gak ada yang nyantol dari tadi"
WHAT????? 45 menit aku teriak2 ternyata gak ada yang ngerti? Gedubrak!!!! Emang sih aku kalo ngomong cepet, tapi perasaan tadi sudah pelan deh. Akhirnya, ngulang lagi dari nol dengan ritme yang lebih lama. Herannya, masih ada jugayang bilang cepet. Gak, aku gak mau ngulang lagi. Bisa kering nih. Toh yang belum paham hanya beberapa, aku suruh ke ruang jurusan aja, di-privat disana sambil minum teh panas. Asyik tho??

Hari kedua, jumat, aku emosi tapi masih bisa kukendalikan dengan sekedar meninggalkan ruangan dan menenangkan diri di ruang jurusan.

Dan hari ketiga, sabtu, hari terakhirku bersama mereka, aku gagal menahan emosi. Aku marah bahkan 5 spidol yang ada di tanganku ku lempar di atas meja dan kutinggalkan ruangan itu. Bukan apa-apa, aku masih bisa menerima kalo mereka rame. aku masih bisa tolerir kalo mereka guyon, bahkan aku ikut tertawa bersama mereka. mereka mokong, aku masih bisa nahan, wajarlah anak smu, stm lagi. Tapi aku tidak bisa tolerir ketika mereka berbohong. Sama sekali tidak. Maka ketika mereka ngotot dengan kebohongan dan tidak mau mengaku bahkan bertingkah di depanku seolah-olah aku salah telah memarahi mereka aku tidak terima. Kuputuskan untuk pergi, bukan berlari. Pergi untuk menenangkan diriku, menangis di ruang jurusan karena aku tidak suka dibohongi. Pergi untuk memberi kesempatan pada mereka merenungi kesalahan mereka. Dan setelah ketiga siswaku yang ingin kusayangi itu datang dan meminta maaf dan mnegakui kebohongannya, maka pergilah semua marah. Even mereka tidak minta maaf pun, aku memaafkan. I just need a time to handle my self.

Aku pun kembali, mencoba berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Meminta mereka untuk lebih baik bersikap. Menghargai orang tua mereka yang sudah membawa mereka sampai ke titik ini. Aku ingin menjadi sahabat mereka. Dari cara mereka menatapku, dari intonasi suara mereka menjawab serta menanggapi pembicaraanku, aku tahu kami sudah saling memahami.

Allah, mudahkanlah lisan ini untuk berbicara agar mereka bisa mengerti yang aku bicarakan. Aaamiiin

Tuesday, July 25, 2006

Debar Itu Lagi...ada di LCD

Laskar Cinta Dakwah berkumpul kembali.

Agendanya, menggodok tim pengganti LCD yang akan reposisi.

Prosesnya, Mendebarkan. Debaran itu muncul lagi. Debaran ketakutan, kecemasan akan sebuah tanggung jawab untuk memilih orang-orang terpilih menurut versi kami, menurut pemahaman kami yang tak seberapa ini. Debaran yang sama saat awal tahun lalu.

Ya Allah, Engkaulah penggenggam hati-hati kami. Tuntunlah hati kami untuk memilih yang tepat. Kami mohon Ya Allah, karena tiada daya dan upaya selain dariMU

Hasil, belum final.

Friday, July 21, 2006

Lumpur LAPINDO

Hari ini aku&rekan2 KMBI bersama rombongan dari UKKI UPN ikut dalam kunjungan YPU (Yayasan Peduli Umat) ke daerah pengungsian korban Lumpur Panas Lapindo. Perjalanan 1 1/2 jam dari kota Surabaya, akhirnya sampailah kami ke tempat pengungsian tersebut.

Setelah mempersiapkan segala sesuatu, kami membagi tim menjadi 2 bagian. Ada yang tetap di lokasi untuk lomba menulis surat untuk Lapindo. Tim yang lain ke beberapa sekolah untuk lomba yang sama. Aku memilih yang ke sekolah.
Kepolosan anak2 itu yang senyum di kala rumah mereka tergenang lumpur. Bincang2 dengan mereka, ternyata ada satu persamaan. Setiap mereka, selama masih bersama orang tua mereka, mereka tidak peduli di rumah atau di pengungsian, bagi mereka sama saja. Asalkan ada orang tua mereka di sampingnya.

Keadaannya begitu memprihatinkan. Lumpur masuk ke dalam rumah-rumah setinggi kaki. Entah sampe kapan mereka akan ada di pengungsian itu. Pergi dan pulang sekolah, mereka diantar dan dijemput oleh truk angkatan. Memprihatinkan tapi mereka tertawa. Mungkin air mata mereka telah habis. Mungkin mereka sudah mulai menerima pengungsian sebagai dunia mereka.

