Sunday, January 28, 2007

Its All About Choice, gO Home is my CHoiCe

Life it just about choice. Since we get up in the morning and sleep at night, we make a lot of choice. Selama hidup saya, satu persatu pilihan sudah saya ambil, sadar atau tidak pilihan itu, itulah yang sudah membuatku, membentukku hingga di titik ini. Dan kalau satu lagi pilihan harus saya ambil, saya harus mengambilnya dengan kesadaran penuh.

Pilihan untuk pulang adalah pilihan yang dengan secara sadar saya ambil. Bagi sebagian orang mungkin mempertanyakan pilihan itu, tapi tidak semua pertanyaan harus saya jawab. Yang benar bagi sebagian orang, mungkin saja salah bagi orang lain. Pilihan yang benar bagi seseorang, mungkin saja tidak akan dipilih oleh orang lain jika dihadapkan pada keadaan yang sama.

Kata Kate dalam Cheaper By The Dozen “Life ia journey, journey to bring us home”. Maybe, now is the right time to go home. My life, my journey akhirnya bring me home. Petualangan seekor lumba-lumba di ganasnya samudera yang bukan rumahnya mungkin saja harus berakhir hari ini. Setelah 10 tahun ia melanglang buana, mencoba kesegaran berbeda di setiap perairan yang ia selami, di banyak daratan yang sempat ia singgahi. Banyak ikan (arek2 STELK, arek2 elektro itats, arek2 KMBI, arek2 RMA, arek2 KAMMI, arek2 FSLDK, SMK 7, komunitas tarbiyah) yang ia temui, banyak karang yang membuatnya terantuk, banyak gelombang yang membuatnya harus bisa bertahan agar tidak terseret lebih jauh, ada juga kehangatan dan keindahan terumbu karang yang ia lihat. Setelah apa yang ia dapat itu, maka mungkin ini saatnya untuk kembali ke perairannya, perairan tempat ia berasal. Saatnya ia bercerita kepada para lumba-lumba saudaranya tentang perairan yang luas, agar perairannya bisa lebih indah lagi.

Satu yang ia yakini, ia pasti akan merasa lebih nyaman dengan perairan where she belong. She realize ada gelombang lain, ada batu karang lain tapi ada juga ikan-ikan yang lain yang akan menemaninya. Dia akan rindu dengan seluruh saudara, sahabatnya di perairan Jawa, tetapi justru memori persahabatan dengan merekalah yang akan membuat dia bersemangat menjalani petualangannya yang baru. Ya, The New Adventure.

Ini bukan saja perjalanan pulang, tapi bisa saja ini adalah awal dari sebuah petualangan yang baru, sebuah pengembaraan lainnya untuk merangkai puzzle raksasa kehidupannya hingga puzzle itu menemukan gambarnya secara utuh, berakhir pada kesyahidan dan ridho Allah akan JannahNYA.

Saat putranya Denzel Washington dalam John Q berkata “Good Bye, Dad” ketika Denzel keluar dari ruang pengadilan menuju kehidupannya di penjara, Denzel berkata “Don’t Say Good Bye, but See You Later”

Maka, itu pula yang akan kukatakan. Saya tak akan mengatakan selamat tinggal pada kalian seluruh saudaraku, sahabatku, yang telah mengukir setiap lembar di hatiku, merangkainya menjadi cerita indah yang kupastikan akan selalu bersemayam di sudut hatiku. Setiap kalian menempati ruang di hatiku, maka bukan Selamat Tinggal, tetapi Sampai Ketemu Lagi. Karena saya akan sering-sering mengunjungi kalian di ruang kalian masing-masing.

Nb : Bagi yang mau ikut nganter ke bandara besok, jangan bawa tissue karena kalian tidak saya perkenankan untuk menangis. Saya sudah capek mengurasnya selama sepekan terakhir, bahkan 2 hari terakhir, sudah kering rasaya. Bukan itu yang ingin saya lihat, tapi senyum kalian, tawa kalian, ceria dan canda kalian yang ingin saya jadikan penutup pertemuan fisik kita dan itu tidak butuh tissue atau sapu tangan. Semoga kepergianku tidak ikut mencoret namaku di hidup kalian. Semoga saat aku bersama kalian, itu bukanlah kesia-siaan belaka untuk kalian. Kuharap, kenangan indah tentangkulah yang sempat kupatrikan dalam memori kalian. I love you all, guys

"Ditulis oleh ebhy dalam kenangan kebersamaan yang indah beberapa jam menjelang kepergian"

Terkuras habis...,

Bismillah..

Sulit rasanya menggambarkan hari ini. Setelah hari yang melelahkan fisik dan jiwa, ingin sejenak berbagi. Packing-packing akhirnya selesai. Ternyata isi kamar saya tuh 6 kardus, 1 travel bag plus satu tas kresek super besar.

Pertemuan fisik dengan KMBI berakhir sudah. Sedfih, tapi kupasrahkan segalanya kepada Allah. Kupercayakan penjagaan KMBI-ku tercinta untukNYA, karena IA-lah sebaik-baik pemelihara KMBI beserta seluruh pejuangnya.

Terimakasih buat Mita, Maya dan Sri, 3 sahabat cantikku di Elektro ITATS. Terimakasih atas cerita indah kita. Terimakasih atas airmata yang telah kalian bagi untukku. Sungguh, bagiku kalian adalah mentari yang akan selalu menerangi jalanku. Sahabat seperti kalian adalah anugerah. Semua sudah kita lebur tadi. Bersama berpegangan tangan, kutatap wajah indah kalian saatu persatu. Tak akan pernah hilang kalian dari memoriku serta dari hatiku. Salam sayangku selalu.

Buat adek-adekku di kost, dek Eya, dek Ega, dek Lina, dek Astri dan juga dek Yanti, terimakasih telah menemaniku malam ini. Bersama kalian menjalani keseharianku adalah hal yang luar biasa. Tetaplah menjadi diri kalian masing-masing. I Love You, Really.

Hari ini, tak akan terlupa.

Saturday, January 27, 2007

One Last Week Of Journey

Ahad, 21 Jan 2007
Kepalaku pusing banget, badan juga rasanya lemes. Tapi kalo tidur saja, bisa tambah manja dan malah gak bisa lakukan apa2. Wake up, babe. Bergeraklah karena diam berarti mati

Senin, 22 Jan 2007
Malam ini ngobrol sama Lina di ruang tengah kost-an sampe jam 12 malam. Kapan lagi?
Oh ya, akhirnya tadi pagi bisa juga saya hubungi Itsna untuk pamitan. Sudah 3 minggu ini hp-nya tak bisa dihubungi. Ternyata ganti nomer. Reaksinya, sama seperti yang lain. Kaget, terdiam lama baru kemudin mempertanyakan kenapa saya pulang. Pertanyaan yang tak bisa terjawab dengan pas. Saya memang harus pulang, itu saja. Sudah waktunya untuk pulang, begitu saja. Eh, Itsna katanya mau nginap di kostku hari Sabtu besok, Siip…..

