Showing posts with label Ambon. Show all posts
Showing posts with label Ambon. Show all posts

Friday, January 27, 2012

Saya - Arumbai - 2011

Begitu pagi menyapa di 27 Januari 2012 ini, seperti merasa ada yang lain. Ada yang belum selesai yang harus kulakukan. Ingat punya ingat, baru teringat di tengah hari bahwa ini hari terakhir pengumpulan tulisan tentang Refleksi Arumbai 2011.

Refleksi? Apa itu refleksi? Mau Tanya ke mbah gugel tapi ini koneksi benar benar menguji kesabaran. Kamus Besar Bahasa Indonesia pun saya tak punya. Jadi apa itu Refleksi? Eng ing eng… Tulisan ini pending 15 menit buat nunggu mbah gugel atau om wiki tapi sama saja. jadi ya sudahlah, Saya menulis berbasis makna refleksi yang saya tau saja. Entah benar atau salah.

2011 lalu, tak banyak kebersamaan saya dengan Arumbai. Di akhir bulan ke dua, saya dengan sadar ke negeri orang, dan baru kembali di bulan ke delapan. Saya melewatkan banyak momen bersama Arumbai terutama perayaan ulang tahun ke-2 Arumbai dengan pemutaran video lini mas(s)a di Gong Perdamaian juga beberapa pelatihan, kecuali makan duren bareng di Pantai Losari di bulan Mei.

Lalu apa yang bisa saya refleksikan dari Arumbai di 2011? Entahlah, otak saya masih bingung mengurai. Beberapa event Arumbai di triwulan terakhir 2011 pun tak maksimal saya ikuti karena ada agenda masa depan yang harus saya siapkan. Tapi, itu semua tak bisa mengubah makna Arumbai di hati saya. Jatuh bangunnya Arumbai (yang paling bisa merasa ini adalah Tanase), lalu rencana yang banyak tapi sedikit yang bisa dilaksanakan karena pendeknya tangan dan nafas. Belum pula terlaksana kopdar akbar Arumbai sampai detik ini, lalu agenda jalan jalan akhir tahun yang lama dinanti tapi tak matang matang dibicarakan hingga akhirnya gagal.

Ya, mungkin itulah refleksi saya. Banyak sekali mimpi, tapi tak cukup tenaga dan nafas untuk wujudkan. Tanase yang jatuh bangun, dan melakukan banyak hal untuk Arumbai, belum diiringi kebersamaan yang kuat dari teman teman lain *termasuk saya :-( *. Semoga saja Tanase tidak lelah memandu perjalanan Arumbai ini meski ombak sering menyapa dan sedikit yang bisa mendayung.

Dan harapan 2012? Tak banyak. Apa yang tak bisa di 2011, semoga lancar di 2012. Kopdar akbar, solidkan barisan, lalu berkarya nyata untuk Ambon, untuk Maluku, untuk Indonesia. Berlebihankah? Baiklah, setidaknya bisa membuat pribadi pribadi Masnait menjadi pribadi yang lebih baik, lebih arif memandang hidup, lebih tenang, lebih cinta sesama, lebih berani ikut dalam barisan pemberi manfaat.

Bahasa saya kenapa jadi sok sok-an gini ya? Intinya begitulah. Saya bangga jadi bagian Arumbai, dan menyayangi semua Masnaitnya (Tanase-nya juga) *hening*

Monday, November 21, 2011

Dhany Polanunu, Selamat Jalan. Tidurlah...

Aku tak mengenal pemuda ini. Dhany Polanunu namanya. Tapi hari ini, air mata menetes begitu saja, banjir tak terkontrol membaca wall FB dengan akun Dhany Aprilia. Pemuda yang menjadi korban pemukulan polisi yang sempat koma 2 hari di rumah sakit lantas pada pukul 14.00 kemarin menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa Dhany sempat membuat tegang Kota Ambon, tapi masyarakat alhamdulillah bisa cepat memetakan bahwa ini konflik dengan kepolisian, bukan dengan sesama masyarakat kota.

Mungare Ambon yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA ini diduga terlibat balapan liar, entahlah, saya tak tahu kebenarannya. Meski saya tidak setuju dengan balapan liar, namun lebih tidak setuju lagi dengan cara oknum polisi menangani balapan itu. Apakah hukum negara sudah jadi hukum rimba?

Melongok ke FB Dhany, bertabur rindu disana dari teman teman sekolahnya, saudara saudaranya. Aku merinding, tak mampu kubendung derasnya aliran dari mata. Kehilangan memang selalu mengambil waktu sedih yang panjang, meski pada akhirnya harus tetap ikhlas, tapi fase itu tak bisa ditepis begitu saja. Saya tak mengenalnya, mendengar namanya saja baru saat ini, justru saat dia sudah meninggalkan dunia. Ah, Ambon berduka lagi. Dhany, pergimu membawa mendung bagi kota yang kuyakin sangat kau cinta ini.

Kukutip beberapa irama rindu yang dititip di wallnya. Dhany memang tak akan pernah bisa membaca wallnya lagi, tapi apa yang ditulis teman-temannya adalah luapan yang tak bisa ditahan. Saya hanya berharap, teman temannya tak sekedar menulis di dinding FB tapi juga melayangkan banyak doa pada Dhany.

dani eeeeeeee.
jawab b ka...
knp c pi ksi tggal ktong.
c z kgen ktong k.
Mhell Nhr Racing
stiap buka hp. dp lia c pu fto tmg e. hati plg sakii.
aer mataa tggal manetes d pipi.
c p plg cpat btull.
ktog kangen c pu katawa dg tukang baterek Dhany Aprilia :'(
Ayha Oura 'dhekhaatro
Dhany eee .
C ada bkn appa d sna ??
PLeng kangen see paskaLi ee
Rhia 'exapat' Spolid
Dany. . .
Hari prtma sklah z dha c. . .
Rasa lain . . .
Mgnga blkng c pg bangku kosong eaghhh. . .
Klz sunyi z dha c. . .;(
biasa jam" bgnhie c sw btrek ktg. . .
Tp skrng z dha org yg par btrek ktg ly. . .
Kangen c pg ktwa bsar" eaghh. . . Ktg smua syg c, tp trxta allah lbh syg c. . .
Moga tenang d'sna tmn, kk, n sodara. . .


