Showing posts with label Kita. Show all posts
Showing posts with label Kita. Show all posts

Tuesday, November 22, 2011

Surat Untuk Cemara

Dear Cemara…
Apa kabarmu? Masih ingatkah kau dengan satu daunmu yang terlepas ini? Ah, mungkin kau sudah lupa. Atau mengingat dengan potongan memori yang sedikit. Apapun keadaanmu cemara, kuharap kau dan hidupmu baik baik saja. Kalau aku, Alhamdulillah aku baik, sehat, bahagia. Semua hal sedang berjalan indah di hari hariku.


Cemara,

Aku tahu tak boleh meminta apapun lagi darimu. Tapi pagi ini, saat melihat mentari muncul malu malu dari balik balkonku, saat udara pagi begitu segar membanjiri paru paruku, ingatan tentangmu datang begitu saja bersama matahari dan udara itu. Aku ingin meminta satu hal, satu hal sederhana. Bisakah kau datang ke mimpiku sejenak? Sebentar saja. Hanya ingin melihatmu sebentar saja.

Cemara,
Terlalu muluk ya permintaanku tadi? Entahlah kau sudi atau tidak, aku menunggumu datang di mimpiku. Sebentar saja, sekali saja, sudah itu sudah. Kau akan tetap bahagia dengan hidupmu tanpa pernah kuganggu. Ah, aku memang tak pernah mengganggumu kan? Tak pernah, karena melepasmu pergi , memaafkan dan mendoakanmu adalah hadiah perpisahan dariku, caraku menyiapkan masa depan. Sedang aku? Aku akan berlalu, menjalani hidupku yang baru sebentar lagi. Telah kutemukan cemaraku, tempatku menitipkan doa padanya lantas kuaminkan. Cemara yang dengan izinNYA kelak, akan menjadi imamku sampai akhir hayat. Cemara yang kuyakin akan menjagaku dengan baik, sebaik bahkan lebih baik dengan yang pernah kau lakukan.

Begitu saja pintaku. Semoga kau berkenan dan mau singgah sebentar di tidurku. Tapi jika kau sibuk dan tak sempat datang, tak apa. Cukup doakan aku saja. Doakan aku dan cemaraku, kusebut dia matahariku, akan hidup bahagia dalam ridho Allah.

Saturday, November 12, 2011

Butuh Banyak Sabar

Semua ini mulai terasa berat. Betapa satu demi satu dinamika bermunculan di sela sela kebahagiaan yang juga dirangkai. Atmosfer ketidaksabaran dari sekitar, lelah yang menggantung di langkah langkah kaki juga emosi yang naik turun serta perubahan rencana dari waktu ke waktu mulai mewarnai perjalanan.

Belum lagi sakit, saya sudah, lalu papa juga sudah, ibu sedang sakit, dan kini, dia, calon suamiku itu pun sakit. Entahlah, mungkin ini efek dari psikologis yang naik turun mempersiapkan segala sesuatunya. Sungguh, meskipun aku didera kebahagiaan yang amat sangat untuk semua hal ini, kepala juga rasanya mau pecah. Semakin dekat, perasaan takut banyak hal yang belum beres seperti membuntuti. Ketakutan yang tidak berdasar memang, karena ku dikelilingi banyak orang yang kutau bersedia membantu. Tapi entahlah, saya positive thinking, ini sindrom yang wajar dialami, semoga saja begitu.

Saat saat seperti ini adalah saat saat betapa saya sangat butuh Allah. Butuh IA menenangkanku, memberikan kekuatan lagi dan lagi, memberiku kesabaran yang cukup untuk mengurus banyak keperluan, menghadapi banyak orang juga memutuskan banyak hal. Saya butuh sandaranMU, Rabb. Dan berharap segala kemudahan untuk terus Engkau alirkan.

Aku hampir patah, Rabb. Tapi aku akan bertahan. Hamba ingin bisa lebih bersabar.

