Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Sunday, November 20, 2011

Lupakan Mimpi

Mimpi adalah bunga tidur. Atau bagi sebagian orang, mimpi adalah kode yang dipecahkan lalu dihitung hitung hingga menghasilkan angka dan menunggu sore tiba. Saya jarang bermimpi dan jarang pula masuk dalam mimpi seseorang. Sampai saat ini, yang saya ingat, saya pernah mimpi digigit harimau atau cuma dikejar ya? Lupa. Dan waktu kecil, SD kalo tidak salah, ibu pernah bermimpi saya meninggal. Saya tak tahu dan tak mau tahu arti mimpi mimpi itu karena buat saya, mimpi hanya sekedar bukti bahwa tidur semalam tak lelap.

Dan pagi tadi, saya mendengar percakapan begini :

A : kalo mimpi orang kaweng bikin pesta basar, itu artinya apa la?

B : Mimpi orang kaweng tu mimpi seng bae. Mo ada yang meninggal itu

A : Maksudnya? Yang meninggal yang mimpi ka yang di dalam mimpi?

B : Yang di dalam mimpi

A : aoo.. batul ini. Ada orang mimpi beta kaweng, bikin pesta basar

B : ….hening…..

Entah apa yang ada di pikiran B, mungkin menyesali telah memberitahu arti mimpi itu. Entah apa pula di pikiran A, gelisah akan arti mimpi itukah? Dan di pikiran saya, masih sama, mimpi adalah tanda yang bermimpi tak nyenyak tidurnya. Karena terlepas dari kebenaran arti mimpi itu, kematian pasti datang kan? Berapa banyak orang yang meninggal tanpa perlu sebelumnya dimimpikan dulu. Kematian pasti datang, tugas kita hanya tetap dalam keadaan baik saat dijemput nanti juga mempersiapkan kehidupan yang baik setelah kedatangannya itu.

Ambil hikmahnya saja dari mimpi tersebut. Bahwa kita diingatkan lagi dan lagi untuk jadi lebih baik dan lebih dekat kepadaNYA, yang memiliki kita seutuhnya……

gambar diambil dari sini

Saturday, November 19, 2011

Perputaran Rasa

Sepanjang perjalanan Liang - Ambon sore tadi, saya melewati dua iring-iringan pengantar jenazah, dua iring-iringan pengantar pernikahan dan melewati hampir sepuluh tenda orang wisudaan. Melihat semua itu, saya seperti tersadarkan kembali bahwa hidup itu berputar. Banyak sekali hal yang akan kita alami. Lahir, lalu menjalani hidup dengan segala dinamikanya. Peristiwa bahagia seperti lulus sekolah, dapat pekerjaan, menikah, jalan jalan, makan es krim, melahirkan, selang seling dengan berita sedih seperti gagal dapat pekerjaan, bisnis bangkrut, patah hati, masuk rumah sakit, kehilangan anggota keluarga dan lain lain.

Semua pasti terjadi, segala rasa pasti pernah berganti datang menghuni hati. Lalu, apa yang membuat kita akan bertahan? Saya sampai detik ini masih percaya dua hal yang paling ampuh dijadikan modal hidup. Yaitu Sabar dan Ikhlas, dua hal yang WAJIB dimiliki bila ingin semua berjalan baik baik saja, at least perasaan kita akan mampu terkontrol dan kita bisa tersenyum lebih lega menghadapi berita bahagia dan sedih silih berganti.

Bahkan, berita sedih bisa jadi ternyata membawa bahagia suatu saat nanti, pun sebaliknya. Maka, berhentilah berkeluh kesah atas kesedihan yang mampir tapi jangan pula terlalu bersenang senang atas bahagia yang singgah. Hadapi dan nikmati sewajarnya.

Thursday, November 17, 2011

Perempuan

Hari kedua fasilitasi kunjungan Lesson Learned, agendanya adalah diskusi dengan beberapa grup interview...

Dari beberapa diskusi, yang paling menarik hari ini adalah grup interview dengan kelompok perempuan. Di satu kesempatan, ibu klassis sebagai salah satu peserta diskusi mengatakan :

"jam kerja perempuan lebih panjang dari jam kerja laki laki. Perempuan baru tidur setelah laki laki tidur dan sudah bangun sebelum laki laki bangun"

Kalau dipikir pikir, benar juga kata Ibu Klassis. Perempuan bangun di pagi hari sebelum yang lain bangun untuk mempersiapkan yang lain itu memulai hari. Pun ketika semua sudah terlelap, barulah perempuan tidur. Pantaslah ketika Rasulullah menjawab ibu, ibu, ibu baru ayah ketika ditanya tentang mana yang harus didahulukan.