Sayangnya, saat adzan dhuhur di pengungsian, musholla yang mereka buat di tempat itu hanya dipenuhi oleh orang tua perempuan dan orang tua laki-laki. Mereka yang shalat sudah sepuh. Tidak satu pun aku lihat pemuda yang shalat berjamaah di musholla itu selain kami. Masih tidak bisakah mereka melihat kuasanya Allah? Masih tidak sadarkah mereka bahwa mereka, kita, kami harus kembali? Ya Allah, jangan jadikan kami orang-orang yang lalai. Yang tidak bisa mengambil hikmah dari setiap pelajaran yang Engkau tunjukkan.

Sisi lain dari kunjungan itu, aku melihat para ikhwah yang bekerja di YPU. Subhanallah, karena mereka bisa bekerja di tempat yang kondusif. Mereka bisa mencari maisyah dengan tetap berada di jalur dakwah, dekat dengan para ikhwah dna tidak kehilangan idealisme serta prinsip. Senang rasanya jika kita bisa bekerja tapi tetap bisa selamanya bersama dunia ikhwah.

Tapi, bagi ikhwah yang tidak bekerja di dunia ikhwah, bersabarlah. Dimanapun engkau, dimanapun kita, berkontribusilah untuk perubahan.

Thursday, July 20, 2006

Gue Jadi Korban Sistem Gak Fair Nih....

Sebel, sebel, sebel. Tadi siang ke THR ikut training blog tapi aku malah apes. Trainningnya sih bagus tapi aku pan kesitu bukan untuk belajar buat blog tapi bagaimana mempercantik blog sesuai temanya, soalnya blog-ku ini standar banget, gak ada lebih2nya dikit. Eh, sampe sana malah diajari buat blog dan macam2. Tapi yang ini sih masih oke, paling tidak ada ilmu deh yang aku dapat timbang gak tau sama sekali.

Yang paling bikin aku sebel itu peraturan administrasi bank konvensional yang lintah darat abis. Aku pengen beli buku about blog yang harganya pas aku liat sih 20rb. Berhubung di dompet gak cukup, aku turun dulu dong nyari ATM BNI. Eh, malah rusak. Sebelahnya ada BCA. Ya sudah, masuk aja. Paling2 dipotong 2rb atau 3rb kayak di mandiri. Setelah duit keluar berikut struknya, mulutku menganga. Kenapa bisa berkurang banyak? Kuambil struk terakhir pengambilan di ATM dan kubandingkan dengan struk yang terbaru, ternyata bedanya 75 ribu, padahal aku cuma mo ambil 50ribu. Gila gak sih, 25 ribu hanya untuk pengambilan via ATM lain. Benar2 rentenir. Aku pengen nangis, mengingat sebenarnya kebutuhanku masih banyak banget tapi kenapa harus terbuang sia-sia seperti itu? nasi sudah jadi bubur. Kata Aa Gym, tambahin aja kacang polong, ayam dan macam2nya, trus dimakan deh, pasti enak.

Ya sudah, balik lagi ke stand komputer aktif dan beli buku tentang nge-blog itu. Beli buku itu aku dapat majalah IDEA empat buah. Sebenarnya kalo mau dibandingkan, aku masih tetap untung. Satu majalah IDEA harganya 15ribu. Dari beli buku itu aku dapat 4, pas pelatihan tadi juga dapat 1. totalnya aku dapat 75ribu. Trus dapat majalah intisari juga. Harganya 18ribu. Total aku dapat majalah gratis sebesar 93ribu dikurangi 25ribu pemotongan ATM tadi plus majalah komputer aktif seharga 28ribu(ini untuk kupon masuk pelatihan), aku masih untung 40ribu. So, ya sudah deh. Bukan rezekiku.

Pas di lyn pulang, aku buka2 majalah IDEA. Pengennya sih mencari sesuatu yang bisa kusuka dari majalah itu supaya menambah kesyukuranku dan membuatku cepat menghilangkan mangkelku. Tapi pas aku bolak balik, aku kok jadi bete. Majalah itu tentang desain rumah dan interiornya. Gak aku banget. Maksudnya majalah itu bukan konsumsiku. Majalah itu isinya rumah2 bagus2 semua dengan budget yang gede. Aku kan gak pengen punya rumah segede-gede itu, siapa juga yang mo ngurusi. Aku pengennya besok2 punya rumah yang kecil, sederhana tapi bersih dan asri. Majalah itu buat aku untuk memanjakan mataku saja liat yang seger2, liat yang indah2 tapi bukan kebutuhanku.