Selasa, 23 Jan 2007
One day with dek Eya dan dek Ega di Wisata bahari Lamongan (WBL). Kita bertiga berangkat ke L.A jam ½ 8 pagi dan baru masuk rumah lagi jam 20.00 kurang. Seru, asyik, have fun banget bersama adek2ku yang bentar lagi ta’ tinggal. Sedih..sedih..sedih lagi. Malam ini tetap saja ngobrol dulu, cerita dulu sama Lina sampe ½ 12 malam. Tau gak kita bahas apa? Kita bahas novel-nya Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta, bahas Karakter Fahri, Aisha, Maryam, Nurul. Saya kok lebih pas, kalo Fahri itu nikahnya sama Nurul ya? Wakakak….

Rabu, 24 Jan 2007
Hari yang menguras air mata. Pagi hari, satu lingkar cintaku diguyur hujan. Sorenya, lingkar cintaku diguyur pula. Adek-adekku, jangan menangis saat kita berpisah. Menangislah ketika kita bertemu lagi, karena Allah masih berkenan mempertemukan kita. Saya dapat banyak hadiah hari ini, hadiah cinta dari mereka. Qur’an, Jilbab, Bros, padahal bertemu mereka sudah sebuah nikmat yang patut kusyukuri.
Allah, terimakasih atas nikmat ukhuwah ini

Kamis, 25 Jan 2007
Really busy day. It feels like there is much of stone in my shoulder. I must complete many job at the same time.
But, hari ini ditutup dengan sedih tapi juga indah. Banyak cinta kurasakan sampai ku menutup mata malam ini. Acara cooking class dan bikin es buah rasanya tak sesedap yang dirasakan lidah, lebih dari itu, tak terjabarkan. OMG, tak kusangka ukhuwah ternyata seindah ini. Pantas kalau para Sahabat dan para malaikat iri dengan kelompok orang yang saling mencintai karena Allah.

Jumat, 26 Jan 07
Ya Allah, beri saya kekuatan menyelesaikan hari ini. Beri hambaMu ini kemampuan menyelesaikan segala tugas yang diamanahkan pada tubuh yang ringkih ini. Tak tau harus mulai dari mana, tunjukkan jalanMU agar semuanya bisa selesai dengan lancar hari ini.

Acara sore tadi, pamitan di kontrakan Khodijah sekaligus mengalihkan satu amanah. Subhanallah, ternyata adek2 itu punya agenda mendatangkan Shoutul Harokah ke kampus mereka, UNITOMO, 18 Februari 2007. Sekalian undangan, silahkan datang ke Halaman Gedung F, hari Ahad 18 Februari 2007 pukul 7 pagi sampai ½ 1 siang. Mahasiswa 5ribu, umum 7rb, mhs Unitomo Free of Charge. Dek, sudah ta’ bantu publikasikan lho.
Titip FSLDK ya adek-adek. Keep istiqomah dan terimakasih telah beri banyak cinta untuk ana. Email anti semua sudah ana terima, kalo di-invite ke FS ana, segera di add ya, jangan pake lama 

Acara malam, pamitan ke Ibu Kost tercinta. Bu Sri, makasih ya bu atas semua keramahan dan kemudahan yang ibu tawarkan. Perasaan dari banyak anak kos ibu yang sudah berganti-ganti ini, aku ya bu yang paling sering ngerepoti. Paling nggak tau malu minta apa-apa. Ngerepotin tok isine. Makasih banyak dan maaf ya Bu, maaf banget. Mmuuaah. Aku titip dek Eya dan dek Ega, ya bu. Semoga mereka nggak nyusahin kayak aku.

Packing-packing, malam ini sudah dapat 3 kardus plus satu travel bag menyusul 2 kardus sebelumnya. Masih ada barang yang belum dipacking. Wuuaah….barangku kenapa jadi banyak gini ya. segala yang kukira sudah gak tau dimana, tiba-tiba bermunculan dan minta haknya untuk dibawa dan dipergunakan. O ow………

Thursday, January 25, 2007

Lingkar Cinta (Catatan Khusus)

Mbak, jazakumullah atas semua cinta, perhatian, bimbingan, pengertian, kepercayaan serta senyum yang tulus di setiap perjumpaan kita. Ilmu yang mbak beri selama ini begitu bermakna untuk perjalananku ke depan. Afwan atas sikap-sikap ana yang banyak salah, adek yang banyak maunya, sering nunda ngerjakan amanah, sering telat datang, dan hal-hal lainnya yang mungkin saja sempat menorehkan kecewa pada mbak. Doakan ana mbak, agar tetap istiqomah di sana, tetap melanjutkan cerita indah tarbiyah disana. Jazakumullah khoiron katsiron ya mbak, terimakasihku tak cukup untuk menuntaskan rasa bangga pernah duduk di dalam lingkaran bersama mbak, mendengarkan taujih-taujih mbak yang keluar dari hati. Biarlah kuserahkan urusan ini kepada Allah, karena hanya, hanya IA saja lah yang mampu membalas segala kebaikan Mbak padaku.

Saudara-saudara selingkaran yang kucintai karena Allah,
Jazakillah khoir atas kebersamaan kita. tak terasa berbilang tahun kita duduk bersama. Sudah banyak kisah kita rangkai. Didalamnya ada tawa, ada sedih, ada marah, ada kecewa, ada senyum tulus, ada perhatian, ada saling jenguk, ada sms rindu, ada tangis, segala macam rasa pernah kita alami bersama. Tapi, tentu saja rasa-rasa itu kini menjadi jelas, bahwa ia bermuara pada saling mencintai karena Allah.
Terimakasih atas setiap doa yang pernah dan semoga selalu terlantun untuk ana. Terimakasih atas bahu yang sempat antum pinjamkan untuk memikul sebagian sesak. Terimakasih atas senyum tulus yang selalu ana temui di setiap perjumpaan, sungguh senyum antum ibarat bensin bagi ana meneruskan perjalanan. Hingga jika mesin dakwah ana mulai mogok, wajah-wajah antum-lah yang membuat motor itu kembali dengan keadaan yang lebih mantap.

Afwan jika ada hak antum yang ana lalaikan. Ada janji yang mungkin terabaikan. Ada harap yang tak ana penuhi. Ingatkan ana agar sempat untuk ana tuntaskan. Dan jika tidak, maka keikhlasan antum-lah yang ana harapkan hingga mampu menutup murka Allah atas diri ana.

Cerita kita tak pernah selesai, cerita kita justru baru dimulai. Karena cinta itu dibuktikan saat orang-orang yang saling mencintai itu berjauhan tapi mereka tetap menjaga cinta itu di tempatnya hingga saat dipertemukan kembali, di akhirat, untuk kembali mengenang kebersamaan sambil menikmati segarnya susu yang mengalir di bawah surga.