Megha 'ghaa' Megha
dhany ad mna ? :'(
Knp pii ksii tnggl bt :'(
Bt bllum siap kehilangan c :'(

Dhany :'(:'(:'(
Dhiinie Aprilia Ambonesse
Sodaraa ,, kLo bsa Dtg dLm b miimpi ee ..

Dhany... tidurlah. Sungguh, kami akan menyusulmu suatu saat nanti. Itu pasti

Wednesday, November 16, 2011

Makan makan

Hari pertama memfasilitasi kunjungan tim lesson learned PTD di SBB. Ada satu catatan yg tertulis bahwa di bumi Maluku ini, kita justru makan bukan dari orang Maluku. Tulisan ini tidak bermaksud meng-generalisasi tetapi untuk catatan kaki saja.

Ketika menjemput tim di Waimital, dari perjalanannya Masohi Piru, titik pertemuannya adalah di warung bakso. Pemilik warung bakso itu orang jawa. Ah, saya lupa nama daerahnya, yang jelas, dari desa tetangga ponorogo. Lalu makan malamnya kami mampir di warung makan yang berlokasi di desa Kamal. Dan setelah tanya tanya, pemiliknya berasal dari lumajang. Tempat makan saya di Piru, juga berasal dari jawa, ponorogo tepatnya.

Saya di ambon, ikan yang saya makan, dari laut maluku, sayur dari tanah maluku juga berasnya. Namun ketika sampai lidah, rasanya citarasa jawa. Indonesa Bapa....

Tuesday, November 15, 2011

Kutemukan Surga di Mata Mungilnya


Ada surga yang selalu kupandangi setiap harinya
Surga di balik sebuah mata mungil, dari tubuh kecil tak berdosa
Sebuah Maha Karya Allah tercipta melalui indah dirinya
Dan menjadi perekam jejak setiap langkahnya adalah anugerah

Najwaa Tsurayya,
Nama malaikat yang dikirim Allah untuk keluargaku
Malaikat yang datang 19 bulan lalu mewarnai hari hari
Detik bersamanya adalah waktu paling berkualitas dalam hidup

Naya, malaikatku,
Di 19 bulan usiamu kini, kau bawa begitu banyak bahagia
Membentuk simpul simpul tawa
Juga merajut surga untuk kami


Naya sayang,
Memandangmu tidur, memandangmu makan,
Memandangmu bermain, memandangmu apa saja
Adalah seperti melihat surga ditempatkan di bumi
Meneduhkan, memberi senyum tak putus

Sumpah demi Allah, Naya sayang…
Bunda mencintai Naya lebih dari yang Naya tahu
Tak ada yang boleh menyakitimu, menggores hatimu nanti
Tumbuhlah nak, menjadi kebanggaan keluarga
Menjadi nyata surga di hari hari kami.


Dirimu nak, adalah jawaban dari Allah atas setiap kesedihan
Dirimu nak, obat atas semua luka dan lelah
Dirimu nak, penguat semangat, sumber segala harapan
Dirimu nak, adalah seluruh cinta

#ditulis dgn cinta untuk 19 bulan keponakan tercinta, Najwaa Tsurayya

Monday, November 14, 2011

Papa, Lelakiku...

Masih merindu papa di perjalanan kembali ke piru, dan ini yang tertuang di twitter @febry_w

  • Dari semua perjalanan, prjln siang ini balik ke piru adl yg paling menyayat hati. Sedih hati mengingat akan pergi sebentar dr #papa
  • Dari semalam hingga saat ini, bayangan #papa berputar di kepala. Makhluk indah itu kurindu setengah mati
  • Sudah 28 thn mencium tangan beliau stiap bepergian,namun ciuman td berbeda. Tak kuasa menatap matanya. Hny bs menghirup aroma tangan #papa
  • Teman, betapapun kondisi #papa mu saat ini, jangan pernah membentak beliau. Jgn berani berani menyakiti hatinya
  • Bagaimanapun beliau, jangan cederai harga dirinya. Sumpah Demi Allah, jangan sekali kali kalian lakukan #papa
  • #papa tak pernah menghitung rupiah yg telah ia keluarkn sejak lahir. Jd tak sepantasny kau tinggi hati saat sdh bs memberi sedikit rupiah
  • Sungguh tak pantas bagi kita memerintah #papa hny krn kita merasa tlh bergaji. Gajimu seumur hidup tak bs membayar darah dan keringat #papa
  • Apa yang memberimu hak berlaku seenaknya pada #papa. Sungguh, hidupmu tak akan berkah, tak akan berkah, tak akan berkah
  • Papamu adalah surga yang Allah berikan padamu. Perlakukanlah ia dengan baik. #papa jarang bicara tp bukan berarti tdk bs terluka
  • Aku mengingat kembali semua kepingan yg #papa toreh di hidupku. Bahkan nyawaku tak sepadan dengan pengorbananmu
  • #Papa, aku pergi hanya sebentar. baik baik disana pa, kesabaranmu menghadapi mereka yg menyakitimu adl semangatku u/ slalu mencintaimu
  • Aku menjagamu dari jauh papa, dengan doaku yg tak henti. Allah menjadi saksi betapa aku sangat mencintaimu, bangga padamu. #papa, pahlawanku
  • Trimakasih pa, trimakasih telah menunjukkan jalanku hingga ke titik ini. aku tak pernah mampu membalasnya. Keringatmu adl airminumku #papa
  • Papa, kau lelaki pertama dan abadi di hidupku. Kau tak terganti papa. Aku mencintaimu seperti ku mencintai surga #papa
  • Bekal perjalananku hari ini adl 4 lembar kertas berisi tulisan tangan #papa.Lembaran pengeluaran thn 96.melihat tulisannya,papa spt bersama
  • Bismillah.Feri inelika bertolak dr liang menuju waipirit. Smg urusan di SBB minggu ini lancar. Aku hny ingin cepat kembali dan bertemu #papa
@Inelika Liang-Waipirit dalam derai.

