Sunday, July 22, 2007

Thanks for loving Me

Bismillahirrahmanirrahim..

Alhamdulillah tak berenti saya panjatkan setelah apa yang terjadi seminggu yang lalu. Sebuah ujian yang Allah berikan pada keluargaku, tepatnya padaku.  
InsyaAllah akan kubayar dengan cintaku, walau ku tau tak cukup. 
Kejadian itu paling tidak menyadarkan banyak hal pada saya. Bahwa apa yang kita miliki sekarang, belum tentu akan jadi milik kita selamanya. Bahwa sejatinya kita memang tidak memiliki apa-apa. Semua titipan yang ketika diambil lagi oleh yang menitipkan, tak ada jalan untuk memintanya kembali. Bahwa hanya sampai disini kepercayaan Allah menitipkan yang Ia punya pada kita.

Kejadian itu juga membuatku tau bahwa begitu banyak orang yang mencintaiku, 
yang mengkhawatirkanku. Merindukan aku dan tulus menyayangi aku. Pengalaman hidup mengajariku kepekaan akan ketulusan dan semua yang saya terima karena kejadian kemarin adalah tulus. Meski tetap ada yang bisa saya rasakan ketidaktulusannya, tapi saya tidak peduli. Karena masih lebih banyak orang yang menyayangiku. Ketidaktulusan yang tumbuh karena kepongahan tak akan pernah mendapat tempat di hati dan pikiranku.

Buat Ibu dan Papa, Tante Ade, Tante Dja, Ma Onco, Tante Sum, Caca, Dek Eya, 
Dek Ega, Dek Uni, Ca Ena, Ca Leli, Ca Dja, Ca Erni, Mbak Ratih, Mas Buyung, Abang Jab, Abang Ondy, Bukal, Abang Ari, Abang Bur, Abang Deddy, Abang, Abang Rusdi dan istri, Caca Nipa dan Abang Ipin, Onco Ton, Onco Ju, Ibu Latu dan Ria, Tante Ica, Abang Nyong, Kak Ida, Kak Deda, Tante Ica, Tete Haji sekeluarga di Luhu, Om Malas, Dek Dinda, Dek Nus, 
Dek Putri, Dek Nisa, Dek Vicky, Dek Vira, Laken, Abang Awil, Kak Wace dan yang mungkin terlupa :
Terimakasih, terimakasih, terimakasih atas sebuah tanda manis yang kalian buat di hatiku.

Sunday, July 08, 2007

070707

Tanggal yang cantik, 070707.
Hari ini saya lemparkan sms penyambung silaturrahim ke nama-nama sahabat di phonebook secara acak. Senangnya dapat balasan yang hangat dari mereka. Kembali bertukar kabar, bertanya keadaan.
Jadi tau kalo Mbak Imas dua bulan lalu tepatnya 21 April sudah jadi ibu dari seorang mujahidah. Jadi tau juga kalo Ukhti Wiwin 2 hari yang lalu jadi ibu pula. Trus, Mbak Umi 15 Juli nanti insyaAllah melepas masa lajang. Seorang saudara di Surabaya juga sudah ada kabar mau menyusul 2 minggu lagi. Trus yang di Jakarta lagi bawa dedek dalam perut. Yang di daerah Mojokerto sana sudah ngasih signal mau sebar undangan. Yang di Makassar, satunya bawa dedek, satunya baru aja jadi Ibu dan kali ini Ibu seorang mujahid. Kabar adek2 yang curhat mau sidang, ada yang pusing dengan skripsinya, yang sudah kelar pusing dengan cari kerjaannya. Murid-muridku dulu di STM juga kasih kabar kalo ada guru baru yang gantiin saya. Cantik tapi jahat, kata mereka. Dasar anak2 bandel. Bandel tapi menyenangkan..
Selain berita sukanya, ada juga berita duka bahwa salah seorang teman Remas dulu ditinggal abi-nya tadi pagi. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un.

Selain dapat kabar dari mereka, mereka juga menuntut kabar dari aku. Dan pertanyaan dari semua mereka tanpa kecuali adalah "Mbak, ayo dong segera menyempurnakan setengah dien", "Ukhti, kapan nih walimahannya?", "Dek, undangannya kapan?", "bhy, kapan nyusul?"

Ini nih yang bikin males. Bukannya gak mau jawab tapi gak tau mau jawab apa. Istilahnya "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang ditanya". Saya mau jawab kapan coba? Gak tau kan.. 
Saya cukup punya gambaran tentang seseorang yang nanti mau saya ajak membangun keluarga dunia akhirat. Kapan dia datang, sepenuhnya saya serahkan pada Allah.
Jadi buat yang selalu nanya-nanya ke saya, saya hanya bisa bilang :
Kapan dan dengan siapa, saya tidak tahu. Sepenuhnya saya percayakan padaNYA. Yang saya lakukan hanya menjadi seorang sholehah agar dipertemukan dengan yang sholeh di saat yang tepat menurutNYA

Friday, July 06, 2007

Kangen kost kumat....

Senengnya....
Akhirnya MP3-ku kembali. MP3 yang diservis sejak Desember 2006, dan diambil Caca yang kebetulan lagi ke Surabaya, akhirnya nyampe juga ke tanganku. Kayaknya bukan MP3-ku deh, pasti sudah diganti sama yang baru, setingkat lebih anyar. 
Kemarin sempat minta dek Eya isi Murottal dan nasyid. And, dengar nasyid deh aku sekarang. Bahagianyaaaa................