Hapus air mata itu ukhti. Ana tak tahan melihatnya. Semoga air yang mengalir dari mata kita menjadi penyegar dan penyuci ukhuwah, membersihkan noda yang sempat tertoreh di pakaian ukhuwah yang selama ini kita kenakan. Jangan menangis saat berpisah, tapi menangislah saat bertemu sebagai kesyukuran karena Allah masih mau mempertemukan.

Ukhti, kita tak pernah berpisah selama kita masih di jalan yang sama. Maka, tetaplah di jalan ini. Tidak selalu mulus, kadang berkelok, curam dan terjal, kadang-kadang tak ada penerangan dalam perjalanan ini. Tapi jika keistiqomahan kita jadikan sebagai cahaya dalam perjalanan ini, maka insyaAlah kita akan bertaburan bunga di ujung perjalanan ini.

Ukhti, lingkar kita tak pernah bubar. Lingkaran ini hanya melebar. Ana mencintai antum semua karena Allah. Doakan ana istiqomah dan sediakan satu ruang sempit di hati antum untuk ana. Sering-seringlah menjenguk ana di ruangan itu. Keep contact ya ukhtiy……

NB : Ingat nggak, pas antum semua ke rumah ana sepulang LQ untuk menjenguk, rasanya seperti terbawa ke surga. Ingat nggak pas dapat tanaman satu pot saat acara tukar kado? Udah mati bunganya, tapi ia hidup di hati ana, ukhti sayang si pemberi bunga. Ingat gak pas rame2 ke walimahannya teman kita di Nganjuk sana? Ingat nggak acara makan jambu biji sambil menunggu mbak? Ingat nggak sharing problem kampus masing2? Ingat nggak diskusi tentang problematika masing-masing adek kita? ingat nggak pulang aksi malah kumpul makan2 di rumah mbak F? ingat nggak pulangnya mampir Kenjeran beli kerupuk? Ingat nggak waktu……… (terlalu banyak yang teringat), Indah khan? Kabari ana kalo sudah ada berita “gembira” ya? You know what I mean….

Wednesday, January 24, 2007

Lingkar Cinta (Catatan 2)

Bismillah…
Ingati jika sunyi, Rindui jika jauh, Fahami jika keliru, Ingatkan jika lalai, Sungguh Indah Ukhuwah karena Allah.

Semua berjalan biasa saja. Hingga pada akhir, saya harus mengucapkan salam terakhir. Tak urung, ada juga yang mengalir di pipi. Padahal sudah kupaksakan untuk tidak membiarkannya tumpah. Tak bisa kutahan getaran di bibirku yang harus kupaksa bicara. Maka, diam. Itu yang kupilih, sambil terbata-bata harus kuucapkan salam itu.

Satu hari, dua lingkar cinta harus kulepas. Kumulai pagi hari dan kututup sore dengan penyerahan sebuah amanah. Amanah mengawal kebersamaan ini. Dua lingkar cinta harus kuserahkan kepada dua saudaraku yang luar biasa lainnya.
Sulit melepaskan mereka, tapi saya tak punya pilihan. Wajah-wajah mereka terlanjur begitu nyata, begitu lekat dalam ruang pandangku, tawa dan tangis mereka begitu akrab di ruang pendengaranku. Dan kini, itu tak menjadi menuku lagi.

Adek-adekku,
Bangga rasanya bisa menjadi bagian dari hidup kalian selama ini. Bangga rasanya telah menempati satu sudut di hati kalian. Hapus airmata itu, kepergian mbak ini adalah salah satu upaya menuju ridhoNYA. Maka, selama anti semua masih berproses tak henti menuju ridhoNYA, berarti kita tak pernah berpisah. Pada perjalanan kita masing-masing, insyaAllah, kita bertemu di ujung, di keridhoanNYA sambil mengenang kebersamaan kita ini.

Banyak pelajaran yang sudah antunna beri ke saya. Dari dua lingkar cinta ini, saya belajar tentang kelembutan, keceriaan, kesabaran, keramahan, keterbukaan, kepercayaan, memahami, ketegasan, ketakutan akan murka Allah, keinginan menuntut ilmu yang tinggi, ketenangan, persaudaraan dan masih banyak lagi.

Adek-adekku,
Terimakasih atas setiap hadiah senyum yang kalian berikan. Terimakasih pula telah begitu mempercayakan kisah kalian padaku, terimakasih untuk menjadikan pertemuan kita adalah bagian penting dari rencana-rencana besar kalian.

Maafkan jika pernah ada hati yang tersakiti, ada janji yang terabaikan, ada hak yang tidak terpenuhi. Lanjutkan cerita indah tarbiyah ini bersama mbak kalian yang baru. Berproseslah bersamanya sehingga kalian akan melejit, mengangkasa menjadi akhwat-akhwat berstatus pegawai Allah. Kalian tak terlupakan…

Ukhti-ukhti saudaraku,
Kuserahkan lingkar cinta ini pada kalian. Rangkailah dengan kelembutan dan cinta, hingga lingkar itu menemukan tempatnya di sisi Allah. Mereka luar biasa, anti berdua pasti akan bahagia bersama mereka, melingkar, berputar hingga tak ingin keluar

Saturday, January 20, 2007

Lingkar Cinta (Catatan 1)

Satu lagi hari yang berat tapi indah. Rangkaian kata yang paling tidak ingin saya dengar saat-saat ini adalah “Mbak, gak usah pulang ya. Disini saja”. Parahnya, justru kalimat seperti itu yang paling sering saya dengar. Setiap hari, ada saja yang mengatakan itu. Semakin berat jika yang mengatakan itu adalah adik-adik binaanku seperti sore tadi. Melihat wajah mereka ketika mengatakannya membuat saya tak bisa menjwab. Bukan tak ingin, tapi tak tahu harus menjawab apa agar tidak melukai mereka. Belum lagi ditambah kalimat “Nanti yang ganti, gak seperti Mbak Eby gimana?”.

Allah, aku tak tersanjung dengan kalimat itu. Aku justru takut dengan kalimat itu. Kalimat itu sudah saya dengar dalam 2 pertemuan terakhir. Bahkan ketika mereka bertandang ke rumah pun, itu lagi yang mereka bahas.
Di satu sisi, saya merasa lega karena saya punya arti. At least, kebersamaan kami selama ini punya tempat di hati mereka. Paling tidak juga, ketika saya tidak ada, itu ada bedanya bagi mereka karena saya pernah diberitau bahwa alangkah ruginya orang yang ada dan tiadanya dia, itu sama saja bagi orang lain. Dan saya tak mau jadi orang yang merugi itu.

Tapi di sisi lain saya takut, cemas kalo ternyata kebersamaan dan kedekatan kami selama ini membuat mereka takut dengan dunia setelah itu tak ada. Kecemasan mereka akan pengganti saya membuat saya merenung “Figuritas seperti apa yang sudah saya bentuk di depan mereka selama ini?”. Saya takut, nantinya mereka akan membandingkan antara saya dengan pengganti saya nantinya dan jika itu tak sesuai bayangan mereka, akan mudah bagi mereka untuk membuat alasan agar tidak hadir. Bukan saya merasa sempurna, tapi jika itu terjadi, maka saya ikut bertanggungjawab akan itu. Saya kemudian mempertanyakan niat mereka, jangan sampai kedatangan mereka selama ini ke lingkaran itu adalah karena saya, bukan karena Allah.

