Monday, April 07, 2008

Tidur Panjang Om Ance

06 April 2008
Ia pergi dalam kesendirian,
Di sebuah tempat dimana hanya ada dia dan ALlah.
Dan berita kepergian dalam sepi itu
Menghentak kesepian dan ketenangan waktu maghrib.

Lagi-lagi, tak terasa, tak terbaca
Allah menjemput satu lagi keluargaku
Ia yang semasa hidupnya begitu diam,
Sering hanya senyum saja yang menatapku jika bertemu
Tak banyak kata, tak banyak ucap,
Senyum lewat tarikan bibir dan pandangan mata
Itu saja.

Om,
Kami tak ada disisimu saat ini
Kami tak bisa ikut berjalan disamping kerandamu
Tapi Om, doa kami menemanimu tidur panjang
Sampaikan salam kami pada yang kau temui disana.
Mungkin hari ini, besok, lusa, atau entah
kami akan menyusulmu, pasti....

Selamat Jalan Om,
Sampai jumpa

Thursday, April 03, 2008

1/4 Abad sudah

Rabu, 27 Februari 2008, usia saya genap seperempat abad.
Ah, usia yang sudah begitu banyak diberi oleh Allah. Adakah itu berarti? Apakah sudah ada percik kebahagiaan yang saya kucurkan ke orang lain? Adakah manfaat yang dirasakan oleh orang-orang dengan kehadiran saya? Ataukah justru kebencian yang telah saya sebar?

Tak bisa, saya tak bisa menjawab pertanyaan itu. Hampir tak ada yang berarti yang saya semai padahal waktu merangsek hebat dan tiba-tiba saya sudah di angka seperempat abad. Padahal pula, saya tak tahu masih bisakah saya tiba di seperempat abad berikutnya. Akankah Allah memberi kesempatan pada saya menggenapi setengah abad? Tak ada jaminan. Kalaupun iya, akankah ia terlewati dengan sempurna ataukah seperti mengulang lembar seperempat abad ini, berlalu dengan kesia-siaan?

Saya tergugu. Betapa telah banyak yang Allah berikan pada saya. Panca indera yang lengkap tanpa pernah saya minta, udara yang selalu bisa saya hirup tanpa pernah Ia minta bayarannya, air yang selalu masih bisa saya rasakan kesegarannya, orang-orang yang mencintai saya, sungguh teramat banyak. Dan adakah yang saya berikan? Ah, betapa jiwa kerdil ini tidak mampu membalas semua anugerah yang didapat. Padahal maut jelas-jelas tengah mengintai dan bisa menyergap kapan saja.

Aku hanya berharap dan mencoba memastikan semua yang aku lakukan adalah rangkaian sejarah hidup yang kutulis dengan tinta kebaikan saja. Agar kelak di saat maut telah mendekapku, orang-orang yang mengenalku hanya punya kenangan indah tentangku. Aku hanya ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang berarti. Seperti kata Mbak HTR dalam multiply-nya "Menjadi orang yang berarti di mataMu. Yang selalu sampai padaMu"

Allah, aku ingin sampai padaMU dengan indah
agar Kau mau memelukku,
menuntaskan dahagaku yang tertatih-tatih ........
......... mencintaiMU.
Terimakasih Rabb, atas nikmat seperempat abadMU,
aku butuh pandangan cintaMU
agar nikmat itu tak tersia-siakan.
Genggam tanganku, Rabb.

27 Februari 2008
Titik 11.58 pm
Ah, aku sudah begini tua

Monday, March 03, 2008

Menjaga Keikhlasan

Menghadirkan keikhlasan memang sulit, tapi lebih sulit lagi menjaga agar keikhlasan itu tetap ada. Begitu kurang lebih jargon yang dipakai salah satu sahabat dunia maya saya, indra (aku lebih suka memanggilnya fathi), sebagai tema blog-nya di suatu masa. Di masa-masa itu, tertanam kuat bahwa kata-kata itu memang betul. Dan hari-hari belakangan ini kalimat itu berputar-putar di kepalaku, bermain-main di sekitarku.
Pantaskah ketika di suatu masa kita berbuat baik lalu kemudian mengungkitnya karena orang yang dibaiki itu melakukan sesuatu yang mengecewakan diri? Lalu apa dengan begitu, pahala kebaikan itu menguap, membumbung ke angkasa dan jatuh menjadi hujan penyesalan?. Alangkah ruginya.

Dulu, semasa kuliah, saya pernah membaca di sebuah tulisan yang entah milis, entah web sebuah organisasi atau apa, yang jelas sejak baca sampai saat ini, inti tulisan itu menjadi salah satu prinsip dalam hidup.
1. Jangan berkata " Untung ada saya". Karena kalo Allah mau, Allah bisa saja kasih kesempatan berbuat baik itu untuk orang lain. Kayak gak ada orang lain saja.
2. Jangan berkata "Bukannya saya menuntut balasan, paling tidak ingat dong kalo pernah dibantu". Katanya gak nuntut balasan, lah, tadi tuh apa?
3. Jangan berkata "Sudah dibantu gak tau terimakasih". Kalo mo bantu, bantu aja. Ngapain repot-repot minta di-terimakasih-i

Pertama baca langsung saja saya notepad-in tanpa sempat menulis sumbernya. Siapapun anda, thank you.
Back to topic, eneg aja (emosi, red) kalo ada orang yang tiba-tiba ngomong di depan saya kalo pernah tolong si Anu-lah, pernah minjemin duit si Inu-lah, pernah bantu si Enu-lah. Males banget. Atau "Punyamu istri saya yang lunasi, 60 ribu harganya". Bah, apapula itu. Emang kamu pernah diminta bayarin? Gak kan? Trus skarang kalo istrimu sok mau bayarin, ngapain lu pengumuman?.
Atau juga seorang suami yang lain bilang ke istrinya yang berniat ngasih sesuatu ke saudara2nya "Kamu mau kasih ini ke mereka, emangnya mereka nanti kasih apa?" Ih, males banget. Apaan sih? Sama sekali bukan omongan yang bermutu. Kalaupun niatnya bercanda, itu candaan yang basi, yang gak berbobot.
Yang kayak gini nih sia-sia semua yang sudah kita lakukan, se-sia-sia membuang garam ke lautan dan ajarin cicak terbang.

Kalo dengan mendengar dan melihat sikap seseorang kayak gitu, sudah sangat cukup menyedot hormon emosi saya, apatah lagi jika kata-kata itu tertujunya ke saya. Sedihnya, ini yang belakangan terjadi dalam hari-hariku. Sibuk mengungkit betapa sudah banyak hal yang dilakukan untuk saya. Betapa telah dikorbankan banyak hal. Oke, fine, saya ngerti itu sepenuhnya benar. Tapi dengan mengutarakannya, apa yang kamu tuntut dari saya? Berterimakasih? Hanya Allah yang tahu betapa terimakasih itu berada di kantong hati saya paling dalam dan tulus. Terimakasih saya kembalikan pada Allah karena telah memilihmu yang berbagi denganku, yang do much thing for me. Dan terimakasih itu menguap, membumbung ke angkasa berwujud doa semoga segala kemudahan, kebahagiaan dan keberkahan Allah menyertai hari-harimu. Saya gak bisa ngapa-ngapain. Hanya seucap kata "Terimakasih" setiap kau menanam satu lagi saham kebaikan dalam kehidupanku. Kadang ucapan itu saya ganti dengan "Gak usah repot-repot" dan bahkan kadang mencoba menolak sebisaku. Selain itu, apa yang kau pikir bisa aku lakukan? Terus terang, saya gak bisa membalas dengan cara yang sama karena saya tak mampu untuk itu. Kalaupun ada saat saya mampu melakukannya, saya tak mau. Saya cenderung memilih untuk membalas dengan tindakan, dengan telinga untuk mendengar, dengan kehadiran setiap kau butuh, tapi tidak materi. Bukan pelit, tapi karena saya tak bisa menilai kebaikan dengan materi karena memang tak ada nilai materi yang sebanding dengan kebaikan yang efeknya nembus sampai ke hati, gak ada.

Saya berharap kau tahu, jeng, bahwa tanpa semua yang kau beri pun, kau sudah teramat indah di hatiku. Maaf jika telah menyakiti hatimu. Dan, ssst, saya tahu kamu membelai rambut saya semalam ketika kau pikir saya telah tertidur, padahal beberapa jam sebelumnya kita sempat bertengkar hebat. Aku tahu, belaian itu adalah ekspresi maaf darimu.
Sist, maaf telah banyak membebani. Hanya Allah yang mampu membalas dengan kebaikan yang setimpal, bahkan lebih besar.

Saturday, January 19, 2008

Manusia Cahaya yang Terluka

Dia terluka, jatuh terhempas
Katanya, seperti jatuh dari gedung berlantai 250
dan dia ada di lantai teratas itu
Begitu tubuhnya sampai tanah,
Gedung itu ambruk menimpa tubuhnya

Maka serupa raganya yang hancur
Jiwanya pun ikut mati
Katanya, ia tak lagi bisa merasakan sakitnya
Katanya, ia tak peduli lagi apa setelah ini
Katanya, ia pasrah
Dan ia bertanya, apakah ia benar?