Kasihan ya aku, dengar nasyid aja kayak dapat durian runtuh. Gimana nggak gitu, sejak di Ambon belum pernah dengar nasyid. Saya gak tau orang jualan kaset nasyid dimana. Di Piru (tempat tugas), juga gak ada tape buat setel murottal. Lampunya saja cuma nyala kalo malam. MP3nya caca sih ada, tapi gak bisa masukin nasyid. Secara di Piru daerah merah, ya jelas gak ada lah. ada juga lagu jrang jreng. Kasihan kan..

Sebenarnya ini bukan cuma masalah nasyidnya (nasyidnya cuma 4), tapi suasananya itu lho. Serasa ada di kamar kost, ngerjain tugas kuliah, bahan ngajar, tugas dakwah atau sekedar baca-baca artikel dari internet sambil denger Winamp. Kostku.... Lagi-lagi kangen kost kumat.

Kamarnya emang kecil tapi nyaman. Tempatku melepas penat sepulang beraktivitas. Waktu packing buat pulang, heran juga kamar sekecil itu, begitu banyak yang bisa diisi. Di kamar kecil itulah, banyak hal besar tercipta. Banyak tugas dakwah selesai dari kamar itu. Banyak ide dakwah muncul setelah berbagi dengan akhwat-akhwatku, juga di kamar itu. Kamar mungil, bahkan tak ada tempat yang cukup luas untuk baring di lantai karena penuh dengan rak buku yang berjejer.

Di kamar itu pula, segala kenangan tercipta :
1. Sekedar baring sambil mendengarkan alunan murottal atau nasyid dari winamp setelah makan nasi tempe penyet samping warung Ridhoni.
2. Baring sambil baca ditemani adek-adek kost yang nebeng bikin tugas, baca artikel2 di folder2 bergizi atau sekedar maen game
3. Rame-rame sama anak2 kost nonton teve dan masing2 cari pewe, tumpang tindih gak karuan sambil santap es kacang ijo atau es teler dari warung Bratang yang mas-nya girang sangat kalo ada cewek cakep masuk pesan bakso (jelas, kami bukan salah satunya)
4. Matiin lampu, tutup gorden jendela, ciptain suasana bioskop di kamar, nonton film bergizi sambil makan cemilan yang dibeli di Minimarket Handayani seberang jalan. Kadang film-nya harus di-pause kalo salah seorang ada yang terima telpon dan yang lainnya ganti posisi cari pewe yang lain
5. Terbaring sakit dan teman2 berjejalan di kamar jengukin, makan nasi rawon yang dibawa mereka beli dari Warung sederhana gang sebelah, sambil ngobrol dan bikin aku senyum lagi

Satu sms masuk dari seorang teman kost yang juga sudah pulang ke rumahnya di Nganjuk
"Setetes ilmu membuat qta pandai,
  Setitik kasih membuat qta sayang,
  Seucap janji membuat qta percaya,
  Sekecil luka membuat qta kecewa,
  Tapi pertemuan dengan sampeyan, selamanya kan selalu bermakna. Miss you"


Ukhuwah ini, indahnya...
Dek LIna-ku, Mbak Eby juga kangen

Sunday, July 01, 2007

Back to Work, OMG

Finally, matahari muncul di langit kota Ambon. Setelah beberapa hari, akhirnya bisa juga liat birunya langit. Sayang, gak sempat diabadikan. Berhubung hari ini gak hujan, jadi round and round the city kudu dan wajib plus mengunjungi rumah sodara-sodara. Apalagi besok sudah mau balik ke Piru.

OMG, Piru lagi? So sad but must. Ninggalin lagi hangatnya kasur empuk di kamar tercinta, ninggalin lagi nyantai dan bebas mau ngapain aja di home sweet home. Kembali ke rutinitas.

Harus ya? Ugh, however, ini tanggung jawab man. Tugas, so tetap mesti berangkat suka atau gak suka. Kembali ke ritual delapan pagi ke tiga sore. Kembali lagi depan layar monitor berteman kertas-kertas. Kembali ke ruangan 5X6 (maybe) bersama rekan2 tercinta. Kembali lagi menjalani hari-hari yang sudah saya tinggal seminggu.

Okay, i have some energy to do that. Full batere nih buat menjalani hari-hari itu. Lagi dan lagi, perulangan waktu, perulangan ritual tapi yang jelas selalu ada "sesuatu" setiap harinya. At least, di sana ada proyek berinvestasi akhirat memanggil. Brother and sista, i always waiting for our plan. Cant you imagine we will do "fastabiqul khairat" di medan yang luar biasa itu? I am waiting

Ps : Tadi pagi telpon Caca yang lagi di Surabaya, katanya masih tidur. Oh God, jadi kangen sama kamar kos saya itu. Enaknya mengurung diri setelah beraktivitas dalam kamar kos yang kecil tapi semua ada. Hehehe

Saturday, June 30, 2007

Cahaya yang Tersisa

Bismillahirrahmanirrahim....

Berada di antara dua pihak yang berseteru, dan dua-duanya adalah orang yang kau sayang, adalah hal yang tentu tak pernah kau inginkan. Sementara kau punya prinsip bahwa kesalahan pun pasti ada alasannya, dan perlu didengar sebelum menghakimi. Situasi yang sangat tidak menyenangkan kala kau tahu seseorang di dekatmu terluka, jatuh, terhempas dan kau tak bisa apa-apa. Saking bingungnya, kau malah memilih untuk diam dan berpura-pura tidak tahu. Lama kelamaan kau akan sadar bahwa kau salah dengan diam. Salah besar ketika kau memilih menjauh dan membiarkan kehancuran sedikit demi sedikit tercipta tanpa ada sedikitpun usaha mencegahnya.

