Saturday, November 24, 2007

Surabaya, here i come

Perjalanan pertamaku ke Waipirit setelah subuh. Biasanya kalo mau ke Ambon, jamnya siang atau sore skalian. Tapi tadi, for the first time aku ke Waipirit selepas subuh, jam 5 tet. Dingin banget. Apalagi pas sampe di daerah gunung kawasan Prola sana, kabutnya tebal. Saat melintas di antara kabut-kabut itu yang serasa di dalam awan, dinginnya beda. Tidak menggigil tapi lembut mengusap kulit. Subhanallah, pemandangan gunung di subuh hari juga Subhanallah.

Ya, Feri pertama berangkatnya jam 7 jadi mau tidak mau saya berangkatnya dari Piru harus jam segitu biar gak telat feri dan gak telat ke Surabaya. Yup, Surabaya, nantikan aku ya....
Sampe di Ambon sudah jam 10 pagi, langsung sama papa ke Travel ambil tiket yang baru dipesan sejam yang lalu. Alhamdulillah, dapat harga yang miring, memuaskan kantong 3 jam sebelum jam check in.
Perjalanan tadi terus terang benar-benar gak nyaman. Iya sih dapat seat di depan, tapi armada ini seatnya kecil tak ada space buat merenggangkan kaki. Trus udaranya juga gak enak. Saya benar2 tidak menikmati perjalanannya. Hanya dengan ingat bahwa semuanya InsyaAllah akan terbalas dengan keceriaan dan sapaan teman-teman, i feel okay.

Sampe di Bandara Juanda menjelang maghrib dijemput sama bu Titik (dosen jaman kul dulu), abisnya Jeng Sri yang janji mau jemput gak bisa karena terlanjur gak minta cuti hari itu, kudu ngantor.
Setelah 10 bulan, akhirnya saya kembali menjejakkan kaki di kota ini. Melintasi Rungkut, Surabaya masih sama, macet. Kata BU Titiek, sekarang macetnya tambah parah. Tadi pas dalam perjalanan ke Bandara, beliau terjebak macet juga. Abisnya jalanan Rungkut yang segede itu, kalo dibandingkan dengan jumlah kendaraan yang lewat, itungannya masih kecil.

Jalanan pinggiran Surabaya kalo malam dipenuhi dengan tenda-tenda makanan. Apa aja ada. Trus bau-nya itu menggoda iman banget. Bau bebek goreng, agak sanaan dikit, sate, trus pecel lele, trus macam-macam deh. Rameee banget orang-orang di jalanan penuhin tenda-tenda itu. Bandingkan sama di Piru, kita gak punya banyak pilihan buat makan. Wisata kulinernya payah.

Sepanjang jalan, bibir tuh kayak gak mau berenti tersenyum. Subuh tadi saya masih di Piru dan skarang sudah di Surabaya dengan keputusan yang begitu tiba-tiba. Baru jam 11 malam kemarin saya memutuskan untuk ke Surabaya. Sebuah keinginan yang dengan sadar saya ambil. Bulan purnama seperti menemaniku tersenyum di balik meronanya.
Sampe di daerah semolowaru situ, mataku puas banget. Banyak memori berkelebat, tentang daerah-daerah yang dulu jadi tempatku melangkah hampir setiap hari. Hampir sampai kampus, sudah kayak apa ya.

Waktu melintasi kampus ITATS, bu titiek nanya "masih ingat by, ini tempat apa?". Saya jawab aja "ini kampus apa ya bu?", dengan lagak culun gitu yang disambut "endel" sama bu titiek. Parkiran di halaman masjid seperti biasa selalu penuh apalagi kalo malam gini. Sekretariat KMBI-ku berdiri anggun. Lewat depan cak wie, tempatnya kita (anak2 elektro kelas C-2001) nongkrong tiap hari soalnya di cak wie, anak2 bisa makan kenyang dengan harga anak kos. Saya sih gak pernah makan nasi bungkusnya, tapi terkesan sama Cak Wie yang menerima dan membiarkan saja anak2 model teman2ku itu nongkrong berjam-jam nunggu jam kuliah atau malah bolos kuliah.

Sampe juga di kost, dek Eya lagi pergi beli mouse. Kita baru benar2 reunian jam 10-an. Soalnya Tri sudah pulang dari nge-les-i, dan Lina baru juga nyampe. Lina khusus datang dari Nganjuk siang tadi supaya bisa ketemu. Reuni lagi berempat. Kamarku sekarang jadi gimana ya. Dekor-nya sudah diganti sama dek eya. Berasa lebih luasan sih, tapi gimana ya. Yasud-lah.

Ada banyak rencana disini, dan seminggu ini insyaAllah akan jadi seminggu penuh kisah. Tak sabar rasanya memulai hari-hari di sini dan menemukan hal-hal ajaib.

1 comment:

  1. lumayan ok ceritanya
    Mampir ke Situsku dong

    ReplyDelete