Thursday, November 10, 2011

Menyatukan Gelisah

separuh nafasku mengudara dalam balutan doa
dalam asa yang sedang dirintis satu persatu
kadang memang menggelisahkan
namun saat tawa renyah hadir bagai pelangi
dan banyak hal mengejutkan sekaligus mempesonakan tersaji
deretan gelisah pun perlahan berganti

di batas yang tak terdefinisikan
lambaian cita menyapa dengan manja
ah, tak terlalu muluk impian itu
sederhana hingga tak mampu terucap

kau di ujung sana
dalam kegelisahan yang berbeda
dalam ikhtiar yang terenda perlahan
adalah sebuah bukti tentang impi yang hampir nyata

sampai di saat yang terencana olehNYA
gelisahmu,
gelisahku,
adalah satu.

Wednesday, November 02, 2011

(364) Hujan Tadi Malam

Ada hujan tadi malam
Jatuh dari bening mata menuju altar hati
Di hujan semalam sempat kudengar tangisan rumput
Juga jendela yang berderik haru

Ada hujan tadi malam
Yang menjadi pertanda kemenangan hati
Memberi sejuk pada sebuah tulus
Dan cinta yang tak pernah salah

Di hujan semalam
Ada aliran kekuatan dahsyat dariNYA
Memenuhi rongga batin dengan syukur yang meraja
Bahwa sang pilihan sungguh begitu sempurna cintanya

Kita sama sama tak sempurna
Dan kita akan saling menyempurnakan
Hadirmu melengkapiku
Hujan semalam adalah hujan bahagia atas kedatanganmu di hidupku

--02112011--

Wednesday, September 28, 2011

(329) melihatnya beranjak

ku terbiasa dengan kicaumu
ku terbiasa dengan candamu
ku terbiasa dengan caramu memanjakanku
ku terbiasa dengan konyolmu meneduhkan amarahku

lalu tiba saat kau beranjak
melangkah meretas kembali jarak
dan kukembali menekuri pagi
hariku tak lagi sama

sabar.. itu saja pesan kecilmu
kecil dan dalam..
kutau, riak yg sama sedang bermain di hatimu kini
kita akan sabar sembari menenun ikhtiar

melangkahlah dengan gagah
tak perlu tengok ke belakang
karena aku tak tertinggal di belakang
aku ada bersamamu, di sampingmu

jangan khawatirkan apa apa
sedang kukemas bahagia untuk bekalmu
baik baiklah di setiap jengkal tanah yang kau injak
kita akan saling menjaga dalam doa

Monday, September 19, 2011

(320) Gerimis dan Matahari

Selalu dalam gerimis, kita berbagi cerita. Tentang hariku, harimu hingga tentang mereka yang kita sapu pandang di tepian. Tak penting apa yang sedang kita bicarakan. Hanya bisa bersama sudah bahagia. Sesekali terdengar tawa renyah atau bunyi ngorok yang tercipta dan kembali menyajikan tawa.

Ah, kau hadir begitu saja dalam hidupku tapi menawarkan senyum yang tak henti. Mungkin kau tak tahu bahwa setiap melihat lipatan matamu saat tertawa, aku lupa akan sebab tawamu. Aku hanya menikmati mata yang segaris itu. Lucu begitu rupa..

Kau memanggilku gerimis, katamu karena gerimis itu lembut. Katamu karena aku selalu ada dalam gerimis, meski hanya sekedar bayang. Aku tersanjung meski aku tak ingin hanya menjadi gerimis. Aku ingin selalu ada di setiap cuaca. Menjadi gerimis saat kau tenang, menjadi hujan lebat yang menyapu kesedihanmu, menjadi matahari yang mampu mengeringkan airmatamu atau juga menemani harimu. Aku ingin menjadi semua yang kau perlu untuk bisa menjalani hidup lebih lapang.

Aku meyebutmu bintang. Awalnya begitu, karena aku begitu suka menatap bintang di atas sana. Tak terjamah tetapi begitu anggun. Bisa terlihat dimana saja kita berdiri. Lalu aku tersadar, bintang hanya bercahaya, tak bisa memancarkan sinarnya sendiri. Lalu mulai kusebut kau matahari. Karena matahari bersinar, sepanjang apapun kaki kita melangkah, di sudut bumi manapun kita berpijak, matahari menyapa. Seperti itulah kamu, menyapa di setiap detakku.

