Wednesday, September 13, 2006

DiaLOg SELepaS IsYA

“Mbak, gak tau deh harus mulai dari mana. Malu ngomongnya” kata seorang adek mengawali pembicaraan

“Ngomong aja dek, apa adanya. Percaya kan sama mbak?” tanyaku

“Justru karena aku percaya dan aku tau mbak bisa kasi aku advice, jadi aku kesini tapi aku gak tau mulainya”

.................. hening...................... hingga..

“Mbak, salah gak sih kalo kita jatuh cinta?”
Kata-kata yang mengejutkan. Untuk sesaat darahku rasanya berhenti, tak percaya aku akan menghadapi masalah seperti ini. Masalah klasik yang selalu ingin kuhindari dan kini terjadi.

“Mungkin bukan jatuh cinta mbak, tapi simpati. Dia orangnya ……………………..”
Mengalirlah cerita darinya sampe aku benar2 mengerti apa yang ia rasakan. 1 jam aku pakai untuk mendengarkannya tanpa ingin menyela sedikitpun pembicaraannya. Biarkan ia tuntaskan sampai habis, sampai tak bersisa, sampai ia kehilangan kata-kata. Until…
“gimana mbak?” tutupnya

“Gak ada yang salah dengan jatuh cinta. Kita dilahirkan oleh Allah sudah satu paket dengan rasa-rasa itu. cinta, marah, bahagia, resah, suka, tertawa, semua emosi yang kita rasakan itu fitrah. Bahkan karena cinta itulah kita bisa hidup, bisa menghirup udara, bisa punya mata, telinga, semuanya. Jatuh cinta pada lawan jenis itu juga tidak salah, itupun fitrah. Toh pada saatnya nanti, Allah akan mempercayakan satu cinta hambaNYA kepada kita. Yang menjadikannya salah adalah ketika rasa itu kita biarkan menguasai ita, hingga kita lupa akan cinta yang sebenarnya. Salah ketika kita mengimplemantaskan rasa kita dengan cara-cara yang dimurkai oleh Sang Pemberi Cinta itu. Anti tau maksud mbak”

“Afwan mbak, kami tidak pacaran. Saya hanya…………..”

“Alhamdulillah kalo anti sadar dengan bahaya yang bisa mengancam anti. Berhati-hatilah ukhti. Jangan membuatNYA cemburu ………….”

Masih panjang dialog ini tapi inti yang ingin saya bahas sudah jelas. Ternyata pertemuan kita bersama mereka yang hanya 2 ½ jam setiap pekannya menyisakan waktu yang banyak untuk mereka mendapat pengaruh dari lingkungan sekitar mereka.
Memang kita tidak bisa mengawasi adik-adik kita 24 jam terus menerus, tapi waktu kita haruslah benar2 berkualitas hingga mereka punya bekal dan imun yang cukup hingga pertemuan berikutnya. Bahkan kita, bisa saja apa yang menimpa adik-adik kita, adalah karena kesalahan kita, adalah imbas dari perbuatan kita.
Jadi, marilah kita sama-sama memperbaiki diri, mendekatkan diri dengan Pemilik Cinta, hingga kata-kata kita menjadi perkataan yang berat yang mampu menghujam hingga hati yang paling dalam.

Aku tertampar dengan kejadian malam ini. Walaupun kusyukuri, dari ceritanya, ia masih bisa menjaga adab pergaulannya, kusyukuri pula bahwa ia memilih dan mempercayaiku untuk bicara, mau terbuka, tapi tetap saja aku sedih karena aku kecolongan. Mungkin yang terjadi ini, imbas dari perbuatanku juga yang jauh dari Pemilik Cinta.

Ya Allah, ampuni kami yang telah mempermainkan hati kami sendiri, menjauhkannya dariMU, Sang Pemilik Hati.

No comments:

Post a Comment