Yaaa, ini bukan masalah 25ribunya sih. Harta masih bisa dicari. Kalo bukan rezeki kita, trus mo diapa? Yang aku sesalkan kenapa 25ribu itu larinya harus ke orang2 yang sudah gendut perutnya. Kenapa gak ke yang lebih membutuhkan saja? Aku jadi korban peraturan yang menurutku gak fair. Dan ini juga salah satu teguran Allah ke aku yang mungkin belakangan ini jarang berinfak.

Bu Febry....??!!??!

Jam 10 tadi ada rapat jurusan teknik listrik di SMK tempatku mulai mengajar tahun ini. Dalam perjalanan, little bit nervous. Ngebayangin aku bakal rapat dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang usianya jauuuuuh banget di atas aku. Masih bisa gak ya idealisme dan keberanianku berbicara yang selama ini muncul dalam syuro-syuro kampus bisa kusalurkan disini? Atau aku harus duduk mnais dulu, wait and see.

Kulangkahkan kaki menuju ruang jurusan dan disana sudah berkumpul semua guru jurusan teknik listrik. Mereka sedang tertawa bersama sambil minum secangkir kopi susu dan gorengan. Bismillah..kulangkahkan kaki masuk dan langsung disambut ramah oleh Pak Mudianto, ketua jurusan.

"Silahkan masuk, bu Febry" Katanya.
(what, ibu???? aku dipanggil ibu????)
"Iya pak, terimakasih" jawabku sopan

Pak putu, salah satu guru sekaligus staf di urusan itu mengambilkan tempat duduk untukku dan meletakkannya di dekat bu Endang, satu-satunya guru cewek di jurusan itu yang mau pensiun bulan januari tahun 2007.

Rapat berjalan lancar. Ternyata rapat bersama para bapak-bapak ini malah lebih santai, lebih wise dan tenang. Mereka tidak merasa paling benar. Aku yang paling muda selalu ditanya pendapatnya. Fair banget.

Yang bikin salting sih, ketika setiap orang disitu berbicara padaku dengan tetap memanggilku "bu febry". Waktu pak putu berjalan ke arahku dan bertanya kesulitan apa yang perlu ditanyakan tentang jadwal ngajarku, beliau datang dan bilang :
"Gimana bu Febry, ada yang belum jelas?"
Aku pengeen banget ketawa. Aneh banget dipanggil seperti itu oleh beliau. Masalahnay beliau itu kakak tingkat di kampus. Jauh di atasku. Beliau masuk kuliah tahun 1987. Aku masuknya 2001. Waktu beliau kul, aku masih umur 4 tahun. Dan sekarang aku dipanggil ibu, please deh.

Tapi kayaknya aku harus membiasakan diri deh. Minggu depan kan semua siswa juga bakal manggil aku "Bu Febry". Rasanya pipiku memerah

i really miss them....

Adek eya pulang ke ambon kemarin. Aku ditinggal sendirian di kos. Tadi malam juga cuma bertiga. Tiba2 aja aku jadi kangen banget sama eya. Tadi pagi, pas ditelpon lagi rame banget. Ngobrol sama eya, di belakang ada suara papa, ibu dan caca (sebutan mbak untuk orang ambon). Mereka lagi heboh banget ngobrolnya. Aduuuuh, aku jadi pengen pulang ke ambon tapi aku harus mulai kerja pekan depan. Kota itu sepertinya selalu memanggilku.
My beloved family, I really miss you all.

Thursday, July 13, 2006

Iseng bin Genit (MOde ON)

Tadi malam, pas lagi ke swalayan sakinah pulang dari syuro di ITS, waktu bayar di kasir, aku liat ada pasangan muda sedang berjalan bersama masuk ke sakinah. Di kepalaku, langsung saja membentuk gambar aku yang sedang berjalan bersama tapi di sebelahku yang keliatan baju koko putih doang, wajahnya masih berupa siluet gitu, gak jelas. Apa sih??? Segera saja kuhenyakkan pikiran itu. Take it easy man, the right man will come at the right time. Okay… (hehehe, dasar iseng)

Wednesday, July 12, 2006

Enyahlah Dari Pikiranku!!!

Kenapa 4 kata itu muncul terus? Lupakan. Itu cuma kata2 bodoh yang tidak seharusnya kau ingat terus. Lupakan, karena itu hanya kata2 yang keluar sebelum waktunya. Kata2 yang tidak pantas untuk diucapkan. Jangan sampe kata2 itu membuat kau goyah dengan prinsip2mu selama ini, bhy. FORGET IT!!!!

Friday, July 07, 2006

Tolongin Dong ...

Kok sulit banget sih memulai satu langkah awal?
Banyak amanah keteteran, banyak urusan gak selesai, hanya karena tidak mau memulai, lebih tepatnya malas, SATU LANGKAH AWAL.
Bagi tipsnya dong....