Dalam Buku Pintar Mengelola Halaqoh, Ust Satria Hadi Lubis menjelaskan dampak negatif dari sikap pengidolaan tersebut, antara lain :
1. Hilangnya sikap kritis dan tumbuhnya taqlid buta
2. Hilangnya suasana saling menasehati antara murobbi dan peserta
3. Hanya mau menerima pendapat dan nasehat dari murobbi saja
4. Wawasan peserta menjadi sempit
5. Hilangnya sikap toleran terhadap perbedaan pendapat
6. Terlalu tergantung pada murobbi
7. Hilangnya inisiatif dan kreativitas peserta
8. Sulit diajak beramal jama’I di luar halaqoh
9. Sulit dipindahkan, jika tiba saatnya pindah murobbi
Murobbi secara tidak sadar bisa membuat peserta mengidolakannya. Misalnya, dengan sikap yang terlalu memanjakan peserta, persis seperti sikap orang tua yang memanjakan anaknya, sehingga anak menjadi tidak mandiri dan kehilangan percaya diri.

Saya pribadi tidak begitu mengkhawatirkan poin satu hingga delapan. Karena mereka kritis, saling menasehati, mereka kreatif, punya aktivitas amal jama’I di luar halaqoh dll. Yang saya khawatirkan adalah poin terakhir. Mau tidak mau, setelah ini mereka harus pindah, dan kalau mereka masih dengan pemikiran “Nanti kalo gak seperti mbak, gimana?”, maka selama itu pula mereka tak bisa enjoy dalam lingkaran cinta itu. PR besar juga untuk pengganti saya nantinya, sementara dia harus tetap menjadi dirinya.

Dengan semua kegelisahan ini, saya mensyukuri saya masih punya waktu sekali lagi, terakhir bersama mereka untuk menjelaskan dan meluruskan kekhawatiran ini. Ada yang bisa bantu saya?, jazakumullah khoiron sebelumnya.

Nb : Tak kusangka, salah seorang adik memberiku hadiah coklat. Katanya “saya kan tau mbak Eby sukanya apa”. Dan yang lainnya ada yang bilang “Kalo gitu nanti ta’ masakin sayur terong ah buat mbak Eby”. Subhanallah, ternyata mereka masih mengingat kesukaan2 saya padahal itu hanya diberitau sekali saat pertemuan perdana sesi ta’arruf. I am excited they still remember that. Saya kalah lagi membuktikan ukhuwah indah ini, kenapa saya tidak mendahului memberi mereka hadiah, padahal catatan saya lengkap tentang diri mereka termasuk kesukaan mereka? Merekalah murobbi saya, murobbi ukhuwah saya

Friday, January 19, 2007

The ComPLeTe daY

Bermula dari telpon Rabu pagi kemarin, Pak Putu memberitahu kalau ada rapat di Jurusan tentang KTSP (Kurikulum baru gitu). “Ini sudah berupa undangan ya bu..”, begitu kata Pak Putu. Biasanya kalo ada rapat, kita diberi undangan resmi tapi ini beda. Memang sih, saya beberapa hari ini tidak masuk sekolah karena memang tidak ada aktivitas belajar mengajar pasca UTS-an. After that, feeling saya mencium sesuatu. Memang, feeling saya agak kuat akan hal2 yang tidak biasa akan terjadi atau surprise or whatever.

Akhirnya, saya memutuskan untuk ikut rapat, walaupun sebenarnya sudah tidak ada kepentingan lagi bagi saya dengan KTSP itu. Toh, saya sudah mengundurkan diri walaupun belum secara resmi. At least, saya bisa bertemu lagi dan menggali pelajaran dari Bapak-Bapak dan Ibu rekan ngajar saya.

Rapat berjalan mulus, hingga di akhir rapat, Pak Bambang (my man) melempar bahasan tentang honor saya bulan ini yang kata beliau masih menjadi hak saya, mengingat saat pengambilannya nanti saya sudah tidak di Surabaya lagi, dan itu direaksi cepat oleh peserta rapat yang lain. Agak kaget juga, hal yang tak terpikirkan oleh saya, tapi begitu penting untuk Pak Bambang dan juga bagi Bapak-Bapak itu. Penyelesaian yang sederhana dan bijak kemudian didapatkan. Jujur, saya tersanjung begitu diperhatikan.

Setelah rapat, barulah feeling saya terbukti. Ternyata kami, staf pengajar Jurusan Listrik diundang ke rumahnya Pak Mudianto, Ketua Program Listrik, untuk silaturrahim plus acara perpisahan denganku. I can’t explain my feeling at that time. Dengan mobil sekolah, kami meluncur ke rumah Pak Mudianto di daerah Kedung Cowek. Ada Saya, Pak Putu dan bu Sri (Guru Listrik), serta guru normatif-adaptif plus karyawan yang diajak (Bu Hani, Bu Luki, Mbak Yanti, Pak Han, serta satu Ibu yang tak kutau namanya).

Sampai disana sudah ada Bapak2 guru listrik like Pak Bambang, Pak Pudji, Pak Swista, Pak Indra dan Istri, Pak Broto dan Mas Heru. Saat ramah tamah, saya agak sedih mengingat it will be the last. Rencananya, bulan depan akan ada silaturrahim lagi ke rumah yang lainnya and of course I am not join with.

Saya surprise melihat rekan-rekan saya yang usianya jauh diatas saya, bahkan seusia atau mungkin lebih tua dari orang tua saya. Mereka yang di sekolah terlihat begitu berwibawa, begitu mengagumkan di depan siswa, ternyata begitu menyenangkan di luar. Saya mendengar tawa mereka yang terbahak-bahak, mendengar guyonan mereka yang segar, melihat cara mereka berbicara seperti para pria dewasa as usual. Mereka benar2 menikmati pertemuan kali ini. I am glad to be a part of this moment.

