Tuesday, December 12, 2006

ReTakNya SeBuaH RUmaH KacA

Baru kemarin rasanya saya begitu memujamu.
Untuk kesekian kalinya saya merasa begitu beruntung
Bisa jadi bagian dari hidupmu
Memasukkanmu menjadi pemeran terbaik dalam skenario kehidupan saya.
Di kehidupan saya, dalam hati saya sudah saya bangun sebuah rumah kaca untukmu, untuk kau tinggali selamanya.
Kujaga setiap saat agar rumah itu tak sedikitpun retak.
Baru kemarin.

Dan malam ini…ah…..
Hancur, lebur, patah dan musnah.
Apa yang baru saja kau lakukan tadi?
Mengapa dengan santainya bisa kaupecahkan sendiri rumah kaca
Rumah yang kubangun dengan kerelaan dan ketulusan mencintaimu

Tidak,
Tentu saja rumah itu belum hancur berantakan
Belum rata dengan tanah seperti bangunan yang sering dihancurkan pamong praja tak berperasaan
Rumah kaca itu masih ada
Tapi setelah kuamati,
Ada bagian yang retak
Ada goresan yang harus kau tambal

Ya……, kau yang harus menambalnya
Dengan satu pengakuan dan satu kata maaf
Dan janji bahwa kau tak akan menyakiti kami lagi
Kau yang harus bertanggungjawab atas rumahmu sendiri
Karena jika tidak,
Maka rumah itu akan hancur
Dan itu karena ulahmu sendiri

No comments:

Post a Comment