Dan lalu, aku tak lagi peduli. Bintang atau matahari atau apapun kau untukku.. Juga gerimis atau embunkah aku untukmu, aku hanya ingin bersama. Bersama sepanjang usia. Memeluk duka dan menikmati suka bersama. Aku hanya ingin menjadi makmum yang baik untukmu kelak, seperti kau yang kutahu akan menjadi imam yang baik bagiku kelak. Ya, pada akhirnya, muara keinginan kita adalah menjadi imam dan makmum yang sejalan, yang menuju surga bersama, insyaAllah...

Saturday, September 10, 2011

(311) Memeluk Hati

Diantara dua jalan, dalam temaram

Siluet kita bertemu pada rinai hujan centil

Begitu saja, dan hari hari jadi lebih indah


Isyarat isyarat hati kadang tak terbaca dengan jelas

Namun doa doa terus kejar mengejar

Menemui yang memiliki kita


Kita memulai rangkai cerita yang tak selalu berpelangi

Kadang matahari begitu menyengat

Kadang hujan menyapa satu diantara kita

Tapi, kaki kita tegar bertahan untuk melangkah bersama

Atas nama keyakinan


Raga kita tak selalu bersama

Tapi jiwa kita telah berpeluk

Dan kini, ada satu titik yang mendekat

Yang pada saatnya mengubah alku dan kamu

Menjadi kita


Gelaran sajadah menanti di ujung sana

Memanggil jiwa jiwa cinta

Mengajak beradu dalam satu nama

Bercanda dalam tawa dan tangis, atas nama sayang


Padamu, kulantunkan harap

Padamu kusambut bahagia

Genggam tangan ini

Ajak aku pergi dengan sayapmu yang melengkapi

Thursday, August 25, 2011

(295) Bersama Memeluk Bahagia

Jika cinta ini bernama, aku ingin memberinya nama.
Nama yang sama dengan namamu.
Jika cinta ini selayaknya pagelaran,
Aku ingin menggelar sajadah bersamamu.
Agar setiap hari bergulir akan tetap indah,
agar fajar di ufuk selalu tampak merekah.
Seperti kata Gibran :

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan / Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan / Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta / Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada / Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari / Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman

Bertambah lagi satu bilangan usia. Seperempat abad telah terlalui. Makna apa yang telah diberi dalam hidup? Manfaat apa yang sudah dirasa dengan kehadiranmu? Lebih dari seperempat abad bukan sekedar angka.
Ini penegasan, bahwa hidup harus lebih baik. Bahwa kehadiran harus lebih bermanfaat. Bahwa sabar dan ikhlas harus lebih meraja di jiwa. Bahwa kau akan selalu menjadi bajik dan bijak di setiap pergantian detik hidup. Jadikan apapun yang terjadi dalam hidup adalah lintasan sejarah terindah menuju cinta suciNYA.

Pernah kusampaikan padamu, kita masih mereka reka seperti apa masa depan kita. Namun kini, aku ingin kita menghargai masa kini dengan saling menggenggam hati penuh arti. Lalu berharap Tuhan akan menyemai nama kita dalam genggamanNYA.

Hari ini, kulayangkan banyak doa untuk sukses di tiap jejak langkahmu. Namun ingatlah setiap kau hendak beranjak, aku sedang mengemas kebahagiaan agar kaubawa sebagai bekal. Hingga kelak kita akan memeluk bahagia bersama sepanjang waktu.

Thursday, August 11, 2011

(281) Isyarat Tak Terbaca

Tak pernah mengerti akan isyarat. Pada dinding hati yang mencoba cerita. Tentang malam yang berkabut. Tentang siang yang berdebu

Pekerjaan hati tersulit adalah menjaga hati tetap berada di tempatnya. Disaat yang sama ketika kedamaian lain tertawar dengan goda. Serupa kelak elang yang merindu di batas senja.

Segaris tersulam perlahan. Belum rapi seumpama gaun bidadari. Masih mengeja irama. Masih menyulam kata yakin.

Dan semua yang tak terurai itu. Biarkan tetap begini hingga terurus indah. Menanti di ujung jalan. Menanti untuk mengamini setiap doa. Semua doa

#subuh11ramadhan

Saturday, August 06, 2011

(276) Munajatku

Rabb, Engkau tahu betapa batin ini telah lelah
Lebih dari apa yang batinku tahu
Episode apa yang Kau ingin aku jalani sekarang, Rabb?
Takdir apa yang kini sedang berlaku untukku?