Sambil melihat dan takjub dengan sikap mereka, pikiran saya sibuk mengamati satu persatu dan membuat testimoni tentang mereka. Ini hasilnya :

Start with Pak Bambang. Dosenku di Elektro ITATS dan yang juga menawariku bergabung di sekolah ini. Sejak itu pula, kami menjadi satu tim di Bengkel Kontrol Elektro dan Pengukuran. Sejak ia menjadi dosen saya, beliau begitu friendly, membumi dengan segala ilmunya, juga sangat respect dengan setiap orang. Beliau salah satu dosen favorit mahasiswa Elektro ITATS. Kadang, di sela perkuliahan ada hal yang beliau tularkan kepada kami tentang hidup, tentang Dien ini. Idealisme, itu yang paling saya kagumi dari beliau. Begitu idealisnya, hingga beliau tak takut dengan apapun untuk sebuah kebenaran, untuk sebuah perjuangan memenangkan prinsip yang beliau yakini. Beliau selalu tahu apa yang sedang dan yang harus beliau lakukan. Penuh perencanaan yang smart, saya menjadi saksi beberapa perencanaan mantap beliau. Selain itu, sikap profesionalisme-nya yang outstanding. Saat saya masih mahasiswanya, beliau begitu friendly walaupun batasannya tetap saja jelas mahasiswa dan dosen. Dan saat saya menjadi rekan kerjanya sekarang, beliau melibatkan saya dalam banyak hal. Beliau memperlakukan saya sebagaimana rekan kerja yang lain. Dalam menentukan satuan pembelajaran, buku paket yang mau dipakai, modul mana yang mau dipraktekkan pekan ini, hukuman apa yang harus ditimpakan untuk siswa yang lalai, pengadaan bahan dan alat di bengkel, hingga pada membahas sebuah masalah mesin atau motor, beliau selalu mendiskusikannya dengan saya. Padahal, kalaupun beliau menentukan semuanya dan saya hanya melakukan saja, saya siap dan tidak akan merasa tidak dianggap. Lha wong, saya sudah gak pede duluan dengan ilmu saya di depan beliau. Tapi, beliau sangat profesional. Beliau mendiskusikan bahkan kadang memberi saya kewenangan untuk memutuskan sesuatu, hingga saya merasa benar-benar seorang pengajar bukan asisten beliau. Selama ini beliau memanggil saya dengan “Mbak Febry”, tapi jika di depan anak-anak, beliau memanggilku “Bu Febry”. Jika itu dari orang lain, mungkin saya bisa biasa-biasa saja. Tapi, ini Pak Bambang, Dosen saya. Agak risih dipanggil seperti itu oleh beliau tapi itulah profesionalitas yang beliau tawarkan. Beliau banyak bantu saya, dalam banyak hal. Pribadi yang luar biasa. Setiap pembicaraan dengan beliau, saya selalu dapat “sesuatu” untuk hidup saya.

Lanjut ke Pak Putu. Rekan di bengkel Kontrol Elektro dan Pengukuran juga. Pribadi yang ramah, dan supel. Beliau bisa masuk ke mana saja, ke siapa saja. Interpersonal beliau cukup keren menurut saya. Saking kerennya, saya sering ditinggal ngajar sendiri sementara beliau lagi ke Tata Usaha atau ke bengkel yang lain untuk menyalurkan kekuatan interpersonalnya itu. Baru saja dikaruniai buah hati yang kedua dan saya orang pertama yang diberitau di Jurusan Listrik. Ternyata, pak Putu itu sealmamater sama saya, masuk ITATSnya tahun 80-an akhir gitu deh. Usai rapat tadi, Pak Putu menanyakan kenapa saya harus pulang?. Saya balik bertanya “Pak Putu kan sudah tau kalo saya mau pulang. Kok baru sekarang tanyanya?”. Dengan manisnya beliau bilang “Iya Bu, saya tau Ibu mau pulang, tapi saya pura-pura gak tau supaya gak bahas. Tapi karena sekarang sudah jelas kepulangannya, baru saya mau bertanya. Saya cuma berdua la’an sama Pak Bambang di Bengkel?”. Saya gak tau mesti jawab apa. Pak Bambang juga pernah berkata sambil lalu “Mbak Febry sih cepat banget pulangnya”. Pak Putu itu juga pengertian banget. Kalau kita ngajarnya sampe sore, maka yang seharusnya pulang jam 5 sore, jam 2 atau kadang jam 12-an, Pak Putu sudah menyuruh saya pulang. Katanya kasihan nanti capek. Juga kasihan kalo pulangnya jam 5, nanti maghribnya di jalan. Pak Bambang juga gitu kalo ngajarnya sampe sore. Nice man-lah pokoknya

Then Pak Broto. Saya tidak sebengkel, jadi ketemunya ya di Jurusan saja pas lagi sama2 istirahat. Kesan yang muncul, beliau orangnya low profile banget. Sederhana dan easy going. Suka melucu dan nyante abis. Kesannya, gak punya masalah dalam hidupnya. Ramah banget. Abis rapat tadi, beliau minta nomer HP saya, katanya “Siapa tau kangen, kan bisa kontak”. Pak Broto menyenangkan, seru kalo kerjasama sama beliau. Yang saya gak tahan dari Pak Broto, merokoknya itu lho. Sambung menyambung gak berenti-berenti

Berikutnya Pak Swista. Sama seperti Pak Broto, ketemunya cuma kalo lagi sama2 istirahat di Jurusan atau kalo pas lewat, karena memang tidak sebengkel. Gak banyak yang bisa saya bilang, yang jelas Pak Swista baik, pintar, dan punya banyak ide segar.

Lantas Pak Pudji. Saya diam2 salut sekaligus sungkan sama Bapak yang satu ini. Salutnya karena penampilan beliau tuh biasa saja, beliau terlihat sangat sederhana, paling sederhana dari semua. Tapi beliau menyimpan sesuatu. Asli, beliau pintar banget. Kadang, kalo saya liat Pak Pudji lagi di jurusan sama Pak Bambang, saya suka masuk dan menyibukkan diri dengan minum teh atau baca buku. Padahal maksud utama saya adalah mendengarkan mereka bicara. Bukan isi pembicaraan, tapi cara mereka berbicara. Seneng rasanya ada diantara orang2 pintar yang sedang berdiskusi. Berbobot, cerdas dan sopan. Semakin menyenangkan karena kepintaran itu tidak menjadikan mereka terlihat sebagai dua orang yang sedang berusaha menonjolkan kepintarannya masing2 dan menjatuhkan yang lain, tapi bagaimana mereka berbagi kepintaran itu. Sungkan karena beliau bukan pribadi yang banyak bicara. Beliau hanya bicara yang penting-penting saja. Saya surprise ketika di akhir rapat tadi, beliau menanyakan kepulangan saya dan mendoakan kesuksesan saya di sana. Juga ketika bertemu di depan TU usai rapat, beliau berpesan untuk meninggalkan alamat serta nomer telpon di Pak Bambang supaya tetap ada komunikasi. Makasih Pak, 3 menit itu sempat membuat saya merasa semakin baik

Pak Indra, rekan yang satu ini juga gak bisa begitu banyak saya jelaskan karena sama halnya Pak Swista, kami tidak terlalu banyak ngobrol. Yang jelas, baik dan tentu saja smart.