Bangunan di taman hatinya hancur
Itu sebabnya ia menangis
Tapi ia melihat di depannya ada yang lebih hancur
Lalu kenapa justru orang itu yang menggenggam tangannya mengalirkan kekuatan?
Bukankah orang itu lebih terluka?
Bukankah manusia itu yang bergetar hebat hatinya karena rasa sakit
Lalu, kenapa manusia itu malah mengkhawatirkan perasaannya

Sungguh, manusia itu adalah manusia cahaya
Yang ketegarannya mampu melenyapkan semua gundah, begitu katanya
Dan ia pun bilang : "Saya memang melihat matanya menangis. Tapi saya juga melihat percik cahaya di matanya. Dan percikan itu berujar, "aku akan melanjutkan hidup untuk anak-anakku""

Ia pun meneguhkan hatinya
Ia tak akan membiarkan air matanya jatuh lagi
Manusia cahaya telah mengilhaminya untuk tegar
Manusia itu berkata dengan pandangannya yang lembut
Bahwa dunia tak berhenti berputar

Manusia cahaya itu yang hatinya porak poranda
Maka jika manusia cahaya itu sudah menemukan cara membalut kembali hati,
Ia bilang, ia akan membersamai manusia cahaya itu
Ia bilang, ia tak akan menangis lagi
Agar manusia cahaya itu tak lagi mengkhawatirkan dirinya

Dan aku hanya bisa mendengar semua catatan hati dia dan manusia cahaya itu
Bahuku luas menadah kepala mereka jika ingin bersandar
Telingaku lapang untuk mendengar mereka bertutur
Tanganku tak lelah menyeka air mata mereka

Dan lisanku hanya bisa berucap,
"Allah adalah sumber ketenangan.
Gelarkanlah sajadah, tumpahkanlah semuanya di tiap jengkal sajadah.
Allah akan memeluk aku, dia dan manusia cahaya itu"

Ustadz Cahaya, Penabur Cinta

Teman perjalanan paling setia bagiku adalah buku. Dan perjalanan balik hari ini ke Piru, aku sibuk dengan menentukan buku mana yang dibawa. Sebenarnya pengen ambil buku Risalah Pergerakan tapi berhubung cuaca lagi gak bagus, ombak dan juga angin, aku memutuskan ambil bacaan yang gak terlalu serius supaya perjalananku yang sepertinya nanti bakal dibuat tegang oleh cuaca, tidak perlu ditegangkan lagi dengan beratnya bacaan. Pilihan pun jatuh pada buku yang kubeli pertengahan 2005 lalu. Buku yang ditulis oleh Helvy Tiana Rosa, dkk tentang kenangan bersama KH. Rahmat Abdullah. Buku itu berjudul EPISODE CINTA SANG MURABBI.

Mulailah buku itu saya baca saat feri Samandar di pagi hari bertolak dari Hunimua. Dan efek buku itu ternyata lebih luar biasa dari yang saya kira sebelumnya. Perasaan berkecamuk, merinding, haru, bersyukur pernah tahu ada Ustadz sekaliber almarhum menjalar menjadi satu saat membaca satu persatu rangakain kenangan tentang beliau. Seluruh sisi kehidupan beliau adalah kebaikan yang berkilau. Cerita-cerita kebaikan Almarhum menjelma menjadi satu kumpulan jutaan burung yang beterbangan ke langit ketrujuh sebagai saksi. Nyaris tak ada langkahnya yang bukan dakwah

Kalau saat ini, saya posting tulisan tentang beliau, itu sama sekali tidak bermaksud mengingatkan kesedihan yang sama-sama kita rasakan Juni 2005 lalu. Saya hanya ingin mengambil hikmah tentang bagaimana kita ingin dikenang nanti saat kita telah tiada.
Ada kalimat yang begitu mengilhamiku, bahwa jika kita ingin merancang bagaimana kehidupan kita mau kita jalani, tetapkan dulu ingin seperti apa kita dikenang. Apa yang kita inginkan orang-orang bicara tentang kita di hari pemakaman kita. Kalau kita sudah tahu jawabannya, barulah kita bisa memilih, hidup seperti apa yang ingin kita jalani.

Almarhum menjadi contoh kenangan yang indah, yang selalu berupa kenangan baik dari setiap orang yang pernah berinteraksi dengannya. Bahkan aku. Aku tak pernah bertemu beliau. Tak pernah mendengar suaranya. Aku hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisan ajaib di kolom Assasiyat majalah Tarbawi. Di sebuah pengajian di teras masjid kampus, mbak I yang mengisi pengajian kami saat itu pernah bilang "Ustadz Rahmat itu, gak usah dengar suaranya. Liat beliau saja, liat wajahnya saja, hati ini sudah sangat tersejukkan. Itulah karena kedekatan beliau dengan Rabb.".

Sejak dengar mbak I bilang begitu, aku berjanji dalam hati bahwa suatu saat kalau Ustadz datang ke Surabaya, aku wajib menemuinya sekedar melihat teduh wajahnya dan mendengar untaian hikmah dari lisannya. Kesempatan itu pernah datang. Di kontrakan Ruhul Jaddid, aku dan teman2 KAMMI Komsat ITS syuro mempersiapkan berdirinya JARSAT ARH. Di dinding depan, saya lihat sebuah pamflet sebuah acara yang digelar KAMMI Komsat UNAIR dan menghadirkan beliau sebagai salah satu narasumber. Pamflet itu sudah ditempel 2 bulan sebelum hari H dan hari itu sudah kulingkari di agenda.
Namun, manusia hanya bisa berencana. Hari H, aku lupa kenapa, aku justru tak bisa datang. Hingga beliau pergi, aku tak pernah bersua, meski hati rasanya tak berjarak.

Selasa 14 Juni 2005. Sore itu, jadwalku berkumpul rutin dengan kelompok tarbiyahku. Saat itu, setelah materi utama dari mbak, kami sempat menyebut nama beliau. Buku tulisan beliau yang rencananya akan kami bedah. Maghrib berjamaah menjadi jadwal penutup. Sesampai di rumah, belum lama, sms dari mbak mengejutkanku. Bahwa Ustadz sudah berpulang maghrib tadi. Aku merinding, seperti ada yang tercerabut dari akar hati. Seperti ada ruang yang hampa.

teringat beberapa pesan beliau dalam berbagai media :
@ Allah SWT akan senantiasa menguji antum di titik terlemah antum. Maka perbaikilah segala kelemahan-kelemahan kita di jalan dakwah ini.

@ Tidak ada lagi waktu bagi kita untuk beristirahat. Tugas dakwah kita terlalu banyak. Jika engkau ingin istirahat wahai pemuda, nanti...ketika engkau langkahkan kakimu ke surga. (ini kupakai sebagai judul blog, karena kalimat ini begitu dalam mengilhamiku. Banyak kalimat2 bagus, tapi efeknya tak sedahsyat ini sampai tak pernah tergoda mengganti. Seperti ada yang menyetrum dan berteriak "Hei, kenapa kau hanya duduk disini sementara kalimat Allah belum tegak di atas bumi, Palestinamu masih terjajah, kebatilan masih tertawa, dan kau sudah beristirahat?" setiap membacanya )

@ Jadilah orang yang merdeka. Yang bersuara tatkala diinjak-injak. Yang mengatakan sejujurnya bahwa yang salah itu salah. Yang mengatakan kebenaran dengan sesungguhnya,

Mungkin saat ini beliau sedang bercanda bersama Rasulullah, Tolong sampaikan pada baginda Rasul, di bumi ini masih ada dakwah.

nb : Tulisan ini dibuat 3 Jan 2008, dan baru diposting sekarang saat masih tersentak dengan berita duka di milis yang memberi kabar kepergian Akhina Supra.  Semoga jiwa mujahidnya mengalirkan semangat yang sama bagi kami.
Kawan, giliran kita akan tiba. Itu kepastian. Persiapkanlah dengan indah


Tujuh awan bersuka ria, sambut ruh suci menghadap Rabb-nya.
Sahabat, nantikan hadir kami. Kan menyusulmu sebentar lagi (Untukmu Syuhada-IZIS)

Tuesday, January 01, 2008

Kaleidoskop 2007

Kalo besok sudah tanggal 1, sebenarnya sih nothing special. Kata dek Eya, toh tiap bulan juga ada tanggal 1nya kan? Ya sih, makanya itu pula waktu diajak malam nanti ikut keliling kota sambut pergantian tahun, saya sih milih di rumah. Nonton teve, baca buku, ngemil, makan plus nemenin ibu yang juga di rumah (Papa, Caca dan dek Unhy pada buat acara sendiri-sendiri).

Cuman, saya sih pengen flashback aja setahun ini sudah ngapain sih? Dulu emang gak ada resolusi 2007, makanya gak bisa diukur keberhasilannya lewati tahun ini. Hanya mau berkaca, waktuku terbuang percuma gak sih? atau ada yang aku hasilkan? Minimal, hikmah apa sih sepanjang tahun ini yang bisa kutangkap.