Dengan apa yang perempuan jalani, itulah betapa kedudukan perempuan sangat mulia. Terlepas dari itu semua, seorang ayah juga memiliki peran yang sangat hebat dalam keluarga. Pada simpulannya, buat saya, lelaki atau perempuankah ia, selama ia bisa menjalankan perannya dengan baik, ikhlas dan penuh tanggungjawab, itulah manusia manusia sejati.

Wednesday, November 16, 2011

Makan makan

Hari pertama memfasilitasi kunjungan tim lesson learned PTD di SBB. Ada satu catatan yg tertulis bahwa di bumi Maluku ini, kita justru makan bukan dari orang Maluku. Tulisan ini tidak bermaksud meng-generalisasi tetapi untuk catatan kaki saja.

Ketika menjemput tim di Waimital, dari perjalanannya Masohi Piru, titik pertemuannya adalah di warung bakso. Pemilik warung bakso itu orang jawa. Ah, saya lupa nama daerahnya, yang jelas, dari desa tetangga ponorogo. Lalu makan malamnya kami mampir di warung makan yang berlokasi di desa Kamal. Dan setelah tanya tanya, pemiliknya berasal dari lumajang. Tempat makan saya di Piru, juga berasal dari jawa, ponorogo tepatnya.

Saya di ambon, ikan yang saya makan, dari laut maluku, sayur dari tanah maluku juga berasnya. Namun ketika sampai lidah, rasanya citarasa jawa. Indonesa Bapa....

Sunday, November 06, 2011

Al-Latif, Sebuah Kerinduan

14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1997, keluarga kami pindah rumah ke daerah Air Kuning, kawasan Kebun Cengkeh Kota Ambon. Saat itu, daerah air kuning terbilang masih baru, dan penduduknya bisa dihitung dengan jari termasuk jari kaki. Kami termasuk penghuni penghuni awal lorong Wailahan dan Gondal di kompleks ini. Masih ingat dengan jelas, karena penduduk yang masih sedikit itu, kami bergabung dalam jamaah Masjid Al-Burhan yang terletak di loorng Sumatera. Tidak terlalu jauh memang, tetapi daerah itu bukan daerah silaturrahim kami, artinya interaksi kami dengan penduduk lorong sumatera hanyalah saat di masjid saja. Di keseharian, kami tidak pernah berinteraksi.

Tahun berganti tahun, BTN Manusela yang terletak lebih dekat dengan kompleks kami, daripada ke lorong sumatera, membangun masjid Al-Ikhwan. Maka jamaah di lorong Wailahan dan Gondal ini pun terbagi. Pada saat sholat jumat atau sholat hari raya, warga dua lorong ini terpisah. Sebagian ada yang ke Masjid Al-Burhan, sebagian pula ada yang ke Masjid Al-Ikhwan. Bahkan tidak sedikit yang ke Masjid Raya Al-Fatah. Begitulah kehidupan berjamaah dua lorong yang bertetangga ini. Para ibu memang memiliki pengajian rutin dari rumah ke rumah. Tapi para bapak? pemudanya? tidak ada tempat untuk bertemu rutin dalam suasana yang religi.

Hingga tibalah saatnya, bermula dari hibah tanah seorang pemilik tanah di lorong Wailahan, sejak tahun 2010 dimulailah pembangunan masjid kompleks. Pembangunan dilakukan swadaya oleh penduduk laki laki baik tua maupun muda setiap harinya terutama di hari minggu dan ibu ibu mengumpulkan dana lewat berjualan kue dan sesekali ikut membantu kerja bapak bapak dan para pemuda.

Setahun berjalan, tahun inilah, tahun 2011, untuk pertama kalinya, warga Wailahan dan Gondal bisa sholat id bersama sama dalam satu tempat. Saya masih ingat suasana haru setelah sholat id fitri September lalu. Bisa saya rasakan atmosfer senang, bangga dan terharu dari warga bahwa akhirnya bisa sholat di masjid sendiri, mesjid yang dibangun dengan keringat bersama sungguh luar biasa. Meski ada yang hilang juga, suasana berkunjung ke rumah rumah tidak seramai biasanya, mungkin karena sudah bertemu semua di masjid kali ya. Beda dengan tahun tahun sebelumnya yang sholatnya misah misah.


Pun hari ini, suasana sholat id adha juga berbeda. Bagaimana tidak, ritual hadrat keliling kampung dengan membawa hewan kurban yang tahun tahun sebelumnya, warga sini hanya sebagai penonton gelaran hadrat kampung kampung tetangga, kini kami bisa melakukannya sendiri. Para pemuda dan anak anak yang sudah berlatih 2 minggu sebelum id setiap malamnya, siang ini melakukan hadrat keliling kampung membawa kurban menuju Masjid Al-Latif, masjid kecil kebanggaan kami.