LASKAR CINTA DAKWAH (LCD)

6 Juli 2006
08.45 am
Laskar Cinta Dakwah

Aku baru pulang dari syuro Laskar Cinta Dakwah (LCD). Syuro tadi termasuk salah satu syuro bersejarah dalam perjalanan dakwahku. Bagaimana tidak, Laskar kami yang sudah terbentuk ½ tahun ini, yang penuh cerita suka dukanya, penuh dinamika yang semuanya jelas telah menjadi kisah tersendiri dalam buku dakwahku, dalam syuronya tadi membahas satu agenda yang undescription. About suksesi. Reshuffle LCD. Dan kejadian langka karena syuro tadi, hanya 3 anggota LCD yang tidak hadir. 9 anggota hadir. Padahal selama ini paling banyak 5 anak. Kenapa pada datang? Soalnya ya itu tadi, mo bicarain reshuffle. Semuanya jadi bersemangat ngomong suksesi karena megang amanah ini berat banget. Sudah jadi kesepakatan awal, bahwa pada bulan inilah kami akan mengadakan reshuffle terbatas dan saat tiba saatnya ini dibicarakan, segala perasaan bercampur aduk.

1. Senang karena satu lagi beban berat akan terlepas. Amanah ini semakin lama semakin mematahkan tulang punggung, amanah berat yang mampu menyita perhatian, waktu dan tenaga. Amanah yang begitu berat saat pertanggungjawabannya nanti.
2. Berat karena bagaimanampun amanah ini sebenarnya belum tuntas kami kerjakan. Tugas-tugas kami belum optimal kami laksanakan dan kami harus menyerahkannya kepada ruh-ruh baru. Pekerjaan kami yang sedikit ini, yang sangat tak ternilai ini semoga bisa lebih baik karena sentuhan darah-darah segar dalam dakwah.
3. Takut. walaupun amanah ini akan berakhir tapi pertanggungjawaban atas apa yang kami hasilkan selama kami dalam LCD ini masih harus kami lakukan di pengadilan Allah nanti. Bergidik kami membicarakan hal ini tadi. Amanah memang tidak pernah benar2 selesai
4. Sedih karena setelah reshuffle maka pertemuan dengan teman2 yang tergabung dalam laskar ini akan semain berkurang bahkan mungkin tidak sama sekali. Sudah begitu banyak cerita yang kurangkai bersama mereka selama lebih dari 6 bulan ini. Ada tawa, ada tangis, ada sebel, ada marah, ada sayang, ada emosi, ada jengkel, ada kasihan, ada lelah, ada bosan dan segala macamnya. Setiap mereka dengan segala karakter yang kadang bikin suka, tapi kadang bikin jengkel. Tapi semua karakter itu ketika dipertemukan karena cinta dakwa dalam Laskar Cinta Dakwah, maka endingnya tetap saja bahagia. Berharap berkumpul kembali di surganya

Saat reshuffle, dari 6 ikhwan, 4 mengundurkan diri, dan dari 6 akhwat, 5 mengundurkan diri. Akan ada pengganti kami ber-9 yang mundur. Aku termasuk yang mundur. Afwan, sebelumnya memang aku bilang masih bisa di tim ini, tapi ada hal2 lain yang harus kuprioritaskan. Bukan berarti LCD tidak masuk dalam daftarku, tapi memberi waktu khusus di LCD tidak lagi bisa kulakukan. Tidak sepenuhnya kami ber-9 meninggalkan LCD. Kami bukan pergi, hanya reposisi. Kami tetap dalam LCD 1 bulan lagi, dan setelah itu, kami masuk pada hal2 yang teknis saja. Segala kebijakan LCD akan kami dukung dalam tataran teknis karena kami memang tidak akan pernah bisa benar2 meninggalkan LCD ini. Bukankah yang mencintai tidak akan pernah bisa meninggalkan yang dicintai kan? Walaupun hanya dalam hati dan dengan doa, iya kan?

Kepada para founding father LCD, adalah sebuah kebahagiaan bisa membersamai langkah dakwah antum disini. Waktu lebih dari 6 bulan bersama antum , membuat ana belajar banyak. Dan, ana merasa bertambah dewasa dan bijak dalam menyikapi persoalan-persoalan dakwah. Tak ada kata selamat tinggal karena kita tidak saling meninggalkan. Kita masih ketemu lagi dalam sebulan ini menuntaskan amanah2 kita bersama. Kita masih harus mentransfer kepada pengganti kita dan kita insyaAllah masih akan tetap bertemu dan berpartner untuk LCD dalam bentuk lain. Ana uhibbukum fillah. Antum ber-sebelas adalah orang2 tak terlupakan. glad to be ap art of this team

Wednesday, July 05, 2006

Terong VS Puding Feeling Zebra

Go Home. Ingin rasanya go home, berada di pelukan ibu lagi. Merasa terlindungi di balik dada papa lagi. Tapi karena itu hal yang tidak mungkin untuk saat ini, maka aku ke “rumah”ku di driyo. Rumahnya tante, kakak ibu, yang tentu saja membuatku merasa benar-benar ada di rumah.