Rabb,
Sungguh aku tak lagi punya tenaga untuk bertahan dalam kelelahan ini
Hanya atas namaMu, hanya karenaMu, hanya karena yakin akan janjiMu
Aku mencoba bertahan, lagi dan lagi

Seperti apapun kelelahan ini menderaku
Aku tak ingin berputus asa dari rahmatMu
Karena Kau tak akan membawaku sampai ke titik ini
Jika hanya untuk meninggalkanku

Rabb,
Dengan ijinMu-lah aku melangkah saat ini
Dengan rahmatMu-lah aku masih bisa tegak disini
Dengan cahayaMu-lah aku masih bisa menatap ke depan

Di Ramadhan agungMu
Aku bersimpuh dengan segala kelemahanku
Ketidakberdayaan ini tersungkur memujaMu
Aku lemah Tuhan, aku lemah……

Thursday, August 04, 2011

(274) Untuk Yang Masih Gundah - masih dari sahabat

Lentera itu mendekatimu,
Dan engkau telah memilihnya....tanpa kau sadari
Namun, ada ragu singgah di ruangmu yang kosong
Benarkah dia?
Kata yang selalu diucap oleh hatimu

Beras atau nasi?
Itu ibarat yang selalu terucap dalam lisanmu saat mencari sosok sang pendamping
Siapapun ingin pendampingnya adalah ibarat nasi
Sudah siap untuk kita nikmati
Terima jadi, istilahnya
Tapi, tahukah kamu?
Ketika pasangan kita masih sosok beras, kita akan lebih menghargainya
Karena kita tahu wujud aslinya
Belum ada penambahan atau pengurangan apa-apa
Dia, adalah dia... beras, masih polos dan bisa diubah menjadi apapun...
Kita akan lebih menghormatinya, atas segala usahanya saat ingin menjadi Nasi yang bisa dinikmati

Namun,
Darahmu yang paling tahu pada siapa dia berdesir cepat
Jantungmu yang paling yakin pada siapa dia berdetak melebihi irama yang seharusnya
Tubuh dan jiwamu yang paling menyadari pada siapa dia merasa nyaman
Bukan untuk mencari mana yang lebih baik
Karena tiap saat pasti ada yang lebih baik

Tapi mencari,
Yang mampu membuatmu berjalan dengan kakimu sendiri
Yang mampu membuatmu tersenyum dengan lebar
Yang mampu membuatmu menjadi diri sendiri
Tanpa beban
Tanpa kompromi
Karena bukanlah suatu pilihan hati jika itu harus memakai kompromi, dan menjauh dari siapa dirimu sebenarnya...


ps : speechless honey...

diambil dari http://gerimisdansecangkirkopi.blogspot.com/2011/08/untuk-yang-masih-gundah.html

Wednesday, August 03, 2011

(273) .......nyata

Malam ini
Untuk pertama kalinya hadir dalam bayang nyata
Tak sekedar simbol, tak sekedar sapa
Ada yang berbeda, aneh tepatnya
Belum bisa diurai maknanya
Namun apakah engkau lilin atau kembang api?
Apakah engkau nasi atau beras?
Tak sempat lagi berpikir tentang itu
Yang kutau akhirnya ia bernama
………………… nyata


(after destrit)

Sunday, July 31, 2011

(270) Gundah - catatan sahabat

Gundah...
Resah...
Galau...
Bersalah...
Menjadi kabut yang menyelimuti ruang hatimu kini
Ranjau-ranjau seakan ditebar dalam dinding jiwa dan pikiranmu
Yang sewaktu-waktu dapat meledak terinjak-injak keadaan yang tak tentu

Hatimu terasa sempit, membuat sesak menghampirimu
Kau butuh udara, namun tak kau dapatkan
Hanya jalan gelap yang kau tapaki
Ada dua cahaya yang menghampirimu

Cahaya satu menghadirkan KEMBANG API untukmu
Cahaya kedua menawarkan sebuah LILIN KECIL
Mana yang akan kau pilih?

