Saturday, November 06, 2010

(2) Biasa Aja dong...

Baru saja iseng (iseng kok tiap sabtu?) nonton film korea yang judulnya mmmm.. apa ya?
Lupa judulnya karena saya juga bukan penonton setia.
Pada episode yang kutonton tadi, ceritanya seorang anak presiden yang berhubungan dengan seorang polisi. Si polisi itu tidak tau bahwa kekasihnya itu ternyata putri dari presiden. Bahkan teman-teman kantor si gadis pun tak tau bahwa rekan mereka ini putri Presiden. Memang tak ada pengawalan khusus, dan dari beberapa dialog, baru ngeh kalo memang ceritanya masyarakat sendiri gak tahu kalo presiden punya seorang putri.

Di suatu perhelatan, ada satu agenda yang harus dihadiri oleh ibu negara. Berhubung negara itu tidak memiliki ibu negara (jangan tanya mengapa), maka negara itu diwakili oleh putri presiden. Barulah masyarakat ngeh baru Presiden memiliki putri yang selama ini tidak tahu rupanya.

Alkisah, si gadis gelisah karena ini berarti ia harus tampil di depan publik sebagai seorang putri. Pada pagi hari sebelum malam perhelatan itu, putri dan kekasihnya yang polisi itu lari pagi. Wajah putri yang murung, mengundang tanya dari si Polisi.
Putri pun berkata, "Bagaimana jika ternyata saya adalah anak dari orang yang status sosialnya tinggi, tinggi sekali. Bagaimana kalau ternyata saya ini anak Preseden? bagaimana perasaanmu?".
Lalu kekasihnya tertawa dan menganggap itu sebagai lelucon, "ayahmu mau mencalonkan diri jadi presiden? jadi Walikota saja dulu". Sebelum ada pembicaraan lebih lanjut, si polisi mendapat panggilan kembali ke kantor.

Sesampainya di kantor, polisi tersebut mendapat tugas ikut dalam tim seperti secret service di acara nanti malam, karena putri Presiden akan hadir sehingga harus memastikan keamanannya. Singkat cerita, di malam itulah, ketika putri Presiden tampil di atas panggung, si polisi terkejut karena yang di atas sana adalah kekasihnya.

Well, kenapa saya angkat ini?
Karena ini mengingatkanku pada satu peristiwa kira-kira dua tahun lalu. walaupun itu hanya fiksi, tapi tak ada salahnya jika saya bandingkan dengan keadan yang saya lihat.
Hari itu, saya dan adik dalam perjalanan entah kemana (lupa), mendekati daerah Abdulalie, terdengar raungan mobil yang seakan meminta (menghindari kata memaksa) pemakai jalan yang lain untuk menepi. Terlihat dua mobil mewah beriringan dengan "angkuhya" dan mendadak berhenti di depan rumah makan dedes. Saya bilang berhenti, bukan memarkir. Ya, dua mobil itu berhenti tepat di tengah jalan hanya untuk menurunkan rombongan yang mau makan di Rumah Makan Ikan bakar cukup terkenal di Kota Ambon ini. Bisik-bisik tetangga, ternyata itu adalah rombongan anak para petinggi yang mau santap siang.

Hufftt... membuat macet yang cukup panjang dan dalam waktu 10 menit, itu bukan hal biasa. Entahlah, apa karena status sosialnya yang tinggi lantas boleh bersikap seperti itu?

Heran, dan miris hati ini. Sama mirisnya dengan pandangan mata saya ketika meelusuri jalanan kota Ambon kemarin sore. Tampak pihak keamanan berjaga di banyak titik dengan jarak titik hanya sekitar 100 m. Untuk apakah? ada apakah? Cek dan ricek, karena orang pusat sedang mengunjungi Maluku. Bah, kenapa mereka datang, rakyat dijaga? Emang rakyat mau ngapain? Yang milih beliau juga rakyat kan? Kenapa keamanan beliau harus dijaga segitu rupa dari rakyat? Rakyat gak akan ngapa-ngapain kok pak. Percaya deh...

14 comments:

  1. kunjungan pertama, enaknya tukar link...salam hangat dari MALANG mbak...

    ReplyDelete
  2. trimakasih atas kunjungannya mbah...
    salam dari ambon.
    saya link ya mbah...

    ReplyDelete
  3. Mungkin orang pusat trauma atau lebay kali.. hehehe

    ReplyDelete
  4. Mungkin orang pusat trauma atau lebay kali.. hehehe

    ReplyDelete
  5. trauma atas apa? lebih tepatnya memang lebay

    ReplyDelete
  6. begitulah tingkah lakunya orang yang merasa punya jabatan, gak peduli rakyat atau pengguna jalan lain.
    itu baru anaknya, gimana bapaknya ... ?

    ReplyDelete
  7. iya ya, untung gak ketemu bapaknya...

    ReplyDelete
  8. hmm... atau itu pertanda maluku belum aman ya..?
    kadang aneh sama pemerintah, mereka gembar gembor maluku aman, dan memang nyatanya sudah aman, tapi pas ada RI-1 atau RI-2 tetep aja tentara disebar jejer 100 m di jalan2.. gimana coba.

    ReplyDelete
  9. itu dia mas mamung. padahal gak perlu dijaga segitunya kan?

    ReplyDelete
  10. Hmmm... protokol yang merepotkan ya... :(

    ReplyDelete
  11. kalo yang pejabat lewat, protokoler ribet. dimaklumi-lah. tapi kalo anaknya? kenapa mesti ribet? si anak numpang ngetop banget..

    ReplyDelete
  12. Iyap, menyebalkan sekali... buat kita warga biasa, melihat anak yang memanfaatkan fasilitas ortunya sangat menyebalkan. :mad:

    ReplyDelete
  13. hahahaemang begitu koq realitanya..gimana rakyat mau mengenal para wakilnya kalao kelakuannya aja kaya gitu :D

    ReplyDelete
  14. atau justru karena kelakuannya begitu, jd kita noleh dan ngeh itu siapa. kalo biasa biasa aja kan, mana dikenal?

    ReplyDelete