Start dari Januari.
Ini salah satu bulan yang berat. Di bulan ini, satu goal tercipta diiringi rasa syukur yang tak henti. Pula, finaly aku memutuskan meninggalkan semua kesenangan di perantauan. Cerita perpisahan mewarnai bulan ini. Waktu harus berpisah dengan teman2 kuliah sesama pejuang skripsi, murid-muridku di STM serta rekan2 guru yang baru satu semester bertemu tapi sudah begitu dekat, 2 kelompok binaanku yang dari mereka justru aku belajar banyak, berpisah dengan lingkar cintaku sendiri yang telah banyak merangkai kisah bersama. Perpisahan dengan KMBI yang telah menjadi tempat aku memulai langkah sebagai aku yang baru, juga kost mungil tempatku menemukan
keluarga baru. Maka segala kenangan lalu dibungkus untuk dibawa pulang bersama.

Februari
Setelah meninggalkan kenangan untuk menjemput masa depan, maka disinilah saya. Di tanah kelahiran tercinta. Bulan ini bulan pemenuhan ruangan kosong yang selama ini jarang terisi, kunjungi keluarga. Masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang telah sekian lama kutinggalkan plus bersilaturrahmi kemana-mana.

Maretnya
Belum ngapa-ngapain. Masih saja mencari kesesuaian dengan lingkungan sekarang. Masih saja menikmati hari-hari tanpa kuliah, syuro dan ngajar. Hanya baca baca dan baca plus program penggemukan badan. Sampe akhirnya pada akhir bulan ini, saya ke SBB memenuhi panggilan ikut dalam barisan membangun negeri.

Trus April
Masa-masa adaptasi dengan lingkungan pekerjaan. Shocking, but try hard to survive.

Lantas Mei
4 bulan setelah kembali, di bulan ini rindu kenangan memuncak. Pulsa HP bulan ini membengkak karena telepon plus sms kemana-mana sekedar memastikan tak ada yang melupakanku, hiks

Lalu Juni
Rindu untuk kembali bergerak, menekuni hari-hari penuh kedinamisan. Agar hidup kembali lebih hidup.

Julinya
Bulan ke-tujuh ini salah satu bulan yang berat. Penuh cobaan, tapi di bulan ini aku jadi tahu dengan pasti, betapa ada begitu banyak orang yang menyayangiku, yang mendampingiku saat aku jatuh dan terpuruk. Mereka ada dan tak pergi. Mereka meraihku dan membantuku berdiri. Sejak itu, aku tahu aku telah begitu terberkati oleh Allah karena diberi manusia-manusia penuh cinta itu untukku.

Kemudian Agustus
1. Ega keterima SPMB di fakultas impiannya
2. Dapat panggilan tes dari salah satu perusahaan terkemuka
3. Kantor rolling staf, jadi sekarang sudah di bidang yang ruangannya di tengah bagian depan.
4. Ibuku ujian sarjana dan LULUS. Love you, mommy

September Ceria
1. Remas PIRU terbentuk
2. Ramadhan luar biasa

Oktober datang
Setelah datang panggilan psikotes, lantas wawancara, maka saat mengambil keputusan pun tiba. Antara mengikuti idealisme atau mengikuti hati nurani. Dan hati nurani-lah yang jelas menang. Lalu ramadhan hampir usai dan Lebaran rame (semuanya kumpul lengkap) plus syahdu pun tiba. Dan ditutup dengan berita duka, salah satu bibiku meninggal. Terakhir, ia masih sempat menyuguhkan es kacang saat aku ber-ramadhan di Luhu. Miss you, ma Enga. Semoga jadi pelajaran untuk kami yang masih hidup bahwa akan tiba saatnya.

November lalala
Bulan ini bulan yang rame. Dimulai dari Eya yang wisuda. Sayang saya belum bisa ke Surabaya pas itu karena kerjaan masih numpuk. Di Lingkungan kantor, kita semua sudah punya atasan yang definitif paca pelantikan. Trus juga kisah sedih dibalik ketegangan efek trauma kerusuhan 1998 kejadian lagi dan ditutup dengan indah di kota Surabaya pada akhir bulan mengunjungi KMBI-ku tercinta (UKMBI, red)

Desember (tidak) kelabu
Bulan ini banyak peristiwa yang menjadi pegangan. Apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasa dan apa yang diperbuat semakin memantapkan langkahku. Telah kutemukan kemana aku ingin mengayunkan langkah, dimana aku akan menunjukkan eksistensi diriku. Puzzle raksasa yang tadinya gelap, kini sudah mulai terlihat meski samar.
Meski begitu, ada bagian kelabunya. Suami dari guru ngajiku meninggal. Papa Zen, semoga arwahmu diterima Allah. Beliau yang tak penah sakit flu sejak masuk Islam (mantan pendeta) karena cara berwudhu-nya yang luar biasa. Terimakasih telah menemani mama Em (Guru ngajiku) selama hidupnya, dan setelah mama Em sudah tiada pun, engkau masih tetap memberikan senyum pada kami jika kami ingin bertemu denganmu sembari mengenang
mama Em tercinta. Aku rindu kalian berdua, peletak batu kedua (setelah ortu) perkenalanku dengan Allah dan Islam. Terimakasih, hanya Allah yang mampu membalas

Catatan :
1. Temukan lautan tarbiyahmu lagi dan berenanglah
2. Amanah di DPD itu, bersiaplah

Saturday, December 22, 2007

Ini Tentang Ibu


Seorang Wanita bermahkota Ibu
Menggenggam jari-jari kecil
Ikatan ini tidak kan ternoda
Karena tautan ini,
Tautan darah dan aqidah dan rahmat dari ALLAH

(Lagu Untuk Ibu - Brothers)



Ini tentang seorang wanita bernama Ibu.
3 kata yang tak pernah selesai dijelaskan keindahannya.
Yang kemurnian cintanya tak ditemukan di tempat manapun
Yang hatinya adalah tempat kembali sejauh apapun kaki membawa raga pergi.

Malaikat berwujud wanita mulia yang selalu ada
menemani hari-hariku, menertawai candaku
Membelai sedihku dan senyum atas bahagiaku
Ibu......begitulah namanya

Sederhana panggilannya
Sesederhana itu pulalah ia mengajariku banyak hal
Dalam tawa dan tangisnya, juga dalam marahnya
There is always love

Belum juga diri ini mampu membuatnya bangga
Masih saja diri ini lebih menginginkan bahagia pribadi
Tak kunjung pula ia menjadi prioritas uatama
Tak pernah senyum kutawarkan saat tangisnya

Ibu,
Jelang hari Ibu ini aku tau tak ada yang kau tuntut
Bahkan kau mungkin tak tahu bahwa besok adalah harimu
Kau bahkan tak peduli bahwa besok itu harimu

Karena yang kau tahu,
Setiap hari adalah harimu menumpahkan cinta
Lewat masakanmu yang selalu kurindukan saat jauh
Lewat bersihnya pakaianku yang noda meski sudah berulang-ulang kucuci

Ibu,
Kau tak tahu bahwa wanita-wanita mulia sepertimu
Mendapat hari khusus oleh masyarakat dunia
Tapi mari kuberitahu,
Itu bukan hal yang penting
Karena, dengan semua cinta yang kalian berikan
Kalian para Ibu, telah mendapat tempat khusus oleh Allah
Mendapat pengakuan dan kepercayaan menjaga kami
Dan menempatkan surga di telapak kaki kalian

Ibu,
Ingin rasanya aku berbakti padamu
Hingga diri ini merasa pantas
untuk bersujud, bersimpuh mencium surga di kakimu


ps : Maaf bu, besok eby sudah terlanjur janjian sama teman2. Tapi hari ahad lusa, kita berdua having fun ya. I'll go anywhere you want to go. Kita facial, kita makan2, kita shopping, pokoknya apapun yang kau inginkan, kau adalah Ratu yang akan kupenuhi segala titah. Love you, mom...

Monday, December 17, 2007

Kernet juga manusia

Bismilahirrahmanirrahim..

Benarlah apa yang dikatakan orang-orang bijak, bahwa dengan melakukan perjalanan akan ada banyak hal yang kau pelajari. Hidup saya kini dipenuhi perjalanan demi perjalanan. Dan kali ini pelajarannya adalah toleransi, saling mengerti kedudukan sesama kita.
Seorang supir pernah dengan marah-marah mengomeli pengendara di depannya yang tidak becus mengemudi dan memperlambat lajunya. Ia pun marah-marah gak jelas kepada penumpangnya sendiri karena meminta turun di tempat yang dilarang. Dengan semua alasan dia marah-marah, memang dia benar tapi dengan caranya, itu benar2 gak masuk di akal. Kayaknya marahnya dia melebihi kebutuhan orang-orang yang dia omeli untuk mendengar.