Lanjut ke pimpinan saya, Pak Mudianto, Ketua Pogram Listrik. Orangnya ramah, suka senyum, bertanggungjawab dengan tugasnya dan sangat pengertian. Banyak banget kelonggaran yang beliau berikan kepada saya. Setiap izin yang saya sampaikan, selalu beliau turuti. Setiap protes saya, selalu beliau dengar. Jelas beliau orang yang paling sibuk di jurusan karena harus selalu siap siaga mengakomidir kebutuhan setiap bengkel di jurusan Listrik. Kadang menuai protes tapi beliau bijak dalam menyikapi. Beliau ramah, low profile juga. Beliau orang yang sangat detail. Kalo kita rapat, beliau orang yang paling siap dengan segala hal. Saya nyaman di kepemimpinan beliau

The Last, Bu Sri. FYI, di listrik, hanya ada 3 guru wanita. Saya dan Bu Endang di bengkel kontrol dan Bu Sri di benkel instalasi. Dan kami tidak pernah bertemu kalo tidak rapat. Saya, walaupun satu bengkel dengan Bu Endang tapi tidak di hari yang sama. Ditambah Bu Endang sudah tidak ngajar lagi sejak november yang lalu meskipun pensiunnya baru terhitung Januari 2007 ini. Bu Sri, jelas karena tidak sebengkel, jadi tidak pernah bertemu. Beliau punya 6 anak dan 4 cucu. Tahun ini pensiun juga tapi gak tau bulan apa. Seperti ibu-bu yang lainnya, beliau ramah, lembut dan sederhana. Bu Sri baru ditinggal suami seminggu yang lalu karena penyakit jantung. Turut berduka cita ya Bu. Cerita ibu tentang suami ibu seusai rapat tadi begitu indah.

Ada juga Mas Heru, Tolmen Listrik. Saya paling sering bikin pusing Mas Heru dengan permintaan macem2. yang spidollah, yang avometerlah, yang panellah, yang kunci lemarilah, yang kunci pintulah, makasih banyak ya Mas heru. Yang gak ikut tadi, Pak Joko, Pak Hasan dan Pak Edi. Tapi Pak joko sudah berpesan ke saya seusai rapat “Selamat jalan ya. Jangan lupa Surabaya, ingat, Jangan Lupa Surabaya”. Pak Edi, saya belum sempat menemuinya, sosok yang keras, tegas, pintar, kritikus yang cerdas. Pak Hasan, saya pernah mengangkat kisah saya bersama beliau di blog ini “Wasiat Seorang Bapak”. Beliau menginspirasi saya something.

The point is, saya senang punya memori bersama Bapak-bapak dan Ibu-Ibu yang luar biasa itu. Lingkungan yang mereka tawarkan membuatku begitu nyaman. Tak ada persaingan yang tidak sehat, tak ada gontok-gontokkan. Suasana demokratis begitu terasa, saling menghargai. Saya yang seusia dengan anak mereka diperlakuakn sebagai teman mereka. Sungguh, saya begitu merasa berarti ada di tempat itu. Mereka juga begitu pengertian dengan sikapku yang tidak mau berjabat tangan, bahkan akhirnya mereka yang duluan bersedekap ketika bertemu denganku. Mereka memberikan begitu banyak kemudahan untukku, berupaya menyediakan segala yang aku perlu untuk mengajar. Mereka luar biasa. The outstanding people for me

Saturday, January 13, 2007

Hari-Hari yang Berat sedang Dimulai

Ada ibu di rumah itu enak ya? Dimasakin, dicuciin baju, dibelanjain ini itu. Pokoknya emang kalo ada ibu di rumah tuh, hidup rasanya makmur meskipun cuma makan nasi sama krupuk (iya ta?).
Ada Papa di rumah juga enak. Ada teman becandanya, ada yang mijitin pas pulang2 ngeluh capek, bisa cerita macem2 deh, dan bisa becanda ala orang tua atau anak muda.
Sayang, setelah seminggu Ibu dan Papa ada di Surabaya bersama kami, besok mereka balik ke Ambon. Rada piyee gitu. Tapi sedikit gak sedih soalnya kan 2 minggu lagi, saya yang bakal balik dan it means kumpul sama mereka insyaAllah untuk selamanya.

Ngomong-ngomong soal kepindahnku,
Hari-hari ini tuh termasuk hari2 yang berat dalam hidup seorang ebhy (weits). Itu sudah kerasa sejak 6 jan lalu. Teman2 juga sepertinya dingin krn mungkin bingung bersikap. Kami hari itu bahagia, tapi juga sedih karena berarti kita gak bakal seintens dulu lagi ketemunya.

Setelah hari itu, lebih berat lagi. Setiap hari, ada aja yang bertanya langsung, atau lewat sms atau telpon mengenai kabar kepulanganku. Bagaimanapun, saya harus bilang sebenarnya bahwa saya akan pulang. Dan yang membingungkan adalah saya lemah ketika melihat mereka bereaksi. Ada yang wajahnya langsung berubah, ada yang membujukku untuk tinggal lebih lama dan berbagai reaksi lainnya yang hampir saja membuat aku goyah. Tapi, keputusan telah saya ambil. Saya yakin, inilah yang benar2 ingin saya lakukan. Saya tau dan sadar apa yang saya putuskan ini. Saya tau apa yang harus saya lakukan setelah ini. MAAFKAN SAYA, TEMAN.

Berat banget untuk saya. Ketika saya beritahu Mita kepastian tanggal pulang via SMS, dia langsung menelfon dan membujukku untuk tinggal. Tak terasa ada yang mengalir siang itu di pipiku mendengar suaranya yang bergetar. Afwan Mitaku sayang, tak bisa kutunda kepulanganku.

Sri, Haidir, Angga, Rudi, "adek-adek"ku, semuanya memberi reaksi yang membuat hatiku hampir goyah. Maafkan saya teman, sekali lagi, tolong MAAFKAN SAYA.
Berat, tapi saya harus memilih, dan saya.... telah memilih. Tolong, bantu saya menjadikan hari2 terakhir ini menjadi begitu indah bersama kalian. Tak ingin kulihat air mata atau mendengar suara yang bergetar. Aku tak ingin pergi dengan membawa kenangan seperti itu.

2 minggu tersisa ini, ingin kurangkai kisah indah bersama seluruh sahabatku disini, di kota pahlawan ini. Kalian, telah ikut memberi warna dalam hidupku, episode tentang kalian adalah episode bahagia dalam dokumentasiku.
Semoga saya mampu menjalani 2 minggu yang berat ini dengan mudah. Aaamin

Potrem Buram Pendidikan

Budaya mencontek tuh udah parah banget ya di dunia pendidikan kita. Barusan saya mengawas ujian anak kelas 1 dan kelas 3 STM, dan ternyata gak ada modal. Kelas 3 sih, masih bisa saya mengerti walau tetap tak bisa kutolerir. Saya mengerti karena kalo udah kelas 3, berasa yang punya sekolah. Tapi yang kelas 1 ini lho, kok berani ya pake acara buka kerpe'an segala. Kelas 1 gitu lho.