Sunday, November 06, 2011

Al-Latif, Sebuah Kerinduan

14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1997, keluarga kami pindah rumah ke daerah Air Kuning, kawasan Kebun Cengkeh Kota Ambon. Saat itu, daerah air kuning terbilang masih baru, dan penduduknya bisa dihitung dengan jari termasuk jari kaki. Kami termasuk penghuni penghuni awal lorong Wailahan dan Gondal di kompleks ini. Masih ingat dengan jelas, karena penduduk yang masih sedikit itu, kami bergabung dalam jamaah Masjid Al-Burhan yang terletak di loorng Sumatera. Tidak terlalu jauh memang, tetapi daerah itu bukan daerah silaturrahim kami, artinya interaksi kami dengan penduduk lorong sumatera hanyalah saat di masjid saja. Di keseharian, kami tidak pernah berinteraksi.

Tahun berganti tahun, BTN Manusela yang terletak lebih dekat dengan kompleks kami, daripada ke lorong sumatera, membangun masjid Al-Ikhwan. Maka jamaah di lorong Wailahan dan Gondal ini pun terbagi. Pada saat sholat jumat atau sholat hari raya, warga dua lorong ini terpisah. Sebagian ada yang ke Masjid Al-Burhan, sebagian pula ada yang ke Masjid Al-Ikhwan. Bahkan tidak sedikit yang ke Masjid Raya Al-Fatah. Begitulah kehidupan berjamaah dua lorong yang bertetangga ini. Para ibu memang memiliki pengajian rutin dari rumah ke rumah. Tapi para bapak? pemudanya? tidak ada tempat untuk bertemu rutin dalam suasana yang religi.

Hingga tibalah saatnya, bermula dari hibah tanah seorang pemilik tanah di lorong Wailahan, sejak tahun 2010 dimulailah pembangunan masjid kompleks. Pembangunan dilakukan swadaya oleh penduduk laki laki baik tua maupun muda setiap harinya terutama di hari minggu dan ibu ibu mengumpulkan dana lewat berjualan kue dan sesekali ikut membantu kerja bapak bapak dan para pemuda.

Setahun berjalan, tahun inilah, tahun 2011, untuk pertama kalinya, warga Wailahan dan Gondal bisa sholat id bersama sama dalam satu tempat. Saya masih ingat suasana haru setelah sholat id fitri September lalu. Bisa saya rasakan atmosfer senang, bangga dan terharu dari warga bahwa akhirnya bisa sholat di masjid sendiri, mesjid yang dibangun dengan keringat bersama sungguh luar biasa. Meski ada yang hilang juga, suasana berkunjung ke rumah rumah tidak seramai biasanya, mungkin karena sudah bertemu semua di masjid kali ya. Beda dengan tahun tahun sebelumnya yang sholatnya misah misah.


Pun hari ini, suasana sholat id adha juga berbeda. Bagaimana tidak, ritual hadrat keliling kampung dengan membawa hewan kurban yang tahun tahun sebelumnya, warga sini hanya sebagai penonton gelaran hadrat kampung kampung tetangga, kini kami bisa melakukannya sendiri. Para pemuda dan anak anak yang sudah berlatih 2 minggu sebelum id setiap malamnya, siang ini melakukan hadrat keliling kampung membawa kurban menuju Masjid Al-Latif, masjid kecil kebanggaan kami.


Masjid Al-Latif adalah masjid harapan. Harapan untuk kami dapat hidup beragama lebih baik, juga hidup bertetangga dengan lebih baik.

Tuesday, November 01, 2011

(363) Ma Em, Satu Episode Cinta

Pagi ini tiba tiba saja teringat pada satu sosok yang begitu berjasa dalam hidupku. Fatma Badaruddin namanya, biasa kami sapa dengan panggilan Mama Em atau Ma Em. Ma Em adalah guru ngajiku semasa kecil juga guru kehidupan. Tempat ngaji "Nurul Huda Walyaqin" bertempat di Ponegoro, dekat dengan domisiliku waktu itu di Air Mata Cina. Awal pertemuan dengan beliau penuh dengan detak ketakutan. saya yang saat itu beruisa 6 tahun, sudah dijejali dengan cerita cerita tentang ketegasan beliau yang di kacamata anak sekecil saya diartikan sebagai orang tua yang jahat. Setiap datang mengaji, yang saya lakukan adalah hanya menangis. Padahal beliau tidak berbuat apa apa, tapi karena sudah takut duluan terhadap sosoknya yang terkenal keras, melihatnya saja, bahkan sejak tiba di lorong menuju rumahnya, saya mulai menangis sampai jam pulang nanti.



Entah berapa lama hal itu berlangsung dari hari ke hari. Sampai tibalah hari dimana saya harus berangkat sendiri ke tempat ngaji. Kakak perempuan saat itu tidak bisa datang, saya lupa kenapa. Parahnya lagi, saya datang paling awal dari teman teman ngaji yang lain. Dalam ruangan hanya ada Ma Em dan saya. Tubuhku berguncang hebat ketakutan. Tangisan yang selalu keras, hari itu itu lebih keras lagi. Entah mengapa, saya begitu takut dengan beliau. Bayangan akan dimarahi atau bahkan mungkin dipukul jika salah mengaji atau salah salah yang lain. Mungkin karena sudah capek dan panas telinga beliau mendengar tangisanku yang jelas tidak merdu itu, beliau pun membaca doa lalu berteriak sekencang kencangnya. Hanya satu kata yang beliau teriakkan usai berdoa itu, yaitu DIAAAAAAAAAAAAAAAM. Dan, tangisanku pun berhenti seketika.