Perjalanan yang lain, ada kanek (kernet, red) yang juga tidak sabar meladeni permintaan penumpangnya. Ada yang gak mau duduk di belakang, padahal maksud kanek itu tadi biar gak menghambat penumpang yang mau naik berikutnya. Ada yang protes kenapa bangku yang ada harus 5 orang, padahal mereka berempat aja sudah penuh, secara badannya pada lebar-lebar. Dan ketika si kanek marah-marah, dan dengan kasar meladeni penum,pangnya, eh, si penumpang malah protes-protes kalo jadi kanek itu gak boleh begitu, kudu sabar. Saya memang agak aneh dengan sikap kanek, kayaknya dia gak perlu marah-marah (Dunia tuh bisa indah banget tanpa marah-marah), tapi saya juga rada eneg dengan sikap penumpang. Emang pada banyak maunya. Kanek gak boleh marah, kudu sabar, tapi sebenarnya para penumpang juga gak perlu kalee menguji kesabarannya kanek.
Kita tuh selalu aja ya mintanya diperhatikan, diistimewakan secara kita tuh yang punya duit dan mereka yang mencari duit. Seharusnya kita bisa mengerti ledakan-ledakan emosi mereka yang tak terkendali. Seperi dalam salah satu kisah (saya lupa judul kisahnya) di buku terbarunya Mas Gaw "11 Amanah Lelaki", mereka, para supir dan kondektur, itu berkutat di jalan yang sama setiap harinya, kemacetan yang sama, omelan2 penumpang silih berganti dan macam-macam hal yang sangat cukup menjadi tekanan dan bikin emosi tak terkontrol.
Saya justru belajar dari kanek yang marah-marah itu tadi. Saat seorang bapak yang dibantu menaikkan barangnya ke mobil, si Bapak lantas memberi duit buat kanek itu. Saya yang memang sedang mengamati tindakan kernet, terkejut melihat ekspresinya mencium uang yang diberi itu sambil tersenyum dan berterimakasih ke si Bapak. Lebih terkejut lagi ketika tahu yang ia cium itu duit seribu perak. Malu, malu saya pada kernet itu. Betapa kesyukurannya mampu membuat saya menunduk dan malu pada diri sendiri. Kadang duit sebesar yang ia cium itu justru saya abaikan. Kalau saya diberi duit segitu, saya mungkin malah tersinggung, mendingan gak dikasih sama sekali daripada dikasih cuman seribu perak (karena saya sudah besar, begitu alasannya). Padahal duit sejuta juga gak jadi sejuta kalo kurang seribu, ya to?

Tapi ada sebuah perjalanan yang membuat saya tahu ada kanek yang memang perlu dibinasakan. Ketika mobil Liang-Ambon bertolak dari terminal Liang, seorang ibu menanyakan tas putihnya yang tadi belum dimasukkan ke mobil lantaran memberi jalan untuk penumpang yang mau naik.
Si Ibu bertanya baik-baik "Nyong, beta pung tas putih tadi su nae ka balom?" *
Jawab si kanek " Sudah ibu, Ibu taku e. Akang ilang jua beta bisa bayar, lapis deng ibu jua beta bisa bayar"**

Karuan aja semua penumpang langsung nyolot, termasuk saya..
"Nyong, orang tu cuma tanya. Se kanapa?"#
"Hii kanek, se kurang ajar apa ini? Itu seng bisa jawab bae-bae ka"##
"Nyong, se bisa bayar orang? Se kira orang bisa dijual berapa? Lancang e"###
"....omelan-omelan lainnya", dan si kanek terdiam.

Untuk kali ini, saya setuju jenis kanek kayak gini perlu dibinasakan.
Hidup Penumpang.

Kamus Ambon :
* = Nyong, tas putih saya sudah dinaikkan belum?
** = Sudah ibu. Ibu takut?Barangnya hilang juga saya bisa bayar, ibu juga saya bisa bayar
# = Nyong, orang itu cuma tanya. Kamu kenapa?
## = Hii kernet, kamu kok kurang ajar? Itu gak bisa ya jawab baik-baik?
### = Nyong, emang kamu bisa bayar orang? Kamu pikir manusia tuh bisa dijual berapa? Lancang amat.

Catatan penulis : Marah2nya orang ambon kalo di-indonesiakan mengurungi maknanya. Greget marahnya jadi kurang. Ekspresinya gak dapat.

Sunday, December 09, 2007

Simpatiku pada Eks Karyawan PT AOI

Sudah 3 hari ini massa dari eks karyawan PT AOI nginap di depan kantor Bupati SBB. Mereka berkeras akan tetap disitu sampai bertemu langsung dengan Pak Bupati yang memang saat ini tidak sedang berada di bumi Saka Mese Nusa.
Banyak versi yang berkembang mengenai kemauan mereka ada disini. Menuntut hak-hak mereka yang tak kunjung juga dibayar oleh pihak perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kayu itu yang sudah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Tata Niaga negara di Jakarta 18 Mei 2007 lalu.

Ada yang bilang bahwa mereka salah alamat dengan mendatangi Pemda. Karena itu bukan perusahaannya Pemda. Pengambilalihan aset perusahaan bukan oleh Pemda tapi oleh pihak Bank tempat Perusahaan AOI itu berutang.
Bahkan salah satu pejabat mengatakan "Gimana Pemda mau ganti rugi, wong Pemda juga rugi", begitulah kira-kira.
Apapun versi itu, yang mana yang betul, saya tidak berkomentar banyak. Toh, saya belum jelas duduk perkaranya, awal mula perusahaan ini jatuh pun saya tak tahu menahu.

Yang saya tahu, mereka tidak salah alamat. Mereka rakyat, dan kemana lagi mereka menyuarakan hati mereka kalo bukan kepada para eksekutif tercinta mereka. Rakyat gak pernah salah alamat. Mereka harus mendapat tempat atau sekedar telinga untuk didengarkan. Karena Pemda atau apapun sebutannya adalah harga mati untuk menjadi bagian dari solusi. Sekedar dengarkan mereka, itu saja. Suarakan kata hati mereka kepada yang bertanggungjawab. Perjuangkanlah hak-hak mereka, kuatkan kembali harapan mereka bahwa masih ada kita untuk menemani perjuangan mereka mendapatkan apa yang menjadi haknya.

Rakyat tak pernah salah alamat.

nb : saat tulisan ini diposting, massa sudah kembali kemarin malam sebelum ada hasil.

Tuesday, December 04, 2007

Tempat Mengeja Cinta


Its time to go home. Kembali menekuni hari-hariku. Kembali melanjutkan hidupku, setelah semua yang aku temui disini begitu berharga.
Melihat foto-foto di file UKMBI yang ana dapat dari saudara seperjuangan ana, tak pelak menciptakan sebuah danau di ujung mata. Mau ane upload tapi filenya terlalu besar. Betapa bangunan bersejarah ini, bangunan penuh cinta ini, entah kapan bisa kembali melihatnya.
Ada banyak sejarah disini, banyak kisah tercipta. Hidup ku menjadi lebih berwarna disini, bahkan hidupku mungkin justru bermula disini. Banyak sekali hal-hal yang terjadi disini yang membuatku terbantu menghadapi hidup yang sekarang.

Melihat UKMBI-ku bersama ruh-ruh baru, menggores suka juga luka.
Suka karena finally kita sudah di titik ini. Memang belum seberapa tapi 4 tahun yang lalu, tak pernah dibayangkan akan ada sekret KMBI, gak pernah juga berandai UKMBI akan mendapat banyak tanggapan. Tak pernah. Saat itu, kami hanya ingin mengekspresikan cinta, itu saja. Kami membangun mimpi-mimpi kami yang sederhana dan mencoba menggapainya dengan tertatih-tatih. Dan kalo saat ini sudah terlihat sedikit sekali hasilnya yang tidak ikut kami nikmati, itu sudah sebuah kenikmatan. Ini bukan kebanggaan, toh UKMBI masih belum apa-apa. Masih harus terus merangkak. Masih akan lebih dahsyat ujian yang menerpa. Bukankah semakin tinggi pohon, anginnya juga semakin kencang?

Tapi luka itu juga ada. Luka karena ternyata aku tak bisa melihat bayi ini tumbuh. Aku akan kehilangan banyak momen pentingnya. Tak bisa melihat satu persatu giginya muncul dan ia bisa mengucap satu demi satu kata. Aku tak bisa ikut membesarkannya atau paling tidak menyaksikan mereka membesarkannya. Tapi, begitulah perputarannya. Setiap masa, ada pahlawannya. Dan masaku sudah berakhir.

Suatu saat, di suatu ketika, ketika aku datang lagi mengunjunginya, aku ingin melihatnya sebagai pemuda jihad yang luar biasa. Dan sejak dulu, saat ini, nanti ketika masa itu datang, dan juga masa setelahnya, aku harap pejuang2 baru itu tahu, bahwa aku mencintai UKMBI dengan hidupku. Aku selalu ada untuknya. Tidak secara fisik, tapi hati, pikiran serta doaku selalu bersama UKMBI.

Tolong jaga bahtera ini. Mungkin kalian akan digoncang badai, angin malam pun akan membuat kalian membeku, layarnya mungkin juga akan sobek. Tapi jangan berhenti. Tambal layar itu, pakaikan selimut agar tak kedinginan, lalu lanjutkanlah cerita kebenaran. Nikmatilah pelayaran ini. Karena suatu saat ketika masamu berlalu (seperti aku saat ini), ketika sudah ada ABK lain yang lebih handal darimu, maka pelayaran ini adalah yang akan sangat kau rindu.
Bersabarlah karena para sahabat menorehkan kisah cinta mereka menanti kemenangan yang Allah janjikan dengan darah kesabaran.