Seingat saya, waktu saya kelas 1 STM dulu, gak ada tuh niat bikin contekan dari rumah. Ya takut, ya malu, macem2 deh. Begitu naek kelas dua, mulai deh kepikiran buat contekan seperti teman2, tapi tetap aja gak bisa. Harga diri saya dipertaruhkan kalo sampe berbuat hal itu. Kelas 3, saya ingat sudah sampe pada bikin contekan dari rumah. Tapi tetap saja, sampe di sekolah, saya tidak punya kekuatan untuk ngeluarin dari tas. Apalagi masuk kuliah, gak ada dalam kamus saya mencontek. Bukannya apa, saya pikir akan lebih dihargai deh kalo nilai kita tuh pas-pasan atau skalian ancur tapi jujur daripada bagus tapi nyontek. Belum kalo ketauan.

Ebhy, satu diantara 6 cewek elektro, dan dari enam itu, hanya 2 yang memilih prodi Arus Kuat including me. Apa kata dunia, kalo saya nyontek. Sampe saya meninggal juga, mungkin masih jadi bahan pembicaraan dan jelas itu akan menurunkan nilai saya di mata jagad elektro ITATS. Alhamdulillah, saya bisa mengakhiri studi di elektro dengan indah.

Segala macam gaya ditampilkan anak2 tadi. Berbekal pengalaman melihat gaya teman2 nyontek semasa STM dan kuliah, saya jadi tau gerak gerik orang yang sedang berniat menyontek. Sama seperti orang yang mau mencuri. Gelisah, gak tenang banget. Setiap saya berjalan, saya tahu siapa yang nyontek dari cara mereka melihat saya, melihat kemana saya pergi. Waktu mereka akhirnya habis bukan untuk mengerjakan soal, tapi untuk memperhatikan kemana saya pergi dan mencari posisi yang aman untuk tidak ketahuan. Sayangnya, saya termasuk orang yang jeli dengan hal2 seperti itu. Beberapa orang saya dapati nyontek dari buku atau dari selembar kertas dan maaf jika saya harus mengambil itu. Tidak mungkin saya membiarkan kemungkaran terjadi di depan mata saya dan i do nothing. Kasihan memang, banyak soal yang tidak terjawab oleh mereka karena contekannya sudah saya ambil, tapi saya bisa apa? Saya tidak bisa melawan hati saya yang marah melihat tindakan2 tidak bertanggungjawab seperti itu. Maafkan ibu, ya anak-anakku.

Sungguh, saya bersedih dengan kasus yang sudah mendarah daging seperti ini. Potrem buram dunia pendidikan. Beginikah calon pemimpin bangsa?

Monday, January 08, 2007

SyukuR..ku

Hari yang menyenangkan, melelahkan sekaligus menyedihkan. Setiap kedatangan mereka, membuat aku bahagia sekaligus bertanya “Apa masih ada waktu lain seperti ini?”
Dan setiap kepulangan mereka, aku bertanya lagi “Bisa gak ya ketemu lagi?”
Aku bahagia banget, banyak teman2 yang bisa datang. Bahkan tamu pertama malah teman2 STM. Berarti banyak doa terlantun untukku. Tapi, aku juga sedih karena wajah-wajah ini sebentar lagi tak bisa lagi kutangkap dalam pandangan mataku. Mereka hanya hidup dalam hatiku, dalam kenanganku bersama mereka.

Aku sudah begitu ngantuk, tapi mata ini tak bisa terpejam. Menghitung hari, maka akan kutinggalkan semua kenanganku disini. Kampus dimana aku belajar banyak hal tentang hidup. Kampus dimana aku bertemu begitu banyak puzzle berserakan yang membentukku menjadi seorang Febry saat ini. Kampus dimana ada begitu banyak cerita yang akan kurangkai menjadi sebuah film sederhana tentang kebersamaan, persahabatan, pengertian dan lain-lain.

Aku bingung mengartikan perasaan saat ini. Ada bahagia karena sebentar lagi aku akan mengakhiri petualanganku, kembali ke kandang, kembali ke sarangku yang indah dan hangat di Ambon sana. Tapi, aku juga sedih karena banyak kenangan yang akan aku tinggalkan disini. Hidup memang harus terus berjalan, seberat apapun kaki ini enggan untuk melangkah.

Terimakasih untuk yang sudah datang memenuhi undanganku :
Teman2 STM : Memet, Chobo, Rohandi, Wahyu dan Hilda
Konco Elektro : Maya, Mita, Sri, Yoyok, Ari, Ali, Lucky, Sri W, Deni, Andi, Eko, Samsul, Khalik, Haidir Fajar, Fajar endut, Rudi, Angga, Arif, Febri, Anton, Vandi, Putut, Budi&istri, Indra, Bagus
Temannya Dek Eya&Dek Ega : Yanti, Amel, Gading, Dewi, Chollie, Afi
Undangan Khusus : Dija, Nunu, Shofwah, Heni, Erna, Asvin, Evi, Yuyun
KMBI : Mbak Fitri, Mbak Anis, Mbak Widya, Akh Heri, Akh Samsul, 2 akhi yang tak kutau namanya
Lovely Family : Bibi Dju, Fitria, Dek Wati, Dek Citra, Dek Namira, Dek Armand, Bu Titik

Foto2 Syukuran juga bisa diliat di FS :www.friendster.com/ebyhamida

Sunday, January 07, 2007

THE GOAL

Bismillah…
Allah, terimakasih atas nikmat yang Engkau berikan hari ini. Terimakasih atas satu takdir yang KAU titipkan padaku yang membuat sedikit senyum di wajah ibu dan papaku hari ini.

Terimakasih kepada seluruh kawan, saudara, sahabat, semuanya yang sudah ikut memberi jejak hingga aku bisa sampai disini. I cant believe this. Begitu banyak yang sudah kalian lukis dalam kanvas kehidupanku. Banyak warna. Kadang hitam, kadang putih, kadang pelangi, tapi saat kutengok lagi kanvas itu hari ini, hanya warna cerah yang tertangkap retinaku.

Terimakasih Sri, kau sungguh tak terlupakan. Aku benar2 mencintaimu. Sahabat sepertimu adalah berkah

Terimakasih Arif, Febri, Ronald, Haidir Fajar, Muchlis, Bagus atas segala ilmu yang kalian bagi.

Terimakasih Deni, Andi, Amin, Rahmat, Endut, Wahid, Kelik, Choy, Samsul, Syafriadi, Fandi, Vandi, Pungki, Rudi, semuanya anak kelas C atas kisah-kisah unik bersama kalian.

Terimakasih Angga untuk selalu mempercayaiku, untuk semua bantuanmu.
Mita dan Maya, kalian membuatku merasa berarti. Thanks…

Pak Ahmad, atas segala bimbingannya, sungguh bapak tidak pernah mengecewakanku. Salut atas semua idealisme dan prinsip Bapak. Semoga saya bisa seperti yang Bapak mau.

Terpenting dari semua, biarkan terimakasih tak terhinggaku melebur bersama semesta, Agar angin membawanya dan memberitahukan pada dunia akan rasa terimakasihku kepada Ibu, Papa dan Tante. Semua ini bisa terwujud karena kalian. Apa yang kalian lihat hari ini, kupersembahkan untuk kalian.