Setelah itu, hari hari berlalu dengan sempurna. Saya menjadi murid kesayangan beliau. Bertemu beliau, memandang wajah beliau adalah kesejukan yang mengaliri hati. Semua ilmu beliau berikan kepada kami tanpa tersisa. Bahkan ketika beliau pindah rumah ke Kaitetu untuk lebih tenang di masa tuanya, pengajian dikelola oleh kami, murid murid beliau yang sudah khatam. Dan di hari minggu siang beliau hadir langsung untuk memberikan bekal agama terapan seperti sholat, puasa, wudhu, zakat, semuanya. Akhlak pun beliau tanamkan dengan penuh kehalusan. Bertahun tahun setelah khatam, saya masih saja menjadi murid yang haus. Datang dan datang lagi sekedar berbagi dengan adek adek juga mendengar ceramah beliau yang rimbun. Bahkan di hari terakhir kami tinggal di air mata cina, paginya saya masih mengikuti pengajian beliau lalu siangnya boyongan ke rumah baru kami di Air Kuning, Kebun Cengkeh.

Jarak yang lumayan jauh itu memaksa saya tak bisa setiap hari lagi mengunjungi Nurul Huda Wal Yaqiin. Hanya di hari minggu saya bisa ke Ponegoro menemui beliau. Hari hari berganti dan saya melanjutkan pendidikan di Makassar. Setiap tahun kepulangan lebaran, selalu kusempatkan menemui beliau. Sampai akhirnya melanjutkan kuliah di Surabaya, jarak semakin teretas.

Dalam satu kunjungan seorang bibiku ke Surabaya, saya menemani beliau belanja ke Pasar Turi. Saat itu, kulihat satu gamis putih dipajang di salah satu toko. Saya membayangkan betapa cantiknya beliau dengan gamis itu. Gamis itu kubeli dan kutitipkan ke bibi untuk diberikan kepada Ma Em setibanya di Ambon. Sayangnya, gamis itu tak pernah sampai di tangannya. Ma Em dipanggil Allah sebelum sempat mengenakan gamis itu. Berita kepergian beliau kudengar di sela sela perkuliahan dan seketika semangatku tak ada. Hilang bersama berita kepergian Ma Em yang disampaikan papa lewat telepon. Ingin rasanya terbang menemui beliau, menatap wajahnya yang tersenyum saat dipanggil Allah. Aku menjadi saksi betapa Ma Em mencintai Sang Khalik semasa hidupnya. Betapa Ma Em menjadi pejuang Islam dengan seluruh apa yang beliau punya. Sungguh tak menyangka pertemuanku di lebaran 2001 adalah pertemuan terakhir. Pertemuan di rumahku sendiri. Terkaget ketika beliau tiba tiba mengetuk pintu rumahku. Aku yang merencanakan besok akan ke rumahnya, ternyata sudah beliau datangi di sore sebelumnya. Beliau datang diantar oleh cucunya yang bercerita bahwa mendengar kedatanganku di Ambon, beliau meminta diantar ke rumah menemuiku. Cucu cucunya sudah melarang dan mengatakan bahwa Eby-lah yang akan ke Ponegoro tapi beliau bersikeras dan mengatakan akan tetap pergi sendiri kalau tidak ada yang mau mengantar. Ma Em, ada haru saat kau tiba. Kakimu yang tertatih melangkah menemuiku di jalanan yang cukup menyusahkan untukmu.

Meski Ma Em telah lama berpulang, aku tau kemana harus menemuimu. Dalam lantunan quran yang kubaca, ada suaramu disana. Dalam sholat yang kutegakkan, ada dirimu. Dalam setiap kebaikan yang kucoba rajut, dirimu hadir. Bersilaturrahim dengan keluargamu, dengan menantu dan cucu cucumu adalah waktuku menemuimu. Karena selalu ada cerita tentang kebaikanmu setiap kami bersua.

Em, Eby rindu. Eby masih sering buka album album lama untuk melihatmu lagi, sekedar menitipkan sedikit rinduku.


Tuesday, October 04, 2011

(335) Rencana Kuliner Wiken


Sudah 2 minggu ini tidak weekend ke ambon. Rasanya seperti sudah lamaaa sekali. Rencananya sih jumat besok ini mau pulang ke rumah dulu. Selain ada agenda penting yang harus dibicarakan, ada banyak rencana kuliner yang mau dijelajahi. Mumpung tanggal muda gitu deyh...


Ini daftarnya :

1. Es Kacang Bapa jafar. Lokasi : Jalan Baru

2. Tahu Tek. Lokasi : Jalan Baru

3. Nasi Kuning Bagadang. Lokasi : Waihaong

4. Rujak Liang. Lokasi : Pantai Liang

5. Nasi Kalapa Ikan Bakar. Lokasi : Batu Merah

6. Mie Ayam. Lokasi : Kebun Cengkeh

7. Martabak dan Terang Bulan Om Ondos. Lokasi : Tantui Aster

8. Kasbi goreng deng sambal. Lokasi : Amahusu


Biar gak shock, perlu saya beritau, ini bukan untuk 2 hari di Ambon. Nanti diliatlah mana yang paling mungkin. Yang belum terlaksana, masuk daftar antri kepulangan berikut.

Ada yang mau ikut?