Jika nanti aku duduk di perut burung besi yang akan membawa ragaku menjauh darimu, percayalah, jiwaku justru semakin mendekat.
UKMBI, dengan semua pejuang di dalamnya, aku akan terus rindu. Bahkan pada masa dimana pejuangnya tak lagi kukenal apalagi mengenaliku. Karena aku berharap rindu ini cukup menjadi sebab Allah mempertemukan kita di surga, berkumpul di samping telaga Al-Kautsar sambil mengenang masa-masa indah ini.

Ya Allah, tanamkanlah pohon kecintaan kepadaMU di hati-hati kami agar kami bisa memandang cahaya dalam perjalanan kami, agar kami selamat dari dosa, dan bersih dari kekeliruan.

UKMBI, tempatku mengeja cintaNYA

Monday, December 03, 2007

Seminggu Bernapak Tilas

Silaturrahim yang terangkai selama 10 bulan terakhir lewat telpon, sms, email maupun YM-an masih tak cukup memuaskan pandanganku menatap wajah mereka. Hingga akhirnya satu persatu mereka kutemui seminggu ini.

Sabtu, 24 November 07
Pagi pertama di Surabaya, hal pertama yang saya lakukan adalah mengunjungi "emak". Sayang, emaknya gak ada. Yang ada si Bapak, suaminya "emak". Katanya dua hari ini "emak"ku ada agenda full seharian. Tapi siangnya, "emak" sms, selamat datang dan bikin janji ketemuan. oks deh.
Saat kita muktamar, kebahagiaan memenuhi hati karena masih diijinkan Allah duduk lagi, berembuk lagi, berbagi pikiran lagi dengan sahabat-sahabat surgaku. Lina juga datang dari Nganjuk, thanks sweety. Siangnya aku dan sri, my soulmate, makan di Bakso Bratang, tempat kita dulu sering makan sepulang kuliah. Seharian ini, dari pagi sampai sore, my soulmate itu menemaniku. Thanks ya jeng. Kamu tuh indah banget di hatiku. Tempatmu yang paling indah

Ahad, 25 Nov 07
Jalan sama sri dan eya ke Delta. Sorenya, dua mantan adek binaan datang. Emang ada ya istilah mantan adek binaan? Enggak, saya gak mau pake istilah itu. Karena saya pun gak mau disebut mantan adek binaan sama emak. Yang benar mungkin "adek yang tidak lagi dalam tanggungjawab" tapi kepanjangan juga. Mmmmmm, adek demisioner deh. Whatever they called, mereka datang malam2, bawa cinta. Ngobrol, menceritakan perjalanan mereka 10 bulan terakhir ini. Berbagi lagi kisah dan persoalan. So nice.

Senin,26 Nov '07
Satu lagi adek demisioner datang. Bercerita tentang hati yang sedang ingin ditata, tentang kegelisahan dan shock akan dakwah kampusnya. Subhanallah, semangatmu dek. Lanjutkan dengan gagah ya. Siangan dikit, teman di RMA (Remaja MAsjid Al-Falah **minjam istilah Akhi Ario "in memoriam") mengunjungi. Betapa rindu pula aku pada mereka yang sudah bertualang ke Medan, ke Kalimantan, ke Mojokerto. Duduk disini dan mengenang kembali kisah2 kita, indah.
Malamnya, sahabatku kuliah, mita, datang dengan segala rencananya. Ia yang dulu pernah berbagi tangis denganku di saat jatuh bangun ber-skripsi ria. Datang dengan impiannya dan doaku tulus mengiringinya. Om Udin (sepupunya papa) dan anaknya armand (it means, sepupuku) datang pula dan kita diajak makan tempe penyet Lestari di perempatan. Asyiik, enak sih.

Selasa,27 Nov '07
Seharian itu judulnya adalah one day with book. Saya datangi toko-toko buku yang dulu sering didatangi dan berlama-lama disana.I dont know, but there is always something. Selalu saja ada perasaan lar biasa kao membiarkan diriku tenggelam di antara buku-buku yang tersusun di rak. Rasanya seperti ada kepuasan batin yang tak terdefinisikan. Melihat, menyentuh, memiliki dan membaca. Ke Media Idaman Press-nya Pak Zeth, ke Gramedia, ke Uranus.
Pas pulang, ternyata tadi paginya dua adek demisioner lainnya datang. Sayang, mereka yang datang ingin menyalip rencanaku pergi dan memberi kejutan malah terkejut sendiri karena aku sudah pergi sejak pagi-pagi sekali. Hanya selembar pesan dititipkan di atas meja "Inilah kami berdua, menyempatkan persinggahan di kursi rumah kost mb' eby...tersirat tangis...hiks, hiks, hiks, huaa, hiks, huaa. Mbak, kalopun kita berjodoh pasti bakal ketemu lagi".
Menjelang maghrib,sahabat alumnus RMA mengunjungiku dan kita berbincang lagi tentang kisah2 itu. Ada apa dengan mereka yang sudah menulis kisahnya masing-masing bersama pangeran jiwa di tanah Allah yang lain?. Semoga keberkahan selalu menyelimuti kalian, saudaraku agar berkah itu menjalar dalam rumah tangga kalian.

Rabu,28 Nov 07
Kisah hari ini adalah kisah tentang saya, eya dan Lina makan gurami Lestari lagi. Sambil mengenang masa-masa se-kost bareng dulu dan what next? Interview-interview yang akan dijalani dan lain2nya. What an unforgettable moment.

Kamis,29 Nov '07
Kalo ini judulnya shopping day. Keliling kemana2 sama dek Eya nyari pesanannya orang-orang rumah di Ambon. Yang ini-lah, yang itu-lah, tapi senang jalan2 berdua sama eya. Secara saya yang gak tau fashion gitu, yang dalam keluarga paling buta urusan selera. Yang katanya paling bego kalo disuruh milih barang bagus. Jadi, Eya ya buat milih2 gitu. Saya sih tinggal meng-oke-kan saja. Jadi kalo yang pesan protes, kan saya bisa bilang, protes ke dek Eya saja, hehehe.

Jumat, 30 Nov '07
Sama Bu Titiek ke rumah tante di Driyo Rejo sana. Lagi menikmati gedung2 baru, bahkan ketika pikiran saya sedang asyik memelototi Taman Bungkul yang selesai direnovasi. Mengagumi keindahannya tanpa pengemis yang biasanya berumah disitu, memanggil memori tempat berkampanye atau sebagai tempat start kalo mau longmarch, eh malah diberhentikan. Dan ditilang, saudara-saudara, oleh pak polisi terhormat itu. Gara-garanya, saya gak pake helm standar melewati kawasan tertib. Tau apa saya tentang kawasan tertib?.
Dari semua sore yang saya lewati seminggu ini, mungkin ini sore paling indah. Karena sore ini, saya ada dalam lingkaran cinta itu lagi. Duduk bersama akhwat2 tercinta saya melantunkan ayat-ayat cintaNYA, membedah buku dan saling bertaujih. Lingkaran ini yang dulu selalu saya nantikan setiap minggunya. Yang setiap pandangan mata mereka menusuk jiwaku, cukup sebagai bekal menjalani seminggu berikutnya. Lingkar cinta ini, ah, sungguh indah. Setelah melingkar, kami pun pergi untuk makan malam bersama. Indah....
Malam, syuro bersama orang2 hebat yang pernah kutemui. Ingin rasanya kembali. Ghiroh kalian masih seperti dulu, bahkan menanjak. Aku iri..

Sabtu, 1 Des '07
Waktuku untuk KMBI lagi, eh UKMBI. Syuro bersama kepengurusan yang baru, trus pesan cap/stempel sama Lina. Habis syuro tadi, melintasi sekretariat akhwat yang dulu. Jadi penasaran seperti apa sekarang dalamnya. Waktu minta kunci di ikhwan, mereka sempat ragu karena tempat akhwat ini sudah dipake juga sama ikhwan. (Jadi ikhwan pake dua sekret, akhwatnya dibuatin sekretariat baru di dalam masjid). Gak masalah sih, kita cuma pengen liat lagi ruangan tempat kami dulu berkumpul, ruangan yang kami tata dengan cinta kami, kami hiasi dengan kasih kami pada Allah dan UKMBI.
Dan terbengonglah kita. Ruangan itu benar2 berubah. Jadi tempat istirahatnya para ikhwan. Paling tidak, hiasan-hiasan yang dulu ditempel Mbak Anis masih indah di tempatnya. Juga sebuah gambar dari pejuang Intifadhah Sejati "Syekh Ahmad Yassin" yang dulu kami pasang bersama. Di depan sekretariat itu, pohon yang dulu kami tanam bersama sudah besar, bikin asri liatnya.
Malamnya, si bungsu dalam lingkaran cinta datang minta ditemani ke kostnya maba di kampusnya, silaturrahim. Dan she said something about makan malam itu. Ada-ada saja. Maksudnya apa tuh, neng?

