Saturday, October 18, 2008

Persembahan Cintaku untuk Santje dan Iwan


Say, langkahmu kini tak lagi sendiri. Disampingmu telah berdiri seorang pria yang siap melakukan apapun agar kau bahagia. Telah ada seorang pria yang kudengar sendiri dengan lantangnya berakad menganbil tanggungjawab akan dirimu dari papa.

Say,
Melihatmu dengan balutan putih yang elegan dan suci tadi, sulit kujelaskan dengan kata-kata kebahagiaanku. Begitu cepatnya waktu berlalu. Sepertinya baru kemarin kita berlari-lari di sekolah saat jam istirahat tiba. Baru kemarin kau mengibarkan bendera dan aku protokolnya. Baru kemarin kita pergi les bareng hampir tiap hari. Masa-masa SD yang indah.

Persahabatan yang tak bisa dibilang sederhana ini semakin lengkap karena kehadiran suamimu sekarang. Dia yang sejak awal telah begitu mengerti arti setiap kita bagi yang lainnya. Semoga kehadirannya membuat warna persaudaraan kita semakin indah.

Sayangku,
Aku tak punya khutbah pernikahan, tak punya pula pesan untuk kalian bagaimana supaya tetap bahagia. Aku hanya punya doa. Aku hanya punya harap yang begitu besar bahwa selamanya akan selalu kulihat senyum di wajahmu. Selamanya hanya bahasa bahagia yang terangkai dari bicaramu. Selamanya hanya pancaran kilat penuh cinta yang kulihat dari indah sinar matamu.

San dan Iwan,
Pernikahan tidak cuma sampai di sini, sobat. Ada banyak pekerjaan dan tugas yang menanti. Bukan sekedar merapihkan rumah kembali dari sampah-sampah pesta pernikahan, karena itu mungkin sudah dikerjakan oleh panitia. Bukan menata letak perabotan rumah tangga, bukan juga kembali ke kantor atau beraktifitas rutin karena masa cuti habis.

Tapi ada hal yang lebih penting, menyadari sepenuhnya hakikat dan makna pernikahan. Bahwa pernikahan bukan seperti 'rumah kost' atau 'hotel'. Di mana penghuninya datang dan pergi tanpa jelas kapan kembali. Tapi lebih dari itu, pernikahan merupakan tempat dua jiwa yang menyelaraskan warna-warni dalam diri dua insan untuk menciptakan warna yang satu: warna keluarga.

Say,
Harapanku yang terbesar adalah tetaplah menjadi sahabat yang baik bagiku dan Lia. Karena itu sangat berharga. Melangkahlah sayang, tapaki jalan yang terbentang di hadapanmu sekarang. Jalan yang bukan hanya ditaburi mawar merah dan ditemani kicauan burung. Tapi adalah sebuah jalan yang juga banyak ditaburi kerikil kecil yang seringkali menjadi penyebab tersandung. Jalan yang sejuta rasa bercampur di dalamnya. Bahagia, senang, tawa, senyum, tapi juga ada sedih, air mata, kecewa, marah, gelisah. Bingkai ia dengan ketaatan pada Rabb. Kau akan semakin kuat dan cinta akan menjadi obatnya.


Tak ada yang bisa kuberikan. Hanya sejumput doa agar kau bahagia selamanya. Impian yang besar dari seorang sahabat yang memiliki cinta sederhana ini. Dan kepada Iwan, aku ingin meminta kembali satu hal yang sudah kusampaikan di pelaminan tadi, titip san ya, buat dia bahagia. Entah bagaimana caranya, buat dia bahagia. Terimakasih telah memilih sahabatku sebagai pendampingmu. Dia yang terbaik.

San, bersabarlah saat kurang, bersyukurlah saat berlebih. Suamimu bukan malaikat. Ia hanyalah lelaki biasa yang mencoba menjadi malaikat setidaknya untukmu. Berbaktilah dengan bakti terbaik yang bisa kau berikan.
Iwan, istrimu bukan malaikat. Ia hanyalah wanita biasa yang mencoba menjadi malaikat setidaknya untukmu. Luruskan kala bengkok, tapi jangan kau patahkan.

Ambon, 18 Oktober 2008
Sebuah harap bagi Santje dan Iwan yang telah mengambil sebuah langkah besar. Wish you happy ever after.

gambar dari : http://3.bp.blogspot.com/_QebQAAxDqR0/SMzGaEi4gVI/AAAAAAAAAjU/jeHfrYDZoiw/s320/wedding.jpg (dra, ngikut nih)

No comments:

Post a Comment