Saturday, October 01, 2011

(332) Setahunmu, Papa

Pagi itu, Fajar baru saja menggantikan tugas bulan. Baru saja cahayanya masuk melewati kisi kisi jendela rumah sakit. Baru saja akan menghangatkan wajah indahmu. Pagi itu, Saat kupikir masih ada harapan yang bisa kugenggam di awal hari. Saat kupikir masih bisa menikmati lagi membelai punggung tanganmu. Saat kukira, masih akan kutemui banyak doa kekuatan untukmu. Namun ternyata, terbitnya fajar adalah perpisahan denganmu papa. Engkau memilih meninggalkan kami pagi itu. Engkau menemui mama pagi itu dengan terburu buru

Setahun berlalu, pa. Setahun tepat aku tak lagi bisa membelai lembut wajah dan mencium tanganmu, tangan yang menidurkanku saat kecil, tangan yang memapahku saat terjatuh, juga tangan yang mengusap kepalaku saat aku lemah dan tangan itulah yang selalu mendoakanku tak henti. Papa, bau keringatmu masih kucium hingga kini karena dengan keringatmulah aku bisa hidup sampai di titik ini. Dengan peluhmu, aku tumbuh

Setahun papa, setahun yang sulit untukku menjalani hari. Jangan ditanya keikhlasanku. Sungguh aku ikhlas karena engkau jauh lebih bahagia disana. Namun ijinkan aku bertanya . Sudahkah kau temui mama disana? Bagaimana ia sekarang? Ah, pasti sangat cantik. Tolong katakan padanya, aku merindunya sama seperti aku merindumu. Kalian berdua pasti sedang berbahagia disana. Aku masih ingat di hari hari akhirmu, kau bilang melihat mama yang sedang memanggilmu. Sedih mendengarnya kala itu tapi juga bahagia karena kalian masih saling merindu. Ah, aku sungguh merindu kalian berdua. Titip doa ya pa, ma, untuk bahagiaku juga

Papa, meski aku tak lagi bisa melihatmu, mata hatiku tau kau ada. Aku akan membuat papa dan mama bangga karenaku. Aku merindu kalian sangat. Baik baik disana pa. Semoga kau dapatkan tempat yang indah disana, didampingi bidadari kita bersama, mama….

(1 Oktober 2010 – 1 oktober 2011)


Catatan : mengenang setahun kepergian om Saleh Pelu

Sunday, July 03, 2011

(242) Selamat Ulang Tahun, Ay


Pagi..
Embun menyapa, matahari bersinar
Demi apa?
Demi senyummu, cantik

Siang..
Matahari meninggi
Teriknya membakar semangat
Demi apa?
Demi nyala semangatmu menjadi berarti

Senja..
Matahari mulai malu malu
Tak pernah istirahat, hanya menepi
Kilaunya memantulkan sinar cantik di laut
Demi apa?
Demi kilatan juang hidup di matamu

Malam..
Bulan menggantung indah di langit
Putih, merendah di antara banyak bintang tapi mempesona
Demi apa?
Demi rendah hatimu yang mempesona

Pagi, siang, senja hingga malam nanti
Matahari, bulan dan bintang tersenyum
Menjembatani banyak doa untukmu
Kesuksesan, kebahagiaan dan segala harapan

Selamat ulang tahun, gagah.
Tetaplah gagah.....


*kado ultah untuk sahabatku Maya Talanila*

Thursday, June 16, 2011

(225) Ibu.. Kau Cahaya


Baru saja berdiskusi dengan seorang sahabat tentang ibu. Dan aku merindunya lagi malam ini

Diskusi tentang ibu dengan seorang sahabat sebelum tidur ini, justru buatku tak bisa tidur. Aku lapar akan hangat tubuhnya

Ingin sekali bisa membahagiakan ibu di sisa usiaku ini

Ingin sekali bisa memenuhi kemauannya secepat mungkin.

Ibu, semua hidupku untukmu

Ibu, sedang apakah kau disana? Lelapkah tidurmu? Sehatkah engkau? Ingin mendengar suaramu tp detik ini tak mungkin

Ibu, kalau aku kembali, kita akan ulang episode secangkir teh di teras rumah. Sore hari jelang maghrib. Berdua, hanya berdua

Padamu ibu, aku titipkan doa tentang bahagia. Hadiah kehidupan yang kau berikan,tak mampu kubalas meski berkalang nyawa.

Sehat sehat disana ya bu. Aku sayang ibu. aku ingin suaramu mengawali hariku pagi nanti. Aku sayang ibu

Monday, April 04, 2011

(151) Untuk Maluku, Arumbai Ada.

4 April adalah tanggal yang tak bisa lepas dari hidupku. Di tanggal ini, 2 tahun yang lalu kami bertemu untuk pertama kalinya di Kafe Seroja. Menjadi bagian dari pertemuan perdana rasanya menyenangkan. Seperti bersama sama melahirkan sesuatu dan bersama sama pula merawatnya.

Dari MBC, KBM, wacana BBM (Beta Blogger Maluku) hingga kemudian berakhir dengan nama Arumbai. Disinilah kami sekarang, para jojaro dan mongare Ambon berkumpul menyatukan ide dan cinta pada Ambon lewat tulisan kami di dunia maya dan aksi kami di dunia nyata. Merayakan #2 tahun Blogger Maluku ini, setiap kami memposting tentang keterikatan masing-masing dengan komunitas. Kalau cerita soal awal terbentuk, sudah ada tempatnya di arumbai.org, kalo soal Seroja, juga sudah ada di sini dan sini. Jadi yang mau saya bahas disini adalah bagaimana para Arumbai-ers tiba tiba hadir dalam hidupku dan menjadi salah satu bagian penting.

Dimulai dari Tanase, almas, tulisan-tulisan almas banyak tentang idealismenya sebagai seorang pemuda Ambon. Dia sering “menyindir” untuk perbaikan dan kadang menohok serta menyentil kebanggaan sebagai putra Maluku.