Ahad, 2 Des '07
Judulnya seharian di kost. Sudah mau pulang, tapi belum makan gado-gado di deles IV, juga pangsit mas keriting yang sering mangkal depan kos. Juga sayur manisa-nya warung sederhana. Ya sudah, mau gimana lagi.

Sunday, November 25, 2007

Catatan Usai Muktamar IV

Bismilahirrahmanirrahim...

Sudah empat Muktamar, it means sudah 4 tahun kami, UKMBI, mengeja makna keberadaan kami di bumi ITATS. 4 tahun kami berupaya memberi manfaat dari kehadiran kami, mengumpulkan potensi yang berserakan dari kami, memadukannya dan ramu agar kelak kami tak malu karena tak berpangku tangan.

2 calon ketua sudah diusulkan untuk nanti diputuskan oleh ta'mir (Muktamar UKMBI tidak menghasilkan ketua, hanya usulan untuk diputuskan oleh ta'mir, red). DPO pun sudah ditunjuk. Penunjukan atas dasar analisa kami yang tak seberapa, atas sebuah penilaian manusiawi kami sembari berharap mendapat ridho dariNYA.

Sungguh, tak ada yang bisa saya ucapkan. Ingin rasanya bertahan lebih lama, tetapi begitulah perputarannya. Harus ada darah-darah baru. Harus ada semangat baru, manusia-manusia luar biasa lainnya yang akan mengeja cinta tertinggi pada Allah lewat KMBI. Saya masih saja menyebut KMBI (Komunitas Muda Baitul 'Izzah), padahal sebenarnya sudah diganti dengan UKMBI (Unit Kegiatan Masjid Baitul 'Izzah). Mungkin karena nama itu yang selama ini menjadi teman dalam kehidupan saya 4 tahun terakhir. Nama itu pula yang mencerminkan jiwa muda kami yang ingin bersenang-senang dan memilih jalan ini sebagai wadahnya.

Masih jelas dalam ingatan syuro-syuro perdana 4 tahun lebih yang lalu. Syuro-syuro yang membahas tentang nama yang bisa merepresentasikan semangat kami, logo apa yang menggambarkannya dan hal-hal prinsipil lainnya sebagai awal langkah kami. Dan Komunitas Muda Baitul 'Izzah kemudian dipilih dari sekian banyak pilihan seperti Keluarga Masjid Baitul 'Izzah, Keluarga Mahasiswa Baitul 'Izzah dan nama-nama lainnya.

Syuro-syuro berikutnya bersama orang-orang luar biasa lainnya yang menurut AD/ART kemarin pasal 13, kami adalah alumni. Satu persatu sudah menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Di Ambon, Kalimantan, Bandung, Malang, Bekasi, juga Surabaya. Masa-masa itu tak terlupa. Forum-forum yang dipenuhi banyak hal. suka, sedih, sesak, resah, kecewa, marah, tapi kesemuanya telah kami bingkai dalam cinta kepada Allah dan yang tinggal hanyalah ukhuwah.

10 bulan cukup untuk melihat masjid Baitul 'Izzah-ku berbeda. Hijabnya telah diganti, pohon yang dulu bersama-sama kami tanam saat bersih-bersih masjid, sekarang sudah besar. Semoga seperti cinta kami pada UKMBI yang akan terus membesar.
Teduh rasanya kembali di masjid itu. Hingga ketika menunaikan sholat Ashar, dari sekian banyak mukena yang ada, saya memilih satu bawahan. Kain bercorak batik berwarna orange. Kenapa kain itu yang saya pilih di antara mukena berwarna putih bersih itu? Karena itu kain mbak Anis, yang ia tinggalkan di masjid itu. Memakainya serasa ia bersama saya. ia yang sekarang sudah balik ke Kalimantan. Ia, saudara yang mengajakku memasuki dunia indah ini, dan menawanku disana hingga aku tak ingin lagi keluar. Ia yang mengajariku tentang tanggung jawab, tentang kepedulian dan tentang pembuktian ukhuwah yang luar biasa. Kami berdua dulu sering menghabiskan waktu di masjid walaupun sekedar untuk beristirahat melepas penat.

Setelah ini, aku akan kembali ke kehidupanku sekarang yang sedang kujalani. Tapi kali ini aku pergi dengan satu kelegaan. Bahwa KMBI-ku eh UKMBI-ku ada di tangan hamba-hamba yang luar biasa. Yang semangatnya mereka tularkan padaku muktamar tadi. Semangat dakwah yang menjalar hebat dan aku tahu, insyaAllah, UKMBI-ku akan baik-baik saja.

Do you know the relation between your two eyes?
They blink together, move together, cry together, and sleep together.
Eventhough they never see each other.
Ukhuwah should be just like that.

Bukan suatu masalah besar jika ku tak punya harta/pangkat di dunia. Tapi akan jadi masalah besar bagiku jika tak memiliki kalian sebagai saudara seiman tercinta apalagi ketika keberadaanku tak membawa manfaat sama sekali bagi kalian, UKMBI-ku

Catatan Jelang Muktamar IV KMBI

KMBI-ku hari ini ber-Muktamar. Sudah tiga muktamar kami lalui, dan ini bakal jadi Muktamar terakhir saya disini sebagai pengurus.
Terakhir tadi pagi, ada sms mampir di phone saya dari nomor sekretariat, intinya meminta doa dan dukungan agar tetap istiqomah.
Doaku selalu mengiringi KMBI-ku, agar pejuang-pejuangnya tetap istiqomah, ikhlas dan ihsan dalam berdakwah. Dan kali ini, aku juga ingin menghadirkan fisikku.
Ada banyak kesalahan yang kuperbuat selama bersama barisan ini. Kata yang menyakiti, sikap yang melukai, dzon yang tak boleh dan banyak lagi. Ingin kulelehkan semuanya hari ini.

Saudaraku, persiapkan jiwa kita dengan bersih ikut Muktamar ini. Berikan yang terbaik demi dakwah di masa depan. Luruhkan semua angkuh dan egois. Tak ada lagi saya, kau atau dia, yang ada adalah kita.
Ini Forum kita. Tak ada alasan untuk diam, bersuaralah, nyatakan mimpimu untuk KMBI, untuk dakwah dan mari bersama mewujudkannya.

Komunitas Muda Baitul 'Izzah ITATS, ini komunitas kita. Kumpulan hamba-hamba yang melebur, mengurai kelemahan, menggabungkan kekuatan sembari tetap berharap kembali menjadi komunitas, bertetangga di surga-Nya, Aaamiiin

Saturday, November 24, 2007

Surabaya, here i come

Perjalanan pertamaku ke Waipirit setelah subuh. Biasanya kalo mau ke Ambon, jamnya siang atau sore skalian. Tapi tadi, for the first time aku ke Waipirit selepas subuh, jam 5 tet. Dingin banget. Apalagi pas sampe di daerah gunung kawasan Prola sana, kabutnya tebal. Saat melintas di antara kabut-kabut itu yang serasa di dalam awan, dinginnya beda. Tidak menggigil tapi lembut mengusap kulit. Subhanallah, pemandangan gunung di subuh hari juga Subhanallah.

Ya, Feri pertama berangkatnya jam 7 jadi mau tidak mau saya berangkatnya dari Piru harus jam segitu biar gak telat feri dan gak telat ke Surabaya. Yup, Surabaya, nantikan aku ya....
Sampe di Ambon sudah jam 10 pagi, langsung sama papa ke Travel ambil tiket yang baru dipesan sejam yang lalu. Alhamdulillah, dapat harga yang miring, memuaskan kantong 3 jam sebelum jam check in.
Perjalanan tadi terus terang benar-benar gak nyaman. Iya sih dapat seat di depan, tapi armada ini seatnya kecil tak ada space buat merenggangkan kaki. Trus udaranya juga gak enak. Saya benar2 tidak menikmati perjalanannya. Hanya dengan ingat bahwa semuanya InsyaAllah akan terbalas dengan keceriaan dan sapaan teman-teman, i feel okay.

Sampe di Bandara Juanda menjelang maghrib dijemput sama bu Titik (dosen jaman kul dulu), abisnya Jeng Sri yang janji mau jemput gak bisa karena terlanjur gak minta cuti hari itu, kudu ngantor.
Setelah 10 bulan, akhirnya saya kembali menjejakkan kaki di kota ini. Melintasi Rungkut, Surabaya masih sama, macet. Kata BU Titiek, sekarang macetnya tambah parah. Tadi pas dalam perjalanan ke Bandara, beliau terjebak macet juga. Abisnya jalanan Rungkut yang segede itu, kalo dibandingkan dengan jumlah kendaraan yang lewat, itungannya masih kecil.

Jalanan pinggiran Surabaya kalo malam dipenuhi dengan tenda-tenda makanan. Apa aja ada. Trus bau-nya itu menggoda iman banget. Bau bebek goreng, agak sanaan dikit, sate, trus pecel lele, trus macam-macam deh. Rameee banget orang-orang di jalanan penuhin tenda-tenda itu. Bandingkan sama di Piru, kita gak punya banyak pilihan buat makan. Wisata kulinernya payah.