Menjemukan, ingin berlari tapi tak bisa. Ingin tinggal tapi tak kuat. Hingga air mata yang kau lihat membuatmu merasa bahwa paling tidak ada telinga yang bisa kau berikan untuk mendengarnya menumpahkan kata demi kata. mengeja setiap bulir air mata yang kau lihat dan tak kuasa ingin merengkuh dalam peluk.

Saat itu pula kau sadar, kau telah kehilangan satu cahaya. Sesuatu yang tadinya bintang kini berganti debu. Harapmu tentang sebuah figur luluh lantak terinjak kepingan hati yang terurai burai pecah tak bersisa. Padahal jalanmu masih panjang, tapi tongkatmu tinggal satu. Terpincang-pincang kau kini dengan satu tekad, cahaya yang tersisa ini tak akan kau biarkan redup apalagi padam.


Kebanggaan musnah berganti hina
Bintang itu kini telah menjadi debu
Cahaya hilang, redup kemudian padam
Satu cahaya yang tersisa,
Tak akan kau biarkan mati
Biarlah kini ia melemah
Tapi ia kuat, tegar
Dan ia tak akan padam
Selama kau ada, selama kau menjadi bahan bakarnya

Sebuah cahaya yang tersisa
Kini kau genggam erat
Erat.....

Friday, June 29, 2007

Hujan 4 hari = Rahmat 4 hari


Matahari sudah 4 hari ini gak nongol di langit kota Ambon. Hujan gak berenti-berenti. Jadinya gak bisa kemana2. Di rumah jadinya makan, tidur, nonton teve, baca, sampe akhirnya ganti dekorasi kamarku dan kamarnya dek Uni.
Males kemana-mana padahal lagi ada event nasional di Ambon, cuma gak mood buat kesana. Apalagi di pameran tuh ada stand-nya kabupaten. Sungkan aja muncul disitu, berarti gak ngantor dong.

Sabtu pulang kantor kemarin, pulang ke Ambon dan rencananya Senin kemarin balik. Berhubung kata orang kantor, di kantor malah sepi jadi ya ditunda aja selasa. Selasa pagi malah dapat sms dari orang kantor kalo kantor sepi dan nyaranin Ahad aja balik dan masuk kantor Senin. Ya sudah, saya sih senang-senang aja. Dan sekarang, jadi deh saya gak ngantor seminggu.

Malam rabu kemarin ke Pameran, agak sembunyi-sembunyi juga pas lewat depan Stan yang lagi dijaga teman kantor. tetap aja ketauan, secara papa malah masuk ke stand itu dan saya gak mungkin jauh-jauh. Akhirnya senyum tak berdosa saya lemparkan, swing. Ditangkap sama dia dan bertanya "Sama siapa?". Masih senyum tak berdosa campur sungkan "Sama Papa".


Benar2 gak ada matahari. Dingin, rumah serasa di Villa-villa gitu. Biar kata sudah selimutan tebal, tetap aja gemetar kedinginan. Ini gambar2 yang saya ambil dari teras atas rumah. Keliatan banget di gambar, cuaca kota Ambon yang berkabut. Apalagi saya di daerah pegunungan, tambah dekat dengan kabut.

Ada kabar, pawang hujan didatangin supaya gak hujan karena RI 1 mau datang. Tapi, mau gimana? Mau kata pawang hujan tercanggih juga, yang punya hujan kan Allah, gak ada tandingannya. Jadi, nikmatin aja hujan2 gini. Makan mie kuah panas-panas, pedes sudah itu tidur. Bangun goreng kasbi (ubi), pake sambel yang enak. Top abis deh. Hujan itu rahmat lagi. Jadi kalo 4 hari hujan terus, berarti rahmatnya terus juga mengalir. Jadi males balik ke Piru, tapi tanggung jawab harus dijalanin. Seminggu cukup-lah untuk menyenangkan diri setelah minggu kemarin sempat lembur sampe jam 3 pagi.


Hujan, saya senang hujan. Gambar atas ini diambil dari atap seng di luar kamar tempat biasanya berkontemplasi. Lompat dari jendela kamar, duduk di atap seng, angin dingin kena tubuh, makan mie kuah panas, titik2 air malu-malu menyentuh wajah, liat pemandangan yang indah sambil dengar murottal-nya Mishari Rasyid. Subhanallah....

Monday, June 25, 2007

Tidak PENTING!!!

Belakangan saya belajar untuk tidak peduli pada hal-hal yang bikin saya lupa waktu, yang bikin saya menghabiskan waktu dan mencurahkan perhatian pada sesuatu yang tidak penting. Benar-benar tidak ada untungnya. Kenapa juga ya baru sadar sekarang? At least, kesadaran itu datang.

Saya gak perlu dan gak boleh musingin sesuatu yang belum tentu saya miliki. Kalau nanti gak dapat, gimana? Lagian apa untungnya sih ikut nafsu setan, duniawi yang jelas tak akan memberi saya apa-apa. Suatu saat, gak perlu saya pusingin kapan, Allah lebih tahu. Saya capek juga.

Sedikit khawatir tapi saya tak ingin berlarut-larut. Allah tahu, itu saja. Semua sudah kuserahkan. Mengenai pekerjaan, Mr Head Office sudah bicara banyak. Ada benarnya juga sih yang beliau bicarakan. Entahlah, keputusan belum saya buat. Saya masih ingin mempelajari situasinya. Saya hanya ingin berada di tempat yang memang membutuhkan. I just wanna give the best of me.