Masjid Al-Latif adalah masjid harapan. Harapan untuk kami dapat hidup beragama lebih baik, juga hidup bertetangga dengan lebih baik.

Saturday, November 05, 2011

Emak Ingin Naik Haji


Twit saat nonton Emak Ingin Naik Haji-nya Asma Nadia

• Film Emak Ingin Naik Haji sedang diputar di SCTV. Film yg selalu bikin getar meski nonton berulang #Haji

• Adegan Zain meletakkn kembali koper berisi uang yg hendak dicuri stlh melihat kitab suci alquran dalam keadaan terbuka di atas bantal #haji

• Itu salah satu adegan terbaik. Rasa malu pd kitab suci, suara emak mengaji terngiang membentengi zain mlakukan dosa meski u/ niat baik #haji

• Adegan lain yg luar biasa adl saat emak merekatkan gambar ka'bah yg sobek dgn nasi dan blg "walau emak blm bs kesana,mak bs bayangin" #Haji

• Ibuku, beliau sering memandangi gambar ka'bah di ruang tamu rumah kami. Semoga suatu saat Allah ijinkan beliau berangkat kesana #Haji

• Kalimat dahsyat ini buat meleleh "meski raga emak tak mampu seberangi samudera ke tanah suci, Allah tau hati emak sdh lama ada disana" #haji

gambar diambil di : www.eramuslim.com

Friday, November 04, 2011

Pengorbanan

Dalam satu percakapan, seorang teman mengatakan “ada disini, banyak yang kita korbankan”. Sekilas, mungkin iya. Banyak kehilangan dirasa disini dalam berbagai wujudnya. Namun setelah dicerna kembali, sepertinya tidak juga. Semua bukan kebetulan, tapi telah berjalan sesuai dengan kehendakNya. Kita tidak sedang mengorbankan apa apa, karena toh kita pun telah mendapatkan banyak disini. Kalaupun ada yang harus dikorbankan, itu adalah prasyarat yang mungkin harus kita penuhi untuk mendapatkan ganti lebih baik.

Kehlangan adalah niscaya. Pun mendapatkan yang lain, juga adalah kemestian. Segala takdir akan berlaku pada kita, jika memang tiba saatnya. Kesabaran dan kesyukuran adalah dua sisi yang harus kita sandingkan selalu tak bisa pisah. Jika kehilangan harus terjadi, percayalah bahwa itu adalah cara Allah mempersiapkan kita menerima kedatangan satu lagi takdirNYA. Takdir yang akan mengganti kehilangan, yang mengubah sedih menjadi senyum. Keikhlasan melepas yang harus dilepas adalah cara menyelamatkan masa depan.

#mengingatbanyakkehilangansemasadiShindan,Ciloto

Tuesday, November 01, 2011

(363) Ma Em, Satu Episode Cinta

Pagi ini tiba tiba saja teringat pada satu sosok yang begitu berjasa dalam hidupku. Fatma Badaruddin namanya, biasa kami sapa dengan panggilan Mama Em atau Ma Em. Ma Em adalah guru ngajiku semasa kecil juga guru kehidupan. Tempat ngaji "Nurul Huda Walyaqin" bertempat di Ponegoro, dekat dengan domisiliku waktu itu di Air Mata Cina. Awal pertemuan dengan beliau penuh dengan detak ketakutan. saya yang saat itu beruisa 6 tahun, sudah dijejali dengan cerita cerita tentang ketegasan beliau yang di kacamata anak sekecil saya diartikan sebagai orang tua yang jahat. Setiap datang mengaji, yang saya lakukan adalah hanya menangis. Padahal beliau tidak berbuat apa apa, tapi karena sudah takut duluan terhadap sosoknya yang terkenal keras, melihatnya saja, bahkan sejak tiba di lorong menuju rumahnya, saya mulai menangis sampai jam pulang nanti.



Entah berapa lama hal itu berlangsung dari hari ke hari. Sampai tibalah hari dimana saya harus berangkat sendiri ke tempat ngaji. Kakak perempuan saat itu tidak bisa datang, saya lupa kenapa. Parahnya lagi, saya datang paling awal dari teman teman ngaji yang lain. Dalam ruangan hanya ada Ma Em dan saya. Tubuhku berguncang hebat ketakutan. Tangisan yang selalu keras, hari itu itu lebih keras lagi. Entah mengapa, saya begitu takut dengan beliau. Bayangan akan dimarahi atau bahkan mungkin dipukul jika salah mengaji atau salah salah yang lain. Mungkin karena sudah capek dan panas telinga beliau mendengar tangisanku yang jelas tidak merdu itu, beliau pun membaca doa lalu berteriak sekencang kencangnya. Hanya satu kata yang beliau teriakkan usai berdoa itu, yaitu DIAAAAAAAAAAAAAAAM. Dan, tangisanku pun berhenti seketika.