Sepanjang jalan, bibir tuh kayak gak mau berenti tersenyum. Subuh tadi saya masih di Piru dan skarang sudah di Surabaya dengan keputusan yang begitu tiba-tiba. Baru jam 11 malam kemarin saya memutuskan untuk ke Surabaya. Sebuah keinginan yang dengan sadar saya ambil. Bulan purnama seperti menemaniku tersenyum di balik meronanya.
Sampe di daerah semolowaru situ, mataku puas banget. Banyak memori berkelebat, tentang daerah-daerah yang dulu jadi tempatku melangkah hampir setiap hari. Hampir sampai kampus, sudah kayak apa ya.

Waktu melintasi kampus ITATS, bu titiek nanya "masih ingat by, ini tempat apa?". Saya jawab aja "ini kampus apa ya bu?", dengan lagak culun gitu yang disambut "endel" sama bu titiek. Parkiran di halaman masjid seperti biasa selalu penuh apalagi kalo malam gini. Sekretariat KMBI-ku berdiri anggun. Lewat depan cak wie, tempatnya kita (anak2 elektro kelas C-2001) nongkrong tiap hari soalnya di cak wie, anak2 bisa makan kenyang dengan harga anak kos. Saya sih gak pernah makan nasi bungkusnya, tapi terkesan sama Cak Wie yang menerima dan membiarkan saja anak2 model teman2ku itu nongkrong berjam-jam nunggu jam kuliah atau malah bolos kuliah.

Sampe juga di kost, dek Eya lagi pergi beli mouse. Kita baru benar2 reunian jam 10-an. Soalnya Tri sudah pulang dari nge-les-i, dan Lina baru juga nyampe. Lina khusus datang dari Nganjuk siang tadi supaya bisa ketemu. Reuni lagi berempat. Kamarku sekarang jadi gimana ya. Dekor-nya sudah diganti sama dek eya. Berasa lebih luasan sih, tapi gimana ya. Yasud-lah.

Ada banyak rencana disini, dan seminggu ini insyaAllah akan jadi seminggu penuh kisah. Tak sabar rasanya memulai hari-hari di sini dan menemukan hal-hal ajaib.

Saturday, November 17, 2007

Otakku Buntu

Buntu, kepala ini rasanya seperti berhenti berpikir. Capek dan lelah bertambah-tambah. Kerjaan di kantor yang gak selesai-selesai meski udah lembur 3 malam. Begitu selesai datang lagi setumpuk yang harus dikerjakan.

Bukan, ini bukan keluhan. Ini tugas yang harus dijalani. KOnsekuensi ketika mencemplungkan diri ke sini. Ini hanya sekedar coretan ketika otak meminta rehat. Tak sanggup lagi berpikir.

Tulisan-tulisan di kertas seperti bermain-main di mataku, berlompatan riang kesana kemari semakin memicingkan mata. Belum lagi angka-angka yang tersenyum mengejek meminta segera diselesaikan. Sampai akhirnya diri seperti ngadat. Angka-angka ruwet melilit di kepala, tak tahu harus memulai dari mana. Seperti masuk ke maze yang tak tahu berakhir dimana.

Aku butuh sekedar istirahat. Sebentar membasuh jiwa yang terlalu sibuk dengan duniawi, hingga hanya wajib yang terlaksana. Mushaf beberapa hari ini hanya sekedar mendapat lirikan. Menyentuh dan membacanya pun terhenti jika urusan duniawi memanggil. Astaghfirullah, bagaimana dunia bisa berjalan dengan lancar jika terlalu melena.

Otakku benar-benar buntu.
Aku capek, fisik dan pikiranku terkuras.
Izinkan aku rehat, mencharge energi dari Dzat yang KekuatanNYA tak pernah habis. Aku ingin tunduk sejenak, mengurai tali kusut di pikiranku ini. Agar dia terurai sempurna kembali dan aku bisa kembali menyelesaikan yang tertunda ini.
(Pamit 1/2 hari ya,ngecharge dulu, insyaAllah malam nanti baru lembur lagi).

Tulisan di atas aku buat tadi siang saat otak ini rasanya seperti berhenti berpikir. Dan saat ini aku kembali lagi berkutat dengan semua yang kutinggalkan tadi siang. Bedanya semuanya berbeda. Siang tadi, ketika diri ini memasrahkan penat , melepaskan lelah pikiran kepada Yang Maha Mendengar, Yang Mencintaiku tiada habis, beban itu meluruh, leleh seperti lilin yang terbakar.
Malam ini buktinya. Pekerjaanku memang belum selesai tapi jauh lebih enteng dari tadi siang. Bahkan otak ini seperti tak mengambil jeda untuk berpikir. Lancar semua kerjaan.

Subhanallah, Engkau memang Luar Biasa, Ya Allah....
Tempat menggantungkan segala suka, duka juga asa. Terimakasih Ya Allah

Monday, November 12, 2007

Jangan Terlalu Jauh Berlari

Harus diakui, mau tidak mau, di Maluku ini trauma akibat peristiwa 1999 itu masih ada. Memang sekarang masyarakatnya sudah lebih bijak. Mereka tidak lagi menerima informasi mentah-mentah. Ada proses mencari tahu dulu kebenarannya dan bagaimana menindaklanjutinya. Emosi tidak lagi mudah terpancing. Perkelahian antar dua kubu, berhentinya ya di dua kubu itu saja, tidak menjalar kemana-mana.

Di satu sisi, korban yang banyak berjatuhan dari dua belah pihak menyadarkan bahwa jangan lagi ada korban. Di sisi yang lain, tetap saja ketakutan itu ada. Panik jika mendengar ada ketidakberesan.

Seperti hari ini. Ketika Desa Ariate dan Dusun laala berseteru persoalan tanah, kami yang di Piru ikut panik. Ada keyakinan yang bilang bahwa tak ada apa-apa. Ini masalah lokal di dua tempat itu. Tapi seperti yang saya bilang di awal, trauma itu tetap ada, bagaimanapun penyangkalannya.

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Ada hal lain yang lebih memprihatinkan. Hal lain yang lebih memalukan dan lebih mengoyak batin. Sebuah keraguan akan pertolongan Allah.
Kaget saya melihat seorang wanita yang tadi siang baru saja terlihat memakai kerudungnya. Dan kenapa malam ini ia tidak berkerudung? Apa saya salah lihat ya tadi?
Sampai akhirnya ia sendiri yang bilang, bahwa dalam kepanikan tadi, suaminya bilang "buka jilbab dulu". Tersirat ketakutan dari suara itu yang membenarkan dirinya melepaskan kerudung yang dikenakan.

Mungkin, dalam pikiran si suami, kerudung akan mendekatkan sang istri dengan maut. Si suami yakin bahwa malikat maut akan menjauh jika istrinya tidak memakai kerudung. Sepertinya si suami belum tahu bahwa maut bisa menjemput kamu bahkan kalau kau sembunyi dilubang tikus sekalipun.

Astaghfirullah. Seandainya kita harus kehilangan banyak hari ini, bahkan nyawa sekalipun, setidaknya kita masih punya prinsip, kita mati dengan keyakinan yang masih utuh di dada. Bayangkan, jika memang hari ini terjadi sesuatu dan kita menghadapNYA tanpa berkerudung? Sementara 1 jam yang lalu kita melepasnya karena kita takut kerudung tak cukup bisa menjaga kita, apa yang akan kita katakan pada Allah? Tidak malukah kita kepada Allah yang Maha Menjaga? Tak malukah kita pada Allah yang janjiNYA adalah pasti?

Sahabat yang dekat dengan ibunya, yang tak diragukan sayangnya pada ibunda, menjawab Ibunda dengan kesantunan yang tinggi tapi tanpa melepas keyakinan, "Bu, jikapun Ibu punya seribu nyawa dan satu persatu meninggalkan ibu, tak akan kutinggalkan imanku pada Allah dan Rasul".
Santun, tapi tegas. Sederhana tapi kuat.

Saudaraku, kita boleh kehilangan segalanya. Tapi iman tidak boleh hilang sama sekali. Iman-lah yang membuat kita tetap hidup. Iman-lah yang akan menuntun langkah kita menemukan kembali semuanya. Dengan iman di dada, maka sebenarnya kita tak kehilangan apa-apa.

Saudaraku, Allah tak akan meninggalkan kita. Sayangnya, kita-lah yang terlalu jauh berlari dari-NYA. Tapi saudaraku, masih ada harap untuk kita. Sejauh apapun kita berlari, Allah selalu menerima kita kembali.

Saturday, November 10, 2007

Euforia Berlebihan

Layakkah kita memaknai amanah sebagai sebuah kesenangan, sebuah prestise yang disikapi begitu bahagia. Sampai harus ada perayaan yang wah. Apa ya yang terlintas di benak, di sela-sela jaringan otak ketika mendapat tugas itu? Mengapa adalah kegembiraan? Mengapa pula harus ada pesta? Kenapa bukan ketakutan? Akan begitu banyak beban setelah ini, lantas kenapa berhura-hura? Ah, betapa dunia telah membutakan hati

Ketika Rasulullah wafat, siapa khalifah yang menggantikan beliau?
Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah kemudian datang ke Saqifah. Dengan fasih Abu Bakar menenangkan Anshar yang sedang dibakar ghirah. "Kami (Muhajirin) adalah para Amir, dan kalian (Anshar) adalah para Wazir...maka bai'atlah 'Umar atau orang kepercayaan ummat ini Abu 'Ubaidah!"

