Sunday, June 11, 2006

Sahabat untuk Mbak Titi

Hari ini aku dapat kenalan baru. Seorang sahabat yang kutahu kisahnya dari blognya mas bayu gawtama. Seorang wanita tegar yang menjalani ujian sakit dari Allah dengan tabah. Sebenarnya sudah sejak lama pengen sms, tapi aku khawatir pulsaku gak cukup untuk membalas kembali sms-smsnya dan itu berarti membuatnya kecewwa. Jadi, pas sekarang lagi punya banyak pulsa (abis dikirimin papa tanpa diminta, thanks ya pa), aku sempatin untuk mencoba say hello dan berkenalan.
Benar kata mas gaw dalam blog-nya, mbak titi, nama wanita luar biasa itu, membalas smsku dengan sangat ramah. Bahkan kami saling berbalas sms hingga menjelang maghrib. Bahasa yang dipake pun seperti sudah lama banget kenalnya. Aku membuktikan cerita mas gaw dalam blog bahwa mbak titi akan membalas sms dengan mengetik sebanyak mungkin kalimat dalam layar ponselnya. Sekarang mbak titi sudah dapat 3 rekaman kaset cerita hidupnya, tapi mas gaw katanya sibuk banget jadi belum sempat nulis kembali cerita itu. Buat yang mengunjungi blog ini, tolong sempatkanlah menyapanya. Kusertakan cerita tentangnya dari blog-nya mas bayu gawtama :

Sahabat untuk Titi
Berbicara dengannya di telepon takkan pernah percaya kalau suara manis di seberang telepon itu sedang sakit parah. Semangat dan keceriaan tetap terpendar dari gelak tawa, dan serentetan kalimat yang takkan pernah berhenti dari mulutnya. Ia selalu rindu dering telepon dari orang lain ke nomor selularnya sekadar menyapanya lembut, "apa kabar Titi?"

Bicaranya yang tak pernah henti menyiratkan satu hal, bahwa kerinduan itu teramat dalam dan sering terlalu lama ia pendam. Selain khusyuk menghadap Allah di waktu-waktu sholatnya, membaca buku dan menonton televisi, menunggu dering telepon lah yang dilakukannya. Seutas senyum segera terlihat dan matanya berbinar ketika sebuah pesan singkat (SMS) masuk, kemudian tangannya yang gemetar mulai menyentuh tombol telepon selularnya. Ia sepertinya tahu, bahwa orang yang dibalas SMS-nya tak akan punya banyak kesempatan untuk terus me-reply pesan singkat, karenanya ia manfaatkan untuk mengetik sebanyak mungkin kalimat di layar ponselnya. Bayangkan, seberapa bahagianya ia jika tak sekadar SMS yang diterima. Suara sahabat dari seberang telepon amat sangat membuatnya bersemangat.

Hesti, begitulah namanya. Sedangkan Titi adalah panggilan kesayangannya. Perkenalan saya dengannya lewat seorang penyiar radio di Jakarta yang memberikan nomor telepon saya kepadanya. Suatu hari, seseorang menelepon dan memperkenalkan diri dengan nama "Hesti". Awalnya saya tak percaya -seperti kebanyakan sahabatnya yang lain- ketika ia menceritakan tentang penyakit yang dideritanya. Lagi-lagi, karena suara manis itu begitu bersemangat seolah ia baru saja menerima hadiah terindah dalam hidupnya. Padahl, Titi menderita radang sendi sejak ia masih remaja. Dan lima belas tahun terakhir adalah hari-hari yang memaksanya terkurung di kamar tidur tanpa bisa berbuat banyak. Gadis berusia 36 tahun itu menghabiskan hari-harinya di kamar tidur, berbalut mukena yang tak pernah lepas jika ia tak sedang dibantu keponakannya ke kamar kecil.

Jika penyakitnya sedang parah, seluruh persendiannya terasa sangat sakit tak tertahan. Titi sering menangis sendiri tanpa seorang pun yang tahu. Pernah suatu kali saya menerima SMS darinya, "Gaw, tolong saya..." isinya meminta saya menelepon tetangganya agar datang ke rumahnya untuk mengambilkannya makanan karena sejak pagi ia belum sarapan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sebenarnya jika ia punya pulsa cukup banyak di ponselnya, tak akan ada masalah. Saat itu, pulsanya hanya tersisa kurang dari 300 rupiah. Dan ia tak tahu bisa berbuat apa dengan angka sekecil itu. Ia pun teringat saya yang kebetulan sama-sama menggunakan operator kartu yang sama. "Bismillaah..." ujar Titi ketika mengirim SMS itu ke saya.

Dua jam berselang. Saya bisa bernafas lega saat mengetahui kondisinya baik-baik saja. Titi cerita, sejak pagi keponakan yang biasa mengurusnya ada materi tambahan di kampusnya. Tak seorang pun ada di rumah itu hingga sore, padahal ia sedang sangat membutuhkan seseorang untuk mengambilkannya makan siang. Seluruh tubuhnya mengejang kesakitan, satu-satunya pereda sakit adalah obat yang harus diminumnya sesudah makan. Masalahnya, ia tak bisa mengambil sendiri makanannya, begitu juga dengan obatnya. Saya bersyukur Allah memberinya jalan untuk mengirim SMS itu kepada saya, meski saat itu saya sedang berada di Aceh, delapan bulan pasca tsunami.