Bagaimana tidak. Aku ke rumah ini kemarin siang dan nginap. Tadi pagi, aku bangun dengan kondisi yang sangat berbeda kalo di kos. Abis shalat subuh, langsung bersih2 rumah, makan, trus masak, makan lagi, tidur, bangunnya makan lagi, begitu saja hal2 yang kulakukan. Bandingkan saja dengan di kos. Abis subuh, berusaha melawan keinginan untuk gak tidur dengan membaca, dan buntut-buntutnya tertidur juga dengan buku di pelukan. Bangunnya, cari makan di luar dan beraktivitas. Masak sendiri bisa dihitung dengan jari dalam sebulan. Intinya lebih banyak belinya dari masak sendirinya.

Tapi di rumah ini, aku benar2 jadi WANITA. (whaaat???). I means, aku benar2 jadi wanita. (apa seeeh??) ya itu tadi, beres2 rumah, nyuci piring gitu deh, nyapu2 juga trus masak deh sama tante. Apalagi tadi pagi tante masak sayur terong saus. Bukan tante ding, aku dan tante. Maksudnya aku yang goreng terongnya, tante yang masak sausnya. Walaupun terongnya rada rada gosong gitu, soalnya nyambi sama nonton TV (udah lama banget rasanya tidak bertemu kotak ajaib ini), tetap aja enak. Aku pernah diketawain teman2 gara2 ini. Bahkan adek2 binaanku sendiri sering godain aku karena maniak banget sama sayur terong. Gak tau juga, tapi nafsu makanku tidak terbendung dan tidak terungkapkan, unexplained kalo yang di depanku adalah terong versi apapun. Percaya gak percaya, tapi terong sebanyak yang dibuat tadi, aku yang abisin. Om cuma makan saat makan siang, itupun paling berapa potong sih. Tante dua kali sih makannya tapi juga berapa potong sih. Dan aku, 5 kali bow makan nasi dan menghabiskan terong tanpa peduli tante dan om sudah makan belum. Gak tau aku perlu merasa bersalah tidak tapi aku Cuma habisin terongnya kok. Bandeng sama syur parenya tidak ikut aku abisin. Maaf ya tante. Tapi mereka pengertian banget kok, justru karena mereka tau aku suka terong, makanya tante buat sayur itu waktu aku ada di rumahnya. Pengennya tadi sore balik ke kos tapi melewatkan makan malam sayur terong sama sekali tidak menunjukkan diriku yang sebenarnya. So, besok pagi aja balik ke kos.

oiya, kemarin aku sempetin buat pouding. Kemarin begitu nyame rumah, buka kulkas. ada coklat pasta, coklat putih batangan juga ada, ada telur, mentega ada, maizena ada. Ting, langsung deh kata puding terbayang besar di kepalaku. Walaupun bahan2nya gak pas dengan resep yang penting ada.
Jadi deh,
a. 3 butir telur,
b. mentega seadanya (padahal harusnya 125gr),
c. gula sebanyak feelingku aja (seharusnya 2 gelas tapi berhubung tante gak punya susu kaleng jadi gulanya aku tambah2in. mana gelas takarnya gak ada, jadi ya benar2 ikut feeling
d. Ternyata ada susu bubuk punya tante. Tinggal dikit dan itupun susu untuk tulang, Gak apa deh.
e. Tepung maizena sesukaku aja. Ikut feeling aja ini bakalan bantet apa malah kurang ya. Begitu feelingku enak, ya sudah
Semua bahan di atas dimixer. Pas lagi mixer, baru kepikiran, kenapa gulanya ikut dimixer ya, kan jadinya lama. Harusnya tadi aku larutin aja sama agar2

Setelah tercampur (versiku), soalnya versi tante, gulanya belum hancur. Masalahnya aku udah males mixer, dua bungkus agar2 aku didihkan bersama 5 gelas air. Perlu aku ingatkan kembali, gelas takarnya gak ada. Jadi aku pake gelas lain berdasarkan feeling (lagi). Oia, aku tambahin gula juga 4 sendok. Mudah2an aja gak kemanisan.

Setelah mendidih, tuang ke campuran tepung. Aduk rata, terus bagi jadi dua bagian. satu bagiannya dikasi pasta coklat. Terus, selang seling deh tuang di cetakan. Feelingku bilang, pudingnya agak encer. Entah tepung maizena terlalu dikit atau airnya yang kebanyakan.