Kembang api, dengan cahayanya yang –mungkin-cantik, namun menyakitkan dan sekejap saja dia bersinar
Atau,
Lilin, dengan cahayanya yang –memang- remang, namun dia memberi kehangatan tanpa menyakiti, sepanjang waktu

Hatimu sedang tak berada dalam porosnya
Berdetak tanpa terduga, menyimpang dari irama yang sesungguhnya
Tapi, aku punya keyakinan kau mampu melewatinya
Karena kau paling percaya bahwa ini semua adalah rencana-Nya

Seperti selalu terucap dalam lisanmu
“Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk meninggalkan kita”
Artinya, Tuhan tidak akan membawa kamu pada dua pilihan jika kamu tak sanggup memilihnya

kau adalah Ilalang...
dapat mengatasi musim apapun dan tetap berdiri tegak
malam tanpa matahari atau siang dengan panasnya
Ilalang tetap mampu bertahan

Lenteramu ada dua Jangan biarkan membuatmu gundah
Karena aku yakin, kau lebih kuat dari ini

Karena kau istimewa

**untuk sahabat q yang (mungkin) sedang gundah**

#dari sahabat yang mengerti gundah#

dicomot dari

Saturday, July 30, 2011

(269) Yang Tersisa

Sampai sudah disini, semua rangkai cerita.
Satu satunya yang tersisa, satu satunya yang jadi perekat
Sudah kuikhlaskan detik ini
Melepas di tempat yang tak mungkin aku atau siapapun temui lagi

Kepingan terakhir itu kini lenyap
Hilang bersama semua hal yang pernah dimiliki
Tak ada sedikitpun, secuil pun sesal
Serpihan itu pergi diiringi keikhlasan yang sangat

Berdamai dengan takdir adalah senyuman
Telah datang takdir yang lain
Memberi warna lain dalam hidupku
Warna yang kuharap akan kekal

Thursday, June 30, 2011

(239) Salam Terakhir


Sejak tadi malam hingga tadi pagi, lagu ini terputar berkali kali di kepala.
Tahun 2004 lagu ini dikeluarkan oleh Five Minutes, dan sekarang mendadak muncul di kepalaku dengan mode repeat one song.

aku sadari kau harus pergi
tinggalkan diriku
menggapai semua cita

aku sadari ku harus sendiri
jalani hidupku tanpa dirimu

reff: ingin kubisikkan kata
yang menemanimu pergi
salam terakhir
semoga kau dapat menggapainya

pulanglah untukku kasih
ku akan selalu menanti
kehadiranmu selalu kunanti di sisiku

Source: http://liriklaguindonesia.net/f/five-minutes/five-minutes-salam-terakhir/#ixzz1QjCHQ0Im

Wednesday, June 29, 2011

(238) Aku Adalah Sunyi


Setelah sekian lama, berapa langkah kita kini? Jamkah atau menit?. Ya, mungkin saja hanya bilangan menit,. Bahkan dengan satu kata “boleh”, mungkin saja hanya akan berjarak kurang dari sepuluh langkah

Aku masih mengingat dengan jelas detail kalimat yang terucap di stasiun gubeng. “Jangan menangisi perpisahan, menangislah saat bertemu, Karena Allah masih memberi kesempatan bertemu”. Buatku, ini bukan kesempatan itu. Aku memang ingin menjahit potongan itu, menyulam sesuatu yang mungkin masih menganga, tapi bukan sekarang, bukan dengan cara ini. Hujan telah menerjemahkan seluruh kepingan itu, membasuh perih merubah jadi ikhlas

Pertemuan yang kuharap adalah pertemuan yang diatur Allah, dibuat olehNya tanpa campur tangan kita. Pertemuan yang tidak akan menyakiti siapapun, apalagi hatiku sendiri. Allah telah lama menyembuhkan lukaku, bahkan sebelum luka itu ada. Ia sudah menyiapkan diriku untuk setiap beban seberat apapun. Karena aku jiwa kecintaanNYA, karena jiwaku didesain sebegitu hebat olehNYA. Titipkan saja aku padaNYA seperti yang sudah dan selalu kau lakukan.