Setelah itu, hari hari berlalu dengan sempurna. Saya menjadi murid kesayangan beliau. Bertemu beliau, memandang wajah beliau adalah kesejukan yang mengaliri hati. Semua ilmu beliau berikan kepada kami tanpa tersisa. Bahkan ketika beliau pindah rumah ke Kaitetu untuk lebih tenang di masa tuanya, pengajian dikelola oleh kami, murid murid beliau yang sudah khatam. Dan di hari minggu siang beliau hadir langsung untuk memberikan bekal agama terapan seperti sholat, puasa, wudhu, zakat, semuanya. Akhlak pun beliau tanamkan dengan penuh kehalusan. Bertahun tahun setelah khatam, saya masih saja menjadi murid yang haus. Datang dan datang lagi sekedar berbagi dengan adek adek juga mendengar ceramah beliau yang rimbun. Bahkan di hari terakhir kami tinggal di air mata cina, paginya saya masih mengikuti pengajian beliau lalu siangnya boyongan ke rumah baru kami di Air Kuning, Kebun Cengkeh.

Jarak yang lumayan jauh itu memaksa saya tak bisa setiap hari lagi mengunjungi Nurul Huda Wal Yaqiin. Hanya di hari minggu saya bisa ke Ponegoro menemui beliau. Hari hari berganti dan saya melanjutkan pendidikan di Makassar. Setiap tahun kepulangan lebaran, selalu kusempatkan menemui beliau. Sampai akhirnya melanjutkan kuliah di Surabaya, jarak semakin teretas.

Dalam satu kunjungan seorang bibiku ke Surabaya, saya menemani beliau belanja ke Pasar Turi. Saat itu, kulihat satu gamis putih dipajang di salah satu toko. Saya membayangkan betapa cantiknya beliau dengan gamis itu. Gamis itu kubeli dan kutitipkan ke bibi untuk diberikan kepada Ma Em setibanya di Ambon. Sayangnya, gamis itu tak pernah sampai di tangannya. Ma Em dipanggil Allah sebelum sempat mengenakan gamis itu. Berita kepergian beliau kudengar di sela sela perkuliahan dan seketika semangatku tak ada. Hilang bersama berita kepergian Ma Em yang disampaikan papa lewat telepon. Ingin rasanya terbang menemui beliau, menatap wajahnya yang tersenyum saat dipanggil Allah. Aku menjadi saksi betapa Ma Em mencintai Sang Khalik semasa hidupnya. Betapa Ma Em menjadi pejuang Islam dengan seluruh apa yang beliau punya. Sungguh tak menyangka pertemuanku di lebaran 2001 adalah pertemuan terakhir. Pertemuan di rumahku sendiri. Terkaget ketika beliau tiba tiba mengetuk pintu rumahku. Aku yang merencanakan besok akan ke rumahnya, ternyata sudah beliau datangi di sore sebelumnya. Beliau datang diantar oleh cucunya yang bercerita bahwa mendengar kedatanganku di Ambon, beliau meminta diantar ke rumah menemuiku. Cucu cucunya sudah melarang dan mengatakan bahwa Eby-lah yang akan ke Ponegoro tapi beliau bersikeras dan mengatakan akan tetap pergi sendiri kalau tidak ada yang mau mengantar. Ma Em, ada haru saat kau tiba. Kakimu yang tertatih melangkah menemuiku di jalanan yang cukup menyusahkan untukmu.

Meski Ma Em telah lama berpulang, aku tau kemana harus menemuimu. Dalam lantunan quran yang kubaca, ada suaramu disana. Dalam sholat yang kutegakkan, ada dirimu. Dalam setiap kebaikan yang kucoba rajut, dirimu hadir. Bersilaturrahim dengan keluargamu, dengan menantu dan cucu cucumu adalah waktuku menemuimu. Karena selalu ada cerita tentang kebaikanmu setiap kami bersua.

Em, Eby rindu. Eby masih sering buka album album lama untuk melihatmu lagi, sekedar menitipkan sedikit rinduku.