Umar mengepalkan tangan dan gemeretak giginya karena malu sedang Abu 'Ubaidah menunduk berkeringat dingin tak mampu mengangkat kepalanya. "Justru engkau yang akan kami bai'at.."kata 'Umar kemudian sambil menggenggam tangan sahabatnya.
Kisah menyejarah akan takutnya memegang sebuah amanah.

Beratus-ratus tahun jaraknya dari kisah menyejarah itu, di sebuah ruangan Muswil DPW Maluku Utara periode 2000-2005. Kisah ini indah tertulis dalam Memoar Cinta di Medan Dakwah-nya Ust Cahyadi Takariawan. Saat pemilihan Dewan Syari'ah Wilayah sesuai tata tertib persidangan yang dipilih adalah Ketua, Wakil, dan seorang anggota. Pemilihan yang berlangsung tertutup itu menghasilkan 5 nama. Satu nama dengan 24 suara dan empat lainnya dengan 3 suara. Sebelum diputuskan mekanisme memilih 2 dari 4 nama yang sama-sama mendapatkan 3 suara tersebut, salah seorang kandidat menyatakan dirinya tidak memenuhi persyaratan sebagai anggota DSW karena belum mencapai jenjang keanggotaan sebagaimana diatur dalam AD/ART. Ia pun mengundurkan diri. Berarti masih ada 3 nama yang mendapatkan suara sama. Sedangkan yang dipilih hanya 2 di antara mereka.

Dalam kebingungan menentukan mekanisme, dengan polos dan tanpa pretensi apapun,Ketua DPW berbicara dengan suara keras, "Ayo siapa lagi yang mau mengundurkan diri?".
Begitulah keikhlasan hati seorang ikhwah yang melihat permasalahan itu dengan kacamata da'i yang tak layak berebut amanah, yang tak layak berebut jabatan apapun dalam dakwah.

Dan benar, salah satu kandidat mengacungkan tangan dan mengatakan, "Saya mengundurkan diri".

Dan hari ini saya liat bahwa ada sisi lain dari kepemimpinan. Meminta dan setelah diberi, betapa ekspresinya berlebihan bahkan memuakkan. Sadarkah bahwa pertanggungjawaban tak berhenti setelah akhir jabatan tapi berlanjut hingga menemui Sang Pencipta. Ah, dangkal dan piciknya pemikiran yang begitu bangga dengan beban yang justru dilemparkan dengan kasar.

Esensi dari pekerjaan adalah pada ketekunan, keikhlasan kesabaran, kesungguhan dalam menunaikan kegiatan, pada usaha terus menerus menebar kebajikan di setiap ruang-ruang publik. Bukan pada perebutan jabatan, bukan pada adu argumentasi tanpa kejelasan tujuan, bukan pada semangat gugat menggugat interpretasi.

Mari kita tekun bekerja, sebagai apa pun kita!

nb : catatan usai definitifnya para pejabat

Masih Ada Waktu, Nak...

Kasihan sekali hidupmu nak. Kau harus dikendalikan oleh yang secara hirarki harusnya kau kendalikan. Entah kemana perginya nurani. Ia harus kalah karena kepentingan pribadi. Tunduk pada keangkuhan dan keinginan duniawi semata. Jengkel yang terasa berganti jadi kasihan, iba karena kau tak lagi bisa menjadi dirimu sendiri. Kau tak lagi bebas menentukan pilihan-pilihan sikapmu, tak lagi mampu melihat dan berkarya sebagaimana mestinya hati menuntun.

Pun ketika ada kesempatan kedua (everybody deserve to be) memperbaiki kesalahan, tak juga kau ambil. Kau tetap bergumang dalam kesalahan yang seharusnya tak terjadi. Lalu kau masih menyebut dirimu punya kuasa? Kuasa itu sudah dirampas, nak. Mungkin kau tak sadar, tapi apa yang kau punya sekarang tidaklah sebanyak yang kau pikirkan. Karena mereka punya lebih banyak, hingga penampilanmu adalah yang berkuasa, tapi hatimu mereka belenggu.

Buka matamu, nak. Lihat sekelilingmu. Banyak yang mesti kau lakukan selain dari mendengar satu demi satu rengekan penuh darah nafsu. Banyak yang lebih butuh perhatianmu tapi mereka hanya diam. Jangankan bicara, mendekatimu saja begitu susah. Tapi harusnya kau sadar, bahwa mereka diam karena mereka memang tak perlu bicara. Kaulah yang berkewajiban memenuhi hak-hak mereka dan mereka tak perlu merengek.

Masih ada waktu.

Sunday, November 04, 2007

GADISKU, TERBANGLAH.....




Hari ini
kampusmu akan menjadi satu tapak
Yang kau tinggalkan tapi kau rindukan


Maen,
Belajar,
Senang,
Pusing,
Semangat,
Kursi taman,
Kantin,
Pohon,
Masjid,
Angin,
Hujan,
dan Kicau burungnya


Dalam lipatan memorimu kini
Ada satu masa dimana kau dan gejolak masa mudamu
menemukan tempatnya dan mengangkasa
Hingga akhirnya kau tahu alasannya
Mengapa Allah menempatkanmu disana beberapa saat

Ukiran bersama sahabat-sahabatmu
Membentuk sebuah kisah thriller, komedi
ataupun drama khas anak muda
Satu persatu merenda jejak di taman hatimu
Berharap kelak ketika semua telah berjalan sesuai masanya
Masa kalian tetaplah terkenang, tak tergantikan

Hari ini,
Kau melangkah pasti
Membentuk kembali tapakmu yang baru
di dunia yang sebenarnya
Bersiaplah karena nanti tak seindah yang kau bayangkan
Tak semulus yang kau duga
Tak semudah yang kau harap

Tapi kau tahu,
Keteguhan hatimu akan menuntun langkah berat itu
Hingga tetap mantap
Saya yakin, maka mengapa kau ragu?
Karena memang tak ada alasan untuk meragu.





Selamat mengepakkan sayapmu yang telah lama belajar terbang
Saatnya membuktikan dirimu
Saatnya orang-orang tahu
Bahwa dunia ini indah karena ada kau di dalamnya
Dengan segala keajaiban yang mampu kau cipta



Teruntuk : Adekku sayang, yang hari ini menambah S.Psi di belakang namanya.
S. Faradilla Waliulu, S.Psi

Saturday, November 03, 2007

Di Balik Awan

Tiba-tiba saja diri ini ingin pulang ke rumah di Ambon. Kembali ke hangatnya kasur dan belaian bacaan menjelang tidur. Tadinya sih pengen gak ke kantor, tapi berhubung laporan yang saya buat kemarin belum diberi ke si Bapak, jadi ya harus ke kantor dulu. Tunggu menunggu, kok si Bapak belum datang-datang juga. Kalo gak datang, nyesel dong ke kantor. Pas lagi seru-serunya bahas bukunya Dan Brown sama rekan, si Bapak muncul. Laporan saya beri dan berharap cemas tak ada perubahan (mau kabur nih).

"Ya sudah" *alhamdulillah, ijin pulang ah*

"Tapi.... *o..ow, apaan*, ini laporan kecamatan apa?"

"Dua-duanya pak, Kairatu dan Huamual Belakang"

"Seng buat sendiri-sendiri?"

"Seng pak, itu sudah digabung. Kemarin saya tanya, kata Bapak jadi satu saja"

"Harusnya dipisah *ugh, selesai jam berapa ya? dapat feri jam berapa nanti?*

Si Bapak meneliti lagi laporan itu. Dan saya masih berharap ada kalimat yang melegakan.
Dan...
"Ya sudah, begini saja juga seng apa-apa. Cuma nanti buat kecamatan sendiri-sendiri secara umum ya. Ini kan masih gambarkan desa-nya saja"

"Iya pak" *tapi senin aja pak, pengen pulang nih*



Maka,Sebelum jam kantor berakhir, saya sudah ada di jalan menuju Waipirit. Perjalanan yang menyenangkan, benar2 menyenangkan. saya selalu menikmati perjalanan Piru-ambon. Mata saya benar-benar termanjakan.


Gelap yang tadinya saya pikir hujan di gunung sana, ternyata setelah saya lewat, bukan hujan tapi kabut. Serasa berkendara dibalik awan (kayak Denias yang bersenandung). Dinginnya tuh enak, segar. Dinginnya beda. Dia gak masuk ke pori menusuk kulit, tapi justru membelai. Asyik menikmati awan yang membelai, tiba-tiba "byar", langit menangis hingga kulit ini serasa sakit ditusuk tetesannya yang besar. Tapi perjalanan tetap berlanjut. Tak peduli hujan, toh juga di gunung, tak ada tempat berteduh. Hujan adalah rahmat, maka biarkan rahmat ini menemani kepulanganku.

Piru, tunggu saya 2 hari lagi ya. Mau reses dulu nih.