Ps : Dora is nothing, nothing and nothing.

Catatan Sudut Aula usai Penelitian

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia akan belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menebukan cinta
(Dorothy Law Nolte)

Sunday, June 24, 2007

Kagak Jadi..

Assalamu'alaikum....
Harus kukubur impianku ke Surabaya dalam waktu dekat ini. Padahal sudah sedemikian matangnya persiapan ke Surabaya paling tidak pekan depan. Tapi Allah jua-lah berkehendak. Padahal juga, saya sudah sampai mimpi ada di Surabaya. Sudah banyak yang terpikirkan untuk dikerjakan, tempat yang akan dikunjungi, semua hal yang harus saya wujudkan di Surabaya. Tapi, harus kukubur sementara impian itu.

Saya ditanya, "Eby marah? Eby kecewa?"
Gak tau harus jawab apa. Marah? Tidak sepertinya. Kecewa? sedikit mungkin. Secara saya gak mungkin marah pada hal yang tak bisa saya kendalikan. Memang gak boleh karena gak akan bikin saya tiba2 ada di Surabaya.

Kini, kembali saya harus menimbun lagi harapan dan usaha bahwa suatu saat saya ada kesempatan, dimudahkan Allah untuk ke sana menyelesaikan segala yang tertunda.

Ps : Something empty. Allah, please show me

Tuesday, June 19, 2007

Tafakkur..

Berbekallah ketakwaan
Kamu tak tahu saat malam berlalu
Adakah ia menyisakan umur bagimu,
hingga fajar datang menjelang
Berapa banyak orang yang sehat,
Meninggal tanpa ada penyakit
Berapa banyak orang yang sakit
Hidup lama sepanjang hayat
Berapa banyak anak-anak belia memotong perjalanan umurnya
Jasad mereka terlanjur lelap di kuburnya yang hitam dan gelap
Berapa banyak muda mati
Pagi bercanda, sore bersenang hati
Tiada pengetahuan yang terpaut
Kain kafannya sedang dirajut

Monday, June 18, 2007

Di tangan, bukan di hati

Minggu-minggu terakhir adalah minggu yang menegangkan di lingkungan tempat kerja saya. Disiplin tiba-tiba saja jadi topik menarik di setiap ruang. Lepas dari kantor pun begitu. Di warung saat istirahat makan siang, di perjalanan pulang, bahkan saat bertamu malam-malam pun, orang2 ramai membicarakan soal kedisiplinan yang lagi galak-galaknya diterapkan. Sayangnya, begitu banyak suara tentang itu. Masing2 dengan pendapatnya. Ada yang bilang gak mesti kayak gitu-lah, ada yang bilang itu cuma sementara aja, ada yang pro, ada juga yang apatis. Tak tahulah saya. Saya di pihak yang tidak mau berkomentar. Saya tidak dirugikan dengan peraturan yang memang agak menyusahkan. Tapi saya pikir, dengan ngomel2 gak suka atau kencang bilang suka juga kayaknya gak ada efeknya.

Ada hal lain yang lebih penting di balik itu. Bahwa seperti apapun gebrakan yang ingin dibuat, haruslah tetap punya timbang rasa dengan orang lain. Saya salut dengan Pak W. Bagaimanapun, ia di pihak yang didzholimi. Dilihat dari kacamata manapun, kacamata siapapun, Pak W didzholimi. Tapi coba liat bagaimana Pak W sekarang. Ia tak pernah kehilangan senyumnya. Ia tak pernah terlihat bersedih.

Teman2 yang seruangan sama Pak W cerita kalo Pak W pernah keluar dari ruangannya, gabung sama para staf dan bilang "Ternyata enak juga ya duduk-duduk seperti kalian". Tetangga Pak W juga cerita kalo di rumah Pak W terlihat lebih santai, beliau tidur lebih nyenyak, tidak seperti dulu.
Salut saya makin tambah, ketika kedzholiman itu ia terima di depan seluruh staf-nya. Ia masih bisa tersenyum. Ia masih sempat berkelakar usai itu. Bahkan sempat mengerjai salah satu temannya.

Sungguh, pribadi yang luar biasa. Pribadi yang meletakkan kekuasaan di tangan bukan di hati. Sehingga ketika tidak ada, semuanya baik2 saja. Hatinya tetap tenang, tak ada perubahan bahkan masih menunjukkan dedikasi yang luar biasa pada tugasnya.

Tak heran bila pak T pernah bilang "Saya dari dulu suka sama Pak W. Orangnya tenang, gak macam-macam"
Pak, saya perlu belajar banyak nih kayaknya...

Sahabatku dari Surga

Tit..tit...
di kotak masuk, tertera ID "KMBI basecamp". Penasaran, apa isi sms dari flexyhome sekretariat KMBI, tombol Yes kutekan dan...

"Assalamu'alaikum. Tetep semangat saudaraku, doa kami menyertaimu. kmbi"

Subhanallah, Allahu Akbar, saya merinding. Begitu singkat, sederhana, tapi sangat dalam. Saya gak tau siapa yang mengirimnya. Secara itu flexyhome sekretariat, so itu bisa siapa saja. Tapi itu gak penting. Karena itu semacam alarm peringatan untuk saya yang saat ini sedang begitu terlena dengan urusan dunia. Urusan kantor yang sepertinya terlalu mbulet, sibuk dengan keresahan akan orang2 yang berebut kekuasaan hingga melupakan tugasnya yang sebenarnya tanpa sadar saya justru tidak berbuat apa-apa, keluhan demi keluhan karena kerjaan yang sepertinya tidak kelar-kelar, lingkungan yang butuh iman kuat, dan masih banyak urusan dunia lainnya.