Monday, July 25, 2011

Catatan untuk Shindanman

ada resah yang ingin kutekan dengan kuat
dalam dinding hati yang terbiasa bersama
aku percaya ada satu rahasia dariNYA
hingga kita dipertemukan di titik kehidupan yang sama

dan jika kita harus kembali untuk menjalani titik yang lain
itu bukan sebuah kesalahan
tapi sungguh, inilah kebenaran yang harus terjadi
inilah satu satunya takdir yang paling tepat kita jalani

di apa yang kita alami
tak ada persahabatan yang sempurna
yang ada adalah orang orang yang berusaha sebisa mungkin mempertahankannya

sampai jumpa kawan
kita telah petik dawai bersama
resonansi persahabatan kita telah sama
saling ingatkan. saling doakan
biarkan doa doa kita berkejaran di langit

bangga mengenal kalian semua

(264) Sekali dan Berarti


Seperti baru kemarin menginjakkan kaki dengan berat hati di Ciloto. Membayangkan akan melewati 5 bulan dengan belajar, terpisah dari keluarga, keluar dari kotak nyaman. Tibalah hari ini, hari mengakhiri 5 bulan itu dengan “berat” juga.
5 bulan memang terlalu lama untuk sebuah pelatihan. Tapi 5 bulan sungguhlah cukup untuk menyatukan 60 kepala, 60 hati dalam satu keceriaan.

Disini ada ilmu yang tentu saja melimpah, ilmu yang sama sekali tidak pernah kusentuh selama ini. Berawal dari pusing mendengar satu persatu istilah di dunia keuangan dan dunia industry hingga akhirnya terbiasa dan bisa bercanda dengan istilah istilah itu. Tapi disini pula, pelajaran kehidupan begitu banyak. Persahabatan yang terjalin dengan segala dinamikanya. Berbagai karakter orang dengan segala problemanya ditemui disini.

Kami, 60 orang yang tak saling mengenal awalnya, lantas kebersamaan setiap hari di sudut sudut hotel lembah hijau ciloto, semakin mengukuhkan kami adalah saudara. 60 orang yang awalnya hanya saling menebak dan membangun image sendiri tentang orang lain, kini kami lebur dan begitu mengenal pribadi yang lain. 59 orang yang tiba tiba saja masuk dalam hidupku memberi warna lain. Bahwa Indonesia itu luas, Indonesia itu kaya, dan yang terpenting adalah ada 59 orang baik di dunia ini.

Banyak hal telah kita lewati. Dari kehilangan, kepergian seorang sahabat, momen momen ulang tahun dan bahkan pernikahan. Ini semua takkan terulang. Karena takdirnya memang begitu. Kalaupun terulang, tak mungkin bisa seindah ini. Ini sekali dan berarti. Hari ini kami akan saling melepas. Kembali ke kehidupan normal lagi. Kembali ke rutinitas lalu dengan semangat persaudaraan yang baru. Mengharukan, tapi itulah perputarannya. Bahkan saat pertama kita ketemu, kita sudah tahu hari ini akan tiba cepat atau lambat. Ada pertemuan ada pula perpisahan. Tapi sejatinya kita bukan berpisah. Kita sedang melebarkan pertemanan dari sekian hektar hotel lembah hijau ciloto menjadi pertemanan seluas Indonesia.

Kita akan saling mengenang, kawan. Apa yang kita lalui bersama selama 5 bulan ini hanyalah awal untuk persahabatan seumur hidup. Saya bangga menjadi bagian dari kalian. Saya belajar sesuatu dari setiap kalian, setiap kalian, per orangnya. Satu hal, persahabatan kita mungkin saja ada yang tergores, marilah melebur. Gugurkan semua saat jabat tangan nanti. Karena tak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada hanyalah orang orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

Sampai ketemu lagi kawan. Di tempat yang berbeda, di kesempatan yang berbeda dalam resonansi persahabatan yang sama. Love you all, shindanman………

Thursday, March 31, 2011

(147) Sebulan Merantau

Akhir bulan. Berarti pas sebulan meninggalkan Ambon. Sebulan di Ciloto, bersama teman-teman dari daerah lain. Bertukar bahasa, bertukar kebudayaan, dan bertukar cita rasa. Kadang-kadang kangen sama Ambon. Makanannya, suasananya dan yang paling sering adalah kangen keluarga di rumah, Ibu, Papa, ddan si kecil Naya.
Sebulan disini, jalan-jalan sudah meski belum banyak. Yang banyak itu pusingnya. Saya yang orang teknik, tak pernah tau soal keuangan tiba tiba harus dijejaali otaknya dengan Dasar Manajemen, Manajemen Keuangan dan Manajemen Biaya. Istilah istilah seperti aktiva, neraca, passiva, likuiditas, depresiasi, factory cost, leverage, break even point, average collection period, debt ratio, net income after tax, earning before interest and tax dan tau deh. Senang sih, bisa jadi tau perhitungan begitu, tapi kalo dijejal hanya dalam kurang dari 2 minggu bisa semua, kalo kata orang Makassar, poge ma’. Kalo kata orang Ambon, sampe pastiu.