Malamnya, pas nyobain, gak mengecewakan kok. Masih berasa puding. Masih puding zebra juga namanya karena 2 warna. Tapi untuk yang saat ini, pudingnya ada tambahan, PUDING ZEBRA according to FEELING. Manis, pas. Rasanya oke juga ternyata. Gak beda dengan yang sering kubuat berdasarkan resep asli. Cuma, ya itu tadi, kurang bantet. But, its ok. Masih bisa dikonsumsi. Sudah lama gak b uat brownies. Kapan2 kalo mo ke sini lagi, aku harus telpon dulu deh biar tante nyiapin bahannya dulu. Brownies mah gak bisa pake bahan2 sisa yang ada, kudu diniati.

Tuesday, July 04, 2006

C I N T A

Tadi malam aku merenungi satu hal. Bahwa hariku kemarin bertaburan cinta. Pagi hari, saat akan kumulai aktivitas, seorang saudara, adekku yang kusayangi di jalan dakwah, mengirimku sebuah pesan singkat. Dalam layar handphoneku tertulis sebuah kalimat singkat : Love You Because Allah SWT”. Singkat, sederhana tapi luar biasa indah. Maka kubalas dengan penuh cinta pula bahwa Allah menyayangiku karena telah mengirimkanku saudara seperti dia. Dan hari itu aku berangkat dengan rasa cinta. Sampe di forum-forum yang kuikuti sampe sore harinya, wajah2 yang kutemui juga adalah wajah2 penuh cinta terhadap dakwah. Hingga pada ashar, sebuah pesan masuk lagi ke handphoneku dari seorang saudara yang mengatakan mencintaiku karena Allah. Malam harinya, aku bersama mbak anis dan dek lina atas nama cinta membesuk mbak fitri yang sedang sakit sejak kamis kemarin. Dan hanya ciuman cinta yang bisa kami berikan di pipi serta keningnya berharap dapat sedikit mengobati sakitnya.

Kepada seluruh yang mencintai karena Allah, kepada seluruh yang menyatu karena cinta kepadaNYA, kepada seluruh aktivis yang berjalan dalam dakwah atas nama cinta, kepada seluruh yang saling mencintai di jalan Allah, semoga cinta-cinta itu menyatu dalam cinta sang Pemilik Cinta. Semoga cinta-cinta itu abadi di atas nama Allah SWT. Aku disini berharap agar setiap cinta dipertemukan kembali oleh Allah di surgaNYA.

9.17 am
sepulang syuro di NZ, dengan penuh cinta

Monday, July 03, 2006

My Decition ( with a big hope that i've found the right)

2 Juli 2006
4.49 pm
My Decition, am I right?

Keputusan besar telah kuambil. Semoga ini yang terbaik. Aku telah memilih sesuatu yang mungkin saja akan kujalani seumur hidupku, mungkin saja akan menjadi hal yang paling penting dalam hidupku. Keputusan yang akan mengubah hidupku selamanya sejak kejadiannya nanti, jika Allah mengijinkan.
Saat ini, aku memasuki wilayah ikhtiar. Banyak hal yang masih mungkin tejadi. Tapi aku sudah mantap dengan keputusan yang kuambil ini. Aku ridho dengannya. Maka, aku perlu mengusahakan agar keputusanku ini dapat menjadi kenyataan karena aku hanya menginginkan ridho-NYA. Pintaku, temani aku berusaha
Ya Allah, jika keputusanku ini adalah yang terbaik bagi dakwah dan agamaMU, maka mudahkanlah jalannya. Tapi jika keputusan ini akan membawa yang buruk bagi dakwah dan agamaMU, maka tunjukkanlah jalanMU.

Dakwah, i love it

Dakwah. Begitu indah kata ini terdengar. Jika kau sudah masuk ke dalamnya, kau tak ingin keluar lagi. Itu kurasakan. Aku terhempas, tersungkur begitu dalam, terbuai oleh indahnya dakwah dengan segala pernik di dalamnya. Sedihnya, sukanya, capeknya, tertawanya, menangisnya, semua lebur menjadi untaian indah bernama DAKWAH. Dan aku tak ingin beranjak dari tempat ini