Sms itu bikin saya termenung, untuk sejenak memalingkan perhatian dari laptop dan tumpukan kertas. Di suatu tempat sana, saudara-saudaraku sedang berjuang. Apa yang aku lakukan disini? Mengapa saya hanya diam, hanya sekedar menentang dalam hati pertanda dangal dan lemahnya iman? Semangat itu, mana , masihkah tersisa? Saudara-saudaraku disana masih mengingatku dan bahkan mendoakanku. Maka, aku tak boleh menyia-nyiakan doa mereka.

KMBI, sebuah komunitas tempat saya lahir, tempat saya tahu kemana sebenarnya seharusnya saya menuju. KMBI, tempat saya bertemu dengan saudara2 yang luar biasa. Belajar tentang kesabaran, tentang istiqomah, tentang ukhuwah dan tentang semangat menjalani hidup.

Saya pernah membaca sebuah kisah berjudul :Sahabat dari Surga".
Bagi saya, mereka-lah sahabat-sahabatku dari Surga. Mereka-lah yang dikirim Allah untukku, mengajari dan menunjukkanku jalan ke surga. Kini, kami begitu jauh. Tapi semoga perjalanan kami bertemu di satu titik, surga.
Karena kami adalah Sahabat dari Surga

Rumah Hati

Bismillah...
Senang rasanya bisa ada di rumah lagi. Padahal baru 2 minggu lalu saya dari sini, tapi kok sekarang rasanya beda ya?. Sampe rumah sudah sore, abis feri-nya agak lama. Papa sama Ibu sampe bengong dan heran kenapa saya ke Ambon padahal kan gak libur? Gimana lagi, saya kangen sama Ibu. Abis maghrib, mijit kaki Ibu sambil cerita banyaaaaak banget. Ibu tidur, baru deh ngobrol sama Papa sambil nonton teve dan makan langsat. Cuman sekarang gantian, saya yang dipijit Papa. Hehehe...

Seneng, asli seneeeng banget. Gak tau ya kok bisa beda begini. Hari ini saya gak kemana-mana, pengen seharian di rumah. Benar2 di rumah. Selama ini kalo pulang, bawaannya jalaan aja kemana2. Semalam saya tidurnya di kamar adek. Jadi baru hari ini masuk kamar saya sendiri. Ada Bukal dan Pigly nungging di atas tempat tidur. Saya peluk dan cium, wanginya masih sama sejak saya tinggal. Empuknya kasur di tempat tidurku, sambil liat bintang dari balik jendela. Secara kamar saya di atas, jadi gak pernah tutup jendela biar bisa lompat ke atas seng rumah dan duduk natap bintang. Keren, Subhanallah.

Ini bukan saja tempat tinggal, ini rumah. Rumahku dan rumah hatiku...

Tuesday, June 05, 2007

Menanti dalam kecemasan


Serupa air yang mengalir, serupa angin yang berhembus
Gejolak membara dalam ingatan
Mencari cara membayar segala kealpaan, kekhilafan
Peluh basah bercampur debu
Gali yang tersisa, sekedar membayar

Entah kapan rahasia itu terkuak
berapa lama lagi bisa bertahan
bisakah terungkap tanpa menyakiti, tanpa airmata apalagi marah
Tak bisa sepertinya
Maka kekuatan sajalah persiapannya

Hampir saja aku menyerah
Ingin rasanya berlari atau tiba-tiba menghilang
Tapi pilihan itu harus dipertanggungjawabkan
Bisakah tanpa menyakiti?

Bunga, daun, ranting, dan akar
Semua seakan berbicara
berkata : Hampir tiba saat kau panen
Bisakah tanpa menyakiti banyak hati?

Ada harga yang harus dibayar,
saatnya hampir tiba

Saturday, June 02, 2007

Rahasia-MU selalu indah

Bismillahirrahmanirrahim....

Postingan terakhir saya bulan lalu, berputar masalah kerjaan. Dan setelah sebulan lebih berlalu sejak keresahan itu, banyak hal yang terjadi. Di kehidupan pribadi saya, keluarga saya, dunia kerja saya, lingkungan masyarakat sampai pada agama saya.

Banyak hal yang akhirnya pelan-pelan mulai terkuak. Pertanyaan mengapa Allah menempatkan saya di lingkungan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Serangkaian tanda tanya itu satu persatu mulai terjawab. Ada rahasia Allah yang begitu indah hinga saya ditugaskan disini. Lingkungan dimana aqidah menjadi tipis dengan toleransi, wilayah abu-abu tergantung kepentingan siapa, saling sikut dengan licik tapi masih halus hingga ingin sekali saya beri label "serigala berbulu domba"

Awalnya saya ingin menyerah, sampai Allah menuntun saya ke suatu titik, bahwa saya disini ditugaskan untuk do the right thing, melebarkan sayap-sayap kebenaran meskipun harus terinjak. Berpegang pada prinsip meski kadang harus dibantai. Di balik semua itu, Allah menunjukkan kuasaNYA.

Saya sadar banyak hal. terlalu banyak, dan meski kemudian tantangan itu begitu nyata dan besar di depan mata, tapi hati saya berbicara bahwa ada kekuatan Allah di balik aral itu. Ia hanyalah sekelumit debu di mata Allah yang dapat ditiupnya sekejap saja.