Kenanglah aku sebagai sunyi, berada antara bait bait sajak.
Kenanglah aku sebagai gerimis yang datang sejukkan sore
Kenanglah aku sebagai malam yang semakin pekat menjelang fajar
Kenanglah aku sebagai senja yang berlalu dengan singkat, namun sempurna

When a relationship fails, its both their fault. One for giving up and walking away. The other for not stopping them #quote

Tuesday, June 28, 2011

(237) Pohon Cemara


Satu pucuk cemara jatuh
Malu malu dari dahan yang setia menopangnya
Berucap salam pisah dan membuat jalannya sendiri
Muara ke laut dan mengapung

Musim demi musim berganti
Tak terhitung berapa ombak yang menerpa
Berapa kapal yang menabrak
Berapa ikan yang mencumbu detilnya

Cemara berlalu dengan senyum, meski ada luka
Menganga tapi tak perih
Cemara itu yakin ia sedang membuat kisahnya
Seperti pohon yang telah menaungi daun baru

Sejauh apapun ia pergi
Ke daratan manapun ia akan berakhir nanti
Pohon awalnya ada dalam ingat, hati dan bulir
Urat cemara menjadi semakin berkilau

Cemara tak pernah lupa pohonnya
Tak pernah
Meski ia pun tak tahu lagi dimana pohon itu mengakar
Yang ia tahu, ia akan mengenang pohon dan segala kisah mereka dengan senyum
Senyum berbalut doa
Tanpa efek, tanpa sakit

*salah satu sudut kota jogja*

Monday, June 27, 2011

(236) Jogja, sebuah potongan masa lalu


Here I am. Setelah 7 tahun yang lalu terakhir ke kota ini meninggalkan semua kenangan, menitipkan kisah masa lalu, saya ada di sini lagi. Jogja, kota kecil yang belum kuhapal likunya, tapi ada titik titik yang melekat, membawaku, mengantar dan membentukku hingga seperti saat ini.

Dan saya disini lagi, untuk sekedar melihat lagi, adakah kota ini seperti dulu? Adakah titik titik itu masih di tempatnya? Dan ya, aku melewati stasiun tugu. Tempatku meletakkan harap, menaruhnya disana setelah membawa dalam 6 jam untuk tak lagi kuambil, selamanya. Melewati satu pemberhentian yang mengingatkanku akan kisah brownies yang kubuat untuk pertama dan terakhir kalinya.

Aku disini, dan masih mengingat airmata yang pernah tumpah. Melepaskan hati yang enggan. Melepas kisah yang manis, yang sampai saat ini belum pernah ada kisah semanis itu. Setiap kenangannya membuatku tersenyum dan bersyukur pernah memiliki indah itu. Hanya diisi bahagia tanpa sakit. Tanpa cela, hadir dan masuk dalam hidupku. Sempurna, begitulah adanya. Hingga takdirNYA lah yang menuntun melepaskan kebahagiaan itu, lalu merangkai bahagia yang lain. Keikhlasan kita membuat semuanya terasa begitu mudah dan tetap bahagia.

Aku mengingat setiap potongan itu tanpa rasa rindu, tapi dengan doa. Apa yang diambil dengan begitu berat dulu, akhirnya membawa ke bahagia saat ini, di tempat masing masing.

Sunday, April 10, 2011

(158) Untuk Sahabat Baruku



Ada alasan mengapa Tuhan mempertemukan kita.
Dan tentu saja ada alasan yang jauh lebih baik mengapa kini Tuhan memisahkan kita.
Yang penting adalah tak ada kata-kata yang saling melukai saat perpisahan ini terjadi.
Itu awal yang baik untuk persahabatan kita.

Terimakasih atas cerita dan candatawa pertama kita sebagai sahabat tadi pagi.
Begitu lepas tawa di ujung telpon itu.
Dan disini pun, tawaku menggema dengan lapang.

Selamat mencari bahagia masing-masing ya.
Ketemu di puncak kebahagiaan kita dan kembali melempar canda.
Ini satu langkah lagi yang mendewasakan kita.
Aku percaya, tak ada keadaan yang lebih baik dari ini.

sumbergambar dari : kata-eko.blogspot.com

Thursday, April 07, 2011

(155) Akhir Perjalanan


Tak ada yang memaksamu tinggal.
Tak ada pula yang menahanmu pergi.
Jika itu putusan yang harus diambil, jalanilah.
Tak akan pernah kau lihat airmata dari mata beningku.

Aku baik-baik saja.....

sumber gambar dari : www.abangdani.wordpress.com