Sebulan disini, teman teman semakin hari semakin menyenangkan. Mulai dari Aceh sampai Raja Ampa ada disini. Ada juga dari daerah daerah yang belum pernah kudengar sebelumnya seperti kepulauan anambas, sijunjung, bulungan. Mungkin itu yang bikin sedikit lebih betah. Lingkungan persahabatan yang baru, lintas suku. Dengar cerita tentang banyak daerah, banyak budaya, liat banyak gambar dari daerah lain, Indonesia memang kaya. Bertemu mereka semua, resolusi travelling saya adalah menjelajahi Indonesia, melihat kekayaan Indonesia lebih dekat.

Wednesday, March 30, 2011

(146) Gendut

Nah, sekarang bicara soal berat badan ya. Ada perbedaan dulu dan sekarang. Dulu itu sejak STM sampai selesai kuliah dan awal kerja. Sekarang yang sekarang, tepatnya sejak setahun terakhir.

Dulu berat badan gak pernah di atas 40  sekarang di atas 50
Dulu setiap gak makan, dipaksa makan  sering dilarang makan
Dulu kalau makan, disemangati “makan yang banyak,by”  sekarang kalau ambil makan, yang dibilang “jangan banyak banyak, by”
Dulu setiap ketemu orang, disuruh menggemukkan badan  sekarang disuruh mengurangi berat badan
Dulu kuliah dibilang kayak anak SMP  sekarang dibilang udah kayak emak emak.
Dulu dibilang “kamu tuh bukan kurus by, tapi tipis"  sekarang dibilang “makin lebar aja, by”

Duuh…. Setelah saya menggemukkan badan dengan mengkonsumsi susu setiap hari dan makan terus, sekarang saya disuruh menurunkan dengan sit up, mengurangi makan dan lain-lain. Tahulah, yang penting saya sehat. Naik dan turunnya, lihat nanti, saya tak upayakan apa apa. Paling sit-up saja soalnya perut jadi buncit.

Ada tips buat nurunin lemak di perut?

Saturday, February 19, 2011

(107) rumah lama

pasca bakudapa dengan rekans Arumbai, saya melanjutkan agenda bersama adek, ipar dan ponakan. sudah lama menjanjikan ini tapi baru sekarang bisa terlaksana. berempat kami ke ke ef ce urimessing, menikmati suasana ambon di sore hari. family gahering ini berakhir lewat dari jam 5 dan kami belum ashar. masjid yang terdekat adalah masjid al-huda di ponegoro. maka disanalah kami menuju.

dari sana, kami mau pulang lewat jalan biasa tapi tiba tiba terlintas untuk melalui jalan masa kecil dulu. daerah ponegoro ini adalah daerah tempat ngaji semasa kecil yang letaknya bertetangga dengan daerah airmatacina a.k.a amaci, daerah rumah lama sebelum pindah ke rumah sekarang 13 tahun lalu.

melewati tempat ngaji, tempat belanja cemilan cemilan waktu ke ngaji. semua sudah beda. dan sampailah kami di depan rumah lama. iseng, saya pengen tahu adakah yang tinggal disana? sudah direnovasikah? atau?

ternyata skarang yang tumbuh disana adalah ilalang. senang ada disitu untuk sementara waktu. sayang, foto yang kuambil tadi belum bisa upload skarang. kapan kapan akan ditambah gambarnya.

Saturday, February 12, 2011

(100) Anak Muda



Jadi begini ceritanya..

Dalam perjalanan menuju Ambon, di angkot jurusan Kebun Cengkeh, saya seangkot dengan 3 siswa SMA. Mungkin kelas 2 atau 3. 1 cowok dan 2 cewek.Awalnya percakapan biasa yang samar-samar terdengar. Sampai tiba-tiba :

Cewek 1 : woe, ose pung laki mo ambel informatika ka?
Cewek 2 : Iyo, dia ada bilang ni
Cewek 1 : Kata dia mo pu di Malang ka?
Cewek 2 : Awalnya begitu, tapi gara gara beta, dia seng jadi pigi

terjemahannya begini,

Cewek 1 : eh, suamimu mau ambil unformatika ya?
Cewek 2 : Iya, dia bilang begitu
Cewek 1 : Katanya dia mau pergi ke malang ya?
Cewek 2 : Awalnya begitu, tapi karena saya, dia tidak jadi pergi

Perhatikan yang saya cetak tebal. Anak SMA sudah ngomong suami suami begitu untuk pacar? Trus sudah pakai berkorban gitu ya sampe gak jadi merantau. So sweet amat. Tapi SMA?