Sebulan ini,
kekecewaan banyak pula saya rasakan dari orang2 yang mengaku bergairah dengan kebaikan tapi tidak bersegera. Sekali lagi introspeksi saya alamatkan pada diri saya sendiri, ada apa dengan saya? Mengapa orang2 di sekitar saya begitu cepat dan kompak menunaikan urusan dunianya. Tak perlu menunggu, kereta harus segera berangkat. Saya yakin, ada gerbong lain yang akan kalian naiki, selalu ada gerbong itu. Pertanyaannya, maukah kita naiki?

Allah, keindahanNYA-lah yang membuatku bertahan. Melihat riak ombak yang menepi di pantai dari depan teras rumah, merasakan sejuk dan dinginnya angin pagi hari, indahnya lukisan Allah bernama matahari senja dan matahari fajar adalah satu keindahanNYA yang tak pernah bisa tergantikan. Selalu dan selalu ada bantuan Allah pada mereka yang memintaNYA.

Waktuku entah sampai kapan,
Bagaimanapun, HARUS BERARTI

Thursday, April 19, 2007

Kerja, kerja dan kerja

Bismillah...
So Complicated. Semua urusan kembali kepada Allah.
Jika tubuh dan jiwa ini bukanlah buatanNYA,
Mungkin saat ini, ia sedang meregang kesakitan
Menangis melihat begitu banyak hal yang perlu diperbaiki
Begitu banyak idealisme dan kejujuran harus berbenturan dengan urusan duniawi
Betapa sulit menjaga keikhlasan, berpijak di atas kebenaran
Ketika sekeliling terasa begitu menyesakkan dan memaksa
Memaksa menerima yang tak mau dan tak boleh diterima

Haruskah kemudian menutup mata dan telinga
Sementara memperbaiki dengan segala resikonya adalah sebuah pilihan
Pilihan yang baik meski harus menerima getah di baliknya
Bukankah kebenaran dan kebaikan harus diteriakkan meski menyakitkan
Bukankah sebuah profesionalitas harus dijunjung tinggi?
Bukankah kualitas layak dan pantas sebagai patokan,
bukan sekedar memicingkan mata dengan pertimbangan2 yang sangat tidak intelek

Apa harus diam saja?
Ataukah harus berteriak?
Atau harus berpura-pura tidak tahu
Just be professional, okay?
Just be fair and we will move together

Allah,
Alhamdulillah hati ini buatanMU
Terimakasih karena telah menguatkan
Saat tak yakin bisa kuat

Monday, April 09, 2007

Bahagia selamanya

Subhanallah...
Bergetar rasanya dengar kalimat tadi. Ini kali pertama saya melihat langsung prosesi akad nikah. Selama ini liatnya di Tivi tivi gitu. Atau ke Walimahan yang udah kelar akadnya.
tapi, tadi itu kita sekeluarga ke pernikahannya Mas Yudi dan for the first time dengar langsung ucapan akad itu.

Terus terang, saya merinding. Entah kenapa, saya merinding.
Satu lagi rahasia Allah yang terjadi pada kehidupan manusia. Seminggu kemarin ada tiga berita bahagia yang saya dapat. Satu dari Mbak Yuyun yang mengabarkan kehamilannya di usia 10 minggu, Ami yang mengabari kehamilannya yang Alhamdulillah baik2 saja di usia 6 bulan ini dan kabar bahagia yang paling bikin saya bahagia, bahwa seorang sahabatku, saudaraku akan melangsungkan pernikahan di awal Mei. Semoga saya bisa menghadirinya meski di lain daerah. Karena itu adalah berita yang paling saya nantikan setelah sekian lama.
Plus, hari ini kakak saya tercinta juga lagi milad. Met milad ya Ca. Semoga segala kebaikan untukmu karena kami semua menyayangimu.

Kembali ke akad tadi.
Subhanallah. Saya sudah mendengar dan tahu serta percaya bahwa akad nikah itu mampu menggetarkan Arsy, tempat tinggal Allah.
Tapi, ketika saya mendengarnya langsung, Subhanallah, tubuh saya berguncang hebat. Betapa mitshaqan Ghaliza itu mampu membuat semua yang tidak menjadi iya, membuat yang haram menjadi halal. Subhanallah..
Pantas saja saya melihat banyak orang yang justru menangis jika menghadiri sebuah akad pernikahan.

BTW,
Selamat buat Mas Yudi. Saya memang tidak terlalu mengenal anda. Yang saya tahu, keluarga saya menyukai anda, maka anda pasti orang baik. Dan semoga segala kebaikan memenuhi setiap relung hidup anda dan istri.

Barakallahu Laka Wabaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoiri

Buat Mbak Yuyun dan Ami, jaga kesehatan kalian. Agar ponakan2 eby nanti lahir dengan sehat. Eby percaya kalian akan menjadi ibu yang terbaik buat mereka.
Dan buat saudaraku yang masih memintaku merahasiakan pernikahannya, kurang dari sebulan engkau akan memasuki gerbang baru. Bersiaplah, eby mendoakanmu karena sa sayang ko, ces...

sUBhaNaLLAh, AlhAMDULILAH, AllahuAKBAR

Bismillah....

Baru seminggu tidak neg-net, tapi rasanya sudah lamaaa banget. Secara di lokasi tempat kerja, belum ada koneksi internet-nya, jadul banget ya. Jadi, mumpung sekarang lagi di Ambon, gak lengkap rasanya kalo tidak surfing.