Lalu Om Embong sekeluarga, keluarga kecil yang besar *dijitak* yang selalu dengan kaos hitam dan tenteng kamera kemana-mana. Ya iyalah, fotografer professional gitu lho. Meski blog sering tidak ter-apdet, meski prioritas utama adalah foto, tapi selalu ada support bagi kami di Arumbai, jarang ikut kopdar tapi sekalinya ikut, langsung brilian ide-idenya.

Lanjut dengan Mas Mamung, tulisannya bagus bagus, kasi banyak pencerahan. Kadang memposting hal sederhana yang tak lazim macam postingan soal jongkok atau duduk. Ide ide konyol dan kata kata spontan sering muncul dan bikin terpingkal.

Kemudian om Dharma, blogger ini selalu serius. Ya postingannya, ya kalo ketemunya. Kurang becanda-nya kalo sama Om Dhar, bawaannya seriuuuuus terus.

Iki dan Ello, dua alumnus pelat IAIN, angkatan lampu mati. Iki selalu tau apa yang dia mau dan tidak berhenti di kata tapi juga karya. Ello, cerpenis muda yang selalu semangat menelorkan karya dan membuat resensi dari banyak buku yang sudah dia baca, saya sering dibuat terkagum dengan tulisannya.

Ada bung Semmy Toding, apa ya? Apa ya? Pemuda asal Toraja ini banyak ilmunya. Tapi sedikit jaim.

Nia, perempuan jogja yang sedang merantau di Ambon, ramah, ketawa terus, sadar kamera dan celetuknya sering anh bin ajaib. Tulisannya mengundang senyum.

Hari Nugroho, nyong Tegal yang lucu, seru, postingannya sering narsis, sedang mencari jodoh *wkwkwkw* dan tabah *preet*. Saking tabahnya, sering dia diusili oleh kami, tapi gak pernah marah. Mungkin karena dia pikir, dosa dia dipindah ke kita kali ya.

Ada juga Ical dan Ary, alumni pelatihan IAIN yang jarang jarang ketemu tapi sering meng-gila kalo ketemu.

Terakhir Opa Brad, admin Arumbai yang cocok jadi anggota dewan (kata Mas Mamung), karena selalu menampung semua aspirasi kami. Baru sekali ketemu, meninggalkan kesan ramah dan bersahabat.

Ada juga yang lain seperti Sem dan Noel (baru pertama ketemu), Dhanie dan Sarah (gak pernah ketemu) dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu satu karena keterbatasan saya.

2 tahun ini sudah banyak yang kami lakukan sama sama, meski hanya dalam bentuk kopdar di berbagai tempat. Di tahun kedua ini, Arumbai berkomitmen untuk merangkak dan mulai berkarya, bergandeng tangan dengan komunitas komunitas lain di Maluku untuk satu kata, Maluku Maju. Ada banyak yang bisa kami lakukan dan mengajak semua elemen melakukan bersama. Lingkungan kita, seni kita, budaya kita, pariwisata kita, sejarah kita, semua untuk #ArumbaiTomma untuk Maluku. Kami berhimpun, menyatukan perbedaan, mencoba melahirkan karya nyata, memadukan mimpi dan aksi. Meski ada kesedihan karena tak bisa bersama #arumbai saat ini, semangat #tabaos Arumbai menyumbang senyuman lebar di setiap pagiku.

Etapi, di setahun setengah pertama, dengan tidak mengurangi rasa hormat pada Tante Ivon dan Tiara (kan mereka satu paket dengan Om Embong), saya jadi yang paling cantik. Di setengah tahun terakhir ini, hadirlah nia dan sarah yang meramaikan dunia blogger Maluku. Saya yakin masih banyak wanita wanita cantik Ambon di luar sana yang punya blog. Gabunglah bersama kami. Akan ada keluarga baru, persahabatan baru dan tak akan disesali. Saya disini, mendapat satu keluarga baru yang jumlahnya cukup buat jadi panitia pernikahan saya nanti *tsah*…

Kalau diijinkan berbagi mimpi, saya punya mimpi untuk Arumbai. Kita punya rumah baca, kita punya kelompok belajar bagi anak jalanan, kita ada di setiap even penting Kota Ambon, kita punya merchandise, kita punya buku, kita punya usaha kuliner, kita punya agen wisata sejarah dan wisata ke pulau-pulau, kita punya toko buku, kita punya banyak. Pelan pelan kita wujudkan semua impi kita. Dengan senyum dan hati yang terikat dalam semangat #manggurebe tomma maju, beta yakin katong bisa.

Selamat Ulang Tahun keluarga Arumbai-ku. Banyak cinta untuk kalian. *peluk peluk*

  • Postingan ini dalam rangka Ulang Tahun Arumbai yang ke-2, hari ini 4 April 2011.
  • Puncak acara Ultah ke-2 Arumbai berupa Tabaos Arumbai yaitu Nonton Bareng Film Linimas(s)a dan Seminar Internet Sehat: Ambon, 8 – 9 April 2011.

Saturday, February 19, 2011

(107) rumah lama

pasca bakudapa dengan rekans Arumbai, saya melanjutkan agenda bersama adek, ipar dan ponakan. sudah lama menjanjikan ini tapi baru sekarang bisa terlaksana. berempat kami ke ke ef ce urimessing, menikmati suasana ambon di sore hari. family gahering ini berakhir lewat dari jam 5 dan kami belum ashar. masjid yang terdekat adalah masjid al-huda di ponegoro. maka disanalah kami menuju.

dari sana, kami mau pulang lewat jalan biasa tapi tiba tiba terlintas untuk melalui jalan masa kecil dulu. daerah ponegoro ini adalah daerah tempat ngaji semasa kecil yang letaknya bertetangga dengan daerah airmatacina a.k.a amaci, daerah rumah lama sebelum pindah ke rumah sekarang 13 tahun lalu.

melewati tempat ngaji, tempat belanja cemilan cemilan waktu ke ngaji. semua sudah beda. dan sampailah kami di depan rumah lama. iseng, saya pengen tahu adakah yang tinggal disana? sudah direnovasikah? atau?

ternyata skarang yang tumbuh disana adalah ilalang. senang ada disitu untuk sementara waktu. sayang, foto yang kuambil tadi belum bisa upload skarang. kapan kapan akan ditambah gambarnya.

