Sunday, December 09, 2007

Simpatiku pada Eks Karyawan PT AOI

Sudah 3 hari ini massa dari eks karyawan PT AOI nginap di depan kantor Bupati SBB. Mereka berkeras akan tetap disitu sampai bertemu langsung dengan Pak Bupati yang memang saat ini tidak sedang berada di bumi Saka Mese Nusa.
Banyak versi yang berkembang mengenai kemauan mereka ada disini. Menuntut hak-hak mereka yang tak kunjung juga dibayar oleh pihak perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kayu itu yang sudah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Tata Niaga negara di Jakarta 18 Mei 2007 lalu.

Ada yang bilang bahwa mereka salah alamat dengan mendatangi Pemda. Karena itu bukan perusahaannya Pemda. Pengambilalihan aset perusahaan bukan oleh Pemda tapi oleh pihak Bank tempat Perusahaan AOI itu berutang.
Bahkan salah satu pejabat mengatakan "Gimana Pemda mau ganti rugi, wong Pemda juga rugi", begitulah kira-kira.
Apapun versi itu, yang mana yang betul, saya tidak berkomentar banyak. Toh, saya belum jelas duduk perkaranya, awal mula perusahaan ini jatuh pun saya tak tahu menahu.

Yang saya tahu, mereka tidak salah alamat. Mereka rakyat, dan kemana lagi mereka menyuarakan hati mereka kalo bukan kepada para eksekutif tercinta mereka. Rakyat gak pernah salah alamat. Mereka harus mendapat tempat atau sekedar telinga untuk didengarkan. Karena Pemda atau apapun sebutannya adalah harga mati untuk menjadi bagian dari solusi. Sekedar dengarkan mereka, itu saja. Suarakan kata hati mereka kepada yang bertanggungjawab. Perjuangkanlah hak-hak mereka, kuatkan kembali harapan mereka bahwa masih ada kita untuk menemani perjuangan mereka mendapatkan apa yang menjadi haknya.

Rakyat tak pernah salah alamat.

nb : saat tulisan ini diposting, massa sudah kembali kemarin malam sebelum ada hasil.

4 comments:

  1. Tommy Bangkrut, Perusahaan ditinggalkan, dan "Pemda Maluku" (sebelum pemekaran) yang biasanya selalu mendapat upeti tetapi karena tidak mendapat lagi akhirnya malas diurus, dan rakyatpun menjadi korban lagi..
    *salam kenal mba*

    ReplyDelete
  2. Adis.web.id2:54 PM

    Tumben mascatie komennya gak OOT

    ReplyDelete
  3. Salam kenal balik mascatie.
    Masalah upeti gini no comment, soalnya pas pembagian upeti, gak ikut antrian.
    Tapi selalu rakyat yang jadi korban. Kroni-kroni yang dulu berjaya sudah berangkat, angkat kaki dari Tanah Seram dan sekarang merana-lah mereka yang tadinya menjejakkan kaki di tanah Seram untuk memuaskan kerakusan kroni-kroni itu. (Muak mode on)

    untuk mas adis,
    ada comment?

    ReplyDelete
  4. @adit
    kalo OOT ketempatmu aja yah.. kan rada ke ujung Timur sono... hahaha

    @Mba Hamida
    sepakat mba' malah dikampung sayah *nyang diseram sanah juga* kemaren sama orang yang diatas *comment pertama maksudnya* itu sudah didirikan perusahaan.. habis itu ditinggalin akhernya masyarakat merana karena lahan perkebunan sudah hancur dilindas alat2 berat
    *pengen bkar orang*
    :))

    ReplyDelete