Bicara soal tempat kerja yang jauh di ujung sana, sebenarnya banyak pengalaman yang bisa dipetik. Kayak dua kali saya pulang ini. Di perjalanan pertama minggu lalu, dari atas feri yang membawa saya dari pelabuhan Waipirit ke Pelabuhan Hunimua, saya melihat satu lagi cinta di atas bumi Allah ini.

Seperti seorang nelayan yang berada di tengah laut hanya untuk anak istrinya. Mendayung sendirian. Belum lagi ketika dalam perjalanan kedua kemarin, warna langit begitu sempurna. Sinar keperakan memantul di permukaan laut mengawali tenggelamnya matahari.
Subhanallah...Subhanallah, begitu kecil rasanya

Tiba-tiba saja teringat 2 hari yang lalu, saat begitu resah, begitu merasa tak berdaya melawan takdir yang Allah tetapkan atasku.
Hingga sebuah SMS mengejutkanku, betapa aku seharusnya bisa lebih banyak bersyukur dengan semua yang terjadi, karena seperti bunyi pesan itu :

DARI SITULAH QT BISA MENYATAKAN
SUBHANALLAH,
ALHAMDULILLAH,
ALLAHU AKBAR.

Thursday, March 15, 2007

Mau Cerita Aja...

Bismillah...
Akhirnya setelah satu bulan lebih saya di Ambon, baru tadi ini saya bisa ketemuan sama teman2 ADK di kampus UNPATTI.
Janjiannya sih jam 1/2 12. Tapi berhubung ukhti Mimi rumahnya jauh, jadi agak molor gitu sampe jam 12 lebih ketemuan di masjid RS. Iya, di masjid RS yang ada di depan kampus. Soalnya ternyata UNPATTI kampus sini gak ada masjidnya, mushola aja gak ada. Padahal itu kan fasilitas umum, harusnya ada, gimana sih?

After ngobrol2 sama Ukhti Mimi perihal perkembangan dakwah kampus sini, saya jadi pengen balik kampus lagi. Pengen ngerasain suhu dakwah kampus lagi. Apalagi menjelang FSLDK Nasional di Lampung Juli nanti. Aduh, kayaknya Post Power Syndrome saya belum sembuh nih.

Ada yang menarik waktu saya sedang menunggu Ukhti Mimi di teras masjid. Pas datang, di teras itu ada 2 mahasiswi yang lagi ngobrol, bisik2 gitu. Naluri saya bilang, mereka lagi curhat. Beberapa saat kemudian datang 3 mahasiswi dengan jajanan dan mereka langsung ngobrol. Waktu makanan selesai dibuka, gak dinyana saya disapa sama mereka,
"Caca, mari makan" gitu kata mereka. FYI, Caca itu panggilan untuk kakak cewek, mbak gitu deh.
Saya jawab "Iya, silahkan"

Yang bikin saya bengong, kok ramah banget ya. Saya sih sudah hapal dengan karakter masyarakat daerah asal saya tercinta ini yang ramah2, gampang banget negor orang. Mereka bisa saja ngobrol, sapa yang mereka gak kenal dalam bemo. Pokoknya mulut mereka tuh ringan banget untuk negor meski gak dikenal.
Tapi kali ini saya heran, karena selama saya kuliah di Jawa, kayak gini tuh gak pernah kejadian. Meskipun di masjid bareng, kalo gak dikenal ya gak bakal disapa. Paling kalo gak dikenal tapi sering liat, senyum itu udah menthok. Kalau mau makan, ya makan aja. Pokoknya, acara negur gitu kalo dikenal aja.
La ini, gak tau siapa tapi mereka mau aja negor basa basi ngajak makan. Padahal wajah saya jelas-jelas baru mereka liat. Mereka juga pasti langsung tahu kalo saya gak kuliah disitu. Salut banget, seketika saya merasa sangat nyaman ada di masjid itu.

Sebulan ini, saya belum ketemu sama teman2 lama. Sudah sih, ke rumahnya Santje, trus ketemu Ical SMP secara gak sengaja di jalan, ketemu Michael SMP di tenmpat kerjanya gak sengaja juga, Yani juga gitu. Yang lain, cuma lewat sms. Abisnya sdh pada sibuk sendiri2. Lia malah belum ketemu sama sekali. Tapi gak apa, yang penting komunikasi tetap lancar.

Banyak kejadian di rumah seminggu ini. Yang Papa sakit, aku juga ikut2an. Sebenarnya batuk saya ini batuk biasa kalo dingin. Tapi ibu ngotot suruh ke dokter. Sampe ke Dokter, batuk saya yang di rumah biasa2 saja jadi menjadi2. Dan itu bikin ibu tambah membenarkan usahanya membawaku ke dokter. Padahal, gimana gak batuk menggila kalo ruang tunggu dokter aja dinginnya kayak di kulkas. Dan ibu baru percaya kalo saya ittu alergi dingin waktu dokter yang bilang. Di rumah tuh dingiin banget. Baru anget jam 9 pagi sampia jam 5 sudah dingin lagi. Tapi papa yang belum sembuh2 juga. Sedih...