Saya dulu SMA gak gitu gitu juga deh. Ya sekedar naksir naksir sih ada-lah ya. Tepe-tepe gitu juga kadang-kadang. Tapi itu masih pake malu malu. Malu kalau orang tahu. Takut kalau orang tua tahu. Padahal cuma naksir-naksiran saja, gak sampai deklarasi. Apalagi sampai cerita di tempat tempat umum gitu? uuhh..malu semalu-malunya.

Harus begitu ya sekarang? Pamer, bangga sudah ada gandengan, dan deklarasi gitu?
Tau deh.

sumber gambar : kiens.wordpress.com

Monday, February 07, 2011

(95) Ambon di Balik Mendung


Mendung terus menggantung di langit Kota Ambon. Dari pagi hingga jelang maghrib ini tak ada matahari yang menyapa. Jalanan kota Ambon pun begitu teduh, tenang tak ada riuh. Saya menyusuri kota Ambon sehari ini, dan kota kecil ini makin membuatku cinta. Mungkin di suatu ketika, akan muncul mall mall besar, jembatan jembatan yang mematahkan nafkah para pengemudi perahu, atau taman bermain sekelas dufan atau yang ada di kota kota besar sana, mengalihkan perhatian anak-anak dari enggo basambuyi dan kulibia. Atau kubah masjid Alfatah yang akan diganti dengan yang lebih indah.

Mungkin itulah tuntutan zaman. Tak bisa mengelak dengan pembangunan. Kalau mau enak, bikin saja satu kawasan semacam Kota Tua dio Betawi dimana tak ada perubahan apapun. Tapi ini hanya ucapan seorang Ebhy yang belum dipikir matang. Intinya, apapun perubahan Kota ini nantinya, dengan menikmati Kota satu hari ini, bisa membuat saya punya kenangan akan jalan mungilnya, akan bangunan tua Masjid Alfatah, akan perahu Galala-Rumatiga. Semuanya tentang kota ini, mungkin saja kelak akan jadi kenangan indah.

Apapun perubahan fisik yang bakal terjadi, semoga perdamaian, ketenangan, keramahan, selalul tersedia, tidak ikut berubah, tidak ikut tergerus zaman.

ps : gambar diambil dari bumi-nusantara.blogspot.com

Wednesday, February 02, 2011

(90) Masih di Losari


Agenda utama di Kota daeng sudah selesai. Saya punya kesempatan jalan-jalan dengan dua adekku tersayang. Pagi pagi sekali ke kost mereka dan mulailah perjalanan. Mulai dari menikmati kembali Lumpia Sulawesi di Jalan Lasinrang hingga berakhir di Pantai Losari mencari pisang epe rasa durian favorit saya. Di Pantai Losari ini, mata kami dihibur dengan senja yang mulai menyapa dan beragam aktivitas muda mudi Makassar. Pas asik duduk-duduk, ada seorang muda datang menghampiri dengan gitarnya dan mulai menghibur kami, menyanyikan lagu yang isinya mengenalkan Kota Makassar.

Setelah menikmati dan memberi sekedarnya, kami jalan-jalan dan setiap melewati pengamen yang sedang beraksi dengan gitarnya menghibur pengunjung, telinga saya menangkap bahwa ada satu lagi yang selalu mereka nyanyikan. Setiap pengamen menyanyikan lagu yang sama. Saya gak hapal liriknya tapi kira kira begini potongannya :

Makassar... kota Anging Mamiri
..............................
..............................

duh, lupa lupa. intinya tentang Makassar gitu deh, plus losarinya. Kenapa ya? Bagus memang, menarik tapi saya cuma ingin tahu kenapa semua pengamen menyanyikan lagu itu dulu? Kesepakatan bersamakah? atau ada peraturan yang mengaturkah? atau apa?

Ada yang tahu?

Thursday, January 20, 2011

(77) Pagar Baru

15 hari tanpa postingan. waktu yang lama sekali. padahal di 15 hari kemarin banyak kejadian banyak hikmah yang harusnya bisa saya bagi..

Mmmm...jadi skarang mau tulis apa ya? hujan terus saja mengguyur tapi alhamdulillah turunnya setelah seluruh pagar ter-cat dgn rapi. tentang pagar, rumah di tempat tugas ini sudah dipagar setelah hampir 4 tahun tinggal disini. dan senangnya adalah pagar ini bisa berdiri dan di-cat karena persahabatan dan persaudaraan saja..

setelah beli material, saya belum punya dana lagi untuk nyari tenaga. tapi disinilah indahnya tinggal di Ambon. laeng lia laeng. dimulai dari basudara dari Luhu yang dinas di piru, mereka butuh 3 sore,sepulang kerja untuk mendirikan pagar keliling setengah rumah.

dan setengahnya lagi diteruskan oleh teman teman nongkrong kakak yang menyebut diri mereka anak anak Mutel (Muka Terminal). Sepulang gereja,sekitar 12an orang datang di hari minggu kemaren dan mulai bekerja dipenuhi canda tawa.