Ade Puput ; 09.31
Slmt atas wisuda br ya, ad pu2t hx ucpkn slmt sj, Zg ks hadiah. Ini ad pu2t pg no
(Makasih ya dek. Doa adek juga yang ikut bikin ca Ebhy di titik ini)

6ers Memet : 12.03
Ebhy, selamat wisuda ces, sorry tdk pernh kontak2an
(Makasih Met, iya nih, keep on contact dong)

d' Shofwah ; 16.48
Ass. SLMT ya tlah jd ST. smg ilmu yg didpt brmnfaat n ct2 trcpai
(Jazakillah khoir ya Dek. Semoga mbakmu ini bisa seperti yang anti mau)

ITATS Fandi ; 16.55
Selamat ya bhy… Smg ALLOH menjadikan ilmu yg mubarokah dunia akhirat. Amin..
(Makasih Fan. Kamu kemana aja? Kok gak pernah keliatan di kampus?)

ITATS Fariz; 19.16
Good Ratulation JeN9 Eby..(“,)
Selamat ya..Aduh eNak ya dah LuLus, apa nich RenCanake Depannya? Aq doa’in smo9a cpt dpt keRjaan dSana
(Makasih ya “anakku” Fariz atas doanya. Aku minta maaf ya kalo banyak banget kasih tugas ke kamu selama di Lab. Abis ini kamu ta’ tinggal di Lab sendirian gak apa ya?)

KMBI Cholik; 20.06
Barakalloh, smg mjd ilmu yg bmanfaat bg bgs khususnya bg Dien ALLOH
(Jazakallah khoir akhi. Semoga dengan ini, ada yang bisa ana persembahkan untuk Dakwah)

ITATS Amin ; 11.22
Aq ucapkn selamat atas kbrhsilnmu, sampai jumpa n sory jk slama ni ad slhQ pdmu..
(Aq kali Min, yang mesti banyak minta maaf. Terlalu sering banyak maunya selama jadi teman kalian. Mungkin karena saya jadi satu diantara 2 teman cewek yg kalian punya, jadi banyak tingkah. Dan anehnya, kalian mau aja ladeni banyak mauku)

Abang Ondi ; 13.12
Assalam..! SELAMAT ya ade'..! Smoga cepat dpt pkerjaan n SUKSES slalu
(Makasih ya Bang)

Untuk sebuah titipan takdir hari ini, akan kuingat kata seorang saudara “Jangan anggap predikat itu sebagai beban. Buktikan bahwa itu bukan hanya selembar kertas”
Allah, ijinkan aku untuk selalu memujiMU, segala keindahanMU

Teringat puisi Pak Hadi saat memberkan sambutan tadi.
“Pergilah kawan, perahumu tambatkanlah. Pergilah dan telaga ini biar kami yang jaga. Telaga tempat kalian memuaskan dahaga ilmu, biarkan kami yang menjaganya agar tetap menjadi pemuas dahaga orang-orang seperti kalian”

Foto2 wisudaku bisa dilihat di my FS : www.friendster.com/ebyhamida

Tuesday, January 02, 2007

Ilaj Tandzhimi

Kejutan di hari pertama Tahun 2007. Tidak kusangka, permasalahan yang selama ini cuma dibaca di buku-buku atau novel, kejadian juga di lingkungan saya.
Setelah urun rembug, setelah semua kemungkinan kami deteksi, bahkan membuat analisa SWOT atas kejutan ini, sampailah kami pada suatu keputusan. Keputusan yang menyakitkan memang, untuk anda, untuk kami. Tapi, jika hanya memikirkan kesenangan pribadi, dunia ini tidak akan pernah indah.

Maafkan kami, keputusan ini yang harus kami ambil. Melukaimu, juga melukai kami. Tapi, ada hal yang lebih besar yang harus kami lindungi. Maaf atas ketidaknyamanan yang kami timbulkan dengan memutuskan sikap seperti ini. Tapi, kadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk sebuah hal yang lebih besar, lebih penting, dan lebih prinsip.
Tak ada lagi yang bisa kami lakukan. Keputusan sudah anda ambil. Maka, kami pun telah mengambil keputusan. Ilaj ukhawi dan Ilaj Tarbawi tak lagi bisa kami lakukan. Maka, hal yang harus kami lakukan adalah Ilaj Tandzhimi.

Nb : Kami sayang antum, tapi kami lebih sayang dakwah ini. Kami tak punya pilihan. Dakwah ini terlalu indah. Afwan

Monday, January 01, 2007

Kaleidoskop 2006

Januari
Persiapan FSDa III Surabaya setiap harinya. Indah…plus mendebarkan di setiap momentnya

Februari
Demo Kedubes Denmark
FSDa III Surabaya
The return of The Confusing Man
My birth, tak terasa sudah begini tua

Maret
Ketar ketir persiapan Seminar Pra Sidang
Pak Natsir, guru Fisika STM meninggal
Kres sama partner dakwah, Afwan
Tari, teman STM, menikah
Pengalaman menyakitkan sama mantan calon pabrik tempat survey data TA
Ukhti Richa ninggalin Surabaya, balik kampung halaman
Dapat pabrik untuk tempat pengambilan data TA
Tahu kalo my lovely kena leukemia, I am with you

April
Santje balik kampung halaman
Pengambilan data TA selesai
Ami, teman STM, menikah

Mei
2 Mei, seminar pra sidang TA
Munasharoh Palestina
Ketar Ketir persiapan pendaftaran sidang
Sidangku yang malang
Jogja bersedih
There is another way, my dear sister

Juni
Suksesi dadakan DPRa
One piece of my big puzzle, hardly to decide
Periode terakhir mengawal praktikum lab PBL
Kenalan sama mbak Titi, dari ceritanya mas Gawtama
Wisudanya mita&kiky
Reuni STM Telkom Makassar Angkatan 6 (The Sixers)

Juli
Pusing mikirin something
Bulan pertama menyandang status Ibu Guru

Agustus
Richa kehilangan sendal di masjid
Tangisanku untuk seorang adik yang gagal, ishbiri ya ukhti
Endhy junior lahir, Selamat datang Rangga
Dek Ega ke Surabaya. Selamat datang di dunia perantauan ya Dek
Finally, The Decition Has Come

September
Dek Krisna menikah
For the first time, dek Ega kena homesick

Oktober
Sakitku, but thanks God for that
The new ME was born
Anak-anakku lahir,Willy, Sally, Montie, Cutie
Sidang TA-ku, Akhirnya selesai juga
Pulang Kampung, Lebaran yang Indah
Makan Kasbi Gorengnya Tante Ani after 12 years.
Abang Cai meninggal

November
Ganti nomer handphone
Dikasih pepaya sama siswaku
Usroh Rohmah ketemuan for the last
Dodol dan Pipin lahir
Final decition of something
Bu Kotima dan Mbak Elis melahirkan

Desember
Muktamar III KMBI
Kres sama mami
Ketemu saudara setelah 23 tahun