Friday, February 18, 2011

(106) Dan Saya Pun Pulang

Luma Sigite..Tanah Barakate

Pada akhirnya saya pun harus pulang, kembali melanjutkan hidup meski masih didera kehilangan mendalam. Meninggalkan Desa Luhu yang entah kapan bisa datang lagi. MAsih banyak keluarga besar disini, disinilah saya berasal. Namun magnet yang selalu memanggil saya pulang sudah tiada. Kakek, satu alasan terbesarku untuk selalu menyempatkan waktu ke Luhu sudah tiada. Ah, kembali merindunya. Tak ada lagi episode teras bersama, episode meja makan dan episode pata cengkeh.

Baba, Tata, Tete Haji, aku masih saja merindumu. Episode kita terlalu cepat. Aku masih ingin kau ada disini, menemaniku tumbuh, mendampingiku menikah, memperkenalkanmu dengan makhluk kecil yang akan memanggilmu tete oya, membelai rambutmu sekali lagi.

Tata, eby pulang sekarang. Tapi eby janji, eby akan datang lagi, menemuimu di tempat peristirahatanmu sekarang. Kita akan bercanda lagi, tata.

Dermaga Perikanan Desa Luhu

Rumah Tua. Di Terasnya, kenangan bersama Tete Haji membanjir

Senja di Kampung Baru

Jemur Cengkeh, salah satu episode bersama tete Haji

Batu Kapal, salah satu tempat bersejarah di Desa Luhu

sumber gambar dari sini

Sunday, February 13, 2011

(101) Hati-Hati


Buat semua yang berkendaraan, mohon berhati-hati. Karena ketidakhati-hatian anda bisa menyebabkan musibah bukan cuma buat anda, tapi juga orang lain.
Ini yang bisa saya bilang untuk semua yang menggunakan jalan umum. Setelah dua orang adik saya yang ditabrak motor yang melaju dengan kecepatan tinggi saat mereka menyebrang. Memang anda bertanggungjawab dengan mengantar ke rumah sakit, juga untuk menyelesaikan semua administrasinya. Namun, bagaimanapun itu tidak membayar waktu mereka yang terbuang tak bisa beraktivitas seperti biasa, tak bisa menggantikan air mata serta keresahan seorang wanita, seorang ibu, yang mendengar kabar anak-anaknya kecelakaaan di rantau. Tak bisa pula menggantikan risau serta debar kencang seorang ayah yang mengkhawatirkan dua buah hatinya.

Berhati-hatilah kawan.

sumber gambar : vienacmblnewh.blogspot.com

Tuesday, February 08, 2011

(96) bunda

pada dinding cemara
kutautkan satu rasa
untuk seorang bunda
yang penuh cinta

bu,
saat ini bersamamu
namun aku merindumu
senyum lembutmu

bunda,
banyak cinta terlayang dalam doa
hinggap pada keinginanmu bahagia
aku,anakmu, mencintaimu selamanya

Monday, February 07, 2011

(95) Ambon di Balik Mendung


Mendung terus menggantung di langit Kota Ambon. Dari pagi hingga jelang maghrib ini tak ada matahari yang menyapa. Jalanan kota Ambon pun begitu teduh, tenang tak ada riuh. Saya menyusuri kota Ambon sehari ini, dan kota kecil ini makin membuatku cinta. Mungkin di suatu ketika, akan muncul mall mall besar, jembatan jembatan yang mematahkan nafkah para pengemudi perahu, atau taman bermain sekelas dufan atau yang ada di kota kota besar sana, mengalihkan perhatian anak-anak dari enggo basambuyi dan kulibia. Atau kubah masjid Alfatah yang akan diganti dengan yang lebih indah.

Mungkin itulah tuntutan zaman. Tak bisa mengelak dengan pembangunan. Kalau mau enak, bikin saja satu kawasan semacam Kota Tua dio Betawi dimana tak ada perubahan apapun. Tapi ini hanya ucapan seorang Ebhy yang belum dipikir matang. Intinya, apapun perubahan Kota ini nantinya, dengan menikmati Kota satu hari ini, bisa membuat saya punya kenangan akan jalan mungilnya, akan bangunan tua Masjid Alfatah, akan perahu Galala-Rumatiga. Semuanya tentang kota ini, mungkin saja kelak akan jadi kenangan indah.

Apapun perubahan fisik yang bakal terjadi, semoga perdamaian, ketenangan, keramahan, selalul tersedia, tidak ikut berubah, tidak ikut tergerus zaman.

ps : gambar diambil dari bumi-nusantara.blogspot.com

Saturday, February 05, 2011

(93) Kopdar Blogger Maluku



Yeyay... Kopdar lagi.. lagi-lagi kopdar. Ketemu lagi sama basudara blogger maluku. Kali ini Kafe The Street, terletak di Jalan A.Y. Patty, depan Swalayan Planet. Kafe ini sudah setahun berdiri tapi baru kali ini masuk situ. Awalnya sih dapat bisik bisik tetangga kalo disitu cuma menu ikan, sedikit porsinya. Makanya saya gak pernah kesitu, malas saja sudah kesitu tapi porsinya sedikit. eh tapi, ternyata tidak saudara-saudara. Mungkin karena tetangga yang bisiki saya itu gendut kali ya, yang porsi makannya memang tidak normal. hehehehe....