Tante juga besok mau ke Ternate. Aturannya kan saya juga ikut, tapi gak bisa. Padahal ini sudah direncanain. Di daftar obsesi saya, di daftar HAL@ YANG HARUS SAYA LAKUKAN DALAM HIDUP, ke Ternate tuh salah satunya. Tapi mau gimana, saya harus masuk kantor. Minggu depan malah masuk kantornya di Piru sana. Piru itu ibukota kabupaten SBB yang jaraknya 4 jam perjalanan dari kota Ambon. 1 jam ke terminal penyeberangan Liang, naik feri 2 jam, trus bus ke Piru-nya 1 jam lagi. Di Piru lampunya nyala cuma malam. Tapi kabar terbaru yang saya dengar sih, lampu sudah nyala sampe jam 2 siang trus mati dan baru nyala jam 6 sore. Ya, gak apa deh. Daripada kemaren2 yang mati dari jam 7 pagi sampe jam 6 sore. Fasilitas internetnya gak ada. Terima aja deh. Namanya juga orang mengabdi. Lagian saya percaya, gak selamanya desa itu begitu. Apalagi itu ibukota kabupaten, pasti ada percepatan pembangunannya. Moga2 aja saya bisa betah disana. Dan saya pasti bisa, ketemu dunia baru bukan hal baru lagi buat saya. InsyaAllah bisa

Tapi, jauh di lubuk hati, saya masih optimis bakal balik lagi ngabdi di Ambon tercinta saja. Bukannya apa, tapi saya pengen dekat ibu, papa dan dek Uni saja. Pengen nemani mereka saja. Sudah lama saya jauh dari mereka, setelah saya pulang, saya agak berat kalo harus pergi lagi walaupun cuma 4 jam perjalanan dan masih bisa pulang tiap pekan (kalo mau).

Apapun itu, saya yakin saya bakal bisa menjalani hidup saya dengan santai, dengan lebih percaya diri dan saya yakin bisa melewati apapun yang ada di hadapan saya. At least, sudah banyak kejadian dalam hidup saya yang telah membentuk diri saya punya modal melanjutkan dan menghadapi hari2 ke depan.

Dan modal yang paling penting adalah kekuatan dari ALLAH. Tempat bersandar yang sejati, sandaran yang tak akan pernah goyah dan lelah. Saya optimis karena saya punya Allah yang akan selalu mendengar cerita2 saya.

Saya punya Allah !!!!

Saturday, March 10, 2007

Hanya ALLAH saja

Bismillah..
Tit..tiit
"Mb, aku sudah gak kuat. Aku gak tahan lagi jalani hidup ini"

Tit..tiit
"Mb, apa kabar? Mbak, aku sudah gak tahan. Hari demi hari cobaan hrs aq hdpi. Rasanya aku ini cewek yang lemah"

Tit..tit
"Aku harus apa supaya bisa sabar? AKu udah putus asa. Aku capek nangis mbak. Aku sudah gak kuat"

Tit..Titt
"Mbak, rasanay kaki ini sudah gak kuat lagi untuk berjalan"

Tit..Tit..
Mbak, bagaimana menghadapi rasa sakithati dan ketakutan? Orang2 di sekitarku juga rasanya begitu menjengkelkan. Aku harus bagaimana mbak hadapi hidup ini?"

Tit..Tit
"Mbak...."

Lagi dan lagi, sms-sms seperti itu yang muncul di layar HP saya hampir setiap malam. Kadang ingin rasanya tidak membalas sms situ, tapi langsung ingin merengkuh mereka dalam pelukan dan berbagi kekuatan. Sms-sms seperti itu pada satu sisi membuat saya sadar bahwa ternyata perasaan yang saya alami adalah normal.

Rasa takut, rasa hampir putus asa, rasa tak kuat lagi untuk bertahan dan semacamnya yang sebenarnya juga saya rasakan, ternyata juga dimiliki orang lain.
Bedanya, saya bisa lebih mudah melewati itu semua justru karena sms-sms itu. Balasan saya ke mereka sejatinya adalah balasan untuk diri saya sendiri. Saya jadi lebih bisa melihat dan mendalami perasaan takut saya akan hidup dari kacamata yang berbeda.

Siapa sih manusia yang bebas dari cobaan? Siapa pula yang merasa semua dalam hidupnya adalah baik2 saja? Tidak ada. Tidak satu pun. Bahkan ketika tak pernah ada tangis pun, sebenarnya tak pernah tak ada luka. Tapi semua berpulang kepada kemana kita mencari sumber kekuatan. Selalu saya bilang kepada semua yang sms juga kepada diri saya sendiri, bahwa hanya Allah yang bisa. Seberapa besar keinginan kita untuk bertahan, untuk kuat, kalau kita tidak mencari sumber kekuatan dari tempatnya yang benar, maka akan sia-sia.

Ketakutan akan hidup saya sendiri, ketakutan akan apa yang bakal terjadi, ketakutan akan apa resiko yang harus saya ambil juga ketakutan2 lainnya membuat diri serasa ingin menghilang begitu saja. Atau sibuk dengan mengenang masa-masa kejayaan saat semuanya begitu indah. Atau sibuk menyesali kenapa tidak begini waktu itu atau mengapa tidak begitu waktu itu. Wajar, alami, pada saatnya mungkin kita memang butuh rasa takut itu. Untu apa? Untuk menyadari bahwa kita hanyalah hamba. Bahwa kita hanyalah seseorang yang tidak ada kekuatan apa-apa tanpaNYA.

Ya, hanya Allah saja yang bisa membuat kita bebas dari ketakutan kita. Kedekatan kita denganNYA saja yang bisa membuat kita survive, membuat kita yakin dengan apa yang kita lakukan dan mampu membuat kita menikmati hidup ini dengan cara yang benar. Hanya Allah saja

Allah, aku merinduMU. Peluk aku..