Di telepon, Titi berucap terima kasih atas pertolongan saya. Tetapi saya memintanya bersyukur kepada Allah. Bayangkan, bagaimana jadinya jika Titi benar-benar tak punya pulsa barang seperak pun saat itu? atau mungkin SMS-nya gagal terkirim karena ponsel saya yang tak aktif? atau boleh jadi saya yang tak sedang punya cukup pulsa karena sedang berada di luar dan tak dekat dengan fasilitas telepon umum? Allah lah yang menggerakkan saya untuk membeli pulsa beberapa menit saja sebelum SMS Titi itu masuk. Allah juga yang berkehendak membuat SMS yang merupakan 'kesempatan terakhir' Titi itu sampai ke ponsel saya.

Lima belas tahun sudah Titi 'teronggok' di kamarnya. Kadang ia lebih sering sendiri dalam deritanya. Ia harus menunggu keponakan atau kakaknya mengambilkan makan, ia yang tak pernah mandi kecuali hanya sekali dalam seminggu karena tak ingin terlalu merepotkan saudara-saudaranya. Bahkan, Titi pun sering terpaksa -maaf- tak mengenakan pakaian dalam karena tak mau saudara-saudaranya repot saat ia harus buang air kecil. Di saat seperti itu, Titi akan selalu ingat mendiang ibunya. Ia kadang menangis mengapa sang ibu pergi lebih dulu meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Sebelumnya, ibu lah yang setia dan tak kenal lelah melayani Titi. Sejak bangun tidur, memakaikan mukena untuk sholat, makan, minum, dan semua aktivitas lainnya. Setelah sang ibu tiada, Titi seperti kehilangan segalanya.

Namun Titi bukanlah orang yang kenal menyerah. Ia juga tak pernah ingin menjadi beban selamanya. Meski kondisinya semakin parah, ia tetap merasa bangga bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Mantan penyiar dan pegawai negeri di salah satu instansi pemerintahan ini memanfaatkan uang pensiunnya untuk membiayai kuliah keponakannya. "Nggak cukup sih kalau hanya uang pensiun," jelas Titi sambil mengungkapkan banyaknya orang yang simpati terhadapnya dan memberikan donasi. Dan uang pemberian para donatur itulah yang dipakainya untuk biaya kuliah keponakannya.

"Yah, itung-itung saya merasakan punya anak deh. Ternyata berat juga," terangnya. Titi tak mampu menyembunyikan perasaannya. Sebagai seorang wanita, ia juga pernah memiliki cita-cita untuk menikah, berumah tangga dan punya anak. Namun kondisinya yang seperti ini membuatnya harus mengubur dalam-dalam keinginan itu. Titi pun merelakan sang pacar untuk memilih meninggalkannya, karena Titi tahu tak akan ada lelaki yang sanggup menjadi pendamping hidupnya.

Tak hanya itu. Penyakit yang dideritanya sekarang pun kini dianggapnya sebagai kasih sayang Allah untuknya. Ya, ia memang pernah bertanya kepada Allah kenapa ia diberikan penyakit ini? kenapa ia dibuat semenderita seperti sekarang ini. Tak kini Titi tahu bahwa Allah menyayanginya dan begitu mencintainya. Bagi Titi, Allah sedang mengujinya seperti halnya Dia menguji Nabi Ayub dengan penyakitnya. "Bukankah orang yang diuji itu berarti disayang Allah?"

"Lagi pula, dengan kondisi seperti ini saya lebih sering mengingat mati. Saya tahu ajal saya sudah begitu dekat dan ini kesempatan emas saya untuk lebih mendekat kepada-Nya. Bandingkan dengan orang yang sehat yang kadang lupa kalau ia pun akan mati?" Duh, Titi. Kalimat itu begitu menohok saya.

Titi pernah meminta kepada Allah agar mengakhiri saja penderitaannya. Tapi ia juga tahu bahwa Allah lebih berkehendak atas dirinya. Penderitaan panjang yang dijalaninya, ia harapkan menjadi bekal baginya saat menghadap Tuhan kelak. Sepertinya, di hadapan Tuhan nanti Titi ingin sekali berucap, "Aku ridha akan kehendak Engkau ya Rabb..."

Kemarin, saya kembali menerima surat dari Titi untuk kesekian kalinya. Seperti biasa, ia memaksakan diri untuk menulis sendiri surat itu dengan tangannya yang kaku. Lembar pertama, tulisannya masih rapi. Begitu masuk ke halaman kedua, barisannya mulai kacau. Tergambar dengan jelas bahwa ia menahan sakit saat menulis surat itu. Kali ini, Titi bercerita tentang ibunya. Seseorang yang paling dirinduinya saat ini, juga paling ingin dijumpainya kelak di akhirat.

Saya menangis membaca suratnya. Sungguh saya tak pernah secengeng ini sebelumnya. Saya membayangkan jika saya yang diberikan ujian sepertinya, akankah saya sanggup menanggung lima belas tahun hidup dalam ketergantungan? lima belas tahun dalam keterasingan dan kesendirian? lima belas tahun saat semua sahabat lama menjauh? lima belas tahun tetap bersyukur dan sabar menanti ajal menjemputnya?

Titi bilang, ia bersyukur masih ada yang mau bersahabat dengannya. Setidaknya ia tahu, ia tak akan meninggalkan dunia ini dalam kesendirian. Dan saya katakan kepadanya, saya akan menjadi sahabat Titi sampai kapan pun.

Bayu Gawtama
085219068581, 08881902214
Bersama Titi, saya tengah menulis sebuah buku tentang perjalanan hidupnya. Doakan, semoga dilancarkan. Oya, tulisan Titi tentang ibunya akan segera saya posting di blog ini. Titi berharap bisa dibacakan oleh Shahnaz Haque -sahabatnya- di acara Delta Siesta
Titi butuh sahabat, relakanlah pulsa anda untuk menyapanya di 085216297156

No comments:

Post a Comment