Hari ini aku berpindah dari satu syuro ke syuro yang lain. Tepatnya 3 syuro dari 4 syuro yang sebelumnya dijadwalkan. Syuro yang keempat (Syuro ITATS-ITS) dibatalkan karena tidak representative dari peserta yang seharusnya hadir.
Syuro pertamaku hari ini pukul 07.00 – 09.00 bersama orang2 yang subhanallah capable dan ana dari kacamata pribadi tidak meragukan kesetiaan dakwah dari mereka yang dalam satu forum bersaam ana ini. Ana bahkan kadang merasa tidak pantas berada dalam satu tim bersama ikhwan akhwat luar biasa itu. Hingga saat akhir syuro, seorang di antara kami, seorang akhwat yang kucintai karena Allah, mengatakan mungkin ini syuro terakhir kita dalam formasi lengkap. Karena syuro besok, ada ikhwan yang tidak bisa hadir, sementara syuro-syuro berikutnya mungkin dia yang tidak ada karena sudah harus balik ke daerah asalnya. Sekali lagi ada yang meleleh di hati. Entah mengapa, tapi aku sangat tidak menyukai berada dalam posisi meninggalkan atau ditinggalkan. Walaupun meninggalkan dan ditinggalkan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup tapi tetap saja ada yang berkurang dalam hidup. Begitupun ketika dia melemparkan wacana akan reshuffle tim, aku tidak termasuk yang direshuffle versinya. Ingin kutolak itu, aku ingin juga reshuffle. Bukan menolak amanah, bukan merasa cukup dengan kerja yang sudah kulakukan, tapi ada hal lain yang harus aku perhatikan. Banyak sudah rancangan yang ingin kubuat dalam hidupku setelah ini. Tapi ia dengan alasannya menjelaskan mengapa aku masih harus disitu, hingga saat dimana sudah bisa kutinggalkan tim itu. Alasan yang sangat rasional. Aku terhenyak dengan kebenaran serta kekuatan argumentasinya itu. Saatnya harus kuputuskan prioritas atau kurapikan seluruh rancanganku. Aku butuh waktu untuk menentukan sikap. Aku butuh waktu untuk memetakan kembali prioritas2 dalam hidupku. Dan walaupun aku sedih dengan kepergiannya, tapi dakwah ini harus tetap jalan. Tanpanya, tapi dengan doanya, tim ini akan tetap kokoh. Kepada tim dakwah yang kubanggakan, I miss you all. Kapan kita bisa syuro dengan format yang lengkap lagi?

Syuro keduaku (09.30 – 11.30) bersama kader-kader baru di FSLDK. Kader baru yang bersama mereka aku kembali merasakan ghiroh dakwah yang menggelora. Walaupun iya sih, kuakui aku tidak begitu menikmati syuronya, karena ritme syuroku tidak sekalem ini. Aku terbiasa syuro dengan ritme cepat, tegas, to the point, aktif dan tidak bertele-tele serta membuang waktu. Sementara mereka, adek2 tersayangku dari beberapa LDK Surabaya yang berkumpul atas nama cinta akan dakwah, berjalan dengan tenang, datar, dan aman. Bukan berarti aku suka syuro yang kacau tapi aku bukan tipe orang yang bisa tenang saja dalam syuro, duduk manis mendengarkan orang bicara kemudian pulang. Sementara yang kulihat dari mereka seperti itu. Yang bicara ya itu itu saja. Kalo gak akhi ini, akhi itu. akhwatnya itu itu aja, itu pun pake diam dan malu malu dulu Bukan ebhy banget. Tapi aku belajar dari mereka tentang semangat yang dengan kuat dan jelas bisa ana baca dari wajah mereka, dari sikap tubuh mereka dan dari perkataan mereka.

Syuro ketigaku (12.30 – 14.00), syuro Puskomda bersama BP. Tetap dengan semangat yang sama yang kulihat. Sudah lebih baik, menurutku, dibanding syuro kedua tadi. Lebih baik menurutku adalah lebih banyak orang yang mau bicara, lebih banyak pendapat yang dieksplorasi dan lebih banyak tanggapan dari lemparan-lemparan ide. Bukankah itu tujuannya syuro? Mempertemukan banyak pendapat sehingga menghasilkan yang terbaik untuk dakwah. Sudah lebih baik, walaupun tetap masih belum sesuai ritme syuro yang bisa membuatku enjoy.

Tapi, bagaimanapun, setiap syuro adalah bagian dari dakwah. Setiap hasil syuro ada keberkahannya. Dan semoga setiap keputusan yang diambil tadi adalah yang terbaik untuk dakwah. Aamiiin

Saturday, July 01, 2006

SIXERS again

SIXERS lagi. Yang baca blog ini paling-paling sudah bosen karena tema belakangan ini gak pernah jauh dari sixers. Tapi mau bagaimana lagi, lagi jadi tuntutan hati. Sejak balik dari makassar selasa kemarin, tiap hari pasti aku puter lagi flash profil SIXERS dengan backsound Mengejar Matahari. Bosen, bosen deh lu. Oya, bagi yang belum tahu, SIXERS itu sebutan bagi stelkers (anak stm telkom makassar) angkatan 6. Liat wajah2 mereka di profil itu, satu persatu kepingan memori di stm berputar di kepalaku. Ada foto2 pas mereka ketemuan di makassar setahun/2 tahun pasca lulus dan aku gak ada di situ, rasanya sedih banget. Waktu itu aku kemana ya? {as ke makassar kemarin, aku melewatkan beberapa hal.