Yang hadir kali ini, saya, mas mamung, om dharma, harry, nia, sem, wiwied dan ichal.


hmmm...sebenarnya saya mau cerita apa ya?
oiya, ada beberapa hal nih.

1. Komunitas Blogger Maluku mau ganti nama. Ada ide?
2. 2 bulan lagi blogger maluku ultah, ada ide untuk bersihkan pulau pombo. Pulau indah yang sudah tidak indah lagi karena sampah orang orang yang ngakunya kesitu menikmati indahnya
3. Bulan maret kita tetap harus bikin workshop internet sehat lho ya. Ayuk, ngobrol serius lagi tentang ini


Itu dulu untuk sekarang. Sampai jumpa di kopdar berikutnya.

foto diambil dari harry cenat cenut

Friday, February 04, 2011

(92) Pemuda dan Kerja Keras


Di teras rumah ketika bercengkerama dengan Papa, adekku eyha dan ponakanku Naya tercinta, lewatlah seorang anak muda yang menawarkan jasa Sol Sepatunya.
karena sepatu sandal saya ada lepas pengaitnya, pemuda itu kami panggil untuk membetulkan, Ketika dia lagi asyik dengan peralatan perangnya, saya perhatikan dan cermati pemuda ini. Dari penampilan, dari suara, dari wajahnya, terlihat sekali dia masih muda dan dia orang Jawa Barat.

Semuda itu, dia merantau demi sesuap nasi. Dari Jawa Barat ke Ambon, untuk Sol Sepatu. Bayangkan berapa km dia jalani setiap harinya? Adakah setiap hari dia temui mereka yang mau memakai jasanya? Berapa penghasilannya sebulan? Cukupkah untuk sehari-harinya? Masih tersisakah untuk mengirim ke sanak saudara disana? Kalo dia lelah, kehujanan atau kepanasan, adakah tempat ia berteduh? Bayangkan jika tak ada satupun yang memakain jasanya di satu hari, bisakah dia dapat uang hanya untuk sekedar pulang dengan naik angkot, tidak dengan berjalan kaki lagi?
Ini kebetulan anak muda, bagaimana seandainya tukang sol sepatu itu bapak-bapak atau malah kakek kakek? Duh, mana keluarganya yang lain? Tak kuasa aku melanjutkan bayangan bayangan ini.

Banyak anak muda yang saya temui juga seperti itu, Bahkan jauh lebih muda. Cobalah datang dan nginap semalam di rumahku. Pagi hari kala kau terjaga, ada banyak suara yang akan kau dengar. Suara bocah-bocah yang berjalan menjajakan donat atau roti gula atau pisang goreng. Usia mereka? masih sekolah. Setiap melihat mereka, teringat ketika saya di usia yang sama, sedang bermain main dengan tetangga, sedang menikmati coklat setiap papa pulang kerja, atau makan makanan ibunda dengan lahap tanpa bersusah payah.

Sore ini, saya kembali disadarkan akan kesyukuran mendalam. Bahwa ketika keluhan keluar dari diri, maka lihatlah, masih banyak yang lebih berhak untuk mengeluh.
Buat semua anak muda yang sedang menjalani hidupnya dengan keras, tetap sabar. Rezeki yang halal memang perlu digapai dengan keras di zaman seperti ini. tetaplah menjadi jujur dan berdiri di kaki sendiri, meski lara kadang menyapa.

nb : gambar hasil googling didpat di damay-anti.blog.friendster.com

Tuesday, February 01, 2011

(89) Kopdar bersama Anging Mamiri

Dear bloggerwan dan bloggerwati,

surat ini saya tulis sepulang saya bertemu dengan rekan-rekan blogger dari kota Daeng, Makassar. Sebelum keberangkatan saya ke Kota Daeng, saya sudah mengabarkan lewat blognya Daeng Ipul. Sok penting banget ya saya. Tapi begitulah, kalau ada kesempatan bertemu dengan rekan blogger, kenapa tidak?

Nah, setelah dapat sms kalo kopdarnya itu di IGO Cafe, bertanyalah saya kesana kemari, bagaimana supaya bisa kesana. Ketemuannya jam 7 malam dan baru di jam 7 itulah saya keluar asrama. jam Indonesia, ngareeeeet terus. Sampai di depan IGO, saya masih tebingung bingung, ini anak anak AM mana ya? Ada seorang bapak (atau anak muda? gelap, gak kelihatan) di parkiran yang tiba tiba bilang sama saya "cari anak anak anging mamiri? di atas".

wups, ternyata ini basecamp sampai bapak-bapak itu tau. Mungkin di-sms sama Nanie, turunlah Daeng Ipul menjemput kami. Sampai di atas, sudah berkumpul anak anak AM yang lain. Ada Unga, Tika, Anbhar, Daeng Takdir, Siapa lagi ya? lupa, banyak soalnya. Ada adek kelas juga ternyata. Banyaklah yang diomongkan. Meski yang lebih banyak omong memang tuan rumahnya. Saya sih ketawa ketiwi saja. Apalagi kalo sudah keluar dialek-dialek makasaar dari mereka, pikiranku melayang ke teman-teman jaman STM dulu, biasanya bercanda kayak gini sama mereka dulu.

Dan, entah mengapa, tiba-tiba saja saya teringat dengan komunitas blogger maluku saya. Teringat dengan Om Embong sekeluarga, Almas, Mas Mamung, Om Dharma, Iki, Ello, Lina, Hari dan Nia Cenat Cenut, teringat kisah kisah kopdar kita. Mulai dari Seroja, Sibu-Sibu (non formal), Joas (non formal), baguala beach, kafe pasir putih, KFC urimessing hingga di kantor Om Embong yang dulu, dan yang terakhir di Hilyah. Ditambah lagi pernah bekpeker akhir tahun bersama mereka. Aih, saya kangen mereka semua.

Dan, sepulang dari Makassar ini, kopdaran lagi yuk.