2 hari terakhir ini, saya dan iwan, ojek langganan yang sudah seperti saudara sendiri, memberikan sentuhan akhir dengan cat. untuk itu semua, tak ada dana lebih yang saya keluarkan. cukup bakwan atau pisang moleng, atau es teh kalo panas dan rokok bagi yang request.

baik bener mereka mau capek capek tapi mereka senyum dan tidak menganggap ini pekerjaan. bahkan katanya kalo tau tau pagar jadi tanpa mereka, mereka malu kalo ke rumah nanti. duh,baiknya.

untuk semua bantuan, terimakasih. biar Allah sahaja yang membalas kebaikan kalian. kalian baik, baik sekali..

Saturday, January 01, 2011

(58) ada yang baru

postingan pertama di 2011. hari ini sama seperti hari hari kemarin. tidak ada pesta kembang api, sama seperti tahun tahun kemarin. buat saya, memang tak perlu dirayakan karena memang tak ada yang berbeda. semangat baru, harap baru, keinginan baru, itu harus direvisi tanpa perlu menunggu momen pergantian tahun.

sebenarnya semalam ada rencana berkumpul lagi dengan rekan rekan blogger maluku bakar bakar jagung di kompleksnya mas mamung, bahkan nia sudah siapkan spagheti tapi ujan gak berenti. cuma gerimis sih, tapi cukup menghambat semangat keluar rumah saya. enakan mlingker di atas tempat tidur, ditambah suasana hati yang semalam masih saja sedih. jadilah malam pergantian tahunku ditemani airmata. tapi saya sudah bisa menikmati butir butir hangat ini. membersihkan luka..

hari ini seperti sabtu sabtu yang lalu, wiken di rumah yang hangat ditemani wajah innocent ponakanku naya tersayang. lalu datanglah sebuah harap baru. setitik cahaya mentari yang mengusir sedikit mendung. ya, sedikit saja tapi tak mengapa. selanjutnya adalah doa yang berkepanjangan, doa yang tak putus. semoga takdir yang akan berlaku nanti adalah ketetapan yang akan dengan ikhlas kujalani.

apa yang terjadi di 2010 ada bahagia, ada duka, ada hikmah, ada banyak kisah. banyak bahagianya, dan untuk setiap kejadian apabila ada syukur maka pasti bahagia saja jadinya. ikhlas dan sabar. penting sekali untuk menjalani hidup.

dan jika di taun 2010 ada sukses yang teraih. maka yang terbaik itu ada di masa depan. jadi harus tetap semangat berkarya untuk membuat sekecil apapun perubahan baik pada hidup kita, dan orang orang di sekitar kita.

Friday, November 19, 2010

(15) Episode Sumiati

Episode Sumiati digelar. Rasa rasanya kita sudah terlalu sering dengar hal seperti ini. Kenapa selalu berulang ya? Gak di Malay, di Arab, semua sama saja. Tapi kita lagi korbannya. Perlu berapa Sumiati supaya kita bisa belajar. Apakah manajemen atau kontrol penyalur yang perlu diperbaiki? atau komunikasi KBRI KBRI disana dgn pemerintah setempat intens? Atau selain bekal ketrampilan yg harus dimiliki, TKI juga dibekali bela diri biar bisa smek don balik majikannya..

Apa sajalah. Yang jelas harus ada yang diperbuat karena Sumiati bukan pertama dan yakin bukan yang terakhir.
Ternyata Indonesiaku masih dijajah...

Saya juga TKI, tenaga kerja asal Indonesia. Alhamdulillah saya gak perlu sampai ke Malay atau Arab sana.

Friday, November 12, 2010

(8) 6 tahun 6 hari

Iseng mengobyak abyik blog tercinta ini, ternyata postingan pertama saya tertanggal 6 november 2004. Dan sekarang 12 November 2010. Waah, berarti rumah ini sudah 6 tahun 6 hari.

Banyak sudah yang tertulis. Membaca tulisan tulisan lama seperti melemparkan diri ke masa silam. Seperti melihat saya yang dulu. Kalau ada waktu lebih banyak, saya ingin obyak lebih jauh, siapa yang nyampah pertama disini. Mencari tahu kemana sahabat sahabat blog yang lama. Dan mengurai kisah kisah inspirasi lama.

Saya jabat tangan sendiri, Selamat 6 tahun 6 hari. Terimakasih telah membersamai saya, membiarkan saya menulis banyak hal gak penting disini. Terimakasih jadi tempat berteduh, ngomel gak jelas.

Semoga ke depan bisa bersama dengan lebih menebar manfaat