1. Gak ke sencho. Persewaan komik langganannya sixers dulu. pengen ngecek, ada utang gak sih disana? juga pengen ketemu yang jaga sih dan pengen tau udah tambah besar belum senchonya
2. Gak ke lumpia sulawesi. Padahal itu tempat makan yang dibela-belain sixers cewek bolos demi makan di situ meski harus ngantri.
3. Gak maen basket. Aku gak pernah maen basket lagi sejak lulus stm. Sebelum berangkat kemarin sih, niatnya mau maen lagi di labas-nya telkom tapi gak sempat. Padahal kesempatannya sebenarnya lebih besar. soalnya kita gak perlu ke labas telkom di diklat lagi tapi di sekolah, lapangan yang biasa dipake voli, tarik tambang dan lompat karung plus acara2 porseni lainnya sudah direnovasi jadi lapangan basket. kalo ada bola dan kalo ingat, sebenarnya pas reunian, aku bisa maen sebentar di labas sekolahan. Sayangnya gak kepikiran lagi pas disana

Besok, memet mau nganterin foto2 sejak jaman sekolah sampe terakhir pas reunion kemarin plus video reunion yang disimpan di laptopnya. Berarti besok, kayaknya aku bakalan gak beranjak dari depan kompiut melototi dan menerawang kembali ke masa lalu lagi.
Duh, kok jadi kangen lagi ya sama mereka. Terutama sama ami, ani, phionk, endhy, baya dan mmink. Kemarin aku pernah janji mau nampilin fotonya kita bertujuh di blog ini tapi kemarin bongkar2 kamar, tidak ada satupun foto STM yang kudapat. Katanya eya, my sister, mengingatkanku kalo foto2nya itu sudah kubuang karena sudah gak bisa dilihat lagi, nempel satu sama yang lainnya jadi gak berbentuk gitu deh, dan katanya kubuang. Masa sih aku melakukan hal sebodoh itu? Tapi perasaan ada deh yang masih tersisa, dimana ya????
Guys, bantuin nyari lagi dong….

Orang Yang Aneh

Kok bisa ya dia gak sms aku saja? Kenapa sms yang sepenting dan seamniyiah itu nyasarnya malah ke adek2 yang dia gak tahu sampe mana pemahamannya. Please deh, singkirkan dong tuh ego. Tempatkan sesuatu itu ya di tempatnya dong. Kalo gak gitu, jelek tau gak liatnya. Lama2 aku jadi eneg juga sama tingkah2nya. Males banget tau gak sih. Terlihat bersemangat tapi tidak terarah. Bergerak tapi under control. Udah deh, gak usah gitu gitu amat.

Dari dulu aku udah bilang kan, segala sesuatu itu tempatkan pada porsinya. Jangan berlebihan apalagi salah tempat. Bisa berabe, runyam. Bukan mau mematikan potensi atau inisiatif kader. Kalo saja dia tau, aku orang yang pertama angkat jempol ketika ide-ide brilian muncul dari dirinya di luar syuro. Ide kraetif yang keren abis. Tapi itu dulu, saat dia masih menghargai adanya syuro. Saat dia masih sadar bahwa dia adalah bagian dari tim. Saat dia masih paham bahwa kita semua adalah sama. Dan sekarang, tingkah2nya lebih banyak memperlihatkan keotoriteranya. Ide –ide yang dia keluarkan sepertinya menjadi sesuatu yang HARUS dilakukan tanpa perlu dibahas dalam syuro. Dan,... aku tidak respek untuk hal2 seperti itu. kamu boleh punya ide, kamu sangat boleh berinovasi, tapi kamu tidak sendirian, ada tim. Maka bicarakanlah dengan tim.

Dan juga, kalo mau nyampein sesuatu itu, liat liat dulu siapa yang diajak ngomong, apa amanahnya, mampu gak? Jangan maen pukul rata gitu hanya karena ego yang gak penting. Satu lagi, jangan merasa paling penting dan paling tahu deh. O ya, apa-apa yang di luar syuro itu dikomunikasikan sebagai usulan dong, bukan sebagai keputusan. Emang kamu pikir gampang apa mempertanggungjawabkan sesuatu apalagi tanpa mekanisme syuro. Usul boleh aja, tapi caranya juga yang cantik dong. Aku ilfil. Semoga besok gak muntah-muntah.

Aku salah gak ya emosi kayak gini?

Oke, aku salah. Maaf maaf deh